You are on page 1of 24

KELENJAR TIROID

DISUSUN OLEH :

NAMA : GUSTI YAWATI

NPM : 101009314401058

DOSEN PEMBIMBING :

Ns.HANY RUHDEWI, S.Kep

YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO

AKADEMIK KEPERAWATAN MUARA BUNGO

TAHUN AJARAN 2011-2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, sehingga saya dapat
menyelesaikan pembuatan tugas ini dengan judul “kelenjar tiroid”. Tugas ini dibuat untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah. Dalam tugas ini saya membahas tentang kelenjar tiroid

Semoga tugas ini bermanfaat bagi diri saya khususnya dan pembaca pada umumnya. Tak ada
gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran
dan kritik yang konstruktif sangat saya harapkan dari para pembaca guna peningkatan pembuatan
tugas yang lain pada waktu mendatang

Penulis, – April-2012

( GUSTI YAWATI )

DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

1.1 Latar Belakang……………………………………………………i

1.2 Tujuan …………………………………………………………….ii

1.3 Rumusan Masalah……………………………………………..…ii

BAB II

2.1 Pengertian ………………………………………………….……..2

2.2 Etiologi………….. …………………………………………….….3

2.3 Fisiologi .…………………………………………………..……….3


2.4 Gejala dan dampak ………………………………………………8

BAB III

ASUHAN KEPERWATAN

3.1 Tinjauan………………..……………….………………………..15

3.2 penatalaksanaan…………..………………………………….….20

3.3 Hipertrofi …………………………………..…………………….25

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan ……………………………………………………….x

4.2 Saran………………………………………………………………xi

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

I.1. Latar Belakang

Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang mempertahankan tingkat metabolisme di berbagai


jarinan agar optimal sehingga mereka berfungsi normal. Hormon tiroid merangsang konsumsi
oksigen pada sebagian besar sel di tubuh , membantu mengatur metabolisme lemak dan
karbohidrat, dan penting untuk pertumbuhan dan pematangan normal.

Kelenjar tiroid tidak esensial bagi kehidupan, tetapi ketiadaannya menyebabkan perlambatan
perkembangan mental dan fisik, berkurangnya daya tahan terhadap dingin, serta pada anak–anak
timbul retardasi mental dan kecebolan. Sebaliknya, sekresi tiroid yang berlebihan menyebabkan
badan menjadi kurus, gelisah, takikardia, tremor, dan kelebihan pembentukan panas.

Fungsi tiroid diatur oleh hormone perangsang tiroid dari hipofisis anterior. Sebaliknya , sekresi
hormone ini sebagian diatur oleh umpan balik inhibitorik langsung kadar hormontiroid yang
tinggi pada hipofisis serta hipotalamus dan sebagian lagi melalui hipotalamus. Dengan cara ini,
perubahan–perubahan pada hipofisis serta hipotalamus dan sebagian lagi melalui hipotalamus.
Dengan cara ini, perubahan–perubahan.

Dalam hal ini perawat dituntut untuk dapat profesional dalam menangani hal-hal yang terkait
dengan hipotirod misalnya saja dalam memberikan asuhan keperawatan harus tepat dan cermat
agar dapat meminimalkan komplikasi yang terjadi akibat hipotiroid.

I.2. Tujuan

1. 1. Tujuan Umum

Menjelaskan tentang konsep disfungsi Tiroid serta pendekatan asuhan keperawatannya.

1. 2. Tujuan Khusus
2. Mengidentifikasi definisi dari tiroid.
3. Mengidentifikasi etilogi hipotiroid.
4. Mengidentifikasi manifestasi klinis hipotiroid.
5. Menguraikan patofisiologi hipotiroid.
6. Mengidentifikasi penatalaksaan serta pencegahan pada hipotiroid.
7. Mengidentifikasi pengkajian pada klien dengan tiroid.
8. Mengidentifikasi diagnosa pada klien dengan tiroid.
9. Mengidentifikasi intervensi pada klien dengan tiroid.

I.3. Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari tiroid?


1. Bagaimana etilogi dari hipotiroid?
2. Apakah manifestasi klinis darihipotiroid?
3. Bagaimana patofisiologi padahipotiroid?
4. Bagaimana penatalaksaan serta pencegahan pada hipotiroid?
5. Bagaimana pengkajian pada klien dengan hipotiroid?
6. Bagaimana diagnosa pada klien dengan hipotiroid?
7. Bagaimana intervensi pada klien dengan hipotiroid?

BAB II

KELENJAR TIROID
PENDAHULUAN

Tubuh kita terdiri dari sistem-sistem yang memiliki peran penting bagi tubuh. Salah satunya
system endokrin. System ini meliputi system dalam tubuh manusia yang terdiri dari beberapa
kelenjar penghasil hormone, disebut dengan system atau kelenjar endokrin.

Kelenjar tiroid termasuk dalam system endokrin selain kelenjar hipofise, kelenjar paratiroid,
kelenjar suprarenal, pulau langerhans, dan kelenjar kelamin. Kelenjar ini berbentuk seperti kupu-
kupu dan terletak di pangkal leher tepat di bawah jakun.

Kelenjar tiroid merupakan pengendali utama metabolisme tubuh. Kelenjar ini bertugas
menghasilkan, menyimpan, dan melepaskan hormone tiroid ke dalam peredaran darah.

Hormon tiroid terdiri dari hormon tiroksin (T4) dan tri-iodotironin (T3). Hormon-hormon inilah
yang memproduksi energi dari zat gizi dan oksigen sehingga mampu mempengaruhi fungsi
seluruh sel, jaringan, dan organ dalam tubuh.

