You are on page 1of 22

TUGAS KELOMPOK

MANAJEMEN BENCANA

MITIGASI GUNUNG MELETUS

Oleh Kelompok 1 :

 Dini Eka Maryani (N1A117015)


 Nia Delzaria (N1A117007)  Dili Antika Sari (N1A117016)
 Nurdhila Farikha (N1A117008)  Wesa Tridiana (N1A117
 Rini Aulia (N1A117011)  Afriliandra Pratama (N1A117039)
 Annisa Putri S (N1A117012)  Laily Octaviani A (N1A117040)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JAMBI
2019

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-
Nya sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah Manajemen Bencana tentang
Mitigasi Gunung Meletus

Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. dan terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu memberikan masukan dan saran-saran
positif sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari masih banyak kekurangan-


kekurangan baik dari segi penulisan, penyusunan maupun dari segi isinya. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca, sehingga penyusunan selanjutnya dapat lebih sempurna.

Jambi, Maret 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................ i

Dafrar Isi ........................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................

1.1 Latar Belakang ...........................................................................................


1.2 Tujuan .......................................................................................................
1.3 Manfaat .....................................................................................................
1.4 Pertanyaan Kajian ......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................

A. Pengertian Bencana Alam Gunung Meletus ..............................................


B. Pengertian Mitigasi ....................................................................................
C. Faktor Risiko ..............................................................................................
D. Persiapan yang dilakukan ..........................................................................
E. Program Pemerintah...................................................................................

BAB III PENUTUP ........................................................................................

4.1 Kesimpulan ................................................................................................


4.2 Saran ..........................................................................................................

DAFTAR RUJUKAN ....................................................................................

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pulau-pulau Indonesia terbentuk tiga lempeng tektonik dunia yaitu lempeng
Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Kondisi tersebut menyebabkan Negara
Indonesia menjadi salah satu negara mempunyai potensi tinggi terhadap bencana
gempabumi, tsunami, letusan gunungapi dan gerakan tanah (tanah longsor). Kejadian
bencana yang terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi dan tsunami Aceh-Nias (2004),
gempabumi Yogyakarta dan Jawa Tengah (2006), gempabumi Sumatera Barat (2007),
banjir Jakarta (2007), gempa bumi Bengkulu (2007), gempa bumi Sumatera Barat (2009),
tsunami Mentawai (2010), banjir bandang Wasior (2010), Erupsi Gunung Merapi (2010
dan 2018), lahar dingin Gunung Merapi (2011), banjir Jakarta (2012, 2013 dan 2014),
erupsi Gunung Sinabung (2013, 2014) dan meletus pada 2017 dan 2018, erupsi gunung
raung dan gunung rinjani (2015), erupsi gunung barujari (2016), Semburan Abu Vulkanik
Gunung Gamalama (2016), dan yang paling terbaru adalah gunung anak Krakatau yang
meletus pada tahun 2018 hingga menyebabkan tsunami di selat sunda jumlah korban
meninggal mencapai 426 orang (Antara , 2018).
Dalam sejarah juga tercatat 2 letusan gunung api terbesar sepanjang sejarah di
dunia yaitu ketusan gunung tambora di nusa tenggara barat dan gunung Krakatau di selat
sunda. Wilayah Indonesia juga merupakan kepualauan gunungapi terbesar/terpanjang di
dunia. Dalam 400 tahun terakhir ada jumlah letusan 78 buah dengan luas daerah terancam
16.670 Km2 dan jumlah jiwa terancam> 5 juta orang. (BNPB, 2014).
Kerangka Aksi Hyogo 2005-2015 menyatakan salah satu prioritas dalam upaya
Pengurangan Risiko Bencana (PRB) adalah pentingnya menggunakan pengetahuan,
inovasi, dan pendidikan untuk membangun sebuah budaya keselamatan dan ketangguhan
disemua tingkat (dalam jangka panjang diharapkan akan dapat membangun kesiapsiagaan
terhadap bencana demi respon yang efektif di semua tingkat) (Astuti dan Sudaryono,
2010).
Di Indonesia paradigma penanggulangan bencana telah bergesar dari paradigma
penanggulangan bencana yang bersifat responsif (terpusat pada tanggap darurat dan
pemulihan) ke preventif (pengurangan risiko dan kesiapsiagaan), sehingga
penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa sekarang lebih ditekankan pada
tahapan pra bencana. Salah satu kegiatan dalam tahap pra bencana adalah mitigasi.

