You are on page 1of 14

Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam

Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

RELASI AGAMA DAN BUDAYA


DALAM HUBUNGAN INTERN UMAT ISLAM
The Relationship between Religion and Cultures among Muslims

JOKO TRI HARYANTO

Peneliti Balai Litbang


Agama Semarang
Abstract
e-mail: jejakagama@yahoo.co.id Muslims in Indonesia are socially divided into different social configurations such as
ethnicity, school of thought, religious organization, and so on. This study reveals the
Naskah diterima: 22 Maret 2015; dynamics of the internal relations of Muslims in terms of the relation between religion and
Naskah diseleksi: 22 Mei 2015; culture. The research was carried out in qualitative approach and was conducted in the
Naskah direvisi: 3 Juni 2015;
province of Central Java, East Java, and Central Kalimantan. The dynamics of the internal
Naskah disetujui penulis: 20 Juni
2015. relations of Muslims in these three areas showed three patterns of relations, namely the
relation between religion and local traditions, the relation between religion and ethnicity,
and the relation between religion and religious thought. Among them, it was the relation
between religion and local traditions which had the strongest social cohesion, while the
others were still dissosiative in terms of internal muslim relation. The relation between
religion and culture can be used as a strategy in an attempt to develop internal religious
harmony in general.

Keyword: Social relations, Islam, religion, culture.

Abstrak
Umat Islam di Indonesia secara sosial terpilah dalam berbagai konfigurasi sosial
seperti etnisitas, aliran pemikiran, oganisasi keagamaan, dan sebagainya. Penelitian ini
mengungkapkan dinamika hubungan intern umat Islam dala konteks relasi agama dan
budaya. Penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif ini dilakukan di provinsi
Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah. Dinamika hubungan intern umat
Islam di tiga wilayah ini menunjukkan tiga pola relasi, yaitu relasi agama dan tradisi lokal,
relasi agama dan etnisitas, serta relasi agama dan pemikiran keagamaan. Dalam ketiga
relasi tersebut kohesi sosial yang paling kuat dalam hubungan intern umat Islam adalah
relasi agama dan tradisi lokal. Sementara dua bentuk relasi lainnya masih menyisakan
interaksi dissosiatif pada hubungan intern umat Islam. Relasi agama dan budaya dapat
dijadikan strategi dalam upaya membanun kerukunan intern umat beragama secara
umum.
Kata kunci: Relasi sosial, Islam, agama, budaya.

etnisitas, profesi, dan sebagainya, yang


Pendahuluan melingkupi diri kaum muslimin di masyarakat.
Keberadaan kelompok pemilik identitas dalam
Latar Belakang Masalah
umat Islam tidak bisa dilepaskan dari masyarakat
Realitas umat Islam terbangun atas secara keseluruhan. Umat Islam terbangun atas
konfigurasi sosial yang terbentuk dari identitas- struktur sosial masyarakat yang memeluk agama
identitas kelompok seperti kelompok aliran Islam, yang walaupun mengenakan identitas-
keagamaan, organisasi sosial keagamaan, identitas yang saling berbeda, tetapi membangun

41
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

kesatuan utuh sebagai umat Islam. untuk mengetahui bagaimana pola-pola relasi
sosial yang terjadi dalam hubungan intern umat
Umat Islam di Indonesia bukan suatu
Islam, dan apa bentuk relasi yang ideal bagi
kelompok yang monolitik, terdapat kemajemukan
terciptanya kerukunan beragama dalam intern
dalam berbagai tradisi, pemahaman, dan
umat Islam.
praktek-praktek keagamaan yang merupakan
ekspresi dari keislaman yang diyakininya. Konteks umat Islam di Indonesia dapat
Pemahaman keagamaan mendorong munculnya diwakili oleh umat Islam di beberapa lokasi
gerakan keagamaan atau menjadi kelompok yang memiliki karakteristik hubungan sosial
keagamaan tertentu yang membedakan dirinya antarkonfiguran, seperti etnisitas, pemikiran
dengan kelompok pemahaman yang lain. Ormas keagamaan, dan budaya. Tulisan ini bertujuan
atau organisasi kemasyarakatan bisa muncul untuk memetakan pola-pola relasi sosial dalam
membawa aspirasi pemahaman keagamaan, intern umat islam dan mengungkapkan pola yang
aktivitas keagamaan, aktivitas sosial dan strategis bagi upaya kerukunan umat beragama,
ekonomi, maupun politik tertentu. khususnya intern umat Islam. Tulisan ini dapat
memberikan informasi dan melengkapi hasil-
Konfigurasi sosial umat Islam tidak dipungkiri
hasil kajian tentang persoalan kerukunan umat
juga menjadi potensi pemilahan sosial yang rawan
beragama di masyarakat, khususnya kerukunan
konflik. Segregasi sosial akibat pemilahan ini
intern umat Islam. Selain itu, manfaat praktis bisa
memungkinkan munculnya batas-batas budaya
dipetik guna penyusunan kebijakan dalam bidang
(cultural boundaries). Perasaan kelompok bisa
kehidupan beragama dan penyusunan strategi
terbangun dalam bentuk sentimen kelompok
resolusi atau peace building di masyarakat.
ormas maupun kelompok etnis yang semakin
mempertegas batas-batas tersebut. Batas-batas Kerangka Teoretik
budaya ini apabila mengalami ketegangan maka
dapat berpotensi menjadi konflik antarkelompok. Masyarakat dalam perspektif fungsionalisme
struktural dilihat sebagai suatu sistem yang
Namun sebaliknya, batas-batas budaya ini dapat
tersusun dari bagian-bagian yang saling
menjadi cair dan lentur oleh intensitas interaksi,
berhubungan satu sama lain, dan saling
penerimaan, dan toleransi satu kelompok atas
mempengaruhi secara ganda dan timbal balik.
kelompok yang lain (Haryanto, 2013:14).
Integrasi sosial dalam suatu masyarakat tidak
Hubungan antarkomunitas atau kelompok pernah tercapai dengan sempurna, tetapi secara
dalam masyarakat muslim terjadi dalam dinamika fundamental bergerak ke arah equilibrium yang
relasi damai maupun relasi konflik. Sementara bersifat dinamis. Adapun ketegangan-ketegangan
situasi rukun dan damai dalam masyarakat dan penyimpangan-penyimpangan akan senan­
merupakan cita dan harapan semua orang. tiasa terjadi juga, tetapi di dalam jangka panjang
Belajar dari pengalaman interaksi yang damai keadaan tersebut pada akhirnya akan teratasi
maupun konflik ini, diharapkan dapat menjadi dengan sendirinya melalui penyesuaian-
pembelajaran untuk mendorong faktor-faktor penyesuaian dan proses institusionalisasi.
kerukunan dapat bekerja, serta strategi adaptasi Dengan demikian perubahan dipandang sebagai
yang memungkinkan terciptanya kerukunan di proses adaptasi dan penyesuaian, dan tumbuh
masyarakat, khususnya kerukunan intern umat bersama dengan differensiasi dan inovasi yang
Islam. diintegrasikan melalui pemilikan nilai-nilai yang
Konfigurasi umat Islam membentuk sama (Zamroni, 1992: 25; Nasikun, 1992: 11-12).
hubungan-hubungan sosial yang terkait dengan Relasi sosial dapat berbentuk relasi yang
konteks hubungan kelompok-kelompok intern bersifat asosiatif maupun dissosiatif. Interaksi
umat Islam sendiri. Dengan demikian, penting yang asosiatif adalah hubungan sosial dalam

