You are on page 1of 25

MAKALAH KEPERAWATAN PALIATIF

OLEH : KELOMPOK 4

1. NI KADEK DWINITA PURNAMAYANTI (17.321.2728)


2. NI KETUT NOPIA ANTARI (17.321.2731)
3. NI KOMANG LINDA RAHMAYANTI (17.321.2732)
4. NI LUH AYU LISTYAWATI (17.321.2735)
5. NI LUH DESY PURWANINGSIH (17.321.2737)
6. NI LUH JULIANTARI (17.321.2740)
7. NI LUH PUTU WIDHI ASTITI RAHAYU (17.321.2742)
8. NI NYOMAN DESY CANDRA SARI (17.321.2748)
9. NI PUTU HEPINA TRESNAYANTI (17.321.2749)
10. NI WAYAN AYU FEBRIYANI (17.321.2753)
11. NI WAYAN WENA WARDANI (17.321.2757)
12. PUTU BAGUS WARSA WARDANA (17.321.2758)
13. PUTU KOLA INDRIANI (17.321.2760)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA BALI

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bahwa
penulis telah dapat membuat makalah tentang “Paliatif Care Pada Lanjut Usia” Walaupun
banyak sekali hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam menyusun makalah ini,dan
mungkin makalah ini masih terdapat kekurangan dan belum bisa dikatakan sempurna
dikaranakan keterbatasan kemampuan penulis.

Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak terutama dari Bapak/Ibu dosen maupun teman-teman sekalian
supaya penulis dapat lebih baik lagi dalam menyusun sebuah makalah dikemudian hari, dan
semoga makalah ini berguna bagi siapa saja.

Denpasar, 17 April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .........................................................................................


1.2 Rumusan Masalah ....................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Permasalahan dalam paliatif care pada lanjut usia ..................................
2.2 Jenis- jenis dari tindakan terapeutik untuk perawatan paliatif pada lanjut usia
2.3 Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia ............................................
2.4 Tindakan terapi medis yang diberikan pada masalah paliatif lanjut usia
2.5 Asuhan keperawatan pada pasien dengan permasalahan lanjut usia .......

BAB III PENUTUP


3.1 Simpulan ..................................................................................................
3.2 Saran .......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pasien paliatif adalahh pasien/orang yang sedang menderita sakit dimana
tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga pengobatan medis sudah
tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi. Oleh karena itu, perawatan paliatif bersifat
meredakan gejala penyakit, namun tidak lagi berfungsi untuk menyembuhkan. Jadi
fungsi perawatan paliatif adalah mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhan-
keluhan lainnya dan meminimalisir masalah emosi, social, dan spiritual yang dihadapi
pasien.
Usia lanjut merupakan periode yang unik dan sulit dalam hidup. Usia lanjut
adalah suatu tahap peralihan dalam arti bahwa baik pria maupun wanita harus
menyesuaikan diri pada semakin berkutrangnya tenaga mental dan fisik mereka juga
harus belajar menerima perasaan yang pasif dan mau bergantung pada orang lain
sebagai pengganti dan peranan-peranan kepemimpinan aktif seperti masa lalu, dalam
kalangan keluarga maupun di tempat kerja.
Penuaan merupakan proses ilmiah yang terjadi secara terus-menerus dalam
kehidupan yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan anatomik, fisiologik
dan biomekanis dalam sel tubuh, sehingga mempengaruhi fungsi sel, jaringan dan
organ tubuh.
Memasuki masa tua, sebagian besar lanjut usia kurang siap menghadapi dan
menyikapi masa tua tersebut, sehingga menyebabkan para lanjut usia kurang dapat
menyesuaikan diri dan memecahkan masalah yang dihadapi. Munculnya rasa tersisih,
tidak dibutuhkan lagi, ketidak ikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit
yang tidak kunjung sembuh, kematian pasangan, merupakan sebagian kecil dari
keseluruhan perasaan yang tidak enak yang harus dihadapi lanjut usia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Permasalahan apa saja yang ada dalam paliatif care pada lanjut usia?
2. Apa saja jenis- jenis dari tindakan terapeutik untuk perawatan paliatif pada lanjut
usia?
3. Bagaimana upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia?
4. Tindakan terapi medis apa yang diberikan pada masalah paliatif lanjut usia?

