You are on page 1of 4

RSIA ’Bunda arif’ PENATALAKSANAAN JALAN NAFAS

Jl.Jatiwinangun No.16
Purwokerto
No. Dokumen No. Revisi Halaman

02
TANGGAL DITETAPKAN OLEH
STANDAR DIREKTUR RSIA ‘Bunda arif’ PURWOKERTO
OPERASIONAL
PROSEDUR

Dr. Bugar Wijiseno


I. PENGERTIAN Merupakan tindakan penatalaksanaan jalan nafas yang dilakukan pada pasien
HCU yang mengalami henti nafas dan henti jantung.
II. TUJUAN
1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi melalui
pengenalan dan intervensi segera.

2. memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi


dari korban yang mengalami henti jantung atau nafas melalui RJP.

III. KEBIJAKAN

IV. PROSEDUR Fase penilaian sangat penting pada BHD, tidak seorang korbanpun/
pasien dapat dikenakan prosedur-prosedur RJP ( Seperti : memperbaiki
posisi, membuka jalan nafas, dan kompresi jantung luar ).
Setiap ABC dari RJP ( A = jalan nafas, B = Pernafasan, C = Sirkulasi )
selalu di mulai dengan fase penilaian secara berurut : memastikan
tidak sadar, memastikan tidak bernafas, memastikan nadi tidak
berdenyut.

A = Airway ( Jalan Nafas )

1. Penilaian pasien tidak sadar

2. Posisi korban

Untuk melakukan RJP yang efektif, korban harus dalam posisi


terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras.
4. Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu korban / pasien.

5. Buka jalan nafas

Aksi yang paling penting dari resusitasi yang berhasil adalah


membuka jalan nafas segera. Jika tonus otot-otot menghilang,
maka lidah atau epiglottis akan menyumbat faring dan laring,
lidah merupakan penyebab paling sering dari sumbatan jalan
nafas pada korban / pasien yang tidak sadar. Hati hati pada
pasien fraktur servix.
· Cross finger
· Triple Manouver Air Way
a. Tengadah kepala.
b. Topang dagu.
c. Dorong mandibula.
Tahap dasar membuka jalan napas dengan alat
Apabila manipulasi posisi kepala tidak dapat membebaskan jalan
napas akibat sumbatan oleh pangkal lidah atau epiglotis maka
lakukan pemasangan alat bantu jalan napas oral/nasal. Sumbatan
oleh benda asing diatasi dengan perasat Heimlich atau laringoskopi
disertai dengan pengisapan atau menjepit dan menarik keluar benda
asing yang terlihat.

B = Breathing ( Pernafasan )

1. Penilaian pastikan tidak nafas

Untuk menilai apakah ada nafas spontan atau tidak, penolong


harus mendekatkan telinga di atas mulut, hidung
korban/pasien, sambil terus jaga airway. Penolong harus:

a. Lihat gerakan dada

b. Dengar keluar udara waktu ekspirasi.

c. Rasakan adanya aliran udara.

Untuk mendeteksi pasien bernafas / tidak dilakukan < 10


detik.

2. Melakukan pertolongan pernafasan


a. Mulut ke mulut

b. Mulut ke hidung

c. Mulut ke stoma

Untuk memberikan nafas buatan.


· Ventilasi awal 2 x dengan waktu 1,5 – 2 detik ( 700 – 1000
ml/menit ,10 ml/kg ) yang akan memberikan konsentrasi O2 16
– 17 %.
· Pada RJP 2 penolong harus terdapat masa istirahat untuk
melakukan ventilasi sesudah kompresi luar yang kelima.

C = Circulation ( Sirkulasi )

1. Penilaian ada denyut nadi / tidak

Henti jantung ditandai dengan tidak adanya denyut nadi pada


arteri besar ( arteri carotis ) dengan waktu 5 – 10 detik.

2. Kompresi dada luar.

Bila nadi carotis tidak teraba dalam waktu 5 – 10 detik lakukan


kompresi dada luar.
Letak kompresi dada luar yang baik adalah:
· Telapak tangan penolong diletakan di atas 2 – 3 jari
sternum pasien.
· Siku siku dipertahankan pada posisi lengan diluruskan
dan bahu penolong berada pada posisi langsung diatas tangan
sehingga setiap penekanan kompresi dada luar di lakukan lurus
kebawah pada sternum. Bila penekanan tidak lurus ke bawah
maka kompresi menjadi kurang.
· Kedalaman kompresi 3,8 – 5 cm pada orang dewasa
normal.
· Tekanan kompresi dada luar di lepaskan agar dapat
mengalir ke dalam jantung, tekanan harus dilepaskan
seluruhnya dan dada dibiarkan kembali ke posisi normal
sesudah setiap kompresi. Waktu yang dipergunakan untuk
pelepasan harus sama dengan waktu yang digunakan untuk
kompresi.
· Tangan tidak boleh di angkat dari dada, atau dirubah
posisi. Pertolongan pernafasan dan posisi dada luar harus
dikombinasikan agar resusitasi efektif.

Perbandingan kompresi dan ventilasi.


1 (satu) penolong dan 2 (dua) penolong sama 15 : 2
Kecuali kalau sudah terpasang intubasi Kompresi 100 X / menit
Ventilasi 12 X/menit
Perbandingan Kompresi Ventilasi sebelum terintubasi 30 : 2
Kecuali kalau sudah terpasang intubasi Kompresi 100 X / menit
Ventilasi 12 X/menit

Setelah pasien tertolong dan mengalami pernbaikan, tempatkan


pasien pada posisi mantap.

V. UNIT TERKAIT
HCU