4
Berdasarkan peristiwa Gunung meletus yang sering terjadi di Indonesia dan paradigma
penanggulangan bencana saat ini, maka makalah ini akan membahas tentang Mitigasi
Bencana Gunung Meletus di Indonesia.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimana


Mitigasi bencana gunung meletus di Indonesia?”

1.3 Tujuan

Berdasarkan Rumusan Masalah yang ada maka tujuan dari makalah ini adalah
sebagai berikut :

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk Mengetahui Mitigasi bencana gunung meletus di Indonesia

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui apa itu bencana alam gunung meletus.
2. Untuk mengetahui apa itu mitigasi.
3. Untuk mengetahui daerah-daerah yang sering terjadi gunung meletus.
4. Untuk mengetahu faktor penyebab gunung meletus.
5. Untuk mengetahui program penanggulangan bencana gunung meletus dari
pemerintah.
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Pemerintah

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah untuk lebih terbuka dan
memperhatikan mengenai mitigasi bencana gunung meletus agar tidak terjadi banyak
korban saat terjadi bencana.

1.4.2 Bagi Instansi BNPB

Sebagai bahan pertimbangan untuk lebih aktif memberikan penyadaran dan


peningkatan kemampuan masyarakat untuk mengahadapi bencana gunung berapi.

1.4.3 Bagi Masyarakat

5
Sebagai sumber informasi dan menambah wawasan masyarakat untuk lebih proaktif
ikut serta dalam program penanggulangan bencana gunung merapi.

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Bencana Gunung Meletus

Menurut United National Development Program (UNDP), bencana adalah


suatu kejadian yang ekstrim dalam lingkungan alam atau manusia yang
merugikan/mempengaruhi kehidupan manusia, harta benda atau aktivitas sampai pada
tingkat yang menimbulkan bencana. Pengertian lain tentang bencana seperti yang
tercantum pada Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 Tahun 2007, bencana
diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda dan dampak psikologis.Bencana dapat digolongkan menjadi tiga yaitu bencana
alam, bencana non-alam dan bencana sosial (Undang-Undang12Republik Indonesia
No. 24 Tahun 2007).

Letusan gunung berapi adalah bagian dari aktivitas vulkanik yangdisebut


erupsi. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif.
Erupsi dimulai ketika pada batas lempeng bumi terjadi perubahan tekanan dan suhu
yang sangat tinggi sehingga mampu melelehkan material disekitarnya, yaitu cairan
pijar(magma).Magma akan mengintrusi batuan atau tanah melalui rekahan-rekahan,
lalu keluar mendekati permukaan bumi.

Menurut BAKORNAS PB (2007:63) Gunung api adalah bentuk timbunan


(kerucut dan lainnya)di permukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah
letusan, atau tempat munculnya batuan lelehan (magma)/rempah lepas/gas yang
berasal dari bagian dalam bumi. Penyebab meletusnya adalah pancaran magma dari
dalam bumi yang berasosiasi dengan arus konveksi panas, proses tektonik dari
pergerakan dan pembentukan lempeng atau kulit bumi, akumulasi tekanan dan
temperatur dari fluida magma menimbulkan pelepasan energi. Bila suatu gunung api
meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai ukuran di puncak dan
lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba sebagian material tersebut akan

7
terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir
bebatuan, banjir tersebut disebut lahar (Winarni Sri, dkk. 2016)

Bahaya letusan gunung api terdiri dua yakni bahaya primer dan bahaya
sekunder. Bahaya Primer adalah bahaya yang langsung menimpa penduduk ketika
letusan berlangsung. misalnya, awan panas, udara panas sebagai akibat samping awan
panas, dan lontaran material berukuran blok (bom) hingga kerikil. Sedangkan bahaya
sekunder terjadi secara tidak langsung dan umumnya berlangsung setelah letusan
letusan terjadi, seperti lahar dingin yang dapat menyebabkan kerusakan lahan dan
pemukiman. Lahan di gunung Merapi menghadapi bahaya primer maupun sekunder
dari gunung Merapi berupa rusaknya lahan akibat erupsi dan rusaknya lahan akibat
erosi dan banjir lahar dingin. Kerusakan juga terjadi pada aktivitas kehidupan soial
ekonomi masyarakat di daerah bencana. Pada dasarnya Gunung meletus merupakan
salah satu bencana yang mengakibatkan konsekuensi yang kompleks. Permukaan
tanah pada lahan area erupsi volkanik pada umumnya tertutupi oleh lava, aliran
piroklastik dan juga tepra (debu volkanik) dan lahar (Rahayu, dkk. 2014)

a. Penyebab gunung meletus.


