You are on page 1of 5

LED Chaser dengan Sensor Cahaya

Rafi Alif Fadilla – 1706026595 & Vania Zihan Murti – 1706027540


Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia
Depok, Jawa Barat 16436
rafi.alif@ui.ac.id, vaniazihantugas@gmail.com

LED Chaser adalah perangkat yang biasa digunakan untuk estetika ruangan maupun suatu objek, dan dalam hal
ini, praktikan merekayasa LED Chaser dalam bentuk rangkaian sederhana dan juga dengan menggunakan sensor
cahaya. Rangkaian LED Chaser dengan Sensor Cahaya ini merupakan sebuah rangkaian yang ditujukan untuk
pembelajaran karakteristik dari fundamental building block, yaitu transistor dan komponen elektronik lainnya,
seperti kapasitor, relay, dan switch, serta cara kerja serta penggunaan rangkaian sensor. Rangkaian ini juga
bertujuan untuk mengkonfirmasi keabsahan teori dasar dari komponen-komponen elektronik yang praktikan
gunakan.

PENDAHULUAN TEORI DASAR


Kajian secara mendalam tentang komponen
elektronik baik fungsi maupun karakteristiknya
sangatlah penting, dan kedua hal tersebut telah tertera
pada datasheet setiap komponen elektronik secara
spesifik, sesuai dengan nomor serinya. Namun,
seiring dengan berjalannya waktu, teori-teori yang
menjadi breakthrough serta merupakan fundamental
building block dalam perangkat elektronik yang kita
gunakan setiap hari, sering diabaikan oleh manusia.
Sebagai contoh, 555 IC Timer, yang digunakan dalam
pengukur waktu, pulse gererator¸ dan oscillator,
terdiri dari puluhan transistor, yang pada
kenyataannya umum menggunakannya hanya Gambar 2.1 Transistor
mengikuti pedoman, dimana untuk menyambungkan
kabel ground, dimana untuk menyambungkan kabel Transistor merupakan suatu piranti semikonduktor
reset, bukan mendalami dari blok 555 IC Timer yang memiliki sifat khusus. Secara ekuivalensi,
tersebut. transistor dapat dibandingkan dengan dua dioda yang
dihubungkan dengan suatu konfigurasi, walaupun
Untuk itu, praktikan membuat rangkaian ini dengan sifat-sifat transistor tersebut tidak sama dengan dioda
tujuan agar selain untuk menarik atensi dengan tersebut. Transistor dapat ditemukan dalam 2 jenis,
keunikan ketiga LED, praktikan ingin agar mereka yaitu UNIPOLAR, (FET), serta BIPOLAR (PNP dan
dapat menggali lebih jauh tentang konsep dasar dan NPN). Pada dasarnya, transistor bekerja berdasarkan
karakteristik komponen elektronik hingga bagian prinsip pengendalian arus kolektor dengan
terkecilnya. menggunakan arus basis.
Dengan kata lain, arus basis mengalami penguatan
hingga menjadi sebesar arus kolektor. Penguatan ini
bergantung dari faktor penguatan dari masing-masing
transistor (α dan β). Konfigurasi dasar dari rangkaian
transistor sebagai penguat adalah CB (common base),
CE (common emitter), dan CC (common collector).
Sifat dari transistor yang akan saturasi pada nilai
tegangan tertentu antara basis dan emittor,
menjadikan transistor dapat berfungsi sebagai switch.