Agar jumlah hormon yang dihasilkan tidak berlebih atau kurang, kelenjar tiroid bekerjasama
dengan hipotalamus dan kelenjar hipofise yang terletak di otak.

Hipotalamus merupakan organ penghasil thyrotropin releasing hormone (TRH) yang


merangsang kelenjar hipofise untuk memproduksi thyroid stimulating hormone (TSH). TSH ini
yang dialirkan lewat peredaran darah menuju kelenjar tiroid dan menstimulasinya untuk
memproduksi dan melepaskan T3 dan T4.

Gangguan dalam mekanisme pengaturan ini dapat menyebabkan terjadinya disfungsi tiroid.
Namun banyak orang yang masih belum mengetahui gejala maupun dampak dari disfungsi
tiroid. Akibatnya lebih dari separuh penderita disfungsi tiroid di dunia tidak menyadari kondisi
mereka.

II.1.PENGERTIAN

Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat
dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya menyerupai
huruf H atau dasi kupu-kupu.

Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila
membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau
di samping jakun.
II.2.ETIOLOGI

Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid merupakan faktor penyebab
pembesaran kelenjar tyroid antara lain :

1. Defisiensi iodium
2. Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di daerah yang kondisi air
minum dan tanahnya kurang mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.
3. Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon tyroid.
4. Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam kol, lobak, kacang
kedelai).
5. Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya :thiocarbamide, sulfonylurea
dan litium).

II.3.FISIOLOGIS KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid, yang mengendalikan kecepatan metabolisme tubuh.
Hormon tiroid mempengaruhi kecepatan metabolisme tubuh melalui 2 cara :

1. Merangsang hampir setiap jaringan tubuh untuk menghasilkan protein.

2. Meningkatkan jumlah oksigen yang digunakan oleh sel.

Jika sel-sel bekerja lebih keras, maka organ tubuh akan bekerja lebih cepat. Untuk menghasilkan
hormon tiroid, kelenjar tiroid memerlukan iodium yaitu elemen yang terdapat di dalam makanan
dan air.

Iodium diserap oleh usus halus bagian atas dan lambung, dan kira-kira sepertiga hingga
setengahnya ditangkap oleh kelenjar tiroid, sedangkan sisanya dikeluarkan lewat air kemih.

Hormon tiroid dibentuk melalui penyatuan satu atau dua molekul iodium ke sebuah glikoprotein
besar yang disebut tiroglobulin yang dibuat di kelenjar tiroid dan mengandung asam amino
tirosin. Kompleks yang mengandung iodium ini disebut iodotirosin. Dua iodotirosin kemudian
menyatu untuk membentuk dua jenis hormon tiroid dalam darah yaitu :

1. Tiroksin (T4), merupakan bentuk yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, hanya memiliki
efek yang ringan terhadap kecepatan metabolisme tubuh.
2. Tiroksin dirubah di dalam hati dan organ lainnya ke dalam bentuk aktif, yaitu
triiodotironin (T3).

T3 dan T4 berbeda dalam jumlah total molekul iodium yang terkandung (tiga untuk T3 dan
empat untuk T4 ). Sebagian besar (90%) hormon tiroid yang dilepaskan ke dalam darah adalah
T4, tetapi T3 secara fisiologis lebih bermakna. Baik T3 maupun T4 dibawa ke sel-sel sasaran
mereka oleh suatu protein plasma.

1. A. Pembentukan dan Sekresi Hormon Tiroid

Ada 7 tahap, yaitu:

1. Trapping

Proses ini terjadi melalui aktivitas pompa iodida yang terdapat pada bagian basal sel folikel.
Dimana dalam keadaan basal, sel tetap berhubungan dengan pompa Na/K tetapi belum dalam
keadaan aktif. Pompa iodida ini bersifat energy dependent dan membutuhkan ATP. Daya
pemekatan konsentrasi iodida oleh pompa ini dapat mencapai 20-100 kali kadar dalam serum
darah. Pompa Na/K yang menjadi perantara dalam transport aktif iodida ini dirangsang oleh

TSH.

1. Oksidasi

Sebelum iodida dapat digunakan dalam sintesis hormon, iodida tersebut harus dioksidasi terlebih
dahulu menjadi bentuk aktif oleh suatu enzim peroksidase. Bentuk aktif ini adalah iodium.
Iodium ini kemudian akan bergabung dengan residu tirosin membentuk monoiodotirosin yang
telah ada dan terikat pada molekul tiroglobulin (proses iodinasi). Iodinasi tiroglobulin ini
dipengaruhi oleh kadar iodium dalam plasma. Sehingga makin tinggi kadar iodium intrasel
maka akan makin banyak pula iodium yang terikat sebaliknya makin sedikit iodium di intra sel,
iodium yang terikat akan berkurang sehingga pembentukan T3 akan lebih banyak daripada T4.

1. Coupling

Dalam molekul tiroglobulin, monoiodotirosin (MIT) dan diiodotirosin (DIT) yang terbentuk dari
proses iodinasi akan saling bergandengan (coupling) sehingga akan membentuk triiodotironin
(T3) dan tiroksin (T4).

1. Penimbunan (storage)

Produk yang telah terbentuk melalui proses coupling tersebut kemudian akan disimpan di dalam
koloid. Tiroglobulin (dimana di dalamnya mengandung T3 dan T4), baru akan dikeluarkan
apabila ada stimulasi TSH.