42
Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam
Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

masyarakat yang terwujud dari adanya kehendak hubungan internumat beragama oleh Balai
rasional antarelemen masyarakat, dalam Litbang Agama Semarang tahun 2012. Penelitian
pengertian segala hal yang disepakati bersama tersebut dilaksnakan di tiga lokasi, yaitu
dan tidak bertentangan dengan norma dan nilai penelitian di Jawa Tengah dilakukan oleh Sodli
sosial yang berlaku. Proses ini mengarah pada (2012), di Jawa Timur oleh Rachmadani (2012),
semakin kuatnya ikatan antara pihak-pihak yang dan di Kalimantan Tengah oleh Haryanto
berhubungan. Proses ini meliputi bentuk kerjasama (2012). Ketiga provinsi ini secara kuantitatif
dan akomodasi. Di sisi lain, interaksi dissosiatif berpenduduk mayoritas beragama Islam, dan
merupakan bentuk hubungan sosial yang mengarah memiliki dinamika hubungan intern umat Islam
pada perpecahan atau merenggangnya hubungan yang khas. Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur
sosial antarpihak yang saling berhubungan. Proses telah memiliki sejarah Islam yang sangat panjang
ini dapat berbentuk persaingan, kontravensi, hubungannya dengan budaya pra-Islam yang
maupun pertentangan (Soekanto, 1982: 71). dianggap sebagai tradisi asli atau indigenous
Relasi sosial ini juga terkait dengan Java, maupun aliran keagamaan dalam Islam
karakteristik sosial dari bentuk-bentuk yang datang dari luar Indonesia. Sementara
konfigurasi sosial masyarakat dalam bentuk Kalimantan Tengah dinamika hubungan
identitas sosial. Menurut Jenkin (dalam Jamil, masyarakatnya sangat diwarnai corak hubungan
2012: 19), identitas sosial merupakan konsep etnisitas.
tentang siapa seseorang atau kelompok orang
Penelitian yang dilaksanakan di Jawa
dikenali oleh orang/kelompok lain, atau juga
Tengah mengambil lokus hubungan intern
mengenai seseorang dikenali dalam kelompoknya
umat Islam di Kabupaten Banyumas, di mana
sendiri. Dengan demikian identitas sosial
di wilayah tersebut ada dua komunitas muslim
merupakan ciri-ciri kelompok yang membedakan
yang memiliki perbedaan pemahaman dan
dengan kelompok lain, dalam hal ini dapat
tradisi dengan umat Islam pada umumnya yaitu
berbentuk identitas etnis (ethnicity) yang
terbentuk karena perbedaan budaya, tradisi, komunitas Islam Aboge, dan yayasan Masjid Al-
dan bahasa. Persinggungan antarkelompok Fatah Sumampir. Sedangkan penelitian di Jawa
menuntut adanya penyesuaian-penyesuaian Timur dilaksanakan di Kabupaten Pasuruan
sosial guna memelihara keberadaan (eksistensi) tentang hubungan intern umat Islam terkait
kelompok mereka di antara kelompok-kelompok dengan komunitas Syiah dan kelompok muslim
yang lain. Oleh karena itu, masing-masing yang berada di wilayah Gunung Tengger yang
kelompok berupaya hidup bersama dalam masih memegang kuat tradisi Kasada (Kasodo).
perbedaan-perbedaan identitas tersebut dengan Adapun penelitian di Kalimantan Tengah
mengembangkan strategi adaptasi, yakni cara- dilakukan untuk melihat hubungan intern umat
cara yang dilakukan oleh orang atau kelompok Islam kaitannya dengan persoalan etnisitas yang
orang untuk menyesuaikan dirinya dengan dilakukan di Kota Palangkaraya dan Sampit,
perubahan dan situasi sosialnya. Pengertian di mana kedua wilayah ini tahun 2001 pernah
adaptasi dalam hal ini merujuk pada mekanisme mengalami konflik etnis yang cukup besar.
bagaimana manusia memperoleh keinginannya
atau menyesuaikan hidupnya kepada lingkungan Metode Pengumpulan Data dan Analisis
pergaulannya (Jamil, 2012: 30). Penelitian ini menggunakan pendekatan
penelitian kualitatif. Pengumpulan data
Metode Penelitian lapangan dilakukan dengan metode wawancara,
observasi, telaah dokumen, dan Focus Group
Waktu dan Lokasi Penelitian
Discussion (FGD). Wawancara ditujukan untuk
Tulisan ini merupakan analisis lanjutan menggali pandangan mereka terhadap dinamika
dari tiga temuan penelitian tentang dinamika hubungan internumat Islam dan mendalami

43
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

aspek-aspek terkait dengan persoalan tersebut. menentukan bulan Ramadan tidak memakai
Tehnik observasi dilakukan untuk melihat secara kalender hijriah, akan tetapi menggunakan
langsung perikehidupan dan interaksi sosial kalender (almanac) Aboge. Hal inilah yang
yang dilakukan umat Islam, baik dalam lingkup menjadikan awal dan akhir bulan puasa bagi
kelompok tertentu maupun lintas kelompok. penganut aliran Islam Aboge berbeda dengan
umat Islam pada umumnya. Demikian pula dalam
Telaah dokumen dilakukan untuk mendapat­
kan informasi-informasi terkait dengan per­ ibadah lainnya sama, hanya yang khas dilakukan
soalan penelitian yang berasal dari dokumen- penganut Islam Aboge adalah Sholat Ied yang
dokumen tertulis, baik laporan-laporan dari disebut sholat Ngitqi (Itqi) setelah puasa Syawal
lembaga pemerintah maupun lainnya, dan perda pada tanggal delapan bulan Syawal pagi hari, dan
(peraturan daerah) yang diterbit oleh pemerintah sholat Rebo Wekasan yang dilaksanakan pada
daerah yang relevan dengan penelitian ini. Adapun hari Rabu pagi terakhir bulan Safar (Sodli, 2012) .
Focus Group Discussion (FGD) dilakukan untuk Perbedaan tersebut tidak menyebabkan
mengkonfirmasi data-data yang telah diperoleh adanya konflik di masyarakat lingkungan Aboge.
dan menggali informasi-informasi baru yang Hubungan antara penganut Islam Aboge dan
belum diperoleh dalam tehnik lainnya. umat Islam pada umumnya (Islam mainstream)
Analisis terhadap data-data penelitian ini berjalan dengan baik dan rukun. Hal ini terlihat
dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif yang dari pelaksanaan shalat jamaah di masjid Islam
merupakan suatu alur kegiatan yang meliputi Aboge, masjid Rabak yang tidak hanya diikuti
reduksi data, penyajian data, dan penarikan oleh penganut Aboge saja tetapi juga yang lain.
kesimpulan. Demikian pula kegiatan tradisi lainnya seperti
sedekah bumi dan slametan yang umumnya diisi
Temuan dan Pembahasan dengan tahlilan juga dilakukan bersama-sama,
bahkan adakalanya dipimpin oleh pimpinan
A. Pola Hubungan Intern Umat Islam
Aboge Kyai Zaenal (Sodli, 2012).
1. Relasi Agama dan Tradisi Lokal
Hubungan umat Islam dengan masyarakat
Hubungan intern umat beragama, pada yang memegang tradisi juga terjadi di lingkungan
beberapa kelompok masyarakat, khsususnya yang masyarakat Tengger, Jawa Timur. Daerah
berada di wilayah tradisi dan budaya keagamaan Tengger merupakan wilayah lereng Gunung
dapat dilihat pada hubungan penganut Islam Bromo yang terkenal dengan tradisi Kasodo, yakni
Aboge di Banyumas Jawa Tengah dan penganut ungkapan rasa syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa
tradisi Tengger di Pasuruan Jawa Timur. Dua dengan memberikan sesaji berbagai hasil bumi
lokus tersebut dapat menjadi gambaran tentang
pada kawah Gunung Bromo. Masyarakat Tengger
relasi agama dengan tradisi lokal dalam konteks
pada masa lalu memiliki kepercayaan lokal
hubungan intern umat Islam. Masyarakat
Tengger. Mulai tahun 1900-an ketika di daerah
penganut Aboge dan Masyarakat Tengger yang
Tosari dibangun hotel oleh pemerintahan kolonial
beragama Islam menyatukan aspek budaya lokal
Belanda, di antara buruh-buruh bangunan adalah
dengan keberagamaan mereka.
pemeluk Islam yang akhirnya menetap dan
Aliran Islam Aboge sudah mulai ada di mendakwahkan Islam di wilayah pegunungan
daerah Pekuncen Banyumas sejak sebelum Tengger. Tahun 1960 hingga 1967 merupakan masa
kemerdekaan. Aboge sendiri adalah singkatan puncak masuknya warga Tengger ke dalam Islam,
dari Alif Rebo Wage, yaitu suatu hitungan yang yakni dengan masuknya Nahdatul Ulama (NU) ke
dipakai oleh penganut Aboge untuk menentukan Desa Tosari untuk mengembangkan dakwah Islam.
tanggal, bulan, dan tahun seperti halnya Hijriah Selain itu, dilatarbelakangi peristiwa Gerakan 30
atau Masehi. Penganut aliran Aboge dalam September 1965 yang melibatkan Partai Komunis