Pada rangkaian ini, transistor akan berfungsi sebagai


switch, penguat, dan CE. Transistor akan memiliki
fungsi yang sama dengan saklar apabila basis dari
transistor mendapatkan tegangan kurang dari knee
Gambar 2.2 Transistor Bipolar
voltage, yaitu 0.7 V. Apabila tegangan yang terdapat
pada basis lebih besar dari knee voltage, maka
transistor tidak akan mengalirkan arus.
Gambar 2.3 Kapasitor
Kapasitor merupakan perangkat komponen
Relay adalah suatu peralatan elektronika yang
elektronika yang berfungsi untuk menyimpan muatan
menggunakan magnet listrik untuk mengoperasikan
listrik dan terdiri dari dua konduktor yang dipisahkan
perangkat kontak, bila kumparan kawat dialiri arus
oleh bahan penyekat (dielektrik) pada tiap konduktor
listrik, maka medan magnet yang dibangun akan
atau yang disebut keping. Kapasitor biasanya disebut
menarik armateur berporos. Gerakan ini dipakai
dengan sebutan kondensator yang merupakan
untuk menutup atau membuka satu atau banyak
komponen listrik dibuat sedemikian rupa sehingga
kontak yang bekerja secara serempak.
mampu menyimpan muatan listrik.
Prinsip kerja kapasitor pada umunmya hampir sama
dengan resistor yang juga termasuk ke dalam Beberapa susunan kontak yang biasa digunakan,
komponen pasif. Komponen pasif adalah jenis yaitu: NO (normally open), dimana relay akan
komponen yang bekerja tanpa memerlukan arus menutup bila dialiri arus listrik, NC(normally closed),
panjar. Kapasitor sendiri terdiri dari dua lempeng dimana relay akan membuka bila dialiri arus listrik,
logam (konduktor) yang dipisahkan oleh bahan dan changeover, dimana relay ini memiliki kontak
penyekat (isolator). Penyekat atau isolator banyak tengah yang normalnya tertutup dan akan melepaskan
disebut sebagai bahan zat dielektrik. diri dan membuat kontak lainnya berhubungan.
Zat dielektrik yang digunakan untuk menyekat kedua Karena relay merupakan salah satu jenis dari switch,
komponen tersebut berguna untuk membedakan maka istilah pole dan throw yang dipakai dalam
jenis-jenis kapasitor. Di dunia ini terdapat beberapa Saklar juga berlaku pada relay. Pole adalah
kapasitor yang menggunakan bahan dielektrik, antara banyaknya contact yang dimiliki oleh sebuah relay
lain kertas, mika, plastik cairan dan masih banyak dan throw adalah banyaknya kondisi yang dimiliki
lagi bahan dielektrik lainnya. Dalam rangkaian oleh sebuah contact. Berdasarkan penggolongan
elektronika, kapasitor sangat diperlukan terutama jumlah pole dan throw-nya sebuah relay, maka relay
untuk mencegah loncatan bunga api listrik pada dapat digolongkan menjadi :
rangkaian yang mengandung kumparan. Selain itu,
kapasitor juga dapat menyimpan muatan atau energi • Single Pole Single Throw (SPST) : Relay golongan
listrik dalam rangkaian, dapat memilih panjang ini memiliki 4 terminal, dimana 2 terminal untuk
gelombang pada radio penerima dan sebagai filter
dalam catu daya.
Fungsi kapasitor dalam rangkaian elektronik sebagai
penyimpan arus atau tegangan listrik. Untuk arus DC,
kapasitor dapat berfungsi sebagai isulator (penahan
arus listrik), sedangkan untuk arus AC, kapasitor
berfungsi sebagai konduktor (melewatkan arus
listrik). Dalam penerapannya, kapasitor banyak di
manfaatkan sebagai filter atau penyaring, perata
tegangan yang digunakan untuk mengubah AC ke
DC, pembangkit gelombang AC (isolator) dan masih switch dan 2 terminalnya lagi untuk coil.
banyak lagi penerapan lainnya.
Gambar 2.4 Relay
• Single Pole Double Throw (SPDT) : Relay
golongan ini memiliki 5 terminal, 3 terminal untuk Gambar 3.1 Rangkaian LED Chaser dengan Sensor
switch dan 2 terminalnya lagi untuk coil. Cahaya
• Double Pole Single Throw (DPST) : Relay
golongan ini memiliki 6 terminal, diantaranya 4 HASIL
terminal yang terdiri dari 2 pasang terminal switch
sedangkan 2 terminal lainnya untuk coil. Relay
DPST dapat dijadikan 2 switch yang dikendalikan
oleh 1 coil.
• Double Pole Double Throw (DPDT) : Relay
golongan ini memiliki terminal sebanyak 8
terminal, diantaranya 6 terminal yang merupakan 2
pasang relay SPDT yang dikendalikan oleh 1
(single) switch. Sedangkan 2 terminal lainnya untuk
coil.

CARA KERJA
Pada rangkaian bagian LED Chaser, sumber energi
berasal dari sumber tegangan DC sebesar 6 V, pada Gambar 4.1 Rangkaian LED Chaser dengan Sensor
komponen ini saya memakai adapter 6V sehingga Cahaya on
lebih kuar dan tahan lima dibandingkan dengan
baterai. Rangkaian ini terdiri dari 3 buah transistor
dalam konfigurasi Common-Emitter, serta disusun
dengan kapasitor serta resistor untuk pembanding
sedemikian sehingga LED akan bergantian off
sehingga terlihat seperti LED saling mengejar (chase)
satu dengan yang lain.