1. Deiodinasi
Proses coupling yang terjadi juga menyisakan ikatan iodotirosin. Residu ini kemudian akan
mengalami deiodinasi menjadi tiroglobulin dan residu tirosin serta iodida. Deiodinasi ini
dimaksudkan untuk lebih menghemat pemakaian iodium.

1. Proteolisis

TSH yang diproduksi oleh hipofisis anterior akan merangsang pembentukan vesikel yang di
dalamnya mengandung tiroglobulin. Atas pengaruh TSH, lisosom akan mendekati tetes koloid
dan mengaktifkan enzim protease yang menyebabkan pelepasan T3 dan T4 serta deiodinasi MIT
dan DIT.

1. Pengeluaran hormon dari kelenjar tiroid (releasing)

Proses ini dipengaruhi TSH. Hormon tiroid ini melewati membran basal dan kemudian ditangkap
oleh protein pembawa yang telah tersedia di sirkulasi darah yaitu Thyroid Binding Protein (TBP)
dan Thyroid Binding Pre Albumin (TBPA). Hanya 0,35% dari T4 total dan 0,25% dari T3 total
yang berada dalam keadaan bebas. Ikatan T3 dengan TBP kurang kuat daripada ikatan T4
dengan TBP. Pada keadaan normal kadar T3 dan T4 total menggambarkan kadar hormon bebas.

Namun dalam keadaan tertentu jumlah protein pengikat bisa berubah. Pada seorang lansia yang
mendapatkan kortikosteroid untuk terapi suatu penyakit kronik cenderung mengalami penurunan
kadar T3 dan T4 bebas karena jumlah protein pembawa yang meningkat. Sebaliknya pada
seorang lansia yang menderita pemyakit ginjal dan hati yang kronik maka kadar protein binding
akan berkurang sehingga kadar T3 dan T4 bebas akan meningkat.

1. B. Efek Primer Hormon Tiroid

Sel-sel sasaran untuk hormon tiroid adalah hampir semua sel di dalam tubuh. Efek primer
hormon tiroid adalah:

1. Merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan meningkatkan metabolisme protein,


lemak, dan karbohidrat.
2. Merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran.

Kedua fungsi bertujuan untuk meningkatkan penggunaan energi oleh sel, terjadi peningkatan laju
metabolisme basal, pembakaran kalori, dan peningkatan produksi panas oleh setiap sel.

1. Meningkatkan responsivitas sel-sel sasaran terhadap katekolamin sehingga meningkatkan


frekuensi jantung.
2. meningkatkan responsivitas emosi.
3. Meningkatkan kecepatan depolarisasi otot rangka, yang meningkatkan kecepatan
kontraksi otot rangka.
4. Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal semua sel tubuh
dan dibutuhkan untuk fungsi hormon pertumbuhan.
II.4. GEJALA DAN DAMPAK DISFUNGSI TIROID

Terdapat dua macam disfungsi tiroid, yaitu hipotiroid dan hipertiroid. Hipotiroid merupakan
kejadian dimana kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup banyak hormone tiroid. Sehingga
metabolisme tubuh menjadi lambat.

v Gejala Hipotiroid :

 Mudah lelah
 Mengantuk
 Kedinginan
o Berat badan cenderung bertambah walaupun pola makan wajar dan olah raga
teratur
o Depresi
o Konstipasi
o Nyeri otot dan sendi
o Kulit kering bersisik
o Rambut dan kuku menipis dan rapuh
o Penurunan libido
o Gangguan menstruasi

v Penyebab Hipotiroid bisa bermacam-macam, yaitu :

 Penyakit autoimun

Hipotiroid akibat autoimun ini dikenal dengan Tiroiditis Hashimoto. Pada kondisi ini tubuh
menyerang kelenjar tiroid karena menganggapnya sebagai sel asing. Hal ini menyebabkan sel-sel
dalam kelenjar tiroid mati dan tidak dapat menghasilkan hormone tiroid.

 Kehilangan jaringan tiroid

Biasa terjadi secara sekunder akibat penyinaran (radiasi) atau operasi kelenjar tiroid yang
dilakukan sebagai pengobatan hipertiroid.

 Kelainan congenital

v Kelenjar tiroid tidak berfungsi secara normal sejak lahir

Konsumsi obat-obatan, seperti lithium yang sering digunakan untuk terapi gangguan
mood.Hipertiroid adalah kebalikan dari hipotiroid. Kelenjar tiroid bekerja terlalu aktif sehingga
menghasilkan hormone tiroid secara berlebihan. Akibatnya, metabolisme tubuh menjadi lebih
cepat. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita.

v Gejala Hipertiroid :
 Denyut jantung sangat cepat (lebih dari 100 kali per menit)
 Keringat berlebih dari biasanya
 Tangan gemetar
 Peningkatan frekuensi buang air besar
 Pertumbuhan kuku yang sangat cepat
 Rambut rontok
 Kulit tipis dan halus
 Penurunan berat badan meskipun pola makan normal
 Cemas, mudah tersinggung
 Terjadi gangguan menstruasi

v Penyebab Hipertiroid :

 Penyakit Grave

Merupakan salah satu penyakit autoimun. Tubuh menyerang sel-sel kelenjar tiroid tapi tidak
mematikan sel, justru membuat antibodi (thyrotropin receptor antibody) yang merangsang
kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid secara berlebih.

Sehingga terjadi pembengkakan pada pada salah satu organ tubuh. Salah satu ciri khasnya mata
yang menonjol keluar dari rongga mata da tatapan seperti ketakutan.

 Adenoma (tumor kelenjar) tiroid toksik

Sebagian kelenjar tiroid memproduksi hormone tiroid sendiri tanpa distimulasi oleh TSH. Biasa
dialami oleh penderita goiter (pembesaran kelenjar tiroid) jangka panjang, terutama lanjut usia.

