You are on page 1of 18

MAKALAH

TEORI KEPERAWATAN

IMOGENE KING

DISUSUN OLEH KELOMPOK 6:

1. AWIANSYAH
2. EKA MARDIANTI
3. HENGKY SUTOMO
4. JINAN ESTIDA HAYATI UMAJAN

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG S1

MATARAM

2018

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, atas
berkat rahmat dan Karunia – Nya sehingga penyusunan makalah dengan judul “
TEORI KEPERAWATAN IMOGENE KING ” dapat saya selesaikan dengan
jadwal yang telah di rencanakan. Terdorong oleh rasa ingin tahu, kemauan, kerja
sama dan kerja keras, kami serahkan seluruh upaya demi mewujudkan keinginan
ini.

Makalah ini kami buat untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan
untuk melengkapi dan menyempurnakan suatu mata kuliah. Penulis menyadari
dalam menyusun makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik cara
penulisan ataupun penyusunannya. oleh karena itu kami, mohon maaf dan sangat
mengharapkan masukan yang sifatnya membangun demi untuk kesempurnaan
makalah ini.

Penulis menyadari pula, bahwa selesainya makalah ini tidak lepas dari
dukungan serta bantuan baik berupa moral maupun material dan semua pihak
terkait.Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati kami mengucapkan terima
kasih banyak kepada Dosen pembimbing dan rekan mahasiswa yang memberikan
masukan dan petunjuk serta saran – saran yang baik.

Mataram, 6 Oktober 2018

Penyusun

Kelompok 6

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL......................................................................................... i

KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1


1.1. Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
1.3. Tujuan ........................................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORI ........................................................................ 3
2.1. Kehidupan Imogene King danPrestasi yang di Raihnya ............................ 3
2.2. Model Konsep Sistem Kerangka Terbuka King ........................................ 4
2.3. Konsep Paradigma Keperawatan King ...................................................... 8
2.4. Asumsi Model Konsep dan Teori King ..................................................... 10
2.5. Konseptual Framework Imogene King ...................................................... 11
2.6. Kelebihan dan Kekurangan Teori Imogene King ...................................... 13
BAB III PENUTUP ...................................................................................... 14
Kesimpulan........................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan keperawatan di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh


perkembangan keperawatan secara global.Dengan jelas dapat diamati bahwa
secara berkelanjutan keperawatan di Indonesia mengalami perkembangan
yang pesat.Baik dibidang pendidikan maupun di tatanan praktek
keperawatan.Pada masa lalu keperawatan dilakukan lebih berdasarkan intuisi
dan tradisi sehingga keperawatan dianggap hanya sebagai kiat tanpa
komponen ilmiah dan landasan keilmuan yang kokoh.
Salah satu komponen penting pengembangan disiplin keperawatan adalah
riset keperawatan, karena riset keperawatan sangat diperlukan untuk
menyelesaikan masalah keperawatan dan mengembangkan atau menvalidasi
teori yang sangat dibutuhkan sebagai landasan dalam praktek keperawatan
serta pengembangan tubuh ilmu pengetahuan keperawatan (Body of
Knowledge).
Masalah yang muncul adalah apabila peneliti kurang tepat dalam
menyusun kerangka kerja teori/konsep sesuai dengan variabel yang akan
diteliti, sehingga hasil penelitian akan kurang bermakna dalam perkembangan
tubuh ilmu pengetahuan keperawatan (Body of Knowledge) dan akan
mempengaruhi penerapannya dalam praktek keperawatan.
Untuk menghindari hal tersebut, sebelum suatu teori diterapkan pada
praktek keperawatan tertentu dan dipergunakan peneliti sebagai kerangka
kerja teori/konsep dari suatu riset keperawatan, sangat perlu terlebih dahulu
dilakukan Theory Analysis. Pada dasarnya Theory Analysis mempunyai
prosedur antara lain origins, meaning, logical adequacy, usefulness,
generalizability, parsimony dan testability yang bertujuan untuk

iv
mengetahuikelebihan, keterbatasan dan manfaat dari teori tersebut sehingga
dapat dipertimbangkan untuk tambahan pengujian atau validasi.
Dalam tulisan ini mencoba untuk menyajikan hasil analisa Theory of Goal
Attainment yang diperkenalkan oleh Imogene M. King pada tahun 1971.
Teori pencapaian tujuan merupakan teori yang bersifat terbuka dan dinamis,
dengan sembilan konsep utama yang meliputi interaksi, persepsi, komunikasi,
transaksi, peran, stress, tumbuh kembang, waktu dan ruang (Marriner, A.
1986).

