You are on page 1of 7

Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max (L.

) Merril) Varietas
Tidar Berdasarkan Dosis Pupuk Organik Padat

Jefni Setiawan Abdul Gani, Moh. Ikbal Bahua, Fauzan Zakaria

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan perlakuan terbaik dari
dosis pupuk organik padat terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian
dilakukan Kecamatan Timbuolo Timur Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini
dimulai bulan Maret sampai dengan Juni 2013. Alat-alat yang digunakan dalam
penelitian ini, terdiri dari: ajir/patok, alat tulis menulis, bajak, cangkul, kamera
digital, kantong plastik, maket, meteran, tali rafiah, timbangan analitik dan
tugal.Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: benih kedelai
dan pupuk organik padat. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak
kelompok (RAK) dimana perlakuan adalah variasi pupuk organik padat. Yang
terdiri dari 4 taraf yaitu tanpa pupuk (kontrol), 5 ton ha-1, 10 ton ha-1, 15 ton ha-1,
dan 20 ton ha-1. Setiap perlakuan diatas diulang 3 kali sehingga terdapat 15
satuan percobaan yang berukuran 2 x 1 sekaligus sebagai petak. Pelaksanaan
penelitan ini dimulai dengan penyiapan lahan, penyiapan benih yang dilanjutkan
dengan penanaman, pemeliharaan, pemupukan, dan panen. Parameter pengamatan
meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong, dan berat 100 biji. Hasil
penelitian menunjukkan Pemberian pupuk organik padat dengan dosis berbeda
berpengaruh pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong per petak, dan
berat 100 biji. Perlakuan dosis pupuk organik padat yang terbaik untuk
pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai yaitu perlakuan 15 ton ha-1 pada
parameter tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah polong serta 5 ton ha-1 pada
parameter 100 biji.

Kata kunci: Pertumbuhan, hasil, kedelai, varietas tidar, dosis, pupuk organik
padat

PENDAHULUAN

Tanaman kedelai (Glycine max L. Merr) merupakan salah satu tanaman


pangan yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Tanaman ini
mempunyai arti penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam rangka
perbaikan gizi masyarakat, karena merupakan sumber protein nabati yang relatif
murah bila dibandingkan sumber protein lainnya seperti daging, susu, dan ikan.
Rendahnya produksi kedelai di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya
kurangnya ketertarikan petani untuk membudidayakan tanaman kedelai, lahan
yang semakin sempit, serta dari aspek budidaya tanaman itu sendiri.Salah satu
faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap produksi kedelai adalah dari
aspek budidaya.Cara pembudidayaan tanaman yang baik dapat memberikan hasil
yang baik pula.
Upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan produksivitas tanaman
kedelaiyaitu dengan memperhatikan teknik budidaya, terutama dalam hal
pemupukan.Pemupukan dapat meningkatkan hasil tanaman kedelai jika diberikan
berdasarkan dosis pemupukan yang tepat dan jenis pupuk yang tepat
pula.pemupukan pada tanaman kedelai dapat diberikan melalui pupuk organik,
baik pupuk organik padat maupun pupuk organik cair. Pupuk organik padat pada
tanaman kedelai digunakan untuk merangsang pertumbuhan organ tanaman yaitu
batang, daun dan akar.Sedangkan untuk hasil, pupuk organik digunakan untuk
pertumbuhan bunga dan polong.Selain itu fungsi pupuk organik adalah untuk
memperbaiki struktur tanah, menambah unsur hara N, P, dan K serta tidak
berdampak negatif pada lingkungan.Berdasakan penjelasan tersebut maka
penelitian tentang pertumbuhan dan hasil tanman kedelai berdasarkan variasi
pupuk organik padat perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat produktivitas
tanaman kedelai pada perlakuan pupuk organik padat.

