You are on page 1of 10

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/322032544

DINAMIKA POPULASI SUMBER DAYA IKAN LAYUR (Lepturacanthus savala)


DI PERAIRAN SELAT SUNDA (Population Dinamycs of Savalai Hairtail fish
(Lepturacanthus savala) in Sunda Strait Water...

Article · September 2016


DOI: 10.29244/jmf.6.1.77-85

CITATIONS READS

2 389

3 authors, including:

Mennofatria Boer Achmad Fahrudin


Bogor Agricultural University Bogor Agricultural University
57 PUBLICATIONS   75 CITATIONS    33 PUBLICATIONS   14 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

We Try, makes to develop Weda Bay as potential area, need zonation to arrange and make sustainable development. Water ecotourism as sustainable
development is one of activity which can combine ecology and economic aspect. View project

Reef fish Karimunjawa View project

All content following this page was uploaded by Achmad Fahrudin on 19 January 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Marine Fisheries ISSN 2087-4235
Vol. 6, No. 1, Mei 2015
Hal: 77-85

DINAMIKA POPULASI SUMBER DAYA IKAN LAYUR


(Lepturacanthus savala) DI PERAIRAN SELAT SUNDA

Population Dinamycs of Savalai Hairtail fish


(Lepturacanthus savala) in Sunda Strait Waters

Oleh:

Siska Agustina1*, Menofatria Boer2, Achmad Fahrudin2

1Program Studi Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Lautan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor
2 Departemen Manajemen Sumber daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

* Korespondensi: siskaagustina03@gmail.com

Diterima: 21 Januari 2015; Disetujui: 25 April 2015

ABSTRACT
Savalai hairtailis one of demersal fish that landed in PPP Labuan Banten with a fishing
ground from the Sunda Strait waters. Savalaihairtail fish were caught by many gears (multigear)
such as trawl, purse seine, small bottom trawl, and gillnet. This research aimed at reviewing
population dynamic of savalai hairtail in Sunda Strait waters. The results showed the value of the
growth coefficient (k) for female and male were 0,30/month and 0,23/month respectively, with
asimptotic length (L∞) 710,41 mm for females and 856,52 mm for males. First length capture for
females and males were 460,46 mm and 454,66 mm respectively. First length of maturity for
female and male fish were 567,24 mm and 599,73 mm respectively. Natural mortality (M) for the
female and male fish were 0,27/year and 0,22/year respectively. Total mortality (Z) for the female
and male fish were 1,25/year and 1,60/year respectively. Based on the relationship between the
values of M and Z, then the arrest of mortality (F) known for female and male fish were 0,97/years
and 1,38/year respectively. The rate of exploitation for female and male fish were72% and 83%
respectively. Based on the current rate exploitation, savalaihairtail fish exploitation has exceeded
optimum exploited level (50%), so it indicated the savalaihairtail was overfishing. The value of Lc
was smaller than Lm indicated savalaihairtail experienced growth overfishing.

Keywords: growth overfishing, overfishing, savalai hairtail, Sunda Strait

ABSTRAK
Ikan layur merupakan salah satu ikan demersal yang didaratkan di PPP Labuan Banten
dengan fishing ground dari perairan Selat Sunda. Ikan layur ditangkap dengan banyak alat tangkap
diantaranya alat tangkap payang, pukat cincin, pukat pantai, jaring arad, dan jaring insang. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengkaji dinamika populasi sumber daya ikan layur (Lepturachantus
savala) di Perairan Selat Sunda. Hasil penelitian menunjukkan nilai keofisien pertumbuhan (k) ikan
betina dan jantan berturut-turut 0,30/bulan dan 0,23/bulan, dengan panjang asimptotik (L∞) 710,41
mm dan 856,52 mm. Panjang ikan pertama kali tertangka (Lc) untuk betina dan jantan berturut-
turut sebesar 460,46 mm dan 454,66 cm. Panjang ikan layur pertama kali matang gonad (Lm)
untuk betina sebesar 567,24 mm dan jantan sebesar 599,73 mm. Laju mortalitas alami (M)) untuk
78 Marine Fisheries 6 (1): 77-85, Mei 2015