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana gambaran model konseptual keperawatan menurut Imogene M.
King ?
2. Apa saja asumsi model konsep keperawatan Imogene M. King?
3. Apa saja model konsep dan teori keperawatan Imogene M. King?
4. Apa saja konsep paradigma keperawatan Imogene M. King?
5. Apa saja kekurangan dan kelebihan teori Imogene M. King?

1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan calon-calon perawat tentang konsep dan teori
keperawatan Imogene King, sehingga dapat mengaplikasikan dalam
bidang keperawatan nantinya.

1.3.2. Tujuan Khusus


a. Mahasiswa meningkatkan pengetahuan tentang konsep dasar manusia
sebagai calon perawat.
b. Mahasiswa terbantu secara teori dalam memahami dunia keperawatan
c. Mahasiswa memahami konsep keperawatan yang penekanan perawatan
sebagai ide moral

v
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Kehidupan Imogene King dan Prestasi yang di Raihnya


Imogene King lahir pada tahun 1923. Imogene King meraih diploma
dalam ilmu keperawatan dari st. John’s Hospital of Nursing di st. Louis tahun
1945. Menjadi perawat kantor, perawat sekolah, perawat karyawan dan
perawat pribadi. Tahun 1948 menerima Bachelor’s of Science in Nursing
Education dari st. Louis University, meraih gelar Doctor of Education bidang
pendidikan dari Teacher’s College, Universitas Columbia di New York tahun
1961. Meraih gelar Ph.D, dari Southern Illinois University di tahun
1980.Tahun 1961-1966, menjabat sebagai associate professor ilmu
keperawatan di Universitas Loyola, Chicago. Dalam rentang waktu tersebut
bukunya Toward a Theory for Nursing: General Concepts of Human
Behavior dikonseptualisasikan. Antara 1966 dan 1968 menjabat sebagai
asisten kepala penelitian Grants Branch, divisi keperawatan dalam
departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. Dari tahun 1968-1972
menjabat sebagai kepala sekolah keperawatan di The Ohio State University,
Columbus. Manuskrip buku pertamanya “Toward a Theory For Nursing:
General Concepts of Human Behaivor” telah dikirimkan ke penerbit dan di
publikasikan 1972 menjabat pada tahun 1971. Iakembali ke Chicago tahun
sebagai profesor di program Loyola University. Tahun 1978-1980 menjabat
sebagai koordinator penelitian klinik keperawatan di Loyola Medical Center,
Departemen Keperawatan. Tahun 1972-1975 menjadi anggota The Defense
Advisory Committee on Women in the Services di departemen pertahanan.
Tahun 1980 ia pindah ke Tampa, Florida. Manuskrip buku keduanya “A
Theory For Nursing: System, Cocepts, Process” dikirimkan ke penerbit bulan
Juni 1980 dan di terbitkan tahun 1981 (Alligood, 2013; McEwen&Wills,
2010).

vi
Imogene King dikenal dengan ” interakting systems framework and
Theory of Goal Attainment ”, yaitu adanya interaksi antara perawat dan
pasien pada pelaksanaan asuhan keperawatan. Hubungan interaksi antara
perawat dan pasien membawa pada pencapaian tujuan. Tujuan yang ingin
dicapai dari teori Imogrne King (1971, 1981, 1987) berfokus pada interaksi
tiga sistem yakni, sistem personal (individu), sistem interpersonal (kelompok
seperti perawat-pasien), dan sistem sosial (misalnya sistem pendidikan,sistem
layanan kesehatan).