1
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan permasalahan lanjut usia?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang ada dalam paliatif care pada lanjut
usia
2. Untuk mengetahui apa saja jenis- jenis dari tindakan terapeutik untuk perawatan
paliatif pada lanjut usia
3. Untuk mengetahui upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia
4. Untuk mengetahui tindakan terapi medis apa yang diberikan pada masalah paliatif
lanjut usia
5. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan permasalahan lanjut
usia

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan Paliatif care Pada Lanjut Usia


2.1.1 Permasalahan Umum
1. Makin besar jumlah lansia yang berada di bawah garis kemiskinan.
2. Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang
berusia lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati.
3. Lahirnya kelompok masyarakat industry.
4. Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan
lanjut usia.
5. Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan
lansia.
2.1.2 Permasalahan Khusus
1. Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik
fisik, mental maupun sosial.
2. Berkurangnya integrasi sosial usila.
3. Rendahnya produktifitas kerja lansia.
4. Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat.
5. Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan
masyarakat individualistik.
6. Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat
mengganggu kesehatan fisik lansia.
2.1.3 Masalah Kesehatan Gerontik
1. Masalah kehidupan seksual
Adanya anggapan bahwa semua ketertarikan seks pada lansia telah
hilang adalah mitos atau kesalahpahaman. (parke, 1990). Pada
kenyataannya hubungan seksual pada suami isri yang sudah menikah
dapat berlanjut sampai bertahun-tahun. Bahkan aktivitas ini dapat
dilakukan pada saat klien sakit aau mengalami ketidakmampuan dengan
cara berimajinasi atau menyesuaikan diri dengan pasangan masing-
masing. Hal ini dapat menjadi tanda bahwa maturitas dan kemesraan
antara kedua pasangan sepenuhnya normal. Ketertarikan terhadap

3
hubungan intim dapat terulang antara pasangan dalam membentuk ikatan
fisik dan emosional secara mendalam selama masih mampu
melaksanakan.
2. Perubahan prilaku
Pada lansia sering dijumpai terjadinya perubahan perilaku diantaranya:
daya ingat menurun, pelupa, sering menarik diri, ada kecendrungan
penurunan merawat diri, timbulnya kecemasan karena dirinya sudah tidak
menarik lagi, lansia sering menyebabkan sensitivitas emosional seseorang
yang akhinya menjadi sumber banyak masalah.
3. Pembatasan fisik
Semakin lanjut usia seseorang, mereka akan mengalami kemunduran
terutama dibidang kemampuan fisik yang dapat mengakibatkan penurunan
pada peranan – peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula timbulnya
ganggun di dalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya sehingga dapat
meningkatkan ketergantunan yang memerlukan bantuan orang lain.

2.2 Jenis- Jenis Tindakan Terapeutik Untuk Perawatan Paliatif Pada Lanjut Usia
Pemberian obat pada lansia bersifat palliative care adalah obat tersebut
ditunjukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh lansia. Fenomena poli
fermasi dapat menimbulkan masalah, yaitu adanya interaksi obat dan efek samping
obat. Sebagai contoh klien dengan gagal jantung dan edema mungkin diobatai dengan
dioksin dan diuretika. Diuretik berfungsi untu mengurangi volume darah dan salah
satu efek sampingnya yaitu keracunan digosin. Klien yang sama mungkin mengalami
depresi sehingga diobati dengan antidepresan. Dan efek samping inilah yang
menyebaban ketidaknyaman lansia
2.2.1 Pengunaan obat
Medikasi pada lansia memerlukan perhatian yang khusus dan
merupakan persoalan yang sering kali muncul dimasyarakat atau rumah sakit.
Persoalan utama dan terapi obat pada lansia adalah terjadinya perubahan
fisiologi pada lansia akibat efek obat yang luas, termasuk efek samping obat
tersebut. (Watson, 1992). Dampak praktis dengan adanya perubahan usia ini
adalah bahwa obat dengan dosis yang lebih kecil cenderung diberikan untuk
lansia. Namun hal ini tetap bermasalah karena lansia sering kali menderita

4
bermacam-macam penyakit untuk diobati sehingga mereka membutuhkan
beberapa jenis obat. Persoalan yang dialami lansia dalam pengobatan adalah :
1. Bingung
2. Lemah ingatan
3. Penglihatan berkurang
4. Tidak bias memegang
5. Kurang memahami pentingnya program tersebut unuk dipatuhi
6. Kesehatan mental

