You are on page 1of 11

Makalah Kimia Forensik

SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM (SSA)

SRI WULANDARY H311 16 503

MARISA ERNI WIDIYANA H311 16 507

MAFTAHUL RAHMA H311 16

DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Spektroskopi Serapan Atom (SSA)”.
Makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya

dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan

makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak terima kasih kepada

dosen pembimbing.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada

kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena

itu, dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi

pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat

memperbaiki makalah ini.

Akhirnya kami mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil

hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Makassar, Maret 2019


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

a. Apa yang dimaksud dengan ilmu forensic?

b. Apa yang dimasuksud dengan kimia forensic?

c. Apa yang dimaksud dengan instrumen Spektroskopi Serapan Atom (SSA),

apa saja bagian-bagian dari alatnya dan bagaimana cara kerjanya?

d. Bagaimana pengaplikasian SSA dalam suatu kasus forensic?

1.3 Tujuan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ilmu Forensik

Forensik iasanya selalu dikaitkan dengan tindakan pidana (tindakan

melawan hukum). Dalam buku-buku ilmu forensic pada umumnya ilmu forensic

diartikan sebagai penerapan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk

kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Dalam penyidikan suatu kasus

kejahatan, observasi terhadap bukti fisik dan interpretasi dari hasil analisis

(pengujian) barang bukti merupakan alat utama dalam penyidikan tersebut.

Saferstein dalam bukunya “Criminalistics an Introduction to Forensic

Science” berpendapat bahwa ilmu forensic “forensic science” secara umum adalah

“application of science to law”. Ilmu forensic dikategorikan ke dalamm ilmu

pengetahuan alam dan dibangun berdasarkan metode ilmu alam. Dalam

pandangan ilmu alam sesuatu dianggap ilmiah hanya dan hanya jika didasarkan

pada fakta atau pengalaman (empirisme), kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan

oleh setiap orang melaalui inderanya (positivesme), analisis dan hasilnya mampu

dituangkan secara masuk akal, baik dedukatif maupun induktif dalam struktur

bahasa tertentu yang mempunyai makna (logika) dan hasilnya dapat

dikomunikasikan ke masyarakat luas dengan tidak mudah atau tanpa tergoyahkan.

Ilmu-ilmu yang menunjang ilmu forensic adalah sebagai berikut:

a. Ilmu kedokteran

b. Ilmu farmasi

c. Ilmu kimia
d. Ilmu biologi

e. Ilmu fisika

f. Ilmu psikologi

2.2 Kimia Forensik

Kimia forensic atau disebut juga kimia criminal adalah aplikasi ilmu kimia

dan sub-bidangnya dalam ranah hukum. Kimia forensic menyangkut beberapa

materi mengenai penyalahgunaan obat berbahaya (B3), pemakaian bahan kimia

beracun/toksi, bahan yang mudah meledak, dan pencemaran lingkungan. Seorang

kimiawan forensic dapat membentu identifikasi material yang tidak diketahui

yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP).

Spesialis forensic dalam bidang ini memiliki sejumlah metode dan

peralatan yang berbeda untuk membantu menganalisis dan mengidentifikasi bahan

yang belum diketahui. Metode spesifik umum untuk bidang ini mencakup

beberapa metode berikut:

a. Kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC)

b. Kromatografi gas spektroskopi massa (GC-MS)

c. Spektroskopi Serapan Atom (AAS)

d. Spektroskopi Transformasi Fourier (FTIR)

e. Kromatografi lapis tipis (KLT)

Rentang metode yang beragam menjadi penting karena sifat destruktif

beberapa instrument dan probabilitas jumlah zat yang tidak diketahui yang dapat

ditemukan di TKP. Jika memungkinkan, metode nondestruktif harus selalu dicoba

terlebih dahulu untuk mempertahankan barang bukti dan untuk menentukan

protocol terbaik ketika digunakan metode destruktif.


