You are on page 1of 14

Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal.

43 - 56

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI BERKELANJUTAN


DI KOTA SEMARANG

Itsna Yuni Hidayati, Sri Febriharjati

Initiative for Regional Development and Environmental Management (IRDEM)


Jl. Jatiwangi No. 4R, Semarang
Email: iyunihidayati@gmail.com; srifebriharjati@gmail.com

Abstract

Semarang is one of the cities with the largest population in Indonesia. The increasing of
population also increase the need for transportation. Although Semarang currently have a
transportation system that is quite complete, but the transport system in Semarang
inseparable from problems such as traffic congestion, increase in private vehicle ownership
and more. Related to those situation, then the realization of sustainable transport in
Semarang formulated as one of the goals stated in the Medium Term Development Plan
(MTDP) of Semarang 2016-2021. Then how is the condition of the transport system in
Semarang now? How the formulation of plans related to the transport system arranged in
MTDP? Whether the plan complies with the theoretical concept of sustainable transportation?
Does the plan have been able to answer the problem of transportation in Semarang? And
whether the plan has support the vision of Semarang as trade and services city? This article
aims to discuss the condition of transportation in Semarang and how transportation planning
in Semarang defined in the MTDP of Semarang 2016-2021 to realize the sustainable
transport system. The approach used in this study is a descriptive approach. The result of the
study concluded that the planning of transportation system in MTDP are in accordance with
the theory of sustainable transportation and the existing transportation system plan in MTDP
of Semarang 2016-2021 has accommodate the problem through programs that are inside.

Keywords: Semarang City, sustainable transportation, Mid-Term Regional


Development Plan (MTDP)

Abstrak

Kota Semarang merupakan salah satu kota dengan penduduk terbesar di Indonesia.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan transportasi di Kota
Semarang juga semakin meningkat. Meskipun Kota Semarang saat ini telah memiliki sistem
transportasi yang cukup lengkap, akan tetapi sistem transportasi di Kota Semarang tidak
luput dari adanya masalah seperti kemacetan, peningkatan kepemilikan kendaraan pribadi
dan lainnya. Atas dasar hal itulah kemudian dirumuskan terwujudnya transportasi yang
berkelanjutan di Kota Semarang sebagai salah satu tujuan yang tercantum dalam Rancangan
Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Semarang Tahun 2016-2021.
Lalu bagaimanakah kondisi sistem transportasi di Kota Semarang saat ini? Bagaimanakah
rumusan rencana terkait sistem transportasi disusun dalam RPJMD? Apakah rencana tersebut
telah sesuai dengan konsep transportasi berkelanjutan secara teoritik? Apakah rencana
tersebut telah mampu menjawab permasalahan transportasi di Kota Semarang? Dan apakah
rencana tersebut telah mendukung visi Kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa?
Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan kondisi transportasi di Kota Semarang dan
bagaimana perencanaan transportasi di Kota Semarang yang dirumuskan dalam Rancangan
Awal RPJMD Kota Semarang 2016-2021 untuk mewujudkan sistem transportasi Kota
Semarang yang berkelanjutan. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

pendekatan deskriptif. Dari hasil kajian diperoleh kesimpulan bahwa perencanaan sistem
transportasi dalam Rancangan Awal RPJMD sudah sesuai dengan teori transportasi
berkelanjutan dan rencana sistem transportasi yang ada telah mewadahi permasalahan
melalui program-program yang ada didalamnya.

Kata Kunci: Kota Semarang, transportasi berkelanjutan, Rencana


Pembangungan Jangka Menengah (RPJM)

Pendahuluan Kabupaten Demak dan Kabupaten


Kota Semarang adalah ibu Kota Grobogan. Nilai PDRB menunjukkan
Provinsi Jawa Tengah dengan luas indikator kinerja metropolitan dari
wilayah 373,78 km2. Pada tahun 2015 aspek ekonomi seperti yang telah di
jumlah penduduk Kota Semarang terapkan pada kawasan metropolitan di
sebesar 1.622.520 jiwa, menjadikan Provinsi Jawa Barat.
Kota Semarang menjadi kota dengan Dirinci berdasarkan jenis lapangan
jumlah penduduk terbesar ke-6 di usahanya, sektor yang paling besar
Indonesia. Dengan jumlah penduduk berkontribusi terhadap PDRB di Kota
lebih dari satu juta, Kota Semarang Semarang adalah sektor kontruksi,
dikategorikan sebagai kota industri pengolahan serta perdagangan
metropolitan (Suara Merdeka, 2015). besar dan eceran, reparasi dan
Sebagai ibukota provinsi yang tergolong perawatan mobil dan sepeda motor
sebagai kota metropolitan, Kota dengan kontribusi masing-masing adalah
Semarang menjadi parameter kemajuan 26,74%, 25,99% dan 15,78%. Jika dilihat
kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah. dari rata-rata pertumbuhannya, sektor
(Ditjen Cipta Karya Kementerian dengan pertumbuhan yang paling besar
Pekerjaan Umum dan Perumahan adalah sektor jasa pendidikan, jasa
Rakyat). kesehatan dan kegiatan sosial, informasi
120.000.000 dan komunikasi, jasa perusahaan,
100.000.000 industri pengolahan, pengadaan listrik
80.000.000 dan gas serta transportasi dan
60.000.000
2012
pergudangan dengan rata-rata
40.000.000
2013
pertumbuhan antara 6-9%.
20.000.000
2014
Salah satu sektor dengan rata-rata
0
pertumbuhan yang besar adalah sektor
transportasi dan pergudangan. Tren
pertumbuhan sektor ini menunjukkan
kondisi yang selalu meningkat dari
Sumber: BPS Provinsi Jawa Tengah, 2015
tahun 2011 hingga tahun 2013
Gambar 1 kemudian mengalami penurunan pada
PDRB ADHK Kota Semarang dan tahun 2014. Gambar 2 menunjukkan
Wilayah Sekitarnya Tahun 2012-2014 pertumbuhan PDRB atas dasar harga
(Jutaan Rupiah) konstan (ADHK) sektor transportasi
dan pergudangan selama tahun 2011-
Nilai Produk Domestik Regional 2014. Pada kegiatan transportasi
Bruto (PDRB) pada tahun 2012-2014 peningkatan pertumbuhan tentu sejalan
menunjukkan Kota Semarang memiliki dengan peningkatan jumlah penduduk di
nilai PDRB yang paling besar Kota Semarang. Semakin besar jumlah
dibandingkan dengan wilayah lain penduduk maka kebutuhan akan
disekitarnya seperti Kabupaten transportasi juga semakin besar
Semarang, Kabupaten Kendal, (Rifusua, 2010).Tidak hanya untuk
44
Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal. 43 - 56

