You are on page 1of 13

man Kepada Qadha dan Qadar

Pengertian Qadha dan Qadar


Menurut bahasa Qadha memiliki beberapa pengertian yaitu: hukum, ketetapan,pemerintah,
kehendak, pemberitahuan, penciptaan. Sedang menurut istilah Islam, yang dimaksud dengan
qadha adalah ketetapan Allah sejak zaman Azali sesuai dengan iradah-Nya tentang segala
sesuatu yang berkenan dengan makhluk. Qadar menurut bahasa adalah: kepastian, peraturan,
ukuran. Adapun menurut Islam qadar adalah perwujudan atau kenyataan ketetapan Allah
terhadap semua makhluk dalam kadar dan berbentuk tertentu sesuai dengan iradah-Nya.
Firman Allah:
َ ‫ض َو َل ْم يَت َّ ِخ ْذ َو َلدًا َو َل ْم يَ ُك ْن َلهُ ش َِريكٌ فِي ْال ُم ْل ِك َو َخ َلقَ ُك َّل‬
ً ‫ش ْيءٍ َف َقد ََّرهُ تَ ْقد‬
‫ِيرا‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬ َّ ‫ا َّلذِي لَهُ ُم ْلكُ ال‬
ِ ‫س َم َاوا‬
Artinya: yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak
ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan
Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS .Al-Furqan ayat 2).
2. Hubungan antara Qadha dan Qadar
Telah diuraikan diatas bahwa Qadha adalah ketentuan, hukum atau rencana Allah sejak
zaman azali. Sedang Qadar adalah kenyataan dari ketentuan atau hukum Allah. Jadi hubungan
antara qadha qadar ibarat rencana dan perbuatan.
Perbuatan Allah berupa qadar-Nya selalu sesuai dengan ketentuan-Nya. Di dalam surat
Al-Hijr ayat 21 Allah berfirman, yang artinya sebagai berikut:
ٍ ُ‫ش ْيءٍ ِإ ََّّل ِع ْندَنَا خَزَ ائِنُهُ َو َما نُن َِزلُهُ ِإ ََّّل ِبقَدَ ٍر َم ْعل‬
21( ‫وم‬ َ ‫َو ِإ ْن ِم ْن‬
Artinya ” Dan tidak sesuatupun melainkan disisi kami-lah khazanahnya; dan Kami
tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.”
Ayat ini menerangkan bahwa sumber segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia,
semuanya ada dalam khazanahnya. Hanya saja untuk menggali dan mencari segala sesuatu
yang diperlukan itu hendaklah disertai dengan kerja dan usaha yang keras; mustahillah
seseorang akan memperolehnya tanpa ada usaha mencarinya. Hal ini adalah sesuai dengan
Sunnatullah. Menurut Sunnatullah bahwa orang yang akan diberi rezeki ialah orang-arang yang
berusaha dan bekerja. Sesuai dengan Sunnatullah, maka agama Islam menganjurkan agar kaum
Muslimin berusaha dengan sekuat tenaga mencari segala sesuatu yang diperlukan di dalam
perbendaharaan Allah itu
Orang kadang-kadang menggunakan istilah qadha dan qadar dengan satu istilah, yaitu
Qadar atau takdir. Jika ada orang terkena musibah, lalu orang tersebut mengatakan, ”sudah
takdir”, maksudnya qadha dan qadar.
3.Kewajiban beriman kepada dan qadar
Dalamsuatu hadist diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh
seorang laki-laki yang berpakaian serba putih , rambutnya sangat hitam. Lelaki itu bertanya
tentang Islam, Iman dan Ihsan. Tentang keimanan Rasulullah menjawab yang artinya:
Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaekat-malaekat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-
rasulnya, hari akhir dan beriman pula kepada qadar(takdir) yang baik ataupun yang buruk.
Lelaki tersebut berkata” Tuan benar”. (H.R. Muslim)
Seorang laki-laki tersebut adalah Malaekat Jibril yang sengaja datang pada saat itu untuk
memberikan pelajaran agama kepada umat Nabi Muhammad SAW. Jawaban Rasulullah yang
selalu dibenarkan oleh Malaekat Jibril itu berisi tentang rukun iman. Salah satunya dari rukun
iman tersebut adalah iman kepada qadha dan qadar. Dengan demikian , bahwa mempercayai
qadha dan qadar adalah merupakan pengakuan hati kita. Kita harus yakin dengan sepenuh hati
bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita, baik yang menyenangkan maupun yang tidak
menyenangkan adalah atas kehendak Allah.
Di dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman yang artinya: ” Siapa yang tidak ridha dengan
qadha-Ku dan qadar-Ku dan tidak sabar terhadap bencana-Ku yang aku timpakan atasnya,
maka hendaklah mencari Tuhan selain Aku. (H.R.Tabrani)
Takdir Allah merupakan iradah (kehendak) Allah. Oleh sebab itu takdir tidak selalu sesuai
dengan keinginan kita. Tatkala takdir atas diri kita sesuai dengan keinginan kita, hendaklah
kita beresyukur karena hal itu merupakan nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ketika
takdir yang kita alami tidak menyenangkan atau merupakan musibah, maka hendaklah kita
terima dengan sabar dan ikhlas. Kita harus yakin, bahwa di balik musibah itu ada hikmah yang
terkadang kita belum mengetahuinya. Allah Maha Mengetahui atas apa yang diperbuatnya.
4.Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar
Rasulullah SAW bersabda :
”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk
nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah
mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu
tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupny) sengsara atau bahagia.”
(HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak
sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa
manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap
berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya.
Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan
berbuat kejahatan. Pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, seorang pencuri
tertangkap dan dibawa kehadapan Khalifah Umar. ” Mengapa engkau mencuri?” tanya
Khalifah. Pencuri itu menjawab, ”Memang Allah sudah mentakdirkan saya menjadi pencuri.”
Mendengar jawaban demikian, Khalifah Umar marah, lalu berkata, ” Pukul saja orang ini
dengan cemeti, setelah itu potonglah tangannya!.” Orang-orang yang ada disitu bertanya, ”
Mengapa hukumnya diberatkan seperti itu?”Khalifah Umar menjawab, ”Ya, itulah yang
setimpal. Ia wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib dipukul karena berdusta atas
nama Allah”.
Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman nabi
Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap nabi. Orang
itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung
menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ”Kenapa
kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal
kepada Allah”. Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah”.
Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu,
namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan
terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar
dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a kita
kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun
yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.
Mengenai hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat, bahwa
takdir itu ada dua macam :
1.Takdir mua’llaq: yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh
seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia
belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi
insinyur pertanian. Dalam hal ini Allah berfirman:
Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka
dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak
ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ( Q.S
Ar-Ra’d ayat 11)
2.Takdir mubram; yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan
atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan
mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan
sebagainya.
B.Hikmah Beriman kepada Qada dan qadar
Dengan beriman kepada qadha dan qadar, banyak hikmah yang amat berharga bagi kita
dalam menjalani kehidupan dunia dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Hikmah
tersebut antara lain:
1.Melatih diri untuk banyak bersyukur dan bersabar
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar, apabila mendapat keberuntungan, maka ia
akan bersyukur, karena keberuntungan itu merupakan nikmat Allah yang harus disyukuri.
Sebaliknya apabila terkena musibah maka ia akan sabar, karena hal tersebut merupakan ujian
Firman Allah:
Artinya:”dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah( datangnya), dan bila ditimpa
oleh kemudratan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan. ”( QS. An-Nahl
ayat 53).
2.Menjauhkan diri dari sifat sombong dan putus asa
Orang yang tidak beriman kepada qadha dan qadar, apabila memperoleh keberhasilan,
ia menganggap keberhasilan itu adalah semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Ia pun
merasa dirinya hebat. Apabila ia mengalami kegagalan, ia mudah berkeluh kesah dan berputus
asa , karena ia menyadari bahwa kegagalan itu sebenarnya adalah ketentuan Allah.
Firman Allah SWT:
Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya
dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari
rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS.Yusuf ayat 87)
Sabda Rasulullah: yang artinya” Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya ada
sebiji sawi dari sifat kesombongan.”( HR. Muslim)
3.Memupuk sifat optimis dan giat bekerja
Manusia tidak mengetahui takdir apa yang terjadi pada dirinya. Semua orang tentu
menginginkan bernasib baik dan beruntung. Keberuntungan itu tidak datang begitu saja, tetapi
harus diusahakan. Oleh sebab itu, orang yang beriman kepada qadha dan qadar senantiasa
optimis dan giat bekerja untuk meraih kebahagiaan dan keberhasilan itu.
Firaman Allah:
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah
kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan. (QS Al- Qashas ayat 77)
4.Menenangkan jiwa
Orang yang beriman kepada qadha dan qadar senangtiasa mengalami
ketenangan jiwa dalam hidupnya, sebab ia selalu merasa senang dengan apa yang ditentukan
Allah kepadanya. Jika beruntung atau berhasil, ia bersyukur. Jika terkena musibah atau gagal,
ia bersabar dan berusaha lagi.
Artinya : Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-
Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam sorga-Ku.(
QS. Al-Fajr ayat 27-30)
(dilansir dan dikutib dari http://hbis.wordpress.com/2007/12/10/iman-kepada-qadha-dan-
qadar/)

