You are on page 1of 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Sampel Berat Sampel Vol. HCl 0,01 N (ml) Kadar Nikotin (mg)
Simplo 1,04 g 10,5 ml 17,034 mg
Duplo 1,01 g 12,2 ml 19,792 mg
Rata-rata 1,025 g 11,35 ml 18,41 mg

Perhitungan
Kadar Nikotin dalam sebatang rokok

Dalam 1 mL HCl setara dengan 1,6223 mg nikotin


𝑁 𝐻𝐶𝑙 1,6223 𝑚𝑔
Nikotin = V HCl x x x 100%
0,01 𝑁 𝑊𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

0,1 𝑁 1,6223 𝑚𝑔
= 1,3 mL x x x 100%
0,001 𝑁 1025 𝑚𝑔

= 1,79640 %

Miligram Nikotin

1,79640
Nikotin = x Wsampel
100
1,79640
= x 1025 mg
100
= 18,41 mg

4.2 Pembahasan
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya
yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau
sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau bahan tambahan (PP RI No.19 Tahun
2003). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lingkungan asap rokok adalah penyebab
berbagai penyakit, dan juga dapat mengenai orang sehat yang bukan perokok. Paparan asap
rokok yang dialami terus-menerus pada orang dewasa yang sehat dapat menambah resiko terkena
penyakit paru-paru dan penyakit jantung sebesar 20 - 30 persen. Lingkungan asap rokok dapat
memperburuk kondisi seseorang yang mengidap penyakit asma, menyebabkan bronkitis,
danpneumonia. Asap rokok juga menyebabkan iritasi mata dan saluran hidung bagi orang yang
berada di sekitarnya. Resiko yang dapat ditimbulkan oleh karena merokok sebenarnya dapat
dikurangi bila diketahui kadar nikotin dalam asap rokok (Susanna, 2003).
Bila kadar ini dicantumkan maka calon perokok dapat memilih rokok dengan kandungan
nikotin yang sekecil mungkin atau kandungan yang paling sedikit diantara jenis-jenis rokok.
Nikotin adalah zat alkaloid yang ada secara natural di tanaman tembakau. Nikotin juga didapati
pada tanaman - tanaman lain dari famili Solanaceae seperti tomat, kentang, terong dan merica
hijau pada level yang sangat kecil dibanding pada tembakau. Nikotin tidak berwarna tetapi
segera menjadi coklat ketika bersentuhan dengan udara.
Pada percobaan kali ini, dilakukan percobaan untuk menentukan kadar nikotin pada
tembakau, dalam percobaan kali ini digunakan rokok Dji Sam Soe sebagai sample untuk
memperoleh tembakau. Nikotin adalah suatu alkaloid dengan nama kimia 3-(1-metil-2-pirolidil)
piridin. Nikotin termasuk salah satu kelompok senyawa alkaloid yang terdapat pada tembakau.
Rokok yang dilengkapi dengan filter akan menahan sebagian nikotin pada filter, sedangkan yang
lainnya lolos masuk ke dalam paru-paru. Pada dasarnya alkaloid merupakan senyawa yang
mengandung substansi dasar Nitrogen basa.
Untuk mentukan kadar nikotin dalam percobaan kali ini digunakan metode Acidimetri.
Acidimetri adalah salah satu metode penetapan kadar dengan larutan standart asam sebagai
titrannya. Dalam percobaan kali ini digunakan HCl 0,01 N sebagai titrannya. Sebelum
dilakukannya titrasi terlebih dahulu 1 gr tembakau ditambah 1 ml NaOH 20 % NaOH bertujuan
untuk memberikan sifat basa kemudian diaduk dengan gelas pengaduk. Setelah itu di tambah
dengan 20 mL Kloroform. Didiamkan sampai koloform. terpisah dengan tembakau kemudian 10
mL kloroform yang telah terpisah diuapkan di hot plate hingga hanya tersisa 2mL saja, kemudian
setelah diuapkan di encerkan dengan 10 mL aquadest. Dan ditambah metil merah barulah
kemudian dititrasi dengan HCl. Prinsip penetapan kadar nikotin: Prinsip penetapannya adalah
reaksi penetralan asam basa, nikotin (C10H14N2) yang merupakan alkaloid yang bersifat basa
lemah bereaksi dengan HCl akan mengikat satu atom H+ dan melepaskan ion Cl. Reaksi ini
terjadi pada kisaran pH 6,0 - 6,2 sehingga dipakai indikator methyl red, titik akhir titrasi
diketahui dengan terbentuknya warna merah yang konstan. Dimana pada pecobaan ini titik akhir
terjadi pada volume 11,35 mL karena setiap 1 mL HCl 0,01 N setara dengan kandungan nikotin
sebanyak 1,6232 mg. Jadi dalam percobaan kali ini sampel rokok Dji Sam Soe mengandung
nikotin dengan kadar 1,79640 dengan jumlah sebanyak 18,41 mg. Hal ini berbeda dengan
kandungan nikotin yang terterapada bungkus rokok Dji Sam Soe yaitu 2.3 mg. Perbedaan ini bisa
terjadi karena dalam penentuan kadar nikotin terjadi beberapa kesalahan dalam prosedur yang
