You are on page 1of 8

Jurnal Ilmiah Platax Vol.

1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

The Growth of Hard Coral (Acropora sp.) Transplants in Coral Reef of


Malalayang Waters, North Sulawesi, Indonesia
Alex Denny Kambey1
ABSTRACT
Main coral reef building components, Scleractinian corals, has the highest
distribution in Indonesia, at least 590 species known of 793 species in the world.
Studies on damaged coral community transplantation have been done to observe their
growth and adaptation ability.
A four-month observation found that average length increment at 9 M deep was
linearly 0.375 cm, 0.632 cm, and 0.732 cm at the first, second, and third month,
respectively, at 6 M deep, it was 0.455 cm, 0.689 cm, and 1.012 cm, at the first, second
and third month, respectively, and at 3 M deep, it was 0.55 cm, 1.05 cm and 1.1, at the
first, second, and thrid month, respectively. Mean relative length increment at 9 M deep
occurred every month as much as 4.25%, 8.23%, and 9.86% at the first, second, and
third month, respectively. Similarly, it occurred in 6 M deep, 4.12%, 9.14%, and 11.28%
at the first, second, and third month, respectively. However, at 3 M deep, it occurred
only at the first and second month, 7.33% and 12.73%, while it declined at the third
month, 11.7%.
Keywords : Ecosystems, Coral Reef, Scleractinia, Malalayang, Manado

ABSTRACT
Komponen utama penyusun terumbu yakni coral (Scleractinia) memiliki
distribusi tertinggi di Indonesia, sekurang-kurangnya diketahui 590 spesies dari 793
jenis yang ada di dunia. Penelitian tentang transplantasi pada suatu komunitas yang
telah rusak dilakukan untuk melihat pertumbuhan dan kemampuan beradaptasi.
Penelitian selama empat bulan pengamatan, rata-rata pertambahan panjang secara linier
pada kedalaman 9 meter; bulan pertama 0,375 cm, bulan kedua 0,632 cm, dan bulan
ketiga 0,732 cm. Pada kedalaman 6 meter; bulan pertama sebesar 0,455 cm, bulan
kedua 0,689 cm, dan bulan ke tiga 1,012 cm, sedangkan di kedalaman 3 meter; bulan
pertama sebesar 0,55 cm, bulan kedua 1,05 cm dan bulan ketiga 1,1. Persentase rata-rata
pertambahan panjang relatif di kedalaman 9 m mengalami peningkatan setiap bulannya.
Bulan pertama 4,25 persen, bulan kedua 8,23 persen, dan bulan ketiga 9, 86 persen.
Begitu juga di kedalaman 6m bulan pertama 4,12 persen, bulan kedua 9,14 persen, dan
bulan ketiga 11,28 persen. Di kedalaman 3 m hanya bulan pertama dan bulan kedua
mengalami peningkatan yaitu bulan pertama sebesar 7,33 persen, bulan kedua 12,73
persen sedangkan dari bulan kedua sampai bulan ketiga mengalami penurunan sebesar
11,7 persen.
Keywords : Ekosistim, Terumbu Karang, Scleractinia, Malalayang, Manado
1
Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi

PENDAHULUAN yang keras (tapi berpori), terbentuk


selama selama periode yang panjang
Terumbu karang merupakan ekosistem
melalui pertumbuhan yang bergantian
perairan laut dangkal yang sangat
pengendapan dan konsolidasi sisa-sisa
produktif, ekosistem ini sangat beragam
cangkang terutama karang (ordo
taksonominya yang bertempat pada
Scleractinia) hermatipik (pembentuk
pelataran kalsium karbonat (CaCO3)
terumbu) serta kalsifikasi sisa-sisa