Artikel Terkait:

idah

 Iman Kepada Qadha dan Qadar


 Perilaku Beriman Kepada Malaikat
 Perbedaan Manusia dengan Malaikat

HAKIKAT IMAN KEPADA QADA DAN QADAR ALLAH

A. Pengertian Qada dan Qadar


Arti qada menurut bahasa adalah memutuskan suatu perkara dengan ucapan atau perbuatan.
Sementara itu, qadar berarti pembatasan Allah pada suatu perkara sejaka zaman azali menurut
pengetahuan dan kehendak-Nya. Qada berarti ketetapan hukum. Allah berfirman:

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan
(yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka
sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. al-Ahzab: 36)
Qadar berarti ukuran atau peraturan yang telah diciptakan oleh Allah untuk menjadi dasar
dalam mengatur alam ini, yang di dalamnya ada hubungan sebab akibat. Ini menjadi undang-undang
alam dan manusia terkait olehnya. Allah SWT berfirman sebagai berikut:

Artinya: “Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (Q.S. al- A’la: 3)

B. Makna Beriman kepada Qada dan Qadar Allah

Iman kepada qada dan qadar adalah meyakini dengan sepenuh hati adanya qada dan qadar Allah
yang berlaku bagi semua makhluk sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan-Nya. Jadi, segala yang terjadi
di alam fana ini telah ditetapkan oleh Allah SWT. Allah berfirman sebagai berikut:

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S. al-Hadid: 22)

Dalam Surah an-Nisa ayat 78 dijelaskan sebagai berikut:

Artinya: “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam
benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini
adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini
(datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka
mengapa orang-orang itu (orang munafik) Hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”
(Q.S. an-Nisa: 78)

Maksud dari dua ayat tersebut adalah bahwa apapun yang terjadi di alam fana ini dan menimpa
diri kita, semua itu atas kehendak Allah SWT. Hal itu untuk menguji sampai sejauh mana keteguahan
iman kita. Allah adalah Zat Yang Mahakuasa untuk memberlakukan qada dan qadar-Nya. Sebagai
seorang muslim, kita harus meyakini semua itu sehingga apapun yang terjadi pada kita, baik berupa
kesenangan maupun kesedihan, kita kembalikan kepada Allah SWT.

