You are on page 1of 23

LAPORAN PRAKTIKUM PILOT PLANT

FALLING FILM EVAPORATOR

DENGAN PEMANASAN TIDAK LANGSUNG DAN LANGSUNG

Tanggal Praktikum : 28 Oktober 2016


Tanggal Penyerahan Laporan : 24 November 2016
Dosen Pembimbing : Iwan Ridwan, ST., MT

Oleh
3 - Teknik Kimia Produksi Bersih

Asri Nurdiana 141424007


Dahliana Alami 141424008
Desi Bentang Widiyanti 141424009
Dini Oktavianti P 141424010
Elis Sri Wahyuni 141424011
Firda Hayatus S 141424012

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Falling Film Evaporator adalah suatu jenis alat untuk meningkatkan konsentrasi suatu
larutan dengan mekanisme evaporasi. Alat ini telah lama digunakan misalnya pada produksi
pupuk organik, proses desalinasi, industri kertas, dan bubur kertas, industri bahan pangan
dan bahan biologi, dan lain-lain. Peningkatan konsentrasinya dilakukan dengan penguapan
pelarutnya yang umumnya air. Proses ini ini sering digunakan untuk penguapan larutan
kental, larutan sensitif terhadap panas, larutan yang mudah terdekomposisi, dan penguapan
perbedaan temperatur rendah.

Falling film evaporator memiliki waktu tertahan yang pendek, dan menggunakan
gravitasi untuk mengalirkan liquid yang melalui pipa. Pada saat sekarang ini falling film
evaporator sangat meningkat penggunaanya di dalam proses industri kimia untuk
memekatkan fluida terutama fluida yang sensitive terhadap panas (misalnya sari buah dan
susu), karena waktu tertahan pendek cairan tidak mengalami pemanasan berlebih selama
mengalir melalui evaporator.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1) Mengoperasikan peralatan Falling Film Evaporator.
2) Memilih temperatur dan tekanan optimum untuk umpan tertentu.
3) Menghitung koefisien perpindahan panas pada FFE / kalandria.
4) Menghitung efisiensi penggunaan kukus (steam) sebagai sumber panas.
5) Menghitung steam ekonomi.
BAB II
LANDASAN TEORI

Falling film Evaporator adalah salah satu jenis alat untuk proses evaporasi yang
diklasifikasikan dalam kelas long tube vertical evaporator (LTVE) bersama-sama dengan
climbing film evaporator (CFE). Sedangkan berdasarkan tipe pemanasan dapat
diklasifikasikan ke dalam sistem pemanasan dipisahkan oleh dinding pertukaran panas,
yaitu jenis kolom calandria shell and tube.

Gambar 1. FFE di industri petrokimia

FFE memiliki efektivitas yang baik untuk :


