You are on page 1of 16

MAKALAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


“AKHLAK TERHADAP LINGKUNGAN”

disusun oleh
Yulinar 16.052.018.013

UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
2018

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan
judul Akhlak terhadap Lingkungan seperti yang diharapkan. Tak lupa pula
penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu.

Penulis sadar akan makalah ini yang masih memiliki banyak kekurangan
disebabkan pengalaman yang kurang dalam kegiatan ini. Harapan saya kepada
pembaca untuk memberikan masukan-masukan demi sempurnanya makalah ini ke
depannya.

Makassar, 07 Januari 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………i

Daftar Isi ………………………………………………………ii

Bab I : Pendahuluan
A. Latar Belakang ……………………………………………………….1
B. Rumusan Masalah ……………………………………………………1
C. Tujuan Penulisan …………………………………………………….2

Bab II : Pembahasan
A. Pengertian Akhlak Terhadap Lingkungan….…………………………2
B. Cara Berakhlak Terhadap Lingkunga ………….……………………..5
C. Cara Menyikapi Bencana Alam ……...………………………………9

Bab III : Penutup


A. Kesimpulan…………………………………………………………...12
B. Saran………………………………………………………………….12

Daftar Pustaka………………………………………………………………13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Manusia sebagaimana makhluk lainnya memiliki keterkaitan dan
keterganrungan terhadap alam dan lingkungannya. Namu demikian, pada akhir-
akhir ini manusia justru semakin aktif mengambil langkah-langkah yang merusak,
atau bahkan menghancurkan lingkungan hidup. Hampir setiap hari kita
mendengar berita menyedihkan tentang kerusakan alam yang timbul padasumber
air, gunung, laut dan udara. Bencana lumpur Lapindo salah satu contohnya yang
tak kunjung usai, banjir, longsor, kekeringan, dan sebagainya, selalu menghiasi
berita di televisi maupun di Koran-koran.
Semakin hari, semakin berkembang teknologi. Dan hal ini erat kaitanyya
dengan alat yang digunakan manusia untuk meraup keuntungan lewat alam.
Akibat nafsu perusak yang dimiliki manusia denikian ini, tak jarang manusia
memanfaatkan, mengeksploitasi alam tanpa melakukan penghijauan kembali.
Sehingga, dampak utama dari usaha-usaha tersebut mendatangkan amat banyak
bencana. Namun, dilain sisi bagi manusia yang berakhlak memandang dari segi
adanya keterkaitan antara manusia dan lingkungan. Dimana, mereka memandang
alam sebagai sahabat yang harus di jaga dan dilestarikan sebagaimana perintah-
Nya terhadap orang-orang beriman.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa Pengertian Akhlak terhadap lingkungan ?
2. Bagaimana cara berakhlak terhadap lingkungan ?
3. Bagaimana cara menyikapi bencana alam?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui hubungan antara lingkungan dengan manusia.
2. Untuk mengetahui sikap yang perlu dilakukan terhadap lingkungan.
3. Untuk mengetahui cara menyikapi bencana alam.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akhlak Terhadap Lingkungan


Pada dasarnya, akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan
bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya
interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam
lingkungan. Kekhalifahan mengandung arti pengayom, pemeliharaan, dan
pembimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptanya.
Dalam pandangan akhlak islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil
buah sebelum matang atau memetik bunga sebelum mekar. Karena hal ini berati
tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan
penciptaannya. Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-
proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi,
sehingga ia tidak melakukan pengrusakan atau bahkan dengan kata lain, setiap
perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia
sendiri.
Akhlak yang baik terhadap lingkungan adalah ditunjukkan kepada
penciptaan suasana yang baik, serta pemeliharaan lingkungan agar tetap
membawa kesegaran, kenyamanan hidup, tanpa membuat kerusakan dan polusi
sehingga pada akhirnya akan berpengaruh terhadap manusia itu sendiri yang
menciptanya.
Agama islam adalah agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi
hubungan manusia dengan alam lingkungan. Islam mengajarkan dan menetapkan
prinsip-prinsip atau konsep dasar akhlak bagi manusia tentang bagaimana
bersikap terhadap alam lingkungannya. Ini merupakan wujud kesempunaan Islam
dan salah satu bentuk nikmat dan kasih sayang Allah yang tidak terbatas. Allah
berfirman: “pada hari ini Aku sempurnakan untukmu agamamu,aku limpahkan
atas kamu nikmat-Ku,dan Aku ridlai Islam sebagai agamamu” (Q.S Al-
Maidah:3).