Dalam kaitannya dengan qada, qadar, dan ikhtiar, takdir dibedakan menjadi dua macam, yaitu
taqdir mu’allaq dan taqdir mubram. Taqdir mu’allaq adalah takdir yang erat hubungannya dengan
ikhtiar manusia. Misalnya, keadaan manusia semula melarat menjadi kecukupan karena berusaha,
semula belum tahu menjadi tahu karena berusaha belajar, dan sebelumnya sakit menjadi sehat karena
berusaha berobat.
Sedangkan Taqdir mubram adalah taqdir yang tidak dapat diusahakan oleh manusia. Mislnya
kematian seseorang yang tidak bisa dimajukan dan tidak bisa diundurkan sesaat pun. Allah berfirman
sebagai berikut:

Artinya: “... Apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang
sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).” (Q.S. Yunus: 49)

C. Tingkatan Qada dan Qadar Allah

Dalam kehidupan sehari-hari, istilah qada dan qadar lebih populer dengan sebutan takdir.
Sebagai orang yang beriman, kita harus mengerti segala kejadian yang menimpa diri kita. Selain
disebabkan oleh perbuatan yang kita kehendaki, kita juga memahami bahwa ada peristiwa yang terjadi
di luar kekuasaan kita. Hal itu adalah semata-mata kekuasaan Allah SWt. Dengan memahaminya, kita
akan bisa berlapang dada menerima segala takdir yang datang dari Allah SWT.

Syekh Muhammad Saleh al-Usaimin mengemukakan bahwa takdir itu mempunyai empat
tingkatan, yaitu: al-‘lmu, al-kitabah, al-masyi’ah dan al-khalqu.

1. Al-‘Ilmu atau pengetahuan adalah mengimani dan meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di alngit dan di bumi secara umum atau terperinci, baik itu
perbuatn-Nya sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya, tidak ada sesuatu yang tersembunyi.
2. Al-Kitabah atau penulisan adalah mengimani bahwa Allah telah menuliskan segala ketetapan dalam
Lauh Mahfuz yang ada di sisi-Nya. Lauh Mahfuz ialah tempat pencatatan ketetapan Allah atas makhluk-
Nya yang terpelihara di sisi-Nya. Allah berfirman sebagai berikut:

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya
yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Q.S. al-Hadid: 22)
3. Al-Masyi’ah atau penetapan adalah kehendak Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi atau tidak
terjadi, baik di langit maupun di bumi. Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuat-Nya adalah
kehendak-Nya serta apa yang diperbuat para hamba-Nyaadalah dengan kehendak-Nya juga. Allah
berfirman sebagai berikut:

Artinya: “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak
dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(Q.S. at-Takawir: 28-29)
4. Al-Khalqu atau penciptaan adalah mengimani Allah sebagai pencipta segala sesuatu serta meyakini
bahwa semua yang terjadi dari perbuatan Allah adalah ciptaan Allah. Contohnya adalah langit, bumi,
hewan dan segala sifat berupa yang dilakukan makhluk-Nya.
D. Hikmah beriman kepada Qada dan Qadar

1) Beriman kepada qada dan qadar dapat meningkatkan keteguhan iman dan menyadari bahwa segala
sesuatu yang terjadi telah ditentukan oleh Allah SWt.
2) Beriman kepada qada dan qadar dapat menumbuhkan keteguhan hati dan kesabaran karena musibah
yang diderita merupakan qada dan qadar.
3) Beriman kepada qada dan qadar menumbuhkan keikhlasan dalam menerima segala ketentuan Allah
SWT.
4) Beriman kepada qada dan qadar memperkuat rasa tawakal kepada Allah SWt karena manusia hanya
dapat berusaha, sedangkan yang berhak menentukan hasilnya hanya Allah SWT.