44
Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam
Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

Indonesia, masyarakat Tengger banyak yang bahasa Jawa.


memeluk Islam untuk menyelamatkan diri agar
Konteks relasi agama dan tradisi lokal dapat
tidak disangkutkan dengan PKI. Hingga kini, dilihat dalam dinamika hubungan umat muslim
sudah banyak masyakarat Tengger yang telah yang sangat menarik. Umat Islam di luar dua
memeluk Islam. Pendakwah Islam, terutama dari komunitas tersebut, Islam Aboge maupun Tradisi
kalangan NU, diterima dengan tangan terbuka Tengger dapat menerima keberadaan tradisi
karena mereka tidak mengusik tradisi masyarakat lokal tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari
asli Tengger bahkan belajar adat Tengger, dan sejarah keberadaan Islam di lingkungan mereka.
bahkan oleh pendakwah Islam menjadi jalan untuk Dengan demikian, hubungan antara kemunitas
berdakwah. Bahkan ketika Islam sudah masuk di yang memegang tradisi lokal dengan umat Islam
masyarakat Tengger, meskipun bukan muslim lainnya berjalan secara positif.
ketika ada peristiwa kematian maka mereka
meminta untuk ditahlilkan. Inilah yang disebut Analisis Geertz (1989: 527) yang membagi
Upacara Entas-Entas (Rachmadani, 2012). masyarakat Jawa dalam tiga varian, priyayi,
santri, dan abangan, mengembangkan
Akulturasi budaya dan penerimaan tradisi- pandangan bahwa Islam yang dipeluk oleh
tradisi lokal sebagai bagian dari lingkungan orang Jawa adalah Islam artifisial yang dilumuri
budaya bersama menjadi faktor kuat terciptanya oleh praktek-pratek sinkretisme. Agama hanya
kerukunan di masyarakat. Kegiatan penganut memberi sentuhan kulit luar budaya animisme,
Islam Aboge seperti waktu memulai tanam padi, Hindu, dan Budha yang telah berakar kuat dalam
memanen padi, membuat rumah dan menempati masyarakat Jawa. Faktor daya tawar budaya
rumah baru berdasarkan pada almanak Aboge dalam bentuk akulturasi menjadikan faktor
dan ditandai dengan kegiatan slametan. yang dapat mendukung terjadinya relasi damai
Kegiatan slametan ini mengundang tetangga antarumat Islam sendiri. Masyarakat Jawa
untuk membaca tahlil dan doa untuk para muslim dapat menerima kelompok-kelompok
leluhur. Selain tradisi slametan, tradisi sedekah muslim yang memegang tradisi lokalnya sebagai
bumi yang diadakan oleh pengurus RT atau RW bagian dari identitas sosial bersama.
pada bulan Syuro juga menjadi ruang temu bagi
Hubungan harmonis antara agama dengan
penganut aliran Aboge dan masyarakat umum.
tradisi lokal sebenarnya bukan hal baru. Menurut
Hal yang sama juga ditunjukkan dalam Kuntowijoyo (2001: 196), agama dan budaya
hubungan umat Islam di Tengger. Masyarakat adalah dua hal yang saling berinteraksi dan saling
Muslim Tengger hidup harmonis berdampingan mempengaruhi, baik dalam mengambil bentuk,
dengan masyarakat Tengger yang beragama simbol, maupun isi/nilai. Proses penerimaan
Hindu dan masyarakat pendatang yang beragama Islam dalam masyarakat tradisional, terutama
Islam. Mereka melestarikan silaturahmi yang masyarakat Jawa, akulturasi antara agama
disebut dengan Sonjo. Demikian pula dengan dengan budaya lokal cukup kuat. Masyarakat
acara adat Kasada yang merupakan ruang Jawa berhasil mengembangkan kebudayaan yang
bertemu bersama masyarakat Tengger. Prosesi kaya raya dengan menyerap dan memanfaatkan
Kasada menunjukkan hubungan antara dukun- unsur-unsur agama dan kebudayaan Hindu-
dukun Tengger dengan tokoh agama dan tokoh Budha, dengan menyesuaikannya dengan tradisi
masyarakat terjalin secara harmonis. Pembacaan Kejawen (Hasan, 1990: 59). Hal itu sekaligus
mantera dilakukan oleh dukun dan tetua adat, menjadi strategi dakwah dengan menyajikan
termasuk kehormatan untuk pembacaan mantera Islam dalam kemasan yang atraktif, khususnya
Junggring Saloka yang diberikan kepada tokoh dengan menekankan kesesuaian dengan Islam
agama Islam di Desa Tosari yang merupakan atau kontinuitas, ketimbang perubahan dalam
gubahan dari do’a secara Islam dengan memakai kepercayaan dan praktek keagamaan lokal (Azra,