memenuhi kebutuhan pergerakan (2005) dan Kamaluddin (2003)


manusia, Kota Semarang sebagai salah mendefinisikan transportasi sebagai
satu kota terbesar di Indonesia dan kegiatan pemindahan penumpang dan
merupakan ibu kota Provinsi Jawa barang dari suatu tempat ke tempat
Tengah yang terdapat berbagai aktivitas lain. Transportasi merupakan unsur
di dalamnya harus mampu memenuhi yang penting dan berfungsi sebagai urat
kebutuhan permintaan barang dan jasa nadi kehidupan dan perkembangan
baik didalam kota maupun bagi wilayah ekonomi, sosial, politik dan mobilitas
lain di sekitarnya. Luas wilayah, penduduk yang tumbuh bersamaan dan
kepadatan dan sebaran lokasi asal- mengikuti perkembangan yang terjadi
tujuan, dan intensitas kegiatan/aktivitas dalam berbagai bidang dan sektor
menentukan bangkitan pergerakan (Kadir, 2006). Pengembangan
(Petersen dan Carolin, 2002). transportasi sangat penting artinya
12,00%
dalam menunjang dan menggerakkan
dinamika pembangunan. Transportasi
10,00%
memiliki fungsi strategis dalam
8,00% merekatkan integritas wilayah dan
6,00% berfungsi sebagai katalisator dalam
4,00% mendukung pertumbuhan ekonomi dan
2,00%
pengembangan wilayah (Humas UGM,
2007).
0,00%
2011 2012 2013 2014
Jenis atau moda transportasi yang
berada di Kota Semarang sudah cukup
Sumber: BPS Kota Semarang, 2015
beragam, hal ini tentunya dimaksudkan
Gambar 2 untuk mendukung masyarakat
Pertumbuhan PDRB ADHK Tahun melakukan kegiatan sehari-hari mereka.
2011-2014 Pada Sektor Transportasi Jenis-jenis moda tersebut adalah mobil
dan Pergudangan dan motor pribadi, angkutan kota, bus,
mini bus, becak, taksi dan ojek.
Dengan mempertimbangkan Keberadaan jenis moda ini sudah
keanekaragaman yang berkaitan dengan didukung dengan kelengkapan prasarana
pola pergerakan Kota Semarang, maka yang cukup baik seperti jalan yang sudah
terjadi perkembangan kepadatan diaspal dengan baik, halte untuk
kegiatan lalu lintas barang dan manusia menunggu bus BRT (bus rapid transit),
yang terus berkembang. Hal ini penerangan jalan, adanya jalur
memerlukan perimbangan penyediaan pedestrian yang membagi antara jalur
sarana dan prasarana dibidang kendaraan dengan pejalan kaki, dan
transportasi. Transportasi memegang prasarana lainnya. Selain itu pemerintah
peran kunci dalam menggerakkan roda juga sudah melakukan beberapa
perekonomian. Namun kesalahan tindakan untuk memberikan pelayanan
manajemen lalu lintas dapat terbaik dalam aspek transportasi
menimbulkan inefisiensi yang akan perkotaan seperti sudah menyediakan
menghambat kegiatan ekonomi itu BRT atau Bis Trans Semarang yang
sendiri serta menimbulkan memiliki 4 koridor dengan rencana
permasalahan lingkungan. (Hanum, pengembangan 2 koridor tambahan.
2009). Kondisi Kota Semarang yang
Transportasi dapat didefinisikan memiliki banyak jenis kendaraan
sebagai usaha dan kegiatan mengangkut terutama kendaraan umum masih
atau membawa barang dan/atau belum secara signifikan menggantikan
penumpang dari suatu tempat ke keberadaan kendaraan pribadi. Hal ini
tempat lainnya (Kadir, 2006). Munawar terjadi dikarenakan masyarakat masih
45
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