ikan betina sebesar 0,27/tahun dan ikan jantan sebesar 0,22/tahun. Mortalitas total (Z) untuk ikan
betina sebesar 1,25/tahun dan ikan jantan sebesar 1,60/tahun. Berdasarkan hubungan antara nilai
M dan Z, maka mortalitas penangkapan (F) diketahui untuk betina sebesar 0,97/tahun dan jantan
sebesar 1.38/tahun. Laju ekploitasi ikan layur betina dan jantan berturut-turut sebesar 72% dan
83%. Berdasarkan nilai laju eksploitasi, pemanfaatan ikan layur telah melebihi pemanfaatan
optimal (50%), sehingga di indikasikan mengalami tangkap lebih. Nilai Lc<Lm menunjukkan
tangkap lebih yang terjadi adalah growth overfishing.

Kata kunci: growth overfishing, tangkap lebih, ikan layur, Selat Sunda

PENDAHULUAN peningkatan permintaan pasar terhadap ikan


layur. Ikan layur merupakan ikan demersal
Total produksi perikanan di Provinsi yang gerak ruaya rendah, cenderung menetap,
Banten sebesar 30% berasal dari perairan dan tidak bergerombol, sehingga memiliki daya
Selat Sunda (Boer dan Aziz 2007). Kabupaten tahan yang rendah terhadap tekanan penang-
Pandeglang merupakan kabupaten dengan kapan. Kondisi ini menyebabkan ikan layur
produksi perikanan yang tinggi di Provinsi lebih rentan terhadap eksploitasi. Menurut DKP
Banten. Tempat pendaratan ikan (TPI) yang tahun 2013 laju eksploitasi ikan layur di Selat
terdapat di Kabupaten Pandeglang ada 14 TPI Sunda juga telah melebihi titik optimum.
dengan volume produksi tertinggi (70%) adalah
di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan. Kegiatan penangkapan yang cenderung
PPP Labuan terdiri dari 3 TPI yaitu TPI 1, TPI meningkat dapat menyebabkan kondisi tangkap
2, dan TPI 3. Produksi perikanan tangkap di lebih (overfishing). Untuk menjamin kelestarian
PPP Labuan, Banten berfluktuasi dari tahun sumber daya ikan layur, maka diperlukan suatu
2003 hingga 2013 dengan rata-rata volume strategi pengelolaan dari berbagai aspek ekolo-
produksi sebesar 592,10 ton/tahun. gi bagi para pelaku perikanan. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengkaji dinamika popula-
Potensi sumber daya ikan di Kabupaten si sumber daya ikan layur (Lepturachantus
Pandeglang terdiri dari ikan pelagis, ikan savala) di perairan Selat Sunda. Informasi ter-
demersal, ikan karang, kerang-kerangan, cumi- sebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam
cumi dan udang (DKP Pandeglang 2013). penentuan pengelolaan perikanan layur yang
Menurut DKP Pandeglang (2013), ikan demer- tepat dan berkelanjutan.
sal ditangkap oleh berbagai jenis alat tangkap,
yaitu payang, pukat cincin, pukat pantai, bagan,
jaring insang, jaring rampus, dan dogol. Ikan METODE
demersal di Kabupaten Pandeglang merupakan
produksi tertinggi kedua setelah ikan pelagis Pengumpulan data dilakukan di Tempat
kecil dengan jumlah total produksi pada tahun Pelelangan Ikan (TPI) di wilayah PPP Labuan,
Banten pada bulan Mei-Oktober 2014. Contoh
2013 sebesar 9.361.724 ton yang terdiri dari
ikan layur di peroleh dari TPI I dan TPI III di
ikan kurisi, kuniran, layur, peperek, bamba-
muara Sungai Cipunteun. Data yang digunakan
ngan, kuwe, tiga waja dan ikan lainnya. Ikan
adalah data primer yang merupakan data
layur merupakan ikan dengan nilai ekonomis
penting dan merupakan komoditas ekspor biologi. Pengumpulan data biologi dilakukan
untuk ukuran besar. Hasil tangkapan ikan layur melalui pengukuran panjang total, bobot basah,
jenis kelamin, dan TKG ikan layur setiap 20 hari
sebesar 10% dari hasil tangkapan total ikan
sekali selama 6 bulan (Mei-Oktober 2015) di
demersal tahun 2013 (DKP Pandeglang 2013).
PPP Labuan. Penentuan TKG ikan layur meng-
Menurut Sumirat (2011) kondisi perairan acu pada klasifikasi Cassie (1956) in Effendie
Labuan sudah mengalami degradasi yang cu- (2002). Pengambilan data primer dilakukan
kup tinggi, sehingga keberadaan ikan diwilayah berdasarkan wawancara dengan nelayan de-
perairan sejauh 0-7 mil cukup sulit didapatkan. ngan cakupan fishing ground di wilayah Selat
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Sunda (17 responden). Pengambilan contoh
Perikanan (KEPMEN KP) Nomor No. 45 Tahun dilakukan sebanyak 6 kali dengan jumlah
2011, tingkat pemanfaatan ikan layur di Selat contoh 50-100 ekor ikan setiap pengambilan
Sunda sudah moderate-exploited. Hal ini didu- contoh. Jumlah contoh (n) yang diambil selama
ga karena meningkatnya penangkapan ikan penelitian sebanyak 498 ekor ikan layur (Tabel
dari tahun ke tahun, yang disebabkan adanya 1).
Siskawati et al. – Dinamika Populasi SDI Layur (Lepturacanthus savala) di Perairan Selat Sunda 79