a. Pengentalan larutan-larutan yang jernih
b. Pengentalan larutan berbusa
c. Pengentalan larutan-larutan yang korosif
d. Beban penguapan yang tinggi
e. Temperatur operasi yang rendah
Kinerja suatu evaporator ditentukan oleh beberapa factor lainnya
a. Konsumsi uap
b. Steam ekonomi
c. Kadar kepekata
d. Persentasi produk
Untuk tujuan teknik dan karakteristik evaporator yang perlu diperhatikan adalah :
a. Neraca massa dan energi
b. Koefisien perpindahan panas
c. Efisiensi
Proses penguapan berlangsung pada kalandria shell and tube. Di dalam kalandria
tersebut terdapat tabung berjumlah tiga, umpan masuk didistribusi ke masing-masing tube
kemudian membentuk lapisan tipis pada selimut bagian dalam tube. Sementara pemanas
berada diluar tube, bahan umpan yang turun secara gravitasi menyerap panas maka terjadi
penguapan pelarut sehingga keluar dari kalandria terdiri dari dua fasa ( fasa uap pelarut dan
larutan pekat ) kemudia dipisahkan di separator.
Umpan dimasukkan melalui bagian atas kolom secara gravitasional. Jika vakum tidak
dioperasikan turun dan membasahi dinding bagian dalam kolom dan dining-dinding bagian
luar tabung-tabung penukar panas dan dalam kolom sebagian lapisan tipis (film), maka
panas yang diberikan oleh medium pemanas di dalam penukar panas akan dipakai untuk
memanaskan larutan mencapai titik didihnya. Penguapan pelarut membawa temperatur uap
dari titik temperatur di atasnya, sehinggga di dalam kolom evaporator akan terdapat
campuran antara larutan pada temperatur penguapan pelarut atau sedikit lebih tinggi atau
rendah dari uap pelarut. Karena temperatur pada tangki pemisah dan pendingin
(kondensor) lebih rendah daripada temperatur pada bagian bawah kolom maka sistem pada
bagian kolom tersebut akan mengalami evakuasi yang dalam arti sebenarnya terjadi
penurunan tekanan sehingga kondisi seperti vakum terjadi oleh karena campuran tersebut
akan terhisap menuju tangki pemisah dimana bagian campuran yang berupa larutan produk
yang lebih berat dan pekat turun menuju tangki pengumpul produk, sehingga uap pelarut
menuju kondensor dikondensasikan dan turun menuju tangki destilat. Pada sistem dimana
kondisi vakum dioperasikan oleh pompa vakum proses akan berlangsung serupa, tetapi
titik didih yang dicapai akan lebih rendah dari pada kondisi atmosfer. Selain itu,
kemungkinan aliran balik karena pembentukan uap pelarut dan tekanan parsial yang
dikandungnya lebih kecil.
Metode FFE sudah banyak digunakan pada industri :

a. Produksi pupuk organik


b. Proses desalinasi
c. Bubur kertas dan industri kertas
d. Bahan alami/larutan biologi
Pemekatan bahan-bahan yang sangat peka terhadap panas,mengharuskan waktu kontak
yang singkat sekali dengan permukaan panas. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan
evaporator film jatuh sekali lintas, dimana zat cair masuk dari atas, lalu mengalir ke bawah
didalam tabung panas itu dalam bentuk film, kemudian keluar dari bawah. Tabung-
tabungnya biasanya agak besar, diameternya antara 2 sampai 10in. Uap yang keluar dari
zat cair itu biasanya terbawa turun bersama zatcair, dan keluar dari bawah unit itu.
Evaporator ini bentuknya menyerupai suatu penukar kalor jenis tabung, yang panjang,
vertikal, dan dilengkapidengan separator zat cair-uap di bawah, dan distributor (penyebar)
zat cair di atas. Masalah utama dengan evaporator film-jatuh ini ialah dalam
mendistribusikan zat cair itu secara seragam menjadi film di bagian dalam tabung. Hal ini
dilakukan dengan menggunakan seperangkat plat logam berlubang-lubang yang
ditempatkan lebih tinggi di atas plat tabung yangdipasang dengan teliti agar benar-benar
horisontal. Tabung-tabung itu diberi sisip pada ujungnya yang memungkinkan zat cair
mengalir dengan teratur ke setiap tabung itu.
Evaporator film-jatuh, tanpa sirkulasi dan dengan waktu menetap yang sangat singkat
dapat menangani produk-produk yang peka yang tidak dapat ditangani dengan cara lain.
Alat ini juga cocok sekali untuk memekatkan zat cair viskos. Dengan adanya panas yang
dimiliki oleh steam maka kalor yang tersedia di lingkungan akan diterima oleh komponen
zat dalam umpan yang salah satu diantaranya adalah air dengan kandungan paling besar.
Kalor yang diterima oleh air akan berdampak pada meningkatnya energi kinetik yang
dimiliki molekul-molekul air. Pergerakan molekul air yang kian cepat mengakibatkan
molekul air saling menolak satu sama lain akibatnya fasa air akan berubah menjadi uap dan
akhirnya melepasan diri dari ikatan air lainnya dalam campuran. Pada proses penguapan
cairan yang berupa lapisan tipis maka peningkatan energi kinetik akan jauh lebih cepat lagi
karena pada lapisan tipis, panas yang diterima akan lebih cepat menyebar dan akan
mempercepat proses penguapan.
Keuntungan yang lebih dari falling film evaporator ialah sangat terbatasnya waktu
tinggal dari liquid. Waktu tinggal di dalam tube terhitung dalam satuan detik, membuatnya
ideal juga untuk produk-produk yang sensitif akan poanas seperti susu, sari buah, obat-
obatan dan lain sebagainya. Berrikut adalah contoh aplikasi falling film evaporator pada
industri susu.

