You are on page 1of 36

KINERJA SISTEM IMUN DAN HISTAMIN

DALAM MEMERANGI INFEKSI

MAKALAH

T. Fadli Nazwan Sani

110610032

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

LHOKSEUMAWE

2012
KINERJA SISTEM IMUN DAN HISTAMIN

DALAM MEMERANGI INFEKSI

MAKALAH

Diajukan ke Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malikussaleh sebagai


pemenuhan syarat ketidakhadiran dalam proses diskusi tutorial

Oleh

T. Fadli Nazwan Sani

110610032

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

LHOKSEUMAWE

2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nya,saya dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dilakukan dalam
rangka pemenuhan syarat ketidakhadiran dalam mengikuti diskusi tutorial. Saya
menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sangatlah
sulit bagi saya untuk menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu saya
mengucapkan terimakasih kepada:

1) Dr. Irvan, selaku tutor kelompok 1 Blok IX yang telah menyediakan waktu
dan bimbingannya terhadap saya
2) Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan dukungan material
dan moral, dan
3) Teman- teman se-angkatan (2011) yang telah banyak membantu dalam
pengumpulan literatur dan memberikan saran dalam menyelesaikan
makalah ini.

Lhokseumawe, 26 Desember 2012

Penulis
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Histamin atau beta-imidazoliletilamin atau 4(2-aminoetil)-imidazol adalah


senyawa jenis amin yang terlibat dalam tanggapan imun lokal, selain itu senyawa
ini juga berperan dalam pengaturan fungsi fisiologis di lambung dan sebagai
neurotransmitter. Pada awalnya histamin beserta asetilkolin memiliki persamaan
dalam sejarahnya, yaitu disintesis secara kimia sebelum diketahui sifat
biologiknya, keduanya disintesa dari ekstraksi ergot. Histamin dibangun dari
substansi kimia asam amino histidin oleh pengaruh enzim histidin dekarboksilase.

Sebagai tanggapan tubuh terhadap patogen, maka tubuh memproduksi


histamin di dalam basofil dan sel mast, dengan adanya histamin maka terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler-kapiler terhadap sel darah putih dan protein
lainnya. Hal ini akan mempermudah sel darah putih dalam memerangi infeksi di
jaringan tersebut.

Basofil adalah jenis leukosit yang paling sedikit jumlahnya dan diduga
juga dapat berfungsi sebagai fagosit. Sel basofil secara struktural dan fungsional
mirip dengan sel mast, yang tidak pernah beredar dalam darah tapi tersebar di
jaringan ikat di seluruh tubuh. Awalnya sel basofil dianggap berubah menjadi sel
mast dengan bermigrasi dari sistem sirkulasi, tapi para peneliti membuktikan
bahwa basofil berasal dari sumsum tulang sedangkan sel mast berasal dari sel
prekursor yang terletak di jaringan ikat.

Ada dua macam sel mast yaitu terbanyak sel mast jaringan dan sel mast
mukosa. Yang pertama ditemukan di sekitar pembuluh darah dan mengandung
sejumlah heparin dan histamine. Sel mast yang kedua ditemukan di slauran cerna
dan napas. Proliferasinya dipacu IL-3 dan IL-4 dan ditingkatkan pada infeksi
parasit. Baik sel basofil maupun sel mast memiliki reseptor untuk IgE dan
karenanya dapat diaktifkan oleh alergen spesifik yang berkaitan dengan antibodi
IgE. Kemudian bila terdapat alergen spesifik berikutnya yang bereaksi dengan
antibodi, maka perlekatan keduanya menyebabkan sel mast atau basofil rupture
dan melepaskan banyak sekali histamin, bradikinin, serotonin, heparin, substansi
anafilaksis yang bereaksi lambat, dan sejumlah enzim lisosomal. Bahan-bahan
inilah yang menyebabkan manifestasi alergi. Selain itu keduanya pun dapat
membentuk dan menyimpan heparin dan histamin.Dengan adanya histamine yang
diproduksi sel mast dan basofil maka antibodi dapat lebih cepat dalam memerangi
infeksi.

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk mengetahui


sejauh mana korelasi kinerja system imun yang dalam hal ini berkaitan dengan sel
mast dan sel basofil terhadap histamine dalam mengatasi infeksi.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

2.1 Histamin

2.1.1 Pengertian

Histamin atau beta-imidazoliletilamin atau 4(2-aminoetil)-imidazol adalah


senyawa jenis amin yang terlibat dalam tanggapan imun lokal, selain itu senyawa
ini juga berperan dalam pengaturan fungsi fisiologis di lambung dan sebagai
neurotransmitter. Pada awalnya histamin beserta asetilkolin memiliki persamaan
dalam sejarahnya, yaitu disintesis secara kimia sebelum diketahui sifat
biologiknya, keduanya disintesa dari ekstraksi ergot. Histamin dibangun dari
substansi kimia asam amino histidin oleh pengaruh enzim histidin dekarboksilase.

Sebagai tanggapan tubuh terhadap patogen, maka tubuh memproduksi


histamin di dalam basofil dan sel mast, dengan adanya histamin maka terjadi
peningkatan permeabilitas kapiler-kapiler terhadap sel darah putih dan protein
lainnya. Hal ini akan mempermudah sel darah putih dalam memerangi infeksi di
jaringan tersebut.

Beberapa fungsi pengaturan di dalam tubuh juga telah ditemukan berkaitan


erat dengan kehadiran histamin. Histamin dilepaskan sebagai neurotransmitter.
Aksi penghambatan reseptor histamin H1 (antihistamin H1) menyebabkan
mengantuk. Selain itu ditemukan pula bahwa histamin juga dilepaskan oleh sel-sel
mast di organ genital pada saat terjadi orgasme.

Pasien penderita schizophrenia ternyata memiliki kadar histamin yang


rendah dalam darahnya. Hal ini mungkin disebabkan karena efek samping dari
obat antipsikotik yang berefek samping merugikan bagi histamin, contohnya
quetiapine. Ditemukan pula bahwa ketika kadar histamin
kembali normal, maka kesehatan pasien penderita
schizophrenia tersebut juga ikut membaik.

Gambar ikatan kimia histamin

2.1.2 Fisiologi

Histamin bereaksi dengan reseptor spesifik pada berbagai jaringan target,


resptor histamin umumnya disebut Histamin1 ( H1 ) dan Histamin2 ( H2).
Pengaruh histamin pada organ tergantung pada fungsi sel dan rasio H1: H2

Histamin bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor histamin di sel.


Ada 4 jenis reseptor histamin yang telah diidentifikasi, yakni:

Reseptor Histamin H1

Reseptor ini ditemukan di jaringan otot, endotelium, dan sistem syaraf


pusat. Bila histamin berikatan dengan reseptor ini, maka akan mengakibatkan
vasodilasi, bronkokonstriksi, nyeri, gatal pada kulit. Reseptor ini adalah reseptor
histamin yang paling bertanggungjawab terhadap gejala alergi.

Reseptor Histamin H2

Ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi


asam lambung.

Reseptor Histamin H3
Bila aktif, maka akan menyebabkan penurunan penglepasan
neurotransmitter, seperti histamin, asetilkolin, norepinefrin, dan serotonin.
Reseptor Histamin H4
Paling banyak terdapat di sel basofil dan sumsum tulang. Juga ditemukan
di kelenjar timus, usus halus, limfa, dan usus besar. Perannya sampai saat ini
belum banyak diketahui.