2
Prinsip Islam selalu menyeimbangkan semua hal dalam kehidupan
manusia.Islam tidak mengizinkan manusia untuk lebih atau hanya memperhatikan
satu sisi dengan menghabiskan sisi yang lain.Ini bisa terwujud dalam prinsip atau
nilai-nilai Islam karena ia terbebas dari kekangan hawa nafsu dan diciptakan oleh
sang pencipta manusia, Dzat yang membuat hidup mereka mulia, mendapatkan
rahmat, dan hidayah demi kebaikan mereka di dunia dan akhirat.

Sikap Islam dalam memperhatikan alam lingkungan bertujuan demi


kebaikan manusia baik di dunia maupun di akhirat, sesuai prinsip-prinsip umum
berikut ini:
a) Prinsip pertama,
Bahwa disisi Allah manusia adalah makhluk yang mulia.Allah telah
menundukkan semua yang ada dilangit dan dibumi untuk memudahkan manusia.
Allah berfirman: “Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam,kami
angkut mereka didaratan dan dilautan,kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik
dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan
makhluk yang telah kami ciptakan” (Q.S Al-Israa:70).

Kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia adalah bentuk yang indah,
kemampuan untuk berbicara, free will, dan kemampuan berjalan dimuka bumi, di
udara, dan di lautan dengan berbagai bentuk kendaraan. Disamping itu, mereka
juga mendapatkan anugerah rizqi yang berlimpah berupa makanan yang lezat dan
baik. Di tambah lagi keutamaan akal, pikiran, wahyu, Rasul, dan lainnya, serta
kemuliaan dan karomah jika taat kepada Allah.

b) Prinsip kedua
Manusia dituntut untuk memakmurkan dan melestarikan bumi. Hal ini dapat
terimplementasi dalam beberapa hal sebagai berikut:
 Belajar, mencari ilmu dan mengajar.
 Menunaikan amar ma’ruf nahi munkar.
 Berjihad dijalan Allah dengan tujuan agar ajaran Allah tetap jaya.

3
 Mematuhi konsep dan aturan Islam dalam kehidupan yang
merupakan bentuk ibadah kepada Allah, serta mengikuti prinsip
musyawarah, keadilan, menolak kerugian, serta mewujudkan
kemaslahatan.

c) Prinsip ketiga
Manusia dituntut untuk berfikir dan merenungkan apa yang ada dilangit dan
apa yang ada bumi. Hal ini bertujuan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik
dengan memanfaatkan yang ada di sekelilingnya, serta lebih dapat mendekatkan
diri kepada Allah sehingga memperoleh ridho-Nya. Akan tetapi, dalam
menggunakan akal, pikiran, dan dalam perenungannya, manusia tidak boleh
melampaui apa yang telah digariskan oleh Allah.

d) Prinsip keempat
Manusia dituntut untuk menghiasi diri mereka dengan keutamaan-
keutamaan, meninggalkan hal-hal yang tercela dan berinteraksi dengan baik antar
sesama manusia dan lingkungannya.

e) Prinsip kelima
Interaksi manusia dengan alam lingkungan bukanlah sebuah konflik ataupun
peperangan. Akan tetapi, interaksi manusia dengan alam lingkungan adalah
ketundukan alam untuk membantu manusia dengan tetap menjaga keseimbangan
yang menempatkan manusia dan alam lingkungn pada posisinya masing-masing.

f) Prinsip keenam
Ajaran Islam telah memberikan kebebasan kepada umat manusia dalam
berakidah, beribadah, mengungkapkan pendapat, bekerja dan mencari bekal
hidup, serta kebebasan-kebebasan lain yang sangat mereka butuhkan dalam
kehidupan.

4
Prinsip-prinsip dasar diatas jika dilaksanakan dapat mewujudkan kebaikan
dan kebahagiaan bagi manusia. Karena prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar akhlak
dalam Islam berasal dari Allah SWT, sehingga tidak mengherankan jika prinsip-
prinsip dan nilai-nilai tersebut sesuai bagi kehidupan manusia, baik didunia
maupun diakhirat.