Gambar 2. FFE di industri susu

Pada dasarnya evaporator adalah alat dimana pertukaran panas terjadi. Laju
perpindahan panas dinyatakan dalam persamaan umum :

Q = U A dT

dengan U = koefisien keseluruhan perpindahan panas dalam sistem.

Berikut ini ialah skematik dari falling film evaporator yang ada di Laboratorium Pilot
Plant Jurusan Teknik Kimia Polban.

T7
m1
Tangki
umpan
T1
ms
FFE
T6

T8 T14
kondensor
md
kondensat T10 m3
T12
T11 m2

tangki tangki
produk pengumpul
distilat
BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan adalah sebagai berikut:

No. Nama Alat Spesifikasi Jumlah

1. Seperangkat alat FFE - 1

2. Timbangan - 1

3. Ember - 5

4. Stopwatch - 1

5. Termometer - 1

6. Sepasang sarung tangan karet - 2

7. Selang - -

8. Alat Pengukur Konduktivitas - 1

9. Gelas Kimia 100 mL 8

Tabel 3.1 Alat yang digunakan

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:

No. Nama Bahan Spesifikasi Jumlah

1. Air kran - -

Tabel 3.2 Bahan yang digunakan


3.3 Langkah Kerja

Mengisi tangki umpan Membuka aliran steam, Set tekanan dan


dengan air dan pewarna aliran pendingin, dan variasikan laju alir
udara tekan

 Mengukur suhu steam dan suhu umpan


pada setiap laju alir
 Menimbang massa destilat
 Menimbang massa steam keluar

3.3.1 Kalibrasi Laju Alir

Timbang berat ember kosong

Atur bukaan pompa pada 100 lt/jam

Tampung air yang keluar pada ember selama 1 menit

Timbang ember yang berisi air.

Ulangi langkah tersebut untuk bukaan pompa ........


lt/jam
3.2.2 Prosedur Operasi

Alirkan umpan sampai stabil lalu nyalakan steam

Atur tekanan pada 0,5 bar

Atur laju alir umpan pada 100 lt/jam

Catat suhu pada T7 (feed masuk) dan T11 (suhu larutan pekat)

Tampung aliran output steam dan kondensat

Timbang hasil sampling

Ulangi langkah tersebut untuk laju alir ..... lt/jam

Ulangi langkah tersebut untuk tekanan ......... bar


BAB IV

DATA PENGAMATAN

4.1 DATA PENGAMATAN


Laju
Berat Berat TI TI TI TI T
Tekanan Alir TI 1 TI 4 TI 8
RUN Kondensat Produk 7 10 11 14 Kondensat Tds
(Bar) Umpan (oC) (oC) (oC)
(kg) (kg) (oC) (oC) (oC) (oC) (oC)
(L/h)
1 40 0.82 4.4 188.9 129.8 25.6 152.5 76.9 97 34.1 80 0.338
0.3 2 60 0.82 4.84 188 130.2 25.8 152 76.6 97 34.1 80 0.340
3 80 1.04 5.68 189.5 129.8 26 152.3 72.3 96 34.4 72 0.341
1 40 0.8 4.14 189.2 132.9 26.1 154.6 88.4 98 34.6 80 0.328
0.4 2 60 0.9 4.74 197.7 134.5 26.1 154.5 88.3 98 34.8 82 0.312
3 80 0.98 6.24 188.4 132.4 26.1 154.6 88.1 98 34.7 84 0.343
1 40 0.84 4.04 197.2 134.4 26.2 156.4 96.1 98 34.6 86 0.343
0.5 2 60 0.9 5.24 199.5 136.7 26.2 156.5 93.8 98 34.9 84 0.305
3 80 1.02 5.62 197.7 134.5 26.2 156.6 90.3 98 35 90 0.331
4.1.1 Kalibrasi Laju Alir
Laju Alir Umpan (L/h) Kalibrasi (Kg/menit) Kalibrasi (Kg/h)
40 1.54 92.4
60 1.56 93.6
80 2.06 123.6
Tabel 1. Kalibrasi Laju Alir Umpan