1) Peningkatan kegempaan vulkanik
Aktivitas yang tidak biasa pada gunung berapi, seperti frekuensi gempa
bumi meningkat yang mana dalam sehari bisa terjadi puluhan kali gempa tremor
yang tercatat di alat Seismograf. Selain itu terjadi peningkatan aktivitas Seismik
dan kejadian vulkanis lainnya hal ini disebabkan oleh pergerakan magma,
hidrotermal yang berlangsung di dalam perut bumi.Jika tanda-tanda seperti diatas
muncul dan terus berlangsung dalam beberapa waktu yang telah ditentukan maka
status gunung berapi dapat ditingkatkan menjadi level waspada. Pada level ini
harus dilakukan penyuluhan kepada masyarakat sekitar, melakukan penilaian
bahaya dan potensi untuk naik ke level selanjutnya dan kembali mengecek sarana
serta pelaksanaan shiftpemantauan yang harus terus dilakukan.

2) Suhu kawah meningkat secara signifikan


Sebagai tanda bahwa magma telah naik dan mencapai lapisan kawah paling
bawah sehingga secara langsung akan mempengaruhi suhu kawah secara
keseluruhan. Pada gunung dengan status normal, volume magma tidak terlalu
banyak terkumpul di daerah kawah sehingga menyebabkan suhu di sekitar

8
normal.Naiknya magma tersebut bisa disebabkan oleh pergerakan tektonik pada
lapisan bumi dibawah gunung seperti gerakan lempeng sehingga meningkatkan
tekanan pada dapur magma dan pada akhirnya membuat magma terdorong ke atas
hingga berada tepat dibawah kawah. Pada kondisi seperti ini, banyak hewan
hewan di sekitar gunung bermigrasi dan terlihat gelisah. Selain itu meningkatnya
suhu kawah juga membuat air tanah di sekitar gunung menjadi kering.
3) Terjadinya deformasi badan gunung
Peningkatan gelombang magnet dan listrik sehingga menyebabkan perubahan
struktur lapisan batuan gunung yang dapat mempengaruhi bagian dalam sepeti
dapur magma yang volume-nya mengecil atau bisa juga saluran yang
menghubungkan kawahdengan dapur magma menjadi tersumbat akibat deformasi
batuan penyusun gunung.
4) Lempeng lempeng bumi yang saling berdesakan
Tekanan besar menekan dan mendorong permukaan bumi sehingga
menimbulkan berbagai gejala tektonik, vulkanik dan meningkatkan aktivitas
geologi gunung. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa lempeng
merupakan bagian dari kerak bumi yang terus bergerak setiap saat, dan daerah
pengunungan merupakan zona dimana kedua lempeng saling bertemu, desakan
lempeng bisa juga menjadi penyebabperubahan struktur dalam gunung berapi.
5) Akibat tekanan yang sangat tinggi
Beberapa penyebab seperti yang dijelaskan pada bagian sebelumnya
mendorong cairan magma untuk bergerak ke atas masuk ke saluran kawah dan
keluar. Jika sepanjang perjalanan magma menyusuri saluran kawah terdapat
sumbatan, bisa menimbulkan ledakan yang dikenal dengan letusan gunung berapi.
Semakin besar tekanan dan volume magma-nya maka semakin kuat ledakan yang
akan terjadi.
b. Dampak letusan gunung berapi
Setiap bencana alam pasti membawa dampak tersendiri yang dirasakan oleh
penduduk yang berada disekitar bencana. Biasanya bencana alam identik dengan
dampak negatif namun tidak demikian terjadi pada letusan gunung berapi yang
justru membawa dampak positif disamping terdapat juga efek negatifnya.Berikut
ini adalah dampak letusan gunung berapi baik yang positif maupun negatif :
 Dampak negatif