BAHAN DAN METODE

Penelitian dilakukan Desa Timbuolo Timur KecamatanBotupingge


Kabupaten Bone Bolango. Penelitian ini dimulai bulan Maret sampai dengan Juni
2013.Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini, terdiri dari: ajir/patok, alat
tulis menulis, bajak, cangkul, kamera digital, kantong plastik, maket, meteran, tali
rafiah, timbangan analitik dan tugal.Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari: benih kedelai dan pupuk organik padat.
Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak kelompok (RAK)
dimana perlakuan adalah variasi pupuk organik padat.Yang terdiri dari 4 taraf
yaitu P0 = Tanpa pupuk organic, P1 = 3 ton/ha pupuk kandang sapi, P2 = 4 ton/ha
pupuk kandang sapi, P3 = 5 ton/ha pupuk kandang sapi, P4 = 6 ton/ha pupuk
kandang sapi. Setiap perlakuan diatas diulang 3 kali sehingga terdapat 15 satuan
percobaan yang berukuran 2 x 1 sekaligus sebagai petak.
Pelaksanaan penelitan ini dimulai dengan penyiapan lahan, penyiapan benih
yang dilanjutkan dengan penanaman, pemeliharaan, pemupukan, dan panen.Lahan
yang disiapkan untuk penelitian ini seluas 13 m x 30 m dilanjutkan dengan
pembajakan, kemudian diratakan dengan cangkul serta dibuat drainase untuk
mencegah genangan air. Setelah itu dibuat plot atau petakan ulangan.Varietas
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu benih kedelai varietas Tidar dilanjutkan
dengan penanaman. Penanaman dilakukan dengan cara ditugal sedalam 4-5 cm
dari permukaan tanah, setiap lubang tanam diisi 2 butir benih kedelai kemudian
lubang tanam ditutup kembali dengan tanah. Pengolahan tanah dilakukan dengan
menggunakan bajak dengan bajak sapi sebelum melakukan penanamn.
Pemgolahan tanah dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum penanaman.
Kemudian dibuat petakan percobaan dengan ukuran setiap petak 2 x 1 meter,
dengan jarak antara petak adalah 50 cm serta jarak antara ulangan adalah 1 meter.
Penaman dilakukan dengan menggunakan tugal sedalam 3 cm dengan 2 benih tiap
lubang dan jarak tanam 30 x 40 cm. Pemupukan merupakan perlakuan dari
penelitian yaitu untuk perlakuan 1). adalah tanpa pupuk 2). 5 ton per hektar pupuk
kandang sapi 3). 10 ton per hektar pupuk kandang sapi, 4). 15 ton per hektar
pupuk kandang sapidan 5) 20 ton per hektar pupuk kandang sapi. Pemeliharaan
kedelai meliputi penyulaman, penyiraman, penyiangan dan
pembubunan.Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 1 minggu, Tujuan
penyulaman untuk menggantikan tanaman yang layu, mati/tidak tumbuh.
Penyiraman setiap pagi dan sore hari sesuai dengan kondisi tanah dan curah
hujan,
Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong,
dan berat 100 biji. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Analisis of
Variance (Anova). Jika terdapat perlakuan yang berbeda nyata terhadap
pertumbuhan dan hasil kedelai, maka akan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf
5 %.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman
Dari hasil analisis sidik ragam tinggi tanaman 2 MST pupuk kandang
dengan dosis 20 ton ha-1 nyata lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa perlakuan
(kontrol), dosis 5 ton ha-1, dan 10 ton ha-1 tetapi tidak berbeda nyata dengan 15
ton ha-1. Tinggi tanaman 4 MST perlakuan 20 ton ha-1 berbeda nyata dengan
kontrol, perlakuan dosis 5 ton ha-1, 10 ton ha-1, dan 15 ton ha-1. Perlakuan 10 ton
ha-1 berbeda nyata dengan kontrol tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan 5
ton ha-1. Tingg tanaman 6 MST perlakuan 20 ton ha-1 nyata lebih tinggi
dibandingkan dengan dengan kontrol, perlakuan dosis 5 ton ha-1, 10 ton ha-1, dan
15 ton ha-1. Perlakuan 15 ton ha-1 berbeda dengan kontrol dan 5 ton ha-1 tetapi
tidak berbeda dengan 10 ton ha-1, dan perlakuan 10 ton ha-1 berbeda dengan
kontrol tetapi tidak berbeda dengan 5 ton ha-1. Tinggi tanaman 8 MST perlakuan
dosis 20 ton ha-1 berbeda dengan semua perlakuan. Hasil rata-rata tinggi tanaman
pada berbaga berbagai perlakuan pupuk organik disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Rata-rata Tinggi Tanaman pada Berbagai Perlakuan Dosis Pupuk
Organik Padat
Tinggi Tanaman (cm)
Perlakuan
2 MST 4 MST 6 MST 8 MST
Pupuk Organik
Kontrol 14,41c 19,52c 34,57d 41,88d
5 ton ha-1 15,48c 20,93bc 37,88cd 46,54c
-1
10 ton ha 16,47bc 22,56b 38,18bc 47,37c
15 ton ha-1 19,03ab 23,49b 40,84b 49,25b
20 ton ha-1 20,78a 27,11a 48,15a 50,73a
BNT 5% 3,41 2,90 3,42 1,44
Ket: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
berbeda nyata pada uji BNT 5%
tn=tidak nyata

