You are on page 1of 48

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI :

HALUSINASI PENDENGARAN

DI RUANG KASUARI RUMAH SAKIT JIWA

DR. RADJIMAN WEDIONINGRAT LAWANG

DI SUSUN OLEH

KELOMPOK 6 :

1. Ambarwati (1610029)

2. Durrotul Lam’atis Tsaniyah (1610034)

3. Erni Heryanti (1610035)

4. Prafita Rizky (1610045)

5. Yohanes Pratama (1610051)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

1
MALANG

2019
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.


Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan. Kesehatan
jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi merupakan suatu hal
yang di butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa adalah perasaan sehat dan
bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup, dapat menerima orang lain
sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan
orang lain (Menkes, 2015).
Menurut Sekretaris Jendral Dapertemen Kesehatan (Sekjen Depkes), H.
Syafii Ahmad, kesehatan jiibu Sa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global
bagi setiap negara termasuk Indonesia. Proses globalisasi dan pesatnya kemajuan
teknologi informasi memberikan dampak terhadap nilai-nilai sosial dan budaya
pada masyarakat. Di sisi lain, tidak semua orang mempunyai kemampuan yang
sama untuk menyusuaikan dengan berbagai perubahan, serta mengelola konflik
dan stres tersebut. ( Diktorat Bina Pelayanan Keperaibu Satan dan Pelayanan
Medik Dapertemen Kesehatan, 2015).
Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang diseluruh dunia terkena dampak
permasalahan jiibu Sa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.
Pada study terbaru IBU SHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negara-
negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiibu Sa parah tidak dapat
pengobatan apapun pada tahun utama(Hardian, 2010). Masalah kesehatan jiwa
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang demikian tinggi dibandingkan
dengan masalah kesehatan lain yang ada dimasyarakat.
Dari 150 juta populasi orang di Indonesia, berdasarkan data Departemen
Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta orang mengalami gangguan mental emosional.
Sedangkan 4 % dari jumlah tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat
kurangnya layanan untuk penyakit kejiiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang
semakin berat mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia

2
khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta
penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa (Nur Siyanti, 2010).
Berdasarkan hal diatas, kami kelompok tertarik untuk mencari serta
membahas tentang halusinasi dalam seminar kelompok yang sebagai salah satu
syarat tugas untuk menyelesaikan praktek klinik di RSJ Radjiman Wediodiningrat
malang.
1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum.
Untuk memberikan asuhan keperawatan Jiwa pada pasien dengan perubahan
sensori persepsi : Halusinasi pendengaran di ruangan Pavilium RSJ Radjiman
Wediodiningrat malang
2. Tujuan khusus
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan perubahan sensori
persepsi: halusinasi (pendengaran)
b. Membuat diagnosa keperawatan pada klien perubahan sensori
persepsi : halusinasi (pendengaran)
c. Melakukan intervensi keperawatan kepada klien perubahan
sensori persepsi :halusinasi (pendengaran)
d. Melakukan tindakan keperawatan pada klien perubahan sensori
persepsi : halusinasi (pendengaran)
e. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan pada klien perubahan
sensori persepsi: halusinasi (pendengaran)
f. Pendokumentasian asuhan keperawatan pada klien dengan perubahan
sensori persepsi : halusinasi (pendengaran)
g. Dapat membandingkan kesenjangan antara teori dengan
kenyataan yang penulis dapatkan.

3
BAB II
TINJAUAN TEORI
HALUSINASI

A. Definisi
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya
padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2011).
Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera
(Isaacs, 2012).
Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana
terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan
tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari
dalam diri individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang
tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution,
2010).
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca
indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu
persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis,
20012)
Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien
merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak
ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2013).

B. Klasifikasi Halusinasi
1. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk
kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang
klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang
mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar

4
perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat
membahayakan.
2. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,gambar
kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan
atau menakutkan seperti melihat monster.
3. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya
bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat
stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
4. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa
tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
6. Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan
makan atau pembentukan urine
7. Kinisthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

C. Etiologi
1. Faktor Prediposisi
Menurut Stuart (2015), faktor predisposisi terjadinya halusinasi adalah:
1. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan
respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini
ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
a. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak
yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah
frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
b. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang
berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
5
c. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi
otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral
ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil
(cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh
otopsi (post-mortem).
2. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang
dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau
tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.
3. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
2. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan
setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan
masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat,
2016).
Menurut Stuart (2015), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah:
1. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses
informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus
yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

6
D. Pohon Masalah

Isolsi sosial

Halusinasi

Menarik diri Pasien mpu


mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik
E. Fase Hulusinasi
1. Fase Pertama / comforting / menyenangkan
Pada fase ini klien mengalami kecemasan, stress, perasaan gelisah,
kesepian. Klien mungkin melamun atau memfokukan pikiran pada hal yang
menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stress. Cara ini
menolong untuk sementara. Klien masih mampu mengotrol kesadarnnya
dan mengenal pikirannya, namun intensitas persepsi meningkat.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan
bibir tanpa bersuara, pergerakan mata cepat, respon verbal yang lambat jika
sedang asyik dengan halusinasinya dan suka menyendiri.
2. Fase Kedua / comdemming
Kecemasan meningkat dan berhubungan dengan pengalaman internal dan
eksternal, klien berada pada tingkat “listening” pada halusinasi. Pemikiran
internal menjadi menonjol, gambaran suara dan sensasi halusinasi dapat
berupa bisikan yang tidak jelas klien takut apabila orang lain mendengar dan
klien merasa tak mampu mengontrolnya. Klien membuat jarak antara
dirinya dan halusinasi dengan memproyeksikan seolah-olah halusinasi
datang dari orang lain.
Perilaku klien : meningkatnya tanda-tanda sistem saraf otonom seperti
peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Klien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bisa membedakan dengan realitas.
3. Fase Ketiga / controlling

7
Halusinasi lebih menonjol, menguasai dan mengontrol klien menjadi
terbiasa dan tak berdaya pada halusinasinya. Termasuk dalam gangguan
psikotik.
Karakteristik : bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai
dan mengontrol klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
halusinasinya.
Perilaku klien : kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian hanya
beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien berkeringat,
tremor dan tidak mampu mematuhi perintah.
4. Fase Keempat / conquering/ panik
Klien merasa terpaku dan tak berdaya melepaskan diri dari kontrol
halusinasinya. Halusinasi yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi
mengancam, memerintah dan memarahi klien tidak dapat berhubungan
dengan orang lain karena terlalu sibuk dengan halusinasinya klien berada
dalam dunia yang menakutkan dalam waktu singkat, beberapa jam atau
selamanya. Proses ini menjadi kronik jika tidak dilakukan intervensi.
Perilaku klien : perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri, perilaku
kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik, tidak mampu merespon
terhadap perintah kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari satu
orang.