9
Berikut adalah penjelasan mengenai dampak negatif mengenai letusan
gunung berapi :
1. Asap dan debu yang banyak keluar saat sebelum ataupun sesudah
letusan dapat menyebabkan ISPA bagi masyarakat yang tinggal
didekat lokasi bencana.
2. Dengan meletusnya gunung berapi, maka otomatis segala aktivitas
penduduk menjadi lumpuh sehingga ekonomi tidak berjalan dengan
semestinya.
3. Lava dan lahar akan merusak semua yang dilaluinya seperti hutan,
sungai, lahan pertanian maupun pemukiman penduduk.
4. Karena lahar merusak hutan sekitar maka akan mempengaruhi
ekosistem hayati wilayah tersebut.
5. Terjadinya pencemaran udara karena saat terjadi letusan, gunung
berapi mengeluarkan debu dan gas gas beracun yang mengandung
Sulfur dioksida, Hidrogen sulfida, Nitrogen dioksida.
6. Menganggu parawisata yang terdapat pada titik tertentu yang mana
sebelum terjadinya bencana menjadi tujuan destinasi wisata. Dengan
letusan gunung berapi, beberapa lokasi wisata ditutup sehingga
menghambat laju ekonomi.
 Dampak positif
Berikut adalah penjelasan mengenai dampak positif pada letusan gunung
berapi :
1. Saat terjadi letusan, banyak batu batu berbagai ukuran yang
dimuntahkan gunung yang mana dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
sekitar sebagai bahan bagunan.
2. Besarnya volume material vulkanik selama letusan berlangsung
ternyata membawa berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar karena
memiliki profesi baru yakni sebagai penambang pasir.
3. Tanah tanah sekitar gunung yang terkena material letusan akan
semakin subur, tentu saja hal ini sangat menguntungkan para petani
dimana mereka tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk membeli
pupuk.
4. Setelah gunung meletus, biasanya muncul mata air makdani yaitu
mataair yang kaya dengan kandungan mineral.
10
5. Selain itu muncul pula sumber air panas/ geyser baru secara bertahap
dan periodik, hal ini tentu saja dapat dimanfaatkan masyarakat untuk
kesehatan kulit.
6. Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi sangat
potensial untuk dijadikan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang
tentu saja bernilai ekonomis.

B. Pengertian Mitigasi

Menurut BAKORNAS PB (2007:68) Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi


risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana.( Winarni Sri dkk, 2016)
Mitigasi gunung meletus adalah segala upaya untuk mengurangi dan memperkecil akibat
bencana gunung meletus.

Jenis – jenis mitigasi

a. Mitigasi Struktural

Mitigasi strukural merupakan upaya untuk meminimalkan bencana yang dilakukan


melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan menggunakan pendekatan teknologi,
seperti pembuatan kanal khusus untuk pencegahan banjir, alat pendeteksi aktivitas
gunung berapi, bangunan yang bersifat tahan gempa, ataupun Early Warning System yang
digunakan untuk memprediksi terjadinya gelombang tsunami. Mitigasi struktural adalah
upaya untuk mengurangi kerentanan (vulnerability) terhadap bencana dengan cara
rekayasa teknis bangunan tahan bencana. Bangunan tahan bencana adalah bangunan
dengan struktur yang direncanakan sedemikian rupa sehingga bangunan tersebut mampu
bertahan atau mengalami kerusakan yang tidak membahayakan apabila bencana yang
bersangkutan terjadi. Rekayasa teknis adalah prosedur perancangan struktur bangunan
yang telah memperhitungkan karakteristik aksi dari bencana.

b. Mitigasi Non-Struktural

Mitigasi non –struktural adalah upaya mengurangi dampak bencana dalam lingkup upaya
pembuatan kebijakan seperti pembuatan suatu peraturan. Undang-Undang

11
Penanggulangan Bencana (UU PB) adalah upaya non-struktural di bidang kebijakan dari
mitigasi ini. Contoh lainnya adalah pembuatan tata ruang
kota, capacitybuilding masyarakat, bahkan sampai menghidupkan berbagai aktivitas lain
yang berguna bagi penguatan kapasitas masyarakat, juga bagian dari mitigasi ini. Ini
semua dilakukan untuk, oleh dan di masyarakat yang hidup di sekitar daerah rawan
bencana.

Daerah – Daerah yang Terkena Faktor Risiko Gunung Meletus

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia. Hampir setiap
periode gunung Merapi mengalami erupsi. Periode ulang aktivitas erupsi berkisar antara
2–7 tahun. Aktivitas erupsi gunung Merapi dengan ciri khas mengeluarkan lava pijar dan
awan panas, tanpa membentuk kaldera (kawah).Secara geografis Gunung Merapi terletak
pada 7’ Lintang selatan dan 110’ Bujur timur, dan secara administratif Gunung Merapi
terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman di Provinsi Yogyakarta, dan
Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, serta Kabupaten Klaten di Provinsi Jawa
Tengah.

