You are on page 1of 11

MENGATUR KEMASAKAN BUAH DENGAN MENGGUNAKAN

ZAT PENGATUR TUMBUH

Oleh :
Annisa Az Zahra B1A017109
Dwi Nofyan Sansa Putra B1A017114
Fiqita Mayliani B1A017119
Nadya Rehulina Ginting B1A017122
Endang Triyani Prihantari B1A017131
Batari Citra Ayunda B1A017139
Rombongan : C2
Kelompok : 1
Asisten : Hasan Hariri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

B. Tujuan
TujuanpraktikumacaraMengaturKemasakanBuahdenganMenggunakanZa
tPengaturTumbuhadalahuntuk mengetahuikonsentrasizatpengaturtumbuh yang
mampumempercepatkemasakanbuah.
II. TELAAH PUSTAKA

(poin1)Pematanganbuahmerupakanperubahan yang
terjadipadatahapakhirperkembanganbuahatautahapawalpenuaanpadabuah.Selamaper
kembanganbuahterjadiberbagaiperubahanbiokimiawidanfisiologi.Buahyang
masihmudaberwarnahijaukarenamemilikikloroplassehinggadapatmengadakanfotosint
esis, tetapisebagianbesarkebutuhankarbohidratdan protein
diperolehdaribagiantubuhtumbuhanlainnya.Buahmuda yang
sedangtumbuhmengadakanrespirasisangatcepatsehinggadihasilkanbanyakasamkarbo
ksilatdaridaur Krebs, misalnyaasamisositrat, asamfumarat, asammalat. Kadar asam-
asaminiberkurangsejalandenganberkembangnyabuahkarenaasam-
asaminidigunakanuntukmensintesisasam amino dan protein yang
terusberlangsungdalambuahsampaibuahmasak (Sutopo, 2002)
Berdasarkan kandungan amilumnya, buah dibedakan menjadi buah klimaterik
dan buah non klimaterik. Buah klimaterik merupakan buah yang mengandung
banyak amilum. Buah klimaterik yang ditandai dengan peningkatan laju respirasi
secara mendadak peningkatan respirasi, maka akan meningkat pula kadar air pada
buah, karena pada proses respirasi selain menghasilkan CO2 juga akan
menghasilkan air dari proses oksidasi senyawa organik . Sehingga semakin
meningkatnya tingkat kematangan maka kadar air akan semakin meningkat,
contohnya buah pisang, alpukat dan mangga (Wijayanti, eual., 2017). Buah non
klimaterik adalah buah yang tidak mengalami lonjakan respirasi serta etilen dan
memiliki kandungan amilum yang sedikit. Buah-buahan golongan non klimaterik
memiliki kadar etilen yang sedikit, sehingga terjadi peningkatan laju respirasi yang
sedikit pula pada buah yang telah matang (belum masak) dapat terjadi perubahan
parameter yang dialami oleh buah yaitu hilangnya warna hijau, contohnya jeruk
(Setiono, 2011). Praktikum pematangan buah menggunakan pisang yang merupakan
buah klimaterik. Buah pisang dapat dilakukan percepatan pematangan dengan
menggunakan zat pengatur tumbuh yaitu etilen (Suryanti et al., 2017).
(Poin 3) Etilenadalahsenyawahidrokarbontidakjenuh yang
padasuhukamarberbentuk gas.Senyawainidapatmenyebabkanterjadinyaperubahan-
perubahanpentingdalam proses pertumbuhandanpematanganhasil-hasilpertanian.
Etilenadalahhormone tumbuh yang secaraumumberlainandenganauksin,
giberellindansitokinin.Dalamkeadaan normal, etilenakanberbentuk gas
danstrukturkimianyasangatsederhanasekali. Di
alametilenakanberperanapabilaterjadiperubahansecarafisiologispadasuatutanaman.
Hormoniniakanberperandalam proses pematanganbuahdalamfaseklimaterik.
Fungsidarihormonetilenadalahmempercepatpematanganbuah,
menghambatpemanjanganakar, batangdanpembungaan,
menyebabkanpertumbuhanbatangmenjadikokohdantebal, merangsang proses absisi,
interaksiantaraetilendenganauksinmemacu proses pembungaan,
danmemberikaninteraksiantaraetilendengangiberelindalammengontrolrasiobungajant
andenganbungabetinapadatumbuhanmonoceus (Pranata, 2010).