2.1.3 Farmakodinamik

Pada sistem Kardiovaskular

- Terjadinya dilatasi kapiler sehingga terjadi kemerahan dan rasa panas di


wajah ( blushing area ), pengaruh H1 lebih kuat dan cepat dibading H2
- Permeabilitas kapiler, histamin meningkatkan permeabilitas kapiler yang
menjadi efek sekunder terhadap pembuluh darah kecil, akibatnya protein
dan plasma keluar ke ruangan ekstrasel dan menimbulkan udem, efek ini
jelas terjadi pada reeseptor H1
- Triple response, bila disuntikan intra dermal akan timbul tiga tanda khas
yaitu : bercak merah setempat di sekeliling tempat suntikan, Flare yaitu
bercak menyebar 1-3cm dari bercak awal dengan warna lebih terang, udem
setempat pada lokasi penyuntikan
- Pembuluh darah besar, histamin cenderung menyebabkan konstriksi
pembuluh darah besar yang intensitasnya berbeda antara berbagai spesies,
kadang menutupi efek dilatasi kapiler sehingga justru terjadi resistensi
perifer
- Jantung, histamin mempengaruhi elektrisitas dan kontraktilitas jantung.
Histamin mempengaruhi depolarisasi diastole di nodus SA sehingga
frekwensi denyut meningkat, memperlambat konduksi AV dan
meningkatkan otomatisitas sehingga rawan terjadi aritmia pada dosis
besar. Umumnya reseptor yang bekerja adalah H1, kecuali konduksi AV
bekerja dengan H2
- Tekanan darah, efek vasodilatasi kapiler mengakibatkan penurunan
tekanan darah secara sistemik sehingga diwaspadai terjadinya syok pada
pemakaian histamin dosis besar

Pada otot Polos non vaskular

Histamin merangsang atau menghambat kontraksi otot polos, kontraksi


terjadi karena aktivasi H1 sedangkan relaksasi terjadi akibat aktivasi H2, efek
yang jelas terjadinya bronkokonstriksi pada penderita asma

Pada Kelenjar eksokrin

Histamin dalam dosis rendah akan klebih berpengaruh pada asam lambung
daripada tekanan darah, blokade pada reseptor H2 tidak hanya menurunkan
produksi asam lambung tetapi juga mengurangi efek gastrin atau aktivitas vagal

Pada ujung syaraf sensoris

Terjadinya nyeri dan gatal seperti efek flare sebagai akibat refleks akson,
ini merupakan cara kerja H1 dengan merangsang ujung saraf sensoris

Pada medula adrenal dan ganglia

Histamin dalam dosis besar juga merangsang sel kromafin medula adrenal
dan sel ganglion otonom

2.1.4 Histamin Endogen Dan Eksogen

1. Histamin Endogen

Histamin berperan penting dalam respon fisiologis dan patologis terutama


pada anafilaksis, alergi, trauma dan syok, histamin juga sebagai mediator sekresi
cairan lambung dan mungkin berperan dalam regulasi mikroserkular

Histamin endogen terdapat di hampir semua jaringan tubuh mamalia,


semua sel mamalia memprodoksi histamin, misalnya leukosit dapat membentuk
histamin dari histidin, enzim pembentuknya disebut L- histidin dekarboksilase.
Produksi dan aktivasi terjadi pada mast cell dan basofil.

Fungsi histamin endogen antara lain:

- reaksi anafilaksis dan alergi


- pelepasan histamin oleh zat kimia dan obat, beberapa zat bersifat
antigenik sehingga mengaktivasi mast cell dan basofil, zat tersebut
diantaranya enzim kimotripsin lipase, beberapa surface actve agents
seperti detergen, garam empedu , racun atau endotoksin, polipeptida
alkali, zat deng berat molekul tinggi, zat bersifat basa seperti morfin,
kodein , antibiotik dan media kontras
- pelepasan histamin oleh sebab lain, seperti radiasi, thermal, fisik atau
mekanik cukup dapat mengaktivasi nast cell untuk melepoaskan
histamin
- pertumbuhan dan perbaikan jaringan
- sekresi cairan lambung

2. Histamin Eksogen

Histamin ini diperoleh dari daging dan bakteri dalam usus yang membentuk
histidin dan histamin. Farmakokinetik histamin eksogen terjadi dalam dua jalur
yaitu metilasi oleh histamin –N-metil transferase menjadi N- metilhistamin,
deaminasi oleh histaminase atau diaminooksidase yang non spesifik menjadi asam
imidazol asetat Intoksikasi jarang terjadi namun gejala yang umum adalah
vasodilatasi, tekanan darah turun sampai syok, gangguan penglihatan dan sakit
kepala ( histamin cepalgia ). Sediaan berupa histamin fosfat injeksi 0,275 atau
0,55 mg/ml, dengann indikasi sebagi berikut :

- Penetapan kemampuan asam lambung ( stress test pada lambung )


- Tes integritas serabut syaraf sensoris
- Tes reaktivitas bronkus
- Diagnosis feokrositoma
2.2 Anti Histamin

2.2.1 Anti histamin penghambat reseptor H1 ( AH1 )

Antihistamin ini biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang


disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi),
seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin
dalam jumlah signifikan di tubuh.

Farmakokinetik secara umum yaitu antagonisme Histamin H1 yang


mempengaruhi otot polos terutama bronkus, permeabilitas kapiler yaitu untuk
mengurangi udem, untuk reaksi anafilaksis dan alergi, pada kelenjar eksokrin
AH1 mempengaruhi sekresi saliva dan eksokrin lain akibat histamine, pada
susunan saraf pusat dapat merangsang atau menghambat SSP umumnya terjadi
kantuk atau sedasi pada pemakaian AH1, antikolinergik nemun tidak memadai
untuk dosis terapeutik, anestesi local yaitu beberapa jenis antihistamin dapat
bersifat anestetik seperti prometazin dan pirilamin

Jenis obat dan golongannya adalah sebagai berikut


- ETANOLAMIN contohnya difenhidramin HCl: kapsul 25 dan 50mg
injeksi 10 mg/ml, Dimenhidrinat: tablet 50mg injeksi 50mg/ml,
karbinoksamin maleat : tablet 4 mg, elisir 5mg/ml
- ETILEN DIAMIN contohnya Tripelenamin HCl : tablet 25,50 mg atau
krem 2% salep 2%, Tripelenamin Sitrat , pirilenamin maleat
- ALKILAMIN contohnya bromfenramin maleat, klorpenramin maleat :
tablet 4 mg, sirup 2,5mg/ml, deksbromfenramin maleat
- PIPERAZIN contohnya klorsiklin Hcl, Silklisin Hcl, Siklisin laktat,
mekliosin Hcl, Hidroksizin HCl
- FENOTIAZIN contohnya prometazin HCl : tablet 12,5mg, 25mg, 50mg
injeksi 25-50mg/5ml supositoria 25mg,50mg ; metdilazin HCl tablet 4mg
atau sirup 4mg/5ml
- PIPERIDIN ( ANTIHISTAMIN NON SEDATIF ) contoh terfenadin,
astemizol, loratadin
- Lain lain contohnya azatadin, siproheptadin, mebhidrolin napadisilat
Nasib Antihistamin H1 dalam Tubuh

