You are on page 1of 13

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN

PERILAKU SEKSUAL REMAJA


DI SMK NEGERI 1 SEWON
BANTUL

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh :
Lathifah ‘Arub
1610104469

PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK JENJANG DIPLOMA IV


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
TAHUN 2017
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN
PERILAKU SEKSUAL REMAJA
DI SMK NEGERI 1 SEWON
BANTUL
Lathifah ‘Arub, Andri Nur Sholihah
E-mail : lathifah.arub17@gmail.com
andrikns@gmail.com

Abstract: This research was identify the relationship of parenting pattern with sexual
behavior on adolescents at SMK Negeri 1 Sewon Bantul. This research used descriptive
correlation method with cross sectional time approach. This research was conducted on 80
adolescents at SMK N 1 Sewon Bantul were taken using total sampling technique. Data
collection using questionnaires. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate with
chi square test. The result of this research was obtained by P <0,05 (P = 0,00) and coefficient
value 0,628 which means there is significant correlation and strong relationship between
parenting patterns with sexual behavior on adolencent at SMK N 1 Sewon Bantul in 2017.

Keywords: adolescence, parenting patterns, sexual behavior

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh orang tua dengan
perilaku seksual pada remaja di SMK Negeri 1 Sewon Bantul. Metode penelitian descriptive
correlation dengan pendekatan waktu cross sectional. Responden terdiri dari 80 remaja kelas
XI dan diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data menggunakan
angket. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat dengan uji chi square. Hasil
penelitian didapatkan dengan P<0,05 (P=0,00) dan nilai koefesien 0,628 yang artinya
terdapat hubungan yang signifikan dan keeratan hubungan yang kuat antara pola asuh orang
tua dengan perilaku seksual remaja di SMK N 1 Sewon Bantul pada tahun 2017.

Kata Kunci : perilaku seksual, pola asuh, remaja


PENDAHULUAN 15% telah memiliki empat atau lebih
pasangan seks selama berhubungan
Penduduk remaja merupakan bagian seksual dalam hidup mereka. 39% siswa
dari penduduk dunia dan memiliki SMA yang aktif melakukan hubungan
pengaruh yang besar bagi perkembangan seksual tersebut dilaporkan tidak
dunia. remaja dan berbagai menggunakan kondom selama hubungan
permasalahannya menjadi perhatian dunia seksual. Studi penelitian yang dilakukan
dan dijadikan isu utama dalam Peringatan oleh salah satu kebijakan kesehatan
Hari Kependudukan Dunia yang jatuh perempuan di Kenya tahun 2014 lebih dari
pada 11 Juli 2013. Berdasarkan data satu dalam sepuluh (13%) remaja
BKKBN, di Indonesia jumlah remaja perempuan dan satu dari enam (17%)
berusia 10 - 24 tahun sudah mencapai remaja laki-laki memiliki lebih dari empat
sekitar 64 juta atau 27,6 persen dari total pasangan seksual dalam hidup mereka. Hal
penduduk Indonesia. Jumlah remaja yang ini Menunjukkan bahwa remaja melakukan
besar merupakan potensi yang besar bagi aktivitas seksual dengan banyak pasangan
kemajuan bangsa, namun jika tidak dibina dan menempatkan mereka pada risiko
dengan baik atau dibiarkan saja yang lebih besar.
berkembang ke arah yang negatif justru Jones (2008) mengatakan dalam 20
akan menjadikan beban bagi negara (BPS, tahun terakhir terdapat peningkatan jumlah
2013). remaja putri yang berhubungan seks
Masa remaja merupakan masa pranikah seperti di Inggris, Amerika
transisi dari masa kanak-kanak ke masa Serikat, Kanada, dan Australia. Sekitar
dewasa yang ditandai dengan perubahan- 17% remaja putri berhubungan seks
perubahan fisik pubertas dan emosional pranikah sebelum usia 16 tahun dan ketika
yang kompleks, dramatis serta usia 19 tahun, tiga perempat remaja putri
penyesuaian sosial yang penting untuk satu kali melakukan seks pranikah.
menjadi dewasa. Kondisi demikian Perilaku seksual pada remaja dapat
membuat remaja belum memiliki menimbulkan dampak yang merugikan
kematangan mental oleh karena masih pada perkembangan remaja dan kesehatan
mencari identitas atau jati dirinya sehingga remaja baik fisik maupun psikologis, atau
sangat rentan terhadap berbagai pengaruh dapat menghambat kesuksesan masa depan
dalam lingkungan pergaulan termasuk mereka dan berpengaruh pada
dalam perilaku seksualnya (Sarwono, pembangunan suatu negara. Perilaku
2011). Perilaku seksual merupakan seksual berisiko tinggi menempatkan
perilaku yang timbul karena adanya remaja pada risiko untuk infeksi menular
dorongan seksual atau kegiatan untuk seksual (IMS) termasuk Human
mendapatkan kesenangan organ seksual Immunodeficiency Virus (HIV), kehamilan
melalui berbagai perilaku seperti yang tidak direncanakan, dan berada dalam
berfantasi, pegangan tangan, berciuman, hubungan seksual sebelum menjadi cukup
berpelukan sampai dengan melakukan dewasa untuk mengetahui apa yang
hubungan seksual. Penelitian-penelitian membuat hubungan yang sehat.
sebelumnya menyebutkan bahwa Ketidakdewasaan fisik, kognitif dan
mayoritas remaja melakukan hubungan emosional remaja dapat meningkatkan
seksual pertama kali saat di bangku SMA risiko pada kesehatan reproduksi remaja
dan pada usia sekitar 15-18 tahun (Alimoradi, 2017).