Analisis Data dan selang kepercayaan 95% bagi log m


dibatasi sebagai:
Parameter pertumbuhan
Pendugaan parameter pertumbuhan mel- ntilog (m ∑ )

iputi nilai koefisien pertumbuhan (k), panjang
asimptotik tubuh ikan (L∞), dan umur teoritik
ikan pada saat panjang ikan nol (t0). Penduga- m adalah log panjang ikan pada
an parameter pertumbuhan (L∞ dan k) meng- kematangan gonad pertama, xk adalah log nilai
gunakan bantuan program FISAT (FAO- tengah kelas panjang yang terakhir ikan telah
ICLARM Stock Assesment Tools) II versi 1.2.2 matang gonad, x adalah log pertambahan pan-
dengan metode ELEFAN I (Electronic Length- jang pada nilai tengah, pi adalah proporsi ikan
Frequency Analysis). Input data yang diperlu- matang gonad pada kelas panjang ke-i dengan
kan dalam pengolahan adalah data panjang jumlah ikan pada selang panjang ke-i, ni adalah
(mm) dalam length frequency analysis (LFA) jumlah ikan pada kelas panjang ke-i, qi adalah
atau sebaran frekuensi panjang setiap bulan 1 – pi, dan M adalah panjang ikan pertama kali
pengambilan contoh. Hasil computing data pa- matang gonad.
da ELEFAN I memberikan output berupa nilai
L∞ dan k. Nilai L∞ dan k digunakan untuk men- Laju mortalitas dan laju eksploitasi
duga t0 dengan mengikuti persamaan empiris
Pauly (1984): Menurut Sparre dan Venema 1998 para-
meter mortalitas meliputi mortalitas alami (M),
( ) mortalitas penangkapan (F), dan mortalitas total
(Z). Laju mortalitas total (Z) diduga dengan kur-
Panjang pertama kali tertangkap va tangkapan yang dilinearkan berdasarkan
Rata-rata ukuran pertama kali tertangkap data panjang. Pendugaan nilai M menggunakan
(Lc) dilakukan dengan metode kantung berlapis bantuan program FISAT (FAO-ICLARM Stock
(covered cod-end method). Hasil dari perhitu- Assesment Tools) II versi 1.2.2 dengan mengi-
ngan tersebut membentuk kurva ogif selektifitas kuti pers m n P uly (P uly’s M Equ tion)
alat berbentuk sigmoid yang menyerupai kurva dengan data tambahan suhu (T). Persamaan
distribusi normal komulatif yang mengacu pada tersebut dituliskan (Pauly 1980 in Sparre dan
Beverton dan Holt (1957) in Sparre dan Venema 1998):
Venema (1998) dengan formula: M = exp (-0.0152 – 0.279 ln L∞ + 0.6543 ln K +
0.463 ln T)
( ) Pendugaan nilai Z pada program FISAT
Selektivitas (SL) adalah jumlah estimasi, II dengan metode Length-converted Catch Cur-
L adalah interval titik tengah selang kelas ve. Setelah nilai Z dan nilai M diketahui maka
panjang, S1 dan S2 adalah konstanta. laju mortalitas penangkapan dapat ditentukan
melalui hubungan:
Ukuran pertama kali matang gonad
F=Z–M
Metode yang digunakan untuk menduga
ukuran rata-rata ikan layur mencapai matang Selanjutnya Pauly (1984) menyatakan
gonad (M) adalah Metode Spearman-Karber laju eksploitasi dapat ditentukan dengan mem-
yang menyatakan bahwa logaritma ukuran rata- bandingkan F dengan Z ssebagai berikut:
rata mencapai matang gonad adalah (Udupa
1986): F
m * ( )+ -( ∑ ) adalah laju mortalitas penangkapan (per
tahun), Z adalah laju mortalitas total (per
M = antilog m tahun), dan E adalah tingkat eksploitasi.