Untuk rangkaian bagian Sensor Cahaya, sumber


energi berasal dari sumber tegangan DC VCC sebesar
12 V. Rangkaian ini terdiri dari 2 buah transistor
dalam konfigurasi Darlington, serta disusun dengan
potensiometer, resistor, serta LDR untuk memberikan
fungsi switch pada relay. Relay diset pada kondisi
NO.
Gambar 4.2 Rangkaian LED Chaser dengan Sensor
Cahaya off
LED1 LED2 LED3
Ketika LDR tidak terpapar cahaya, ketiga LED akan
berurutan off satu per satu, dengan LED yang lain
C5 R1 R4 R2 R5 R3 R6
100µF 39kΩ 1kΩ
C1
39kΩ 1kΩ
C2
39kΩ 1kΩ
dalam kondisi on, mulai dari LED yang paling jauh
Q1
22µF
Q2
22µF
Q3 C3 V1
dari switch. Sebaliknya, ketika LDR terpapar cahaya,
BC107BP BC107BP BC107BP 6V
22µF
seluruh rangkaian LED Chaser akan memasuki fasa
C4
off.
22µF
VCC1 Kemudian, akan terlihat bahwa jika LDR tidak
12V

50 % R8 R7
terpapar cahaya, kemudian dipaparkan cahaya, lalu
100kΩ
Key=A
1kΩ
K1
ditutup kembali sehingga tidak mendapatkan cahaya,
Q4
BC108BP
K urutan dimana LED off tidak mengulang dari LED
LDR Q5
1kΩ
Key=A
BC108BP EDR201A05 yang paling jauh dari switch, namun melanjutkan
50 %
urutan kondisi terakhir ketika rangkaian LED Chaser
on.
Referensi
1. Malvino, A., & Bates, D. J. (2008). Electronic Principles.
McGraw-Hill Education.
PEMBAHASAN 2. Sanei, S., & Chambers, J. A. (2007). Signal Processing.
Centre of Digital Signal Processing, Cardiff University, UK
(Vol. 1). John Wiley & Sons, Ltd.
Dalam rangkaian Sensor Cahaya, dimana relay diset
3. Roman, T., & Institute, J. S. (1999). Limits To Parallel
pada kondisi NO, LDR yang terpapar cahaya akan Computation: P-Completeness Theory. IEEE Concurrency,
menurunkan resistansi dari LDR tersebut, sehingga 7(1), 47-49.
tidak ada arus yang melewati transistor serta relay
untuk mengubah switch didalam relay. Ketika LDR
tidak terpapar cahaya, terdapat perbedaan potensial
pada transistor Q4 sehingga ada arus basis pada
transistor Q5, yang menyebabkan relay on. Hal ini
menyebabkan switch didalam relay berubah, sesuai
dengan setting awal relay, NO atau NC.

Untuk mempermudah bahasa selanjutnya, seluruh


rangkaian bagian Sensor Cahaya akan diibaratkan
sebagai sebuah switch. Dalam rangkaian LED
Chaser, seluruh transistor akan mencoba untuk on
secara bersama-sama ketika switch ditutup. Namun,
beberapa transistor akan lebih cepat karena
karakteristik internal dari transistor tersebut, dan
beberapa transistor mendapatkan arus on yang
berbeda karena kapasitor 22 µF. Kapasitor C4
memiliki fungsi untuk memberikan delay untuk
tegangan input pada basis Transistor Q1, sedangkan
kapasitor C6 memiliki fungsi untuk menjaga
rangkaian dari surge serta menyimpan charge untuk
menahan agar ketiga LED tidak langsung off saat
switch dibuka.

Untuk kondisi kedua, akan sulit untuk menentukan


urutan dimana LED off, karena seiring dengan durasi
switch ditutup, kita tidak dapat menghitung dengan
pasti berapa charge yang disimpan dalam setiap
kapasitor. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitor
bekerja sesuai karakteristik masing-masing, dan
mereka tetap menyimpan charge dan polaritas hingga
rangkaian atau switch ditutup kembali. Charge ini
akan hilang seiring dengan waktu.

KESIMPULAN
Karakteristik dari suatu komponen elektronik, dalam
rangkaian ini yaitu transistor, relay, dan kapasitor,
sangat berpengaruh dalam praktik, dimana seorang
praktikan harus terlebih dahulu mempelajari secara
dalam fungsi, karakteristik, serta cara kerja setiap
komponen yang akan digunakannya.