Gamabar : Dynamic interacting systems(King, 1981 dalam Tomey & Alligood, 2006)

2.2. Model Konsep Sistem Kerangka Terbuka King

2.2.a. Sistem Personal (Individu)

Individu berada dalam sistem personal. Konsep yang perlu dipahami


dalam sistem personal antara lain :

1. Gambaran diri (body image)


Adalah Persepsi tentang diri individu sendiri dan persepsi orang lain
tentang dirinya.

vii
2. Pertumbuhan dan perkembangan ( growth & devolepment )
Perubahan yang terjadi pada individu secara terus menerus baik secara
seluler, molekuler dan tingkatan-tingkatan aktivitas perilaku yang
kondusif untuk menolong individu bergerak ke arah kedewasaan.
Pertumbuhan dan perkembangan dapat menggambarkan suatu proses
dalam kehidupan dimana terjadi peningkatan potensinya untuk
mencapai aktualisasi diri.

3. Persepsi (perception)
Persepsi adalah menyalurkan energi dari lingkungan dan
mengelompokkannya melalui informasi, penyimpanan informasi dan
menyampaikannya dalam bentuk tingkah laku yang jelas. Persepsi
adalah proses organisasi, interpretasi dan transformasi data yang
diingatnya melalui perasaan.

Persepsi: adalah representasi individu terhadap gambaran realita,


seperti kesadaran diri terhadap object, orang-orang dan kejadian.

4. Diri sendiri (self)


Merupakan pemikiran dan perasaan yang berkaitan dengan
personalitas seseorang yang berbeda dengan orang lain dan
mempengaruhi pandangannya terhadap siapa jati dirinya. Diri sendiri
termasuk berbagai hal, sistim dari ide/ gagasan, sikap, nilai dan
komitmen-komitmen. Diri sendiri adalah lingkungan subjektif
seseorang secara keseluruhan. Hal ini merupakan pusat yang istimewa
dari pengalaman dan signifikansi. Diri sendiri menunjukkan dunia
seseorang pada bagian dalam yang dibedakan dari dunia luar yang
terdiri dari orang lain dan berbagai hal. Diri sendiri adalah individu
seperti yang dikenal sebagai individu, adalah ketika kita mengatakan
"aku" (Jersild, 1952, p. 10 dalam Tomey & Alligood, 2006).
5. Ruang (space)

viii
Ruang (space) ditandai dengan karakteristik universal. Semua orang
mempunyai beberapa konsep personal yang bergantung pada
hubungan dengan situasi, dimensi, area, jarak, waktu dan tanggapan
yang berdasar pada persepsi masing-masing individu. Ruang ( space)
dapat juga diartikan sebagai batasan tegas dari fisik dan perilaku yang
ditampakkannya.
6. Waktu
King menggambarkan waktu sebagai jangka waktu antar peristiwa satu
dengan peristiwa yang lainnya dan dipengaruhi oleh pengalaman
masing-masing individu, sehingga peristiwa yang satu dengan yang
lain akan saling berhubungan.

2.2.b. Sistem Interpersonal


Sistem interpersonal dibentuk ketika dua atau lebih individu saling
berhubungan, pembentukan oleh dua orang atau tiga orang. Interaksi perawat
dan pasien adalah satu jenis dari sistim interpersonal. Keluarga, sebagai
kelompok kecil, dapat dipertimbangkan sebagai sistem interpersonal. Dalam
sistim interpersonal diperlukan satu pemahaman tentang konsep komunikasi,
interaksi, peran, stres dan transaksi.
1. Komunikasi
Komunikasi didefinisikan sebagai proses pemberian informasi dari
individu satu ke individu yang lain secara langsung maupun tidak
langsung. Komunikasi merupakan komponen interaksi. Termasuk
didalamnya perubahan tanda-tanda non verbal dan simbol-simbol
antara perawat – klien dengan lingkungan merupakan komunikasi.

2. Interaksi
Interaksi merupakan suatu proses persepsi dan komunikasi antara
individu dengan lingkungan dan antara individu yang satu dengan
individu yang lain, diwujudkan dengan perilaku verbal dan diarahkan
untuk mencapai tujuan. Setiap individu yang berinteraksi dipengaruhi

ix
oleh perbedaan-perbedaan dalam pengetahuan, tujuan, pengalaman
terdahulu dan persepsi.

3. Peran
Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan dari individu
yang memiliki peraturan yang menjelaskan hak dan kewajiban. Jika
harapan peran berbeda dan tidak sesuai dengan yang terjadi, dapat
menimbulkan konflik. Dan hal ini berdampak pada penurunan
keefektifan asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat.