merasakan bahwa pelayanan dari belum efektifnya sistem parkir di Kota


kendaraan umum masih kurang. Semarang. Pemakaian kendaraan pribadi
Beberapa kekurangan pelayanan yang semakin meningkat, kurangnya
kendaraan umum adalah waktu tunggu minat masyarakat menggunakan
yang terlalu lama, masih menggunakan angkutan umum dan kondisi ruas jalan
jalur yang sama dengan kendaraan yang cepat rusak. Kerusakan jalan
pribadi sehingga ketika macet tidak ada disebabkan oleh drainase jalan yang
bedanya, beberapa kendaraan yang tidak ada dan tidak berfungsi, bahan
sudah tua dengan kursi yang sudah jelek konstruksi jalan tidak memenuhi
dan kondisi mesin yang sudah tidak standar dan bercampurnya kendaraan
baik. Selain itu juga keterhubungan dalam satu ruas jalan. (Kompas.com,
antar satu jenis moda dengan lainnya 2009).
masih kurang, walaupun memang sudah Visi Kota Semarang 2016-2021
cukup terjangkau biaya yang dikeluarkan yang tercantum dalam Rancangan Awal
jika menggunakan BRT dibandingkan RPJMD adalah “Semarang Kota
dengan menggunakan kendaraan umum Perdagangan dan Jasa yang Hebat
lainnya. Jika dihitung dengan biaya Menuju Masyarakat Semakin Sejahtera”.
bensin kendaraan pribadi, BRT juga Visi tersebut mengandung maksud
lebih hemat. bahwa Semarang sebagai kota
Setiap hari diperkirakan sebanyak metropolitan berwawasan lingkungan
450 ribu orang masuk dan keluar Kota akan menjadi kota yang handal dan maju
Semarang, sehingga ruas jalan menjadi dalam pedagangan dan jasa, dengan
sangat padat. Tingkat pertumbuhan dukungan infrastruktur yang memadai
kendaraan bermotor cukup tinggi serta tetap menjadi daerah yang
sebesar 2,5 persen per tahun dan kondusif untuk meningkatkan
kecelakaan lalu lintas didominasi kesejahteraan warganya dengan
kendaraan pribadi, yaitu sebesar 80%. dukungan pengembangan politik,
Agar tingkat kemacetan, kecelakaan, keamanan, sosial, ekonomi, dan budaya.
dan polusi udara berkurang, serta Untuk mencapai visi tersebut pada
pelayanan angkutan umum dapat lebih RPJMD Kota Semarang 2016-2021,
dimaksimalkan maka kondisi sistem salah satu sasaran yang akan dicapai
transportasi di Kota Semarang perlu adalah pengembangan transportasi
segera dibenahi. Permasalahan jaringan berkelanjutan yang difokuskan pada
jalan yang terjadi di Kota Semarang penyediaan transportasi massal ramah
disebabkan oleh faktor internal dan lingkungan (BRT, monorel/MRT),
eksternal. Faktor eksternal, antara lain integrasi dan interkoneksi antar moda
genangan air hujan atau rob, longsoran transportasi di terminal pelabuhan,
tanah, dan penurunan tanah, sementara stasiun kereta api dan bandara,
faktor internal terjadi karena pengembangan moda transportasi
pencampuran pergerakan dalam kota regional (comuter line Kedungsepur), dan
dengan antar kota, antara lain terjadi di pembangunan terminal barang.
Jalan Raden Patah, Jalan Dr. Cipto, dan Artikel ini bertujuan untuk
Jalan Siliwangi. Kapasitas jaringan jalan mendiskusikan kondisi transportasi di
yang tidak sepadan dengan intensitas Kota Semarang dan bagaimana
pergerakan pada beberapa ruas jalan, perencanaan transportasi di Kota
khususnya pada jam-jam sibuk, serta Semarang yang dirumuskan dalam
kapasitas jaringan jalan yang tereduksi. Rancangan Awal RPJMD Kota Semarang
Kapasitas jaringan jalan tereduksi 2016-2021 untuk mewujudkan sistem
disebabkan akibat kurang efektifnya transportasi Kota Semarang yang
sinyal yang ada di persimpangan dan berkelanjutan.
46
Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal. 43 - 56

Metode tanah serta tidak menggunakan


Pendekatan penelitian yang sumber daya yang berlebihan.
digunakan dalam penulisan artikel ini b. Ekonomi, transportasi yang
adalah pendekatan penelitian deskriptif. terjangkau oleh masyarakat dan
Penelitian deskriptif adalah penelitian dapat memenuhi kebutuhan biaya
yang berusaha mendiskripsikan suatu operasional transportasi perkotaan
gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi yang produktif.
pada saat sekarang (Sujana dan Ibrahim, c. Sosial, transportasi yang dapat
1989). Sebagaimana yang telah mendukung terwujudnya lingkungan
dijelaskan sebelumnya, artikel ini akan sosial yang sehat, meminimalisasi
membahas pengembangan transportasi kebisingan, kemacetan, dan dapat
berkelanjutan di Kota Semarang yang meningkatkan keadilan sosial dan
dirumuskan dalam Rancangan Awal tingkat kesehatan.
RPJMD Kota Semarang tahun 2016-
2021. Tabel 1
Adapun RPJMD yang digunakan Kriteria dan Indikator Transportasi
sebagai sumber kajian analisis adalah Berkelanjutan
Aspek Kriteria Indikator
Rancangan Awal (RA) RPJMD Kota
Indeks
Semarang 2016-2021 yang telah disusun aksesibilitas
oleh Pemerintah Kota Semarang yang jalan
masih belum diresmikan menjadi Indeks mobilitas
peraturan daerah (masih dalam proses). jalan
Secara umum, pembahasan dalam Kemantapan
Aksesibilitas
jalan
artikel ini berkaitan dengan gambaran wilayah yang
Indeks
umum transportasi di Kota Semarang baik
aksesibilitas
dan permasalahannya serta angkutan umum
review(ulasan) rencana pada aspek jalan
transportasi dalam Rancangan Awal Indeks kapasitas
angkutan umum
RPJMD 2016-2021. Deskripsi terkait jalan
gambaran umum dan permasalahan Tingkat
transportasi juga didukung dari kepemilkan
dokumen-dokumen program 100 kendaraan
Resilient Cities di Kota Semarang yang bermotor
berkaitan dengan tema transportasi. Laju
pertumbuhan
Ekonomi
kepemilkan
Kajian Literatur kendaraan
Transportasi berkelanjutan bermotor
didefinisikan sebagai suatu sistem Rasio laju
trasportasi yang penggunaan bahan pertumbuhan
kepemilikan
bakar, emisi kendaraan, tingkat Efisiensi
kendaraan
keamanan, kemacetan, serta akses aktivitas
bermotor
sosial dan ekonominya tidak transportasi
Rasio laju
menimbulkan dampak negatif yang tidak pertumbuhan
dapat diantisipasi generasi yang akan kendaraan
pribadi dengan
datang (Richardson,2000). Pengertian laju
lain dari transportasi berkelanjutan pertumbuhan
adalah transportasi harus memiliki tiga kendaraan
aspek yang dipenuhi(OECD, 1996 dan umum
NRTEE,1996 dalam Brotodewo,2010) : Kinerja ruas
jalan
a. Lingkungan, trasportasi yang tidak
Pertumbuhan
menimbulkan polusi udara, air, dan nilai tambah
47
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