- Pemberian antihistamin H1 secara oral bisa diabsorpsi dengan baik dan


mencapai konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan
protein plasma berkisar antara 78-99%. Sebagian besar antihistamin H1
dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function oxygenase
system. Konsentrasi plasma yang relatif rendah setelah pemberian dosis
tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati.
- Waktu paruh antihistamin H1 sangat bervariasi. Klorfeniramin memiliki
waktu paruh cukup panjang sekitar 24 jam, sedang akrivastin hanya 2 jam.
Waktu paruh metabolit aktif juga sangat berbeda jauh dengan obat
induknya, seperti astemizole 1,1 hari sementara metabolit aktifnya, N-
desmethylastemizole, memiliki waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yang
mungkin menjelaskan kenapa efek antihistamin H1 rata-rata masih eksis
meski kadarnya dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi. Waktu paruh
beberapa antihistamin H1 menjadi lebih pendek pada anak dan jadi lebih
panjang pada orang tua, pasien disfungsi hati, danm pasien yang
menerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat microsomal
oxygenase lainnya.
Indikasi

- Antihistamin generasi pertama di-approve untuk mengatasi


hipersensitifitas, reaksi tipe I yang mencakup rhinitis alergi musiman atau
tahunan, rhinitis vasomotor, alergi konjunktivitas, dan urtikaria. Agen ini
juga bisa digunakan sebagai terapi anafilaksis adjuvan. Difenhidramin,
hidroksizin, dan prometazin memiliki indikasi lain disamping untuk reaksi
alergi. Difenhidramin digunakan sebagai antitusif, sleep aid, anti-
parkinsonism atau motion sickness. Hidroksizin bisa digunakan sebagai
pre-medikasi atau sesudah anestesi umum, analgesik adjuvan pada pre-
operasi atau prepartum, dan sebagai anti-emetik. Prometazin digunakan
untuk motion sickness, pre- dan postoperative atau obstetric sedation.

Table 1. Indikasi Generasi Pertama yang Diakui FDA

Kategori
Batas Usia
Drug Name Indikasi Kehamilan

Azatadine > 12 tahun PAR, SAR, CU B

Azelastine > 3 tahun PAR, SAR, VR, AC C

Brompheniramine > 6 tahun AR, HR Type 1 C

Chlorpheniramine > 2 tahun AR B

Clemastine > 6 tahun PAR, SAR, CU B

Cyproheptadine > 2 tahun PAR, SAR, CU B

Dexchlorpheniramine > 2 tahun PAR, SAR, CU B

Hydroxyzine Bisa diberikan Pruritus, sedasi, C


< 6 tahun analgesia, anti-emetik

Promethazine > 2 years old HR Type 1, Sedation, C


Motion sickness,
Analgesia

Tripelennamine > 1 bulan PAR, SAR, CU B


*PAR = perennial allergic rhinitis, SAR = seasonal allergic rhinitis, CU =
chronic urticaria, HR Type 1 = hypersensitivity reaction type 1, AR = allergic
rhinitis, VMR = vasomotor rhinitis, AC = allergic conjunctivitis

Table 2. Indikasi Antihistamin Generasi II & III yang diakui FDA

Nama Obat Batas Usia Indikasi Kategori Kehamilan

Cetirizine > 2 tahun PAR, SAR, CIU B

Fexofenadine > 6 tahun SAR, CIU C

Loratadine > 2 tahun SAR, CIU B

Desloratadine > 12 tahun PAR, SAR, CIU C

*PAR = perennial allergic rhinitis, SAR = seasonal allergic rhinitis, CIU =


chronic idiopathic urticaria

Kontraindikasi

- Antihistamin generasi pertama: hipersensitif terhadap antihistamin khusus


atau terkait secara struktural, bayi baru lahir atau premature, ibu menyusui,
narrow-angle glaucoma, stenosing peptic ulcer, hipertropi prostat
simptomatik, bladder neck obstruction, penyumbatan pyloroduodenal,
gejala saluran napas atas (termasuk asma), pasien yang menggunakan
monoamine oxidase inhibitor (MAOI), dan pasien tua.
- Antihistamin generasi kedua dan ketiga : hipersensitif terhadap
antihistamin khusus atau terkait secara struktural.
Efek Samping

- Antihistamin Generasi Pertama:


1. Alergi – fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.
2. Kardiovaskular – hipotensi postural, palpitasi, refleks takikardia,
trombosis vena pada sisi injeksi (IV prometazin)
3. Sistem Saraf Pusat - drowsiness, sedasi, pusing, gangguan koordinasi,
fatigue, bingung, reaksi extrapiramidal bisa saja terjadi pada dosis tinggi

4. Gastrointestinal - epigastric distress, anoreksi, rasa pahit (nasal spray)


5. Genitourinari – urinary frequency, dysuria, urinary retention
6. Respiratori – dada sesak, wheezing, mulut kering, epitaksis dan nasal
burning (nasal spray)

- Antihistamin Generasi Kedua Dan Ketiga):


1. Alergi – fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.
2. SSP – mengantuk/ drowsiness, sakit kepala, fatigue, sedasi
3. Respiratori** - mulut kering
4. Gastrointestinal** - nausea, vomiting, abdominal distress (cetirizine,
fexofenadine)
- *Efek samping SSPsebanding dengan placebo pada uji klinis, kecuali
cetirizine yang tampak lebih sedatif ketimbang placebo dan mungkin sama
dengan generasi pertama. **Efek samping pada respiratori dan
gastrointestinal lebih jarang dibanding generasi pertama.
Tabel 3. Interaksi Obat

Precipitant Drug Object Drug Effect

Antihistamin Alkohol, depresan Menambah efek depresan


SSP SSP dan efek lebih kecil
pada antihistamin generasi
kedua dan ketiga.

Antifungi Azole dan loratadine, Meningkatkan kadar plasma


Antibiotik Makrolida : desloratadine object drug
azithromycin,
clarithromycin,
erythromycin, fluconazole,
itraconazole, ketoconazole,
miconazole

Cimetadine loratadine Meningkatkan kadar plasma


object drug

Levodopa promethazine Menurunkan efek levodopa

MAOIs: Antihistamin Bisa memperlama dan


phenelzine, isocarboxazid, generasi pertama memperkuat efek
tranylcypromine antikolinergik dan sedative
antihistamin, sehingga bisa
terjadi hipotensi dan efek
samping ekstrapiramidal
Protease Inhibitors: Antihistamin Meningkatkan kadar plasma
ritonavir, indinavir, generasi pertama, object drug
saquinavir, nelfinavir loratadine

Serotonin Reuptatke Antihistamin Meningkatkan kadar plasma


Inhibitors (SSRIs): generasi pertama object drug
fluoxetine, fluvoxamine,
nefazodone, paroxetine,
sertraline