B. Ciri-ciri orang yang beriman kepada qada dan qadar

Seorang muslim yang percaya akan adanya ketentuan Allah swt pastinya memiliki
tingkat ketaatan yang tinggi. Karena ketentuan Allah swt menyangkut hidup di dunia dan di
akherat. Adapun ciri-ciri orang yang beriman kepada qada dan qadarnya Allah swt adalah :

1. Mentaati perintah Allah swt dan menjauhi serta meninggalkan segala larangan Allah
swt
2. Berusaha dan bekerja secara maksimal
3. Tawakkal kepada Allah swt secara menyeluruh dan berdoa
4. Mengisi kehidupan di dunia dengan hal-hal positif untuk mencapai kebahagiaan hidup
di akherat
5. memperhatikan dan merenungkan kekuasaan dan kebesaran Allah swt
6. bersabar dalam menghadapi cobaan
7. 4.Hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar
8. Iman kepada qadha dan qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa
Allah SWT telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluknya. Berkaitan
dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda yang artinya sebagai berikut yang
artinya
9. ”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam
bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging,
kemudian Allah mengutus malaekat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan menuliskan
empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan
hidupny) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin
Mas’ud).
10. Dari hadits di atas dapat kita ketahui bahwa nasib manusia telah ditentukan Allah sejak
sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti
bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar.
Manusia tetap berkewajiban untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan
sendirinya.
11. Janganlah sekali-kali menjadikan takdir itu sebagai alasan untuk malas berusaha dan
berbuat kejahatan. Pernah terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, seorang
pencuri tertangkap dan dibawa kehadapan Khalifah Umar. ” Mengapa engkau
mencuri?” tanya Khalifah. Pencuri itu menjawab, ”Memang Allah sudah mentakdirkan
saya menjadi pencuri.”
12. Mendengar jawaban demikian, Khalifah Umar marah, lalu berkata, ” Pukul saja orang
ini dengan cemeti, setelah itu potonglah tangannya!.” Orang-orang yang ada disitu
bertanya, ” Mengapa hukumnya diberatkan seperti itu?”Khalifah Umar menjawab,
”Ya, itulah yang setimpal. Ia wajib dipotong tangannya sebab mencuri dan wajib
dipukul karena berdusta atas nama Allah”.
13. Mengenai adanya kewajiban berikhtiar , ditegaskan dalam sebuah kisah. Pada zaman
nabi Muhammad SAW pernah terjadi bahwa seorang Arab Badui datang menghadap
nabi. Orang itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya
dan langsung menghadap nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur
orang itu, ”Kenapa kuda itu tidak engkau ikat?.” Orang Arab Badui itu menjawab,
”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah”. Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu,
setelah itu bertawakkalah kepada Allah”.
14. Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu,
namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa
yang akan terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai,
hendaklah belajar dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu
berdo’a. Dengan berdo’a kita kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah
SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan
ikhlas.
15. Mengenai hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat,
bahwa takdir itu ada dua macam :
16. 1.Takdir mua’llaq: yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh
seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-
citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi
kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian. Dalam hal ini Allah berfirman: lihat Al-
Qur’an on line di google
17. Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya
Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan
terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia. ( Q.S Ar-Ra’d ayat 11)
18. 2.Takdir mubram; yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat
diusahakan atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang
dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan
bapaknya kulit putih dan sebagainya.

Antara Doa, Qadha dan Qadhar


Doa adalah permintaan yang dipanjatkan dengan segala kerendahan diri dan sepenuh hati,
berharap kepada Allah dengan harapan baik dalam hal yang berhubungan dengan
mendatangkan kebaikan, menghilangkan kesulitan . . .
Kamis, 20 Agustus 2015

Doa adalah permintaan yang dipanjatkan dengan segala kerendahan diri dan sepenuh hati, berharap
kepada Allah dengan harapan baik dalam hal yang berhubungan dengan mendatangkan kebaikan,
menghilangkan kesulitan, luapan syukur atas nikmat yang diberi, atau sebuah munajat kepada Allah.

