You are on page 1of 7

HUBUNGAN KADAR ALBUMIN PLASMA DAN GULA DARAH

DENGAN SEPSIS NEONATORUM

1
Ester Elisabeth Wowor
2
Johnny Rompis
3
Rocky Wilar

1 2
Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Universitas Sam Ratulangi Manado
ester.elisabeth14@gmail.com

Abstract. Sepsis is the most leading cause of morbidity and mortality in neonates. In sepsis,
the proinflammatory cytokines realeasing leads to disruption of plasma albumin and blood
glucose levels. This study aim to analyze the relationship of plasma albumin and blood sugar
levels with neonatal sepsis. Prospective observational analytic studies conducted on suspected
sepsis neonates at Pediatrics Department Sub Division Neonatology RSUP Prof.Kandou
Manado. Diagnosis of sepsis based on clinical symptoms and laboratory tests. Subjects are
grouped into two groups of neonatal sepsis and non-neonatal sepsis group (control group).
Plasma albumin and blood glucose level examined, then statistically analyzed. The statistical
analysis used was Pearson Chi- Square correlation and Fisher Exact. The data were processed
using SPSS 21. The results of this study indicate that hypoalbuminemia was found in 12
(75%) of 16 neonatal sepsis subject, whereas in non -neonatal sepsis only found 5 (22,7%) of
22 non-sepsis subjects. Statistically there is a highly significant difference (p=0,001). For the
impaired blood glucose (both hypoglycemia or hyperglycemia) there is no significant
difference between the two groups (p=0,466). Conclusion: There is a highly significant
relationship between hypoalbuminemia with neonatal sepsis. There was no significant
correlation between abnormal blood glucose levels with neonatal sepsis.
Keywords: neonatal sepsis, plasma albumin levels, blood glucose levels.

Abstrak.Sepsis merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak pada neonatus.


Pada sepsis terjadi pelepasan sitokin proinflamasi yang memicu terjadinya gangguan kadar
albumin plasma dan kadar glukosa darah.Menganalisis hubungan kadar albumin plasma dan
kadar gula darah dengan sepsis neonatorum.Penelitian analitik observasional prospektif
dilakukanpada tersangka sepsis neonatorum yang dirawat di bagian Ilmu Kesehatan Anak Sub
Bagian Neonati RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Diagnosis sepsis berdasarkan gejala
klinik dan pemeriksaan laboratorium. Subyek penelitian dikelompokkan menjadi kelompok
sepsis neonatorum dan kelompok non sepsis neonatorum (kelompok kontrol). Dilakukan
pemeriksaan kadar albumin plasma dan glukosa darah, kemudian dianalasis secara statistik.
Analisis statistik yang digunakan adalah uji korelasi Pearson Chi-Square dan uji Fisher Exact.
Data diolah dengan menggunakan program SPSS 21.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
hipoalbuminemia ditemukan pada 12 (75%) dari 16 penderita sepsis neonatorum, sedangkan
pada penderita non sepsis hanya ditemukan 5 (22,7%) dari 22 penderita non sepsis. Secara
statistik terdapat perbedaan yang sangat bermakna (p=0,001). sedangkan gangguan glukosa
darah (baik hipoglikemia maupun hiperglikemia) tidak terdapat perbedaan yang bermaknsa
antara kedua kelompok (p=0,466). Simpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna
antara hipoalbuminemia dengan sepsis neonatorum. Tidak terdapat hubungan yang bermakna
antara kadar gula darah abnormal dengan sepsis neonatorum.
Kata Kunci:sepsis neonatorum, kadar albumin plasma, kadar glukosa darah.