2.2.2 Antagonis Reseptor Histamin H2


Reseptor histamin H2 ditemukan di sel-sel parietal. Kinerjanya adalah
meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2
(antihistamin H2) dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta
dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks
gastroesofagus.
Golongan anti histamin H2
1. Simetidine dan ranintidin
Secara farmakodinamin golongan ini menghambat reseptor H2 secara
selektif dan reversibel, perangsangan H2 akan merangsang sekresi cairan
lambung, obat ini tidak berpengaruh pada reseptor H2 lainya dan tidak
efektif pada pengaruh muskarinik. Simetidin dan ranintidin dapat
mengurangi jumlah ion hidrogen pada asam lambung
Farmakonkinetik obat simetidin secara umum bioaviabilitasnya sekitar 70
% pada pemberian oral sama seperti IM dan IV, absorbsi simetidin terjadi
setelah 60-90 menit dengan waktu paruh 2 jam
Ranintidin memiliki bioaviabilitas sekitar 50% dengan waktu paruh sekitar
1,7 -3 jam
Efek samping : nyeri kepala, malaise, mual, diare, konstipasi, ruam kulit,
prutritus, kehilangan libido dan impoten
Interaksi obat dengan antasida dan metoklopramid akan mengurangi
bioaviabiliotas sebayak 20-30%, hambatan penyerapan saat diberikan
dengan ketokonazol, beberapa obat dipengaruhi metabolismenya antara
lain golongan warfarin, karbamazepin, fenitoin, diazepam, propanolol,
metoprolol dan imipramin
Indikasi yang utama untuk tukak peptik, pemelihraan pada tukak
duodenum, pencegahan tukak lambung
Sediaan simetidin terdiri atas 200,300 dan 400mg tablet, sirup 300mg/5ml.
Injeksi 300mg/2ml sedangkan ranintidin dalam bentuk tablet 150mg dan
injeksi 25mg/2ml
2. Famotidine
Farmakodinamik famotidin sama seperti AH2 lain yaitu menghambat
sekresi asam lambung dalam keadaan basal, malam dan stimulasi
pentagastrin. Famotidin 3 kali lebih potensial simetidin dan 20 kali dari
ranintidin
Indikasi paling efektif untuk tukak duodenum dan tukan lambung setelah 8
minggu pengobatan sebanding dengan ranitidin dan simetidin
Interaksi dengan obat lain belum ditemukan
Efek samping lebih jarang terjadi, kadang ditemukan pusing, konstiopasi
dan diare.
Farmakokinetik famotidin mencapai puncak plasma 2 jam setela
pemberian oral, dengan waktu paruh 3-8 jam dan bioaviabilitas 40-50%
Dosis pemberian yaitu 40mg sekali per hari saat akan tidur untuk terapi
tukak duodenum, pada tukak peptik 20 mg saat akan tidur, pada sindroma
zolingger ellison dianjurkan per oral 20 mg setiap 6 jam

3. nizatidine
farmakodinamik obat ini kurang lebih sama potensiasinya denga
ranintidin, untuk indikasi gangguan asam lambung, penyembuhan tukak
duodenum, refluk esofagus dan sindrom zolingger elison, kurang lebih
sama denga ranintidin
Efek samping jarang terjadi, kadang terjadi gangguan saluran cerna dan
peningkatan kadar serum asam urat
Bioaviabilitas oral sebesart 90% dan tidak mempengaruhi respon
kolinergik, kadar puncak plasma tercapai dalam1 jam dengan waktu paruh
1,5 jam dan masa kerja 10 jam
Dosis aktif untuk tukak duodenum adalah 300mg sekali sehari atau 150
mg dua kali perhari

2.3 Sel-sel Sistem Imun


2.3.1 Sel-Sel Sistem Imun Nonspesifik
Sel sistem imun non spesifik bereaksi tanpa memandang apakah agen
pencetus pernah atau belum pernah dijumpai. Reaksinya pun tidak perlu diaktivasi
terlebih dahulu seperti pada sistem imun spesifik. Lebih jauh lagi respon imun
non spesifik merupakan lini pertama pertahanan terhadap berbagai faktor yang
mengancam. Sel-sel yang berperan dalam sistem imun nonspesifik adalah sel
fagosit, sel nol, dan sel mediator.
1. Sel Fagosit
Sel fagosit terbagi dua jenis, yaitu fagosit mononuclear dan fagosit
polimorfonuklear. Fagosit mononuclear terdiri dari sel monosit dan sel makrofag,
sedangkan fagosit polimorfonuclear terdiri dari neutrofil dan eusinofil.

Sel Monosit dan Sel Makrofag


Persentase sel monosit dalam sel darah putih berkisar 5 %. Monosit
bersirkulasi dalam darah hanya selama beberapa jam, kemudian bermigrasi ke
dalam jaringan, dan berkembang menjadi makrofaga (macrophage) besar
(pemangsa besar). Makrofaga jaringan, yang merupakan sel-sel fagositik terbesar,
adalah fagosit yang sangat efektif dan berumur panjang. Sel-sel ini menjulurkan
kaki semu (psedopodia) yang panjang yang dapat menempel ke polisakarida pada
permukaan mikroba dan menelan mikroba itu, sebelum kemudian dirusak oleh
enzim-enzim di dalam lisosom makrofaga itu.

Beberapa makrofaga bermigrasi ke seluruh tubuh, sementara yang lain


tetap tinggal secara permanen dalam jaringan tertentu: dalam paru-paru
(makrofaga alveoli), hati (sel-sel Kupffer), ginjal (sel-sel mesangial), otak (sel-sel
mikroglia), jaringan ikat (histiosit), dan pada limpa, nodus limfa, serta jaringan
limfatik. Mikroorganisme, fragmen mikroba, dan molekul asing yang memasuki
darah menghadapi makrofaga ketika mereka terjerat dalam bangun limpa yang
mirip dengan jaring, sementara yang berada dalam cairan jaringan mengalir ke
dalam limfa dan disaring melalui nodus limfa.

Namun, beberapa mikroba telah mengevolusikan mekanisme untuk


menghindari perusakan oleh sel fagositik. Beberapa bakteri mempunyai kapsul
bagian luar yang tidak dapat ditempeli makrofaga. Contoh bakteri tersebut adalah
Mycobacterium tuberculosis, yang bersifat resisten terhadap perusakan oleh
lisosom dan bahkan dapat bereproduksi di dalam makrofaga.

Sel Neutrofil
Neutrofil merupakan sel fagosit yang berasal dari sel bakal myeloid dalam
sumsum tulang. Jumlahnya sekitar 60-70% dari semua sel darah putih (leukosit).
Neutrofil adalah fagosit pertama yang tiba, diikuti oleh monosit darah, yang
berkembang menjadi makrofaga besar dan aktif. Sel-sel yang dirusak oleh
mikroba yang menyerang membebaskan sinyal kimiawi yang menarik neutrofil
dari darah untuk datang. Neutrofil itu akan memasuki jaringan yang terinfeksi,
lalu menelan dan merusak mikroba yang ada disana. (Migrasi menuju sumber zat
kimia yang mengundang ini disebut kemotaksis). Di dalam neutrofil terdapat
enzim lisozim dan laktoferin untuk menghancurkan bakteri atau benda asing
lainnya yang telah difagositosis. Setelah memfagositosis 5-20 bakteri, neutrofil
mati dengan melepaskan zat-zat limfokin yang mengaktifasi makrofag. Biasanya,
neutrofil hanya berada dalam sirkulasi kurang dari 48 jam karena neutrofil
cenderung merusak diri sendiri ketika mereka merusak penyerang asing.
Sel Eusinofil
Sama seperti sel fagosit lainnya, sel eosinofil berasal dari sel bakal
myeloid. Ukuran sel ini sedikit lebih besar daripada neutrofil dan berfungsi juga
sebagai fagosit. Eosinofil berjumlah 2-5% dari sel darah putih. Peningkatan
eosinofil di sirkulasi darah dikaitkan dengan keadaan-keadaan alergi dan infeksi
parasit internal (contoh, cacing darah atau Schistosoma mansoni). Walaupun
kebanyakan parasit terlalu besar untuk dapat difagositosis oleh eosinofil atau oleh
sel fagositik lain, namun eosinofil dapat melekatkan diri pada parasit melalui
molekul permukaan khusus, dan melepaskan bahan-bahan yang dapat membunuh
banyak parasit. Selain itu, eosinofil juga memiliki kecenderungan khusus untuk
berkumpul dalam jaringan yang memiliki reaksi alergi. Kecendrungan ini
disebabkan oleh faktor kemotaktik yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil yang
menyebabkan eosinofil bermigrasi kearah jaringan yang meradang.