2.3 Upaya Pelayanan Kesehatan terhadap Lansia


Upaya pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi azas, pendekatan, dan
jenis pelayanan kesehatan yang diterima.
2.3.1 Azas
Menurut WHO (1991) adalah to Add life to the Years that Have Been
Added to life, dengan prinsip kemerdekaan (independence), partisipasi
(participation), perawatan (care), pemenuhan diri (self fulfillment), dan
kehormatan (dignity). Azas yang dianut oleh Departemen Kesehatan RI adalah
Add life to the Years, Add Health to Life, and Add Years to Life, yaitu
meningkatkan mutu kehidupan lanjut usia, meningkatkan kesehatan, dan
memperpanjang usia.
2.3.2 Pendekatan
Menurut World Health Organization (1982), pendekatan yang
digunakan adalag sebagai berikut :
1. Menikmati hasil pembangunan (sharing the benefits of social
development)
2. Masing-masing lansia mempunyai keunikan (individuality of aging
persons)
3. Lansia diusahakan mandiri dalam berbagai hal (nondependence)
4. Lansia turut memilih kebijakan (choice)
5. Memberikan perawatan di rumah (home care)
6. Pelayanan harus dicapai dengan mudah (accessibility)
7. Mendorong ikatan akrab antar kelompok/ antar generasi (engaging the
aging)
8. Transportasi dan utilitas bangunan yang sesuai dengan lansia (mobility)

5
9. Para lansia dapat terus berguna dalam menghasilkan karya (productivity)
10. Lansia beserta keluarga aktif memelihara kesehatan lansia (self help care
and family care)
2.3.3 Jenis
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lim upaya
kesehatan, yaituPromotif, prevention, diagnosa dini dan pengobatan,
pembatasan kecacatan, serta pemulihan.
1. Promotif
Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk
meningkatkan dukungan klien, tenaga profesional dan masyarakat
terhadap praktek kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial.
Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia sebagai berikut :
1) Mengurangi cedera
2) Meningkatkan keamanan di tempat kerja
3) Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk
4) Meningkatkan keamanan, penanganan makanan dan obat-obatan
5) Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut
2. Preventif
1) Mencakup pencegahan primer, sekunder dan tersier. Contoh
pencegahan primer : program imunisasi, konseling, dukungan nutrisi,
exercise, keamanan di dalam dan sekitar rumah, menejemen stres,
menggunakan medikasi yang tepat.
2) Melakukakn pencegahan sekuder meliputi pemeriksaan terhadap
penderita tanpa gejala. Jenis pelayanan pencegahan sekunder: kontrol
hipertensi, deteksi dan pengobatan kanker, skrining : pemeriksaan
rektal, mamogram, papsmear, gigi, mulut.
3) Melakukan pencegahan tersier dilakukan sesudah gejala penyakit dan
cacat. Jenis pelayanan mencegah berkembangnya gejala dengan
memfasilisasi rehabilitasi, medukung usaha untuk mempertahankan
kemampuan anggota badan yang masih berfungsi.
3. Rehabilitatif

6
2.4 Tindakan Terapi Medis yang Diberikan Pada Masalah Paliatif Lanjut Usia
Unsur terapi paliatif yang paling penting ialah penatalaksanaan nyeri (pain
control), misalnya untuk pasien kanker. Menghilangkan nyeri merupakan kewajiban
berat bagi dokter yang merawat pasien terminal. Dokter (dan tim medis) bertindak
tidak etis bila membiarkan pasien menderita lebih daripada seperlunya. Dengan
kemajuan kedokteran modern maka pasien tidak perlu lagi menderita nyeri fisik
berlebihan. Pemberian morfin tidak lagi mempertimbangkan masalah kecanduan,
karena pasien sudah terminal.
Penatalaksanaan nyeri pada pasien terminal sangat berbeda dengan pasien
biasa. Beberapa ahli berpendapat bahwa secara etis penggunaan protokol khusus
dalam terapi paliatif dibenarkan, bahkan bila menyebabkan pasien lebih cepat
meninggal.
Dalam konteks kedokteran paliatif, yang menjadi tujuan dokter dengan
tindakan ini ialah menghilangkan nyeri sebagai efek baik. Pasien berpeluang
meninggal merupakan efek buruk yang memang telah diketahui sebelumnya, tetapi
tidak dimaksudkan secara langsung sebagai tujuan. Pasien dengan proses keganasan
yang telah bermetastasis merasakan nyeri hebat. Analgetik konvensional yang
diberikan tidak dapat menghilangkan nyeri lagi sehingga diperlukan pemberian
morfin dengan dosis yang makin meningkat dan makin sering. Tim medis
diperhadapkan pada pemberian dosis morfin yang makin meningkat yang dapat
berakibat fatal bagi pasien; di satu sisi pemberian morfin merupakan satusatunya cara
yang efektif pada kasus terminal ini. Walau pasien sebenarnya minta hidupnya
diakhiri, tim medis harus meyadari bahwa eutanasia tidak boleh dilakukan dengan
meningkatkan dosis morfin lagi. Pemberian morfin bertujuan baik untuk
menghilangkan nyeri (efek baik) tetapi bila pasien meninggal karenanya, hal itu
bukan merupakan efek yang dimaksudkan. Pada pasien yang telah biasa
menggunakan morfin, penentuan dosis letal menjadi lebih sulit. Secara keseluruhan,
penanganan kasus demikian cukup sulit, dan penanganan nyeri disini termasuk terapi
paliatif. Pertimbangan etisnya ialah pasien tidak boleh dibiarkan menderita selama
masih ada kemungkinan medis untuk mengatasi masalah nyeri. Kenyataan bahwa
pasien berpeluang meninggal lebih cepat merupakan efek buruk.