Klien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk


terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau
berbicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang oranglain, gelisah,
melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari
klien sendiri tentang halusinasi yang dialaminya ( apa yangdilihat, didengar
atau dirasakan). Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi
(Budi Anna Keliat, 2012) :

F. Manifestasi Klinis
1. Tahap I : halusinasi bersifat menyenangkan
a. Menyeringai/ tertawa tidak sesuai
b. Menggerakkan bibir tanpa bicara

8
c. Gerakan mata cepat
d. Bicara lambat
e. Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
2. Tahap 2 : halusinasi bersifat menjijikkan
a. Cemas
b. Konsentrasi menurun
c. Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
3. Tahap 3 : halusinasi yang bersifat mengendalikan
a. Cenderung mengikuti halusinasi
b. Kesulitan berhubungan dengan orang lain
c. Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
d. Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti
petunjuk)
4. Tahap 4 : halusinasi bersifat menaklukkan
a. Pasien mengikuti halusinasi
b. Tidak mampu mengendalikan diri
c. Tidak mampu mengikuti perintah nyata
d. Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dna ketakutan klien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan dilakukan secara
individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien
disentuh atau dipegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau
emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati klien, bicaralah
dengan klien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya klien
diberitahu. Klien diberitahu tindakan yang akan dilakukan. Di ruangan itu
hendaknya disediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan
mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam
dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
2. Melaksanakan program terapi dokter

9
Sering kali klien menolak obat yang diberikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang diterimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang diberikan
betul ditelannya, serta reaksi obat yang diberikan.
3. Menggali permasalahan klien dan membantu mengatasi masalah yang
ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali
masalah klien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta
membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat
melalui keterangan keluarga klien atau orang lain yang dekat dengan klien.
4. Memberi aktivitas pada klien
Klien diajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya
berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat
membantu mengarahkan klien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan
dengan orang lain. Klien diajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih
kegiatan yang sesuai.
5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga klien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data klien
agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan,
misalnya dari percakapan dengan klien diketahui bila sedang sendirian ia
sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di
dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar
klien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau
aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya diberitahukan pada keluarga
klien dan petugas lain agar tidak membiarkan klien sendirian dan saran
yang diberikan tidak bertentangan.
Farmako:
1. Anti psikotik:
a. Chlorpromazine (Promactile, Largactile)
b. Haloperidol (Haldol, Serenace, Lodomer)
c. Stelazine
d. Clozapine (Clozaril)
e. Risperidone (Risperdal)
2. Anti parkinson:
a. Trihexyphenidile

10
b. Arthan

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


HALUSINASI

1. Data yang Perlu Dikaji


a. Alasan masuk RS
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa
tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala
yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk
mendapatkan perawatan.
b. Faktor prediposisi
1) Faktor perkembangan terlambat
 Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa
aman.
 Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
 Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
 Komunikasi peran ganda
 Tidak ada komunikasi
 Tidak ada kehangatan
 Komunikasi dengan emosi berlebihan
 Komunikasi tertutup
 Orangtu yang membandingkan anak-anaknya, orangtua yang
otoritas dan konflik dalam keluarga
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan
lingkungan yang terlalu tinggi.
4) Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal
diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran,
gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5) Faktor biologis

11
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran
vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6) Faktor genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui
kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang
menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam
tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor
enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak
kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar
50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote
peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya
mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia,
sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka peluangnya
menjadi 35 %.
c. Faktor presipitasi
Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
1) Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan
memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2) Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme
penerimaan abnormal).
3) Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya.
Menurut Stuart (2010), pemicu gejala respon neurobiologis maladaptif
adalah kesehatan, lingkungan dan perilaku.
1) Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama sikardian,
kelelahan dan infeksi, obat-obatan sistem syaraf pusat, kurangnya
latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
2) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga,
kehilangan kebebasab hidup dalam melaksanakan pola aktivitas
sehari-hari, sukar dala, berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial,

12
kurangnya dukungan sosialm tekanan kerja, dan ketidakmampuan
mendapat pekerjaan.
3) Sikap
Merasa tidak mampu, putus asam merasa gagal, merasa punya
kekuatan berlebihan, merasa malang, rendahnya kemampuan
sosialisasi, ketidakadekuatan pengobatan dan penanganan gejala.
4) Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak,
kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara sendiri.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada
jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adannya tanda-
tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya harus
dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasinya saja.
Validasi informasi tentang halusinasi yang iperlukan meliputi :
 Isi halusinasi
Menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang dikatakan.
 Waktu dan frekuensi
Kapan pengalaman halusianasi munculm berapa kali sehari.
 Situasi pencetus halusinasi
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum
halusinasi muncul. Perawat bisa mengobservasi apa yang dialami
klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi
pertanyaan klien.
 Respon klien
Sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien. Bisa dikaji
dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami
pengalamana halusinasi. Apakah klien bisa mengontrol stimulus
halusinasinya atau sebaliknya.
d. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan
darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien.
1) Status mental

13
 Penampilan : tidak rapi, tidak serasi
 Pembicaraan : terorganisir/berbelit-belit
 Aktivitas motorik : meningkat/menurun
 Afek : sesuai/maladaprif
 Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus
yang ada sesuai dengan nformasi
 Proses pikir : proses informasi yang diterima tidak
berfungsi dengan baik dan dapat mempengaruhi proses pikir
 Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian
realistis
 Tingkat kesadaran
 Kemampuan konsentrasi dan berhitung
2) Mekanisme koping
 Regresi : malas beraktifitas sehari-hari
 Proyeksi : perubahan suatu persepsi dengan berusaha
untuk mengalihkan tanggungjawab kepada oranglain.
 Menarik diri : mempeecayai oranglain dan asyik dengan
stimulus internal
3) Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan
ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman
2. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien dengan
halusinasi menurut Keliat (2006) yaitu:
a. Gangguan persepsi sensori: halusinasi berhubungan dengan menarik
diri.
b. Resiko Perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
3. Intervensi keperawatan
NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Gangguan persepsi Setelah dilakukan 4 TINDAKAN
sensori: halusinasi kali interaksi klien PSIKOTERAPEUTIK
mampu mengontrol  Klien
halusinasi dengan 1. Bina hubungan saling percaya
2. Adakan kontak sering dan
kriteria hasil:
14
1. Klie singkat secara bertahap
3. Observasi tingkah laku klien
n dapat
terkait halusinasinya
membina
4. Tanyakan keluhan yang
hubungan
dirasakan klien
saling 5. Jika klien tidak sedang
percaya berhalusinasi klarifikasi tentang
2. Klie adanya pengalaman halusinasi,
n dapat diskusikan dengan klien tentang
mengenal halusinasinya meliputi :
halusinasinya SP I
; jenis, isi, 1. Identifikasi jenis halusinasi
waktu, dan Klien
2. Identifikasi isi halusinasi
frekuensi
Klien
halusinasi,
3. Identifikasi waktu halusinasi
respon
Klien
terhadap 4. Identifikasi frekuensi
halusinasi, halusinasi Klien
5. Identifikasi situasi yang
dan tindakan
menimbulkan halusinasi
yg sudah
6. Identifikasi respons Klien
dilakukan
terhadap halusinasi
3. Klie 7. Jelaskan cara mengontrol
n halusinasi dengan 4 cara :
dapat menyeb Hardik, obat, bercakap-cakap,
utkan dan melakukan kegiatan
8. Latih Klien mengontrol
memprakteka
halusinasi dengan menghardik
n cara
9. Anjurkan Klien memasukkan
mengntrol
cara menghardik halusinasi
halusinasi
dalam jadwal kegiatan harian
yaitu dengan
SP II
menghardik,
1. Evaluasi jadwal kegiatan
bercakap-
menghardik. Beri pujian
cakap dengan 2. Latih cara mengontrol
orang lain, halusinasi dengan obat ( Jelaskan