Menurut Sarwanto et al. (1993) dalam Ali (2004), penambahan pupuk


kandang sampai 10 ton ha-1, menyebabkan bertambah tingginya kacang tanah
dibandingkan tanpa penambahan pupuk kandang. Keadaan ini menunjukkan
bahwa dalam pupuk kandang mengandung unsur N yang cukup atau tersedia bagi
tanaman dimana peran dari N itu sendiri dalam pertumbuhan vegetatif tanaman
sehingga mampu meningkatkan pertambahan tinggi dari tanaman. Hal ini sejalan
dengan pernyataan dari Rahadi (2008) yang menyatakan bahwa nitrogen
merupakan salah satu hara utama bagi sebagian besar tanaman yang diperoleh dari
pupuk kandang. Hartati (2006) dalam Rahadi (2008) menambahkan nitrogen yang
berasal dari pupuk kandang umumnya diubah menjadi bentuk nitrat tersedia
sehingga mudah larut dan bergerak pada daerah perakaran tanaman.

Jumlah Daun
Jumlah daun pada 2, 4, 6, dan 8 MST dipengaruhi oleh pupuk organik padat.
Perlakua pupuk kandang pada 2 dan 8 MST seperti yang disajikan pada Tabel2
menunjukkan bahwa 2 dan 8 MST perlakuan 20 ton ha-1 berbeda nyata dengan
kontrol, 5 ton ha-1, dan 10 ton ha-1 tetapi tidak berbeda nyata dengan 15 ton ha-1
serta perlakuan 10 ton ha-1 berbeda dengan kontrol tetapi tidak berbeda nyata
dengan 5 ton ha-1. Jumlah daun 4 MST menunjukkan bahwa perlakuan pupuk
kandang 20 ton ha-1 nyata lebih tinggi dengan perlakuan kontrol, 5 ton ha-1, dan 10
ton ha-1 tetapi tidak berbeda dengan nyata dengan 15 ton ha-1. Jumlah daun 6 MST
perlakuan pupuk kandang berbeda nyata untuk semua perlakuan dengan perlakuan
20 ton ha-1 yang memiliki nilai tertinggi. Perbedaan perlakuan penggunaan pupuk
dan tanpa perlakuan disebabkan peran dari pupuk kandang itu sendiri yang selain
memperbaiki sifat fisik tanah juga menambah unsur hara dalam tanah. Ali (2004)
dalam penelitannya melaporkan bahwa pertumbuhan jumlah dau meningkat
karena pupuk kandang yang menyebabkan struktur tanah ringan serta
menyediakan unsur hara makro dan unsur mikro yang cukup untuk pertumbuhan
kacang tanah yang optimal.
Tabel 2. Rata-rata Jumlah Daun pada Berbagai Perlakuan Dosis Pupuk Organik
Padat
Jumlah Daun (Helai)
Perlakuan
2 MST 4 MST 6 MST 8 MST
Pupuk Organik
Kontrol 3,07d 4,40d 11,57e 16,73d
5 ton ha-1 3,53c 4,97c 12,30d 18,60c
10 ton ha-1 3,77bc 5,37b 13,33c 19,47bc
15 ton ha-1 4,03ab 5,67a 14,00b 20,27ab
20 ton ha-1 4,30a 5,90a 14,93a 21,47a
BNT 5% 0,32 0,29 0,60 1,52
Ket: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
berbeda nyata pada uji BNT 5%
tn=tidak nyata