Bersama-sama dengan spesialis forensic lainnya, kimiawan forensic

ssering bersaksi di pengadilan sebagai saksi ahli terkait temuan mereka. Pekerjaan

yang dilakukan oleh kimiawan forensic terikat pada seperangkat standar yang

telah diatur oleh berbagai agen dan badan pengatur, termasuk kelompok kerja

analisis obat sitaan. Sebagai tambahan dalam prosedur operasi standar yang

diajukan oleh kelompok kerja tersebut, agensi tertentu memiliki sandar tersendiri

terkait dengan jaminan mutu dan pengadilan mutu untuk hasil dan peralatan

mereka. Untuk memastikan akurasi laporan mereka, kimiawan forensic secara

rutin memeriksa dan memverifikasi kelayakan peralatan mereka sehingga

beroperasi dengan baik dan tetap dapat mendeteksi serta menentukan beragam

kuantitas dari bahan yang berbeda-beda.

2.3 Spektroskopi Serapan Atom (SSA)

2.4 Studi Kasus dan Penerapan SSA

Studi Kasus

Analisis Fofrensik dari Kasus Pembunuhan Arsenik Wakayama

Empat orang terbunuh akibat memakan kari beracun arsenic di sebuah

Festival Musim Panas pada 25 Juli 1998, dan 63 peserta lainnya terluka parah

tetapi selamat meskipun telah memakan kari yang mengandung arsenic tersebut.

Asupan arsenic diotorisasi oleh analis arsenic urin. Salah satu dari 2 panci kari,

terduga ditambahkan racun arsenic saat memasak untuk persiapan festival di kota

Wakayama. Wakayama adalah kota di dekat Bandara Internasional Osaka Kansai.


Kari tersebut dimasak dalam dua panci di garasi rumah penyelenggara

festival. Kari tersebut dimasak pada jam 3 sore dan kemudian dipindah ke tempat

festival. Saat ditempat festival, panic kari kembali dipanaskan oleh seorang ibu

rumah tangga dan panitia festival. Salah satu ibu rumah tangga disana, Ny. H,

ditangkap pada tanggal 4 oktober dan dituntut atau ditetapkan sebagai status

tersangka pada tanggal 29 desember. Dia dijatuhkan hukuman mati pada tanggal

11 Desember 2001, di Pengadilan Lokal Wakayama. Kemudian dia jatuhi

hukuman mati di Pengadilan Tinggi Osaka. Akhirnya, 18 Mei 2009, hukuman

mati telah ditetapkan di Mahkama Agung Jepang. Dia telah menyangkal dari dulu

hingga ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan.

Satu-satunya bukti dari kasus tersebut adalah cangkir kertas yang

ditemukan di dekat lokasi memasak. Cangkir kertas tersebut mungkin telah

digunakan untuk meracuni kari yang terdapat dalam panic. Serbuk arsen oksida

sekitar 35mg, As2O3 tertinggal di dalam cangkir kertas. Suaminya memiliki bubuk

arsen oksida sebagai pestisida semut putih, karena pekerjaannya adalah pembasmi

semut. Oleh karena itu analisis forensic utama adalah mengidentifikasi bubuk

arsen oksida milik suaminya yang teradsorpsi pada permukaan bagian dalam

cangkir kertas. “Arsenic konsentrasi tinggi” ditemukan di salah satu rambutnya,

yang merupakan salah satu dari ratusan rambut yang dipotong pada tanggal 9

Desember 1998, oleh polisi. Dua bukti ini adalah alasan utama hukuman matinya.

Rambut dianalisis dengan spektrometri serapan atom (AAS).

Analisis Rambut

Rambut Ny. H dianalisis di Sekolah Kedokteran Universitas St. Marianna

menggunakan AAS. Sampel rambut didestruksi menggunakan NaOH dan teknik


pembentukan hidrida. Mereka menemukan 90 ppb As3 dirambutnya yang melekat

secara eksogen. Mereka menggunakan spectrometer serapan atom tua, yang dibuat

pada tahun 1970-an menggunakan kertas dan perekam pena, dan mengukur

ketinggian puncaknya. Oleh karena itu Universitas St. Marianna memperoleh

konsentrasi As3 menggunakan AAS tua tanpa computer, dimana dapat diketahui

bahwa keadaan kimia senyawa arsenic berubah tergantung pada pH.