Salah satu kawasan yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi yaitu Kabupaten
Klaten. Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah yang
terkena dampak erupsi Merapi selain kabupaten Boyolali, kabupaten magelang, dan
Propinsi Yogyakarta. Salah satu kerugian atau dampak yang dirasakan di Kabupaten
Klaten yaitu kerusakan lahan pertanian dan kawasan permukiman. Menurut data BNPB
(2010) Kerusakan lahan pertanian di Kabupaten Klaten terjadi di Kecamatan Kemalang
dengan luas lahan yang rusak 501 ha, terutama Desa Balerante dengan tutupan abu
vulkanik berkisar antara 4-13 cm. Daerah tersebut merupakan daerah ternak, dan saat ini
tanaman rumput sudah mulai tumbuh dan terlihat subur. Tanaman lain selain rumput yang
sudah mulai tumbuh adalah tanaman tahunan seperti pohon mindi. Selain itu juga
banyaknya kawasan permukiman yang rusak parah terkena erupsi Merapi dengan luas
mencapai 496 ha. ( Ariyadi dan Iwan, 2014)

12
C. Faktor Risiko Gunung Meletus
Menurut Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman dari Kelompok Keahlian Petrologi,
Vulkanologi dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ada 3 faktor
penyebab gunung api meletus itu antara lain:
1. Penambahan volume magma yang berada di bawah gunung api akibat adanya injeksi
magma baru.
2. Terjadi pengkristalan magma yang ada di dapur magma
3. Dinding di dapur magma runtuh. Sehingga dapur magma terjadi penambahan volume
secara signifikan dan harus dikeluarkan. Jadi kalau dapur magma kosong mau
diguncang, seharusnya tidak terjadi meletus, seperti yang terjadi di gempa lombok
beberapa waktu lalu. Karena pelemahan di bagian tudungnya gunung akibat proses
hydrothermal
4. Gaya tarik bulan dan matahari ketika gerhana. Sebab ketika bumi berada satu garis
dengan matahari dan bulan, gaya tarikannya akan maksimum.

Letusan gunung api bisa diprediksi melalui dua hal:


1. Prediksi jangka pendek dengan melihat aktivitas gunung api seperti seismicity,
ground deformation, hidrologi, kandungan gas
2. Periode letusan suatu gunung. Prediksi inilah yang bisa meminimalisir resiko dampak
dari letusan gunung api, baik korban jiwa maupun materi. Contoh periodisasi
meletusnya gunung rinjani di lombok, ntb. Gunung tersebut memiliki periode letusan
26 tahun jika dirata-ratakan, terakhir meletus pada 1994 oleh karenanya jika melihat
periode tersebut rinjani akan menggeliat kembali pada 2020.

Klasifikasi Gunung Berapi Berdasarkan Frekuensi Letusan Di Indonesia

 Gunung api tipe a: tercatat pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu
kali sesudah tahun 1600.
 Gunung api tipe b: sesudah tahun 1600 belum tercatat lagi mengadakan erupsi magmatik
namun masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik seperti kegiatan solfatara.

13
 Gunung api tipe c: sejarah erupsinya tidak diketahui dalam catatan manusia, namun
masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan
solfatara/fumarolapada tingkah lemah

Skema peringatan gunung berapi di Indonesia


Tingkatan status gunung berapi di indonesia menurut badan geologi kementerian esdm

Status Makna Tindakan

 Menandakan gunung berapi yang segera  Wilayah yang terancam bahaya


atau sedang meletus atau ada keadaan direkomendasikan untuk
kritis yang menimbulkan bencana dikosongkan
Awas  Letusan pembukaan dimulai dengan abu  Koordinasi dilakukan secara
dan asap harian
 Letusan berpeluang terjadi dalam waktu  Piket penuh
24 jam
 Menandakan gunung berapi yang  Sosialisasi di wilayah terancam
sedang bergerak ke arah letusan atau  Penyiapan sarana darurat
menimbulkan bencana  Koordinasi harian
 Peningkatan intensif kegiatan seismik  Piket penuh
 Semua data menunjukkan bahwa
Siaga
aktivitas dapat segera berlanjut ke
letusan atau menuju pada keadaan yang
dapat menimbulkan bencana
 Jika tren peningkatan berlanjut, letusan
dapat terjadi dalam waktu 2 minggu
 Ada aktivitas apa pun bentuknya  Penyuluhan/sosialisasi
 Terdapat kenaikan aktivitas di atas level  Penilaian bahaya
normal  Pengecekan sarana
 Peningkatan aktivitas seismik dan  Pelaksanaan piket terbatas
Waspada
kejadian vulkanis lainnya
 Sedikit perubahan aktivitas yang
diakibatkan oleh aktivitas magma,
tektonik dan hidrotermal
 Tidak ada gejala aktivitas tekanan  Pengamatan rutin
Normal magma  Survei dan penyelidikan
 Level aktivitas dasar