Perlakuan pupuk organik padat 20 ton ha-1 yang nyata lebih tinggi
dibandingkan tanpa perlakuan didug akarena perlakuan pupuk organik padat
mencapai ideal bagi pertumbuhan tanaman. Menurut Nasir (2006) dalam Samuli
(2012), pemberian bokasi kotoran sapi didalam tanah, dapat memperbaiki kondisi
tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman terutama pengelolaan
bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah, dan optimalisasi
ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi nitrogen, penyerapan
hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani. Sebelumnya dijelaskan
oleh Winarso (2005) dalam Asroh (2010), pengendalian ketersediaan hara melalui
pemupukan hingga mencapai ideal bagi pertumbuhan tanaman akan
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman sesuai dengan kondisi
maksimal genetisnya.
Jumlah Polong
Hasil analisis ragam yang disajikan pada Lampiran 5 menunjukkan bahwa
jumlah polong dipengaruhi oleh perlakuan pupuk organik padat. Hasil rata-rata
jumlah polong berdasarkan uji BNT 5% disajikan pada Tabel 3. Tabel 3
menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang padat berbeda dengan tanpa
perlakua (kontrol). Perlakuan 20 ton ha-1 berbeda nyata dengan perlakuan kontrol,
5 ton ha-1, dan 10 ton ha-1 tetapi tidak berbeda nyata dengan 15 ton ha-1. Perlakuan
15 ton ha-1 berbeda dengan perlakuan kontrol dan 5 ton ha-1 tetapi tidak berbeda
nyata dengan 10 ton ha-1. Perlakuan 15 ton ha-1 berbeda dengan perlakuan kontrol
tetapi tidak berbeda nyata dengan 5 ton ha-1. Hal ini diduga selain karena
tersedianya unsur esensial untuk pembentukan polong. Semakin tingginya dosis
pupuk kandang yang diberikan meningkatkan jumlah polong yang dihasilkan.
Tabel 3. Rata-rata Jumlah Polong pada Berbagai Perlakuan Dosis Pupuk Organik
Padat
Perlakuan Jumlah Polong (Buah)
Pupuk Organik
Kontrol 29,47d
5 ton ha-1 31,33c
10 ton ha-1 32,47bc
15 ton ha-1 33,57ab
20 ton ha-1 34,90a
BNT 5% 1,34
Ket: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
berbeda nyata pada uji BNT 5%
tn=tidak nyata

Berdasarkan Tabel 3 di atas, jumlah polong dipengaruhi oleh pupuk organik


padat dimana perlakuan pupuk 20 ton ha-1 mampu menghasilkan jumlah polong
yang lebih banyak dibandingkan tanpa perlakuan (kontrol). Samuli (2012)
melaporkan hasil penelitiannya yaitu bokashi kotoran sapi selain memperbaiki
kondisi tanah juga mampu mensuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman
sehingga pada dosis 10 t ha-1 memberikan hasil yang terbaik. Unsur phospat yang
terdapat pada bokashi kotoran sapi mampu mempercepat pendewasaan tanaman
sehingga pada dosis B2 memberikan jumlah cabang produkktif dan jumlah poling
yang lebih baik. Keadaan ini sesuai dengan ketersediaan unsur P di lokasi
penelitian seperti yang terlampir pada lampiran 1, di mana P mempunyai kadar
yang sedang sehingga dengan menambahkan pupuk organik padat dapat
menambah ketersediaan unsur hara dalam tanah. Hal ini sesuai dengan redaksi
Agromedia (2007) dalam Samuli (2012) yang menyatakan bahwa phospat
berperan penting untuk merangsang pembentukan bunga, buah dan biji. Selain
meningkatkan P tersedia, bahan organik juga dapat memperbaiki struktur tanah
sehingga penyerapan unsur hara oleh tanaman semakin baik. Rahadi (2008) juga
menyatakan bahwa komponen produksi ditentukan oleh jumlah polong dan bobot
isi polong. Semakin tinggi nilai komponen tersebut, maka semakin tinggi
produktivitasnya. Jumlah polong isi meningkat dengan pemberian pupuk kandang
sapi.
Berat 100 Biji
Berat 100 biji tanaman kedelai dipengaruhi oleh perlakuan pupuk organik
padat, dimana pupuk organik padat dengan dosis 15 ton ha-1 nyata lebih itnggi
dibandingkan dengan tanpa perlakuan pupuk organik padat tetapi tidak berbeda
dengan dosis 5 ton ha-1, 10 ton ha-1, dan 20 ton ha-1. Hal ini diduga karena mulai
terdekomposisinya pupuk kandang tersebut sehingga mampu meningkatkan berat
100 biji dari tanaman kedelai. Tingginya pupuk organik padat yang diberikan
maka akan meningkatkan berat 100 biji namun pada bats optium.
Menurut Tawakkal (2009), semakin tinggi pemberian pupuk kandang
kotoran sapi yang diberikan meningkatkan produksi sampai titik optimum dan
menurunkan produksi setelah melewati titik optimum. Agustina (1990) dalam
Tawakkal (2009) menambahkan bahwa penambhan hasil tanaman sebagai respon
penanmbahan pupuk berbanding lurus dengan selisih maksimum dengan hasil
aktual. Hasil maksimum dicapai pada sejumlah nutrisi yang tidak terlalu tinggi
pemberiannya karena makin tinggi pemberiannya hasil justru terus menurun.
Perlakuan kebutuhan pupuk yang sesuai akan memberikan hasil yang terbaik.
Tabel 4. Rekapitulasi Jumlah Berat 100 Biji pada berbagai Perlakuan Pupuk
Organik Padat
Perlakuan Berat 100 Biji (g)
Pupuk Organik
Kontrol 15,00b
5 ton ha-1 23,00a
10 ton ha-1 23,00a
15 ton ha-1 24,33a
20 ton ha-1 23,33a
BNT 5% 2,68
Ket: Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan
berbeda nyata pada uji BNT 5%
tn=tidak nyata