4.1.2 Data Percobaan


 Pemanasan Langsung
Tabel 2. Data Pengamatan Pemanasan Langsung
 Pemanasan Tidak Langsung
Laju Bera
Berat TI TI TI TI TI TI TI T
Tekan Alir t
RU Konde 1 4 7 8 10 11 14 Konde
an Ump Prod o Tds
N nsat ( C (oC (o (oC (o (o (o nsat
(Bar) an uk
(kg) ) ) C) ) C) C) C) (oC)
(L/h) (kg)
191 116 26. 161 58. 36. 0.3
1 40 0.7 3.94 89 62
.3 .5 4 .2 2 8 26
191 116 26. 162 36. 0.3
0.3 2 60 0.74 4.86 57 89 63
.0 .1 3 .3 6 31
189 116 26. 57. 0.3
3 80 0.72 5.18 167 89 36 63
.3 .7 4 2 06
191 124 26. 59. 0.3
1 40 0.8 3.98 163 90 37 64
.6 .3 5 8 17
0.4
189 120 26. 163 37. 0.3
2 60 0.78 5.08 60 90 63
.3 .9 5 .1 8 13
189 117 26. 161 59. 38. 0.3
3 80 0.86 5.74 90 64
.9 .8 6 .3 5 5 12
189 120 26. 163 61. 39. 0.3
1 40 0.82 4.4 92 61
.1 .3 7 .8 8 3 12
193 26. 162 60. 39. 0.3
0.5 2 60 0.9 5.12 120 91 64
.7 6 .6 6 1 06
189 117 26. 161 59. 0.3
3 80 1.02 5.88 90 39 64
.1 .5 6 .6 5 08
Tabel 3. Data Pengamatan Pemanasan Tidak Langsung

4.2 PENGOLAHAN DATA


4.2.1 Kalibrasi Laju Alir Umpan
140
120
100
80
Kg/ h

60
40
20
0
0 20 40 60 80 100
Laju alir umpan (L/h)

Grafik 1.Kalibrasi Laju Alir Umpan

4.2.2 Pemanasan Langsung

 Kalor Yang Dilepas Steam


Q1 = m1 × Cp1 × ∆T1
Q1 : Kalor yang dilepas steam (KJ/h)
m1 : Laju alir massa steam (kg/h)
Cp1 : Kapasitas panas steam (KJ/Kg.K)
∆T1 : Perbedaan suhu steam masuk dan kondensat (oC)
Laju Alir Massa
Tekanan (Barg) HV(P+1) HL(P+1) λ P+1 Q Steam η (%) A (m2) Thi Tho Tci Tco (K) (K) U SE
Steam (kg/h)

112.6 2685.9 449 2236.9 251874.94 90.0999375 1 188.9 80 25.6 76.9 163.3 3.1 40.4118182 6232.70496 0.78152753
0.3 113.36 2685.9 449 2236.9 253574.984 90.2855792 1 188 80 25.8 76.6 162.2 3.4 41.0860937 6171.79588 0.78299224
149.12 2685.9 449 2236.9 333566.528 91.0242602 1 189.5 72 26 72.3 163.5 0.3 25.9015312 12878.2552 0.79077253
112.26 2689.2 458.24 2231 250447.57 90.8346356 1 189.2 80 26.1 88.4 163.1 8.4 52.1554706 4801.94248 0.78621058
0.4 115.86 2689.2 458.24 2231 258479.026 88.6772849 1 197.7 82 26.1 88.3 171.6 6.3 50.020932 5167.41722 0.76696012
146.76 2689.2 458.24 2231 327415.69 92.4577315 1 188.4 84 26.1 88.1 162.3 4.1 43.0071338 7613.05534 0.79967294
113.56 2692.3 466.95 2225.3 252710.746 90.095312 1 197.2 86 26.2 96.1 171 10.1 56.872645 4443.44985 0.77809088
0.5 115.36 2692.3 466.95 2225.3 256716.376 88.8303528 1 199.5 84 26.2 93.8 173.3 9.8 56.9162502 4510.42321 0.76595007
148.58 2692.3 466.95 2225.3 330642.503 91.9638285 1 197.7 90 26.2 90.3 171.5 0.3 26.9667619 12261.1126 0.79405034
Tabel 4. Pengolahan Data Perhitungan Q Steam, Efisiensi, U dan Steam Economy