15
terlibat/ 6 benar : jenis, guna, dosis,
melakukan frekuensi, cara, kontinuitas
kegiatan, dan minum obat)
3. Anjurkan Klien memasukkan
minum obat
dalam jadwal kegiatan untuk
4. Klie
latihan menghardik dan minum
n dapat
obat
dukungan
SP III
keluarga
1. Evaluasi kegiatan latihan
dalam
menghardik dan minum obat.
mengontrol
Beri pujian
halusinasinya
2. Latih cara mengontrol
5. Klie
halusinasi dengan bercakap—
n
cakap saat terjadi halusinasi
dapat minum 3. Anjurkan Klien memasukkan
obat dengan dalam jadwal kegiatan untuk
bantuan latihan menghardik, minum obat,
minimal dan bercakap-cakap
6. Men SP IV
gungkapkan 1. Evaluasi jadwal kegiatan
halusinasi latihan menghardik, obat dan
sudah hilang bercakap- cakap. Beri pujian
2. Latih cara mengontrol
atau
halusinasi dengan melakukan
terkontrol
kegiatan harian (mulai 2 kegiatan
)
3. Anjurkan Klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan untuk
latihan menghardik, minum obat,
bercakap-cakap dan kegiatan
harian
SP 1 Keluarga
1. Diskusikan masalah yang
dirasakn keluarga dalam merawat
Klien

16
2. Jelaskan pengertian tanda dan
gejala, dan jenis halusinasi yang
dialami Klien serta proses
terjadinya
3. Jelaskan dan latih cara-cara
merawat Klien halusinasi
4. Latih keluarga melakukan
cara merawat Klien halusinasi
secara langsung
5. Discharge planning : jadwal
aktivitas dan minum obat

17
2. Resiko Perilaku TUM: Selama Tindakan Psikoterapi
kekerasan berhubun perawatan a. Pasien
gan dengan diruangan, pasien  BHSP
 Ajarakan SP I:
halusinasi tidak
1. Identifikasi penyebab, tanda dan
pendengaran. memperlihatkan
gejala PK yang dilakukan dan
perilaku kekerasan,
akibat PK yang dilakukan pasien
dengan criteria 2. Jelaskan cara mengontrol PK :
fisik, obat, verbal, spritual
3. Latih cara mengontrol PK
hasil (TUK):
dengan cara: fisik 1 (tarik nafas
1. Dapat membina
dalam & memukul bantal dan
hubungan saling
kasur)
percaya
4. Masukkan dalam jadwal kegiatan
2. Dapat
untuk latihan fisik
mengidentifikasi
 Ajarkan SP II:
penyebab, tanda
1. Evaluasi kegiatan latihan fisik 1
dan gejala,
dan 2. Beri pujian
bentuk dan
2. Latih pasien mengntrol PK
akibat PK yang
dengan obat (jelaskan 6 benar :
sering dilakukan
jenis, guna, dosis, frekuensi,
3. Dapat
cara, kontinuitas minum obat
mendemonstrasi
3. Masukkan dalam jadwal
kan cara
kegiatan untuk latihan fisik dan
mengontrol PK
minum obat
dengan cara :
 Ajarkan SP III:
Fisik
Social dan 1. Evaluasi kegiatan latihan fisik 1
verbal dan 2 dan obat. Beri pujian
Spiritual 2. Latih cara mengontrol PK secara
Minum obat
verbal (3 cara yaitu :
teratur
mengungkapkan, meminta,
4. Dapat
menolak, dengan benar
menyebutkan
3. Masukkan dalam jadawal
dan
kegiatan untuk latihan fisik,
mendemonstrasi
minum obat, dan verbal
kan cara
 Ajarkan SP IV
mencegah PK
18
yang sesuai 1. Evaluasi kegiatan latihan latihan
5. Dapat memelih
fisik 1 dan 2, obat dan verbal.
cara mengontrol
Beri pujian
PK yang efektif 2. Latih cara mengontrol PK secara
dan sesuai spritual (2 kegiatan)
6. Dapat 3. Masukkan dalam jadwal
melakukan cara kegiatan harian untukn latihan
yang sudah fisik, minum obat, verbal dan
dipilih untuk spritual
mengontrl PK SP 1 Keluarga
7. Memasukan cara
1. Diskusikan masalah yang
yang sudah
dirasakan keluarga dalam
dipilih dalam
merawat pasien PK
kegitan harian 2. Jelaskan pengertian tanda dan
8. Mendapat
gejala PK yang dialami pasien
dukungan dari
serta proses terjadinya
keluarga untuk 3. Jelaskan dan latih cara-cara
mengontrol PK merawat pasien PK
4. Latih keluarga melakukan cara
Dapat terlibat
merawat pasien PK secara
dalam kegiatan
langsung
diruangan
5. Discharge planning : jadwal
aktivitas dan minum obat

19
BAB 3
LAPORAN KASUS
PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

I. IDENTITAS KLIEN
Nama :Tn. K Tanggal dirawat : 18-04-2019
Umur : 37 tahun Tanggal pengkajian : 23-04-2019
Pendidikan : SLTA Ruang rawat : Kasuari
Agama : Islam Sumber Informasi : Pasien
Status : menikah
Pekerjaan : swasta
Jenis kel. : laki-laki
No. RM : 104xx

II. ALASAN MASUK


Data Primer:
Pasien mengatakan saat naik sepeda motor ada bisikan untuk membelok padahal
jalannya lurus. Tapi pasien mampu mengendalikan dirinya walaupun ada bisikan
tersebut
Data Sekunder:
Pada tanggal 18-04-2019 pasien dikirim oleh keluarganya dengan keluhan pasien
sering marah marah, karena berusaha menolak bisikan tersebut.
Keluhan Utama Saat Pengkajian:
Pasien mengatakan bingung kenapa dirinya dibawa ke rumah sakit jiwa, padahal
tidak mengalami gangguan jiwa. Dia merasa tidak merasa gila dan ingin pulang
karena teman – temannya tidak nyambung saat diajak bicara
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG (FAKTOR PRESIPITASI)
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah dibawa kerumah sakit jiwa. Ini
adalah kali pertama Tn. K ada disini untuk dirawat, dengan keluhan sering marah
marah, dan pernah memukul seseorang. Berdasarkan pengkajian pada tanggal 23
April 2019 marah tersebut disebabkan karena upaya penolakan bisikan bisikan
saat mengendarai sepeda motor. sehingga pasien dibawa ke RSJ lawang pada
tanggal 18-04-2019. Kemudian pasien dipindah keruang Kasuari .

III. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU (FAKTOR PREDISPOSISI)


1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu?
Pasien mengatakan baru pertama kali masuk rumah sakit jiwa
Faktor penyebab/pendukung
a. Riwayat Trauma
NO USIA PELAKU KORBAN SAKSI
1 Aniaya fisik √

20
2 Aniaya seksual
3 Penolakan
4 Kekerasan
dalam keluarga
5 Tindak Kriminal

Pasien mengatakan pernah memukul orang lain karena merasa kesal kepada
orang-orang yang menghina dirinya akibat ditinggal oleh istri dan anaknya.
Diagnosa keperawatan: resiko perilaku kekerasan
b. Pernah melakukan upaya/percobaan/bunuh diri
Pasien mengatakan tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri.
c. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan
Pasien mengatakan bercerai dengan istri dan anaknya adalah pengalaman
yang sangat menyakitkan hati
d. Pernah mengalami penyakit fisik
Pasien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit fisik.
e. Riwayat penggunaan NAPZA
Pasien tidak pernah menggunakan NAPZA
2. Upaya yang telah dilakukan terkait kondisi diatas dan hasilnya
Pasien merupakan pasien yang sebelumnya belum pernah masuk RSJ
Diagnosa Keperawatan:
3. Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota keluarga yang gangguan jiwa ? tidak
Hubungan keluarga:
Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang seperti dirinya saat ini