Tabel 1 Jumlah contoh (n) setiap pengambilan contoh ikan


Tanggal Pengamatan Contoh (n)
30 Mei 2014 50
27 Juni 2014 100
23 Juli 2014 89
24 Agustus 2014 95
23 September 2014 99
24 Oktober 2014 65
Jumlah 498
80 Marine Fisheries 6 (1): 77-85, Mei 2015

HASIL DAN PEMBAHASAN tangkap yang digunakan, musim penangkapan


dan daerah penangkapannya (fishing ground).
Hasil
Kondisi perikanan layur di PPP Labuan,
Panjang ikan pertama kali tertangkap (Lc)
Banten Panjang pertama kali ikan tertangkap
adalah estimasi atau pendugaan panjang ikan
Komposisi hasil tangkapan di PPP
yang tertangkap selama penelitian sebanyak
Labuan didominasi oleh ikan pelagis sebesar
50% berkisar pada nilai Lcnya. Berdasarkan
52%, sedangkan ikan demersal sebesar 29%
analisis panjang ikan layur betina pertama kali
(Gambar 1.a). Secara keseluruhan dari hasil
tertangkap sebesar 460.46 mm dan jantan
tangkapan ikan demersal, ikan layur memiliki
sebesar 454.66 (Gambar 3). Artinya selama
presentase penangkapan sebesar 10% (Gam-
penelitian 50% ikan contoh yang tertangkap
bar 1.b). Alat tangkap yang digunakan untuk
memiliki panjang terkecil sebesar 454.66-
menangkap ikan demersal di daerah Labuan,
460.46 mm. Ukuran rata-rata pertama kali ikan
terdiri dari dogol, cantrang, lampara dasar,
tertangkap untuk ikan betina lebih besar
jaring arad, payang, dan jaring insang. Hal ini
dibandingkan ikan jantannya.
mengindikasikan ikan demersal bersifat multi-
gear dan multispesies. Panjang ikan pertama kali matang gonad
(Lm)
Estimasi parameter pertumbuhan ikan layur
Panjang ikan pertama kali matang gonad
Parameter pertumbuhan ikan mula-mula (Lm) dianalisis berdasarkan data tingkat
diduga melalui analisis pemisahan kelompok kematangan gonad ikan (TKG) yang mengacu
ukuran. Pemisahan kelompok ukuran disebut pada klasifikasi Cassie (1956) in Effendie
juga sebaran frekuensi panjang (Gambar 2). (2002). TKG adalah tahap tertentu perkem-
Panjang ikan betina berkisar antara 232-643 bangan gonad sebelum dan sesudah ikan
mm dan ikan jantan berkisar antara 245-642 memijah. Analisis panjang Lm menggunakan
mm. Berdasarkan data ukuran panjang ikan metode Spearman-Karber dengan hasil pada
tersebut (Gambar 2) diperoleh nilai parameter penelitian ini adalah nilai Lm ikan layur betina
pertumbuhan yaitu panjang asimptotik tubuh sebesar 567.24 mm dan jantan sebesar 599.73
ikan (L∞) betina 710.41 mm dan jantan 869.52 mm.
mm, koefisien pertumbuhan (k) betina 0.30/
bulan dan jantan 0.23/bulan, dan umur teoritik Mortalitas dan laju eksploitasi ikan layur
ikan pada saat panjang ikan nol (t0) betina -0.23
bulan dan jantan -0.29 bulan. Berdasarkan parameter pertumbuhan
von Bertalanffy ikan layur diperoleh tingkat
Beberapa penelitian terkait dengan para- mortalitas alami (M) betina sebesar 0.27/tahun
meter pertumbuhan ikan layur telah banyak dan jantan 0.22/tahun, mortalitas penangkapan
dilakukan pada penelitian sebelumnya di lokasi (F) betina sebesar 0.97/tahun dan jantan
yang berbeda dari penelitian ini, diantaranya 1.38/tahun, sehingga mortalitas total (Z) betina
adalah Mumbai, Pelabuhanratu, dan Selat sebesar 1.25/tahun dan jantan 1.60/tahun.
Sunda pada tahun yang berbeda (Tabel 2). Berdasarkan hubungan antara F dan Z maka
Parameter pertumbuhan ikan layur pada dapat diketahui nilai eksploitasinya. Laju eks-
tempat-tempat penelitian terssebut memiliki ploitasi adalah tingkat atau laju pemanfaatan
perbedaan. Hal ini menurut Prihatiningsih et al. sumber daya ikan oleh kegiatan penangkapan.
(2013) disebabkan perbedaan ukuran ikan Lanju eksploitasi ikan layur betina sebesar 72%
contoh, lama waktu pengambilan data, alat dan ikan layur jantan sebesar 83%.