14
D. Persiapan yang dilakukan
Beberapa persiapan yang harus dilakukan untuk menghadapi letusan gunung berapi adalah
sebagai berikut : (ilham, 2014)

1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung berapi, dan ancaman-ancamannya.


2. Ajaklah keluarga dan masyarakat untuk menghindari daerah bahaya, yang dimaksud
daerah bahaya adalah lereng gunung, lembah atau kawasan yang memungkinkan
dialiri lahar.
3. Mengetahui jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan
dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan.
4. Menyiapkan lampu senter dengan kondisi baterai yang masih baik.
5. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting.
6. Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api (dikoordinasi
oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Pos pengamatan gunung
api biasanya mengkomunikasikan perkembangan status gunung api lewat radio
komunikasi.
7. Pemerintah akan menyediakan angkutan untuk pengungsian. Masyarakat
harus mengungsi ke barak pengungsian.
8. Lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. masyarakat bisa mengenakan masker,
topi, celana panjang dan baju lengan panjang.
9. Abu letusan berbahaya bagi tubuh, usahakan jangan menghirup secara langsung udara
yang terkena abu letusan.
10. Patuhilah pedoman dan perintah dari instansi berwenang tentang
upaya penanggulangan bencana. Jangan mudah terhasut untuk segera kembali ke
rumah saat status masih dalam bahaya.

Upaya pengurangan bencana gunung meletus menurut (Permendagri, 2006) diantaranya:

1. Perencanaan lokasi pemanfaatan lahan untuk aktivitas penting harus jauh atau di luar
dari kawasan rawan bencana.

2. Hindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava dan atau
lahan.

3. Perkenalkan struktur bangunan tahan api.

15
4. Penerapan desain bangunan yang tahan terhadap tambahan beban akibat abu gunung
api.

5. Membuat barak pengungsian yang permanen, terutama di sekitar gunung api yang
sering meletus, misalnya Gunung Merapi (DIY, Jawa tengah), Gunung Semeru (Jawa
timur), Gunung Karangetang (Sulawesi Utara) dsb.

6. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api harus


mengetahui posisi tempat tinggalnya pada Peta kawasan Rawan Bencana Gunung api
(penyuluhan).

7. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api


hendaknya paham cara menghindar dan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi
letusan gunung api (penyuluhan).

8. Mensosialisasikan kepada masyarakat agar paham arti dari peringatan dini yang
diberikan oleh aparat/Pengamat Gunung api (penyuluhan).

9. Mensosialisasikan kepada masyarakat agar bersedia melakukan koordinasi dengan


aparat/Pengamat Gunung api.

Selain itu, Pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana (mitigasi) lainnya yaitu
dengan cara pemanfaatan lahan yang jauh dari kawasan rawan bencana, menghindari tempat
aliran lava atau lahar, mensosialisasikan tentang peringatan dini bencara gunung meletus,
mensosialisasikan tentang tindakan jika terjadi letusan gunung api, dan upaya cukup melalui
upaya mensosialisasikan pentingnya koordinasi dengan aparat atau pengamat gunung api.
(Sri winarni, 2016)

E. Program dari pemerintah

Seperti yang kita ketahui bahwa dampak dari gunung meletus sangat merugikan
manusia baik dari segi materil maupun yang lainnya, untuk itulah pemerintah berusaha
berupaya melakukan penanggulangan bencana letusan gunung api, yaitu dengan mitigasi.
Mitigasi merupakan upaya untuk mengurangi risiko bencana, yang mana perlu strategi ketika
melakukannya, menurut Bakornas PB dalam Sri Winarni dkk (2016) ada beberapa strategi
yang harus dilakukan, yaitu :

16
1. Merencanakan lokasi memanfaatkan lahan untuk aktivitas penting harus jauh atau
diluar dari kawasan rawan bencana
2. Menghindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava dan atau
lahar, memperkenalkan struktur bangunan tahan api
3. Menerapkan susunan bangunan yang tahan terhadap tambahan beban akibat abu
gunung api
4. Membuat barak pengungsian yang permanen, terutama di sekitar gunung api yang
sering meletus
5. Membuat fasilitas jalan dari tempat pemukiman ke tempat pengungsian untuk
memudahkan evakuasi
6. Menyediakan alat transportasi bagi penduduk bila ada perintah pengungsian,
kewaspadaan terhadap risiko letusan gunung api di daerahnya
7. Identifikasi daerah bahaya, meningkatkan kemampuan pemadaman api, membuat
tempat penampungan yang kuat dan tahan api untuk kondisi kedaruratan.