196
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

cangkang moluska dan alga berkapur. dan keuntungan diri sendiri tanpa
Ekosistem ini memiliki fungsi alamiah memikirkan akibat yang ditimbulkan
sebagai lingkungan hidup, pelindung bagi masyarakat umum di waktu
fisik bagi pulau dan daratan, mendatang.
sumberdaya hayati dan sumber Terumbu karang di
keindahan. Sebagai lingkungan hidup semenanjung Sulawesi Utara tak luput
dan tempat hidup, terumbu karang dari permasalahan yang sama. Hewan
menjadi tempat organisme berkembang pemakan coral ganas Acanthaster
biak dan berproduksi. planci (pumparade) yang semakin
Terumbu karang dan segala meningkat, masuknya
kehidupan yang ada di dalamnya sampah/eutrofikasi, tekanan akibat
merupakan salah satu kekayaan alam aktivitas manusia yang berlebihan,
yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak memang akibat dari kombinasi tersebut
ternilai harganya. Kepulauan Indonesia tidak dapat diprediksi dampak
memiliki keanekaragaman hayati yang kerusakan ataupun kepunahaan karang
tinggi di dunia, disebut sebagai ‘center cepat ataupun lambat, namun antisipasi
of biodiversity’, dan merupakan ‘key of dan upaya penyelamatan sangatlah
marine area’ atau ‘the heart of coral diperlukan. Perairan pantai Malalayang
triangle’. Namun di balik kebanggaan yang terdapat di wilayah perairan Teluk
potensi, nilai dan manfaat ekosistem Manado memiliki terumbu karang yang
terumbu karang yang strategis; potensial dikembangkan. Namun
kuantitas (luasan) dan kualitasnya dari sangat disayangkan terumbu karang
tahun ke tahun merosot tajam (TNC yang terdapat di sekitar perairan
2004, Wilkinson 2004, Tun et al 2008). tersebut terancam akibat aktivitas
Berbagai permasalahan global manusia seperti reklamasi dan kegiatan
mengancam ekosistem laut dunia wisata pantai. Beberapa areal dari
termasuk Indonesia yang pada terumbu di wilayah tersebut telah
akhirnya menyebabkan kehancuran mengalami kerusakan baik secara
ekosistem terumbu karang. Pola alamiah maupun diakibatkan oleh
pembangunan wilayah pesisir dan manusia seperti penangkapan ikan
lautan selain telah menghasilkan dengan alat tangkap yang tidak ramah
sejumlah keberhasilan juga telah lingkungan, ancaman degradasi
meningkatkan kerusakan terumbu keanekaragaman hayati ekosistem
karang di hampir seluruh perairan terumbu karang ini tentunya
Indonesia, berbagai kegiatan memerlukan perhatian guna kelestarian
pemanfaatan wilayah pesisir seperti sumberdaya yang ada. Langkah
pertanian, industri, pengerukan pantai, konservasi seperti penetapan daerah
penangkapan ikan dengan racun serta perlindungan laut maupun
bom ikan, reklamasi pantai dan restorasi/rehabilitasi ekosistem saat ini
peristiwa alami seperti gempa bumi, menjadi tantangan tersendiri dalam
sedimentasi, El Nino dan Tsunami upaya pelestarian sumberdaya.
dapat menganggu atau merusak Rehabilitasi dan restorasi biologis pada
terumbu karang. Sejalan dengan ekosistem terumbu karang berupa
meningkatnya penduduk dan transplantasi hewan karang secara
kesejahteraan masyarakat memacu langsung dapat meningkatkan dan
manusia untuk mengeksploitasi memulihkan terumbu yang
sumberdaya secara besar-besaran terdegradasi.
tanpa memperhitungkan akibatnya. Kerusakan ekosistem terumbu
Kebutuhan ekonomi yang tinggi karang yang terjadi saat ini telah
mendorong manusia melakukan pola memperparah kuantitas dan kualitas
destruktif dalam memanfaatkan hewan karang sebagai komponen
sumberdaya alam dengan hanya utama pembentuk terumbu. Isu
memikirkan keuntungan jangka pendek pemanasan global adalah peringatan