(Soetjiningsih, 2008). Kasus aborsi merupakan salah satu
Mayabi (2016) dalam penelitiannya dampak dari perilaku seksual remaja dan
mengatakan bahwa pada tahun 2007 di memperlihatkan kecenderungan yang
Amerika Serikat, 48% dari siswa SMA meningkat. World Health Organization
telah melakukan hubungan seksual, dan (WHO) memperkirakan ada 20 juta
kejadian aborsi tidak aman (Unsafe menular seksual yang menyebabkan
Abortion) di dunia, 9,5% (19 dari 20 juta kematian (WHO, 2013). Ketua Komnas
tindakan aborsi tidak aman) di antaranya Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada
terjadi di negara berkembang. Sekitar 13% tahun 2011 di Indonesia, menemukan
dari total perempuan yang melakukan bahwa remaja yang melakukan seks
aborsi tidak aman berakhir dengan pranikah sebanyak 93,7 %. Sedangkan di
kematian. Risiko kematian akibat aborsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekitar
yang tidak aman di wilayah Asia 18,18% (BPPM, 2013).
diperkirakan 1 berbanding 3.700 dibanding Meningkatnya minat seks pada
dengan aborsi yang aman. remaja dan kurangnya pengetahuan remaja
Di wilayah Asia Tenggara, WHO tentang perilaku seks pranikah, ditambah
memperkirakan 4,2 juta aborsi dilakukan dengan kurangnya keterbukaan keluarga
setiap tahun, dan sekitar 750.000 sampai dalam membicarakan permasalahan seks
1,5 juta terjadi di Indonesia, dimana 2.500 menyebabkan remaja selalu mencari
di antaranya berakhir dengan kematian, informasi mengenai seks secara mandiri.
angka aborsi di Indonesia diperkirakan Remaja cenderung mendapat informasi
mencapai 2,3 juta pertahun. Sekitar tentang seksual melalui sumber yang
750.000 diantaranya dilakukan oleh kurang tepat dan kurang menyadari akibat
remaja. Menurut sebuah laporan, setiap dari perilaku seksual yang berisiko ini.
tahun telah terjadi 1,5 juta kasus aborsi di Berdasarkan penelitian BKKBN (2013)
Amerika Serikat, ratusan ribu di negara- banyak remaja yang terjerumus dalam
negara Eropa, dan lebih dari 2 juta di perilaku seksual yang tidak sehat
kawasan Asia. Di Jepang, sejak 1972, disebabkan kurangnya pengetahuan
tercatat rata-rata 1,5 juta kasus aborsi tentang kesehatan reproduksi sehat.
setiap tahun. Dengan mengacu pada Menurut Sarwono (2011), pengetahuan
angka-angka tersebut, setiap tahun remaja tentang kesehatan reproduksi masih
sedikitnya tercatat 40 sampai 60 juta kasus sangat rendah dibuktikan 83,7% remaja
aborsi di seluruh dunia (Gunawan, 2011). kurang memahami kesehatan reproduksi
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan hanya 3,6% yang tahu pentingnya
Kesehatan Indonesia 2012 komponen kesehatan reproduksi.
Kesehatan Reproduksi Remaja (SDKI Penyebab internal yang
2012 KRR), bahwa secara nasional terjadi menyebabkan remaja melakukan perilaku
peningkatan angka remaja yang pernah seksual yang tidak sehat adalah sikap
melakukan hubungan seksual pranikah permisif, kurangnya kontrol diri, tidak bisa
dibandingkan dengan data hasil Survei mengambil keputusan mengenai
Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia kehidupan seksual yang sehat atau tidak
(SKRRI) 2007. Hasil survei SDKI 2012 bisa bersikap asertif terhadap ajakan teman
KRR menunjukkan bahwa sekitar 9,3% atau pacar (Kartika dan Farida, 2008).
atau sekitar 3,7 juta remaja menyatakan Adapun menurut hasil penelitian
pernah melakukan hubungan seksual Seotjiningsih (2008) menunjukkan bahwa
pranikah, sedangkan hasil SKRRI 2007 faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
hanya sekitar 7% atau sekitar 3 juta seks pranikah remaja adalah hubungan
remaja. Sehingga selama periode tahun orangtua remaja, tekanan negatif teman
2007 sampai 2012 terjadi peningkatan sebaya, pemahaman tingkat agama
kasus remaja yang pernah melakukan (religiusitas) yang rendah.