45
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

1998: 32). suku yang menonjol dan dominan di Kalimantan


Salah satu asumsi dari batas budaya Tengah sebelum terjadinya kerusuhan 2001
(cultural boundary) adalah bahwa budaya tersebut. Relasi antara Dayak --termasuk Dayak
adalah “bersama” oleh anggota masyarakat. Pesisir yang muslim-- dengan Madura diwarnai
Oleh karenanya, di dalam kebersamaan tersebut pencitraan dan stereotipe tentang orang Madura
terdapat sifat saling berbagi (sharedness), yang yang sudah ada sebelum mereka berinteraksi
dianggap sebagai trade mark dari budaya. langsung dengan orang Madura. Ketika di
Asumsi ini menunjukkan bahwa orang-orang penghujung Februari 2001 konflik etnis antara
dalam suatu sistem budaya berbagi satu set Dayak dan Madura di Kalimantan Tengah pecah,
karakter yang unik untuk keanggotaan kelompok tindak pembunuhan dan perusakan nyaris
mereka, dan saling berbagi sebagai produk dari berlangsung di semua wilayah. Semula, kerusakan
transmisi budaya dan akuisisi yang sering terjadi terjadi hampir sepekan di Kota Sampit, kemudian
melalui interaksi pribadi di antara anggota merembet ke Kuala Kapuas, Pangkalan Bun, dan
kedekatan fisik (Chang, 1998). Pada lingkungan Palangkaraya. Kurang dari dua pekan, 400 orang
Tengger dan Banyumas, terdapat dua identitas Madura terbunuh, dan 80.000 sisanya dipaksa
yakni identitas budaya Islam dan identitas budaya keluar dari bumi Kalimantan untuk kembali ke
Tengger, dengan identitas budaya Islam dan daerah asalnya Madura, maupun tempat lainnya
identits budaya Aboge. Masing-masing budaya (Cahyono, ed., 2008: 4-5).
saling bertemu dalam ruang budaya tertentu dan Peristiwa konflik tersebut menyebabkan
saling berbagi membentuk budaya bersama, yang terjadinya perubahan-perubahan aspek sosial,
disebut tradisi lokal atau tradisi populer seperti budaya, dan ekonomi di Provinsi Kalimantan
slametan, sedekah bumi, Kasada ataupun Sonjo. Tengah. Etnik Dayak kemudian menjadi etnik
Tradisi bersama semacam ini mencairkan batas- tunggal yang dominan di Kalimantan Tengah
batas budaya sehingga dapat membangun relasi baik secara kultural maupun struktural. Terjadi
damai antar pemilik budaya. standarisasi kehidupan sosial budaya dan hukum
2. Relasi Agama dan Etnisitas dengan standar budaya Dayak, yang terlihat dari
peran yang dominan dari Dewan Adat Dayak
Dinamika hubungan intern umat Islam dalam
(DAD) terhadap kehidupan sosial, standar cara
konteks relasi agama dan etnsitas dapat dilihat
dalam hubungan intern umat Islam di Kalimantan pandang dan nilai kebudayaan. Misalnya orang
Tengah. Pandangan masyarakat terhadap situasi pendatang boleh datang kembali ke Kalimantan
hubungan intern umat Islam di Kalimantan Tengah dan menjadi saudara orang Dayak
Tengah diwarnai kesan atas kejadian kerusuhan melalui falsafah hidup Huma Betang dan Belum
di tahun 2001, yakni konflik Suku Dayak dengan Bahadat.(Haryanto, 2013).
Suku Madura. Berbagai kajian menegaskan Pengalaman marginalisasi Dayak di masa lalu
bahwa konflik tersebut adalah konflik antaretnis, hingga sampai terjadi konflik telah mendorong
bukan konflik agama (Cahyono, 2008). Madura budaya Dayak menjadi budaya dominan, yakni
telah dikenal sebagai warga yang memeluk agama pemposisian status sosial tinggi dan sejumlah
Islam, tetapi warga Dayak pun tidak sedikit yang keistimewaan dibandingkan budaya yang lain.
juga memeluk agama Islam. Di samping itu juga Dayak sekarang ini telah mampu mengambil peran
berbagai etnis terdapat di Kalimantan Tengah. sosial politik, baik dalam struktur sosial maupun
Suku Dayak yang berinteraksi dengan suku gerakan sosial, seperti ditunjukkan dengan
Madura, terutama di wilayah perkotaan dan menguatnya struktur adat Dayak, perangkat
pusat-pusat perekonomian, adalah Dayak muslim adat dan pemberlakukan wilayah hukum dan
atau yang umum menyebut diri sebagai Dayak budaya adat. Budaya Dayak sebagai satu-satunya
Pesisir. Suku Dayak dan suku Madura adalah dua budaya dominan dapat menekan potensi konflik

46
Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam
Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

antaretnis. Walaupun budaya dominan Dayak ini akses terhadap sumber daya ekonomi hutan
menguat, tetapi faktor instrinsik budaya Dayak sehingga menimbulkan konflik. Masyarakat
sejak awal juga sangat mendukung terciptanya Dayak umumnya memiliki ketergantungan
kerukunan di Kalimantan Tengah. Etnis Dayak terhadap hutan cukup tinggi. Dari hutan mereka
dikenal memiliki nilai-nilai budaya huma betang bisa menghasilkan bahan-bahan produksi seperti
yang sangat toleran terhadap keberadaan orang kayu, rotan, karet, dan sebagainya dengan hasil
lain, ketaatan pada aturan, dan juga kesetaraan. yang besar. Namun sebagian besar mereka tidak
Hal ini menunjukkan kebersediaan untuk hidup memiliki ketrampilan yang lebih baik untuk
rukun dan saling menghormati dalam satu mengolah persawahan, membangun gedung,
kehidupan bersama. serta menjadi pedagang yang sukses. Akibatnya
mereka memiliki ketegantungan dengan etnis
Pengalaman konflik etnis tahun 2001 antara
lain untuk kepentingan tersebut. Warga etnis
etnis Dayak dan etnis Madura mendasari pola
Madura selama ini telah dikenal dengan etos
hubungan antaretnis dewasa ini. Etnis Dayak
kerjanya yang tinggi, bahkan mereka bersedia
meneguhkan dominasi melalui jalur kultural
melakukan pekerjaan kasar dan menerima
maupun struktural, di mana hal ini diterima oleh
upah rendah. Demikian juga suku Jawa dikenal
etnis lain untuk membangun ikatan sosial baru.
ulet dalam bekerja, dan terutama berdagang
Dinamika relasi sosial dewasa ini menunjukkan
olah-olahan pangan seperti warung makan.
bahwa situasi kerukunan di Kalimantan Tengah
Sementara suku Banjar sejak dahulu dikenal pula
telah dapat mencapai tingkat perdamaian,
sebagai pedagang yang ulet dan berhasil. Ruang
meskipun taraf perdamaian negatif. Perdamaian
temu berupa aktivitas-aktivitas ekonomi yang
negatif ini menujukkan adanya pengakuan
menjadi simbiosisme ekonomi ini mendorong
terhadap perbedaan, tetapi secara struktural
munculnya interaksi yang asosiatif, akomodatif,
belum memberi akses yang berimbang pada
dan kerjasama sehingga tercipta kerukunan di
semua pihak (Susan, 2010: 132). Kebijakan
antara mereka.
uniformitas yang dikembangkan di Kalimantan
Tengah mendorong –atau memaksa-- proses Tampaknya hal ini menjadi salah satu
keseimbangan dalam masyarakat sebagai faktor penting keberhasilan rekonstruksi sosial
kesatuan (Haryanto, 2013). Hal ini termasuk pasca kerusuhan 2001 di Kalimantan Tengah.
proses institusionalisasi budaya untuk Dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini, situasi
menjamin keselarasan dan berjalannya fungsi- hubungan antaretnis, terutama Dayak dan
fungsi sosial akibat ketegangan-ketegangan Madura, telah pulih kembali, bahkan dua tahun
dan penyimpangan-penyimpangan terjadi dari peristiwa tersebut, warga Madura telah ada
(Zamroni, 1992: 25), berupa pertentangan atau yang kembali ke Sampit. Berbeda situasinya
konflik sehingga struktur-struktur sosial dalam dengan Kalimantan Barat yang juga pernah
masyarakat dapat fungsional kembali. terjadi kerusuhan antaretnis, yakni Melayu
Keragaman kelompok sosial dalam dan Dayak tahun 1999. Hubungan Madura dan
masyarakat muslim di satu sisi rentan dengan Melayu sampai sekarang belum pulih, bahkan
munculnya konflik identitas. Namun, perbedaan di Sambas warga Madura belum dapat diterima
identitas budaya juga dapat menjadi hal kembali (Cahyono, 2008: 105). Hal ini karena
yang mendorong terjadinya kerukunan, atau ruang temu, terutama simbiosisme ekonomi
setidaknya mempertemukan kepentingan antara Melayu dengan Madura kurang kuat.
masing-masing dalam konteks kebutuhan Antara Melayu dan Madura secara umum
hidupnya. Dalam konteks masyarakat memiliki ruang garap ekonomi yang hampir
Kalimantan Tengah, pada masa lalu terjadi sama sehingga yang terjadi bukan simbiosisme
marginalisasi terhadap Dayak yang menghalangi tetapi kontestasi yang cenderung konfliktual.