225
226 Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, hlm. 225-231

Sepsis neonatorum adalah infeksi bakteri babkan kerusakan organ. Inflamasi sel-sel
pada aliran darah bayi selama bulan per- endotelial menyebabkan vasodilatasi pada
tama kehidupan. Menurut The Internatio- otot polos pembuluh darah dan dapat
nal Sepsis Definition Conference (ISDC, terjadi peningkatan permeabilitas
2001), sepsis adalah sindrom klinis dengan pembuluh darah dan menyebabkan
7
adanya Systemic Inflammatory Response kebocoran kapiler. Kebocoran kapiler ini
1,2
Syndrome (SIRS) dan infeksi. Menurut menyebab-kan terjadinya difusi albumin
perkiraan World Health Organi-zation dari intra-vaskuler ke ekstravaskuler. Hal
(WHO) setiap hari kira-kira 8000 bayi yang ini dapat memicu terjadinya
8
baru lahir meninggal, dengan angka hipoalbuminemia.
mortalitas neonatus (kematian dalam 28 Selain itu pelepasan berlebihan dari
hari pertama kehidupan) adalah 23 per 1000 sitokin proinflamasi dan antiinflamasi yang
kelahiran hidup, dan 99% kematian tersebut terjadi pada sepsis tersebut dapat pula
3
berasal dari negara berkembang. Angka menyebabkan terjadinya perubahan pato-
kejadian/insidens sepsis di negara logis dalam organ vital dan sistem organ
berkembang cukup tinggi yaitu 1,8-18 per termasuk perubahan metabolisme. Produksi
1000 kelahiran hidup dengan angka berlebihan dari sitokin proinflamasi dan
kematian sebesar 12-68%, sedangkan di antiinflamasi pada sepsis dapat memicu
negara maju angka kejadian sepsis berkisar terjadinya resistensi insulin, yang menye-
antara 3 per 1000 kelahiran hidup dengan babkan terjadinya hiperglikemia pada awal
4
angka kematian 10,3%. Di Indonesia, terjadinya sepsis. Hiperglikemia pada
menurut data dan informasi kementerian sepsis juga berasal dari glikolisis otot dan
kesehatan RI tahun 2011 didapatkan angka lipolisis, kemudian glukoneogenesis dan
kematian bayi (Infant Mortality Rate) glikolisis hati.
9,10
Peningkatan produksi
5
sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Data hormon stres seperti adrenalin, kortisol dan
yang diperoleh dari Rumah Sakit Cipto glukagon pada pasien sepsis neonatorum
Mangunkusumo Jakarta periode Januari- juga berperan dalam terjadinya peningkatan
September 2005, angka kejadian sepsis 11
kadar glukosa darah.
neonatorum sebesar 13.68% dengan angka
6 Pada fase selanjutnya, terjadi pening-
kematian sebesara 14.18%. katan kerja metabolisme tubuh yang terjadi
Pada sepsis terjadi pelepasan sitokin terus-menerus, hipotermia, serta kesulitan
proinflamasi oleh makrofag dengan mediator- makan pada sepsis, dapat memicu terjadi-
mediatornya mengaktifkan banyak jenis sel, nya hipoglikemia pada neonatus. Hipo-
menginisiasi kaskade sepsis, dan glikemia merupakan sindroma metabolik
menghasilkan kerusakan endotel. Juga ter- yang biasa ditemukan pada pasien sepsis
jadi pelepasan sitokin anti inflamasi. Sitokin neonatorum, dan penelitian sebelumnya
proinflamasi terutama berperan menghasilkan menunjukkan bahwa sekitar 58% pasien
sistem imun untuk melawan kuman sepsis neonatorum mengalami hipoglike-
penyebab. Namun demikian, pem-bentukan mia.
12
Meskipun mekanisme terjadinya
sitokin proinflamasi yang ber-lebihan dapat hipoglikemia pada sepsis neonatorum fase
membahayakan dan dapat menyebabkan selanjutnya belum dapat dijelaskan secara
syok, kegagalan multiorgan serta kematian. pasti, namun ada beberapa faktor yang
Sebaliknya, sitokin anti inflamasi berperan berperan dalam terjadinya hipoglikemia
penting untuk mengatasi proses inflamasi pada pasien sepsis neonatorum, yaitu ada-
yang berlebihan dan mempertahankan nya peningkatan penggunaan glukosa
keseimbangan agar fungsi organ vital dapat perifer, cadangan glikogen yang rendah,
berjalan dengan baik. Kerusakan utama dan kekurangan asupan kalori / energi yang
akibat aktivasi makrofag terjadi pada endotel disebabkan oleh kesulitan makan.
13,14
dan selanjutnya akan menimbulkan migrasi
Tujuan peneltian ini untuk mengana-
leukosit serta pem-bentukan mikrotrombin
lisis hubungan kadar albumin plasma dan
sehingga menye-
glukosa darah dengan sepsis neonatorum.
Wowor, Rompis, Wilar; Hubungan Kadar Albumin Plasma... 227