 Kalor Yang Diterima Air Dingin


Q2 = [m2 × Cp2 × ∆T2 ] + [m3 × λ] + [m3 × Cp3 × ∆T3 ]
Q2 : Kalor yang diterima air dingin (KJ/h)

m2 : Laju alir massa umpan (kg/h)


Cp2 : Kapasitas panas air dingin (KJ/Kg.K)
∆T2 : Perbedaan suhu umpan masuk dan produk (oC)

Laju Alir Massa


Laju Alir Laju Alir Massa Laju Alir Massa Cp1 TI 11 HL HV Qfeed
Tekanan (Barg) Destilat TI 7 (oC) λ TI 11
Umpan (L/h) Umpan (kg/h) (m1) Produk (kg/h) (m2) (oC) (KJ/h)
(kg/h) (m3) (KJ/Kg.K) (KJ/Kg) (KJ/Kg)
40 92.4 4.4 88 4.1956 25.6 97 405.59 2669.9 2264.3 226939.2
0.3 60 93.6 4.84 88.76 4.1957 25.8 97 405.59 2669.9 2264.3 228941.6
80 123.6 5.68 117.92 4.1955 26 96 401.38 2668.4 2267 303626.5
40 92.4 4.14 88.26 4.196 26.1 98 409.81 2671.5 2261.7 227493.1
0.4 60 93.6 4.74 88.86 4.196 26.1 98 409.81 2671.5 2261.7 229212.2
80 123.6 6.24 117.36 4.196 26.1 98 409.81 2671.5 2261.7 302721.1
40 92.4 4.04 88.36 4.196 26.2 98 409.81 2671.5 2261.7 227680.5
0.5 60 93.6 5.24 88.36 4.196 26.2 98 409.81 2671.5 2261.7 228042.1
80 123.6 5.62 117.98 4.196 26.2 98 409.81 2671.5 2261.7 304071.5
Tabel 5. Pengolahan Data Perhitungan Q Feed
93

92

Efisiensi (%)
91
40 L/h
90
60 L/h
89 80 L/h
88
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Grafik 2. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap Efisiensi

14000
Koefisien Pindah Panas (U)

12000
10000
8000
40 L/h
6000
60 L/h
4000
80 L/h
2000
0
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Grafik 3. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap Koefisien Pindah Panas

0.805
0.8
0.795
Steam Ekonomi

0.79
0.785
40 L/h
0.78
0.775 60 L/h
0.77
80 L/h
0.765
0.76
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Grafik 4. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap Steam Ekonomi


90.7
90.65
90.6
90.55
Efisiensi (%)
90.5
90.45
90.4
90.35
90.3
90.25
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Tekanan (barg)

Grafik 5. Pengaruh Tekanan Terhadap Efisiensi

9000
8000
Koefisien Pindah Panas

7000
6000
5000
4000
3000
2000
1000
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Tekanan (barg)

Grafik 6. Pengaruh Tekanan Koefisien Pindah Panas


0.786
0.785
0.784

Steam Ekonomi
0.783
0.782
0.781
0.78
0.779
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Tekanan (barg)

Grafik 7. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap Steam Ekonomi

4.2.2 Pemanasan Tidak Langsung


 Kalor Yang Dilepas Air Pemanas
Q1 = m1 × Cp1 × ∆T1
Q1 : Kalor yang dilepas air panas (KJ/h)
m1 : Laju alir massa air pemanas (kg/h)
Cp1 : Kapasitas panas air pemanas (KJ/Kg.K)
∆T1 : Perbedaan suhu air pemanas masuk dan air pemanas keluar (oC)