B. Cara Berakhlak Terhadap Lingkungan

Adapun diantara akhlak kita terhadap lingkungan yaitu salah satunya


menjaga dan melakukan pembaharuan (reboisasi) terhadap hasil alam yang di
panen agar tidak terjadi bencana alam.
Banyak cara yang dilakukan dalam berkhlak terhadap lingkungan.
Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Keharusan Menjaga Lingkungan Hidup

Menjaga kelestarian lingkungan hidup dan tidak melakukan kerusakan


didalamnya merupakan suatu keharusan bagi setiap manusia. Karena itu, setiap
individu yang melakukan kerusakan hidup dianggap sebagai sesuatu yang tidak
baik sehingga orang munafik sekalipun tidak mau dituduh telah melakukan
kerusakan di muka bumi ini meskipun ia sebenarnya telah melakukan kerusakan,
Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka : janganlah kamu membuat


kerusakan di muka bumi, mereka menjawab : Sesungguhnya kami orang yang
mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang
membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari” (QS. Al-Baqarah : 11-12)

Oleh karena itu, orang-orang yang suka melakukan kerusakan dimuka bumi
harus di waspadai, sehingga Allah berfirman :

5
“Dan apabila ia (munafik) berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi
untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan
binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan (QS. Al-Baqarah : 205)

2. Anjuran Menanam Pohon


Agar lingkungan hidup yang kita diami tetap asri dan lestari, maka kaum
muslimin sangat dianjurkan untuk menanam pohon, dengan adanya pohon,
apalagi pohon yang besar, manusia akan memperoleh keuntungan seperti
penghijauan, air hujan bisa menyerap lebih banyak ke dalam tanah sebagai
cadangan air, udara tidak terlalu panas, buah yang dihasilkan serta kayu yang
bisadimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Anjuran menanam pohon ini
terdapat dalam hadits Nabi SAW:

Jika hari kiamat datang dan pada tangan seseorang diantara kamu terdapat
sebuah bibit tanaman, jika ia mampu menanamnya sebelum datangnya kiamat itu,
maka hendaklah iamenanamnya (HR. Ahmad & Bukhari)

Manakala pohon yang ditanam itu menghasilkan buah yang banyak, maka
pahala untuk orangyang menanam pohon itu akan lebih besar lagi, Rasulullah
SAW bersabda:

Tidak seorangpun menanam tanaman, kecuali ditulis baginya pahala sesuai


dengan buah yang dihasilkan oleh tanaman itu (HR. Ahmad)

3. Tidak Boleh Buang Hadas Di Jalan, Tempat Bernaung dan Dekat


Sumber Air

Lingkungan hidup yang bersih, indah dan nyaman merupakan dambaan bagi
setiap orang, karena itu harus dicegah adanya usaha untuk mengotori lingkungan,
karena itu Rasulullah SAW melarang "siapapun untuk membuang air di jalan,
tempat bernaung maupun dekat sumber air" serta "Takutlah kepada dua hal yang
dilaknati. Mereka (sahabat) bertanya: Apakah dua hal yang dilaknati itu, ya

6
Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : orang yang membuang hajat di jalan
umum atau di bawah pohon tempat orang berteduh (HR. Muslim)

4. Tidak Membuang Hajat di Air yang Tergenang


Air merupakan kebutuhan yang sangat utama bagi masusia, dalam
kehidupan sekarang, manusia tidak hanya mengandalkan air dari dalam tanah, tapi
justeru sekarang ini banyak orang yang mengandalkan air sungai yang dibersihkan
dan disucikan. Karena itu, manusia jangan sampai mengotori atau mencemari air
sungai. Disamping itu, kebersihan lingkungan juga harus dijaga dandipelihara
dengan tidak "buang air" pada air yang tergenang, karena hal itu akan
mendatangkan penyakit dan bau yang tak sedap, Rasulullah SAW bersabda:

Jabir ra berkata: Rasulullah SAW telah melarang kencing dalam air yang
berhenti tidak mengalir (HR. Muslim).

5. Memelihara Tanaman
Ketika para sahabat telah menanam pohon kurma, mereka ingin agar pohon
itu tumbuh denganbaik dan menghasilkan buah yang banyak, tapi mereka agak
bingung bagaimana harus mengurusnya, karenanya mereka bertanya kepada nabi
tentang hal itu, namun nabi menjawab : "Kamu lebih tahu tentang urusan
duniamu". Kisah di atas menunjukkan bahwa pohon yang sudah ditanam harus
dipelihara dengan sebaik-baiknya, namun teknisnya diserahkan kepada masing-
masing orang sesuai denganperkembangannya. Dalam kaitan dengan memelihara
tanaman, penebangan pohonpun sedapat mungkin dihindari, kecuali bila hal itu
memang sangat diperlukan, itupun bila tidak menganggu lingkungan, ini berarti
harus sesuai dengan izin Allah Swt meskipun dalam keadaan perang, Allah Swt
berfirman:

Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang kafir) atau yang
kamu biarkan(tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan

7
izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang
fasik (QS. Al- Hasyr :5).