Etilen merupakan zat pengatur tumbuh yang berperan dalam proses pematanga
buah. Etilen memiliki tiga bentuk secara fisik yaitu padat, cair dan gas. Bentuk etilen
padat yaitu karbit yang biasa digunakan untuk mematangkan buah yang banyak
digunkan oleh masyarakat umum. Bentuk etilen cair yaitu ethrel yang digunakan
pematangan buah. Bentuk gas dan zat pengatur tumbuh ini adalah etilen yang berasal
dari buah itu sendiri (Suryanti et al., 2017).
(poin 5)Biosintesisetilenterjadi di
dalamjaringantanamanyaituterjadiperubahandarisenyawaawalasam amino
methionine atasbantuancahayadan FMN (Flavin Mono Nucleotida)
menjadimethionil. Senyawatersebutmengalamiperubahanatasbantuancahayadan
FMNmenjadietilen, metildisulfidadan formic acid.Akhir-
akhirinizattumbuhetilenhasilsintetis (buatanmanusia) banyak yang
beredardandiperdagangkanbebasdalambentuklarutanadalahEthrelatau 2 –
Cepa.Ethrelinilah yang dalamprakteksehari-
haribanyakdigunakanuntukmempercepatpemasakanbuah.Ethreladalahzattumbuhyang
pada pH di bawah 3,5 molekulnyastabil, tetapipada pH di atas 3,5
akanmengalamidisintegrasimembebaskan gas etilen, khloridadan ion fosfat,
karenasitoplasmatanamanpHnyalebihtinggimakaapabila 2 –
Cepamasukkedalamjaringantanamanakanmembebaskanetilen.
KecepatandisintegrasidankadaretilenbertambahdengankenaikanpH.Sudahdiketahuiba
hwauntukmempercepat proses pemasakanbuahdipakaikarbit yang jugamengeluarkan
gas etilentetapijikadibandingkandenganpenggunaanethrelatau 2 –
Cepaternyatabahwapenggunaanethrelatau 2-Cepa
lebihbaikpengaruhnyadaripadakarbitbaikdarisegiwaktu, warna, aroma
dancarapenggunaannyapadabuah yang telahmasak (Jayus, 2011).
(poin 6)Penelitian terbaru mengenai hormon etilen yaituperlakuan
degreening dengan etilen pada buah jeruk. Pembentukan warna jingga pada buah
jeruk dapat meningkatkan daya tarik, sehingga perlu dilakukan degreening dengan
ettilen. Etilen terbukti berperan dalam mengurangi kandungan klorofil dalam kulit
buah hingga menyebabkan terjadinya perubahan warna pada kulit jeruk dari hijau ke
jingga. Perlakuan pemberian etilen pada pascapanen buah jeruk merupakan
perlakuan degreening untuk menurunkan kandungan klorofil pada kulit buah.
Degreening adalah proses perombakan warna hijau pada kulit jeruk diikuti dengan
proses pembentukan warna jingga. Degreening yang dilakukan di Indonesia selama
ini tidak berhasil membentuk warna jingga, tetapi kuning. Jeruk berwarna kuning
tidak disukai konsumen karena dianggap sudah hampir busuk. Warna kuning pada
kulit jeruk terbentuk oleh β-cryptoxanthin, warna jingga adalah campuran antara β-
cryptoxanthin dengan β-citraurin pada karotenoid, sedangkan pigmen yang
berkontribusi dalam pembentukan β-citraurin adalah β-cryptoxanthin dan zeaxanthin.
Penelitian tentang pembentukan pigmen pada kulit jeruk di Indonesia belum pernah
dilakukan. Kegagalan degreening di daerah tropika membentuk warna jingga karena
β-citraurin hanya terbentuk pada suhu rendah, oleh karena itu dikembangkan
teknologi degreening yang mampu menjadikan jeruk tropika berwarna jingga, dan
mengidentifikasi β-cryptoxanthin pada karotenoid sebagai pembentuk warna jingga
(Sumiasih et al., 2018).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah kertas koran, gelas
ukur, batang pengaduk, beaker glass, dan timbangan analitik.
Bahan yang digunaka dalam praktikum kali ini adalah buah pisang kepok
(Musa paradisiaca), ethrel (2 chloroetylphosponic acid), dan akuades.