Gejala:
-
Riwayat pengobatan:
-
V. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
1. Genogram

21
37 thn
Keterangan:
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal dunia
…… : Tinggal serumah
: Garis perkawinan
: Garis keturunan
: Pasien
: cerai

: Keluarga yang mengalami gangguan jiwa yang sama

Jelaskan :
Pasien mengatakan sejak cerai dengan istri kurang lebih 2 tahun yang
lalu pasien tinggal sendiri dirumah dan pasien ditinggal oleh kedua anaknya.
Pola asuh: pasien mengatakan dulu diasuh oleh orang tuanya
Pola mengambil keputusan: pasien mengatakan pasien mengambil keputusan
sendiri.
Pola komunikasi: komuniasi baik dengan semuanya

Diagnosa Keperawatan : Tidak ada masalah

2. Konsep diri
a. Citra tubuh :
Pasien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya.
b. Identitas :
Pasien sebagai seorang laki-laki merasa biasa saja karena pasien
menganggap laki-laki dan wanita sama saja tidak ada bedanya.
c. Peran :
Pasien mengatakan saat dirumah pasien membantu cuci piring, cuci baju, dan
melakukan pekerjaan rumah. saat di rumah sakit pasien yang mengikuti
kegiatan.
d. Ideal diri :

22
Pasien mengatakan jika diperbolehkan pulang, pasien ingin pulang ingin
bekerja jadi pemborong. Dilingkungan pasien berharap keluarga dan
lingkungan mau menerima pasien.
e. Harga diri :
Pasien mengatakan malu dengan kondisi saat ini jika bertemu dengan saudara
dan tetangganya
Pasien mengalama harga diri rendah dibuktikan dengan pasien tampak sering
murung, terlihat lesu tampak merendah saat diajak bicara mengenai dirinya

Diagnosa Keperawatan : Harga diri rendah


3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti/terdekat
Pasien mengatakan orang yang dekat dengannya adalah teman dikamar dan
keluarganya
b. peran serta dalam kegiatan kelompok
Pasien mengatakan hubungan pasien dengan masyarakat baik
c. hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
pasien mengatakan bahwa dirinya tidak bisa diterima dikampungnya karena
sering matah-marah
Diagnosa Keperawatan : resiko perilaku kekerasan
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
pasien .mengatakan bahwa agama tidak bisa menyembuhkan penyakit
yang dideritanya saat ini

b. Kegiatan Ibadah
Pasien mengatakan tidak melakukan kegiatan ibadah seperti sholat
karena tidak bisa
Diagnosa Keperawatan: Distress spritual

IV. PEMERIKSAAN FISIK


1. Keadaan umum :
Klien mengatakan bahwa giginya sakit, kooperatif, bicara lancar, penampilan
umum bersih memakai baju tidak terbalik
2. Kesadaran ( Kuantitas)
kesadaran composmetis
3. Tanda vital:
TD : 110/80 mm/Hg
N : 84x/menit
S : 36,4oC
RR : 21x/menit
4. Ukur:
Berat badan: 65 kg
23
Tinggi badan: 167 cm
5. Keluhan fisik:
Pasien mengatakan bahwa dirinya sakit gigi
Diagnosa keperawatan : -
V. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Penampilan usia : pasien tampak memakai seragam pasien RSJ
Cara berpakaian : tidak terbalik saat memakai pakaian
Kebersihan : terlihat bersih
Masalah keperawatan: tidak ada masalah
2. Pembicaraan
Frekuensi : pasien sering menjawab pertanyaan dengan jelas ,menjawab setiap
pertanyaan yang diajukan
Volume : pelan dan jelas
Jumlah : pasien menjawab pertanyaan dengan panjang
Karakter : cenderung kasar
Masalah keperawatan : tidak ada masalah
3. Aktifitas Motorik/Psikomotor
Kelambatan:
 Hipokinesia,
 Hipoaktifitas
 Kata lepsi
 Sub stupor katatatonik
 fleksibilitsserea
Pasien tidak mengalami kelambatan aktivitas fisik
Peningkatan:
 hiperkinesia
 hiperaktif
Pasien mengalami hiperaktivitas ditandai dengan mondar-mondir
Diagnosa keperawatan : Resiko cidera
4. Mood dan afek
Mood :
 Depresi
 Ketakutan
 Euforia
 Khawatir
 Anhedonia
 Kesepian
Jelaskan
Pasien mengatakan kesepian ditinggal orang tuanya dan istrinya , wajah
sedih, mata berkaca-kaca.
Afek : Sesuai

24
Pasien tampak sedih dan megatakan kesepian, kurang istirahat,mata berkaca-
kaca, wajah sedih
Masalah Keperawatan: tidak ada masalah keperawatan
5. Interaksi selama wawancara :
 Bermusuhan
 Tidak koperatif
 Mudah tersinggung
 Kontak mata berkurang
 Defensif
 curiga
Jelaskan : Pasien dapat berinteraksi dengan baik selama wawancara, kontak
mata baik, pasien kooperatif
Diagnosa Keperawatan : tidak ada masalah
6. Persepsi – sensorik
a .halusinasi
 Pendengaran
 Penglihatan
 Perabaan
 Pengecapan
 Penciuman
b.ilusi
 Ada
 Tidak ada
Jelaskan : Pasien mengatakan mendengar suara berbisik saat naik sepeda motor
ada bisikan untuk membelok padahal jalannya lurus. Tapi pasien mampu
mengendalikan dirinya walaupun ada bisikan tersebut

Masalah Keperawatan: gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran


7. Proses pikir
a. Arus pikir :koheren
Pasien bicara lancar mudah dipahami
b. Isi pikir : pikiran rendah diri
Pasien mengatakan merasa tidak ada gunanya
c. Bentuk pikir : realistik
Pasien memiliki cara berfikir yang sesuai dengan kenyataan seperti
mendengar suara batin dan melihat bayangan.
8. Kesadaran
a. Orientasi (waktu, tempat, orang)
Pasien mampu berkonsentrasi
Kesadaran
Tidak ada penurunan kesadaran

25
9. Memori
 Gangguan daya ingat jangka panjang (>1 bulan)
Tidak ada masalah dibuktikan pasien mengingat siapa yang membawa
pasien ke RSJ yaitu pasien diantar oleh pak fauzi dinsos pasuruan.
(jawaban benar)
 Gangguan daya ingat jangka menengah (24 jam- 1 bulan)
Tidak ada masalah dibuktikan dengan pasien mengenal nama temannya
yang pulang kemarin)
 Gangguan daya ingat pendek (kurun waktu 10 detik sampai 15
menit)
Tidak ada masalah dibuktikan dengan “siapa dokter yang memeriksa
bapak tadi” (pasien mampu menjawab pertanyaan nama dokter yang
memeriksa pasien dengan benar)
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah

10. Tingkat konsentrasi dan berhitung


Konsetrasi:
Pasien mampu berkosentrasi dibuktikan saat ditanya pasien mampu
menjelaskan lagi apa yg telah dibicarakan
Berhitung
Pasien mampu menghitung dengan baik dibuktikan dengan pasien mampu
berhitung 100-7=93-7=86-79
11. Kemampuan penilaian
Gangguang ringan dibuktikan dengan Pasien mengatakan mengetahui suara
halusinasi, tau cara mengontrol dan belum mampu melakukan cara untuk
mengontrol halusinasi
Masalah perawatan : tidak ada masalah
12. Daya tillik diri
Pasien menyadari penyakit jiwa yang dideritanya.
Masalah Keperawatan : Tidak ada masalah

VIII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
 Perawatan kesehatan
 Transportasi
 Tempat tinggal
 Keuangan dan kebutuhan lainnya
Jelaskan:
Terkait dengan perawatan kesehatan, transportasi, tempat tinggal dan
keuangan tidak ada masalah karena pasien tinggal di Dinsos dan kebutuhan
terpenuhi.