Laju Alir Massa


Tekanan (Barg) Air Pemanas HV(P+1) HL(P+1) λ P+1 Q Air Pemanas η (%) A (m2) Thi Tho Tci Tco (K) (K) U
(kg/h)

9531 2685.9 449 2236.9 21319893.9 1.06195042 1 191.3 62 26.4 58.2 164.9 3.8 42.7282628 498964.678
0.3 9514.4 2685.9 449 2236.9 21282761.36 1.06847447 1 191 63 26.3 57 164.7 6 47.9113697 444211.082
9498.6 2685.9 449 2236.9 21247418.34 1.42634871 1 189.3 63 26.4 57.2 162.9 5.8 47.1025119 451088.858
9531 2689.2 458.24 2231 21263279.76 1.06491127 1 191.6 64 26.5 59.8 165.1 4.2 43.8244461 485192.208
0.4 9514.4 2689.2 458.24 2231 21226245.82 1.06935034 1 189.3 63 26.5 60 162.8 3 40.010915 530511.383
9498.6 2689.2 458.24 2231 21190996.66 1.424624 1 189.9 64 26.6 59.5 163.3 4.5 44.215366 479267.698
9531 2692.3 466.95 2225.3 21209810.85 1.06425621 1 189.1 61 26.7 61.8 162.4 0.8 30.4147817 697352.066
0.5 9514.4 2692.3 466.95 2225.3 21172870.04 1.07224467 1 193.7 64 26.6 60.6 167.1 3.4 42.030216 503753.539
9498.6 2692.3 466.95 2225.3 21137709.51 1.42670361 1 189.1 64 26.6 59.5 162.5 4.5 44.052856 479826.087
Tabel 6. Pengolahan Data Perhitungan Q Steam, Efisiensi dan U
 Kalor Yang Diterima Air Dingin
Q2 = [m2 × Cp2 × ∆T2 ] + [m3 × λ] + [m3 × Cp3 × ∆T3 ]
Q2 : Kalor yang diterima air dingin (KJ/h)

m2 : Laju alir massa umpan (kg/h)


Cp2 : Kapasitas panas air dingin (KJ/Kg.K)
∆T2 : Perbedaan suhu umpan masuk dan produk (oC)
Laju Alir Massa
Laju Alir Laju Alir Massa Laju Alir Massa Cp1 TI 11 HL HV Qfeed
Tekanan (Barg) Destilat TI 7 (oC) λ TI 11
Umpan (L/h) Umpan (kg/h) (m1) Produk (kg/h) (m2) (oC) (KJ/h)
(kg/h) (m3) (KJ/Kg.K) (KJ/Kg) (KJ/Kg)
40 92.4 3.94 88.46 4.1941 26.4 89 371.92 2657.1 2285.2 226406.7
0.3 60 93.6 4.86 88.74 4.1941 26.3 89 371.92 2657.1 2285.2 227400.9
80 123.6 5.18 118.42 4.1941 26.4 89 371.92 2657.1 2285.2 303062.3
40 92.4 3.98 88.42 4.1944 26.5 90 376.13 2658.7 2282.6 226435.1
0.4 60 93.6 5.08 88.52 4.1944 26.5 90 376.13 2658.7 2282.6 226982.9
80 123.6 5.74 117.86 4.1944 26.6 90 376.13 2658.7 2282.6 301892
40 92.4 4.4 88 4.1948 26.7 92 384.54 2662 2277.4 225726.7
0.5 60 93.6 5.12 88.48 4.1946 26.6 91 380.33 2660.4 2280 227025
80 123.6 5.88 117.72 4.1944 26.6 90 376.13 2658.7 2282.6 301572.5
Tabel 7. Pengolahan Data Perhitungan Q Feed
1.6
1.4
1.2
Efisiensi (%)

1
0.8 40 L/h
0.6 60 L/h
0.4
80 L/h
0.2
0
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Grafik 8. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap Efisiensi


800000

Koefisien Pindah Panas (U)


600000

400000 40 L/h
60 L/h
200000
80 L/h
0
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Grafik 9. Pengaruh Laju Alir Umpan Terhadap Koefisien Pindah Panas