METODE berjumlah 16 penderita, terdapat sembilan


(56,3%) laki-laki dan tujuh (43,8%) pe-
Dilakukan penelitian analitik obser-
rempuan. Sedangkan pada kelompok non
vasional prospektif yang bertujuan meng-
sepsis neonatorum yang berjumlah 22
analisis hubungan antara kadar albumin
penderita, terdapat 14 (63,6%) laki-laki dan
plasma dan kadar glukosa darah dengan
8 (36,4%) perempuan.
sepsis neonatorum. Subyek penelitian
adalah 38 tersangka sepsis neonatorum Hasil penelitian pada 16 neonatus
yang dirawab di Bagian Ilmu Kesehatan sepsis, terdapat empat orang (25%) dengan
Anak Sub Bagian Neonati RSUP Prof. Dr. berat badan lahir <2500 g, sembilan orang
R. D. Kandou Manado pada bulan (56,25%) dengan berat badan lahir 2500 –
November 2012 sampai dengan Januari 4000 g, dan tiga orang (18,75%) dengan
2013. Tersangka sepsis neonatorum yaitu berat badan lahir >4000 g. Hasil penelitian
terdapat tiga gejala klinik dari enam pada 22 neonatus non sepsis, terdapat tujuh
kelompok gejala klinik sepsis neonato-rum, orang (31,82%) dengan berat badan lahir
atau terdapat satu faktor resiko mayor <2500 g, 14 orang (63,64%) dengan berat
ditambah dua faktor resiko minor. badan lahir 2500 – 4000 g, dan satu orang
Pemeriksaan laboratorium yang dila- (4,55%) dengan berat badan lahir >4000 g.
kukan yaitu: darah lengkap, CRP, kadar Karakteristik subyek tertera pada Tabel 1.
albumin plasma dan gula darah sewaktu di
laboratorium Prokita Manado dan labora-
torium RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Tabel 1. Karakteristik subyek penelitian.
Manado. Kelompok
Penderita dengan pemeriksaan labo- Berat badan Sepsis Non
ratorium abnormal yaitu darah lengkap dan Neona- Sepsis
Lahir
C-Reactive Protein dimasukkan dalam torum Neona-
kelompok sepsis neonatorum, sedangkan torum
penderita yang tidak terbukti dengan peme- - <2500 gr 4 (25) 7 (31,82)
riksaan laboratorium dimasukkan dalam - 2500-4000 gr 9 (56, 25) 14 (63,64)
kelompok non sepsis neonatorum (kelom- - >4000 gr 3 (18,75) 1 (4,55)
pok kontrol). Selanjutnya dilakukan peme- Total 16 22
riksaan kultur darah terhadap penderita
sepsis neonatorum.
Analisis data dilakukan analisis des- Pemeriksaan kultur darah pada 16
kriptif (rata-rata, SD, dan interval keper- subyek sepsis neonatorum, terdapat lima
cayaan) dan analisis korelatif dengan uji penderita (31,25%) sepsis neonatorum
Pearson Chi-Square dan uji Fisher Exact. yang terbukti pada pemeriksaan kultur
Hubungan dianggap bermakna jika nilai darah, dengan jenis kuman paling banyak
p<0.05. Data yang dikumpulkan diolah de- ditemukan adalah Acinetobacter amitratus
ngan menggunakan program SPSS versi 21. yaitu sebanyak tiga penderita (Tabel 2).
Hasil pemeriksaan kadar albumin pada
16 penderita sepsis didapatkan kadar
HASIL albumin normal sebanyak empat (25,0%)
Jumlah subyek yang diteliti 38 dan kadar hipoalbuminemia sebanyak 12
tersangka sepsis neonatorum, terdiri dari 16 (75,0%). Sedangkan pada 22 penderita non
sepsis neonatorum dan 22 non sepsis sepsis didapatkan kadar albumin normal
neonatorum. sebanyak 17 (77,3%) dan kadar hipo-
Berdasarkan distribusi subyek menu- albuminemia sebanyak lima (22,7%)
rut jenis kelamin, didapatkan bahwa pada (p=0,001). Hasil selengkapnya disajikan
kelompok sepsis neonatorum yang pada tabel 3.
228 Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, hlm. 225-231