2.5 Askep Keperawatan Pada Pasien Dengan Permasalahan Lanjut Usia


I. Pengkajian
7
Pengkajian pada klien dengan penyakit terminal, menggunakan pendekatan
holistik yaitu suatu pendekatan yang menyeluruh terhadap klien bukan hanya
pada penyakit dan aspek pengobatan dan penyembuhan saja akan tetapi juga
aspek psikososial lainnya.
Salah satu metode untuk membantu perawat dalam mengkaji data psikososial
pada klien terminal yaitu dengan menggunakan metode “PERSON”.
P: Personal Strenghat
Yaitu: kekuatan seseorang ditunjukkan melalui gaya hidup, kegiatannya atau
pekerjaan.
Contoh yang positif:
a. Bekerja ditempat yang menyenangkan bertanggung jawab penuh dan
nyaman, Bekerja dengan siapa saja dalam kegiatan sehari-hari.
Contoh yang negatif:
a. Kecewa dalam pengalaman hidup.
E: Emotional Reaction
Yaitu reaksi emosional yang ditunjukkan dengan klien.
Contoh yang positif:
a. Binggung tetapi mampu memfokuskan keadaan.
Contoh yang negatif:
a. Tidak berespon (menarik diri)
R: Respon to Stress
Yaitu respon klien terhadap situasi saat ini atau dimasa lalu.
Contoh yang positif:
a. Memahami masalah secara langsung dan mencari informasi.
b.Menggunakan perasaannya dengan sehat misalnya: latihan dan olah raga.
Contoh yang negative:
a. Menyangkal masalah.
b. Pemakaian alkohol.
S: Support System
Yaitu: keluarga atau orang lain yang berarti.
Contoh yang positif:
a. Keluarga.
b. Lembaga di masyarakat
Contoh yang negatif:

8
a. Tidak mempunyai keluarga
O: Optimum Health Goal
Yaitu: alasan untuk menjadi lebih baik (motivasi)
Contoh yang positif:
a. Menjadi orang tua
b. Melihat hidup sebagai pengalaman positif
Contoh yang negatif:
a. Pandangan hidup sebagai masalah yang terkuat
b. Tidak mungkin mendapatkan yang terbaik
N: Nexsus
Yaitu: bagian dari bahasa tubuh mengontrol seseorang mempunyai penyakit atau
mempunyai gejala yang serius.
Contoh yang positif:
a. Melibatkan diri dalam perawatan dan pengobatan
Contoh yang negatif:
a. Tidak berusaha melibatkan diri dalam perawatan.
b. Menunda keputusan.
Pengkajian yang perlu diperhatikan klien dengan penyakit terminal
menggunakan pendekatan meliputi.
1. Faktor predisposisi
Yaitu faktor yang mempengaruhi respon psikologis klien pada penyakit
terminal, sistem pendekatan bagi klien. Klas Kerud telah mengklasifikasikan
pengkajian yang dilakukan yaitu:
a. Riwayat psikosisial, termasuk hubungan-hubungan interpersonal,
penyalahgunaan zat, perawatan psikiatri sebelumnya.
b. Banyaknya distress yang dialami dan respon terhadap krisis.
c. Kemampuan koping.
d. Sosial support sistem termasuk sumber-sumber yang ada dan dibutuhkan
support tambahan.
e. Tingkat perkembangan
f. Fase penyakit cepat terdiagnosa, pengobatan dan post pengobatan.
g. Identitas kepercayaan diri, pendekatan nilai-nilai dan filosofi hidup.
h. Adanya reaksi sedih dan kehilangan
i. Pengetahuan klien tentang penyakit