hubungan seksual pranikah sebanyak Masalah seks pada remaja sering
2,3%. kali mencemaskan para orang tua juga
Banyaknya kejadian seks pranikah di pendidik, pejabat, pemerintah, para ahli,
dunia dilihat dari tingginya angka dan sebagainya. Perkawinan pada usia
kehamilan tidak diinginkan dan penyakit awal remaja pun pada akhirnya menjadi
solusi akibat dari perilaku seksual yang masyarakat hanya diam saat melihat
pada akhirnya menimbulkan masalah yang remaja berpacaran dan berciuman di depan
tidak kalah peliknya. Dalam situasi apapun rumah. Rendahnya kontrol sosial dari
tingkah laku sesual pada remaja tidak masyarakat mengakibatkan sebagian
menguntungkan. Padahal remaja adalah remaja merasa bebas berperilaku
peralihan menuju kedewasaan, dimana seksualitas karena para remaja
mereka seyogyanya mulai mempersiapkan menganggap masyarakat tidak akan
diri menuju kehidupan dewasa, termasuk menegur atau melarangnya (Wartati,
dalam aspek seksualnya. Dengan demikian 2012).
memang dibutuhkan sikap yang sangat Seiring dengan semakin
bijaksana dari para orang tua, pendidik, kompleksnya permasalahan yang dihadapi
dan masyarakat pada umumnya serta remaja, BKKBN memiliki suatu program
tentunya dari diri para remaja itu sendiri, yang berfokus pada kesehatan reproduksi
agar mereka dapat melewati masa transisi dalam rangka menjamin pemenuhan hak
itu dengan selamat. Adapun yang seksual dan kesehatan reproduksi remaja,
dimaksud perilaku seksual adalah segala dilakukan upaya terpadu dari berbagai
tingkah laku yang didorong oleh hasrat bidang, guna dapat memberikan informasi
seksual baik dengan lawan jenisnya kesehatan reproduksi sedini mungkin pada
maupun dengan sesama jenisnya. Bentuk- remaja yaitu melalui Pusat Informasi dan
bentuk tingkah laku ini bisa bermacam- Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja
macam, mulai dari perasaan tertarik, (PIK-KRR) atau PIK-remaja. Hal ini
sampai tingkah laku berkencan, bercumbu, ditujukan agar pengetahuan remaja
dan bersenggama. Objek seksualnya bisa meningkat, sehingga nantinya remaja
berupa orang lain, orang dalam khayalan mampu bertindak dengan penuh tanggung
atau diri sendiri (Sarwono, 2012). jawab.
Akibat dari perilaku seksual yang Keberadaan dan peranan PIK-KRR
bebas pada remaja seperti di atas dapat di lingkungan remaja memang diperlukan,
manjadi alasan bahwa perilaku seksual tetapi peranan orang tua lebih penting dari
remaja patut diangkat menjadi suatu program pemerintah /tersebut. Pengasuhan
permasalahan serius dan selayaknya atau pola asuh orang tua dalam keluarga
dipikirkan jalan keluarnya, meskipun memilki nilai strategis dalam pembentukan
untuk mengubah suatu perilaku khusunya kepribadian anak. Sejak kecil anak sudah
perilaku seksual bukanlah hal yang mudah mendapat pendidikan dari kedua orang
dan sederhana, karena perilaku remaja tuanya melalui keteladanan dan kebiasaan
merupakan suatu permasalahan yang hidup sehari-hari dalam keluarga. Baik
sangat kompleks yang banyak berkaitan tidaknya keteladanan dan kebiasaan hidup
dengan aspek-aspek sosial lainnya. orang tua dalam keluarga mempengaruhi
Perlakuan orang tua sangat menentukan perkembangan jiwa seorang anak.
hubungan keluarga, karena sekali Orang tua tidak menginginkan
hubungan terbentuk akan memacu untuk remaja mereka terjerumus dalam kegiatan-
hubungan tersebut bertahan. Hendaknya kegiatan seksual yang tidak mereka
orang tua juga bisa mengenali anaknya inginkan. Mereka akan mencari cara
dengan baik dan mengenali sikap serta terbaik dalam mengasuh remaja mereka.
bakatnya yang unik, mengembangkan dan Ada bebarapa jenis pola asuh orang tua
membina kepribadiannya tanpa yang sangat popular di masyarakat
memaksanya menjadi orang lain modern. Jenis pola asuh tersebut
(Tridhonanto, 2014). diantaranya pola asuh demokratis, pola
Rendahnya kepedulian dan kontrol asuh permisif, dan pola asuh otoriter. Cara
dari masyarakat menjadi berpengaruh mengasuh anak yang paling baik diantara
terhadap perilaku seksual remaja. Sebagian
ketiga pola asuh tersebut yaitu pola asuh Populasi dalam penelitian ini adalah
demokratis (Djamarah, 2014). semua siswa-siswi kelas XI SMK Negeri 1
Studi pendahuluan wawancara Sewon Bantul jurusan tata boga yang
terhadap 19 siswa yang dilakukan oleh berjumlah 80 siswa. Teknik yang
peneliti di SMK Negeri 1 Sewon Bantul digunakan dalam pengambilan sample
pada 8 Januari 2017 dan 11 Januari 2017 menggunakan teknik total sampling yaitu
mendapatkan hasil: 11 siswa dilakukan dengan mengambil seluruh
mengemukakan bahwa orangtua selalu responden kelas XI jurusan tata boga.
terbuka tentang permasalahan yang Sampel dalam penelitian ini adalah siswa-
dikemukakan mengenai perilaku, 5 siswa siswi kelas XI SMK Negeri 1 Sewon
mengemukakan bahwa orangtua tidak Bantul yang berjumlah 80 orang dengan
terlalu menggubris bahkan diam ketika kriteria inklusi siswa bersedia menjadi
ditanya tentang permasalahan yang responden, tinggal bersama orang tua,
disampaikan tentang perilaku seksual dan pernah atau sedang memiliki pacar.