26
2. Kegiatan hidup sehari-hari
Mandi
Pasien mengatakan mandi 5-6 kali sehari, mandi secara mandiri dikamar
mandi menggunakan sabun.
Berpakaian, berhias dan berdandan
Pasien dapat berpakaian dengan rapi
Makan
pasien mengatakan makan 3 kali sehari, makan secara mandiri, makan porsi
yang disediakan rumah sakit dihabiskan.
Toileting (BAK, BAB)
Pasien mengatakan BAK dan BAB dikamar mandi tanpa bantuan orang lain
BAK: Pasien mengatakan BAK 3-4 kali sehari dikamar mandi
BAB: pasien mengatakan 2 hari sekali dikamar mandi
3. Istirahat dan tidur
Pasien mengatakan terkadang tidur siang jam 13.00-14.00. Tidur malam jam
20.00 sampai 04.00 pagi. Pasien mengatakan aktivitas sebelum tidur adalah
menata tempat tidur, merokok sambil meyendiri dan saat bangun tidur pasien
merapikan tempat tidur lalu mandi dikamar mandi
4. Kemampuan lain-lain
Mengantisipasi kebutuhan hidup
Pasien mengatakan ingin bekerja sebagai supir truck karena bekerja sebagai
sopir truck bisa jalan-jalan dan uangnya banyak
Membuat keputusan berdasarkan keinginannya
Pasien mengatakan membuat keputusan berdasarkan keinginannya
Mengatur penggunaan obat dan melakukan pemeriksaan kesehatannya
Pasien mengatkan rutin minum obat yang diberikan oleh petugas.
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah
5. Sistem Pendukung
Keluarga Ya
Terapis Ya
Teman sejawat Ya
Kelompok sosial Ya
Jelaskan : sistem pendukung pasien terpenuhi

IX. MEKANISME KOPING


Pasien mengatakan jika ada masalah pasien cenderung tertutup dan kadang
disertai marah-marah
Diagnosa keperawatan: koping individu inefektif

X. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN

27
Masalah dengan dukungan kelompok
Pasien mengatakan tidak ada masalah dengan kelompoknya ataupun masyarakat
Masalah berhubungan dengan lingkungan
Pasien mengatakan hubungan pasien dengan orang-orang disekitarnya baik
Masalah dengan pendidikan
Pasien mengatakan pendidikan terakhir SLTA dan pasien kehilangan ijazah
yang ia miliki
Masalah dengan pekerjaan
Pasien mengatakan sebelumnya pasien bekerja sebagai security dan membawa
anjing pelacak, pasien tidak memiliki masalah dalam pekerjaannya
Masalah dengan perumahan
Pasien mengatakan tidak ada masalah
Masalah dengan ekonomi
Pasien tidak memiliki masalah dengan ekonomi karena ditanggung oleh dinsos
Masalah dengan pelayanan kesehatan
Pasien mengatakan tidak adalah masalah dengan petugas dan pelayanan
kesehatan
Masalah lainnya
Tidak ada masalah lain.

VI. ASPEK PENGTAHUAN


Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang
kurang tentang suatu hal? ya
Penyakit/gangguan jiwa
Sistem pendukung
Faktor presipitasi
Penatalaksanaan
Lain-lain, jelaskan
Jelaskan : pasien tidak memiliki masalah tentang pengetahuan, siste pendukung,
faktor presipitasi, penataksaan, dan lain-lain
Masalah Keperawatan : tidak ada masalah

VII. ASPEK MEDIS


1. Diagnosa medis

28
f20.1-Hebeprenic shizoprenia
2. Diagnosa Multi Axis
Axis I : f20.1-Hebeprenic shizoprenia
Axis II : tidak ditemukan
Axis III : tidak ditemukan
Axis IV : Masalah psikoosial dan lingkungan lainna
Axis V : penilaian fungsi secara global/GAF 40-31
3. Terapi medik :
1) Depakote 250 mg (per oral) 1-0-1-0
2) Clozapine 100 mg (per oral) 0-0-0-1
3) Clozapine 25 mg (per oral) 2-0-0-0
4) Trifluoperazine 5 mg (per oral) 1-0-1-0

XIII. ANALISA DATA

NO. DATA DIAGNOSA


KEPERAWATAN
1. DS : Pasien mengatakan mendengar suara berbisik Gangguan sensori persepsi :
saat naik sepeda motor ada bisikan untuk membelok Halusinasi Pendengaran
padahal jalannya lurus. Tapi pasien mampu
mengendalikan dirinya walaupun ada bisikan
tersebut

DO :- saat sendiri pasien bicara sendiri


- Pasien bersikap mendengar sesuatu
- Kontak mata berkurang
2. DS : Pasien mengatakan pernah memukul orang lain Resiko perilaku kekerasan
karena merasa kesal kepada orang-orang yang
menghina dirinya akibat ditinggal oleh istri dan
anaknya.
DO :- sering bicara kasar
- Tatapan mata tajam
- Volume pembicaraan sesekali keras
3. DS: Pasien mengatakan tidak melakukan kegiatan Distress spiritual
ibadah seperti sholat karena tidak bisa

DO:- tampak tidak pernah melakukan ibadah


29
XIV. POHON MASALAH

Resiko perilaku kekerasan, resiko cedera

Halusinasi

Distress spiritual Koping individu inefektif Regimen


pengobatan inefektif
Harga diri rendah

XV. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Gangguan sensori persepsi : Halusinasi Pendengaran
2. Harga diri rendah
3. Resiko perilaku kekerasan
4. Distress spiritual
5. Koping Individu inefektif
6. Resiko cedera
7. Regimen pengobatan inefektif

8. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Gangguan persepsi sensori : halusinasi
pendengaran

30
31
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Nama : Tn K Ruang: Kasuari RM No. :129XXX

Tg Perencanaan
No Dx Dx Keperawatan
l Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi

1 Gangguan sensori TUM: Klien dapat o Setelah 1 x interaksi klien o Bina hubungan saling percaya dengan
persepsi: mengontrol menunjukkan tanda – tanda menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
halusinasi halusinasi yang percaya kepada perawat : a) Sapa klien dengan ramah baik verbal
(lihat/dengar/peng dialaminya a) Ekspresi wajah maupun non verbal
hidu/raba/kecap) Tuk 1 : bersahabat. b) Perkenalkan nama, nama panggilan dan
b) Menunjukkan rasa tujuan perawat berkenalan
Klien dapat
senang. c) Tanyakan nama lengkap dan nama
membina hubungan
c) Ada kontak mata. panggilan yang disukai klien
saling percaya
d) Mau berjabat tangan. d) Buat kontrak yang jelas
e) Mau menyebutkan e) Tunjukkan sikap jujur dan menepati janji
nama. setiap kali interaksi
f) Mau menjawab salam. f) Tunjukan sikap empati dan menerima apa
g) Mau duduk adanya
berdampingan dengan g) Beri perhatian kepada klien dan perhatikan
perawat. kebutuhan dasar klien
h) Bersedia h) Tanyakan perasaan klien dan masalah yang
mengungkapkan dihadapi klien
masalah yang dihadapi. i) Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi
perasaan klien
TUK 2 : 2. Setelah 2 x interaksi 2.1. Adakan kontak sering dan singkat
Klien dapat klien menyebutkan : secara bertahap
mengenal 2.2. Observasi tingkah laku klien terkait
32
halusinasinya o Isi dengan halusinasinya (* dengar /lihat
o Waktu /penghidu /raba /kecap), jika menemukan
o Frekunsi klien yang sedang halusinasi:
o Situasi dan  Tanyakan apakah klien mengalami
kondisi yang sesuatu ( halusinasi dengar/ lihat/
menimbulkan penghidu /raba/ kecap )
halusinasi  Jika klien menjawab ya, tanyakan
apa yang sedang dialaminya
 Katakan bahwa perawat percaya
klien mengalami hal tersebut, namun
perawat sendiri tidak mengalaminya
( dengan nada bersahabat tanpa menuduh
atau menghakimi)
 Katakan bahwa ada klien lain yang
mengalami hal yang sama.
 Katakan bahwa perawat akan
membantu klien
Jika klien tidak sedang berhalusinasi klarifikasi
tentang adanya pengalaman halusinasi,
diskusikan dengan klien :