9
j. Pengalaman masa lalu dengan penyakit.
k. Persepsi dan wawasan hidup respon klien terhadap penyakit terminal,
persepsi terhadap dirinya, sikap, keluarga, lingkungan, tersedianya
fasilitas kesehatan dan beratnya perjalanan penyakit.
l. Kapasitas individu untuk membuat psikosial kembali dalam penderitaan.
2. Fokus Sosiokultural
Klien mengekpresikannya sesuai dengan tahap perkembangan, pola kultur
atau latar belakang budaya terhadap kesehatan, penyakit, penderitaan dan
kematian yang dikomunikasikan baik secara verbal maupun non verbal
3. Faktor presipitasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya reaksi klien terminal, yaitu:
a. Prognosa akhir penyakit yang menyebabkan kematian.
b. Faktor transisi dari arti kehidupan menuju kematian.
c. Support dari keluarga dan orang terdekat.
d. Hilangnya harga diri, karena kebutuhan tidak terpenuhi sehingga klien
menarik diri, cepat tersinggung dan tidak ada semangat hidup.
Selain itu etiologi dari penyakit terminal dapat merupakan faktor
presipitasi, diantaranya:
a. Penyakit kanker
b. Penyakit akibat infeksi yang parah/kronis
c. Congestif Renal Failure (CRF)
d. Stroke Multiple Sklerosis
e. Akibat kecelakaan yang fatal
4. Faktor perilaku
a. Respon terhadap klien
Bila klien terdiagnosa penyakit terminal maka klien akan mengalami
krisis dan keadaan ini mengakibatkan keadaan mental klien tersinggung
sehingga secara langsung dapat menganggu fungsi fisik/penurunan daya
tahan tubuh.
b. Respon terhadap diagnose
Biasanya terjadi pada klien yang terdiagnosa penyakit terminal adalah
shock atau tidak percaya perubahan konsep diri klien terancam, ekspresi
klien dapat berupa emosi kesedihan dan kemarahan.
c. Isolasi social

10
Pada klien terminal merupakan pengalaman yang sering dialami, klien
kehilangan kontak dengan orang lain dan tidak tahu dengan pasti
bagaimana pendapat orang terhadap dirinya.
a. Mekanisme koping
1) Denial
Adalah mekanisme koping yang berhubungan dengan penyakit
fisik yang berfungsi pelindung kien untuk memahami penyakit
secara bertahap, tahapan tersebut adalah:
a) Tahap awal (initial stage)
Yaitu tahap menghadapi ancaman terhadap kehilangan “saya
harus meninggal karena penyakit ini”
b) Tahap kronik (kronik stage)
Persetujuan dengan proses penyakit “aku menyadari dengan
sakit akan meninggal tetapi tidak sekarang”. Proses ini
mendadak dan timbul perlahan-lahan.
c) Tahap akhir (finansial stage)
Menerima kehilangan “saya akan meninggal” kedamaian
dalam kematiannya sesuai dengan kepercayaan.
2) Regresi
Mekanisme klien untuk menerima ketergantungan terhadap
fungsi perannya. Mekanisme ini juga dapat memecahkan masalah
pada peran sakit klien dalam masa penyembuhan.
3) Kompensasi
suatu tindakan dimana klien tidak mampu mengatasi
keterbatasannya karena penyakit yang dialami.
Selain dari faktor-faktor yang mempengaruhi diatas, yang perlu dikaji saat
pengkajian pada klien terminal singkat “kesadaran“ antara lain adalah:
a. Belum menyadari (closed awereness)
Yaitu klien dan keluarga tidak menyadari kemungkinan akan kematian,
tidak mengerti mengapa klien sakit, dan mereka yakin klien akan
sembuh.
b. Berpura-pura (mutual pralensa)
Yaitu klien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lainnya tahu
prognosa penyakit terminal.