4. Stres
Stres adalah tingkatan yang dinamis dalam interaksi individu –
lingkungan. Stres melibatkan perpindahan energi dan informasi antara
individu – lingkungan untuk pengaturan dan pengendalian stressor.
Peningkatan stres dalam interaksi individu dapat mempersempit
bidang persepsi dan menurunkan kerasionalan. Peningkatan stres juga
berpengaruh terhadap intervensi keperawatan yang diberikan pada
pasien.

5. Transaksi
Transaksi didefinisikan sebagai maksud dari interaksi untuk mencapai
tujuan tertentu.

2.2.c. Sistem Sosial

Sistim yang saling berinteraksi secara menyeluruh yang terdiri dari


kelompok masyarakat, dikenal sebagai sistem sosial. Kegiatan keagamaan,
bidang pendidikan dan sistem pelayanan kesehatan adalah contoh-contoh dari
sistem sosial. Pengaruh perilaku terhadap pertumbuhan dan perkembangan
individu yang berada dalam keluarga ekstended di masyarakat adalah contoh
lain dari pengaruh sistem sosial. Di dalam sistem sosial, penting untuk
memahami otoritas konsep, pengambilan keputusan, organisasi, status.

x
1. Otoritas (autority )
Merupakan proses transaksi yang aktif dalam pengalaman seseorang
untuk memahami nilai yang berpengaruh, legitimasi dan menerimanya
sebagai posisi dalam organisasi berkaitan dengan otoritasnya.
2. Pengambilan keputusan ( decision making)
Adalah perubahan dan proses yang disengaja melalui proses memilih
sesuai dengan tujuan dengan mengidentifikasi aktivitas yang mungkin
dilakukan oleh individu atau group untuk mencapai tujuan.
3. organisasi ( organization )
Dibentuk oleh individu yang memiliki peran yang diharapkan sesuai
dengan posisinya. Orang tersebut akan menggunakan berbagai sumber
untuk mencapai tujuan baik personal maupun organisasi.
4. Status
Status adalah hubungan seseorang di dalam grupnya dengan anggota
lainnya dalam satu grup atau grup yang satu dengan grup yang lainnya.

Konsep-konsep di dalam kerangka tersebut merupakan dimensi


pengaturan dan menunjukkan pengetahuan yang penting bagi pemahaman
interaksi di antara ke tiga sistem. Konsep yang ditempatkan dalam sistim
personal karena mereka terutama berhubungan dengan individu, sedangkan
konsep yang ditempatkan dalam sistim interpersonal karena menekankan pada
interaksi antara dua orang atau lebih. Konsep yang ditempatkan dalam sistem
sosial karena mereka menyediakan pengetahuan untuk perawat agar berfungsi
di dalam sistim yang lebih besar (King, 1995a, p.18 – 19 dalam Tomey &
Alligood, 2006).

2.3. Konsep Paradigma Keperawatan King

2.3.a. Perawat (Nursing)

Keperawatan merupakan perilaku yang dapat diobservasi dan ditemukan


dalam sistem perawatan kesehatan yang ada di masyarakat. Tujuan
keperawatan adalah untuk membantu individu memelihara kesehatan

xi
mereka, sehingga mereka dapat menjalani peran-peran mereka.
Keperawatan dipandang sebagai proses interpersonal aksi, reaksi, interaksi
dan transaksi sehingga model keperawatan King dikenal sebagai “ An
Interaction Model”.

2.3.b. Mannusia (Person)

Merupakan asumsi spesifik yang berhubungan dengan manusia atau


individu, terperinci dalam asumsi-asumsi berikut :

1. Individu adalah mahluk spiritual


2. Individu mempunyai kapasitas untuk berpikir, mengetahui, membuat
aneka pilihan, dan memilih tindakan alternatif
3. Individu mempunyai kemampuan memahami bahasa, budaya dan
simbol-simbol lain yang terekam
4. Individu adalah sistem terbuka dalam transaksi dengan lingkungan.
Transaksi berarti juga bahwa tidak ada yang memisahkan antara
manusia dan lingkungan
5. Individu bersifat unik dan holistik, menjadi berharga dan hakiki, dan
dapat membuat pemikiran yang rasional dan membuat keputusan
dalam berbagai situasi

2.3.c. Kesehatan (Health)


Kesehatan berimplikasi pada penyesuaian berkelanjutan terhadap stres di
dalam lingkungan internal dan eksternal melalui penggunaan yang optimal
dari sumber dayanya untuk mencapai potensi maksimum untuk kegiatan
sehari-hari (King, 1981, p. 5 dalam Tomey & Alligood, 2006).