197
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

tentang perubahan yang menglobal, langsung maupun tidak langsung


peningkatan suhu air laut dan seperti yang telah dijelaskan mendetail
pengasaman laut (ocean acidification) sebelumnya. Langkah konservasi
menambah kritisnya kondisi ekosistem seperti penetapan daerah perlindungan
yang penting ini. Secara aktual, laut maupun restorasi/rehabilitasi
over/destructive-fishing, pembangunan ekosistem saat ini menjadi tantangan
dan tekanan yang meningkat di wilayah tersendiri dalam upaya pelestarian
pesisir diikuti polusi dan sedimentasi sumberdaya. Rehabilitasi dan
serta perubahan iklim (climate change) restorasi biologis pada ekosistem
berkontribusi terhadap berkurangnya terumbu karang berupa transplantasi
terumbu dunia termasuk di hewan karang secara langsung dapat
semenanjung Sulawesi Utara, meningkatkan dan memulihkan
Indonesia. Ekosistem terumbu karang ekosistem terumbu yang terdegradasi.
di pantai Malalayang telah lama dikenal
Dalam memulihkan kondisi
memiliki sumberdaya laut yang sangat
terumbu karang secara alami
potensial, namun turut terancam akibat
dibutuhkan waktu yang sangat lama.
aktivitas yang diakibatkan manusia
Namun saat ini telah dikenal banyak
langsung maupun tidak langsung.
metode, salah satunya adalah metode
Ekosistem yang langsung
transplantasi karang. Transplantasi
bersinggungan dengan wilayah wisata
karang merupakan salah satu upaya
pantai masyarakat ini terancam dengan
rehabilitasi terumbu karang melalui
pencemaran, banyaknya sampah,
pencangkokan atau pemotongan
sedimentasi dan beberapa eksploitasi
karang hidup yang selanjutnya ditanam
pemanfaatan sumberdaya yang tidak
di tempat lain yang mengalami
ramah lingkungan termasuk reklamasi
kerusakan atau menciptakan habitat
pembangunan pantai.
yang baru pada lahan yang kosong.
Selain permasalahan tersebut di Manfaat dari transplantasi karang
atas, di sisi lain teknologi konservasi adalah mempercepat regenerasi
untuk memulihkan dan meningkatkan terumbu karang yang telah rusak,
kuantitas dan kualitas hewan karang rehabilitasi lahan-lahan kosong atau
masih kurang diterapkan. Penerapan yang rusak sehingga dapat mendukung
teknik transplantasi langsung ke ketersediaan jumlah populasi ikan
terumbu yang relatif kurang menarik karang di alam, menciptakan komunitas
terutama pada terumbu yang kosong baru, pengembangan populasi karang
atau berupa substrat skeleton hewan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan
karang yang mati masih kurang keperluan perdagangan (Edwards dan
dilakukan. Beberapa langkah Clarck 1988, Kaleka 2004).
konservasi yang dilakukan dewasa ini
Restorasi biologis harus selalu
masih terbatas pada transplantasi dan
dipertimbangkan terutama dalam hal
pembibitan hewan karang dalam wadah
pengembalian kondisi lingkungan
tertentu yang umumnya mahal
secara keseluruhan baik aspek fisik,
dilakukan. Dengan memperhitungkan
biotik, manusia hingga pengelolaan.
jenis karang dan dilakukan dengan hati-
Restorasi ekologis adalah proses
hati tentunya akan turut meningkatkan
membantu pemulihan alami sebuah
keanekaragaman dan kekayaan jenis
ekosistem yang kondisinya telah
karang, secara tidak langsung akan
menurun, rusak, atau hancur. Bantuan
meningkatkan nilai dari suatu
tersebut dapat dilakukan secara tidak
ekosistem.
langsung dengan pengelolaan terumbu
Penyebab terjadinya kerusakan karang sehingga dapat menghilangkan
terumbu karang pada umumnya hal-hal yang menghalangi pemulihan
disebabkan oleh ulah manusia alami, atau secara langsung dengan
melakukan restorasi biologis secara

