You are on page 1of 6

Tanggal Praktikum : 10 April 2019

Jam : 11.30-14.00
Dosen Pembimbing : DR Drh Aulia Andi Mustika MSi

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI VETERINER II


LAKSANSIA
Kelompok 2:
1. Almalia mayangfauni (B04160161)
2. Muhammad Nabil R (B04160156)
3. Siti nur Hasanah (B04160157)
4. Stepany N Bangka (B041601xx)
5. Fadhila Satvika (B041601xx)
6. Anisa Dira Setiadi (B041601xx)
7. Abdi Putra Wijaya (B04160192)

DIVISI FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
IPB UNIVERSITY
2019
PENDAHULUAN

Obat pencahar atau laksansia merupakan jenis obat yang digunakan untuk membantu terhindarnya
konstipasi akibat pembuangan sisa-sisa makan dalam bentuk feses terganggu baik secara fisiologis
maupun patologis. Konstipasi dapat terjadi karena berbagai faktor yang diantaranya kurang mkan
makanan berserat, kurang meminum air, syaraf tegang atau stress, maupun pengaruh obat yang
dikonsumsi. Obat-obat golongan laksansia ini selain digunakan untuk mengatasi konstipasi, dapat
juga digunakan untuk mengatasi gangguan usus teriritasi, mengosongkan usus untuk kepentingan
medis, dan juga digunakan pada terapi obat cacing untuk pengeluaran cacing dan sisa-sisa obat
cacing (Tjay dan Rahardja 2007).

Secara umum laksansia bekerja dengan cara menstimulasi gerakan peristaltik dinding usus
sehingga mempemudah pengeluaran feses (defekasi) serta menjaga agar feses tidak mengeras dan
defekasi normal. Berdasarkan penggolongannya, laksansia dapat diolongkan sebagai pencahar
pembentuk massa, pencahar hiperosmotik, pencahar pelumas, pencahar perangsang, pencahar
emolien, dan zat penurun tegangan permukaan (Sundari dan Winarno 2010).

TUJUAN

Praktikum bertujuan mengetahui pengaruh sediaan obat yang memiliki daya kerja sebagai
laksansia dan mengetahui mekanisme perubahan yang terjadi akibat pengaruh obat tersebut di
dalam usus.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat bedah minor dan syringe. Bahan yang
digunakan adalah tikus, benang, kapas, uretan, NaCl fisiologis 0.9%, NaCl fisiologis 3%,
MgS04 4,7%, dan MgS04 27%.

Cara Kerja

1. Bobot badan tikus ditimbang untuk mengetahui berat dan dosis anestesi yang akan
diberikan.
2. Uretan disuntikkan secara intra peritoneal. Setelah teranestesi, tikus diletakkan pada alas
kayu/busa, posisikan ventrodorsal dan kaki-kakinya diikat pada sisi bantalan kayu/busa
tersebut
3. Dengan alat bedah, dilakukan pembedahan pada bagian abdomen, kemudian usus
dipreparir sepanjang 2,5 cm dari daerah pylorus dan diikat dengan benang.
4. Bagian usus halus dibagi menjadi 5 segmen dengan cara mengikat usus dengan benang,
dengan interval panjang 5 cm dan jarak ½ cm antar ikatan
5. Dengan syringe, segmen pertama diinjeksi dengan NaCl 0,9%, segmen kedua dengan NaCl
3%, segmen ketiga dengan MgS04 4,7%, dan segmen keempat dengan MgS04 27%.
Masing-masing sebanyak 0,25ml.
6. Setelah semua segmen terinjeksi, ruang abdomen yang terbuka ditutup dengan kapas yang
dibasahi NaCl 0,9%
7. Setelah 45 menit dari penyuntikan larutan tersebut, dilakukan aspirasi cairan dari setiap
segmen dengan menggunakan syringe. Volume cairan yang diaspirasi dari tiap-tiap
segmen dihitung. Cara lain yang bias dilakukan dengan memotong usus dekat ikatannya
dan volume cairan yang tersisa ditampung pada gelas ukur, kemudian dicatat hasilnya.

Hasil

Larutan Volume awal (ml) Volume akhir


NaCl 0,9% 0,25 0,06
NaCl 3% 0,25 0,1
MgS04 4,7% 0,25 0,09
MgS04 27% 0,25 0,04

Hasil percobaan, pemberian NaCl 3% pada usus mendapatkan volume akhir segmen usus paling
banyak dari pemberian larutan lainnya yaitu 0.1 ml. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan
larutan pada segmen tersebut paling sedikit di antara yang lainnya. Larutan NaCl 3 % merupakan
garam yang bersifat hipertonis pada tubuh. Larutan hipertonik dari garam sukar diabsorpsi.
Larutan hipertonik dari garam-garam yang sukar diabsorpsi bila berada dalam usus akan
mengakibatkan retensi cairan di dalam usus. Melalui efek osmotik cairan dalam lumen usus sukar
diserap oleh tubuh, sehingga pemberian larutan ini merupakan laksansia yang bekerja dengan tidak
menyerap cairan atau menambah volume dalam usus. Peningkatan volume usus yang berperan
sebagai stimulus mekanik yang meningkatkan aktivitas motorik dari usus mendorong dengan cepat
isinya ke dalam usus besar. Absorpsi air di usus besar pun terhambat dan dalam waktu singkat
terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses yang cair. Kolon yang normalnya merupakan organ
tempat terjadinya penyerapan cairan, menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro
et al. 2008).
Kelompok hiperosmotik. Kelompok ini bekerja dengan cara mempercepat gerakan peristaltik usus
dengan menarik air dari jaringan tubuh ke dalam usus sehingga diperoleh tinja yang lunak. Contoh
obat laksansia yang masuk dalam kelompok ini adalah laktulosa dan garam lnggris/garam
magnesium = MgSO4, dioktil natrium sulfosuksinat (Gan et.al 1980).