B. Metode
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
B. Pembahasan

Faktor-faktor yang
dapatmempengaruhipemasakandanpematanganadalahrespirasidanproduksietilen.
Buah yang tergolongklimakterikakanmenunjukkanpeningkatan CO2
sehinggaakanterjadi proses pemasakanataupematangan.
Buahklimakterikakanmenghasilkanproduksietilen yang
lebihbanyakdibandingkandenganproduksibuah non klimakterik. Buah non
klimakterikakanmenurunkanproduksi CO2.Faktor yang
mempengaruhikecepatanrespirasidigolongkanmenjadi 2 faktoryaitufaktor internal
danfaktoreksternal.Faktor internal terdiridaritingkatperkembangan,
komposisikimia jaringan, ukuranproduk,
lapisanalamidanjenisjaringan.Faktoreksternalterdiridarisuhu, etilen,
ketersediaanoksigen, karbondioksida,
zatpengaturtumbuhdankerusakanfisik(Santoso&Purwoko, 1995). Menurut Taris et
al., (2015), menyatakan bahwa buah dengan respirasi klimakterik adalah buah
dengan produksi CO2yang tinggi selama proses pemasakan (ripening) buah dan
produksi etilen yang tinggi. Produksi etilen yang tinggi menyebabkan masak buah
yang lebih cepat. Sedangkan menurut Simatupang et al., (2018),unsur P juga
mempunyaiperanandalam mempercepatpembungaandanpemasakanbuah. Unsur P
yang cukupakanmempercepatpembentukanbunga, sebaliknyajikaketersediaan P
kurang, proses pembungaanakanlambat.
Adapun yang mempengaruhiaktivitasetilenmenurutAbidin (1985) yaituSuhu,
aktivitaspematanganbuahakanmenurundenganturunnyasuhuruangpenyimpanbuah.
Contohpadabuahapel yang disimpanpadasuhu 30oC,
penggunaanetilendengankonsentrasitinggitidakmemberikanpengaruh yang
nyatabaikpada proses pematanganmaupunrespirasinya. Suhutinggi (>35oC)
menyebabkantidakterjadipembentukanetilen.Suhu optimum pembentukanetilen
(padatomat, apel) adalah 32oC, sedangkanuntukbuah-buahan lain
lebihrendah.Luka mekanisdaninfeksi,
pembentukanetilendapatdirangsangadanyakerusakanmekanisdaninfeksi,
misalnyamemarnyabuahkarenajatuhdanlecetselamapengangkutanbuah,
sehinggaetilenakanberpusatpadabagiantersebut. Sinarradioaktif,
penggunaansinarradioaktifdapatmerangsangpembentukanetilen.Contohpadabuah
yang disinarisinar gamma sebesar 600 kraddapatmempercepatpembentukanetilen,
apaniladiberikanpadasaatpraklimaterik.Akan
tetapiapabilapadasaatklimaterikpenggunaansinarradiasiinidapatmenghambatprodu
ksietilen.Adanya CO2dan O2, bila O2diturunkandan CO2dinaikanmaka proses
pematanganterhambat.Apabilakeadaananaerobtidakterjadipembentukanetilen.Inter
aksidenganhormonauksin, apabilakonsentrasiauksinmeningkatmakaetilen pun
meningkat.Faktor terakhir yang mempengaruhi aktivitas etilen yaitu
tingkatpematangan, mekanismepemasakanbuaholehetilendiawalidengansintesis
protein padatingkatpemasakan yang normal. Protein disintesissecepatnyadalam
proses pemasakan.
Ethrelatauetilenberperanuntukmembantumempercepatpemasakanbuah,
apabilakonsentrasi yang
digunakanterlalurendahmakaefekdariethrelitusendiriakanrendahsehinggatidakbegi
tuberdampakkepadapemasakanbuah,
karenapemasakanbuahitudibantuolehethlertersebut.
Kerjaetilenmampumemecahkanklorofilpadabuah yang
masihmudahinggamengakibatkanmerahatau orange
karenaklorofiltelahtereduksioleh gas etilen.
Akibatkelebihanetilenakanmenghalangipertumbuhantanaman
(menghambatpemanjangantanaman),
menghambatpertumbuhandanperkembanganakar, daun, batangdanbunga.
Hormonetilendiperlukandalampematanganbuah.
Kelebihanhormonetilendapatmenyebabkanberakhirnyamasadorman,
pembentukanakaradventif, merangsangabsisibuahdandaun,
merangsanginduksiselkelaminbetinapadabunga.
Sedangkankekuranganhormonetilendapatmenyebabkanmunculnyapengaruh yang
berlawanandenganauksindanmendorongataumenghambatpertumbuhandanperkem
banganakar, batang, daundanbunga.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran
DAFTAR REFERENSI