Pada dasamya, defmisi doa sendiri sangat beragam selama tidak keluar dalam satu koridor, yaitu doa
adalah sebuah permintaan yang disampaikan seorang hamba kepada Sang Maha Penolong dengan
harapan besar, bahwa permintaannya itu diterima dan dikabulkan.

Demikian juga dengan qadha dan qadar. Keduanya sangat berhubungan dengan ilmu Allah Swt.
dalam segala hal, berhubungan dengan kehendak dan kuasa-Nya untuk menciptakan segala sesuatu
sesuai dengan kehendak-Nya. Pada hakikatnya, tidaklah berlawanan antara doa yang kedudukannya
sebagai permohonan dengan qadha dan qadar Allah yang kedudukannya sebagai ilmu Allah Swt.,
kehendak dan kuasa-Nya.

Pembahasaan ini bukanlah hal mudah yang akan jelas dengan sebuah isyarat saja. Sangat diperlukan
penjelasan dan pembahasan mendalam, karena perkara ini sangat agung. Hingga banyak pendapat
yang tergelincir untuk memahami keduanya.

Mengenai hubungan antara doa dengan qadha dan qadar Allah, begitu banyak hadis-hadis
Rasulullah Saw. yang telah menerangkannya. Di antaranya sebagai berikut.

a. "Qadha itu tidak akan berubah kecuali dengan doa, dan umur itu tidak akan bertambah kecuali
dengan kebaikan. Sesungguhnya seseorang pasti diharamkan rezeki baginya karena dosa yang ia
kerjakan. " (HR Ibnu Majah, 4012)
b. Dari Aisyah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Sebuah kehati- hatian tidak akan luput dari qadar, dan
doa itu berguna bagi sesuatu yang telah turun dan bagi sesuatu yang belum turun. Sesungguhnya,
ketika kesusahan atau musibah itu akan turun, doa pun menemuinya. Keduanya pun saling berhelat
dan berdebat hingga Hari Kiamat datang. " (HR Al-Hakim, 1767)
c. Dari Salman Al-Farisi r.a., Rasulullah Saw. bersabda, "Qadha itu tidak akan bisa ditolak kecuali
dengan doa, dan tidaklah bertambah umur seseorang kecuali dengan bertambahnya kebaikan. " (HR
Al-Turmudzi, 2065)

"Qadha itu tidak akan berubah kecuali dengan doa, dan umur itu tidak akan bertambah kecuali
dengan kebaikan. Sesungguhnya seseorang pasti diharamkan rezeki baginya karena dosa yang ia
kerjakan. " (Al-Hadis)

Hadis-hadis ini menjelaskan adanya hubungan kuat antara doa dengan qadha dan qadar Allah.
Dalam hadis riwayat Tsauban, Rasulullah menjelaskan bahwa qadar tidak akan dapat ditolak kecuali
dengan doa. Dalam riwayat Salman, Rasul pun menjelaskan bahwa qadha tidak dapat ditolak kecuali
dengan doa. Adapun, qadha adalah ketetapan yang disiapkan dan dirancang untuk diberlakukan bagi
setiap hamba.

Hadis pertama dan ketiga menjelaskan, sesungguhnya doa adalah nikmat Allah yang paling agung
dan paling besar untuk manusia. Bahkan tak ada satu pun nikmat Allah yang Dia berikan kepada
manusia seperti kedudukan doa. Bagaimana tidak, karena hanya doalah yang mampu menolak
qadha, sedangkan ibadah-ibadah yang lain tidak dapat melakukannya.

Sesungguhnya doa adalah nikmat Allah yang paling agung dan imling besar untuk manusia, karena
hanya doalah yang mampu menolak qadha dan qadar.