Sel fagosit terutama makrofag dan neutrofil; memiliki peran besar dalam
proses peradangan. Untuk melaksanakan fungsi tersebut sel fagosit juga
berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik lainnya.

Peradangan adalah respon nonspesifik terhadap invasi benda asing atau


kerusakan jaringan. Tujuan akhir dari peradangan adalah untuk menarik protein
plasma dan fagosit ke tempat yang cedera atau terinvasi agar keduanya dapat:

1) Mengisolasi, menghancurkan, atau menginaktifkan antigen yang masuk.


2) Membersihkan debris.
3) Mempersiapkan jaringan untuk proses penyembuhan dan perbaikan.
Proses peradangan mencakup hal-hal berikut ini:

1) Kerusakan jaringan oleh suatu cedera atau perlakuan fisik (seperti terpotong)
atau oleh masuknya mikroorganisme.
2) Beberapa senyawa kimia seperti histamin dihasilkan oleh sel darah putih yang
beredar yang disebut basofil dan oleh sel mast yang ditemukan dalam jaringan
ikat, memicu pembesaran dan peningkatan permeabilitas kapiler didekatnya.
3) Vasodilatasi lokal, peristiwa ini bertanggung jawab atas pembengkakan dan
warna merah yang khas pada peradangan. Peningkatan aliran darah ke tempat
luka dan permeabilitas pembuluh akan membantu pengiriman unsur
penggumpalan darah yang akan membantu memperbaiki dan menghambat
penyebaran mikroba ke bagian tubuh yang lain.
4) Kapiler yang penuh darah membocorkan cairan ke dalam jaringan sekitarnya
dan menyebabkan edema (pembengkakan).
5) Perbaikan jaringan, di sebagian jaringan seperti pada kulit, tulang, dan hati.
Sel-sel spesifik organ yang masih sehat di sekitar tempat cedera mengalami
pembelahan sel untuk mengganti sel-sel yang hilang. Namun, di jaringan yang
bersifat non degenerative, misalnya saraf dan otot, sel-sel yang hilang diganti
oleh jaringan parut.
6) Respon spesifik lainnya terhadap infeksi adalah demam. Toksin yang
dihasilkan oleh patogen dapat memicu demam, dan leukosit tertentu juga
membebaskan molekul yang disebut pirogen,yang dapat mempertinggi suhu
tubuh. Demam ini dapat membantu pertahanan tubuh dengan cara
menghambat pertumbuhan beberapa mikroorganisme.

2. Sel Nol
Sekilas tentang Sel Natural Killer
Sel Natural Killer (Sel NK) merupakan golongan limfosit tapi tidak
mengandung petanda seperti pada permukaan sel B dan sel T. Oleh karena itu
disebut sel nol. Sel ini beredar dalam pembuluh darah sebagai limfosit besar
yang khusus, memiliki granular spesifik yang memiliki kemampuan mengenal
dan membunuh sel abnormal, seperi sel tumor dan sel yang terinfeksi oleh
virus. Sel NK berperan penting dalam imunitas nonspesifik pada patogen
intraseluler. Sel jenis khusus mirip limfosit yang diproduksi di dalam sumsum
tulang ini juga tersedia di limpa, nodus limfa, dan timus dan merupakan 10 %
– 20 % bagian dari limfosit perifer. Bentuknya lebih besar dari limfosit B dan
limfosit T.

Sel dikenal karena memiliki petanda permukaan CD56 dan CD16


tapi tidak CD3. Cara kerja sel ini dan sasaran utamanya serupa dengan sel T
sitotoksik, tapi sel sitotoksik hanya dapat mematikan sel-sel terinfeksi virus
atau sel kanker jenis tertentu yang pernah dijumpai, sedangkan sel NK
membentuk pertahanan yang bersifat segera dan non spesifik terhadap sel
yang terinfeksi virus dan sel kanker sebelum sel T sitotoksik yang lebih
banyak berfungsi. Sel NK diaktifkan oleh interferon yang biasanya diproduksi
dan dilepaskan oleh sel yang terinfeksi virus itu sendiri. Interferon juga
menyebabkan peningkatan daya tahan terhadap virus pada sel-sel yang tidak
terinfeksi.

Sejarah Penemuan Sel Natural Killer (Sel NK)


Penemuan sel NK terjadi pada awal 1970an ketika sedang diadakan
penelitian tentang kemampuan limfosit T untuk melisiskan serangan sel tumor
dimana sebelumnya mereka telah dikebalkan. Selama eksperimen tersebut,
ada sesutu yang peneliti terus amati yaitu ketika ada suatu masa dimana suatu
sekelompok sel terlihat dapat melisiskan sel tumor tanpa disensitisasi
sebelumnya. Namun penemuan tersebut belum dapat didukung dengan teori
yang tepat sehingga belum dapat dibuktikan kebenarannya.

Pada tahun 1973, aktivitas ”pembunuh alamiah” ditemukan pada


bermacam-macam spesies dan eksistensinya akhirnya diakui. Melalui
pemanfaatan antibodi monoklonal, kemampuan “pembunuh alamiah” tersebut
diketahui merupakan bagian dari suatu granular limfosit yang kita kenal saat
ini sebagai sel natural killer (sel NK). Disebut “sel pembunuh alami” karena
sel-sel ini tidak membutuhkan stimulasi tambahan untuk mengenali antigen
tertentu yang akan diserang atau dibunuh.
Mekanisme kerja sel NK
Supaya sel NK dapat menentukan tubuh terinfeksi virus atau
patogen lainnya, maka sel NK memerlukan mekanisme yang dapat
menentukan apakah sel tersebut terinfeksi atau tidak. Seperti yang telah
diketahui bahwa sel NK bersifat sitotoksik. Granul-granul kecil dalam
sitoplasmanya mengandung protein seperti perforin dan protease yang dikenal
sebagai granzim. Ketika telah mendekati sel target, perforin membentuk
saluran transmembran pada sasaran yang menyebabkan sasaran terlisis
kemudian granzim dan molekul-molekul yang berperan lainnya dapat masuk
dan terjadi apoptosis.

Mekanisme dari awal terinfeksi virus dapat dijelaskan sebagai


berikut: Apabila virus menginfeksi sel, antigen-antigen virus yang baru
dipamerkan pada permukaan sel. Antigen-antigen ini akan mempengaruh
penghasilan antibodi spesifik yang kemudian akan bergabung dengan antigen
tersebut. Sel NK, yang mempunyai reseptor spesifik akan bergabung dengan
antibodi tersebut.

Setelah sel NK bergabung dengan sel sasaran terinfeksi virus


melalui perantaraan antibodi, bahan larut termasuk perforin dan granzim akan
dibebaskan dan membentuk polimer (dalam kehadiran Ca ++) pada permukaan
sel sasaran. Pempolimeran perforin akan membentuk saluran pada sel sasaran
dan ini akan melisiskan sel sasaran.