6. Boleh Memakan Buah

Bagi seorang muslim, disadari bahwa Allah Swt telah menganugerahkan


buah yang begitu banyak macamnya, karenanya boleh saja kita memakannya,
namun jangan sampai berlebih-lebihan, setelah itu jangan sampai lupa
memanjatkkan rasa syukur dengan menunaikan zakatnya pada saat panen, Allah
berfirman yang artinya:

"Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama rasanya.
Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya dari memetik hasilnya (zakat); dan janganlah kamu berlebih-
lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS.
Al-An'am : 141).

7. Tidak Menggunakan Air Secara Boros

Hal yang juga amat penting untuk mendapat perhatian kita adalah
menggunakan air secara hemat, karenanya wudhu itu masing-masing dilakukan
maksimal tiga kali, meskipun wudhu pada air yang banyak, bahkan wudhu di
sungai sekalipun, karenanya Rasulullah berwudhu hanya menggunakan sedikit air,
hal ini tergambar dalam hadits:

"Adalah Rasulullah Saw berwudhu, dengan satu mud air (HR. Abu Daud
dan Nasa'l).

Datang seorang Badui kepada nabi Saw, kemudian bertanya kepada beliau
tentang wudhu,maka nabi Saw memperlihatkan padanya tiga kali, tiga kali, lalu

8
sabda: "Inilah wudhu, siapa yang lebih berarti telah berbuat keburukan dan
kezaliman (HR. Nasa'l, Ahmad dan Ibnu Majah).

8. Meminta Hujan Saat Kemarau

Musim kemarau apalagi kemarau panjang bisa mengakibatkan kesengsaraan


bagi manusia, karena bisa mengakibatkan kekurangan persediaan air yang pada
akhirnya kegagalan dalam pertanian dan perkebunan. Bahkan musim kemarau
bisa mengakibatkan bencana yang lebih besar lagi seperti mudahnya terjadi
kebakaran, termasuk kebakaran hutan. Disamping itu, kesengsaraan juga dialami
oleh binatang yang kesulitan bahan makanan karena daun dan rumput yang
biasadimakan menjadi kering serta kesengsaraan bagi lingkungan hidup itu
sendiri. Oleh karena itu, sebagai upaya menumbuhkan alam lingkungan yang
subur, indah dan nyaman, menjadi suatukeharusan bagi kaum muslimin untuk
berdo’a meminta hujan dengan melaksanakan shalat istisqa.

C. Cara Menyikapi Bencana Alam

Akibat dari perbuatan kebanyakan manusia yang ada saat ini, menjadikan
manusia itu sendiri kelabakan dalam menemukan solusi dan akan sadar saat
bencana itu terjadi.
Seperti sabda Rasulullah SAW, "siapa yang akan diberi limpahan kebaikan
dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu. (HR. Bukhari Muslim)

Semua ujian haruslah kita hadapi dengan kesabaran, karena kesabaran adalah
sebuah tanda lulusnya sebuah ujian, seperti pada sebuah hadis : "Sungguh
menakjubkan perkara orang yang beriman seluruh perkaranya menjadi baik.
Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu memba'a kebaikan baginya. Dan ketika
mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya. (Al-

9
Hadis). Atau Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.(QS. Al-Baqarah : 286)

Bahwa seberat apapun ujian yang berupa musibah alam raya ini, kita yakin
Allah pasti sudah proprosional dalam mengujinya dan tidak akan melebihi dari
kesanggupan dalam menjalaninya bagi orang yang tertimpa.

Apapun bentuk musibah yang di derita oleh seorang muslim, baik itu berupa
kesususahan, penderitaan maupun penyakit, Allah akan menghapus sebagian
kesalahan dan dosa, dengan demikian derajat para korban bencana akan mulia,
bagi yang meninggal dunia dia akan mati syahid dan bagi yang masih hidup
tentunya dengan kesabaran atas penderitaan itu Allah akan hapus sebagian
kesalahan dan dosa dosanya.

Kelima bagi kita yang tidak secara langsung mengalami musibah itu,
hendaknya kita jadikan peristiwa itu sebagai momentum untuk menyaksikan
kebesaran dan keagungan Allah, sehingga akan menguatkan iman kita pada sang
pencipta alam semesta. Marilah kita bayangkan apabila musibah itu menimpa diri
kita sendiri, keluarga kita, atau temen-teman kita, tentunya kita akan menderita
dan susah menjalani cobaan besar ini. Maka marilah kita bantu para korban
bencana semaksimal mungkin karena sekecil apapun bantuan itu akan sangat
berharga sekali bagi kehidupan para korban yang masih hidup. Kita berharap
musibah ini akan membawa kebaikan-kebaikan dalam ridlo Allah. Kita semua
berduka atas musibah ini. Kita semua harus mohon ampun atas semua dosa.
Namun, kita tidak boleh mengeluh dan bersedih berkepanjangan serta kehilangan
harapan pada Allah sembari bertobat dan mohon petunjuk Allah, mari kita baca
hikmah dan pembelajaran dari musibah ini.