198
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

aktif seperti transplantasi karang atau Acropora sp. (Veron 2000) yang
biota lainnya. Contoh untuk yang terdapat di daerah tersebut. Lokasi
pertama dapat berupa pengelolaan transplantasi yang akan dipilih adalah
untuk mengurangi tekanan akibat pada terumbu terdegradasi atau pada
perikanan, limpasan sedimen, atau terumbu dengan tutupan dan
masuknya limbah. Dengan demikian keragaman jenisnya relatif rendah.
restorasi biologis secara pasif dapat Bibit atau fragmen karang
dilakukan melalui berbagai kegiatan ditransplantasi pada substrat keras
pengelolaan pesisir yang dapat kapur (calcium carbonat) yang
mengurangi tekanan antropogenik merupakan material sisa (skeleton) dari
terhadap ekosistem terumbu karang karang yang telah mati, ditentukan
(Pickering et al 1999, Bowden-Kerby pada 3 kedalaman berbeda masing-
2008). masing di 3, 6, dan 9 meter.
Pengambilan bibit / fragmen dari
Kegiatan restorasi biologis
induk karang Acropora dilakukan
secara aktif yang paling sering
secara hati-hati menggunakan penjepit
dilakukan adalah transplantasi karang
(tang) untuk memotong ujung cabang
atau biota lain pada kawasan yang
dengan kisaran panjang antara 6-10
sudah rusak. Yang harus diingat adalah
cm. Fragmen yang telah dipotong
minimalisasi kerusakan terhadap
dikumpulkan ke dalam keranjang dan
kawasan yang lebih baik yang menjadi
dibawa pada lokasi transplantasi
donor transplantasi, dan
masing-masing sebanyak 30 fragmen
memaksimalkan kemungkinan hidup
per kedalaman (3, 6, dan 9 meter).
transplan pada terumbu yang akan
Teknik transplantasi fragmen ke
dipulihkan Akhirnya kegiatan restorasi
substrat karang mati adalah mencari
hanya dapat berhasil dalam jangka
lubang alami berdiameter yang sama
panjang jika komunitas di terumbu
dengan fragmen, atau melubangi
karang telah mandiri dan berfungsi
terumbu dengan bor, pahat ataupun
dengan baik (Bowden-Kerby 2008,
obeng sesuai ukuran. Area di sekitar
Edwards & Gomez 2008). Saat ini
lubang transplantasi dikikis hingga
sudah tersedia banyak pilihan yang
bersih kemudian fragmen di masukkan
menjanjikan hasil yang baik sehingga
dan distabilkan dengan perekat epoxy
para praktisi dapat mengurangi efek
di satu sisi dan di sisi lainnya ditekan
samping mulai dari pemilihan sumber
hati-hati hingga menyentuh substrat,
transplantasi hingga memaksimalkan
proses ini akan mempercepat
efektivitas dari karang yang digunakan.
penempelan fragment pada substrat.
Pilihan yang tersedia mulai dari
Jarak terdekat antara fragmen satu
bagaimana memilih sumber
dengan yang lainnya kurang lebih 20
transplantasi, baik dengan propagasi
centimeter.
seksual maupun aseksual secara in situ
Pengukuran panjang dilakukan
(di laut) atau ex situ (di akuarium)
setelah semua fragmen (90 fragmen)
METODE selesai ditransplantasi (data awal).
Sebelum kegiatan transplantasi Fragmen akan diukur mulai dari
dimulai, survey awal dengan pangkal yang dibatasi dengan garis
menggunakan SCUBA (self containe epoxy sampai pada ujung cabang
breathing apparatus) dilakukan untuk dengan ketelitian 1 mm. Pengamatan
mengidentifikasi jenis karang induk dan perkembangan fragment yaitu
lokasi terumbu yang cocok untuk ketahanan hidup dan pertumbuhannya
penelitian ini (Hill dan Wilkinson 2004). akan dilakukan setiap bulannya selama
Induk karang yang yang akan dijadikan 3 bulan (akhir pengambilan data).
bibit transplantasi adalah jenis karang Pencatatan data bawah air dengan
batu bercabang dan sehat dari genus menggunakan underwater sheet dan di

199
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

dokumentasikan dengan kamera Hasil pengamatan terlihat jelas


bawah air. bahwa hasil pengukuran selama empat
bulan dengan menggunakan uji statistik
HASIL DAN PEMBAHASAN anova tidak berbeda nyata karena
Pertambahan Panjang Berdasarkan dilihat dari tabel di atas selama empat
Panjang Linier bulan pengukuran f-hitung lebih kecil
Hasil pengukuran pertambahan dari f-tabel dimana pada bulan pertama
panjang transplan karang Acropora sp f-hitung (1,745193) < f-tabel (3,21448),
menunjukan adanya peningkatan bulan kedua f-hitung (0,506143) < f-
selama empat bulan, yaitu dari bulan tabel (3,21448) juga bulan ketiga f-
agustus-november 2010. Grafik di hitung (0,813683) < f-tabel (3,38519).
bawah ini menggambarkan Laju rata-rata pertambahan
pertambahan panjang secara linier panjang secara linier di kedalaman 9
pada tiga kedalaman berbeda yaitu meter, 6 meter, dan 3 meter selama
kedalaman 9m, 6m, dan 3m. empat bulan yaitu dari bulan agustus-
Pertambahan panjang secara linier november meningkat dari bulan
pada masing-masing kedalaman pertama atau awal pengambilan data
menunjukan adannya peningkatan dari dimana nilai tertingi pada akhir bulan
awal sampai akhir pengukuran dan kondisi ini belum mencapai
diperkirakan masih akan terus pertambahan panjang karang pada
bertambah panjang. umumnya dimana kurva pertambahan
Pertambahan Panjang Berdasarkan panjang tersebut secara logistik
Panjang Linier biasannya mencapai batas tertinggi
Pertambahan panjang (Cm)