dilakukan.
Badan Pengawa Obat dan Makanan (BPOM) menilai kadar maksimal kandungan nikotin
dalam produk rokok belum memiliki pembatasan yang jelas di Indonesia. Kadar nikotin yang
paling banyak ditemukan di pasaran dalam negeri adalah sebesar2,5 mg. Dalam Perarturan
Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif
Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, memang tidak diatur batasan kadar nikotin dalam
rokok. BPOM bertugas mengawasi dan menguji apakah kandungan nikotin yang ada dalam
rokok sesuai dengan kemasannya, industri rokok bisa menentukan berapa pun jumlah kandungan
nikotin dalam produk tembakau mereka, asalkan kadarnya sesuai dengan yang tertulis pada
kemasan. Walaupun kandungan nikotin sangat bergantung pada merk rokok tersebut, pada
seseorang yang mengkonsumsi rokok tubuhnya akan menyerap 1 mg nikotin untuk satu batang
rokok yang dihisap. Kadar nikotin 4-6 mg yang diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa
membuat seseorang ketagihan (Suhenry, 2010).
Nikotin merangsang bangkitnya hormon adrenalin dari anak ginjal yang dapat
menyebabkan:
1) Nikotin merangsang pelepasan catecholamine yang bisa meningkatkan denyut jantung.
2) Meningkatkan tekanan darah serta kadar kolesterol dalam darah, yang erat kaitannya dengan
terjadinya serangan jantung.
3) Meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Sebuah bahan kimia otak termasuk dalam perantara keinginan untuk terus
mengkonsumsi, yakni neurotransmiter dopamine, dalam penelitian menunjukkan bahwa nikotin
meningkatkan kadar dopamine tersebut. Nikotin diterima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang
kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adregenik. Pada jalur imbalan, perokok akan
merasakan rasa nikmat, memicu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih
tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur
adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenegik pada bagian otak lokus seruleus yang
mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa senang
sekaligus keinginan untuk mencari rokok lagi. Nikotin yang membuat ketagihan. Itulah sebabnya
para perokok ingin terus menghisap tembakau secara rutin karena mereka ketagihan nikotin.
Ketagihan tersebut ditandai dengan keinginan yang menggebu untuk selalu mencari dan
menggunakan, meskipun mengetahui akan konsekuensi negatif terhadap kesehatan.
Pada tanaman tembakau nikotin terutama terdapat di dalam daunnya. Kadar nikotin
dalam daun tembakau berkisar sekitar 4% dan pada tanaman tembakau jenis teitentu yang baik
kadar nikotin di dalam daunnya dapat mencapai 8%,tembakau yang baik setelah diproses akan
lengket dan tidak rusak dalam beberapa tahun (Suhenry, 2010).
Nikotin dalam metabolisme dapat menghilang dari tubuh dalam beberapa jam, namun jika
perokok terus menerus merokok dan semakin lama bertambah kuat sehingga merokok hanya
untuk mendapatkan rangsangan yang diinginkan. Sayangnya jika menghentikan masukan nikotin
biasanya diikuti dengan reaksi ketergantungan (withdrawl syndrome) yang mungkin
membutuhkan waktu sekitar satu bulan atau lebih. Hal tersebut termasuk gejalanya, yakni
muncul sifat lekas marah, terlalu sensitif, kecanduan, pengurangan fungsi kognitif tubuh dan
pemusatan perhatian, serta terjadi gangguan tidur. Efek paling berbahaya dari mengkonsumsi
tembakau dan kertergantungan nikotin adalah menyebabkan kanker dan sepertiga dari
semua penyakit kanker itu yakni kanker paru-paru. Penyakit ini pembunuh pertama pada pria
maupun wanita dan menguasai sekitar 90% dari semua kasus kanker paru- paru pada perokok.
Nikotin mumi termasuk senyawa yang berbahaya baik bagi manusia atau binatang dapat
mematikan hewan-hewan kecil seperti ulat dan beberapa jenis serangga. Dalam kadar rendah
nikotin bersifat membius. Senyawa nikotin dengan cepat masuk kedalam otak bagi seorang
perokok, nikotin yang dihisap akan rampu menyebabkan kematian apabila kadamya lebih dari 30
mg (Suhenry, 2010).

Suhenry, S. (2010). Pengambilan Nikotin dari Batang Tembakau. Jurusan Teknik Kimia, Fakulltas
Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional.

Susanna, D. (2003). Penentuan Kadar Nikotin Dalam Asap Rokok. Majalah Kesehatan, 7(2): 1-2.