3 siswa menjawab orang tua selalu Sumber data didapatkan melalui data
melarang keras bahkan mengekang untuk primer dengan alat pengumpulan data
tidak bertanya terutama masalah menggunakan kuesioner. Kuesioner yang
seksualitas. digunakan menggunakan skala likert untuk
Tujuan dari penelitian ini adalah pola asuh dan guttman untuk perilaku
untuk mengetahui hubungan pola asuh seksual.
orang tua dengan perilaku seksual remaja Analisis data yang digunakan adalah
di SMK Negeri 1 Sewon Bantul. analisis univariat menggunakan distribusi
Perilaku seksual terdiri dari frekuensi. Data dianalisis secara statistik
berbagai macam perilaku dan ditentukan dengan uji chi squere pada tingkat
oleh suatu interaksi faktor-faktor yang kemaknaan atau p-value 0,05.
kompleks (Harold & Benjamin, 2008).
Perilaku seksual dipengaruhi oleh HASIL PENELITIAN
hubungan seseorang dengan orang lain, Karakteristik Responden
baik oleh lingkungan, atau kultur budara Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi
yang dibawa atau diturunkan dari orang Karakteristik Responden Di SMK Negeri 1
tua dimana seseorang tinggal. Sewon Bantul
Pola asuh merupakan interaksi Karakteristik F (%)
anak dan orang tua mendidik, Responden
membimbing, dan mendisplinkan serta Jenis Kelamin
melindungi anak untuk mencapai a. Laki-laki 29 36,25
kedewasaan sesuai dengan norma-norma b. Perempuan 51 63,75
yang ada dalam masyarakat. Jumlah 80 100
Usia
METODE PENELITIAN a. 16 tahun 19 23,75
Penelitian ini adalah penelitian b. 17 tahun 54 67,50
descriptive correlation yang bertujuan c. 18 tahun 7 08,75
untuk mencari hubungan antara pola asuh Jumlah 80 100
orang tua dengan perilaku seksual pada Mendapatkan
remaja. Pendekatan waktu yang digunakan informasi
adalah cross sectional yaitu pengukuran a. Ya 80 100
yang dilakukan pada variabel pola asuh b. Tidak 0 0
dan variabel perilaku seksual yang Jumlah 80 100
dilakukan pada waktu yang sama Sumber informasi
(Notoatmodjo, 2010). a. Guru 32 40,00
b. Orang tua 29 36,25
c. Teman 19 23,75 Pola Perilaku Seksual Jumlah
Jumlah 80 100 Berisiko Tidak
Asuh
Berdasarkan tabel 5 sebagian besar Berisiko
responden adalah perempuan 63,75% F % F % F %
sedangkan untuk laki-laki sebesar 36,25%. Permisif 7 8,8 2 2,5 9 11,3
Usia dalam penelitian ini sebagian besar Otoriter 3 3,8 3 3,8 6 7,5
berusia 17 tahun 67,50% responden. Demokratis 0 0 54 67,5 54 67,5
40,00% responden mendapatkan sumber Campuran 0 0 11 13,8 11 13,8
informasi seksualnya dari guru.
Pola Asuh Orangtua pada Remaja di Jumlah 10 12,5 70 87,5 80 100
SMK Negeri 1 Sewon Bantul Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pola remaja yang memiliki orang tua dengan
Asuh Pola Orangtua di Kelas XI SMK pola asuh permisif memiliki perilaku
Negeri 1 Sewon Bantul seksual berisiko (8,8%) dan tidak berisiko
Pola Asuh F (%) (2,5%). Remaja yang memiliki orang tua
dengan pola asuh otoriter memiliki
Orang Tua
perilaku seksual berisiko (3,8%) dan tidak
Permisif 9 11,25 berisiko (3,8%). Remaja yang memiliki
Otoriter 6 7,5 orang tua dengan pola asuh demokratis
Demokratis 54 67,5 seluruhnya memiliki perilaku seksual yang
Campuran 11 13,75 tidak berisiko ( 67,5%). Bagi remaja yang
Jumlah 80 100 orang tuanya menerapkan pola asuh
campuran seluruhnya memiliki perilaku
Dari tabel di atas dapat diketahui seksual yang tidak berisiko (13,8%).
bahwasannya sebagian besar responden Analisis Chi Squere menggunakan taraf
pola asuh yang diterapkan orang tua adalah signifikasi α = 5%. Hasil analisa dengan
pola asuh demokratis dengan frekuensi 54 menggunakan chi squere diperoleh hasil ρ
responden (67,5%). < 0,05 (0,000) hal ini menunjukan adanya
Perilaku Seksual pada Remaja di SMK hubungan yang signifikan antara pola asuh
Negeri 1 Sewon Bantul orang tua dengan perilaku seksual remaja
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Perilaku di SMK Negeri 1 Sewon Bantul tahun
Seksual Remaja di SMK Negeri 1 Sewon 2017. Nilai koefesien 0,628 memiliki
Bantul kekuatan korelasi yang kuat dan nilai
koefesien yang positif menunjukkan arti
Perilaku F (%) semakin meningkat (baik) pola asuh orang
Seksual tua kepada anak atau remaja maka perilaku
Berisiko 10 12,5% seksual akan semakin baik (semakin tidak
Tidak Berisiko 70 87,5% memiliki resiko).