Tabel 2. Jenis kuman yang ditemukan pada BAHASAN


penderita sepsis neonatorum.
Berdasarkan distribusi penderita me-
Jenis Kuman Jumlah nurut jenis kelamin, ditemukan bahwa
Penderita jumlah penderita sepsis neonatorum lebih
Acinetobacter amitratus 3 banyak ditemukan pada laki-laki yaitu
Alcaligenes faecialis 2 sembilan dari 16 (56,3%) dibandingkan pa-
Staphylococcus aureus 1 da perempuan yaitu tujuh dari 16 (43,8%).
Total 5 Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan di Semarang pada 41 neonatus
sepsis didapatkan 24 penderita sepsis
Hasil uji Pearson Chi-Square pada neonatorum (58,5%) berjenis kelamin laki-
2
tabel di atas diperoleh X = 10,238 dengan laki, dan 17 penderita sepsis neonatorum
p = 0,001. Hasil ini menunjukkan terdapat 15
(41,5%) berjenis kelamin perempuan.
hubungan yang sangat bermakna antara Berat badan lahir dari semua penderita
kadar albumin dengan sepsis neonatorum. sepsis neonatorum terbanyak 2500-4000
OR = 10,2 dengan 95% IK: 2,3 – 46,1. gram yaitu sembilan dari 16 (56,3%), em-
Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar pat penderita dengan berat badan lahir
GDS pada 16 penderita sepsis didapatkan kurang dari 2500 gram dan tiga orang lebih
kadar hipoglikemia sebanyak satu (6,2%), dari 4000 gram. Hasil ini hampir sama
kadar euglikemia sebanyak 11 (68,3%), dan dengan penelitian yang dilakukan di
kadar hiperglikemia sebanyak empat Semarang, yaitu pada 41 neonatus sepsis
(25,0%). Sedangkan pada 22 penderita non didapatkan dua bayi (4,9%) dengan berat
sepsis didapatkan kadar hipoglikemia badan lahir kurang dari 2500 g dan 39 bayi
sebanyak dua (9,1%), euglikemia seba-nyak (95,1%) dengan berat badan lahir 2500-
24 (63,2%) dan kadar hiperglikemia 15
4000 g.
sebanyak 11 (28,9%) (p=0,466). Hasil Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar
selengkapnya disajikan pada tabel 4. albumin pada 16 penderita sepsis neonato-
Hasil uji Fisher Exact pada tabel di rum didapatkan kadar albumin normal
atas diperoleh p = 0,466. Hasil ini menun- sebanyak 4 (25,0%) dan kadar hipoalbumin-
jukkan tidak terdapat hubungan yang emia sebanyak 12 (75,0%). Sedangkan pada
bermakna antara kadar gula darah dengan 22 penderita non sepsis didapatkan kadar
sepsis neonatorum (p = 0,466). OR = 0,7 albumin normal sebanyak 17 (77,3%) dan ka-
dengan 95% IK: 0,2 – 3,0. dar hipoalbuminemia sebanyak lima (22,7%).

Tabel 3. Gambaran Albumin pada kelompok sepsis dan non sepsis.