2.3.d. Lingkungan (Environment)


King menyatakan, “Pemahaman mengenai tata cara manusia berinteraksi
dengan lingkungannya guna mempertahankan kesehatan merupakan inti
bagi perawat”. Sistem terbuka berimplikasi pada terciptanya interaksi

xii
antara system dan lingkungan yang memengaruhi perubahan lingkungan
secara konstan(Alligood, 2013; McEwen&Wills, 2010)

2.4. Asumsi Model Konsep dan Teori King

Imogene M. King mengasumsikan model konsep dan teori keperawatan


secara eksplisit maupun implisit.

2.4.a. Asumsi Eksplisit

1. Fokus sentral dari keperawatan adalah interaksi dari manusia dan


lingkunganya, dengan tujuan untuk kesehatan manusia.
2. Individu adalah sosial, rasional, reaksi, penerimaan, kontrol,
berorientasi pada kegiatan waktu.
3. Proses interaksi dipengaruhi oleh persepsi, tujuan, kebutuhan, dan nilai
klien serta perawat
4. Manusia sebagai pasien mempunyai hak untuk mendapatkan
informasi, berpartisipasi dalam membuat keputusan yang
mempengaruhi kehidupannya, kesehatan, dan pelayanan komunitas
dan menerima atau menolak keperawatan.
5. Tanggung jawab dari anggota tim kesehatan adalah memberikan
informasi kepada individu tentang semua aspek kesehatan untuk
membantu mereka membuat atau mengambil keputusan.
6. Tujuan dari memberi pelayanan kesehatan dan menerima pelayanan
mungkin tidak sama.

xiii
2.4.b. Asumsi Implisit

1. Pasien ingin berpartisipasi secara aktif dalam proses keperawatan.


2. Pasien sadar, aktif, dan secara kognitif mampu berpartisipasi dalam
pembuatan atau pengambilan keputusan.
3. Individu mempunyai hak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri.
4. Individu mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan
kesehatan.

2.5. Konseptual Framework Imogene King

King mengawali teori ini melalui studi literatur dalam keperawatan,


ilmu-ilmu perilaku terapan, diskusi dengan beberapa teman sejawat dan
menghadiri beberapa konferensi serta alasan-alasan induktif dan deduktif
dari beberapa pemikiran – pemikiran kritis. Kemudian King
memformulasikan kedalam suatu kerangka kerja konseptual (Conceptual
Framework) pada tahun 1971.

King mengidentifikasi kerangka kerja konseptual (Conceptual


Framework) sebagai sebuah kerangka kerja sistem terbuka, dan teori ini
sebagai suatu pencapaian tujuan. King mempunyai asumsi dasar tcrhadap
kerangka kerja konseptualnya, bahwa manusia seutuhnya (Human Being)
sebagai sistem terbuka yang secara konsisten berinteraksi dengan
lingkungannya. Asumsi yang lain bahwa keperawatan berfokus pada
interaksi manusia dengan lingkungannya dan tujuan keperawatan adalah
untuk membantu individu dan kelornpok dalam memelihara kesehatannya.
Kerangka kerja konseptual (Conceptual Framework) terdiri dari tiga sistem
interaksi vang dikenal dengan Dynamic Interacting Sistems, meliputi:
Personal sistems (individuals), interpersonal sistems (groups) dan social
sistems (keluarga, sekolah, industri, organisasi sosial, sistem pelayanan
kesehatan, dll).