Aspek Kriteria Indikator lingkungan, meminimalisasikan


angkutan jalan penggunaan sumber daya yang tidak
Program terkait terbarukan, membatasi penggunaan
Terdapat
transportasi
kelembagaan
berkelanjutan sumber daya yang dapat diperbarui,
Sosial yang menggunakan dan mendaur ulang
Tingkat
menunjang
kecelakaan kembali komponen-komponen yang
transportasi
Tingkat fatalitas digunakan, dan meminimalkan
Minimasi Pertumbuhan penggunaan lahan dan penghasil
pencemaran nilai tambah
kebisingan.
lingkungan angkutan jalan
Lingkungan Litman (2010) juga membagi 3
akibat
dampak dari aspek yang mendukung terwujudnya
transportasi transportasi berkelanjutan yaitu sosial,
Sumber: Brotowijoyo, 2010 ekonomi dan lingkungan, namun dengan
Sedangkan menurut indikator yang agak berbeda seperti
Brotowijoyo (2010)kriteria dan adanya pertimbangan keterjangkauan
indikator untuk tiap-tiap aspek dapat biaya bagi masyarakat, adanya
dilihat pada Tabel 1. pertimbangan budaya, perlindungan
a. Aspek ekonomi: aksesibilitas ruang terbuka hijau dan
wilayah yang baik, transportasi yang keanekaragaman hayati, pengembangan
produktif, dan aktivitas transportasi ekonomi lokal, dan biaya opersional
yang efisien. yang efisien. Beberapa sasaran dalam
b. Aspek sosial: pelayanan transportasi pencapaian tujuan dalam keberlanjutan
yang setara/adil, keselamatan transportasi adalah:
transportasi yang baik, terdapat a. Keanekaragaman sistem
sistem kelembagaan yang menunjang transportasi sehingga pengguna
transportasi berkelanjutan. dapat memiliki pilihan dalam
c. Aspek lingkungan: penggunaan menentukan moda, lokasi, dan
sumber daya pada kegiatan harga dengan mempertimbangkan
transportasi yang seimbang, dan keterjangkauan, kesehatan,
pencemaran lingkungan akibat efisiensi, dan mengakomodasi
dampak dari transportasi yang orang yang bukan pengendara.
minim. b. Sistem yang terintegrasi seperti
Sedangkan sistem transportasi pedestrian dan jalur sepeda yang
berkelanjutan menurut Center of terintegrasi dengan titik-titik
Sustainable Transportation (CST) (2005 transit, integrasi antar moda dan
dalam Litman, 2010) adalah: integrasi antar transportasi dengan
a. Memungkinkan adanya akses kepada tata guna lahan.
kebutuhan dasar dari tiap-tiap c. Keterjangkauan yaitu pelayanan
individu dan masyarakat yang harus transportasi yang ada harus lah
dipenuhi dengan aman dan hanya menghabiskan kurang dari
konsisten terhadap kesehatan 20% dari pendapatan penduduk
manusia dan ekosistem, dan dengan yang berpendapatan rendah.
keadilan antar generasi serta dalam d. Efisiensi sumber daya dengan
generasi. adanya kebijakan yang mengatur
b. Terjangkau, operasional yang efisien, efisien penggunaan energi dan
banyak pilihan moda transportasi, lahan.
dan mendukung pergerakan e. Efisiensi harga dan prioritasi yaitu
ekonomi. dengan adanya pengenaan biaya
c. Membatasi emisi dan limbah agar pada parkir, jalan, asuransi, dan
sesuai dengan kemampuan adaptasi bahan bakar dan melakukan
48
Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal. 43 - 56

perawatan pada fasilitas pemantauan pencemaran udara, uji


transportasi. emisi, serta memperkuat pengetahuan
f. Antar satu daerah dengan daerah dan kesadaran masyarakat.
pemanfaatan lainnya mudah (www.suaramerdeka.com, 2007).
diakses, dengan menyediakan
kebijakan yang mengatur dan Hasil dan Pembahasan
mendukung penggunaan lahan yang
kompak, campuran, terhubung, Gambaran Umum dan
dan multi-modal sehingga Permasalahan Transportasi di
mengehamat biaya transportasi Kota Semarang
dan penggunaan lahan bisa Pola pergerakan Kota Semarang
terakses dengan mudah oleh yang utama adalah pola radial dengan
masyarakat. empat poros jaringan utama yaitu ke
g. Operasional yang efisien para arah Surabaya, Jakarta, Purwodadi, dan
penyedia jasa layanan transportasi Solo/Yogya dengan pusatnya di Simpang
seperti agen transportasidan Lima (Untoro, 2009). Pendapatan
penyedia jasa fasilitas harus penduduk di Kota Semarang cukup
meminimalisasikan biaya yang beragam dengan standar Upah
harus dikeluarkan dan Minimum Kota (UMK) tahun 2016
memaksimalkan kualitas pelayanan. adalah sebesar Rp1.909.000,00
h. Perencanaan yang menyeluruh dan (www.regional.kompas.com, 2015).
inklusif yaitu mengikutsertakan Sedangkan untuk pendapatan
seluruh masyarakat dan perkapita penduduk di Kota Semarang
mempertimbangkan segala aspek sebesar Rp15.477.609,72 per tahun
dan pilihan. (2012 – 2013) yang berarti bahwa
Sedangkan transportasi dalam sebulan sebesar Rp1.289.800,75.
berkelanjutan yang berwawasan Jumlah pendapatan perkapita tersebut
lingkungan adalah transportasi yang menunjukkan bahwa masih banyak
mampu memenuhi kebutuhan tanpa penduduk yang memiliki pendapatan di
harus mengorbankan kepentingan dan bawah UMK. Sehingga menyebabkan
kebutuhan generasi yang akan datang masih perlunya perhatian pemerintah
(www.suaramerdeka.com, 2007). untuk menyediakan jasa pelayanan yang
Beberapa aspek yang harus dipenuhi dapat melayani seluruh masyarakat,
untuk menjadi transportasi terutama adalah transportasi.
berkelanjutan yang berwawasan Transportasi merupakan hal yang
lingkungan sesuai dengan hasil Asian pasti sangat dibutuhkan oleh masyarakat
Mayor's Policy Dialog for the Promotion of karena mereka setiap hari melakukan
Environmentally Sustainable Transport pergerakan dalam kegiatan sehari-hari
(EST) in Cities di Kyoto adalah mereka. Sehingga sangat diperlukan
melakukan pemeliharaan dan sarana prasarana penunjang pergerakan
keselamatan jalan, memperbaiki mereka dengan tentunya tidak
manajemen lalu lintas, menciptakan menghabiskan biaya tidak lebih dari 20%
transportasi yang memperhatikan dari total pendapatan penduduk.
kesetaraan gender dan keadilan. Jenis atau moda transportasi yang
Selain itu mengintegrasikan berada di Kota Semarang sudah cukup
kebijakan transportasi umum dengan beragam hal ini tentunya dimaksudkan
tata guna lahan dan tata ruang, untuk mendukung masyarakat
memprakarsai dan memfasilitasi melakukan kegiatan sehari-hari mereka.
angkutan tidak bermotor serta Jenis-jenis moda tersebut adalah mobil
mempelopori penggunaan bahan bakar dan motor pribadi, angkutan kota
ramah lingkungan, melaksanakan sedan, bus, mini bus, becak, taxi dan
49
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