Jumlah 80 100 %
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa PEMBAHASAN
sebagian besar responden (87,5%) Pola Asuh Orang Tua pada Remaja di
memiliki perilaku seksual remaja yang SMK Negeri 1 Sewon Bantul tahun 2017
tidak berisiko. Berdasarkan hasil penelitian pola
Hubungan Pola Asuh Orang Tua asuh orang tua pada remaja siswa di SMK
dengan Perilaku Seksual Remaja di Negeri 1 Sewon Bantul kelas XI paling
SMK Negeri 1 Sewon Bantul banyak didapatkan pada pola asuh orang
Tabel 4.6 Distribusi Freuensi Hubungan tua jenis Demokratis ( 67,5%) 54
Pola Asuh Orang Tua Dengan Perilaku responden. Pola asuh permisif didapatkan
Seksual Remaja di SMK Negeri 1 Sewon (11,25%) 9 responden. Pola asuh otoriter
Bantul. didapatkan (7,5%) 6 responden dan untuk
penerapan pola asuh campuran didapatkan bahwa gaya pengasuhan demokratis
(13,75%) 11 responden. ditandai oleh ketaatan dan responsif orang
Pada penelitian ini pola asuh orang tua meskipun fleksibel, menerapkan
tua yang baik dalam mendidik dan standar perilaku yang masuk akal.
memberikan pola asuh yang baik terhadap Penelitian ini juga mendapatkan
anak atau remaja ditujukan pada item soal hasil bahwa terdapat 13,75% sebanyak 11
yang menunjukkan bahwa Orang tua responden yang orang tuanya menerapkan
mengijinkan saya menonton film bersama pola asuh campuran yang artinya orang tua
dengan teman lawan jenis saya di rumah, mengkombinasikan antar pola asuh
di ruang keluarga bersama dengan anggota permisif, otoriter, atau demokratif. Sejalan
keluarga yang lain, dan kita saling dengan (Fajar, 2015) yang mengatakan
berkomentar tentang film tersebut sebesar bahwa pola asuh campuran merupakan
78,75% dan item Orang tua saya pola asuh dimana orang tua dengan
menjelaskan kepada saya bahwa mencium mengkombinasikan ketiga pola asuh ini
teman lawan jenis itu tidak diperbolehkan yaitu demokratis, permisif dan otoriter.
karena merupakan perbuatan yang Orang tua dengan pola asuh ini lebih
menyimpang dari norma dan agama memilih untuk menggunakan ketiga pola
sebesar 67,5 %. Dan pola asuh yang asuh tersebut sesuai kebutuhan anak,
kurang baik yaitu Orang tua saya dimana orang tua akan menentukan kapan
mengijinkan saya mempunyai teman dekat akan menggunakan pola asuh
lawan jenis dan mengijinkan saya authoritarian, permissive dan authoritative.
berduaan di luar rumah sebesar 10%. Remaja yang diasuh dengan pola asuh
Beberapa orang tua dari responden yang campuran dalam penelitian ini memiliki
belum pernah mendiskusikan dengan perilaku seksual yang tidak berisiko. Hal
remaja tentang masalah hubungan dengan ini karena orang tua menerapkan pola asuh
lawan jenis sehingga saya memahami sesuai keadaan anak atau remaja.
batasan berhubungan dengan lawan jenis Penerapan pola asuh yang kurang
sebesar 1,25% dan tentang bahaya perilaku baik berpengaruh terhadap perilaku
seksual yang dilakukan sebelum keseharian anak atau remaja termasuk
pernikahan sebesar 3,75%. perilaku seksualnya yang berarti remaja
Responden dengan pola asuh orang belum sepenuhnya mampu untuk
tua tipe demokratis ini artinya responden mengendalikan diri, dan mengambil
telah mendapatkan pendidikan dan asuh keputusan terhadap berbagai macam
dari orang tuanya untuk membentuk perilaku termasuk perilaku seksual yang
kepribadian yang dapat mempengaruhi berisiko. Pola asuh permisif digambarkan
perilaku anak dengan cara dengan ketidakpedulian orang tua terhadap
memprioritaskan kepentingan anak yang perkembangan anak remajanya. Cenderung
bersikap rasional dan tanpa ragu-ragu memberikan segala keinginan yang remaja
untuk mengendalikan anak, yang berarti mau atau bahkan tidak mau tahu dengan
seorang anak atau remaja mampu menjaga apa yang menjadi keinginan anak
diri dari perilaku seksual yang tidak baik. remajanya. Anak akan merasa lebih bebas
Pendekatan yang dilakukan bersifat dalam menentukan apa yang menjadi
hangat, memberi kontrol yang tinggi keinginannya. Dalam pergaulan maupun
melalui pengertian, penjelasan dan dalam menyikapi lingkungan luar akan
perhatian, dan anak atau remaja berhak menjadi sangat terbatas untuk memberikan
memilih apa yang dikehendaki dengan pendampingan yang optimal bagi anak-
catatan orang tua terus memberikan anaknya (Sarwono, 2010).