Sel NK aktif ketika mendapat respon dari interferon atau makrofag


– dari sitokin. Mereka membantu untuk mengetahui adanya infeksi dari virus
dimana respon imun adaptif menghasilkan antigen – sel T sitotoksik yang
spesifik yang dapat menghilangkan infeksi. Pasien yang kekurangan sel NK
terbukti mudah terkena infeksi tahap awal dari virus. Untuk mengontrol
aktivitas sitoksiknya, sel NK memiliki dua tipe reseptor permukaan yaitu
reseptor yang berfungsi mengaktifkan dan reseptor yang berfungsi menekan
sifat sitoksiknya tersebut. Sebagian besar dari reseptor tersebut tidak terlalu
khusus dan dapat pula berfungsi dalam sel T. Reseptor yang berfungsi
menekan fungsi sitotoksik dari sel NK mengenal MHC kelas I, dari sinilah
dapat dijelaskan mengapa sel NK membunuh sel memiliki molekul MHC
kelas I lebih sedikit pada permukaan mereka daripada keadaan normal.
Penekanan ini memainkan peranan yang penting dari sel NK. MHC kelas I
terdiri dari mekanisme utama dimana sel akan menunjukkan antigen virus atau
tumor ke sel T sitotoksik.

3. Sel Mediator
Sel yang termasuk sel mediator adalah sel basofil, sel mast, dan
trombosit. Sel tersebut disebut sebagai mediator dikarenakan melepaskan
berbagai mediator yang berperan dalam sistem imun.

Sel basofil dan sel mast


Basofil adalah jenis leukosit yang paling sedikit jumlahnya dan
diduga juga dapat berfungsi sebagai fagosit. Sel basofil secara struktural dan
fungsional mirip dengan sel mast, yang tidak pernah beredar dalam darah tapi
tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh. Awalnya sel basofil dianggap
berubah menjadi sel mast dengan bermigrasi dari sistem sirkulasi, tapi para
peneliti membuktikan bahwa basofil berasal dari sumsum tulang sedangkan
sel mast berasal dari sel prekursor yang terletak di jaringan ikat. Ada dua
macam sel mast yaitu terbanyak sel mast jaringan dan sel mast mukosa. Yang
pertama ditemukan di sekitar pembuluh darah dan mengandung sejumlah
heparin dan histamine. Sel mast yang kedua ditemukan di slauran cerna dan
napas. Proliferasinya dipacu IL-3 dan IL-4 dan ditingkatkan pada infeksi
parasit. Baik sel basofil maupun sel mast memiliki reseptor untuk IgE dan
karenanya dapat diaktifkan oleh alergen spesifik yang berkaitan dengan
antibodi IgE. Kemudian bila terdapat alergen spesifik berikutnya yang
bereaksi dengan antibodi, maka perlekatan keduanya menyebabkan sel mast
atau basofil rupture dan melepaskan banyak sekali histamin, bradikinin,
serotonin, heparin, substansi anafilaksis yang bereaksi lambat, dan sejumlah
enzim lisosomal. Bahan-bahan inilah yang menyebabkan manifestasi alergi.
Selain itu keduanya pun dapat membentuk dan menyimpan heparin dan
histamin.

Trombosit
Trombosit adalah fragmen sel yang berasal dari megakariosit besar
di sumsum tulang belakang. Trombosit berperan dalam pembatasan daerah
yang meradang, dimana apabila terpajan ke tromboplastin jaringan di jaringan
yang cedera maka fibrinogen, yang telah diaktifkan melalui proses berjenjang
yang melibatkan pengaktifan suksesif faktor-faktor pembekuan, diubah
menjadi fibrin. Fibrin inilah yang membentuk bekuan cairan interstitiumdi
ruang-ruang di sekitar bakteri dan sel yang rusak.

2.3.2 Sel-sel Sistem Imun Spesifik

1. Sel T
Karakteristik Sel T
1) Sel T tidak mengeluarkan antibodi. Sel –sel ini harus berkontak langsung
dengan sasaran suatu proses yang dikenal sebagai immunitas yang diperantarai
oleh sel (cell-mediated immunity, imunitas seluler).
2) Bersifat klonal dan sangat spesifik antigen. Di membran plasmanya, setiap Sel
T memiliki protein-protein reseptor unik.
3) Sel T diaktifkan oleh antigen asing apabila antigen tersebut disajikan di
permukaan suatu sel yang juga membawa penanda identitas individu yang
bersangkutan, yaitu, baik antigen asing maupun antigen diri harus terdapat di
permukaan sel sebelum sel T dapat mengikuti keduanya.
4) Tidak semua turunan sel T yang teraktivasi menjadi sel T efektor. Sebagian
kecil tetap dorman, berfungsi sebagai cadangan sel T pengingat yang siap
merespon secara lebih cepat dan kuat apabila antigen asing tersebut muncul
kembali di sel tubuh.
5) Selama pematangan di timus, sel T mengenal antigen asing dalam kombinasi
dengan antigen jaringan individu itu sendiri, suatu pelajaran yang diwariskan
ke semua turunan sel T berikutnya
6) Diperlukan waktu beberapa hari setelah pajanan antigen tertentu sebelum sel T
teraktivasi besiap untuk melancarkan serangan imun seluler.

Tabel 4. Karakteristik Limfosit T

Karakteristik Limfosit T
Asal Sumsum tulang
Tempat proses pematangan Timus
Ada reseptor permukaan, tetapi berbeda dengan
Reseptor untuk antigen
antibodi; sangat spesifik
Antigen asing yang berkaitan dengan antigen
Berkaitan dengan
diri, misalnya sel-sel yang terinfeksi virus
Antigen harus diproses dan
Ya
disajikan oleh makrofag
Jenis sel aktif sel T sitotoksik, sel T penolong, sel T penekan
Pembentukan sel pengingat Ya
Jenis imunitas Imunitas diperantarai sel
Produk sekretorik Limfokin
Melisiskan sel yang terinfeksi virus dan sel
kanker, membentuk imunitas terhadap sebagian
Fungsi
besar virus dan jamur, beberapa bakteri;
membentuk sel B membentuk antibodi
Lama hidup Lama

Subpopulasi
sel T Ketika sel T terpajan ke kombinasi antigen spesifik, sel-sel
dari sel klon sel T komplementer berproliferisai dan berdiferensiasi selama
beberapa hari, menghasilkan sejumlah besar sel T teraktivasi yang
melaksanakan berbagai respons imunitas seluler. Terdapat tiga subpopulasi sel
T, tergantung pada peran mereka setelah diaktifkan oleh antigen.

1) Sel T sitotoksik
Sel T yang menghancurkan sel penjamu yang memiliki antigen asing,
misalnya sel tubuh yang dimasuki oleh virus, sel kanker, dan sel cangkokan.

2) Sel T penolong
Sel T yang meningkatkan perkembangan sel B aktif menjadi sel plasma,
memperkuat aktivitas sel T sitotoksik dan sel T penekan (supresor) yang
sesuai, dan mengaktifkan makrofag.

3) Sel T penekan
Sel T yang menekan produksi antibodi sel B dan aktivitas sel T sitotoksik
dan penolong.

Sebagian besar dari milyaran Sel T diperkirakan tergolong dalam


subpopulasi penolong dan penekan, yang tidak secara langsung ikut serta
dalam destruksi patogen secara imunologik. Kedua subpopulasi tersebut
disebut sel T regulatorik, karena mereka memodulasi aktivitas sel B dan Sel T
sitotoksik serta aktivitas mereka sendiri dan aktivitas makrofag.