Hadis kedua menggambarkan bagaimana doa seorang hamba dapat menolak qadha dan qadar.
Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya ketika sebuah bencana atau musibah akan turun, sebelum
turun ia berjumpa dengan doa. Keduanya pun saling berjumpa dan saling berperang hingga Hari
Kiamat. "

Rasulullah mengungkapkan pertemuan keduanya dengan istilah i’tilaj dan tashara’, yang artinya,
‘keduanya saling berdebat dan berkelahi satu sama lain’. Sungguh, ini bukti nyata akan pengaruh doa
yang dipanjatkan seorang hamba bagi qadhanya.

Dari penjelasan ini dapat digambarkan, qadha layaknya sebuah anak panah yang nyata dan siap
dibidik untuk menepati sasarannya. Hampir saja anak panah itu sampai kepada arah yang dituju.
Kalau saja anak panah itu tidak bertemu dengan doa di antara langit dan bumi, pasti panah itu telah
mengenai bidikannya.

Doa mampu menghentikan sebuah eksekusi atau pelaksanaan dari ketetapan tersebut dan bukan
membatalkan hukum ketetapan itu. Sebab, hukum ketetapan bergantung dari proses menuju masa
eksekusinya, dan proses menuju titik tersebut panjang dan lama.

Sumber :

Hubungan takdir dengan tawakal


Tawakal adalah berserah diri kepada Allah swt., berserah diri kepada qada dan qadar
Allah swt., terjadi setelah berusaha semaksimal mungkin. Tawakal bagi seorang muslim adalah
perbuatan dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tenteram, dan keyakinan
yang kuat bahwa apa yang harus terjadi pasti terjadi, apa yang tidak dikehendakinya pasti tidak
akan terjadi. Allah swt tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.
Tawakal bukan perkara mudah, tidak hanya perbuatan bibir saja tetapi ini Amalan
Hati. Ciri orang yang benar-benar bertawakal adalah :
a. Selalu ingat Allah (berdoa) sebelum dan sesudah berusaha/ihtiar
b. Meraih hasil dengan usaha yang benar dan jujur
c. Setuju dengan apapun hasil yang didapat (baca : bersyukur)
d. Selalu introspeksi (muhasabah), menjauh dari sikap menyalahkan orang lain atau bahkan
berprasangka buruk kepada Allah sang penentu hasil.
Diposkan oleh Upiitt^^ ketika Selasa, Januari 24, 2012
4. Kaitan antara Takdir, Ikhtiar, dan Tawakal
Takdir sebagaimana telah dijelaskan adalah takaran, ukuran, ketetapan, peraturan, undang-
undang yang diciptakan Allah tertulis di Lauh Mahfuz sejak zaman azali dan berlaku bagi
semua makhluk-Nya. Takdir ada dua macam, yaitu takdir mubram dimana makhluk tidak
diberi peluang atau kesempatan untuk memilih dan mengubahnya, dan takdir muallaq dimana
makhluk diberi peluang atau kesempatan untuk memilih dan mengubahnya.

Ikhtiar adalah berusaha melakukan segala daya dan upaya untuk mencapai sesuatu sesuai
dengan yang dikehendaki. Menurut bahasa Arab, ikhtiar berarti 'memilih'. Dua pengertian yang
berbeda itu tetap mempunyai hubungan yang erat dan merupakan mata rantai yang tidak dapat
dipisahkan. Sebagai contoh, setiap orang mempunyai kebebasan memilih untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Ada yang mencari nafkah dengan berdagang, bertani, menjadi karyawan,
wirausaha, dan lain sebagainya.

Tawakal diartikan dengan sikap pasrah dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.
Dalam bahasa Arab, tawakal berarti `mewakilkan', yaitu mewakilkan kepada Allah untuk
menentukan berhasil atau tidaknya suatu urusan. Ajaran tawakal ini menanamkan kesan bahwa
manusia hanya memiliki hak dan berusaha, sedangkan ketentuan terakhir tetap di tangan Allah
swt. sehingga apabila usahanya berhasil, is tidak bersikap lupa diri dan apabila mengalami
kegagalan, is tidak akan merasa putus asa. Pengertian seperti ini merupakan ajaran tawakal
yang paling tepat.