penjelasan tentang dampak perbuatan yang Menurut Suntrock (2011) aspek
baik dan buruk. Hal ini dikuatkan dengan yang terdapat pada pola asuh permisif
Okorodudu (2010) yang berpendapat yaitu tidak adanya kepedulian dari orang
tua terhadap pertemanan dan persahabatan dan kategori perilaku seksual berisiko
anaknya, orang tua tidak peduli anaknya sebanyak 10 responden (12,5%).
akan bertanggung jawab atau tidak atas Berdasarkan tabel 5 sebagian besar
tindakan yang telah dilakukan dan responden adalah perempuan 63,75%
diperbuat. Orang tua dengan pola asuh sedangkan untuk laki-laki sebesar 36,25%.
permisif cenderung kurang dalam Dalam penelitian ini responden berjenis
memberikan pendidikan seks pada kelamin laki-laki menyumbang angka
anaknya. Hal ini terjadi karena kurangnya tertinggi dalam perilaku seksual berisiko
jalinan komunikasi orangtua-anak yaitu sebanyak 8 responden (80%) dan 2
sehingga anak dapat bergaul bebas tanpa responden (20%) perempuan. Usia dalam
pengawasan orangtua. Keengganan penelitian ini sebagian besar berusia 17
orangtua untuk membicarakan masalah tahun 67,50% responden. 40,00%
seks pada anak juga berperan dalam responden mendapatkan sumber informasi
terjadinya perilaku seks pranikah di seksualnya dari guru.
kalangan remaja (Andayani, 2009). Perilaku seksual tidak berisiko
Dalam penelitian ini juga yang dilakukan responden adalah pada
menjelaskan bahwa pola asuh orang tua item Berpegangan tangan (58,75%), item
yang menerapkan pola asuh otoriter Pergi berpacaran (56,25%),
terhadap anak atau remaja terdapat mencium/dicium pipi/kening (46,25%),
responden yang melakukan perilaku memeluk/dipeluk (38, 75%).
seksual berisiko yaitu sebesar 3,8%. Menurut Harold & Benjamin (2008)
Orang tua dengan pengasuhan perilaku seksual terdiri dari berbagai
otoriter memiliki respon yang kurang macam perilaku dan ditentukan oleh suatu
tetapi sangat menuntut. Gaya pengasuhan interaksi faktor-faktor yang kompleks.
otoriter dikaitkan dengan orang tua yang Perilaku seksual dipengaruhi oleh
menekankan ketaatan dan kesesuaian hubungan seseorang dengan orang lain,
sehubungan dengan lingkungan yang baik oleh lingkungan, atau kultur budaya
kurang hangat. Selain itu, orang tua yang yang dibawa atau diturunkan dari orang
otoriter menunjukkan tingkat kepercayaan tua dimana seseorang tinggal. Hal ini
dan keterlibatan rendah terhadap anak berkaitan dengan pola asuh yang
mereka, mencegah komunikasi terbuka, merupakan interaksi antara orang tua
dan melakukan kontrol ketat. Remaja dari terhadap anak atau remaja dalam
sebagian besar yang berasal dari keluarga lingkungan internal. Seorang anak atau
otoriter menunjukkan keterampilan sosial remaja mendapatkan pendidikan pertama
yang buruk, rendahnya tingkat harga diri, dan pembentukan karakter kepribadian
dan tingkat depresi yang tinggi (Hoskins, berasal dari lingkungan keluarganya.
2014). Hal ini terkadang mendorong Hasil penelitian ini menunjukkan
mereka melakukan hal-hal yang buruk perilaku seksual pada remaja dengan
termasuk perilaku seksual yang berisiko. rentang usia 16-18 tahun yang dilakukan
Perilaku Seksual pada Remaja di SMK adalah pergi berkencan, berpegangan
Negeri 1 Sewon Bantul Tahun 2017 tangan, berpelukan bahkan terdapat
bukunya bahwa perilaku seksual perilaku seksual berisiko yaitu berciuman
adalah segala tingkah laku yang didorong bibir, mencium/ dicium leher, saling
oleh hasrat seksual dengan lawan jenis meraba bagian intim dan melakukan seks
mulai dari perasaan tertarik sampai dengan melalui mulut. Hasil penelitian ini sesuai
tingkah laku berkencan, bercumbu sampai dengan teori yang mengatakan bahwa
dengan bersenggama. Berdasarkan tabel 8. remaja masih bersikap seperti kanak-kanak
diketahui bahwa perilaku seksual pada tetapi sudah timbul unsur baru yaitu
responden terbanyak dalam kategori tidak kesadaran akan kepribadian dan kehidupan
berisiko sebanyak 70 responden (87,5%) badaniyah sendiri.