Gambaran Albumin Kelompok Total
Sepsis Non Sepsis
Normal 4 (25,0) 17 (77,3) 21 (55,3)
Hipoalbuminemia 12 (75,0) 5 (22,7) 17 (44,7)
Total 16 22 38

Tabel 4. Gambaran GDS pada kelompok sepsis dan tidak terbukti sepsis.
Gambaran GDS Kelompok Total
Sepsis Non Sepsis
Hipoglikemia 1(6,2) 2(9,1) 3 (7,9)
Euglikemia 12(68,3) 13(59,1) 24 (63,2)
Hiperglikemia 4 (25,0) 7 (31,8) 11 (28,9)
Total 16 22 38
229 Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, hlm. 225-231

Hasil analisis data dengan uji korelasi SY dan Liu J di China melaporkan bahwa
Pearson menunjukkan terdapat hubungan dari 143 kelompok penderita sepsis pada
yang sangat bermakna antara kadar albumin anak, didapatkan 83 penderita (59,4%)
dan sepsis neonatorum (p = 0,001, OR = mengalami hipoalbuminemia. Penelitian
10,2). Pada penelitian ini juga di-dapatkan tersebut juga melaporkan bahwa terdapat
nilai odd rasio sebesar 10,2 yang berarti hubungan yang bermakna antara tingkat /
18
bahwa penderita sepsis neonatorum derajat penyakit dengan kadar albumin.
memiliki risiko untuk mengalami hipo- Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar
albuminemia sebesar 10 kali dibandingkan GDS pada 16 penderita sepsis didapatkan
dengan penderita non sepsis neonatorum. kadar hipoglikemia sebanyak satu (6,2%),
Pada sepsis terjadi peningkatan distri- kadar euglikemia sebanyak 11 (68,3%), dan
busi albumin antara intravaskular dan kadar hiperglikemia sebanyak empat
ekstravaskular, yang menyebabkan terjadi- (25,0%). Sedangkan pada 22 penderita non
nya perubahan kecepatan pembentukan dan sepsis didapatkan kadar hipoglikemia
penghancuran protein. Sehingga konsentra- sebanyak dua (9,1%), euglikemia seba-
si serum albumin akan menurun secara nyak 24 (63,2%) dan kadar hiperglikemia
perlahan dan tidak akan meningkat hingga sebanyak 11 (28,9%).
16
fase penyembuhan penyakit. Hasil analisis data dengan uji Fisher
Pada sepsis neonatorum terjadi pele- Exact menunjukkan tidak terdapat hubung-
pasan sitokin proinflamasi oleh makrofag, an yang bermakna antara kadar gula darah
yang mengaktifkan banyak jenis sel, dengan sepsis neonatorum (p = 0,466).
menginisiasi kaskade sepsis, dan meng- Pada sepsis terjadi stress dimana
hasilkan kerusakan endotel. Juga terjadi terjadi aktivasi sistem aksis hypothalamus-
pelepasan sitokin anti inflamasi. Pemben- pituitary-adrenal (HPA) dengan dile-
tukan sitokin proinflamasi yang berlebihan paskannya kortisol dari kelenjar adrenal.
pada sepsis neonatorum menyebabkan Peningkatan kortisol mengakibatkan pe-
terjadinya kerusakan endotel. Inflamasi sel- ningkatan pelepasan epinefrin, norepine-
sel endotelial menyebabkan vasodilatasi frin, glukagon dan growth hormone. Selain
otot polos pembuluh darah dan terjadi itu pada sepsis juga terjadi pelepasan
peningkatan permeabilitas pembuluh darah berbagai sitokin seperti IL-1, IL-6, dan
7
dan kebocoran kapiler. Kebocoran kapiler TNF-α yang berperan dalam terjadinya
ini menyebabkan terjadinya difusi albumin resistensi insulin pada sepsis. Adanya kom-
dari intravaskuler ke ekstravaskuler, yang binasi berbagai faktor tersebut memegang
menyebabkan terjadinya hipoalbuminemia peranan penting terjadinya hiperglikemia
8 19-21
pada penderita sepsis neonatorum. pada sepsis.
Pada sepsis neonatorum juga terjadi Hiperglikemia biasa terjadi pada awal
perubahan dalam sintesis albumin. Bila terjadinya sepsis, dan hal ini dapat di-
terjadi respons akut terhadap inflamasi dan anggap menguntungkan karena menyedia-
sepsis, maka terjadi peningkatan Protein C- kan suplai glukosa untuk energi yang
reaktif (C-reactive protein), dan terjadi adekuat untuk organ-organ tubuh. Namun
pelepasan TNF-α dan IL-6 yang berperan jika keadaan kritis sepsis ini berlanjut terus
dalam penurunan transkripsi gen albumin maka terjadi perubahan-perubahan patolo-
dan mengakibatkan penurunan sintesis gis yang memicu terjadinya hipoglikemia
albumin. Respons inflamasi yang terus pada fase selanjutnya.
13,14
menerus menyebabkan gangguan sintesis Pada hasil penelitian ini ditemukan
albumin yang berkepanjangan. Juga terjadi
tidak ada hubungan yang bermakna antara
perubahan dalam katabolisme albumin pada
kadar gula darah abnormal dalam hal ini
sepsis dan sangat mungkin bahwa endotel
vaskular yang berperan dalam degradasi hipoglikemia dan hiperglikemia dengan
16,17 sepsis neonatorum. Hal ini dapat disebab-
albumin ini. kan oleh karena penderita sepsis neonato-
Penelitian yang dilakukan oleh Qian rum yang menjadi sampel penelitian telah
230 Jurnal e-Biomedik (eBM), Volume 1, Nomor 1, Maret 2013, hlm. 225-231