Artinya: “Maka apa bila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah,
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya." (QS Ali Imran:
159)

Takdir, ikhtiar, dan tawakal adalah tiga hal yang sulit untuk dipisah-pisahkan. Dengan
kemahakuasaan-Nya, Allah menciptakan undang-undang, peraturan, dan hukum yang tidak
dapat diubah oleh siapa pun. Sementara itu, manusia diberi kebebasan untuk memilih dan diberi
hak untuk bekerja dan berusaha demi mewujudkan pilihannya. Akan tetapi, setiap manusia
tidak dapat dan tidak dibenarkan memaksakan kehendak kepada Allah untuk mewujudkan
keinginannya.

Bertawakal bukan berarti bahwa seseorang hanya diam dan bertopang dagu tanpa bekerja.
Orang yang sudah menentukan pilihan dan cita-citanya tanpa mau bekerja, hanya akan menjadi
lamunan atau khayalan semata karena hal itu tidak akan pernah terlaksana. Firman Allah swt.
Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya." (QS An Najm: 39)

Dalam sebuah hadis yang panjang dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim
dikisahkan bahwa ketika Khalifah Umar bin Khattab ra. dan pasukannya akan masuk ke negeri
Syam dan telah sampai di perbatasan, ada yang menyampaikan laporan bahwa di negeri Syam
tersebut tengah terjangkit penyakit menular. Khalifah Umar bin Khattab ra. akhirnya
memutuskan untuk membatalkan ke negeri Syam dan kembali pulang ke Madinah. Abu Baidah
berkata pada Khalifah, "Mengapa Anda lari dari takdir Allah?" Khalifah Umar bin Khattab ra.
menjawab, "Kami lari dari takdir untuk mengejar takdir pula." Maksud dari pernyataan `lari
dari takdir menuju takdir' itu adalah bahwa mereka memilih meninggalkan takdir yang buruk
menuju pada takdir yang lebih baik. Manusia yang telah diberi fitrah dan pengetahuan untuk
dapat membedakan baik dan buruk pasti akan senantiasa mampu menaati segala kebaikan dan
menjauhi keburukan.

Oleh karena itu, sebagai penghayatan terhadap keyakinan akan takdir, ikhtiar, dan tawakal,
maka kewajiban kita memilih segala hal yang baik. Adapun ukuran mengenai baik dan
buruknya adalah norma yang tercantum pada Al Quran dan hadis, senantiasa tekun,
bersungguh-sungguh dalam bekerja sesuai kemampuan, bertawakal, berdoa, tidak sombong
atau lupa diri dan bersyukur apabila berhasil serta tidak berputus asa apabila belum berhasil.

Adapun ciri-cirinya beriman kepada qada' dan qadar adalah sebagai


berikut:

1. Selalu menjaga keteguhan iman dan menyadari bahwa segala sesuatu yang
terjadi itu telah ditentukan oleh Allah.

2. Seseorang yang memiliki iman yang kuat terhadap qada' dan qadar Allah
akan memiliki keberanian dan ketabahan untuk mendapatkan
keinginannya.

3. Orang yang beriman kepada qada' dan qadar selalu memiliki sikap rela
terhadap apa yang terjadi atas dirinya.

4. Apabilah dibacakan tanda-tanda kebesaran Allah gemetarlah hatinya


5. Tidak mengeluh dan putus asa, sebab setiap langkah dan usahanya telah
dilandasi dengan tawakal kepada Allah swt.

Diposkan oleh Tiyah Nicyah 18


0 komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Copyright 2010 Tiyah Nicyah 18.All rights reserved. Powered by Blogger


Credits: Washington DC Online | Online City Guide - Tucson | San Jose Tourism