Jalan terbaik menyikapi musibah adalah kita pasrahkan diri kita kepada
Allah Swt dengan sikap tawakkal dan tawaddhu' serta bersabar. Mudah-mudahan
banyak hikmah yang bisa kita petik dan ambil pelajaran dalam mengarungi
kehidupan ini.

10
Selain meneladani perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kita
harus menyikapi musibah yang terjadi dan menimpa kita dengan tetap ber-
husnuzhon kepada Allah Swt, berbaik sangka kepada-Nya dengan memandang
serba positif terhadap keputusan yang Allah ambil. Baik terhadap diri kita, orang
lain dan alam seluruhnya. Orang yang ber-husnuzhon terhadap Allah Swt
memiliki pandangan yang luas yang didasari oleh keimanan yang tangguh. Ia
meyakini bahwa segala keputusan atau takdir Allah baik berupa kesenangan
maupun yang menyusahkan tidak mungkin ditujukan-Nya untuk menyengsarakan
umat manusia. Keputusan Allah atas manusia tadi adalah bentuk dari pendidikan,
cobaan atau ujian untu kmengukur sejauh mana keimanan seseorang. Bagi yang
memiliki sifat husnuzhon kepada Allah Swt, bila ia mendapat ujian kenikmatan
tidak sombong tetapi tetap tawaddhu’ dan bila mendapat musibah di kala sulit
tidak berkeluh kesah, tetap kukuh berprasangka baik kepada-Nya. Karena Allah
tidak akan memberikan beban kepada umat-Nya diluar kemampuan. Hal ini Allah
tegaskan dalam firman-Nya : "Allah menghendaki kemudahan bagimu, bukan
kesusahan.(QS. Al-Baqarah : 185)

11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dia (Allah) menundukkan untuk kamu; semua yang ada di langit dan di
bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya (QS Al-Jatsiyah [45]: 13). Ini berarti
bahwa alam raya telah ditundukkan Allah untuk manusia. Manusia dapat
memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Semua yang ada di bumi
termasuk alam semesta diciptakan untuk manusia. Seharusnya kita menyadari
bahwa Allah manciptakan flora & fauna untuk kemanfaatan manusia, seperti
halnya, dengan mengambil manfaat dari buah-buahan. Karena itu kita harus
menjaga dan melestarikannya. Jangan sampai kita membuat kerusakan terhadap
flora & fauna.
Oleh karena itu marilah kita berakhlak baik kepada lingkungan yaitu
dengan menjaga, merawat dan melestarikannya sehingga akan terwujud
kehidupan yang aman damai sejahtera dan hal itu tentunya menjadi tujuan adanya
etika di dalam masyarakat baik berbangsa maupun bernegara.

B. Saran
Diharapkan kepada seluruh umat yang ada di dunia ini untuk senantiasa
berbuat baik dalam menjaga kelestarian alam agar tidak mendatangkan bencana
alam.
Sebagai hamba yang beriman sudah pasti mengetahui hakikat dari adanya
penciptaan alam di dunia ini, begitupun jika manusia itu ditimpa musibah dan
bencana, tujuan dari adanya hal tersebut ialah untuk mengingatkan manusia akan
kebesaran dan meyakini-Nya bahwa Allah menginginkan hambanya senantiasa
beribadah kepadanya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin dan Ruslan. 2015. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 5 (AKHLAK).


Makassar UIM.
Juliansyah, A. 2017. Akhlak terhadap lingkungan, (Online),
(https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd
=1&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwiChMf63NrfAhXFMo8KHeWGBw
UQFjAAegQIChAB&url=http%3A%2F%2Fwww.academia.edu%2F1295
5476%2Fakhlak_terhadap_lingkungan&usg=AOvVaw0EoET6urDHpdc9
CIfU9KVB, diakses pada 7 Januari 2019)
Mrizawati. 2014. Makalah Akhlak terhadap Lingkungan, (Online),
(http://mrizawati.blogspot.com/2014/05/makalah-akhlak-terhadap-
lingkungan.html, diakses pada 7 Januari 2019)

13