Gambar 1 Komposisi total hasil tangkapan (a) dan komposisi hasil tangkapan ikan demersal (b) di
PPP Labuan tahun 2013
Siskawati et al. – Dinamika Populasi SDI Layur (Lepturacanthus savala) di Perairan Selat Sunda 81

(a)

(b)

Gambar 2 Sebaran frekuensi panjang ikan layur betina (a) dan jantan (b) hasil analisis program
ELEFAN I.
Frekuensi

Lc = 460.46 mm Lc = 454.66 mm
Frekuensi

Nilai tengah panjang (mm) Nilai tengah panjang (mm)

(a) (b)
Gambar 3 Nilai Lc ikan layur betina (a) dan jantan (b)
82 Marine Fisheries 6 (1): 77-85, Mei 2015

Tabel 2 Estimasi parameter pertumbuhan ikan layur dengan daerah penangkapan yang berbeda
Parameter pertumbuhan
Sumber Lokasi Jenis kelamin
L∞ (mm) k (/bulan) t0 (bulan)
Rizvi et al. (2005) Pesisir Mumbai 688 0,87 -0,000251
Sharif (2009) Teluk Palabuhanratu 1348 0,56 -0,62
Sholeh (2012) Selat Sunda 1110,53 3,52 -0,097
Penelitian ini (2014) Selat Sunda Betina 697,2546 0,3012 -0,2324
Jantan 878,0304 0,2229 -0,2982