melewati tahap hiperglikemia pada fase UCAPAN TERIMA KASIH


awal terjadinya sepsis neonatorum, dan Terima kasih kepada semua pihak yang
belum sampai pada tahap hipoglikemia.
baik secara langsung maupun tidak lang-sung
Karena dalam penelitian ini pemeriksaan
telah menumbuhkan gagasan kepada penulis
kadar gula darah dilakukan hanya satu kali
untuk menyelesaikan tulisan ini.
pada setiap penderita sepsis neonatorum,
tanpa melakukan monitoring terus-menerus
pada penderita sepsis neonatorum. Hal ini DAFTAR PUSTAKA
juga dapat disebabkan oleh karena peme- 1. Haque KN. Definitions of bloodstream
riksaan kadar glukosa darah pada beberapa infection in the newborn. Pediatr Crit Care
penderita sepsis neonatorum dilakukan Med. 2005; 6(3):S45-9.
pada saat penderita telah mendapatkan 2. Goldstein B, Giroir B, Randolph A.
pengobatan atau terapi dari rumah sakit, International pediatric sepsis consensus
sehingga kondisi pasien telah berada dalam conference: definitions for sepsis and
fase penyembuhan. organ dysfunction in pediatrics. Pediatr
Penelitian yang dilakukan oleh Crit Care Med. 2005; 6(1):2-8
Campos dkk di Brazil melaporkan bahwa 3. WHO. Newborn health epidemiology.
99% dari 55 penderita sepsis neonatorum Diakses dari:
mengalami perubahan pada kadar glukosa www.who.int/maternal_child_adolescent/e
darah, dengan hipoglikemia menjadi kela- pidemiology/newborn/en/ (tanggal akses :
inan yang paling banyak ditemukan yaitu 2 Oktober 2012)
12 4. Watson RS et al. The epidemiology of
sebesar 58%. severe sepsis in children in the United
Penelitian lain yang dilakukan oleh States. Am J Respir Care Med. 2003;
Sultan Ahmad dan Riffat Khalid di Pakistan 167:695-701.
melaporkan bahwa sebagian besar penderita 5. Data dan informasi. Pusat Data dan
sepsis neonatorum dan probable sepsis Informasi. Kementerian Kesehatan RI.
memiliki kadar glukosa antara 40 dan 100 2011: 2.
mg/dl. Akan tetapi penderita sepsis 6. Juniatiningsih A, Aminullah A,
neonatorum dan probable sepsis yang me- Firmansyah A. Profil Mikroorganisme
miliki kadar glukosa dibawah 40 mg/dl dan Sepsis Neonatorum di Departemen Ilmu
Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto
diatas 200 mg/dl memiliki mortatilitas yang
11
Mangunkusumo Jakarta. Sari Pediatri.
lebih tinggi. 2008; 10(1):60-5.
7. Short MA. Linking the sepsis triad of
SIMPULAN inflammation, coagulation and suppressed
fibrinolysis to infants. Adv Neonat Care
Berdasarkan hasil penelitian ini maka 2004; 5:258-73.
dapat disimpulkan bahwa: 8. Ballmer PE. Causes and mechanisms of
1. Terdapat hubungan yang bermakna hypoalbuminaemia. Clinical Nutrition.
antara hipoalbuminemia dengan sepsis 2001; 20(3): 271-3.
neonatorum. Penderita sepsis neonato- 9. Das UN. Insulin in sepsis and septic
rum memiliki kadar albumin yang shock. JAPI. 2003; 51:695-700.
10. Hirasawa H, Oda S, Nakamura M.
lebih rendah dibandingkan dengan
Blood glucose control in patients with
penderita non sepsis neonatorum. severe sepsis and septic shock. World
2. Tidak terdapat hubungan yang bermak- Journal of Gastroenterology. 2009;
na antara kadar gula darah abnormal 15(33):4132-136.
dengan sepsis neonatorum. Kadar glu- 11. Ahmad S, Khalid R. Blood glucose levels
kosa darah pada penderita sepsis neo- in neonatal sepsis and probable sepsis and
natorum sama dengan kadar glukosa its association with mortality. Journal of
darah pada penderita non sepsis the College of Physicians and Surgeons
neonatorum, yaitu normal. Pakistan. 2012; 22(1):15-18.
Wowor, Rompis, Wilar; Hubungan Kadar Albumin Plasma... 231