Pajanan terhadap antigen sering mengaktifkan baik sel B maupun


sel T secara stimulan. Seperti sel T regulatorik yang dapat mempermudah atau
menekan sekresi antibodi sel B, antibodi juga dapat meningkatkan atau
menghambat kemampuan sel-sel T sitotoksik menghancurkan sel korban,
bergantung pada keadaan. Sebagain besar efek yang ditimbulkan limfosit pada
sel-sel imun lain ( limfosit lain dan makrofag) diperantarai melalui sekresi zat-
zat perantara kimiawi. Semua zat kimiawi selain antibodi yang disekresikan
secara kolektif oleh limfosit disebut limfokin, yang sebagian besar diproduksi
oleh limfosit T. limfokin tidak berinteraksi secara langsung dengan antigen
yang menyebabkan prduksi limfokin tesebut.
Sel T Sitotoksik
Sasaran sel T sitotoksik yang paling sering adalah sel yang sudah
terinfeksi virus. Sel T sitotoksik dari klon yang spesifik untuk virus tersebut
mengenali dan berikatan dengan antigen virus dan antigen diri di permukaan
sel yang terinfeksi. Setelah diaktivasi oleh antigen virus, sel T sitotoksik
menghancurkan sel korban dengan mengeluarkan zat-zat kimiawi yang
melisiskan sel sebelum replikasi virus dapat dimulai.

Salah satu cara yang digunakan sel T sitotoksik dan sel natural
killer untuk menghancurkan sel sasaran adalah dengan mengeluarkan moleku-
molekul perofin, yang menembus membran permukaan sel sasaran dan
menyatu untuk membentuk saluran seperti pori-pori. Teknik mematikan sel
dengan membuat lubang di membran ini serupa dengan metode yang
diterapkan oleh membrane attack complex pada jenjang komplemen. Virus
yang keluar setelah sel dirusak kemudian secara langsung dihancurkan di
cairan ekstrasel oleh sel-sel fagositik, antibodi netralisasi, dan sistem
komplemen. Sementara itu Sel T sitotoksik, yang tidak mengalami cidera
selama proses ini, dapat menyerang sel lain yang terinfeksi. Sel-sel sehat
disekitarnya menggantikan sel yang hilang melalui proses pembelahan sel.

Biasanya untuk menghentikan infeksi virus tidak banyak sel yang


harus dihancurkan. Namun, apabila virus memiliki kesempatan untuk
memperbanyak diri, dengan virus-virus turunan itu meninggalkan sel dan
semua menyebar ke sel-sel lain, banyak sel yang harus dikorbankan oleh
mekanisme pertahanan sel T sitotoksik, sehingga dapat terjadi malfungsi
serius.

Sel T Penolong
Sel T penolong meningkatkan banyak aspek respons imun,
terutama melalui sekresi limfokin. Berikut ini adalah sebagian dari zat-zat
perantara kimiawi yang paling dikenal yang dihasilkan oleh Sel T ini:
1. Sel T penolong menghasilkan faktor pertumbuhan sel B yang meningkatkan
kemampuan klon sel B aktif menghasilkan antibodi. Sekresi antibodi sangat
menurun jika tidak terdapat sel T penolong, walaupun sel T itu sendiri tidak
menghasilkan antibodi.
2. Sel T penolong juga mengeluarkan faktor pertumbuhan sel T, yang juga
dikenal sebagai interleukin 2 (IL-2) untuk meningkatkan aktivitas sel T
sitotoksik, sel T penekan, dan bahkan sel T penolong lain yang responsif
terhadap antigen yang masuk.
3. Sebagian zat kimia yang dihasilkan oleh sel T berfungsi sebagai kemotaksin
untuk menarik lebih banyak neutrofil dan calon makrofag ke tempat invasi.
4. Setelah makrofag ditarik ke daerah invasi, sel T penolong mengeluarkan
macrophage-migration inhibition factor, suatu limfokin penting lain, yang
menahan sel-sel fagositik besar ini tetap di lokasi invasi. Akibatnya terjadi
penumpukan makrofag dalam jumlah besar di daerah yang terinfeksi. Faktor
ini juga meningkatkan daya fagositik makrofag-makrofag tersebut. Apa yang
disebut angry macrophage ini memiliki daya destruktif yang lebih besar.
Sel T penolong adalah jenis sel T yang paling banyak, menyusun
sekitar 60-80% dari sel T yang beredar dalam darah. Karena peran penting sel
ini dalam “menyalakan” semua kekuatan llimfosi dan makrofag, sel T
penolong dapat dianggap sebagai “tombol utama” sistem imun.

Sel T Penekan
Pengetahuan mengenai sel T penekan jauh lebih sedikit
dibandingkan subpopulasi lainnya. Sel-sel ini tampaknya berfungsi membatasi
reaksi imun melalui mekanisme “ check and balance” dengan limfosit yang
lain. Sementara sel B, sel Sitotoksik, dan sel T penolong meningkatkan
aktivitas imun satu sama lain, sel T penekan membatasi respons semua sel
imun lain. Melalui metode umpan balik negatif, sel T penolong mendorong sel
T penekan beraksi. Sel T penekan pada gilirannya, menghambat sel T
penolong dan sel-sel lain yang untuk bertugas dipengaruhi oleh sel T
penolong.
Efek inhibisi oleh sel T penekan membantu mencegah reaksi imun
berlebihan yang dapat membahayakan tubuh. Peningkatan jumlah sel T
penekan sebagai respons terhadap infeksi virus biasanya berlangsung lebih
lambat dibandingkan dengan proliferasi sel T sitotoksik dan sel T penolong,
sehingga sel T penekan membantu menghentikan respons imun setelah
respons tersebut melaksanakan fungsinya.

Toleransi Kekebalan Terhadap Antigen-diri


Sel T penekan mungkin juga berperan penting dalam mencegah
sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri, suatu fenomena yang dikenal
sebagai toleransi. Mungkin selama “proses pemotongan, pengacakan, dan
penempelan” genetik, yang berlangsung selama perkembangan limfosit, secara
tidak sengaja terbentuk sebagian sel B dan T yang dapat bereaksi dengan
antigen jaringan tubuh sendiri. Apabila klon-klon limfosit ini dibiarkan
berfungsi, mereka akan menghancurkan tubuh individu itu sendiri. Untungnya
sistem imun dalam keadaan normal tidak menghasilkan antibodi atau sel T
aktif terhadap antigen tubuh sendiri, tetapi mengarahkan serangan
destruktifnya hanya kepada antigen asing.

Kadang-kadang sistem imun gagal membedakan antara antigen diri


dan antigen asing, dan melancarkan pukulan mematikan terhadap satu atau
lebih jaringan tubuh sendiri. Keadaan pada saat sistem imun tidak dapat
mengenal dan mentoleransikan antigen diri yang berkaitan dengan jaringan
tertentu disebut sebagai penyakit autoimun.

Penyajian Antigen oleh MHC


MHC, Major Histocompatibility Complex atau disebut kompleks
histokompatibilitas mayor, merupakan kumpulan glikoprotein permukaan sel
(protein yang berikatan dengan rantai gula) yang dikode oleh sebuah keluarga
gen. pada manusia, glikoprotein MHC juga dikenal sebagai HLA (Human
Leukocyte Antigen).
Dua kelas utama molekul MHC menandai sel tubuh sebagai “diri
sendiri”. Molekul MHC kelas I ditemukan pada semua sel bernukleus yaitu,
pada hampir setiap sel tubuh. Molekul MHC kelas II terbatas hanya pada
beberapa sel khusus, yang meliputi makrofaga, sel B, sel T yang telah
diaktifkan, dan sel-sel yang menyusun bagian interior timus.

MHC merupakan suatu sidik jari biokimiawi yang dapat dikatakan


unik bagi setiap individu. Tugas suatu molekul MHC adalah penyajian antigen
masing-masing molekul MHC menggendong fragmen antigen protein dalam
lekukan berbentuk ayunan dan “menyajikannya” ke sel T.