47
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

3. Relasi Agama dan Pemikiran salat Tarawih menjadi alasan munculnya tarawih
Keagamaan tandingan tersebut. Masjid Al Fatah yang sudah
berdiri sejak tahun 1995 sampai tahun 2010
Dinamika hubungan internumat Islam dalam
sudah biasa melaksanakan sholat Tarawih dan
konteks relasi agama dan pemikiran keagamaan
Witir berjumlah sebelas rakaat, sementara
menunjukkan hubungan yang kurang harmonis.
pihak Forum Peduli Masjid mengadakan sholat
Hal ini dapat dilihat dalam hubungan Syiah di
Tarawih yang berjumlah dua puluh tiga rakaat,
Pasuruan dengan masyarakat Islam umumnya
dua puluh rakaat sholat Tarawih, dan tiga rakaat
yang menganut faham Ahlussunah Wal Jamaah
sholat Witir (Sodli, 2012).
(Rachmadani, 2012). Demikian juga pertentangan
Yayasan Al-Fatah Sumampir dengan Forum Konflik tersebut ditangani oleh pemerintah
Warga Peduli Masjid di Banyumas (Sodli, 2012). daerah dengan melibatkan Kemenag Kabupaten
Dalam kasus ini terlihat hubungan dissosiatif Banyumas, Kesbang Linmas, Kesra Kapolres, dan
yang diakibatkan perbedaan pandangan atau lainnya. Kegiatan musyawarah bersama pihak-
pemikiran keagamaan. Perbedaan pandangan pihak berkonflik dengan aparat pemerintah
antara Syiah dan Sunni sesungguhnya telah tersebut menghasilkan keputusan untuk
berjalan lama, di mana sejarah konflik keduanya membuat kepengurusan takmir baru masjid Al
sangat sarat dengan nuansa politik. Sementara Fatah yang terdiri dari kedua kelompok dengan
pertentangan Yayasan Al-Fatah Sumampir diketuai oleh pejabat Kemenag. Langkah ini
dengan Forum Warga Peduli Masjid, meskipun berjalan baik, karena konflik akhirnya reda.
ditandai dengan perbedaan amaliyah ibadah, Masyarakat sendiri dalam hubungan sosial tetap
tetapi juga sarat dengan kepentingan “politis” berelasi dengan baik.
dalam pengertian kekuasaan atas pengelolaan
Sementara kasus hubungan Syiah Pasuruan
masjid.
yang bergabung dalam Pesantren YAPI (Yayasan
Masjid Al-Fatah di perumahan Sumampir Pendidikan Islam) di Bangil dengan umat Islam
dibangun tahun 1987, dan baru terbangun lainnya, menunjukkan adanya pertarungan
sempurna tahun 1995 dengan bantuan dana pemahaman keagamaan antara Syiah yang
dari Yayasan Ihya Al Thuras dari Timur Tengah. minoritas dengan pandangan dominan yakni
Aktivitas masjid ini sampai tahun 2010 lancar faham Sunni atau Ahlussunah Wal Jamaah.
saja, tidak ada gejolak perpecahan di antara Konflik ini terlihat jelas dengan adanya Keputusan
jamaah atau warga perumahan Sumampir Indah. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa
Baru pada tahun 2010 muncul konflik akibat Timur Nomor.Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012
pergantian pengurus takmir yang dilakukan oleh tentang Kesesatan Ajaran Syi’ah. Menurut
pengurus Yayasan Al-Fatah. Pengurus takmir Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur,
yang telah diberhentikan mendirikan Forum faham Syi’ah mempunyai perbedaan pokok
Peduli Masjid dan bermaksud melakukan dengan Ahlussunah Wal Jamaah yang dianut
kegiatan Maulid Nabi tetapi tidak diperbolehkan oleh umat Islam di Indonesia dan dipandang
oleh pengurus baru. Akibatnya timbul konflik tidak memenuhi salah satu kriteria yang sudah
yang berakhir dengan saling boikot dengan ditetapkan oleh Majelis Ulama Indonesia Pusat
mengunci pintu masjid sehingga tidak bisa (Rachmadani, 2012).
digunakan (Sodli, 2012).
Pesantren YAPI didirikan Yayasan
Konflik lain terjadi tahun berikutnya, Pendidikan Islam (YAPI) di Bangil Pasuruan
2011, ketika Forum Peduli Masjid ini oleh almarhum Ustadz Husein Bin Abu Bakar
menyelenggarakan salat Tarawih di lapangan Al-Habsyi, pada 21 Juni 1976. Pesantren Ini
sebelah masjid dengan memasang tenda untuk merupakan Komunitas Syiah yang dikatakan
menampung jamaah. Perbedaan jumlah rakaat terbesar di Asia Tenggara. Mereka memiliki

48
Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam
Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

lembaga pendidikan dari tingkat Pendidikan di lembaga pendidikannya.Rachmadani, 2012).


Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, SMP,
Perbedaan pandangan dalam Islam
SMA, Pesantren Putra, Pesantren Putri, dan sebenarnya bukan hal yang baru, terutama pasca
Hauzah (Ma’had Aly yang khusus mengajarkan peristiwa tahkim antara pihak Khalifah Ali ibn
ilmu keagamaan Islam). Dalam konteks Abu Thalib dengan Gubernur Mu’awiyah yang
hubungan sosial, komunitas pesantren ini dengan melahirkan kelompok Syiah yang mendukung
masyarakat sekitar berlangsung dengan baik dan Ali, kelompok pendukung Mu’awiyah, dan
rukun sejak awal berdirinya (Rachmadani, 2012). kelompok Khawarij yang menentang kelompok
Namun, adanya pelabelan sesat oleh MUI Ali maupun Mu’awiyah. Kelompok-kelompok
Jatim, dan penyerangan terhadap pesantren oleh ini kemudian berkembang menjadi aliran
kelompok yang mengatasnamakan Ahlussunah pemikiran yang saling mendukung kelompok
Wal Jamaah mennjukkan adanya potensi konflik masing-masing. Dengan demikian perbedaan-
sebagai akibat perbedaan faham pemikiran perbedaan pemikiran dilandasi dengan orientasi
keagamaan. Setelah kejadian penyerangan yang politik kelompok, bahkan aliran pemikiran yang
menimpa pondok pesantren tersebut, pada awalnya tidak berangkat dari politik akhirnya
tanggal 16 Februari 2011, Musyawarah Pimpinan juga mengalami politisasi melalui kolaborasinya
Daerah Kabupaten Pasuruan memfasilitasi dengan penguasa, seperti teologi Mu’tazilah yang
pertemuan antara tokoh Syi’ah dan Aswaja. Para diadopsi oleh Khalifah Al-Ma’mun (813-833 M),
tokoh yang hadir sepakat bahwa insiden tersebut kemudian dibatalkan dan diganti dengan teologi
adalah murni kriminal sehingga siapapun yang Asy’ariyah pada masa khalifah Al-Mutawwakil
bersalah akan diproses sesuai dengan hukum (856 M) (lihat Nasution, 1986: 4-9).
yang berlaku dan tidak ada kaitannya dengan Keberadaan Syiah di Indonesia juga sudah
suku, aliran, ras, dan agama (SARA). Dengan terjadi dalam masa yang lama bahkan juga turut
demikian, Syi’ah dengan label sesat yang telah membangun dan mengembangkan Islam awal di
disandangnya, tetap memperoleh perlindungan Nusantara, diduga kuat Syiah pernah menjadi
dan kebebasan beragama di Kabupaten Pasuruan. kekuatan politik pada masa awalnya sehingga
Pertentangan antara kelompok Syiah menjadi bagian dari wajah Islam awal Indonesia.
pesantren YAPI dengan masyarakat muslim Banyak studi menunjukkan bahwa sekalipun
lainnya tampaknya hanya pada level pemikiran Indonesia mayoritas Islam Sunni, tetapi banyak
keagamaan. Konflik tersebut malah terjadi fakta menunjukkan betapa kuatnya pengaruh
dengan masyarakat yang letaknya jauh dari Syiah di “negeri Sunni” ini (Jamil 2012. 3-9).
lingkungan pesantren, sementara hubungan Oleh karena itu, konflik pesantren YAPI dan
dengan masyarakat di sekitar pesantren tetap kelompok Aswaja memiliki kemungkinan di luar
berjalan baik. Pesantren YAPI beberapa kali faktor perbedaan pemikiran, tetapi faktor lain
melakukan aktivitas bersama, atau kegiatan seperti politik, ekonomi, atau budaya. Kelompok
pesantren yang melibatkan dan bekerjasama Aswaja yang melakukan penyerangan terhadap
dengan masyarakat, misalnya pembagian zakat Pesantren YAPI ternyata juga tidak diakui
fitrah dan daging kurban oleh pesantren YAPI sebagai bagian Ormas Nahdlatul Ulama (NU),
kepada masyarakat sekitar diterima dengan sebagaimana disampaikan oleh KH. AD Rachman
baik. Pesantren YAPI juga menyelenggarakan Syakur, Ketua Pimpinan Cabang Nahdatul Ulama
pelatihan pengelolaan sampah yang diikuti oleh Kabupaten Pasuruan.
masyarakat luas. Selain itu, Pesantren YAPI Dengan demikian, hubungan intern umat
juga menyediakan mobil ambulan gratis bagi Islam menunjukkan bahwa budaya memiliki
masyarakat yang membutuhkan dan memberikan pengaruh yang cukup besar dalam membangun
beasiswa bagi anak kurang mampu yang belajar relasi antarkelompok dalam umat Islam.

49
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

Budaya yang merupakan indigenous tradition dengan dukungan para pemilik identitas budaya.
umumnya dapat diterima oleh masyarakat dan Terlebih dengan adanya penyatuan budaya
menjadi kebudayaan bersama yang mampu atau akulturasi yang menciptakan ikatan sosial
menyatukan umat Islam dan mencairkan batas- baru atau memperkuat ikatan sosial yang telah
batas identitas di lingkungannya, misalnya Islam ada, dan semakin menuju pada keseimbangan,
yang menggunakan budaya Jawa dalam bentuk sebagaimana ditunjukkan dalam fungsionalisme
akulturasi, baik bentuk simbol maupun nilai. struktural (Zamroni, 1992: 25).
Namun budaya yang dipandang dari luar, “budaya
Namun berbeda situasinya dalam relasi
import” yang kurang mampu mengakomodasi
agama dan etnisitas, sebagaimana dalam
tradisi-tradisi populer di masyarakat akan
hubungan antar etnis di Kalimantan Tengah.
semakin mempertegas jarak sosial dan batas-
Sekalipun dalam satu agama, yakni agama Islam,
batas budaya tiap-tiap kelompok, akibatnya relasi
tetapi hubungan sosial sangat kuat dengan
yang terbangun cenderung relasi konflik.
nuansa etnosentrisme. Hal ini ditunjukkan
Relasi Agama dan Budaya sebagai dengan hubungan yang didasari pada pandangan
Strategi Kerukunan atas citra atau stereotip satu kelompok terhadap
kelompok lainnya. Perbedaan-perbedaan
Dinamika hubungan intern umat Islam
budaya antaretnis tampak dalam sistem nilai
dalam konteks relasi antara agama dan budaya,
budaya (cultural value system) dan orientasi
dapat dilihat dalam tiga bentuk relasi, yaitu relasi
nilai budaya (cultural value orientation), di
agama dan tradisi lokal, relasi agama dan etnisitas,
mana dua hal ini selalu diproduksi dan menjadi
serta relasi agama dan pemikiran keagamaan.
bingkai pembatas antarkebudayaan (cultural
Dalam kasus penganut Islam Aboge di Kebumen
boundaries). Akibatnya muncul sikap egosentris
dan masyarakat tradisional di Tengger Pasuruan,
dan etnosentrisme yang terwujud dalam bentuk
dinamika hubungan terbentuk dalam penerimaan
stereotip dan prejudis (prasangka) (Musahadi
terhadap tradisi lokal yang diterima sebagai ikatan
2007. 12). Hal inilah yang mewarnai interaksi
sosial bersama. Dalam prakteknya, tradisi-tradisi
sosial antaretnis yang bersifat dissosiatif,
lokal ini dapat menjadi kohesi sosial karena oleh
bahkan dapat berbentuk konflik (Taneko, 1990:
para pelaku atau pemilik kebudayaan, tradisi
116).
tersebut sebenarnya telah mengalami modifikasi
sebagai bentuk akulturasi sehingga dapat Konflik yang terjadi di Kalimantan Tengah
diterima oleh kelompok yang berbeda. Terlebih antara etnis Dayak dan Madura memunculkan
dalam konteks setting masyarakat Jawa, tradisi- dampak budaya yang cukup signifikan dalam
tradisi keagamaan populer memiliki keterkaitan konteks hubungan antaretnis. Budaya Dayak
dengan tradisi masa lalu yang tetap dijaga dan secara politis menguat menjadi budaya dominan
dipelihara. Terutama masyarakat Jawa yang atas budaya lainnya, dan mengendalikan
mudah bersikap akomodatif, menyebabkan hubungan antaretnis sehingga situasi yang aman
masuknya budaya di luar dirinya melalui proses dan tertib dapat terwujud. Namun budaya
mekanisme akomodasi dan seleksi dalam diri dominan yang mendorong terjadinya uniformitas
kebudayaannya akan terserap secara selektif budaya konteks hubungan masyarakat
(Musahadi, 2007: 9). sesungguhnya bukan hubungan yang ideal.
Akulturasi menunjukkan daya tawar yang Dominasi menunjukkan adanya superoritas
setara, di mana pihak-pihak pemilik kebudayaan satu pihak terhadap pihak lain. Situasi di mana
bersama-sama mengambil bagian untuk “take and pemilik budaya dominan kuat secara politis
give” budaya bagi proses adaptasi di lingkungan (maupun kekuasaan), kelompok-kelompok yang
bersama. Dengan demikian kadar perdamaian inferior akan cenderung mengalah sehingga tidak
yang dibangun melalui akulturasi lebih kuat terjadi pertentangan dalam masyarakat.