xiv
Asumsi dasar King tentang manusia seutuhnya (Human Being) meliputi
sosial, perasaan, rasional, reaksi, kontrol, tujuan, orientasi kegiatan dan
orientasi pada waktu. Dari keyakinannya tentang human being ini, King
telah menderivat asumsi tersebut lebih spesifik terhadap interaksi perawat
dan klien :

a. Persepsi dari perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi


b. Tujuan, kebutuhan-kebutuhan dan nilai dari perawat dan klien
mempengaruhi proses interaksi
c. Individu mempunyai hak untuk mengetahui tentang dirinya sendiri
d. Individu mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan dan hal tersebut mempengaruhi kehidupan dan kesehatan
mereka serta pelayanan masyarakat
e. Profesional kesehatan mempunyai tanggung jawab terhadap
pertukaran informasi sehingga membantu individu dalam membuat
keputusan tentang pelayanan kesehatannya.
f. Individu mempunyai hak untuk menerima atau menolak pelayanan
kesehatan
g. Tujuan dari profesional kesehatan dan tujuan dari penerima
pelayanan kesehatan dapat berbeda

Human being mempunyai tiga dasar kebutuhan kesehatan yang


fundamental :

1. Kebutuhan terhadap informasi kesehatan dan dapat dipergunakan


pada saat dibutuhkan.
2. Kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan bertujuan untuk
pencegahan penyakit.
3. Kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan ketika
individu tidak mampu untuk membantu dirinya sendiri

xv
2.6. Kelebihan dan Kekurangan Teori Imogene King

2.6.a. Kelebihan dari Teori Imogene King

1. Teori King muncul dari adanya gabungan beberapa konsep literatur


keperawatan dan diskusi dengan ahli keperawatan lain.
2. Teori model keperawatan King dapat digunakan pada area klinik dan
non klinik terutama pada aspek psikologis dan sosial.
3. Teori King pernah digunakan di beberapa bagian praktek keperawatan,
yaitu diaplikasikan oleh Alligood (1995) pada klien dewasa dengan
masalah orthopedic.

2.6.b. Kekurangan dari Teori Imogene King

Teori ini tidak dapat diterapkan pada klien yang tidak mampu berinteraksi
dengan perawat, seperti klien dalam kondisi penurunan kesadaran, bayi
baru lahir, klien yang mengalami gangguan kejiwaan. Sebelum perawat
mengaplikasikan teori ini, perawat harus memahami terlebih dahulu dua
asumsi dasar King yaitu human being dan conceptual framework.

xvi
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

King mendukung kemajuan pengetahuan ilmu keperawatan melalui


pengembangan kerangka sistemnya yang saling berinteraksi dan teori pencapaian
tujuan, dengan mengutamakan pencapaian tujuan, atau outcome (hasil), dari
hubungan perawat – pasien. King menyediakan suatu kerangka dan sudah
menunjukkan kegunaannya dalam keperawatan baik untuk saat ini maupun di
masa yang akan datang. Keperawatan berhubungan langsung dengan lingkungan,
tempat atau ruang dan waktu untuk membentuk suatu hubungan menanggulangi
status kesehatan dalam proses interpersonal reaksi interaksi dan transaksi dimana
perawat dank klien berbagi informasi mengenai persepsinya dalam keperawatan.
Adapun kelebihan dan kekurangan dari teori Imogene King yakni. Teori
model keperawatan King dapat digunakan pada area klinik dan non klinik
terutama pada aspek psikologis dan sosial. Teori King pernah digunakan di
beberapa bagian praktek keperawatan, yaitu diaplikasikan oleh Alligood (1995)
pada klien dewasa dengan masalah orthopedic. Sedangkan kelemahan dari teori
Imogene King adalah teori ini tidak dapat diterapkan pada klien yang tidak
mampu berinteraksi dengan perawat, seperti klien dalam kondisi penurunan
kesadaran, bayi baru lahir, klien yang mengalami gangguan kejiwaan. Sebelum
perawat mengaplikasikan teori ini, perawat harus memahami terlebih dahulu dua
asumsi dasar King yaitu human being dan conceptual framework.

xvii
DAFTAR PUSTAKA

Perry, Potter. (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik.


Edisi 4. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Tomey and Alligood. (2006). Nursing Theories and Their Work. 6th edition. St.
Louis: Mosby.
Kozier, Barbara. (2011). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik.
Edisi 7 Volume 1. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

xviii