1.188
1.1875
1.187
1.1865
Efisiensi (%)

1.186
1.1855
1.185
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Tekanan (Barg)

Grafik 10. Pengaruh Tekanan Terhadap Efiensi

600000
500000
Koefisien Pindah Panas

400000
300000
200000
100000
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Tekanan (Barg)

Grafik 11. Pengaruh Tekanan Terhadap Koefisien Pindah Panas


BAB V
HASIL dan PEMBAHASAN

Pada percobaan Pilot Plant kali dilakukan pemekatan padatan dalam air dengan
menggunakan Falling Film Evaporator (FFE). FFE adalah suatu alat untuk meningkatkan
konsentrasi dengan cara menguapkan pelarutnya. Falling film evaporator membuat larutan
yang akan dipekatkan membentuk lapisan tipis. Tujuan dari dibentuknya lapisan tipis pada
umpan saat dipanaskan adalah agar proses penguapan lebih efektif. Pada saat umpan dalam
kondisi lapisan tipis, tekanan parsial dari larutan akan meningkat sehingga penguapan akan
terjadi pada suhu yang lebih rendah. Hal ini juga akan membuat kalor yang dibutuhkan
untuk proses penguapan lebih sedikit, sehingga energy yang dibutuhkan oleh steam juga
lebih kecil (hemat).

Tujuan dari praktikum kali ini sendiri adalah untuk dapat menggunakan alat FFE
dengan aman dan benar, memilih tekanan steam dan laju alir umpan yang sebaik mungkin
untuk menghasilkan efisiensi yang tinggi, menghitung koefisien keseluruhan perpindahan
panas untuk FFE, menghitung efisiensi penggunaan steam, menjelaskan pengaruh
pengendalian tekanan.

Hal yang penting saat penggunaan alat adalah mengecek valve dan memastikan valve
yang dibuka dan ditutup benar serta mempelajari aliran dari setiap komponennya baik
umpan, steam, air pendingin, dan udara tekan. Hal ini sangat penting dikarenakan untuk
keselamatan kerja dan juga pemahaman dalam pengoperasian unit falling film evaporator
itu sendiri. Variabel pengukuran yang digunakan untuk pengamatan adalah suhu, tekanan,
laju alir, dan TDS.

Pada praktikum kali ini larutan yang akan dipekatkan adalah air kran. Kondisi operasi
praktikum ini dilakukan pada tekanan steam 0.3 bar, 0.4 bar, dan 0.5 bar dengan perubahan
laju alir umpan sebesar 40, 60 dan 80 Liter/jam pada setiap tekanan steam yang digunakan.
Pengontakkan cairan umpan dengan steam dilakukan dengan tipe aliran co-current, hal ini
disebabkan menara FFE yang berbentuk vertical sehingga apabila digunakan jenis aliran
counter current maka laju steam pemanas akan terhambat oleh kondensat steam yang
dihasilkan yang dapat mengakibatkan proses evaporasi tidak akan optimal. Pada unit
falling film evaporator, pelarut (air) akan diuapkan dan menjadi effluent sebagai distilat
dengan nilai TDS , berdasarkan pengamatan pengaruh tekanan terhadap TDS adalah
semakin besar tekanan maka TDS nya pun semakin besar (air semakin pekat).

Kemudian sistem pemanasan yang dapat dilakukan pada proses evaporasi unit falling
film evaporator adalah secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, akan terjadi
perpindahan panas antara steam dan umpan secara langsung. Sedangkan pada sistem
pemanasan secara tidak langsung, perpindahan panas yang terjadi secara dua tahap, yaitu
steam memanaskan fluida pemanas, dan fluida pemanas memanaskan umpan.

Cara kerja dari falling film evaporator dari praktikum kali ini yaitu umpan masuk
memenuhi tangki umpan kemudian mengalir melalui pompa. Cairan dipompa menuju
bagian atas kolom FFE kemudian masuk kedalam tube (terdapat 3 tube) membentuk
lapisan tipis. Kemudian fluida pemanas masuk kedalam shell dari bagian atas kolom FFE
sehingga antara umpan dan fluida pemanas alirannya co-current. Kemudian separator akan
memisahkan antara uap pelarut dan larutan pekat. Uap pelarut akan masuk kedalam
kondeser untuk didinginkan, sedangkan larutan pekat akan masuk ke kolom penampung
residu.