50
Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam
Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

Situasi damai semacam ini sebenarnya rapuh, terutama identitas minoritas di tengah identitas
terutama saat terjadi perubahan situasi politik mayoritas memang seringkali menampakkan
dan sosial di mana dapat muncul perlawanan dari relasi konflik dan damai secara terpisah,
pemilik budaya minoritas terhadap kelompok maupun relasi konflik-damai secara sekaligus.
budaya dominan. Hal ini sebenarnya patut Secara sosiologis, kelompok semacam ini sering
untuk diwaspadai karena budaya dominan juga dipandang sebagai kelompok yang mengalami
mendorong munculnya seperangkat prasangka marginalisasi dan stigmatisasi. Dalam relasi
terhadap golongan lain yang ada dalam minoritas terhadap mayoritas ini, persoalan
masyarakatnya. Prasangka ini berkembang identitas kelompok minoritas seringkali
berdasarkan pada adanya perasaan superioritas dianggap sebagai kelompok yang menyimpang
pada mereka yang tergolong dominan; atau sempalan (splinter group). Oleh karena itu,
mengganggap kelompok lain sebagai orang cara-cara kelompok ini menjaga identitas dan
asing; dan adanya klaim bahwa akses sumber kelangsungan keberadaannya juga berhubungan
daya yang ada adalah hak mereka, dan disertai dengan masyarakat sekitarnya adalah merupakan
kecurigaan kelompok lain akan mengambil suatu proses interaksi.
sumberdaya-sumberdaya tersebut (Suparlan,
Di antara strategi untuk menjaga eksistensi
2004). Dengan demikian, penerimaan terhadap
mereka dalam lingkungan dominan, yang
budaya dominan ini hanya strategi Coping berupa
secara laten dianggap menjadi ancaman, maka
tindakan diam dan menghindari masalah untuk
kelompok-kelompok minoritas mengambil
memelihara eksistensinya dan menjaga agar
ruang temu yang memungkinkan mereka bisa
tetap survive dengan tidak memancing persoalan
beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor
dengan kelompok lain yang dapat menimbulkan
ruang temu budaya, hal mana kebutuhan untuk
kesulitan bagi dirinya di lingkungan budaya
hidup bersama memaksa semua pihak untuk
dominan (Farida, 2006: 25).
melakukan pertukaran sosial, saling menerima
Sementara hubungan intern umat Islam dan bekerjasama untuk kepentingan pemenuhan
dalam relasi agama dan pemikiran keagamaan, kebutuhan. Hal ini karena manusia adalah
seperti dalam hubungan Pesantren YAPI yang makhluk sosial yang membutuhkan keberadaan
aliran Syiah dengan kelompok Aswaja yang orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup
mengklaim dirinya Sunni, ataupun yayasan yang tidak bisa dipenuhinya sendiri. Salah
Al-Fatah dengan Forum Warga Peduli Masjid satu perangkat pemenuhan kebutuhan adalah
dalam konteks pemikiran keagamaan sulit ekonomi, di mana interaksi yang berjalan
dipertemukan. Ruang temu yang bisa diterima secara positif akan mendorong kerjasama, tetapi
semua pihak hanya ruang sosial dan ruang sebaliknya, interaksi yang terjadi secara assertif
kepentingan praksis. Perbedaan pemikiran atau negatif maka malah akan menimbulkan
keagamaan lebih sulit untuk dipertemukan dan pertentangan (Taneko, 1990: 116).
akhirnya juga kurang mampu mendorong proses Ruang budaya tersebut dapat berupa ruang-
kerukunan dibandingkan perbedaan budaya dan ruang ekonomi ataupun ruang-ruang ekspresi
tradisi. Hal itulah yang menjadikan hubungan budaya. Keinginan manusia untuk memenuhi
antara komunitas Syiah dan yayasan masjid Al- kebutuhan hidupnya mendorong interaksi
Fatah berpotensi sebagai relasi konflik. dengan orang lain. Itu sebabnya dalam relasi
Dinamika hubungan intern umat beragama konflik sekalipun, komunitas Syiah maupun
yang dialami oleh minoritas Syi’ah di Kabupaten yayasan Al-Fatah tetap dapat bekerjasama dan
Pasuruan maupun yayasan Al-Fatah di Banyumas beraktivitas sosial bersama dengan umat Islam
merujuk kepada kajian Rodriguez (dalam Jamil, lainnya. Strategi adaptasi ini dengan sendirinya
2012: 13), adalah merupakan dinamika identitas, juga mendukung tercitanya situasi yang

51
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

aman di lingkungan mereka, sekalipun situasi diskriminasi yang berujung pada pertentangan
damai yang terwujud merupakan perdamaian bahkan konflik di masyarakat. Adapun cara
negatif. Perdamaian dalam pengertian negatif yang terbaik untuk mempererat kohesi sosial
adalah istilah untuk menunjukkan situasi masyarakat adalah dengan mengubah masyarakat
yang nir-kekerasan, tidak adanya kekerasan majemuk (plural society) menjadi masyarakat
secara langsung. Namun situasi demikian, multikultural (multicultural society) dengan cara
sesunguuhnya masih memungkinkan terjadinya mengadopsi ideologi multikulturalisme sebagai
kekerasan-kekerasan yang non-fisik, seperti pedoman hidup dan sebagai keyakinan bangsa
kekerasan strktural maupun kultural (Susan, Indonesia untuk diaplikasikan dalam kehidupan
2010: 130-135). bangsa Indonesia (Suparlan, 2004).
Untuk menuju pada masyarakat damai Interaksi sosial yang terjadi antar kelompok
yang menyeluruh diperlukan kedewasaan dalam masyarakat, baik intern umat beragama
dalam menyikapi perbedaan-perbedaan dalam maupun antar umat beragama, meniscayakan
konfigurasi sosial di masyarakat. Kemaje­ proses take and give, ada proses menyerap
mukan etnis, perbedaan pandangan keagamaan, dan diserap dalam tradisi dan budaya. Pada
dan keragaman tradisi sesungguhnya modal pertemuan budaya inilah sebenarnya batas-
penting bagi perkembangan masyarakat apabila batas budaya akan cair sehingga menjadi
mampu disikapi sebagai kekayaan sosial kohesi yang mengikat etnis-etnis tersebut, baik
budaya. Keragaman ini tidak disikapi hanya dalam bentuk multikulturalisme, akulturasi,
sebagai perbedaan belaka, melainkan menjadi atau ikatan budaya baru, budaya hibrida, tanpa
dasar untuk melakukan relasi akomodasi dan harus kehilangan jati diri dan identitas aslinya.
kerjasama, dan inilah yang disebut sebagai Multikulturalisme meniscayakan pengakuan
multikulturalisme. Menurut Hendar Putranto dan penghargaan terhadap keragaman, sekaligus
(dalam Ujan, et.al., 2009: 15) multikulturalisme terbuka bagi dialog budaya antarmasyarakat
adalah paham yang berbasis pada kepercayaan yang memungkinkan terciptanya kerukunan
akan adanya dan pentingnya menghargai yang sesungguhnya.
sekaligus mengakui (affimation and recognition)
terhadap keanekaragaman budaya (cultural Penutup
diversity). Suparlan (2004) mendefinisikan Hubungan intern umat Islam secara dinamis
multikulturalisme sebagai sebuah ideologi yang berkaitan dengan identitas-identitas kelompok
menekankan pengakuan dan penghargaan pada yang dikuatkan dengan identitas keagamaan
kesederajatan perbedaan kebudayaan. Tercakup maupun identitas budaya. Identitas-identitas
dalam pengertian kebudayaan adalah para budaya tersebut dapat berwujud identitas
pendukung kebudayaan, baik secara individual etnis, identitas tradisi lokal, maupun identitas
maupun secara kelompok, dan terutama pemikiran keagamaan. Dinamika hubungan dapat
ditujukan terhadap golongan sosial askriptif yaitu menuju kepada kerukunan intern umat Islam
sukubangsa (dan ras), gender, dan umur. karena adanya faktor-faktor yang mendukung
Dengan demikian, hubungan intern umat ke arah kerukunan tersebut. Di antaranya adalah
beragama dalam bentuk relasi damai akan faktor daya tawar budaya, di mana pemilik
sangat terdukung apabila dalam masyarakat identitas budaya melakukan kompromi yang
dikembangkan kesadaran multikulturalisme. pada akhirnya menjadikan akukturasi budaya,
Wawasan multikulturaslisme ini dapat menutup atau dominasi budaya sehingga mewujudkan
kerapuhan relasi sosial yang didasarkan pada uniformitas budaya yang keduanya sama-sama
hubungan dominan-minoritas, karena hal mendukung terciptanya keseimbangan dalam
tersebut dapat menyebabkan munculnya sikap masyarakat. Faktor ruang temu budaya, hal mana