ojek. Keberadaan jenis moda ini sudah kendaraan umum adalah waktu tunggu
didukung dengan kelengkapan prasarana yang masih cukup lama untuk kendaraan
yang cukup baik seperti jalan yang sudah umum selain BRT, masih menggunakan
diaspal dengan baik, halte untuk jalur yang sama dengan kendaraan
menunggu bus BRT, penerangan jalan, pribadi sehingga ketika macet tidak ada
adanya jalur pedestrian yang membagi bedanya, beberapa kendaraan yang
antara jalur kendaraan dengan pejalan sudah tua dengan kondisi interior yang
kaki, dan prasarana lainnya. sudah jelek, mesin yang sudah melewati
Selain itu, pemerintah juga sudah umur kendaraan. Selain itu juga
melakukan beberapa tindakan untuk keterhubungan antar satu jenis moda
memberikan pelayanan terbaik dalam dengan lainnya masih kurang, walaupun
aspek transportasi perkotaan seperti memang sudah cukup terjangkau biaya
sudah menyediakan BRT atau Bus Trans yang dikeluarkan jika menggunakan BRT
Semarang yang memiliki 4 koridor tapi jika menggunakan kendaraan umum
dengan rencana mengembangkan 2 lainnya dihitung dengan biaya bensin
koridor yaitu menghubungkan Undip- kendaraan pribadi lebih hemat yang
Elisabeth-Unnes dan menghubungkan dikeluarkan dengan kendaraan pribadi.
Meteseh-Pemuda-Anjasmoro.
Bus ini memberikan pelayanan yang
cukup baik karena sudah adanya halte
khusus, rute yang cukup panjang,
kondisi bus yang ber-ac, waktu tunggu
cukup singkat 10-15 menit, adanya 5-6
bus yang lewat dalam 1 jam singkat,
adanya pegawai yang melayani di halte
pusat dan memberikan pembedaan
harga bagi umum dan pelajar dan tetap
terjangkau yaitu Rp1.000 - Rp3.500 Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2016
serta juga memberikan pembedaan
kendaraan pada jam tertentu untuk Gambar 3
Kondisi Pedestrian Kota Semarang
umum dengan pelajar.
Pelayanan lainnya adalah pemerintah
Sehingga kendaraan umum yang
menyediakan jalur pedestrian untuk
tersedia di Kota Semarang masih belum
para pejalan kaki dengan beberapa jalur
menjangkau semua lapisan masyarakat.
dilengkapi untuk para difabel. Namun
Masyarakat yang berpendapatan
sayang, untuk kondisi pedestrian di
Kota Semarang masih sangat kurang menengah ke atas masih lebih memilih
kendaraan pribadi. Sedangkan
baik karena banyak dari pedestrian
masyarakat menengah ke bawah yang
digunakan sebagai tempat pedagang kaki
masih merasa penggunaan kendaraan
lima (PKL), tempat parkir dan bahkan
bermotor roda dua lebih hemat tentu
terpotong oleh halte BRT.
akan tidak menggunakan kendaraan
Kondisi Kota Semarang yang
umum. Khusus untuk masyarakat
memiliki banyak jenis kendaraan
difabel hanya BRT saja yang
terutama kendaraan umum masih
menyediakan layanan untuk mereka,
belum secara ekstrim menggantikan
dan itupun belum di semua halte, dan
keberadaan kendaraan pribadi. Hal ini
halte BRT juga belum semuanya ramah
terjadi dikarenakan masyarakat masih
terhadap penduduk usia lanjut dan
merasakan bahwa pelayanan dari
wanita hamil.
kendaraan umum masih kurang.
Beberapa kekurangan pelayanan
50
Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal. 43 - 56

1200000

1000000 991602
Kendaraan Pribadi
854043
800000 (Roda Dua & Tiga)

681433 Kendaraan Pribadi


669514 (Roda Empat)
600000 596319
Kendaraan Umum
kecil
400000
Kendaraan umum
besar
200000 141735
112212 121782 162538
119566
2735 2604 2740 3790 3617
0 1692 2063
1691 1615 2231
2010 2011 2012 2013 2014