Pembahasan penangkapan lebih besar dibandingkan mortali-


tas alaminya. Artinya, ikan demersal yang dida-
Spesies ikan layur jantan memiliki nilai k
ratkan di PPP Labuan lebih banyak mati akibat
yang lebih kecil dibandingkan jantannya, aktivitas penangkapan (eksploitasi). Mortalitas
sehingga lebih lama dalam mencapai L∞. Hal
alami adalah parameter dinamis yang akan ber-
ini sesuai dengan pernyataan dalam Sparre ubah akibat predators (pemangsaan) yang se-
dan Venema (1998) bahwa semakin rendah cara tidak langsung akan merubah size cohort
koefisien pertumbuhan (k) maka semakin lama
(kelompok ukuran) dan usiaikan (Powers 2014).
waktu yang dibutuhkan ikan untuk mencapai Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat
panjang asimptotiknya (L∞) begitupun sebalik-
kematian diantaranya fase telur dan larva, fak-
nya. Perbedaan parameter pertumbuhan ikan tor lingkungan misalnya suhu dan salinitas, pre-
untuk setiap jenis ikan dipengaruhi oleh struktur dasi, kelaparan, dan penyakit (Houde 2002 in
panjang ikan yang sering tertangkap. Penelitian Houde 2008), perubahan fisiologi (Geffen et al.
terkait dengan parameter pertumbuhan ikan 2007), serta kepadatan suatu populasi ikan
layur diperairan berbeda disajikan Tabel 2. (Jorgensen dan Holt 2013; Nash dan Geffen
Menurut Effendie (2002) dan Sekharan 2012). Laju eksploitasi ikan layur melebihi nilai
(1959) in Radhakrishnan (1964) perbedaan optimumnya sebesar 0.5 menurut Gulland
struktur panjang ikan dipengaruhi oleh faktor (1971) in Pauly (1984), hal ini mengindikasikan
keturunan, sex, umur, parasit, penyakit, kondisi suatu sumber daya mengalami over eksploitasi
lingkungan, serta perbedaan waktu dalam atau tangkap lebih.
pengambilan data contoh. Sehingga untuk spe- Menurut Widodo dan Suadi (2006) tinggi-
sies yang sama parameter pertumbuhan ikan nya laju mortalitas penangkapan mengindikasi-
jantan dan betina akan berbeda, begitupun juga kan terjadinya growth overfishing. Hal ini juga
spesies yang sama pada kolom perairan yang dapat dilihat dari perbandingan nilai Lc dan Lm
berbeda. Menurut Sparre dan Venema (1998) yang menunjukkan rata-rata ukuran ikan ter-
perbedaan nilai K dapat juga disebabkan oleh tangkap lebih kecil dibandingkan ukuran perta-
kondisi lingkungan perairan. ma kali matang gonad. Laju eksploitasi untuk
Ukuran rata-rata pertama kali ikan layur telah melebihi batas eksploitasi optimum
tertangkap (Lc) untuk ikan betina lebih besar sebesar 50% (Gulland 1971 in Pauly 1984).
dibandingkan ikan jantannya. Berdasarkan nilai Artinya ikan layur di Selat Sunda telah meng-
Lm, maka dapat diasumsikan sebanyak 50% alami tangkap lebih secara biologi. Tangkap
ikan telah mencapai matang gonad pada kisa- lebih secara biologi dapat digolongkan menjadi
ran panjang Lm (Krissunari dan Hariati 1994). growth overfishing dan recruitment overfishing.
Ukuran dan usia pertama kali matang gonad Growth overfishing terjadi apabila hasil
untuk setiap spesies ikan dapat berbeda-beda, tangkapan didominasi oleh ikan-ikan kecil pada
hal ini dikarenakan adanya perbedaan seperti ukuran pertumbuhan, sedangkan recruitment
suhu, makanan, hormon, sex, dan kondisi overfishing terjadi apabila kegiatan eksploitasi
perairan. Selain itu peningkatan populasi akan lebih banyak menangkap ikan yang siap memi-
mengakibatkan penurunan ketersediaan maka- jah (spawning stok) atau ikan dewasa matang
nan perindividu dan dapat memberikan penga- gonad (Saputra et al. 2009; Widodo dan Suadi
ruh terhadap penurunan ukuran matang gonad 2006). Menurut Allen et al. (2012) recruitment
(Karna dan Panda 2011). overfishing adalah bentuk penangkapan ikan
Menurut Effendie (2002) perbedaan yang lebih buruk dan terjadi ketika proses pemi-
0
daerah penyebaran minimal 5 lintang dapat jahan berlangsung dan biasanya lebih meng-
mengakibatkan perbedaan waktu dan ukuran gangu keberadaan stok ikan dibandingkan
ikan matang gonad. Rata-rata nilai mortalitas growth overfishing.
Siskawati et al. – Dinamika Populasi SDI Layur (Lepturacanthus savala) di Perairan Selat Sunda 83