12. Campos DP, Silva MV, Machado JR, akses : 2 Oktober 2012)
Castellano LR, Rodrigues V, Barata 18. Qian SY, Liu J. Relationship between
CHC. Early-onset neonatal sepsis: cord serum albumin level and prognosis in
blood cytokine levels at diagnosis and children with sepsis, severe sepsis or
during treatment. Jornal de Pediatria. septic shock. Zhonghua Er Ke Za Zhi.
2010; 86(6):509-14. 2012; 50(3):184-87.
13. Fernandez BA, Perez IC. Neonatal 19. Muniandy S, Qvist R, Yan GOS, Bee
hypoglycemia – current concepts. CJ, Chu YK, Rayappan AV. The
Hypoglycemia – Causes and Occurences. oxidative stress of hyperglycemia and the
2011. Madrid, Spain. inflammatory process in edothelial cells.
14. Perkin RM, Swift JD, Newton DA, Anas The Journal of Medical Investigation.
NG. Pediatric Hospital Medicine: 2009; 56:6-10.
Textbook of Inpatient Management 2nd 20. Wen-Kei Y, Wei-Qin L, Ning L, Jie-
edition; 2008; Philadelphia, USA. Shou L. Influence of acute hyperglycemia
15. Rahardjani KB. Hubungan Antara in human sepsis on inflammatory cytokine
Malondialdehyde (MDA) dengan Hasil and counterregulatory hormone
Luaran Sepsis Neonatorum. Sari Pediatri. concentrations. World J Gastroenterol.
2010; 12(2):82-7. 2003; 9(8):1824-27.
16. Nicholson JP, Wolmarans MR, Park 21. Andersen SK, Gjedsted J, Christiansen
GR. The role of albumin in critical illness. C, Tannesen E. The roles of insulin and
Br J Anaesth 2000; 85:599-601. hyperglycemia in sepsis pathogenesis.
17. Peralta R et al. Hypoalbuminemia Journal of Leukocyte Biology. 2004;
clinical presentation. Di akses dari 75(3): 413-21.
www.emedicine.medscape.com. (tanggal