52
Relasi Agama dan Budaya dalam Hubungan Intern Umat Islam
Joko Tri Haryanto, halaman 41-54

kebutuhan untuk hidup bersama memaksa semua Farida, Anik. 2006. “Survival Umat Khonghucu
pihak untuk melakukan pertukaran sosial, saling dalam Pemenuhan Hak-hak Sipil”. Dalam
menerima dan bekerjasama untuk kepentingan Alam, Rudy Harisyah (ed). Adaptasi
pemenuhan kebutuhan. Ruang budaya tersebut dan Resistensi Kelompok-kelompok
dapat berupa ruang-ruang ekonomi ataupun Sosial Keagamaan. Jakarta: Penamadani
ruang-ruang ekspresi budaya. Faktor lainnya bekerjasama dengan Balai Litbang Agama
adalah peran tokoh masyarakat dan pemerintah Jakarta. Hlm. 19-50.
yang dalam masyarakat Indonesia yang patrilenial
Geertz, Clifford. 1989. Abangan, Santri, Priyayi
keberadaan tokoh-tokoh sebagai patronase
dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka
sangat kuat pengaruhnya dalam masyarakat.
Jaya.
Strategi adaptasi yang dilakukan oleh umat
Haryanto, Joko Tri. 2012. Dinamika Hubungan
Islam dalam upaya membangun kerukunan di
Intern Umat Beragama di Jawa Tengah,
dilingkungannya, diantaranya melalui strategi
Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah (Studi
kultural, yakni akulturasi, dan membangun
budaya dominan. Strategi lainnya melalui Relasi Agama dan Etnisitas pada Masyarakat
strategi struktural, yakni dengan memanfaatkan Kalimantan Tengah)”. Laporan Hasil
kekuasaan pemerintah, dan legalitas normatif Penelitian. Semarang: Balai Litbang Agama.
untuk menjaga situasi yang aman dan tertib. _______. 2013. “Dinamika Kerukunan Intern
Umat Islam dalam Relasi Etnisitas Dan
Ucapan Terima Kasih Agama Di Kalteng”. Jurnal Analisa Volume 20
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Nomor 01 Januari - Juni 2013 Balai Litbang
pimpinan di Balai Litbang Agama Semarang Agama Semarang. Hlm. 13-24.
yang memberi kesempatan penulis melakukan
Hasan, Ahmad Rifa’i (Ed.) 1990. Warisan
penelitian tentang dinamika intern umat
Intelektual Islam di Indonesia. Bandung:
Islam yang menjadi bahan tulisan ini. Ucapan
Mizan.
terimakasih juga ditujukan kepada Drs. H.
Ahmad Sodli dan Arnis Rachmadani, SS., MSI., Jamil, M. Muhsin. 2012. “Dinamika Identitas dan
rekan peneliti atas hasil penelitiannya untuk Strategi Adaptasi Minoritas Syi’ah di Jepara”.
dianalisis bersama dalam tulisan ini. Ringkasan Disertasi Program Doktor
Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.
Kuntowijoyo. 2001. Muslim Tanpa Masjid, Essai-
Essai Agama, Budaya, dan Politik dalam
Daftar Pustaka
Bingkai Strukturalisme Transendental.
Azra, Azyumardi. 1998. Jaringan Ulama Timur Bandung: Mizan.
Tengah dan kepulauan Nusantara Abad
Musahadi, HAM. (Ed.). 2007. Mediasi dan
XVII-XVIII. Bandung: Mizan.
Resolusi Konflik di Indonesia, dari Konflik
Cahyono, Heru. Dkk. 2008. Konflik Kalbar dan Agama hingga Mediasi Pengadilan.
Kalteng Jalan Panjang Meretas Perdamaian. Semarang: WMC Walisongo Mediation
Yogyakarta: P2P-LIPI bekerjasama dengan Centre IAIN Walisongo.
Pustaka Pelajar. Nasikun. 1992. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta:
Chang, Heewon. 1998. “Re-examining the Rajawalipress.
Rhetoric of the Cultural Border” dalam Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam, Aliran-
http://www.edchange.org/multicultural/ Aliran Sejarah Analisa Perbandingan.
papers/heewon.html diunduh 6 Juni 2015. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

53
Jurnal SMaRT Volume 01 Nomor 01 Juni 2015

Rachmadani, Arnis. 2012. “Dinamika Hubungan Landscape Multikultural, Mungkinkah


Intern Umat Beragama di Jawa Tengah, di Indonesia?, Wisma PKBI, 10 Agustus
Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah (Studi 2004. Dalam http://www.interseksi.org/
di Jawa Timur)”. Laporan Hasil Penelitian. publications/essays/articles/masyarakat_
Semarang: Balai LItbang Agama. majemuk.html diunduh 6 Juni 2010.
Sodli, Ahmad. 2012. “Dinamika Hubungan Susan, Novri. 2010. Pengantar Sosiologi Konflik
Intern Umat Beragama di Jawa Tengah, dan Isu-Isu Konflik Kontemporer. Jakarta:
Jawa Timur, dan Kalimantan Tengah (Studi Kencana Predana Media Group.
di Jawa Tengah)”. Laporan Hasil Penelitian.
Semarang: Balai LItbang Agama. Taneko, Soleman. B. 1990. Struktur dan
Proses Sosial: Suatu Pengantar Sosiologi
Soekanto, Suryono. 1982. Sosiologi Suatu Pembangunan. Edisi 1. Cetakan 2. Jakarta:
Pengantar. Edisi baru ke-4. Cetakan 20. CV Rajawali.
Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Ujan, Andre Ata et.al. 2009. Multikulturalisme,
Suparlan. 2004. “Masyarakat Majemuk,
Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan.
Masyarakat Multiultural, dan Minoritas:
Jakarta: PT.Indeks.
Memperjuangkan Hak-hak Minoritas”.
Makalah dalam Workshop Yayasan Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori
Interseksi, Hak-hak Minoritas dalam Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.

54