 Isi, waktu dan frekuensi terjadinya


halusinasi ( pagi, siang, sore, malam
atau sering dan kadang – kadang )
 Situasi dan kondisi yang
menimbulkan atau tidak menimbulkan
halusinasi

33
2. Setelah 2x interaksi 2.3. Diskusikan dengan klien apa yang
klien menyatakan perasaan dirasakan jika terjadi halusinasi dan beri
dan responnya saat kesempatan untuk mengungkapkan
mengalami halusinasi : perasaannya.
 Marah 2.4. Diskusikan dengan klien apa yang
 Takut dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut.
 Sedih 2.5. Diskusikan tentang dampak yang
 Senang akan dialaminya bila klien menikmati
 Cemas halusinasinya.
 Jengkel
TUK 3 : 3.1. Setelah 3x interaksi 3.1. Identifikasi bersama klien cara atau tindakan
Klien dapat klien menyebutkan yang dilakukan jika terjadi halusinasi (tidur,
mengontrol tindakan yang biasanya marah, menyibukan diri dll)
halusinasinya dilakukan untuk
mengendalikan
halusinasinya 3.2. Diskusikan cara yang digunakan klien,
3.2. Setelah 3x interaksi  Jika cara yang digunakan adaptif
klien menyebutkan cara beri pujian.
baru mengontrol halusinasi  Jika cara yang digunakan maladaptif
diskusikan kerugian cara tersebut
3.3. Setelah 3x interaksi 3.3. Diskusikan cara baru untuk memutus/
klien dapat memilih dan mengontrol timbulnya halusinasi :
memperagakan cara a) Katakan pada diri sendiri bahwa ini
mengatasi halusinasi tidak nyata ( “saya tidak mau dengar/ lihat/
(dengar/lihat/penghidu/raba penghidu/ raba /kecap pada saat halusinasi
/kecap ) terjadi)
b) Menemui orang lain
3.4. Setelah 3x interaksi (perawat/teman/anggota keluarga) untuk
34
klien melaksanakan cara menceritakan tentang halusinasinya.
yang telah dipilih untuk c) Membuat dan melaksanakan jadwal
mengendalikan kegiatan sehari hari yang telah di susun.
halusinasinya d) Meminta keluarga/teman/ perawat
3.5. Setelah 3 X pertemuan menyapa jika sedang berhalusinasi.
klien mengikuti terapi 3.4 Bantu klien memilih cara yang sudah
aktivitas kelompok dianjurkan dan latih untuk mencobanya.

3.5 Beri kesempatan untuk melakukan cara


yang dipilih dan dilatih.
3.6. Pantau pelaksanaan yang telah dipilih dan
dilatih , jika berhasil beri pujian
3.7. Anjurkan klien mengikuti terapi aktivitas
kelompok, orientasi realita, stimulasi persepsi

TUK 4 : 4.1. Setelah 4 X pertemuan 4.1 Buat kontrak dengan keluarga untuk
Klien dapat keluarga, keluarga pertemuan ( waktu, tempat dan topik )
dukungan dari menyatakan setuju untuk 4.2 Diskusikan dengan keluarga ( pada
keluarga dalam mengikuti pertemuan saat pertemuan keluarga/ kunjungan rumah)
mengontrol dengan perawat a) Pengertian halusinasi
halusinasinya 4.2. Setelah 4x interaksi b) Tanda dan gejala halusinasi
keluarga menyebutkan c) Proses terjadinya halusinasi
pengertian, tanda dan d) Cara yang dapat dilakukan klien dan
gejala, proses terjadinya keluarga untuk memutus halusinasi
halusinasi dan tindakan e) Obat- obatan halusinasi
untuk mengendali kan f) Cara merawat anggota keluarga
halusinasi yang halusinasi di rumah ( beri kegiatan,
jangan biarkan sendiri, makan bersama,
35
bepergian bersama, memantau obat – obatan
dan cara pemberiannya untuk mengatasi
halusinasi )
g) Beri informasi waktu kontrol ke
rumah sakit dan bagaimana cara mencari
bantuan jika halusinasi tidak tidak dapat
diatasi di rumah

TUK 5 : 5.1. Setelah 5x 5.1 Diskusikan dengan klien tentang


Klien dapat interaksi klien manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama
memanfaatkan obat menyebutkan; , warna, dosis, cara , efek terapi dan efek
dengan baik o Manfaat minum samping penggunan obat
obat
o Kerugian tidak
minum obat 5.2 Pantau klien saat penggunaan obat
o Nama,warna,do 5.3 Beri pujian jika klien menggunakan obat
sis, efek terapi dan dengan benar
efek samping obat 5.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat
tanpa konsultasi dengan dokter
5.2. Setelah 5x 5.5 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada
interaksi klien dokter/perawat jika terjadi hal – hal yang tidak
mendemontrasikan di inginkan .
penggunaan obat dgn benar
5.3. Setelah 5x
interaksi klien
menyebutkan akibat
berhenti minum obat tanpa
konsultasi dokter
36
37
DOKUMENTSI HASIL ASUHAN KEPERAWATAN

...............................................................................................................................................

TINDAKAN KEPERAWATAN EVALUASI

SP 1 S : Waalaikum salam, nama saya Tn. K, bisa dipanggil K, alamat saya


1. membina hubungan saling percaya : jombang
“assalamualaikum pak? kenalkan nama saya Yohanes - Saya mendengar suara-suara bisikan untuk” berbeleok arah”
Pratama bisa dipanggil Yohan, saya mahasiswa Stikes ketika berkendara padahal jalan lurus.
Kepanjen” Nama bapak siapa? Sukanya dipanggil apa? - Suara laki-laki
Asalnya darimana pak? - Suara itu muncul ketika sedang berkendara
2. Mengidentifikasi jenis halusinasinya : - Saya mau di ajari cara mengontrol halusinasi dengan menghardik.
“Apa yang bapak rasakan?
3. Mengidentifikasi isi halusinasinya : O:
“Bisikan apa yang bapak dengar?” - Mau menjawab salam
4. Mengidentifikasi waktu halusinasinya : - Mau berjabat tangan
“Biasanya pada saat apa bisikan itu terjadi?” - Mau menyebutkan nama
5. Mengidentifikasi frekuensi halusinasinya : - Mau mengungkapkan perasaannya
“bisikannya sering ya bapak?” - Ada kontak mata
6. Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan - Pasien mau diajari cara mengontrol halusinasi dengan menghardik
halusinasi:
“pada saat apa bisikan itu datang?” A : Pasien mampu mengontrol halusiasi
7. Mengidentifikasi respon klien terhadap halusinasi:
Pasien mampu mengidentifikasi isi,waktu,frekwensi,situasi,respon
“Ketika dirumah, apa yang bapak lakukan saat bisikan itu
datang?” “kalau disini saat suara itu muncul, apa yang
bapak lakukan?” Jika suara itu dibiarkan apakah bisa
P:
hilang?
8. Mengajarkan klien menghardik halusinasi : Klien : anjurkan klien latihan mengontrol halusinasi dengan cara
“Saya akan mengajarkan bapak cara menghardik menghardik bila halusinasi muncul
halusinasi”
38
Perawat : lanjutkan cara mengontrol halusinasi dengan obat