Ada dua jenis utama sel T, dan masing-masing membuat kontak


spesifik dengan molekul MHC pada permukaan tubuh. Sel Tsitotoksik (TC)
mempunyai reseptor antigen yang terikat dengn fragmen antigen yang
diperlihatkan oleh molekul MHC kelas I tubuh, yaitu molekul-molekul yang
muncul pada sel-sel bernukleus. Sel T helper (TH) mempunyai reseptor yang
terikat dengan fragmen antigen yang diperlihatkan molekul MHC kelas II
tubuh.

Pengenalan MHC
Sel T yang sedang berkembang berinteraksi dengan sel-sel timus,
yang mengandung kadar molekul MHC kelas I (karena sel itu bernukleus) dan
molekul MHC kelas II yang tinggi. Hanya sel T yang mengandung reseptor
dengan afinitas untuk MHC-self yang mencapai pematangan. Sel-sel T yang
sedang berkembang dan mempunyai reseptor dengan afinitas terhadap MHC
kelas I akan mejadi sel T sitotoksik. Sel-sel T yang mempunyai reseptor
dengan afinitas sedang untuk MHC kelas II akan menjadi sel T helper.

Respon Kekebalan
Interaksi Molekul MHC kelas I
Pada sel yang telah terinfeksi virus, molekul MHC kelas I yang baru
disintesis oleh sel tersebut bergerak menuju permukaan sel. Molekul itu
menangkap fragmen kecil dari salah satu protein lain yang disintesis oleh sel
tersebut. Jika sel tersebut mengandung virus yang bereplikasi, fragmen peptida
protein virus itu ditangkap dan diangkut ke permukaan sel. Dengan cara ini,
molekul MHC kelas I memaparkan protein asing, yang disintesis dalam sel
terinfeksi atau sel abnormal, ke sel T sitotoksik. Interaksi antara sel penyaji
antigen dan sel T sitotoksik sangat ditingkatkan oleh kehadiran protein
permukaan sel T yang disebut CD8. CD8 terdapat di sebagian besar sel T
sitotoksik, dan mempunyai afinitas tehadap sebagian molekul MHC kelas I.
Interaksi molekul MHC kelas I dan CD8 membantu mempertahankan aktivasi
antigen yang bersifat spesifik sedang berlangsung.

Sebuah sel T sitotoksik, yang diaktifkan oleh kontak spesifik


dengan kompleks MHC kelas I dan antigen pada sel yang terinfeksi atau sel
tumor, dan dirangsang lebih lanjut oleh IL-2 dari sel T helper, berdiferensiasi
menjadi sel pembunuh yang aktif. Sel ini membunuh apa yang disebut sel
target terutama dengan cara pembebasan perofin, yaitu protein yang
membentuk pori atau lubang pada membran sel target. Karena ion dan air
mengalir dalam sel target, maka sel itu membengkak dan akhirnya lisis.
Kematian sel-sel yang terinfeksi itu bukan saja menghilangkan tempat bagi
patogen untuk berproduksi, tetapi juga memaparkannya ke antibodi yang
sedang beredar, sehingga menandainya untuk dibuang dan dihancurkan.
Setelah merusak sel yang terinfeksi, sel T C terus bergerak membunuh sel-sel
lain yang terinfeksi dengan patogen yang sama.

Interaksi Molekul MHC kelas II


Sebuah makrofaga yang telah menelan dan merusak bakteri
mengandung fragmen kecil protein bakteri (peptida), sementara permukaan
makrofaga, molekul itu menangkap salah satu di antara peptida bakteri itu
dalam lekukan pengikat antigenya dan membawanya ke permukaan, sehingga
memperlihatkan peptida asing itu ke sel T helper. Interaksi antara sel penyaji
antigen dengan sel T helper semakin meningkat dengan kehadiran protein
permukaan sel T yang disebut CD4. Terdapat pada sebagian besar sel T
helper, CD4 mempunyai afinitas terhadap sebagian protein MHC kelas II.
Interaksi antara molekul CD4 dan molekul MHC kelas II membantu
mempertahankan sel T helper dan sel penyaji antigen (APC) tetap menyatu
sementara aktivasi antigen yang bersifat spesifik sedang berlangsung.

Ketika sel T helper diseleksi melalui kontak spesifik dengan


kompleks MHC kelas II dan antigen pada sebuah APC, sel T H akan
memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi klon sel T helper yang
diaktifkan dan sel T helper memori. sel T helper yang diaktifkan
mensekresikan beberapa sitokin yang berbeda, yang merupakan protein atau
peptida yang berfungsi untuk merangsang limfosit lain. Sebagai contoh sitokin
interleukin-2 (IL-2) membantu sel B yang telah mengadakan kontak dengan
antigen untuk berdiferensiasi menjadi sel plasma yang mensekresi antibodi.
IL-2 juga membantu sel T sitotoksik untuk menjadi pembunuh yang aktif

Sel T helper itu sendiri patuh pada pengaturan sitokin. Sementara


makrofag memfagositosis dan menyajikan antigen, makrofag itu dirangsang
untuk mensekresi suatu sitokin yang disebut interleukin-1 (IL-1). IL-1, dalam
kombinasi dengan antigen yang disajikan, mengaktifkan sel T helper untuk
menghasilkan IL-2 dan sitokin lain. Merupakan satu contoh umpan balik
posiftif adalah peristiwa saat IL-2 yang disekresi oleh sel T helper juga kan
merangsang sel tersebut untuk memperbanyak diri lebih cepat lagi dan untuk
menjadi penghasil sitokin yang lebih aktif lagi. Dengan cara ini, sel T helper
memodulasi respons kekebalan humoral (sel B) maupun respons kekebalan
yang diperantarai oleh sel (sel T sitotoksik).

2.4 Pembahasan Hubungan antara Histamin dengan sistem imun

Basofil dan sel mast merupakan bagian dari kinerja sistem imunitas yang
tak dapat dipisahkan. Dalam kinerjanya sel mast dan basofil termasuk dalam
bagian sistem imun non spesifik yang bekerja sebagai mediator, kinerja tersebut
dapat berlangung jika keduanya melepaskan histamin yang dapat meningkatkan
permeabilitas kapiler-kapiler terhadap sel darah putih dan protein lainnya. Hal ini
akan mempermudah sel darah putih dalam memerangi infeksi di jaringan tersebut.
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Histamin merupakan senyawa jenis amin yang terlibat dalam tanggapan


imun lokal, selain itu senyawa ini juga berperan dalam pengaturan fungsi
fisiologis di lambung dan sebagai neurotransmitter.

Sel mast dan basofil termasuk dalam bagian sistem imun non spesifik yang
bekerja sebagai mediator, kinerja tersebut dapat berlangung jika keduanya
melepaskan histamin yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler-kapiler
terhadap sel darah putih dan protein lainnya. Hal ini akan mempermudah sel darah
putih dalam memerangi infeksi di jaringan tersebut.

3.2 Saran

Dengan mengetahui manfaat dan kinerja histamin serta kerugian jika


histamin dikeluarkan secara berlebihan maka diharapkan mahasiswa dapat
memahami kinerja dari sistem imun dan histamin sehingga dapat memberikan
terapi yang sesuai terhadap pasien nantinya.
Daftar Pustaka

Guyton A. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC
Price, Wilson. 2012. Patofisiologi Edisi 6. Jakarta: EGC

Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7. Jakarta: EGC

S. ganiswara. 2002. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI

Sherwood L. 2011. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem.Jakarta: EGC