Sejalan dengan teori Soetjoningsih Hasil penelitian memberikan
(2007) bahwa perilaku seksual terjadi gambaran bahwa pola asuh membawa
karena terjadinya kematangan serta hubungan yang signifikan (ρ<0,05)
peningkatan hormon reproduksi atau terhadap perilaku seksual remaja, maka
hormon seks sehingga timbul rasa ingin semakin baik pola asuh yang diberikan
tahu terhadap masalah seksual dan orang tua semakin menurun pula remaja
dorongan pada keinginan pemuasan untuk melakukan perilaku seksual
seksual dengan lawan jenis dalam bentuk terutama perilaku seksual yang berisiko.
percintaan. Bila ada kesempatan remaja Hasil penelitian ini sesuai dengan
melakukan sentuhan fisik, Aprilyadi (2010) bahwa adanya pengaruh
mengembangkan dengan menyentuh pola asuh orang tua yang baik akan
bagian sensitif sampai bercumbu dengan mendorong individu untuk menjaga sikap
lawan jenis/ pasangan. Hal ini juga di terhadap perilaku seksualnya. Hal ini
jelaskan bahwa Remaja berusia 16 tahun dikarenakan pola asuh orang tua yang baik
merupakan remaja usia pertengahan, didapatkan oleh seseorang anak maupun
dimana secara psikososial mampu remaja akan membuat remaja memiliki self
membangun nilai, norma dan moralitas control yang baik terhadap dirinya dan
serta mampu berpikir independen terhadap remaja mampu mengendalikan diri untuk
permasalahan dirinya. Disisi lain, remaja tidak terpengaruh dengan hal yang tidak
usia pertengahan memiliki kemauan yang baik dan bertahan pada jalur yang benar.
sulit dikompromikan sehingga mungkin Menurut Sarwono (2012) salah
berlawanan dengan kemauan orang tua. satu penyebab perilaku seksual pada
Hal ini menyebabkan remaja cenderung remaja dipengaruhi orang tua (pola asuh
melepaskan diri dari ikatan orangtuanya. orang tua). Kurangnya komunikasi secara
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan terbuka antara orang tua dengan remaja
remaja usia pertengahan yaitu usia 15-18 dalam masalah seputar seksual dapat
tahun (Desmita 2010 dalam Pertiwi, 2013) mengakibatkan penyimpangan perilaku
penuh dengan emosi yang belum stabil seksual. Pendidikan seks pasif (tanpa
lebih berisiko terhadap perilaku tidak komunikasi dua arah) bisa mempengaruhi
sehat, salah satunya perilaku seksual sikap serta perilaku seseorang, karena
berisiko pada remaja (Dewi, 2012). dalam pendidikan seks anak tidak cukup
Hubungan Pola Asuh Orang Tua hanya melihat dan mendengar sekali atau
dengan Perilaku Seksual pada Remaja dua kali, tetapi harus dilakukan secara
di SMK Negeri 1 Sewon Bantul Tahun bertahap dan berkelanjutan. Orang tua
2017 wajib meluruskan informasi yang tidak
Hasil penelitian ini menunjukkan benar disertai penjelasan risiko perilaku
bahwa responden dengan pola asuh orang seks yang salah.
tua dan perilaku seksual yang tidak Dalam penelitian ini perilaku
berisiko sebanyak 54 responden (67,5%). seksual yang berisiko terdapat pada pola
Dengan hasil uji chi squere 0,628 dengan asuh orang tua yang menerapkan tipe pola
ρ-value 0.000 ρ < 0,05 sehingga dapat asuh permisif dan otoriter. Hal ini
disimpulkan ada hubungan antara pola mempunyai pengaruh terhadap perilaku
asuh orang tua dengan perilaku seksual seksual remaja. Orang tua seharusnya
pada remaja di SMK Negeri 1 Sewon memberikan perhatian dan pengertian
Bantul. Nilai koefisien 0,628 menunjukkan terhapap anaknya. Orang tua harus
semakin meningkat pola asuh orang tua, memberikan pengontrolan terhadap
maka perilaku seksual pada remaja akan perilaku yang dilakukan pada anak atau
semakin baik, sehingga remaja tidak remaja dan memberitahu batas-batas mana
melakukan perilaku seksual terutama yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
perilaku seksual berisiko.
Pola Asuh orang tua yang memiliki kompetensi sosial karena mereka
menerapkan pola permisif memberikan mengharapkan kepatuhan ketat terhadap
peluang yang lebih besar kepada remaja aturan dan arahan orang tua tanpa
untuk melakukan perilaku seksual tidak menjelaskan peraturan kepada anak-anak.
terkecuali perilaku seksual berisiko. Hal Hal ini membuat anak-anak rentan
ini karena adanya kebebasan pada remaja terhadap kekerasan atau secara terbuka
yang di sebabkan orang tua tidak pernah memberontak dengan melibatkan diri
mengontrol dan mengendalikan perilaku dalam perilaku seksual berisiko.