Samuli et al(2012) menambahkandalam laporan penelitiannya bahwa


perlakuan bokashi kotoran sapi pada berbagai dosis berpengaruh sangat nyata
terhadap jumlah cabang produktif, jumlah polong, jumlah polong hampa,bobot
100 biji kering dan produksi total yang tertinggi. Sebelumnya hasil penelitian dari
Adimihardja (2000) dalam Rahadi (2008) mengemukakan pemberian pupuk
andang sapi pada takaran 5 ton ha-1 nyata meningkatkan hasil kedelai dan kadar
C-Organik tanah.

KESIMPULAN

1. Pemberian pupuk organik padat dengan dosis berbeda berpengaruh pada


tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah polong per petak, dan berat 100 biji.
2. Perlakuan dosis pupuk organik padat yang terbaik untuk pertumbuhan dan
hasil tanaman kedelai yaitu perlakuan 15 ton ha-1 pada parameter tinggi
tanaman, jumlah daun, dan jumlah polong serta 5 ton ha-1 pada parameter
100 biji.
DAFTAR PUSTAKA

Asroh, A. 2010.Pengaruh Takaran Pupuk Kandang dan Interval Pemberian Pupuk


Hayati terhadap Pertumbuhan dsn Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays
saccharata Linn).Agronobis 2 (4): 1-6

P. Tawakkal, M. I. 2009. “Respon Pertumbuhan dan Produksi Beberapa Varietas


Kedelai (Glycine max L.)terhadap Pemberian Pupuk Kandang Kotoran
Sapi”. Skripsi. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian.
Universitas Sumatera Utara.

Rahadi, V. P. 2008. “Pengaruh Pupuk Kandang Sapi dan Pupuk Guano terhadap
Produksi Kedelai (Glycine max (L.) Merr) Organik Panen Muda”. Skripsi.
Program Studi Agronomi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
Bogor

Subowo G. 2010. Strategi Efisiensi Penggunaaan Bahan Organik untuk


Kesuburan dan Produktivitas Tanah Melalui Pemberdayaan Sumberdaya
Hayati Tanah.Jurnal Sumberdaya Lahan 4 (1): 13-25

SamuliLa Ode, La Karimuna, Laode Sabaruddin. 2012. Produksi Kedelai


(Glycine max L. Merrill) pada berbagai dosis bokashi kotoran
sapi.Penelitian agronomi Oktober 2012 Vol. 1 No. 2 Hal. 145-147 ISSN:
2089-9858