 Tiroiditis

Peradangan pada kelenjar tiroid yang menyebabkan produksi hormone berlebihan. Sehingga
dapat berakibat terjadinya hipertiroidisme yang berlangsung selama berminggu-minggu sampai
beberapa bulan.

 Adenoma hipofise

Tumor pada kelenjar hipofise yang menyebabkan produksi TSH berlebihan menyebabkan
kelenjar tiroid memproduksi hormon secara berlebihan.

v Gejala Penyakit Tiroid

Hipertiroidisme Hipotiroidisme
Denyut jantung yg cepat Denyut nadi yg lambat
Tekanan darah tinggi Suara serak
Kulit lembat & berkeringat banyak Berbicara menjadi lambat
Gemetaran Alis mata rontok
Gelisah Kelopak mata turun
Nafsu makan bertambah disertai penambahan
Tidak tahan cuaca dingin
berat badan
Sulit tidur Sembelit
Sering buang air besar & diare Penambahan berat badan
Lemah Rambut kering, tipis, kasar
Kulit diatas tulang kering menonjol & Kulit kering, bersisik, tebal, kasar
menebal Kulit diatas tulang kering menebal & menonjol
Mata membengkak, memerah & menonjol Sindroma terowongan karpal
Mata peka terhadap cahaya Kebingungan
Mata seakan menatap Depresi
Kebingungan Demensia

v Kekurangan tiroid

Salah satu penyebab goiter alias gondok yang paling sering di dunia ialah kekurangan yodium.
Kelenjar tiroid tidak dapat menghasilkan hormon tiroid memadai tanpa yodium yang cukup.

Untuk mengatasi, di Indonesia, zat ini biasanya ditambahkan pada bahan yang digunakan sehari-
hari, seperti garam. Jika kekurangan yodium, kelenjar pituitary melepaskan TSH merangsang
kelenjar tiroid meningkatkan produksinya.

Rangsangan berlebihan dalam jangka waktu lama mengakibatkan kelenjar tiroid


membesar.Imam mengatakan, gejala hipotiroid (kekurangan tiroid), antara lain lemah, lesu, sulit
berpikir, dan mengantuk terus. Metabolisme tubuh melemah. Gejala ini kerap tidak disadari.

Kekurangan tiroid pada perempuan hamil dalam waktu panjang menyebabkan bayi yang
dilahirkan mengalami hipotiroid. Jika terlambat diintervensi, bayi akan terganggu pertumbuhan
otaknya.

Kepala Subdit Pengendalian Diabetes dan Penyakit Metabolik Kementerian Kesehatan Tjetjep
Ali Akbar mengatakan, untuk menghasilkan generasi muda yang cerdas, pemerintah berencana
melakukan penapisan kadar tiroid pada ibu hamil mulai tahun 2014. Hal itu dilakukan lewat
pemeriksaan darah untuk melihat kadar TSH.

Penyebab lain goiter ialah tiroiditis Hashimoto akibat otoimun. Terjadi perusakan kelenjar tiroid
oleh sistem kekebalan tubuh sendiri sehingga produksi hormon tiroid rendah.

Menurut Imam, jika hipotiroid disebabkan defisiensi yodium, akan diberikan suplemen yodium
oral. Penanganan hipotiroidisme bisa dengan terapi sulih hormon. Biasanya digunakan L-
tiroksin, bentuk sintetis dari T4.

v Kelebihan tiroid
Sebagian besar kelebihan hormon tiroid (hipertiroidisme) disebabkan penyakit Graves yang
merupakan penyakit autoimun. Dalam hal ini, sistem kekebalan tubuh menghasilkan protein
thyroid simulating immunoglobulin (TSI) yang menyerupai TSH. TSI juga merangsang kelenjar
tiroid memproduksi hormon tiroid dan menyebabkan goiter.

Pada penderita, metabolisme tubuh akan meningkat. Penderita kerap kepanasan, kelelahan di
malam hari, kesulitan tidur, tangan bergetar, dan detak jantung tidak beraturan.

Terapi dilakukan dengan yodium radioaktif sehingga goiter mengecil. Hipertiroid dapat pula
disebabkan gangguan sekresi TSH oleh kelenjar di otak.

Pembesaran kelenjar tiroid bisa juga akibat tumor jinak maupun ganas (kanker). Untuk itu,
diperlukan tes fungsi tiroid guna memastikan keaktifan kelenjar tiroid. Jika kelenjar tiroid
membesar merata dan terjadi hipertiroid, dokter akan melanjutkan dengan tes penyakit Graves.
Jika terjadi hipotiroid, kemungkinan terjadi tiroiditis Hashimoto. Untuk memastikan, dapat
dilakukan tes darah. Cara lain lewat pemindaian, ultrasonografi tiroid, maupun biopsi aspirasi
jarum halus

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

KLIEN DENGAN GANGGUAN KELENJAR TIROID

Penyakit akibat gangguan kelenjar tiroid umum terjadi,namun untungnya dapat di diagnosa
dengan cepat dan di obati dengan hasil yang sangat baik. Penyakit tiroid timbul sebagai
gangguan fungsi (hipofungsi atau hiperfungsi) atau sebagai lesi masa (perbesaran neoplasmaatau
nonneoplastik,yang di kenal sebagai goiter).