MgSO4 itu sendiri merupakan zat yang memiliki khasiat sebagai laksansia. Mekanisme kerjanya
yaitu dengan cara menarik cairan pada dinding usus halus yang selanjutnya volume cairan
meningkat, cairan itu kemudian menuju usus besar untuk melunakkan feces yang sulit dikeluarkan.
MgSO4 4,7% merupakan larutan hipertonik yang seharusnya volume akhir yang didapat lebih
besar dari volume awal (Ganiswara dan Sulistia 1995). Hasil pratikum menunjukkan total volume
diusus 0,09 ml dengan injeksi awal 0,25 ml MgSO4 4,7% itu sesuai dengan literatur.

Dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa volume cairan segmen usus yang diberi MgSO4
27% lebih besar dibandingkan segmen yang diberi NaCl 0,9% maupun MgSO4 4,7%. Larutan
MgSO4 27% dapat memberikan volume segmen usus yang paling besar karena larutan tersebut
merupakan larutan hipertonik dari jenis garam yang sukar diabsorpsi. Bila berada dalam usus,
larutan hipertonik dari garam-garam yang sukar diabsorpsi dapat mengakibatkan retensi cairan/air
dalam jumlah besar dalam usus tersebut melalui efek osmotik. Akibatnya volume usus meningkat
dan volume ini berlaku sebagai stimulus mekanik yang meningkatkan aktivitas motorik dari usus
yang mendorong dengan cepat isinya ke dalam usus besar. Dengan demikian, absorpsi air pun
terhambat di usus besar dan dalam waktu singkat terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses
yang cair. Semakin pekat (hipertonis) garam yang disuntikkan, tekanan osmotiknya akan semakin
besar pula dan akan meretensi cairan dalam jumlah yang lebih besar pula. (Guyton 1994).

Senyawa laksatif yang mengandung kation magnesium atau anion fosfat biasanya disebut
saline laxatives. Contohnya magnesium sulfat, magnesium hidroksida, magnesium sitrat, natrium
fosfat, dan lain-lain. Mekanisme kerjanya adalah terjadinya retensi air yang termediasi secara
osmosis. Akibatnya, volume usus meningkat dan volume ini bertindak sebagai stimulus mekanik
yang meningkatkan aktivitas motorik usus. Hal ini menyebabkan komponen yang terdapat dalam
usus halus akan didorong dengan cepat menuju usus besar. Absorpsi air di usus besar pun akan
terhambat dan dalam jangka waktu yang singkat terjadi pengeluaran isi usus dalam bentuk feses
cair (Arief et al 1995). Mekanisme lain yang menyebabkan efek di atas yaitu produksi mediator
inflamatori. Laksatif yang mengandung magnesium menstimulasi pelepasan chole-cystokinin
yang mempengaruhi cairan intraluminal dan akumulasi elektrolit serta meningkatkan pergerakan
usus. Laksansia atau pencahar adalah zat-zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik usus
sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian akan
menyebabkan, mengatur, atau mempermudah defekasi dan meredakan sembelit. Dari daya untuk
melancarkan defekasi dan melunakkan feses, dikenal beberapa istilah, yaitu laksansia, katartika,
purgatif, dan drastika. Istilah-istilah tersebut menunjukkan tingkatan kuatnya efek kerja obat
pencahar yang dapat dilihat dari konsistensi feses yang dihasilkan, yaitu mulai dari feses yang
lunak hingga feses yang semakin cair. Laksansia akan memberikan efek pembentukan feses yang
lunak, sedangkan katartika memberi efek pembentukan feses yang cair (Anief 1996)

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1996. Penggolongan Obat Berdasarkan Khasiat dan Penggunaannya. Yogyakarta : UGM
Press. Hal 50-51

Arief, Azali dan Udin Sjamsudin. 1995. Obat Lokal. Dalam Ganiswara S.G. Farmakologi dan
Terapi. Jakarta : Bagian Farmakologi FKUI. Hal 509-514.

Dipiro JT, Talbert RL, Yee GC, Matzke GR, Wells BG, Posey LM. 2008. Pharmacotherapy: A
Pathophysiologic Approach, Seventh Edition. New York(US): Mc-Graw Hill Companies.
Gan S, Suharto B, Sjamsudin U, Setiabudy R, Setiawati A, Gan VHS. 1980. Farmakologi dan
Terapi (ID). Jakarta (ID): Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran, Universitas
Indonesia
Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta(ID): Gaya Baru.
Guyton A. 1994. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit (Textbook of Human Phsiology and
Mechanisms of Disease). Alih Bahasa Petrus A. Edisi Ke-3. Jakarta : EGC. Hal 608-609.

Sundari D, Winarno M. W. 2010. Efek laksatif jus daun asam jawa (Tamarindus indica Linn.)
pada tikus putih yang diinduksi dengan gambir. Media Litbang Kesehatan. 20(3): 100-103.
Tjay T. H, Rahardja K. 2007. Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek
Sampingnya, Edisi Keenam. Jakarta (ID): PT Elex Media Komputindo
.