SP2 S : Pasien mengatakan mengerti jenis obat yang dia minum


1. Mengevaluasi kegiatan menghardik O : Pasien tampak mendengarkan penjelasan obat dari perawat, pasien
2. memberi pujian pada pasien minum obat masih diingatkan oleh perawat, pasien bisa menyebutkan
3. melatih cara mengontrol halusinasi dengan jumlah, warna, dan obat yang diminum
obat (jelaskan 6 benar: jenis, guna, dosis, frekuensi, A : Pasien mampu menyebutkan jenis obat, pasien belum mampu
cara, kontinuitas minum obat) mengingat waktu minum obat
4. memasukkan pada jadwal kegiatan untuk
Pasien mampu mengontrol halusinasi dengan cara menghardik
latihan menghardik
Sehabis sarapan jangan lupa minum obat: jenis obat yang
P : lanjutkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap
diminum ada 3 jenis yaitu ...... diminum pagi sore dan
malam, obat ini untuk mengurangi suara-suara yang
didengar bapak, sebelum itu bapak harus tau 6 B, Benar
klien, benar obat, benar dosis, benar rute, benar waktu, benar
dokumentasi.

SP3 S : Pasien mengatakan belum mengerti cara bercakap-cakap


1. Mengevluasi kegiatan latihan menghardik dan
minum obat.Beri pujian O : - pasien tampak bercakap-cakap dengan temannya
2. Latih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap- - pasien tampak kooperatif
cakap saat terjadi haluinasi - pasien minum obat dengan teratur
3. Memasukkan pada jadwal kegiatan untuk latian A : Pasien belum mampu bercakap-cakap dengan orang lain
meghardik minum obat dan bercakap-cakap P : Ulangi SP 3 Cara bercakap-cakap ditandai denga pasien bercakap-
cakap dengan temanya
SP3 S :Pasien mengatakan mengerti cara bercakap-cakap
1. mengevaluasi kegiatan latihn menghardik dan
minum obat. O : - pasien tampak bercakap-cakap dengan temannya
Beri pujian - pasien tampak kooperatif
39
2. latih cara mengontrol halusinasi dengan - pasien minum obat dengan teratur
bercakap-cakap saat terjadi haluinasi A : Pasien mampu bercakap-cakap dengan orang lain
3. Memasukkan pada jadwal kegiatan untuk P : Lanjutkan intervensi mengontrol halusinasi dengan melakukan 2
latian meghardik minum obat dan bercakap-cakap kegiatan aktivitas
Sp 4 S : Pasien mengaatakan mampu melakukan kegiatan harian secara
1. mengevaluasi kegiatan latihan menghardik, mandiri
obat dan bercakap-cakap O : - Pasien tampak melakukan kegiatan menyapu dan mengepel secara
beri pujian mandiri
2. melatih mengontrol halusinasi dengan - Pasien bercakap-cakap dengan temannya
melakukan kegiatan harian (mulai dari dua kegiatan) - Pasien meminum obat yang diberian petugas
3. memasukkan pada jadwal kegiatan untuk A : Pasien mampu melakukan 2 kegiatan harian
latihan meghardik, minum obat, bercakap-kcap dan P : lanjutkan cara mengontrol haalusinasi dengan kegiatan harian
kegiatan harian.
Sp 5 S : Pasien mengaatakan mampu melakukan kegiatan harian secara
1. mengevaluasi kegiatan menghardik, obat, bercakap- mandiri
cakap dan kegiatan harian O : - Pasien tampak melakukan kegiatan harian menyapu, makan,
beri pujian memakai baju secara mandiri
2. latih kegiatan harian - Pasien bercakap-cakap dengan temannya
3. nilai kemampuan yang mandiri - Pasien meminum obat yang diberian petugas
4. nilai apakah halusinasi terkontrol
A : Pasien mampu melakukan kegiatan harian
P : pertahankan/memantapkan SP 5

40
41
FORMAT
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
(Dibuat setiap kali sebelum interaksi atau pertemuan dengan klien)
Hari selasa, 23-04-2019

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
DS : Pasien mengatakan mendengar bisikan untuk “berbelok” ketika
berkendara padahal jalan lurus.
Do : Pasien sering sendiri, pasien kooperatif
2. Diagnose keperawatan
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran
3. Tujuan khusus
a. Pasien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk
kelancaran hubungan interaksi selanjutnya
b. Pasien dapat mengenal halusinasinya
c. Pasien dapat mengontrol halusinasinya
d. Pasien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol
halusinasi
e. Pasien memanfaatkan obat dengan baik
4. Tindakan keperawatan
a. Bina hubugan saling percaya antara perawat dan pasien
a) Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi
b) Menanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini
c) Tunjukkan sikap empati kepada pasien
b. SP 1 : Pasien
a) Identifikasi halusinasi, isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi
pencetus, perasaan, respon
b) Jelaskan cara mengontrol halusinasi : Hardik, obat,
bercakap-cakap, melakukan kegiatan
c) Latih cara mengontrol halusinasi dengan menghardik
d) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan menghardik
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
a. Fase orientasi
1. Salam terapeutik
Assalamu’alaikum bapak, saya Yohan mahasiswa dari Stikes Kepanjen, kalau
bapak namanya siapa? Bapak senangnya dipanggil siapa?. Bapak disini saya
akan merawat bapak selama 2 minggu kedepan

2. Evaluasi / validasi
Baik bapak disini kita akan berbincang-bincang kalau boleh tau kenapa bapak
bias sampai dirawat disini?
3. Kontrak
Topik : Identifikasi halusinasi dan belajar menghardik
Waktu : 15-20 menit
Tempat : Teras samping Ruang Kasuari
b. Fase kerja

42
”Apakah bapak mendengar suara tanpa ada ujudnya?Apa yang dikatakan suara
itu?”
” Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering
bapak dengar suara? Berapa kali sehari bapak mendengar suara-suara tersebut?
Pada keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada waktu sendiri atau saat
bersama dengan orang lain?”
” Apa yang bapak rasakan pada saat mendengar suara itu?”
”Apa yang bapak lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu
suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah
suara-suara itu muncul?
” bapak , ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik atau membentak suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke
empat minum obat dengan teratur.”
”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik
membentak”.
”Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung bapak bilang,
pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu
diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba bapak peragakan! Nah
begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus bapak sudah bisa”

c. Fase terminasi
1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi subyektif (klien)
Bagaimana perasaan bapak sekarang setelah peragaan latihan tadi?
Evaluasi obyektif
Pasien memahami cara menghardik, pasien kooperatif
2. Rencana tindak lanjut
Melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara kedua : obat

3. Kontrak yang akan dating


Topik : Melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara kedua : obat
Waktu : 12.00 WIB, 15-20 menit
Tempat : Teras samping ruang Kasuari

43
44
BAB IV
PEMBAHASAN JURNAL
Terapi perilaku kognitif untuk halusinasi pendengaran schizophrenia