III.1. TINJAUAN GANGGUAN KELENJAR TIROID

1. A. HIPERTIROIDISME

Hipertiroidisme digambarkan sebagai suatu kondisi dimana terjadi kelebihan sekresi hormon
tiroid. Tirotoksikosis mengacu pada manivestasi klinis yang terjadi bila jaringan tubuh di
stimulasi oleh peningkatan hormon ini. Hipertiroidisme merupakan kelainan endokrin yang dapat
di cegah.

v Patofisiologi

Hipertiroidisme mungkin karena overfungsi keseluruhan kelenjar, atau kondisi yang kurang
umum, mungkin disebabkan oleh fungsi tunggal atau multiple adenoma kanker tiroid. Juga
pengobatan miksedema dengan hormon tiroid yang berlebihan dapat menyebabkan
hipertiroidisme.
Bentuk hipertiroidisme yang paling umum adalah penyakit Graves (goiter difus toksik yang
mempuyai tiga tanda penting yaitu :

 Hipertiroidisme
 Perbesaan kelenjar tiroid (goiter)
 Eksoptalmos (protrusi mata abnormal)Penyebab lain hipertiroidisme dapat

Mencakup goiter nodular toksik, adenoma toksik (jinak), karsinoma tiroid,tiroiditis subakut dan
kronis, dan ingesti TH.Dampak hipertiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh adalah sebagai
beikut :

 Sistem integument seperti diaphoresis, rambut halus, jarang dan kulit lembab.
 Sistem pencernaan seperti berat badan menurun, nafsu makan meningkat dan diare.
 Sistem muskuloskeletal seperti kelemahan.
 Sistem pernapasan seperti dispnea dan takipnea.
 Sistem kardiovaskular seperti palpitasi, nyeri dada.
 Metabolik seperti peningkatan laju metabolisme tubuh,intoleran terhadap panas dan suhu
sub febris.
 Sistem neurologi seperti mata kabur, mata lelah, insomnia.
 Sistem reproduksi seperti amenore, volume menstruasi berkurang dan libido meningkat.
 Psikologis/Emosi seperti gelisah, iritabilitas, gugup/nervous.

1. B. HIPOTIROIDISME

Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid sebagai akibat kegagalan mekanisme kompensasi
kelenjar tiroid dalam memenuhi kebutuhan jaringan tubuh akan hormon-hormon tiroid.

v Patofisiologi

Hipotiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan pada pengobatan
tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi kronis kelenjar tiroid dan atropi kelenjar
tiroid yang bersifat idiopatik. Prevalensi penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30 sampai
60 tahun, empat kali lipat angka kejadiannya pada wanita di bandingkan pria. Hipotiroidisme
kongenital di jumpai satu orang pada empat ribu kelahiran hidup. Jika produksi hormon tiroid
tidak adekuat maka kelenjar tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai
respons terhadap rangsangan hormon TSH. Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan
menurunkan laju metabolisme basal yang akan mempengaruhi semua sistem tubuh. Proses
metabolik yang di pengaruhi antara lain :

 Penurunan produksi asam lambung (aclorhidia)


 Penurunan motilitas usus
 Penurunan detak jantung
 Gangguan fungsi neurologik
 Penurunan produksi panas
Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana akan terjadi
peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami
atherosklerosis Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura,
cardiak dan abdominal sebagai tanda dari mixedema.

Pembentukan eritrosit yang tidak optimal sebagai dampak dari menurunnya hormon tiroid
memungkinkan klien mengalami anemi. Dampak hipotiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh
adalah sebagai berikut :

 Sistem integument seperti kulit dingin, pucat, kering, bersisik


 Sistem pulmonari seperti hipoventilasi, pleural efusi, dispnea
 Sistem kardiovaskular seperti brakikardi¸disritmia,pembesaran jantung.
 Metabolik seperti penurunan meabolisme basal, penurunan suhu tubuh.
 Sistem muskuloskeletal seperti nyeri otot, kontraksi dan relaksasi otot yang melambat.
 Sistem neurologi seperti fungsi intelektual yang lambat, berbicara lambat dan terbata-
bata.

1. C. HIPERTROFI KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid mengalami pembesaran akibat pertambahan ukuran sel/jaringan tanpa di sertai
peningkatan atau penurunan sekresi hormon-hormon kelenjar tiroid. Disebut juga sebagai goiter
nontosik atau simple goiter atau struma Endemik.

Pada kondisi ini dimana pembesaran kelenjar tidak disertai penurunan atau peningkatan sekresi
hormon-hormonnya maka dampak yang di timbulkannya hanya bersifat lokal yaitu sejauh mana
pembesaran tersebut mempengaruhi organ di sekitarnya seperti pengaruhnya pada trakhea dan
esophagus.

v Patofisiologi

Berbagai faktor di identifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertropi kelenjar tiroid termasuk di
dalamnya defisiensi jodium, goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat menekan
sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung, lobak, kangkung, kubis bila di konsumsi secara
berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan dan tumor/neoplasma.

Sedangkan secara fisiologis, menurut Benhard (1991) kelenjar tiroid dapat membesar sebagai
akibat peningkatan aktifitas kelenjar tiroid sebagai upaya mengimbangi kebutuhan tubuh yang
meningkat pada masa pertumbuhan dan masa kehamilan Berdasarkan kejadiannya atau
penyebarannya ada yang di sebut Struma Endemis dan Sporadis. Secara sporadis dimana kasus-
kasus struma ini di jumpai menyebar diberbagai tempat atau daerah.