Sumber: DPPAD, 2010-2015


Gambar 4
Grafik Jumlah Kendaraan di Kota Semarang Tahun 2010-2014

Berdasarkan grafik di atas Rencana Sistem Transportasi


didapatkan kesimpulan bahwa dalam RPJMD 2016-2021
kendaraan pribadi tumbuh sangat pesat Aspek transportasi merupakan
tiap tahunnya mengikuti pertumbuhan salah satu aspek yang diangkat sebagai
penduduk. Dampak yang terjadi dari permasalahan didalam RPJMD Kota
banyaknya moda pribadi menyebabkan Semarang Tahun 2016-2021
tingginya jumlah polusi udara. Pemasalahan-permasalahan tersebut
Banyaknya polusi udara yang dihasilkan diantaranya adalah:
oleh kendaraan adalah sebagai berikut a. Kondisi jalan baik baru mencapai
yaitu 1.110.203,67 ton CO2e yang sekitar sekitar 55% dan jalan dalam
terbagi disebabkan oleh 683.780,41 ton kondisi rusak ringan mencapai 40%,
CO2e emisi bensin dan 426.423,26 ton sisanya 5% rusak sedang.
CO2e emisi penggunaan solar (Profil b. Kondisi terminal di Kota Semarang
Emisi GRK Kota Semarang, 2010). masih belum optimal, karena
Walaupun pelayanan BRT sudah kondisi sarana dan prasarana dan
terjangkau dan sudah baik namun pengelolaannya masih perlu
ternyata masih memiliki beberapa ditingkatkan.
kekurangan seperti yang diungkapkan c. Belum optimalnya pengembangan
Rahma dan kawan-kawan, (2014) yaitu sistem transportasi terpadu.
load factor BRT yang masih di bawah RPJMD Kota Semarang Tahun
standar dari Dirjen Perhubungan Darat 2016-2021sebagaimana tercantum
yaitu untuk koridor I sebesar 29,8%, dalam Rancangan Awal RPJMD Kota
koridor II 23,5% dari standar 70%. Semarang 2016-2021 mengusung visi
Kemampuan pengeluaran biaya “Semarang Kota Perdagangan dan Jasa
transportasi masyarakat satu hari hanya yang Hebat Menuju Masyarakat Semakin
Rp10.000 namun ternyata biaya yang Sejahtera” yang didalamnya terdapat 4
harus dikeluarkan mereka dalam sekali misi yakni:
perjalanan mencapai Rp6.500,00 yang 1. Mewujudkan kehidupan masyarakat
terdiri dari biaya BRT Rp3.500 dan yang berbudaya dan berkualitas.
biaya minibus/angkutan kota Rp3.000 2. Mewujudkan pemerintahan yang
(Rahma, 2014). semakin handal untuk
meningkatkan pelayanan publik.

51
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

3. Mewujudkan kota metropolitan mengembangkan sarana dan prasarana


yang dinamis dan berwawasan jalan dan jembatan yang berkualitas,
lingkungan. dengan kebijakan diarahkan pada (1)
4. Memperkuat ekonomi kerakyatan Pembangunan dan peningkatan sarana
berbasis keunggulan lokal dan dan prasarana jalan dan jembatan; (2)
membangun iklim usaha yang Penataan dan pengembangan street
kondusif. furniture.
Permasalahan terkait dengan
transportasi dijawab pada misi ketiga
yakni mewujudkan kota metropolitan
yang dinamis dan berwawasan
lingkungan dengan tujuan yang akan
dicapai adalah mewujudkan sistem
transportasi Kota Semarang yang
terintegrasi dan berkelanjutan yang
difokuskan pada penyediaan
transportasi massal ramah lingkungan
(BRT, Monorel/MRT), integrasi dan
Sumber: Rancangan Awal RPJMD Kota Semarang
interkoneksi antar moda transportasi di 2016-2021
terminal, pelabuhan, stasiun kereta api
dan bandara; dan pengembangan moda Gambar 5
transportasi regional (comuter line Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran yang
Kedungsepur) dan pembangunan berkaitan dengan Sistem
terminal barang. Transportasi
Untuk mencapai tujuan tersebut
ada dua sasaran yang harus dicapai Pada urusan perhubungan strategi
yakni terwujudnya sistem jaringan dan arah kebijakan adalah dengan
transportasi yang terpadu dan mengembangkan sarana dan prasarana
terwujudnya pelayanan transportasi transportasi yang berkualitas, dengan
massal yang efektif dan efisien. Gambar kebijakan diarahkan pada (1)
5 menunjukkan grafik sasaran hingga visi Rehabilitasi dan peningkatan sarana
pada aspek transportasi. prasarana transportasi; (2)
Dari sasaran kemudian diturunkan Pengembangan integrasi antar moda
menjadi strategi dan arah kebijakan. transportasi. Dan mengembangkan
Strategi dan arah kebijakan merupakan transportasi massal, dengan kebijakan
rumusan perencanaan komprehensif diarahkan pada pengembangan sistem
tentang bagaimana pemerintah daerah angkutan umum massal (rel dan non
mencapai tujuan dan sasaran RPJMD rel) dan peningkatan BRT dan
dengan efektif dan efisien. Dengan pengembangan MRT/monorel.
pendekatan yang komprehensif, strategi Pada tujuan lain yakni
juga dapat digunakan sebagai sarana meningkatkan pelayanan sarana dan
untuk melakukan transformasi, prasarana dasar perkotaan terdapat
reformasi, dan perbaikan kinerja strategi yang berkaitan dengan
birokrasi. Pada misi ketiga, ada dua transportasi yaitu mengembangkan
urusan pada strategi dan arah kebijakan sarana dan prasarana jalan dan jembatan
yang berkaitan dengan aspek yang berkualitas dengan arah kebijakan
transportasi yakni pekerjaan umum dan yakni pembangunan dan peningkatan
urusan perhubungan. Pada urusan sarana dan prasarana jalan dan jembatan
pekerjaan umum, strategi dan arah dan penataan dan pengembangan street
kebijakan adalah dengan funiture.