11
c. Menyadari (open awereness)
Yaitu klien dan keluarga menerima/mengetahui klien akan adanya
kematian dan merasa tenang mendiskusikan adanya kematian.
Pengkajiaan adalah tahap pertama proses keperawatan.
Sebelum perawat dapat merencanakan asuhan keperawatan pada
pasien yang tidak ada harapan sembuh, perawat harus mengidentifikasi
dan menetapkan masalah pasien terlebih dahulu. Oleh karena itu
tahapan itu meliputi pengumpulan data, analisis data mengenai status
kesehatan dan berakhir penegakan diagnose keperawatan, yaitu
permyataan tentang masalah pasien yang dapat di intervensi. Tujuan
pengkajian adalah member gambaran yang terus menerus mengenai
kesehatan pasien yang memungkinkan tim perawatan untuk
merencanakan asuhan keperawatannya secara perseorangan.
Pengumpulan data dimulai dengan upaya untuk mengenal
pasien dan keluarganya. Siapa pasien itu dan bagaimana kondisinya
akan membahayakan jiwanya. Rencana pengobatan apa yang telah di
laksanakan ? tindakan apa saja yang telah diberikan ? adakah bukti
mengenai pengetahuannya, prognosisnya dan pada proses kematian
yang mana pasien berada? Apakah ia menderita rasa nyeri? Apakah
anggota keluarganya mengetahui prognosisnya,dan bagaimana reaksi
mereka? Filsafat apa yang dianut pasien dan keluarganya mengenai
hidup dan mati, pengkajian kebutuhan,keadaan, dan masalah
kesehatan/keperawatan pasien khususnya. Sikap pasien terghadap
penyakitnya,antara lain apakah pasien tabah terhadap penyakitnya,
apakah menyadari tentang keadaannya?
a. Perasaan Takut.
Kebanyakan pasien merasa takut terhadap rasa nyeri yang tidak
terkendalikan yang begitu sering di asosiakan dengan keadaan sakit
terminal, terutama bila keadaan tersebut di sebbkan oleh penyakit yang
ganas. Perawat harus menggunakan pertimbnagan yang sehat apabila
sedang merawaat orang yang sakit terminal. Perawat harus
mengendalikan rasa nyeri pasien dengan cara yang tepat.
Perasaan takut yang muncul mungkin takut terhadap rasa nyeri,
walaupun secara teori, nyeri tersebut dapat diatasi dengan obat

12
penghilang rasa nyeri,seperti aspirin,dehidrokodein dan
dektromororamid. Apabila orang berbicara tentang perasaan takut
mereka terhadap maut, respons mereka secara tipikal mencakup
perasaan yang takut terhadap hal yang tidak jelas,takut meninggalkan
orang yang dicintai, kehilangan martabat, urusan yang belum selesai
dan sebagainya.
Kematian merupakan berhentinya kehidupan. Semua orang akan
mengalami kematian tersebut. Dalam menghadapi kematian ini, pada
umumnya orang akan merasa takut dan cemas. Ketakutan dan
kecemasan terhadap kematian ini dapat membuat pasien tegang dan
stress.
b. Emosi.
Emosi pasien yang muncul pada tahap menjelang kematian ,antara lain
mencela dan mudah marah.
c. Tanda vital.
Perubahan fungsi tubuh sering tercermin pada suhu badan, denyut
nadi, pernafasan, dan tekanan darah. Mekanisme fisiologis yang
mengaturnya berkaitan satu sam lain. Setiap perubahan yang berlainan
dengan keadaan yang normal dianggap sebagai indikasi yang penting
untuk mengenali keadaan kesehatan seseorang.
d. Kesadaran.
Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai awas waspada, yang
merupakan ekspresi tentang apa yang dilihat, didengar, dialami, dan
perasaan keseimbangan, nyeri, suhu, raba, getar gerak, gerak tekan dan
sikap, bersifat adekuat yaitu tepat dan sesuai
e. Fungsi tubuh.
Tubuh terbentuk atas banyak jaringan dan organ. Setiap organ
mempunyai fungsi khusus.