Metode Analisis Arsen pada Rambut Manusia

 Pengumpulan Sampel

Sampel rambut manusia yang dipotong dikumpulkan dari 51 orang yang

berusia antara 7-55 tahun (35 pria dan 16 wanita). Sampel dengan cepat

dipindahkan ke kantong plastik kemudian diberi kode, disegel dengan ketat dn

disimpan untuk pra-perawatan. Sebelum pengumpulan sampel, kuisioner

dibagikan kepada responden yang berisi sorotan informasi seperti jenis

kelamin, usia, pekerjaan, jenis makanan yang dikonsumsi, sumber air, dsb.

 Proses pembersihan sampel/digesti

Sampel rambut yang dikumpulkan dan dipotong menggunakan gunting stanless

steel yang dibilas dengan etanol, kemudian dikodekan dan disimpan. Sampel

yang disimpan selanjutnya dipotong menjadi sekitar 0,3 cm dan dicuci sesuai

dengan aturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tepat 0,1065 g

sampel rambut ditimbang secra akurat ke dalam wadah 50 mL. sampel

ditambahkan 8 mL HNO3 kemudian wadah ditutup dan ditempatkan diatas hot

plate. Sampel kemudian di digesti pada suhu 70oC – 85oC selama sekitar 25

menit atau sampai rambut benar-benar terdigesti dan larutannya menjadi jernih.
Wadah tidak boleh kering hingga proses digesti selesai. Setelah itu, sampel

didinginkan hingga suhu kamar didalam lemari asam, dan 1 mL H2O2 30%

ditambahkan ke masing-masing sampel, dan dipanaskan lagi di atas hot plate

(42oC) hingga tidak ada gelembung. Setelah itu suhu hot plate dinaikkan

hingga volume sampel menjadi sekitar 2,5 mL. Selanjutnya sampel

dipindahkan ke dalam botol sampel yang telah dibersihkan, ditutup dan diberi

label dengan baik dan siap dilakukan analisis. Larutan standar yang digunakan

disiapkan dengan konsentrasi 1-20 ppb.

 Hasil dan Pembahasan

Analisis menggunakan AAS menunjukkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi konsentrasi arsen (mg/kg) dalam sampel rambut


Umur L/P Distribusi Arsen
7-20 L 241 ± 210
21-31 L 243 ± 125
32-42 L 181 ± 114
≥43 L 211 ± 133
7-20 P 298 ± 0
21-31 P 223 ± 200
32-42 P -
≥43 P Nil
Tabel 2. Rata-rata konsentrasi Arsen (mg/kg) dalam sampel rambut
Umur Distribusi Arsen
7-20 260 ± 153
21-31 233 ± 144
32-42 181 ± 114
≥43 211 ± 133

Kesimpulan

Analisis yang dilakukan dengan metode AAS menunjukkan keberadaan

logam Arsen dalam jumlah yang relative besar dan terdistribusi pada semua usia.

Keberadaan logam arsen yang dianalisis adalah indikasi yang jelas dari konten

lingkungan serta pola perilaku responden yang dipilih secara acak.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Wirastu, M. A. G., 2008, Bahan Ajar: Analisis Toksikologi Forensik, Fakultas


Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana: Bali.

Kawai, J., 2008, Forensic Analysis of The Wakayama Arsenic Murder Case,
Chapter 2, Web of Science, Japan.

Peter, O. O., Eneji, I. S., dan Ato, R. S., 2012, Analysis of Heavy Metals in
Human Hair Using Atomic Absorption Spectrometry (AAS), American
Journal of Analytical Chemistry, 3(2): 770-773.