52
Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal. 43 - 56

Strategi dan arah kebijakan g. Program inspeksi kondisi jalan


kemudian diturunkan menjadi kebijakan dan jembatan.
umum dan program pembangunan 2. Program pembangunan daerah
daerah. Perumusan program pada urusan perhubungan
pembangunan daerah merupakan a. Program pembangunan
rencana pembangunan yang konkrit prasarana dan fasilitas
dalam bentuk program prioritas yang perhubungan.
secara khusus berhubungan dengan b. Program rehabilitasi dan
capaian sasaran pembangunan daerah. pemeliharaan prasarana dan
Berikut adalah program pembangunan fasilitas LLAJ.
daerah yang berkaitan dengan sistem c. Program peningkatan pelayanan
transportasi: angkutan.
1. Program pembangunan daerah d. Program pengendalian dan
pada urusan pekerjaan umum: pengamanan lalulintas program
b. program pembangunan jalan dan pembangunan sarana dan
jembatan. prasarana perhubungan.
c. Program rehabilitasi / e. Program peningkatan kelaikan
pemeliharaan jalan & jembatan. pengoperasian kendaraan
d. Pembangunan sistem bermotor.
informasi/database jalan dan f. Program pelayanan BLU UPTD
jembatan. Terminal Mangkang.
e. Peningkatan sarana & prasarana Agar program-program tersebut dapat
kebinamargaan. berjalan maka dirumuskan pula
f. Program penerangan jalan indikator-indikator yang harus dicapai
umum. dan target serta capaian per tahun yang
harus tercapai.

Sumber: Rancangan Awal RPJMD Kota Semarang 2016-2021

Gambar 6
Arah Kebijakan, Strategi dan Sasaran pada Sistem Transportasi

Pengembangan Transportasi mampu mendukung visi yang


Berkelanjutan di Kota Semarang dirumuskan. Begitupun dengan adanya
Perencanaan bertujuan untuk penyusunan RPJMD, maka rencana yang
menciptakan kondisi yang lebih baik ada harus mampu menjawab
dimasa yang akan datang. Selain rencana permasalahan, sesuai dengan kerangka
harus mampu menjawab permasalahan, teori dan mendukung visi yang ada.
konsep perencanaan yang diangkat juga Pada sasaran yang pertama yakni
harus sesuai dengan teori yang ada dan terwujudnya sistem jaringan
53
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

transportasi yang terpadu, kinerja karena kondisi sarana dan prasarana


ditekankan pada peningkatan kualitas dan pengelolaannya masih perlu
jaringan jalan baik kondisi maupun ditingkatkan melalui program pelayanan
peningkatan fasilitas perlengkapan jalan BLU UPTD Terminal Mangkang dan
seperti rambu, marka dan penerangan. program pembangunan prasarana dan
Hal ini tentu untuk menyelesaikan fasilitas perhubungan.
permasalahan kondisi jalan baik yang Jika dilihat secara teoritis,
ada di Kota Semarang baru mencapai transportasi berkelanjutan adalah
55% dan kondisi jalan dalam kondisi transportasi yang memenuhi 3 aspek
rusak ringan mencapai 40% dan rusak yakni lingkungan, ekonomi dan sosial.
sedang mencapai 5%. Pada aspek lingkungan, transportasi
Dalam teori terkait transportasi yang tidak menimbulkan polusi udara,
berkelanjutan, salah satu kriteria yang air, dan tanah serta tidak menggunakan
harus ada dalam pengembangan sumber daya yang berlebihan. Pada
transportasi bekelanjutan adalah aspek ekonomi, transportasi yang
aksesibilitas wilayah yang baik yang terjangkau oleh masyarakat dan dapat
ditunjukkan dengan kondisi jaringan memenuhi kebutuhan biaya operasional
jalan yang baik. Maka jika dilihat pada transportasi perkotaan yang produktif.
hal ini, Kota Semarang telah mampu Pada aspek sosial, transportasi yang
mewadahi kriteria yang diperlukan dapat mendukung terwujudnya
dalam mengembangkan transportasi lingkungan sosial yang sehat,
berkelanjutan. Saat ini panjang jaringan meminimalisasi kebisingan, kemacetan,
jalan dalam kondisi baik adalah 364,17 dan dapat meningkatkan keadilan sosial
km dan ditargetkan pada tahun 2021 dan tingkat kesehatan.
jumlah jaringan jalan dalam kondisi baik Melalui penyediaan transportasi
mencapai 386,57 km. massal ramah lingkungan (BRT,
Pada sasaran kedua, yakni monorel/MRT), integrasi dan
terwujudnya pelayanan transportasi interkoneksi antar moda transportasi di
massal yang efektif dan efisien, kinerja terminal, pelabuhan, stasiun kereta api
yang ditekankan adalah penyediaan dan bandara dan pengembangan moda
angkutan umum yang melayani wilayah transportasi regional (comuter line
yang telah tersedia jaringan jalan untuk Kedungsepur) menunjukkan
jalan Kabupaten/Kota. Sasaran ini pengembangan transportasi di Kota
berkaitan dengan permasalahan Semarang yang memperhatikan ketiga
keterpaduan transportasi yang ada di aspek tersebut. Dilihat secara pada
Kota Semarang. Sebagai salah satu kota aspek lingkungan, penyediaan
terbesar dan merupakan ibu kota transportasi umum yang semakin
Provinsi Kota Semarang harus mampu meningkat dapat mengurangi jumlah
menyediakan kebutuhan transportasi kendaraan pribadi yang mampu
demi terpenuhi permintaan barang dan mengurangi jumlah polusi udara.
jasa yang ada di Kota Semarang. Transportasi umum juga terjangkau
Jika dilihat dari penyelesaian dengan tarif Rp1.000-3.500, maka
permasalahan, rencana sistem semua kalangan dapat mengakses.
transportasi yang ada dalam Rancangan Interkoneksi antar moda
Awal RPJMD Kota Semarang 2016- transportasi di terminal, pelabuhan,
2021 telah mewadahi permasalahan stasiun kereta api dan bandara serta
melalui program-program yang ada pengembangan terminal barang
didalamnya, termasuk permasalahan merupakan salah satu perwujudan
yang berkaitan dengan kondisi terminal dukungan terhadap salah satu hal yang
di Kota Semarang masih belum optimal,
54
Riptek Vol. 10, No. 1, Tahun 2016 Hal. 43 - 56