13
Tingkat Kesadaran
1. Komposmentis sadar sempurna
2. Apatis Tidak ada perasaan/kesadaran menurun
(masabodoh)
3. Somnolen Kelelahan (mengantuk berat)
4. Soporus Tidur lelap patologis (tidur pulas)
5. Subkoma Keadaan tidak sadar/hampir koma
6. Koma Keadaan pingsan lama disertai dengan
penurunan daya reaksi.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Merasa kehilangan harapan hidup dan terisolasi dari lingkungan sosial
berhubungan dengan kondisi sakit terminal.
2. Kehilangan harga diri berhubungan dengan penurunan dan kehilangan fungsi
3. Depresi berhubungan dengan kesedihan tentang dirinya dalam keadaan
terminal
4. Cemas berhubungan dengan kemungkinan sembuh yang tidak pasti, ditandai
dengan klien selalu bertanya tentang penyakitnya, adakah perubahan atau
tidak (fisik), raut muka klien yang cemaS
5. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak menerima akan
kematian, ditandai dengan klien yang selalu mengeluh tentang keadaan
dirinya, menyalahkan Tuhan atas penyakit yang dideritanya, menghindari
kontak sosial dengan keluarga/teman, marah terhadap orang lain maupun
perawat.
6. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dalam
melaksanakan alternatif ibadah sholat dalam keadaan sakit ditandai dengan
klien merasa lemah dan tidak berdaya dalam melakukan ibadah sholat.
7. Inefektif koping keluarga berhubungan dengan kehilangan

14
III. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Tujuan intervensi rasional
keperawatan
Merasa Setelah dilakukan tindakan 1. Dengarkan dengan
kehilangan keperawatan selama 3x24 penuh empati
harapan hidup jam, diharapkan pola nafas setiap pertanyaan
dan terisolasi dari pasien kembali efektif dan berikan respon
lingkungan sosial dengan kriteria hasil : jika dIbutuhkan
berhubungan 1. Klien merasa tenang klien dan gali
dengan kondisi menghadapi perasaan klien.
sakit terminal sakaratul maut 2. Berikan klien
sehubungan dengan harapan untuk
sakit terminal dapat bertahan
hidup.
3. Bantu klien
menerima
keadaannya
sehubungan
dengan ajal yang
akan menjelang.
4. Usahakan klien
untuk dapat
berkomunikasi dan
selalu ada teman di
dekatnya.
5. Perhatikan
kenyamanan fisik
klien
Kehilangan harga Setelah dilakukan tindakan 1. Gali perasaan klien
diri berhubungan keperawatan selama 3x24 sehubungan
dengan jam, diharapkan pola nafas dengan kehilangan.
penurunan dan pasien kembali efektif 2. Perhatikan
kehilangan fungsi dengan kriteria hasil : penampilan klien

15
1. Mempertahankan saat bertemu
rasa aman, tenteram, dengan orang lain.
percaya diri, harga 3. Bantu dan penuhi
diri dan martabat kebutuhan dasar
klien klien antara lain
hygiene, eliminasi.
4. Anjurkan keluarga
dan teman dekat
untuk saling
berkunjung dan
melakukan hal –
hal yang disenangi
klien.
5. Beri klien support
dan biarkan klien
memutuskan
sesuatu untuk
dirinya, misalnya
dalam hal
perawatan.

Depresi Setelah dilakukan tindakan 2. Bantu klien untuk


berhubungan keperawatan selama 3x24 mengungkapkan
dengan kesedihan jam, diharapkan pola nafas perasaan sedih,
tentang dirinya pasien kembali efektif marah dan lain
dalam keadaan dengan kriteria hasil : lain.
terminal 1. Mengurangi rasa 3. Perhatikan empati
takut, depresi dan sebagai wujud
kesepian bahwa perawat
turut merasakan
apa yang dirasakan
klien.

16
4. Bantu klien untuk
mengidentifikasi
sumber koping,
misalnya dari
teman dekat,
keluarga ataupun
keyakinan klien.
5. Berikan klien
waktu dan
kesempatan untuk
mencerminkan arti
penderitaan,
kematian dan
sekarat.
6. Gunakan sentuhan
ketika klien
menunjukkan
tingkah laku sedih,
takut ataupun
depresi, yakinkan
bahwa perawat
selalu siap
membantu.
7. Lakukan hubungan
interpersonal yang
baik dan
berkomunikasi
tentag pengalaman
– pengalaman klien
yang
menyenangkan
Cemas Setelah dilakukan tindakan 2. Kaji tingkat
berhubungan keperawatan selama 3x24 kecemasan