93

92
Efisiensi (%)

91
40 L/h
90
60 L/h
89 80 L/h
88
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Efisiensi optimum pada alat FFE ini tercapai bila jumlah nilai panas yang diserap
oleh umpan sama dengan atau mendekati jumlah nilai panas yang dilepas oleh steam yang
digunakan. Untuk mencapai kondisi tersebut maka laju alir yang digunakan harus benar-
benar tepat sebab bila laju alir yang digunakan terlalu besar maka umpan tidak akan
membentuk lapisan tipis sementara jika laju alir terlalu kecil maka lapisan tipis yang
dihasilkan juga tidak akan maksimal. efisiensi optimnum pada praktikum ini terjadi pada
kondisi operasi tekanan steam sebesar 0.4 bar dan laju alir umpan sebesar 80 Liter/jam.

14000
Koefisien Pindah Panas (U)

12000
10000
8000
40 L/h
6000
60 L/h
4000
80 L/h
2000
0
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Koefisien perpindahan panas (U) maksimum pada praktikum ini terjadi pada
kondisi operasi tekanan steam sebesar 0.3 bar dan laju alir umpan sebesar 80 kg/jam.
Koefisien perpindahan panas (U) dapat menunjukan bahwa besarnya panas yang
digunakan untuk menguapkan pelarutnya.

0.805 0.799672935
0.8 0.794050343
0.795 0.790772532
Steam Ekonomi

0.79 0.786210583
0.782992237
0.781527531
0.785 0.778090877 40 L/h
0.78
0.775 60 L/h
0.766960124
0.765950069
0.77
80 L/h
0.765
0.76
0 20 40 60 80 100
Laju Alir Umpan (L/h)

Steam ekonomi merupakan perbandingan antara jumlah pelarut umpan yang


teruapkan dengan kebutuhan steam. Nilai SE yang tinggi mengindikasikan bahwa
pemakaian steam yang sedikit dapat memanaskan air lebih banyak. Steam ekonomi
optimum pada praktikum kali ini didapat pada semua kondisi tekanan 0.4 bar dan laju alir
umpan sebesar 80 kg/jam didapatkan nilai SE sebesar 0.799672935.
Sehingga menurut data pengamatan dapat diketahui tekanan dan laju alir optimum
yang didapatkan setelah perbandingan beberapa tekanan dan laju alir didapatkan laju alir
80 L/jam dengan tekanan 0.4 bar merupakan kondisi yang paling baik.
BAB VI

KESIMPULAN

1. Operasi optimum proses Evaporasi ini bergantung pada :


a. Tekanan operasi (tekanan steam),
b. Laju alir umpan yang mempengaruhi waktu tinggal umpan dalam kalindria (evaporator).
c. Temperatur umpan masuk
2. Effisiensi optimum pada tekanan 0.4 bar bar dan laju alir umpan 80 L/jam
3. Koefisien perpindahan panas optimum pada tekanan 0.4 bar dengan laju 80 L/jam.
4. Steam ekonomi optimum pada praktikum kali ini didapat pada semua kondisi tekanan 0.4
bar dan laju alir umpan sebesar 80 kg/jam didapatkan nilai SE sebesar 0.799672935.
5. Sehingga menurut data pengamatan dapat diketahui tekanan dan laju alir optimum yang
didapatkan setelah perbandingan beberapa tekanan dan laju alir didapatkan laju alir 80 L/jam
dengan tekanan 0.4 bar merupakan kondisi yang paling baik.
DAFTAR PUSTAKA

Tim penyusun jobsheet praktikum Pilot Plant. 2013. Falling Film Evaporator. Bandung: Jurusan
Teknik Kimia, Polban
Geankoplis, Christi J. Transport Processes and Unit Operations : third edition. 1993, 1983,
1978. Prentice-Hall,Inc.

Reklaitis."Introduction to Material and Energy Balances"