harus tercapai didalam visi, yakni Dinas Pengelolaan Keuangan dan Asset
Semarang kota perdagangan dan jasa. Daerah Kota Semarang. (2015).
Jumlah Kendaraan yang Berada di
Kesimpulan Kota Semarang tahun 2010-2015.
Sistem transportasi di Kota
Hanum, Sarita Yuniarti. (2009). Sistem
Semarang sudah terencana dengan baik Informasi Transportasi dan Jalur
dalam Rancangan Awal RPJMD Kota Angkutan Kota Untuk Penataan
Semarang 2016-2021. Perencanaan Ruang Wilayah Kota Semarang
terkait sistem transportasi yang ada Guna Membantu Pengambilan
telah mampu menjawab permasalahan- Keputusan (Studi Kasus: Bagian
permasalahan terkait transportasi yang Wilayah Kota III dan IV Kotamadya
ada di Kota Semarang. Selain itu,
Daerah Tingkat II Semarang. Dalam
konsep transportasi berkelanjutan Dinamika Informatika Vol. 1
secara teoritik juga telah diterapkan No.1, Maret 2009.
dalam rencana yang dirumuskan didalam http://megapolitan.kompas.com.
RPJMD. Program-program yang ada
Diunduh 13 Mei 2016.
dalam RPJMD juga telah mendukung visi
Kota Semarang sebagai kota Humas UGM.(2007). Pengembangan
perdagangan dan jasa. Hal yang perlu Transportasi yang Berkelanjutan.
menjadi catatan adalah bagaimana Dalam Website Universitas
konsistensi pelaksanaan rencana yang Gadjah Mada ugm.ac.id. Diunduh
telah disusun agar dilaksanakan sesuai 12 Mei 2016.
dengan yang telah direncanakan Kadir, Abdul. (2006). “Transportasi:
sehingga tujuan tercapainya transportasi Peran dan Dampaknya dalam
berkelanjutan di Kota Semarang dapat Pertumbuhan Ekonomi Nasional”.
terlaksana. Jurnal Perencanaan &
Pengembangan Wilayah Wahana
DAFTAR PUSTAKA HijauVol. 1 No. 3.

Adisasmita, Sakti Adji. (2011). Kompas.com. (2009). “Semarang Butuh


Perencanaan Pembangunan Pembenahan Transportasi”.
Transportasi. Yogyakarta: Graha Dalam Megapolitan.
Ilmu. Litman, Todd. (2015). Developing
BPS Provinsi Jawa Tengah. (2015). Indicators for Sustainable and
PDRB Provinsi Jawa Tengah atas Livable Transport Planning. Victoria
Dasar Harga Konstan Dirinci Transport Policy Institute.
Perkabupaten/Kota Tahun 2012- Retrieved from www.vtpi.org.
2014. Munawwar, Ahmad. (2005). Dasar-dasar
Brotodewo, Nicolas. (2010). “Penilaian Teknik Transportasi. Jogjakarta:
Indikator Transportasi Penerbit Beta Offset.
Berkelanjutan pada Kawasan Nugroho, Untoro. (2009). “Outer Ring
Metropolitan di Indonesia”. Jurnal Road sebagai Alternatif Solusi
Perencanaan Wilayah dan Kota, 21 Permasalahan Transportasi Kota
(3), 165-182. Semarang”. Riptek, 3 (1), 35 – 43.
Dickson. (2015). “10 Kota Terbesar di Nurdin, Nazar. (2015). “UMK Jateng
Indonesia Menurut Jumlah 2016 Ditetapkan, Semarang
Penduduknya”. Dalam Ilmu Tertinggi Rp 1,9 Juta,” dalam
Pengetahuan Umum http://regional.kompas.com.
ilmupengetahuanumum.com.
Diunduh 28 April 2016.
55
Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Di Kota Semarang (Itsna Yuni H, Sri Febriharjati)

Diunduh pada Minggu, 8 Mei


2016.
Pemerintah Kota Semarang, (2016).
Rancangan Awal Rencana
Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Kota Semarang
Tahun 2016-2021.
Permendagri Nomor 56 Tahun 2015.
tentang Kode dan Data Wilayah
Administrasi Pemerintahan.
Petersen, Rudolf dan Carolin Schafer
(Wuppertal Institute). 2002.
Perencanaan Tata Ruang Kota dan
Transportasi Perkotaan. Bonn: GIZ
dan BMZ.
Rahma, Siti, Dyah AW, Ismiyati, Djoko
P. 2014. “Penyediaan Transportasi
Umum Masa Depan di Kota
Semarang”. Jurnal Karya Teknik
Sipil, 3 (1), 154-166.
Rifusua, Agus Imam. (2010). Analisis
Faktor...,. Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
Sudjana, Nana dan Ibrahim. (1989).
Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru.
Tim Metropolitan Jabar. (2014). Konsep
Pengembangan Metropolitan Jawa
Barat. dalam Website
Metropolitan Development
Management
http://metropolitan.jabarprov.go.i
d. Diunduh 12 Mei 2016
Yulyfatun. (2015). “Semarang Menuju
Kota Metropolitan”. Dalam Suara
Merdeka
berita.suaramerdeka.com.
Diunduh 28 April 2016.

56