4.1TEORI

` Halusinasi pendengaran (AH), khususnya halusinasi perintah, merupakan masalah


yang signifikan terhadap tekanan dan cacat terkait dengan kekacauan. Halusinasi dapat
didefinisikan sebagai pengalaman indrawi dalam modalitas sensorik, terjadi tanpa adanya
stimulasi eksternal yang secara penuh dalam keadaan sadar, dan menyerupai persepsi verbal.
Pada skizofrenia, halusinasi terjadi dengan frekuensi tinggi hingga 50% -80%. Di antara
halusinasi, halusinasi pendengaran (AHS) dianggap tertinggi, dengan perkiraan prevalensi
dalam skizofrenia berkisar antara 40% dan 80%.

prevalensi halusinasi perintah pada orang dewasa peserta dengan gangguan


kejiwaan, 48% di antaranya peserta mengatakan perintah yang ditetapkan berbahaya atau
tindakan berbahaya, naik menjadi 69% untuk peserta di unit aman sedang. Namun, tautan
antara kehadiran halusinasi perintah dan membahayakan diri sendiri atau yang lain tidak
langsung.

Penanganan halusinasi dengan Pengobatan pasien yang resistan terhadap obat


dapat dipersulit dengan efek samping, karena penggunaan obat lini kedua seperti Clozapine
atau terapi kombinasi dengan antipsikotik multipel agen. Selain itu, ada banyak kekhawatiran
penolakan pasien untuk mematuhi rezim obat dan kepatuhan jangka panjang terhadap terapi.
Akibatnya, di sana adalah minat yang meningkat pada intervensi psikologis, yang sekarang
diakui sebagai komponen penting pendekatan terapi yang komprehensif dalam perawatan
skizofrenia. Halusinasi pendengaran adalah gejala yang resistan terhadap pengobatan, dan
halusinasi perintah adalah risiko paling tinggi ini [21]. Halusinasi perintah mewakili yang
istimewa masalah untuk manajemen klinis psikosis.

Penelitian sebelumnya menyarankan terapi perilaku-kognitif (CBT) menjadi


pengobatan yang bermanfaat untuk mengurangi kepatuhan dengan halusinasi perintah yang
berbahaya Secara khusus, CBT diterapkan untuk pengobatan perintah halusinasi tidak fokus
pada pengurangan pengalaman suara, tetapi untuk mengurangi kekuatan suara yang dirasakan
untuk menyakiti individu dan untuk memotivasi kepatuhan.

Shawyer et al [24] mengevaluasi kemanjuran kognitif model intervensi perilaku


yang disebut Pengobatan Halusinasi Perintah Tahan (TORCH) dibandingkan dengan
berteman, yang merupakan kontrol sepenuhnya manual Intervensi yang memberikan pasien
hal yang sama Jumlah keterlibatan dan harapan terapis sebagai CBT. Program pengobatan
dilakukan selama 15 sesi mingguan berlangsung sekitar 50 menit dan dengan tindak lanjut
pada enam bulan. Meskipun peserta TORCH secara subjektif melaporkan peningkatan dalam
komando halusinasi dibandingkan dengan peserta yang berteman, studi tidak menemukan
perbedaan kelompok yang signifikan dalam hasil utama (mis., tingkat kepatuhan dengan
halusinasi perintah yang berbahaya), atau juga yang sekunder hasil (mis., penyakit keparahan,
fungsi global, level kesulitan terkait dengan halusinasi perintah, kualitas hidup), berdasarkan
data penilaian blinded.

Ulasan ini menjelaskan kemanjuran CBT di pasien dengan AH. Singkatnya, dua
RCT disertakan menunjukkan kemanjuran CBT yang lebih besar dibandingkan dengan
standar peduli AHA. Namun, dalam Shawyer et al, TORCH peserta secara subjektif
melaporkan peningkatan yang lebih besar dalam halusinasi perintah dibandingkan dengan
Berteman tetapi tidak ada perbedaan kelompok yang signifikan pada hasil primer ukuran itu
adalah tingkat kepatuhan dengan berbahaya halusinasi perintah.
45
4.2 FAKTA
Pasien mengatakan sebelumnya tidak pernah dibawa kerumah sakit jiwa. Ini
adalah kali pertama Tn. K ada disini untuk dirawat, dengan keluhan sering marah
marah, dan pernah memukul seseorang. Berdasarkan pengkajian pada tanggal 23
April 2019 marah tersebut disebabkan karena upaya penolakan bisikan bisikan saat
mengendarai sepeda motor. sehingga pasien dibawa ke RSJ lawang pada tanggal
18-04-2019. Kemudian pasien dipindah keruang Kasuari .

4.3 OPINI

Pasien dengan keluhan halusinasi diberikan strategi pelaksanaan pasien 1-5

4.4 PENERAPAN DILAPANGAN

Pasien sudah dilkukan CBT akan tetapi tidak berhasil dikarenakan waktu
implementasi hanya 2 minggu. Waktu minimal CBT 6 bulan.

46
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Asuhan keperawatan pada klien dilaksanakan pada tangal 23 April 2019 Secara
umum kelompok sudah mendapatkan gambaran umum tentang asuhan keperawtan
jiwa pada klien dengan gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran meliputi
pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, pemeriksaan fisik dan
catatan keperawatan. Adapun gejala yang ditemukan pada kasus ketika pengkajian
yaitu klien tampak bingung sering menyendiri dan sering mendengar suara yang
menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.sehingga dari data tersebut muncul diagnosa
keperawatan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

Perencanaan disusun sesuai dengan teori yang telah ditetapkan dan disesuaikan
dengan keadaan dalam kasus. Masalah diprioritaskan berdasarkan core problem atau
masalah utama yang telah diangkat dalam masalah ini adalah gangguan persepsi
sensori halusinasi pendengaran.

B. SARAN

Dalam rangka meningkatkan pelayanan keperawatan pada klien dengan gangguan


persepsi sensori : Halusinasi pendengaran di ruang Kasuari RSJ Dr. Radjiman
Widiodiningrat Lawang di Malang, maka diharapkan bagi para perawat ruangan
maupun mahasiswa praktek diharapkan untuk bisa memanfaatkan waktu dan
kesempatan yang ada selama praktek guna meningkatkan pengetahuan dan
ketrampilan yang dimiliki.

47
DAFTAR PUSTAKA

Akemat. 2015. Pedoman pelaksanaan terapi aktifitas kelompok sosialisasi. Tidak


dipublikasikan malang: panitia pelatihan nasional terapi modalitas keperawatan
profesional jiwa Lawang

Hawari. 2011. Pendekatan holistik pada gangguan jiwa skizofrenia. Jakarta: FKUI

Keliat, budi. 2012. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: EGC

Anonim. 2010. Askep dengan Halusinasi. Dimuat


dalam http://aggregator.perawat.web.id [Diakses : 15 Oktober 2011]

Anonim. 2010. Halusinasi . Dimuat dalam. http://harnawatiaj.wordpress.com/ [Diakses :


15 Oktober 2011]

Kusumawati dan Hartono . 2010 . Buku Ajar Keperawatan Jiwa . Jakarta : Salemba
Medika

Stuart dan Sundeen . 2015 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .

Nita Fitria. 2010. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan untuk 7 Diagnosis Keperawatan
Jiwa Berat. Jakarta: Salemba Medika.

Rasmun, (2011). Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan


Keluarga. Konsep, Teori, Asuhan Keperawatan dan Analisa Proses Interaksi
(API). Jakarta : fajar Interpratama.

48