1.2 atau nilai maksimum pertabahan


1 9m panjang yang stabil dihubungkan
0.8 dengan waktu, pertambahan panjang
0.6 6m
karang di tiga kedalaman berbeda ini
0.4 3m terjadi dalam waktu singkat dengan
0.2 nilai rata-rata selama empat bulan pada
0 kedalaman 9 meter berkisar antara
I II III 0,37-0,73 cm, kedalaman 6 meter
Bulan berkisar antara 0,63-1,01 cm begitu
Gambar 1. Pertambahan panjang berdasarkan juga di kedalaman 3 meter berkisar
panjang linier antara 0,55-1,1 cm, sedangkan untuk
Rata-rata pertambahan panjang mencapai stabilitas pertambahan
secara linier selama empat bulan pada panjang karang maka penelitian
kedalaman 9 meter yaitu bulan pertama membutuhkan waktu yang cukup lama
0,375 cm bulan kedua 0,632 cm kurang lebih satu tahun penelitian
sedangkan bulan ketiga 0,732 cm, sehingga dapat diketahui periode
pada kedalaman 6 meter rata-rata maksimum dimana pertambahan
pertambahan panjang bulan pertama panjang transplant karang tersebut
yaitu sebesar 0,455 cm bulan kedua dapat menjadi stabil.
0,689 cm bulan ke tiga 1,012 cm, Persentase rata-rata
sedangkan di kedalaman 3 meter rata- pertambahan panjang relatif pada
rata pertambahan panjang linier bulan kedalaman 9, 6 dan 3 meter selama
pertama yaitu sebesar 0,55 cm, bulan empat bulan juga mengalami
kedua 1,05 cm dan bulan ketiga 1,1. peningkatan hanya saja pada
Untuk mengetahui apakah kedalaman 3m pada bulan terakhir
terjadi perbedaan pertambahan mengalami penurunan. Perbedaan
panjang cabang di tiga kedalaman pertumbuhan di masing-masing
berbeda selama empat bulan dilakukan kedalaman berbeda ini berhubungan
uji statistik yaitu dengan menggunakan dengan kemampuannya memperoleh
anova cahaya untuk dapat bertumbuh. Laju

200
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

pertumbuhan karang dipengaruhi oleh 12,73 persen sedangkan dari bulan


sifatnya yang fototorik sehingga dalam kedua sampai bulan ketiga mengalami
bertumbuh karang jenis Acropora penurunan sebesar 11,7 persen.
cenderung mendapatkan cahaya yang
Kemampuan Karang Beradaptasi
lebih banyak, hal ini juga berhubungan
Hasil pengamatan selama tiga
dengan laju kalsifikasi karang dimana
bulan setelah karang ditransplantasi ke
pertumbuhan kearah atas maka
stasiun penelitian terlihat bahwa
semakin besar intensitas cahaya yang
sebagian karang yang mengeluarkan
masuk. Zooxanthellae dalam jaringan
lendir (Mocus) pada awal penelitian
karang meningkatkan kemampuan
teetapi di hari berikunya lendir tersebut
untuk melakukan fotosintesis sehingga
dapat hilang
kalsifikasi struktur untuk perkembangan
Hal ini dikarenakan pada saat
semakin cepat.
fragmen karang dipatahkan dari
Pertambahan Panjang Relatif
induknya dsn ditempatkan pada suatu
Pertambahan panjang Relatif
wadah tertentu karang tersebut
karang acroopora sp selama 3 bulan
mengalami stres. Sama halnya dengan
pada masing-masing kedalaman
penelitian yang dilakukan Sadarun
mengalami peningkatan setiap
(1999) menyatakan bahwa karang jenis
bulannya dapat dilihat dari grafik di
Acropora formosa kembali normal dari
bawah pada kedalaman 9m dari bulan
mngalami stress dalam waktu yang
petama sampai bulan ketiga dapat
singkat pada kisaran penyembuhan 5-
mengalami peningkatan begitu juga di
13 hari . Awal pertumbuhan karang
kedalaman 6m dari bulan pertama
ditandai dengan mulai menutupnya
sampai bulan ketiga juga mengalami
bekas potongan yang terjadi pada saat
peningkatan hanya saja di kedalaman
fragmentasi, kecepatan sembuh karang
3m bulan kedua mengalami
sangat berkaitan dengan proses
peningkatan tetapi bulan ketiga
klasifikasi karang tersebut sedangkan
mengalami penurunan.
laju klasifikasi karang sangat
Pertambahan Panjang Relatif bergantung pada jenis dan keberadaan
14 karang tersebut.
12 KESIMPULAN
Persentase