Sedangkan menurut Nur Isnainiati dkk (2014), upaya/strategi yang harus dilakukan, yaitu :
1. Pemantauan, aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat pencatat
gempa (seismograf).
2. Tanggap Darurat, yaitu mengevaluasi laporan dan data, membentuk tim Tanggap
Darurat, mengirimkan tim ke lokasi, melakukan pemeriksaan secara terpadu.
3. Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskan jenis dan
sifat bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arah penyelamatan diri, lokasi
pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
4. Penyelidikan gunung berapi menggunakan metoda Geologi, Geofisika, dan Geokimia.
5. Sosialisasi, petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta
masyarakat terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi.
Annastasia Gadis Pradiptasari, dkk (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
dalam upaya mencegah dan mengurangi dampak dari bencana yang terjadi,
diperlukan sebuah sistem penanggulangan bencana. Sistem penanggulangan bencana
yang mampu menangani bencana erupsi gunung api baik berupa zonasi kawasan
rawan bencana, infrastruktur hingga sosialisasi kepada masyarakat yang berada di
kawasan rawan bencana. Sehingga meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam
kesiap-siagaan

17
BAB III
A. Kesimpulan

Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadarandan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana. (Winarni Sri dkk,2016) Mitigasi gunung meletus adalah segala upaya
untuk mengurangi dan memperkecil akibat bencana gunung meletus. Secara geografis
Gunung Merapi terletak pada 7’ Lintang selatan dan 110’ Bujur timur, dan secara
administratif Gunung Merapi terletak pada 4 wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Sleman
di Provinsi Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, serta Kabupaten
Klaten di Provinsi Jawa Tengah. Salah satu kawasan yang terkena dampak erupsi Gunung
Merapi yaitu Kabupaten Klaten. Kabupaten Klaten merupakan salah satu kabupaten di
Propinsi Jawa Tengah yang terkena dampak erupsi Merapi selain kabupaten Boyolali,
kabupaten magelang, dan Propinsi Yogyakarta.

Ada 3 faktor penyebab gunung api meletus itu antara lain:

1.Penambahan volume magma yang berada di bawah gunung api akibat adanya
injeksi magma baru.

2. Terjadi pengkristalan magma yang ada di dapur magma

3. Dinding di dapur magma runtuh. Sehingga dapur magma terjadi penambahan


volume secara signifikan dan harus dikeluarkan. Jadi kalau dapur magma kosong mau
diguncang, seharusnya tidak terjadi meletus, seperti yang terjadi di gempa lombok
beberapa waktu lalu. Karena pelemahan di bagian tudungnya gunung akibat proses
hydrothermal

4. Gaya tarik bulan dan matahari ketika gerhana. Sebab ketika bumi berada satu garis
dengan matahari dan bulan, gaya tarikannya akan maksimum.

Upaya pengurangan bencana gunung meletus menurut (Permendagri, 2006)


diantaranya:

1. Perencanaan lokasi pemanfaatan lahan untuk aktivitas penting harus jauh atau di luar
dari kawasan rawan bencana.

18
2. Hindari tempat-tempat yang memiliki kecenderungan untuk dialiri lava dan atau
lahan.

3. Perkenalkan struktur bangunan tahan api.

4. Penerapan desain bangunan yang tahan terhadap tambahan beban akibat abu gunung
api.

5. Membuat barak pengungsian yang permanen, terutama di sekitar gunung api yang
sering meletus, misalnya Gunung Merapi (DIY, Jawa tengah), Gunung Semeru (Jawa
timur), Gunung Karangetang (Sulawesi Utara) dsb.

6. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api harus


mengetahui posisi tempat tinggalnya pada Peta kawasan Rawan Bencana Gunung api
(penyuluhan).

7. Mensosialisasikan kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung api


hendaknya paham cara menghindar dan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi
letusan gunung api (penyuluhan).