Bila di hubungkan dengan penyebab maka struma sporadis banyak disebabkan oleh faktor
goitrogenik, anomali dan penggunaan obat-obatan anti tiroid, peradangan dan neoplasma. Secara
endemis, dimana kasus-kasus struma ini dijumpai pada sekelompok orang di suatu daerah
tertentu, dihubungkan dengan penyebab defisiensi jodium.
III.2. PENATALAKSANAAN KLIEN DENGAN HIPERTIROIDISME

1. A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan biodata seperti umur, jenis kelamindan tempat tinggal.
2. Riwayat penyakit dalam keluarga.
3. Kebiasaan hidup sehari-hari mencakup aktifitas dan mobilitas, pola makan,
penggunaan obat-obat tertentu, istirahat dan tidur.
4. Keluhan klien seperti berat badan turun meskipun napsu makan meningkat, diare,
tidak tahan terhadap panas, berkeringat banyak
5. B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Amati penampilan umum klien, amati wajah klien khususnya kelainan
pada mata seperti :

v Opthalmopati yang di tandai :

 Eksoftalmus : bulbus okuli menonjol keluar


 Tanda Stellwag s : mata arang berkedip
 Tanda Von Graefes : jika klien melihat kebawah maka palpebra superior sukar atau sama
sekali tidak dapat mengikuti bola mata
 Tanda mobieve : sukar mengadakan atau menahan konvergensi
 Tanda joffroy : tidak dapat mengerutkan dahi jika melihat ke atas
 Tanda rosenbagh : tremor palpebra jika mata menutup

v Edema palpebra dikarenakan akumulasi cairan di periorbita dan penumpukan lemak di retro
orbita

v Juga akan di jumpai penurunan visus akibat penekanan saraf optikus dan adanya tanda-tanda
radang atau infeksi pada konjunktiva dan atau kornea

v Fotopobia dan pengeluaran air mata yang berlebihan merupakan tanda yang lazim

1. Amati manifestasi klinis hipertiroidisme pada berbagai sistem tubuh seperti yang sudah
dijelaskan sebelumnya
2. Palpasi kelenjar tiroid, kaji adanya pembesaran, bagaimana konsistensinya, apakah dapat
digerakkan serta apakah nodul soliter atau multipel
3. Auskultasi adanya “bruit”
4. C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang utama dijumpai pada klien dengan hipertiroidisme adalah :

1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan waktu pengisian diastolik
sebagai akibat peningkatan frekwensi jantung
2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan efek
hiperkatabolisme
3. Perubahan persepsi sensoris (penglihatan) yang berhubungan dengan ganggua
perpindahan impuls sensoris akibat ofthalmopati

v Diagnosa keperawatan tambahan antara lain :

 Diare yang berhubungan dengan peningkatan aktivitas metabolik


 Koping individu tak efektif yang berhubungan dengan emosi yang labil
 Intoleransi terhadap aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan akibat metabolisme
yang meningkat
 Gangguan pola tidur sehubungan dengan suhu tubuh yang meningkat akibat peningkatan
metablisme
 Gangguan proses berpikir yang berhubungan dengan emosi yang labil dan perhatian yang
menyempit

1. D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

v Diagnosa Keperawatan : Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan menurunnya


waktu pengisian diastolik sebagai akibat dari peningkatan frekuensi jantung,Tujuan: Fungsi
kardiovaskular kembali normal Intervensi Keperawatan :

 Observasi setiap 4 jam nadi apikal, tekanan darah dan suhu tubuh
 Anjurkan kepada klien agar segera melaporkan pada perawat bila mengalami nyeri dada,
palpitasi, dispnea dan vertigo.
 Upayakan agar klien dapat istirahat
 Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-hari sesuai kebutuhan
 Batasi aktivitas yang melelahkan klien
 Kolaborasi pemberian obat-obat antitiroid.
 Kolaborasi tindakan pembedahan bila dengan tindakan konservatif

v Diagnosa Keperawatan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan
dengan efek hiperkatabolisme Tujuan : Setelah perawatan di rumah sakit, klien akan
mempertahankan status nutrisi yang optimal Intervensi Keperawatan :

 Berikan makanan tinggi kalori tinggi protein


 Beri makanan tambahan diantara waktu makan
 Timbang berat badan secara teratur setiap 2 hari sekali
 Bila perlu, konsultasikan klien dengan ahli gizi

v Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensoris (penglihatan) yang berhubungan dengan


gangguan transmisi impuls sensorik sebagai akibat oftalmopati Tujuan : Klien tidak mengalami
penurunan visus yang lebih buruk dan tidak terjadi trauma / cidera pada mata Intervensi
Keperawatan :

 Anjurkan pada klien bila tidur dengan posisi elevasi kepala


 Basahi mata dengan borwater sterill
 Jika ada photopobia, anjurkan klien menggunakan kacamata rayben
 Jika klien tidak dapat menutup mata rapat pada saat tidur, gunakan plester non alergi
 Berikan obat-obat steroid sesuai program

1. E. PENATALAKSANAANKLIEN DENGAN HIPOTIROIDISME

v PENGKAJIAN

Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu lakukanlah
pengkajian terhadap hal-hal penting yang dapat menggali sebanyak mungkin informasi antara
lain

v PATOFISIOLOGI

Hipotiroidisme dapat terjadi akibat pengangkatan kelenjar tiroid dan pada pengobatan
tirotoksikosis dengan RAI. Juga terjadi akibat infeksi kronis kelenjar tiroid dan atropi kelenjar
tiroid yang bersifat idiopatik.

Prevalensi penderita hipotiroidisme meningkat pada usia 30 sampai 60 tahun, empat kali lipat
angka kejadiannya pada wanita di bandingkan pria. Hipotiroidisme kongenital di jumpai satu
orang pada empat ribu kelahiran hidup. Jika produksi hormon tiroid tidak adekuat maka kelenjar
tiroid akan berkompensasi untuk meningkatkan sekresinya sebagai respons terhadap rangsangan
hormon TSH.