10 9m
8 Pertambahan rata-rata panjang
6m
6 cabang secara linier pada masing-
4 3m masing kedalaman yang sama yaitu 9
2
meter pada bulan pertama sampai yang
0
keempat mengalami penigkatan. Sama
I II III
Bulan halnya di kedalaman 6 dan 3 meter
juga mengalami peningkatan
Gambar 2. Pertambahan panjang relatif
pertambahan panjang setiap bulannya.
Persentase rata-rata Hasil analisis anova tidak
pertambahan panjang relative di terlihat perbedaan nyata antara 3
kedalaman 9m mengalami peningkatan kedalaman selama empat bulan
setiap bulannya bulan pertama 4,25 pengamatan
persen, bulan kedua 8,23 persen, bulan
ketiga 9, 86 persen begitu juga di DAFTAR PUSTAKA
kedalaman 6m bulan pertama 4,12
persen, bulan kedua 9,14 persen bulan Bowden-Kerby A (2008) Coral
ketiga 11,28 persen tetapi beda halnya Transplantation and Restocking
di kedalaman 3m hanya bulan pertama to Accelerate the Recovery of
mengalami peningkatan yaitu bulan Coral Reef Habitats and
pertama 7,33 persen, bulan kedua Fisheries Resources Within No-

201
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

Take Marine Protected Areas: Karang. P3O LIPI Sumberdya


Hands-On Approaches to Alam Ambon dan Fakultas
Support Community-Based Perikanan UNSRAT Manado.
Coral Reef Management. Intern. 42 hal.
Tropical Marine Ecosystem
Pickering H, D Whitmarsh, A Jensen
Management Symposium,
(1999) Artificial Reefs as a Tool
Manila Phillipines. 15p.
to Aid Rehabilitation of Coastal
Edwards AJ and S Clarck (1988) Coral Ecosystems: Investigating the
Transplantation: A Useful Potential. Marine Pollution
Management Tool or Misguided Bulletin Vol. 37, Nos. 8-12, pp
Meddling? Marine Pollution 505-514
Bulletin Vol. 37, Nos. 8-12, pp.
Sadarun.1999. Tranplantasi karang
474-487.
batu (Stony Coral ) di kepulauan
Edwards AJ and ED Gomez (2008) seribu teluk Jakarta. Thesis.
Reef Restoration Concepts and Institute Pertanian Bogor. 67
Guidelines: Making Sensible hal.
Management Choices in the
The Nature Conservancy (2004)
Face of Uncertainty. Diterj.oleh:
Delineating the Coral Triangle,
Yusri, S., Estradivari, N. S.
its ecoregions and functional
Wijoyo, & Idris. Yayasan
seascapes. Report from The
TERANGI, Jakarta: 38 hal.
Nature Conservancy, Southeast
Hill J and C Wilkinson (2004) Methods Asia Centre for Marine
for Ecological Monitoring of Protected Area. Compiled by
Coral Reefs. A Resource for Dr. A Green and PJ Mous. 26p.
Manager ver.1. Reefbase,
Tun K, CL Ming, T Yeemin, N
GCRMN, Reef Check. AIMS
Phongsuwan, AY Amri, N Ho, K
publ. ISBN 0642322376. 123p.
Sour, NV Long, C Nanola, D
Kaleka DMW (2004) Transplantasi Lane, Y Tuti (2008) Status of
Karang Batu Marga Acropora Coral Reefs in Southeast Asia;
Pada Substrat Buatan di in the Status of Coral Reefs of
Perairan Tablolong Kabupaten the World 2008 (131-144)
Kupang. Makalah Falsafah
Veron JEN (2000) Corals of the World.
Sains (PPS 702), Program S3
Australian Institute of Marine
IPB. 8 hal.
Science, Vol.1-3.
Lalamentik LTX dan UNWJ Rembet
Wilkinson C (2004) Status of Coral
(1996) Penilaian Kondisi
Reefs of the World. Global Coral
Terumbu Karang Dengan
Reef Monitoring Network. AIMS.
Penekanan Pada Karang Batu.
Vol. 1, 301p
Metodologi Penelitian Terumbu

202
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 1:(4), September 2013 ISSN: 2302-3589

Lampiran :

203
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/platax