8. Mensosialisasikan kepada masyarakat agar paham arti dari peringatan dini yang
diberikan oleh aparat/Pengamat Gunung api (penyuluhan).

9. Mensosialisasikan kepada masyarakat agar bersedia melakukan koordinasi dengan


aparat/Pengamat Gunung api.

Selain itu, Pelaksanaan upaya pengurangan risiko bencana (mitigasi) lainnya yaitu
dengan cara pemanfaatan lahan yang jauh dari kawasan rawan bencana, menghindari tempat
aliran lava atau lahar, mensosialisasikan tentang peringatan dini bencara gunung meletus,
mensosialisasikan tentang tindakan jika terjadi letusan gunung api, dan upaya cukup melalui
upaya mensosialisasikan pentingnya koordinasi dengan aparat atau pengamat gunung api.
(Sri winarni, 2016)

19
B. Saran

Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya untuk pemerintah


sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah untuk lebih terbuka dan
memperhatikan mengenai mitigasi bencana gunung meletus agar tidak terjadi banyak
korban saat terjadi bencana. Dan sebagai bahan pertimbangan untuk lebih aktif
memberikan penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat untuk
mengahadapi bencana gunung berapi.

Dalam makalah ini penulis menyadari, bahwa masih banyak kekurangan dan
kelemahan. Untuk itu penulis mengharapkan kritikan dan saran-saran yang bersifat
membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.

20
DAFTAR RUJUKAN

Annastasia Gadis Pradiptasari1 , Dr. Judy O. Waani, ST. MT2 , Windy Mononimbar, ST.
MT. 2015. SISTEM PENANGGULANGAN BENCANA GUNUNG API
GAMALAMA DI PERMUKIMAN KAMPUNG TUBO KOTA TERNATE. Jurnal
Article. Vol. 2, No.2, p. 33-42

Antara. (2018). BNPB: Letusan Gunung Anak Krakatau Tak Akan Sebesar Krakatau.
Tempo.Co (https://nasional.tempo.co/read/1159815/bnpb-letusan-gunung-anak-
krakatau-tak-akan-sebesar-krakatau/full&view=ok). Diakses Pada Hari Selasa,Tanggal 12
Maret 2019.

Astuti, dan Sudaryono. (2010). Peran Sekolah Dalam Pembelajaran Mitigasi Bencana.
Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, Vol 1(1), p.30-42.

BNPB. (2014). Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2015-2019. Jakarta : Badan


Nasional Penanggulangan Bencana.

Nur Isnainiati, Muchammad Mustam, Ari Subowo. 2014. KAJIAN MITIGASI BENCANA
ERUPSIGUNUNG MERAPI DI KECAMATAN CANGKRINGAN
KABUPATEN SLEMAN. Jurnal Article. Vol. 3, No.3, p. 1-10

Permana, Adi. September 2018. Mengupas Penyebab Gunung Api Meletus Bersama
Volkanog ITB. [online]. (diupdate Oktober 2018).
https://www.itb.ac.id/news/read/56819/home/mengupas-penyebab-gunung-api-meletus-
bersama-volkanolog-itb [diakses 14 Maret 2019]

Setiono, Amin Nur., 2014. Mitigasi Bencana Erupsi Gunung Api Merapi di Desa Dompol
Kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten. Naskah Publikasi. Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah, Surakarta.
Sri Winarni, Agus Khoirul Anam, Rizal An Akhiruna. 2016. UPAYA PENGURANGAN
RISIKO BENCANA (MITIGASI) LETUSANGUNUNG KELUD OLEH
MASYARAKAT DI WILAYAH KAWASANRAWAN BENCANA (KRB) III
KABUPATEN BLITAR. Jurnal Ners dan Kebidanan. Vol. 3, No. 3, p. 272-277

Wikipedia. Gunung Berapi. [online]. (diupdate 28 februari 2019).


Https://id.wikipedia.org/wiki/gunung_berapi [diakses 14 Maret 2019].

21
Wikipedia. Persiapan Bencana. [online]. (diupdate 13 Maret 2019).
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Persiapan_bencana [diakses 14 Maret 2019).

Winarni Sri, dkk. (2016). ‘UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA (MITIGASI)


LETUSAN GUNUNG KELUD OLEH MASYARAKAT DI WILAYAH
KAWASAN RAWAN BENCANA (KRB) III KABUPATEN BLITAR’. Jurnal
Ners dan Kebidanan. Vol 3(3). P 272 – 277

22