Penurunan sekresi hormon kelenjar tiroid akan menurunkan laju metabolisme basal yang akan
mempengaruhi semua sistem tubuh. Proses metabolik yang di pengaruhi antara lain :

a. Penurunan produksi asam lambung (aclorhidia)

b. Penurunan motilitas usus

c. Penurunan detak jantung

d. Gangguan fungsi neurologik

e. Penurunan produksi panas

Penurunan hormon tiroid juga akan mengganggu metabolisme lemak dimana akan terjadi
peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga klien berpotensi mengalami
atherosklerosis Akumulasi proteoglicans hidrophilik di rongga intertisial seperti rongga pleura,
cardiak dan abdominal sebagai tanda dari mixedema. Pembentukan eritrosit yang tidak optimal
sebagai dampak dari menurunnya hormon tiroid memungkinkan klien mengalami anemi.

Dampak hipotiroidisme terhadap berbagai sistem tubuh adalah sebagai berikut :

1. Sistem integument seperti kulit dingin, pucat, kering, bersisik


2. Sistem pulmonari seperti hipoventilasi, pleural efusi, dispnea

3. Sistem kardiovaskular seperti brakikardi¸disritmia,pembesaran jantung.

4. Metabolik seperti penurunan meabolisme basal, penurunan suhu tubuh.

5. Sistem muskuloskeletal seperti nyeri otot, kontraksi dan relaksasi otot yang melambat.

6. Sistem neurologi seperti fungsi intelektual yang lambat, berbicara lambat dan terbata-bata.

III.3. HIPERTROFI KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid mengalami pembesaran akibat pertambahan ukuran sel/jaringan tanpa di sertai
peningkatan atau penurunan sekresi hormon-hormon kelenjar tiroid. Disebut juga sebagai goiter
nontosik atau simple goiter atau struma Endemik.

Pada kondisi ini dimana pembesaran kelenjar tidak disertai penurunan atau peningkatan sekresi
hormon-hormonnya maka dampak yang di timbulkannya hanya bersifat lokal yaitu sejauh mana
pembesaran tersebut mempengaruhi organ di sekitarnya seperti pengaruhnya pada trakhea dan
esophagus.

1. A. PATOFISIOLOGI

Berbagai faktor di identifikasi sebagai penyebab terjadinya hipertropi kelenjar tiroid termasuk di
dalamnya defisiensi jodium, goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat menekan
sekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung lobak, kangkung, kubis bila di konsumsi secara
berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan dan tumor/neoplasma. Sedangkan secara
fisiologis, menurut Benhard (1991) kelenjar tiroid dapat membesar sebagai akibat peningkatan
aktifitas kelenjar tiroid sebagai upaya mengimbangi kebutuhan tubuh yang meningkat pada masa
pertumbuhan dan masa kehamilan.

Berdasarkan kejadiannya atau penyebarannya ada yang di sebut Struma Endemis dan Sporadis.
Secara sporadis dimana kasus-kasus struma ini di jumpai menyebar diberbagai tempat ada
daerah. Bila di hubungkan dengan penyebab maka struma sporadis banyak disebabkan oleh
faktor goitrogenik, anomali dan penggunaan obat-obatan anti tiroid, peradangan dan neoplasma.
Secara endemis, dimana kasus-kasus struma ini dijumpai pada sekelompok orang di suatu daerah
tertentu, dihubungkan dengan penyebab defisiensi jodium.

1. B. PENATALAKSANAAN KLIEN DENGAN HIPERTIROIDISME

v Pengkajian
1. Pengumpulan biodata seperti umur, jenis kelamin dan tempat tinggal.

2. Riwayat penyakit dalam keluarga.


3. Kebiasaan hidup sehari-hari mencakup aktifitas dan mobilitas, pola makan, penggunaan obat-
obat tertentu, istirahat dan tidur.

4. Keluhan klien seperti berat badan turun meskipun napsu makan meningkat, diare, tidak tahan
terhadap panas, berkeringat banyak

5. Pemeriksaan fisik :

a. Amati penampilan umum klien, amati wajah klien khususnya kelainan pada mata.

v eksoftalmus : bulbus okuli menonjol keluar

v tanda Stellwag s : mata arang berkedip

v tanda Von Graefes : jika klien melihat kebawah maka palpebra superior sukar atau sama sekali
tidak dapat mengikuti bola mata

v tanda mobieve : sukar mengadakan atau menahan konvergensi

v tanda joffroy : tidak dapat mengerutkan dahi jika melihat ke atas

v tanda rosenbagh : tremor palpebra jika mata menutup

1. C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan yang utama dijumpai pada klien dengan hipertiroidisme adalah :

1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan penurunan waktu pengisian diastolik
sebagai akibat peningkatan frekwensi jantung
2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan efek
hiperkatabolisme
3. Perubahan persepsi sensoris (penglihatan) yang berhubungan dengan gangguan
perpindahan impuls sensoris akibat ofthalmopati

1. D. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan: Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan menurunnya waktu
pengisian diastolik sebagai akibat dari peningkatan frekuensi jantung Tujuan: Fungsi
kardiovaskular kembali normal Intervensi Keperawatan :

a) Observasi setiap 4 jam nadi apikal, tekanan darah dan suhu tubuh
b) Anjurkan kepada klien agar segera melaporkan pada perawat bila mengalami nyeri dada,
palpitasi, dispnea dan vertigo.