17
dengan jam, diharapkan pola nafas klien.
kemungkinan pasien kembali efektif 3. Jelaskan
sembuh yang dengan kriteria hasil : kepada klien
tidak pasti, 1. Klien tidak tentang
ditandai dengan cemas lagi dan penyakitnya.
klien selalu klien memiliki 4. Tetap mitivasi
bertanya tentang suatu harapan (beri
penyakitnya, serta semangat dukungan)
adakah hidup kepada klien
perubahan atau agar tidak
tidak (fisik), raut kehilangan
muka klien yang harapan hidup
cemas dengan tetap
mengikuti dan
mematuhi
petunjuk
perawatan dan
pengobatan.
5. Anjurkan
kepada klien
untuk tetap
berserah diri
kepada Tuhan
6. Datangkan
seorang klien
yang lain yang
memiliki
penyakit yang
sama dengan
klien.
7. Ajarkan kepada
klien dalam
melakukan

18
teknik
distraksi, misal
dengan
mendengarkan
musik
kesukaan klien
atau dengan
teknik
relaksasi, misal
dengan
menarik nafas
dalam.
8. Beritahukan
kepada klien
mengenai
perkembangan
penyakitnya.
9. Ikut sertakan
klien dalam
rencana
perawatan dan
pengobatan.

Koping individu Setelah dilakukan tindakan 2. Gali koping


tidak efektif keperawatan selama 3x24 individu yang
berhubungan jam, diharapkan pola nafas positif yang pernah
dengan tidak pasien kembali efektif dilakukan oleh
menerima akan dengan kriteria hasil : klien.
kematian, 1. Koping individu 3. Jelaskan kepada
ditandai dengan positif klien bahwa setiap
klien yang selalu manusia itu pasti
mengeluh tentang akan mengalami
keadaan dirinya, suatu kematian dan

19
menyalahkan itu telah ditentukan
Tuhan atas oleh Tuhan.
penyakit yang 4. Anjurkan kepada
dideritanya, klien untuk tetap
menghindari berserah diri
kontak sosial kepada Tuhan.
dengan 5. Perawat maupun
keluarga/teman, keluarga haruslah
marah terhadap tetap mendampingi
orang lain klien dan
maupun perawat mendengarkan
segala keluhan
dengan rasa empati
dan penuh
perhatian.
6. Hindari barang –
barang yang
mungkin dapat
membahayakan
klien.
7. Tetap memotivasi
klien agar tidak
kehilangan harapan
untuk hidup.
8. Kaji keinginan
klien mengenai
harapa untuk
hidup/keinginan
sebelum menjelang
ajal.
9. Bantu klien dalam
mengekspresikan
perasaannya.

20
Distress spiritual Setelah dilakukan tindakan 2. Kaji tingkat
berhubungan keperawatan selama 3x24 pengetahuan
dengan jam, diharapkan pola nafas klien
kurangnya pasien kembali efektif mengenai
pengetahuan dengan kriteria hasil : ibadah..
klien dalam 1. Kebutuhan 3. Ajarkan pada
melaksanakan spiritual dapat klien cara
alternatif ibadah terpenuhi yaitu ibadah dalam
dalam keadaan dapat keadaan
sakit ditandai melakukan berbaring.
dengan klien ibadah dalam 4. Datangkan
merasa lemah dan keadaan sakit seorang ahli
tidak berdaya agama.
dalam melakukan
ibadah

Inefektif koping Setelah dilakukan tindakan 2. Motivasi keluarga


keluarga keperawatan selama 3x24 untuk
berhubungan jam, diharapkan pola nafas menverbalisasika
dengan pasien kembali efektif n perasaan –
kehilangan dengan kriteria hasil : perasaan antara
1. Membantu individu lain : sedih,
menangani marah dan lain –
kesedihan secara lain.
efektif 3. Beri pengertian
dan klarifikasi
terhadap perasaan
– perasaan
anggota keluarga.
4. Dukung keluarga
untuk tetap

21
melakukan
aktivitas sehari –
hari yang dapat
dilakukan.
5. Bantu keluarga
agar mempunyai
pengaharapan
yang realistis.
6. Berikan rasa
empati dan rasa
aman dan
tenteram dengan
cara duduk
disamping
keluarga,
mendengarkan
keluhan dengan
tetap
menghormati
klien serta
keluarga.
7. Berikan
kesempatan pada
keluarga untuk
melakukan
upacara
keagamaan
menjelang saat –
saat kematian.

22