Abidin, Z., 1985. Dasar-DasarPengetahuanTentangZatPengaturTumbuh.Bandung:


Angkasa.
Jayus, B., 2011. Etilen Mempercepat Pemasakan Buah. Agro Nusantara, 1(1), pp.11-
12.
Pranata, A. S., 2010. Meningkatkan Hasil Panen dengan Pupuk Organik. Jakarta:
Argo Media.
Santoso, B. B.,&Purwoko, B. S.,
1995.FisiologidanTeknologiPascapanenTanamanHortikultura.Indonesia
Australia Eastern UniversitiesProject Sydney, 187, pp. 1-10.
Setiono. 2012. Cara Menghitung Laju Respirasi Pada Buah. PT tiga serangkai.
Bandung
Simatupang, S. M. M., Husna, Y., &Erlida, A., 2018. Pengaruh Pemberian Solid
Kelapa Sawit dan Fosfor Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Terung
(Solanum Melongena L.). Jurnal Faperta, 5(1), pp. 1-13.

Sumiasih, I. H., Arzam, T. S., Poerwanto, R., Efendi, D., Agusta, A., &Yuliani,
S.,2018. StudiAkumulasiPigmen β-
CryptoxanthinuntukMembentukWarnaJinggaBuahJeruk di Daerah
Tropika. JurnalHortikultura Indonesia, 9(2), pp. 73-83.
Suryanti, S. D., Apriyanto, M. & Luna, S. N., 2017. Pengaruh Lama Pemeraman Dan
Jenis Kertas Pembungkus Terhadap Kualitas Sifat Organoleptik Dan Kimia
Buah Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum L), Jurnal
Teknologi Pertanian, 6(1), pp. 26-37.
Sutopo, L. 2002. TeknologiBenih. Jakarta: PT Raja GrafindoPersada.
Taris, M. L., Winarso, D. W., & Ketty, S., 2015. Kriteria Kemasakan Buah Pepaya
(Carica papaya L.) IPB Callina dari Beberapa Umur Panen. J. Hort.
Indonesia, 6(3), pp. 172-176