remaja. Hal ini dijelaskan dalam penelitian
Nurmaguphita (2016) yang menjelaskan SIMPULAN DAN SARAN
bahwa pola asuh permisif berhubungan Simpulan
signifikan dengan perilaku seksual Berdasarkan hasil penelitian dan
beresiko pada remaja. pembahasan dapat disimpulkan bahwa
Sejalan dengan penelitian Hoskins pola asuh orang tua pada remaja di SMK
(2014) yang menyebutkan bahwa pola Negeri 1 Sewon Bantul pada tahun 2017
pengasuhan permisif ditandai dengan sebagian besar (67,5%) adalah pola asuh
tingginya tingkat responsif dan rendahnya demokratis. Perilaku seksual pada remaja
tingkat pengendalian. Orang tua yang di SMK Negeri 1 Sewon Bantul pada
permisif tidak menetapkan peraturan tahun 2017 sebagian besar (87,5%)
dalam keluarga termasuk pada remaja, dan memiliki perilaku seksual yang tidak
menghindari pengotrolan pada tingkah berisiko. Terdapat hubungan yang
laku remaja. Remaja dari orang tua yang signifikan dan keeratan hubungan yang
menerapkan pola asuh permisif sering kuat anatara pola asuh orang tua dengan
melakukan tindakan yang meyimpang perilaku seksual remaja di SMK N 1
seperti penggunaan zat, melakukan Sewon Bantul pada tahun 2017 dengan
kesalahan dalam sekolah, dan kurang P<0,05 (P=0,00) dan nilai koefesien 0,628.
terlibat dan kurang berorientasi positif
terhadap sekolah. Saran
Dalam penelitian ini juga Bagi guru bimbingan konseling
menjelaskan bahwa pola asuh orang tua disarankan untuk tetap memberikan materi
yang menerapkan pola asuh otoriter dapat pendidikan tentang pengetahuan seksual
mempengaruhi perilaku seksual remaja yang bertujuan untuk mencegah siswa
termasuk perilaku yang berisiko. Hal ini melakukan tindakan yang menyimpang
menjelaskan bahwa jika orang tua dari norma, serta mengadakan program
memberikan asuhan dengan yang melibatkan orang tua dengan
kecenderungan otoriter sangat tinggi maka pembahasan perilaku seksual pada remaja.
dapat meningkatkan perilaku seksual Bagi siswa-siswi diharapkan
berisiko yang tinggi. Pola asuh yang meningkatkan pengetahuan dan terus
cenderung memberikan kekangan, menambah sumber informasi secara tepat
larangan-larangan dan selalu menanyakan yang bisa dijadikan acuan atau referensi
apa saja yang dilakukan anak-anaknya informasi mengenai perilaku seksual
ternyata tidak berefek baik bagi perilaku sehingga terbentuk kepribadian yang baik
anak remajanya (Fuad, 2010). sesuai dengan norma yang berlaku.
Sejalan dengan penelitian Ugoji Peneliti selanjutnya dapat
(2015) yang mengungkapkan bahwa ada melakukan penelitian lebih lanjut
hubungan yang signifikan antara gaya mengenai faktor-faktor dari pengaruh
pengasuhan autokratik dan keterlibatan orang tua (pendidikan, pekerjaan, dan
dalam perilaku seksual berisiko di faktor pendapatan ekonomi) serta tempat
kalangan remaja. Remaja yang dipelihara tinggal dari remaja. Faktor-faktor lain dari
melalui gaya pengasuhan otokratik kurang pengaruh orang tua dapat dengan langsung
melibatkan orang tua dalam proses Sarwono. (2011). Psikologi Remaja. Edisi
penelitian. Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.

DAFTAR PUSTAKA Tridhonanto. (2014). Mengembangkan


Pola Asuh Demokratis. Jakarta:
Andika, Alya.(2010). Dari Mana Aku Kelompok Gramedia.
Lahir? Cara Cerdas Mendidik
Anak Tentang Seks. Yogyakarta: Ugoji, F. N. (2015). Parenting Styles , Peer
Pustaka Grhatama Group Influence as Correlate of
Andayani. (2009). Pemantapan Sexual Behaviour among
Kemampuan Propesional. Undergraduate Adolescents,
Jakarta: Universitas Terbuka. International Journal of Humanities
Social Sciences and Education
BPPM. (2013). Data Terpilah Gender dan
(IJHSSE). 2(8), 103–110. Website :
Anak.
https://www.arcjournals.org/pdfs/ijhs
Badan Pusat Statistik (BPS), Badan se/v2-i8/13.pdf
Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN), Wartati. (2012). Upaya Menurunkan
Kementerian Kesehatan Perilaku Seksualitas Bebas Remaja.
(Kemekes), dan ICF International. Skripsi.www.Respository.uksw.edu./
(2013). Indonesia Demographic pdf
and Health Survey 2012. Jakarta,
Indonesia: BPS, BKKBN, Azwar, S. (2013). Sikap Manusia Teori
Kemenkes and ICF International. dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Belajar
Fuad, (2010). Remaja dan Perilaku seks.
Jakarta. EGC
Gunawan, A., (2011). Remaja dan
Permasalahannya, Cetakan
Pertama. Yogyakarta : Hanggar
Kreator.
Hoskins, D. H. (2014). Consequences of
Parenting on Adolescent
Outcomes, 506–531.
https://doi.org/10.3390/soc4030506
Kartika N., F. & Farida H. (2008).
Konseling Sebaya untuk
Meningkatan Efikasi Diri Remaja
terhadap Perilaku Berisiko. Skripsi.
UNY.
Notoatmodjo. (2010). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Santrock, J.W. (2007). Remaja Jilid 2
Edisi 11. Jakarta: Erlangga.