c) Upayakan agar klien dapat istirahat

d) Bantu klien memenuhi kebutuhan sehari-hari sesuai kebutuhan

e) Batasi aktivitas yang melelahkan klien

f) Kolaborasi pemberian obat-obat antitiroid.

g) Kolaborasi tindakan pembedahan bila dengan tindakan konservatif

1. E. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Batasi aktivitas, hindarkan aktivitas yang melelahkan

2. Posisi tidur setengah duduk dengan kepala ekstensi bila diperlukan

3. Kolaborasi pemberian obat-obatan

4. Bila dengan konservatif gejala tidak hilang, kolaborasi tindakan operatif

5. Bantu aktivitas klien di tempat tidur

6. Observasi keadaan klien secara teratur

v Intoleransiaktivitas

Intoleransiaktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan proses kognitif

 Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian.


 Kriteria hasil : aktivitas dapat di lakukan

Intervensi Rasional
1. Atur interval waktu antara 1. Mendorong aktivitas sambil
aktivitas dengan kelelahan dan memberikan kesempatan untuk
penurunan proses kognitif. mendapatkan istirahat yang
2. Bantu aktiviatas perawatan adekuat.
mandiri ketika pasien berada 2. Dengan membersihkan
dalam keadaan lain. trakheostomy, menghindari
terjadinya penumpukan sekret dan
agar jalan nafas bersih
3. Meningkatkan perhatian tanpa
3. Berikan stimulasi melalui terlalu menimbulakan stree pada
percakapan dan aktivitas yang pasien.
tidak menimbulkan stress.

v Perubahan suhu tubuh

 Tujuan : Pemeliharan suhu tubuh yang normal


 Kriteria hasil : Suhu tubuh tetap normal.

Intervensi Rasional
1. Berikan tambahan lapisan pakaian 1. Meminimalkan kehilangan
atau tambahan selimut. panas
2. Hindari dan cegah penggunaan 2. Mengidentifikasi adanya
sumber panas dari luar infeksi dan memperkecil
3. Pantau suhu tubuh pasien dan komplikas
melaporkan penurunanya dari nilai 3. Mendeteksi penurunan suhu
dasar suhu normal pasien. tubuh dan dimulainya komamik
sedema.

v Konstipasi

Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrontestinal

 Tujuan : pemeliharaan funsi usus yang normal


 Kriteria hasil : usus tetap terjaga
Intervensi Rasional
1. Dorong peningkatan asupan
cairan
2. Berikan makanan yang kaya
akan serat
3. Ajarkan kepada klien,tentang
jenis-jenis makanan yang
banyak mengandung air.
4. Pantau fungsi usus
5. Dorong klien untuk
meningkatkan mobilisasi dalam
batas toleransi latihan.
6. Meminimalkan kehilangan
panas
7. Meningkatkan massafeses dan
frengkuensi biang air besar.
8. Untuk peningkatan asupan
cairan kepada pasien agar feses
tidak keras.
9. Memungkinkan deteksi
konstipasi dan pemulihan
kepada pola defekasi yang
normal.
10. Meningkatkan evakuasi feses.

v Pola nafas tidak efektif berhubungan depresi ventilasi

 Tujuan : Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola nafas yang normal
 Kriteria hasil : Klien dapat bernafas dengan baik.

Intervensi Rasional
1.Pantau frekuensi ke dalaman pola 1. Mengidentifikasi hasil pemeriksaan
pernafasan oksimetri denyut nadi dasar untuk memantau perubahan
dan gas darah arterial selanjutnya dan mengevaluasi
efektifitas intervensi.
2. Dorong pasie untuk nap;as dalam 2. Mencegah aktifitas dan meningkatkan
dan batuk. pernapasannya adekuat.
3. Pasien hipotiroidisme sangat rentan
3. Berikan obat ( hipnotik dan terhadap gangguan pernapasan akibat
sedatip) dengan hati-hati. gangguan obat golongan
hipnotiksedatif.
4. Pelihara saluran napas pasien 4. Penggunaan saluran napas artifisial
dengan melakukan pengisapan dan dan dukungan ventilasi mungkin di
dukungan ventilasi jika di perlukan. perlukan jika terjadi depresi
pernapasan

BAB IV

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN.

Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat
dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya menyerupai
huruf H atau dasi kupu-kupu.

Kelenjar tiroid termasuk dalam system endokrin selain kelenjar hipofise, kelenjar paratiroid,
kelenjar suprarenal, pulau langerhans, dan kelenjar kelamin. Kelenjar ini berbentuk seperti kupu-
kupu dan terletak di pangkal leher tepat di bawah jakun.

Hormon tiroid terdiri dari hormon tiroksin (T4) dan tri-iodotironin (T3). Hormon-hormon inilah
yang memproduksi energi dari zat gizi dan oksigen sehingga mampu mempengaruhi fungsi
seluruh sel, jaringan, dan organ dalam tubuh.

3.2 SARAN.

Dengan adanya tugas ini penulis dapat lebih memahami tentang kelenjar Tiroid dan dapat
melakukan perawatan yang baik serta menegakkan asuhan keperawatan yang baik dengan
adanya hasil tugas ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bacaan untuk menambah wawasan dari
ilmu yang telah di dapatkan dan lebih baik dari sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
 NANDA, 2005, NANDA: Nursing Diagnosis Definition & Classification 2005-2006 ,
Philadelphia.
 Mansjoer, Arif, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran , Media Aesculapius, Jakarta
 Suastika, K., 1995, Penyakit Kelenjar Tiroid , EGC, Jakarta