Berdasarkan nilai Lc ikan layur lebih kecil Alat tangkap ikan demersal seperti jaring
dibandingkan nilai Lm (Lc < Lm), yang menun- arad yang beroperasi saat ini bersifat tidak
jukkan sebagian besar ikan yang didaratkan di ramah lingkungan, karena banyak menangkap
PPP Labuan, belum mengalami matang gonad ikan pada ukuran kecil dan belum matang
atau memijah. Hal tersebut menunjukkan bah- gonad. Hal ini dikaerenakan nelayan jaring arad
wa hasil tangkapan didominasi oleh ikan-ikan di PPP Labuan sebagian besar menggunakan
yang belum pernah memijah. Apabila nilai mata jaring yang kecil yakni 0.5-1 inchi. Hal ini
Lc<Lm maka penangkapan ikan layur didomi- dapat dapat diatasi dengan memodifikasi alat
nasiikan muda dan immature (Wudji et al. tangkap dengan mata jaring yang lebih selektif.
2013). Menurut Najamuddin et al. (2004), seca- Ukuran mata jaring yang digunakan harus lebih
ra biologis kalau hal tersebut dibiarkan terus besar dibandingkan tinggi ikan pertama kali
menerus akan berdampak buruk pada berke- matang gonad. Berdasarkan analisis data tinggi
lanjutan populasi ikan layur. Penangkapan ikan ikan, ukuran mata jaring yang disarankan
yang didominasi oleh ikan-ikan kecil, maka adalah 40-50mm, atau 1,5-2 inci. Nilai terse-but
akan terjadi growth overfishing. didapatkan dari nilai tinggi ikan layurpada
panjang pertama kali matang gonadnya.
Implikasi pengelolaan ikan layur
Berdasarkan perhitungan laju eksploitasi,
kondisi pemanfaatan sumber daya ikan layur KESIMPULAN DAN SARAN
telah mengalami tangkap lebih secara biologi Kesimpulan
(E > 50%; Gulland 1983). Hal ini dapat diduga
karena peningkatan penangkapan ikan layur Ikan layur merupakan salah satu ikan de-
yang semakin meningkat setiap tahunnya. Apa- mersal yang didaratkan di PPP Labuan dengan
bila peningkatan penangkapan terus berlang- hasil tangkapan 10% dari hasil tangkapan ikan
sung tanpa adanya pengelolaan dan regulasi demersal pada tahun 2013. Kondisi perikanan
akan mengalami tangkap lebih. Regulasi peri- layur telah mengalami tangkap lebih secara
kanan diperlukan untuk mendorong terjadinya biologi (laju eksploitasi ikan layur betina 72%
efisiensi dalam pengelolaan yang bersifat dan jantan 83%) pada fase pertumbuhan
barang publik, meningkatkan bobot dan ukuran (growth overfishing) dengan nilai panjang ikan
ikan yang ditangkap, dan mencegah pemboro- pertama kali tertangkap (Lc) lebih kecil diban-
san tenaga kerja dan modal, serta untuk men- dingkan panjang ikan pertama kali matang
dorong alokasi sumber daya yang efisien (Scott gonad (Lm), sehingga saran pengelolaan yang
1979; Post et al. 2003; Hoggart 2006; Scott dan disarankan adalah dengan pengaturan mata
Sampson 2011). jaring selektif.
Berdasarkan hasil penelitian ikan layur Saran
telah mengalami tangkap lebih dengan laju
eksploitasi untuk ikan betina 72% dan ikan Berdasarkan hasil penelitian saran yang
jantan 83%. Menurut Engas et al. (1998) laju diberikan penulis untuk pengelolaan ikan layur
eksploitasi sumber daya ikan dapa dikurangi adalah pengaturan mata jaring selektif. Peng-
dengan pembatasan hasil penangkapan ikan gunaan mata jaring yang disarankan adalah
layur. Tangkap lebih yang terjadi pada ikan 1,5-2 inci. Hal ini dimaksudkan agar ikan-ikan
layur adalah growth overfishing. Panjang ikan yang tertangkap minimal telah mengalami satu
pertama kali tertangkap lebih kecil dibanding- kali matang gonad dan untuk menghindari
kan panjang pertama kali ikan matang gonad tertangkapnya ikan-ikan kecil (immature).
(Lc<Lm). Artinya ikan banyak tertangkap pada
ukuran sebelum matang gonad, sehingga dapat
mengganggu proses rekrutmen dalam popu- DAFTAR PUSTAKA
lasinya. Apabila ini terus terjadi dapat meng-
Allen MS, Ahrens RNM, Hansen MJ, Arlinghaus
akibatkan rehabilitasi stok ikan menjadi lebih
R. 2010. Dynamic Angling Efort Influen-
lambat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan
ces the Value of Minimum-Length Limits
untuk mencegah hal itu adalah dengan adanya
to Prevent Recruitmen Overfising. Fishe-
pengaturan mata jaring, sehingga dapat meng-
ries Management and Ecology Journal.
atur ukuran ikan yang tertangkap pada ukuran
doi: 10.1111/j.1365-2400.2012. 00871.x.
setelah matang gonad. Dengan pengaturan
matang jaring maka ikan-ikan kecil dapat tum- Boer M, Aziz KA. 2007. Gejala Tangkap Lebih
buh dan melakukan pemijahan sebagai salah Perikanan Pelagis Kecil di Perairan Selat
satu proses rekrutmen individu baru di daerah Sunda. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan
penangkapan. Perikanan Indonesia 14(2): 167-172.
84 Marine Fisheries 6 (1): 77-85, Mei 2015

[DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupa- Pauly D. 1984. Fish Population Dynamic in
ten Pandeglang. 2013. Statistik Perika- Tropical waters: a manual for use with
nan Tangkap Kabupaten Pandeglang progfammable caLculators. ICLARS
Tahun 2003-2013. Banten: DKP Kabupa- Stud, Rev.8: 325.
ten Banten.
Post JR, Mushens C, Paul A,Sullivani M. 2003.
Effendie MI. 2002. Biologi Perikanan. Yogya- Assessment of Alternative Harvest Regu-
karta: Yayasan Pustaka Nusatama. lations for Sustaining Recreational Fishe-
Engas A, Jorgensen T, West CW. 1998. A ries: Model Development and Application
Species-Selective Trawl for Demersal to Bull Trout. North America Journal of
Gadoid Fisheries. ICES Journal of Fisheries Management 23: 22-34.
Marine Science 55: 835-845. Powers JE. 2014. Age-specific Natural Mortality
Geffen AJ, van der Veer HW, Nash RDM, 2007. Rates in Stock Assessment: Size-based
The Cost of Metamorphosis in Flatfishes. vs Density-dependent. ICES Journal of
Journal of Sea Research 58: 35-45. Marine Science. Doi:10.1093.
Gulland JA. 1983. Fish Stock Assessment: Ma- Prihatiningsih. Sadhomotomo B, dan Taufik M.
nual of Basic Method. New York: Wiley 2013. Dinamika PopulasiIkan Swanggi
and Sons Inter-science. 1 FAO/Wiley (Priancathustayenus) di Perairan Tang-
Series on Food and Agricultural. gerang - Banten. Jurnal BAWAL 5(2): 81-
Hoggart JM. 2006. Financial Education and 87.
Economic Development. Improving Fi- Radhakrishnan N. 1964. Notes on Some As-
nancial Literacy International Conference pects on the Biology of the Fringe Scale
Hosted by the Russian G8 Presidency in Sardine, Sardinella fimbriata (Cuvier &
Cooperation with the OECD. 29-30 Valenciennes). Indian Journal Fishe-
November 2006. ries.11(1): 127-134.
Houde ED 2008 Emerging from Hjort’s Sh -
Rizvi AF, Deshmukh VD, Chakraborty SK.
dow. Journal Northw. Atl. Fish. Sci. 41:
2012. Comparison of Condition Factor of
53-70. the Ribbonfish Lepturacanthus savala
Jorgensen C, Holt RE. 2013. Natural Mortality: (Cuvier 1829) and Eupleurogrammus
Its Ecology, How It Shapes Fish Life muticus (Gray 1832) from Mumbai Coast.
Histories, and Why It may be Increased Marine Biological Association of India. 54
by Fishing. Journal of Sea Research. 75: (1) : 26-29.
8-18.
Saputra SW, Soedarsono P, Sulistyawati GA.
Karna SK, Panda S. 2011. Growth Estimation 2009. Beberapa Aspek Biologi Ikan Ku-
and Length at Maturity of a Commercially niran (Upeneusspp) di Perairan Demak.
Important Fish Species i. e., dayscieae- Jurnal Saintek Perikanan 5(1): 1-6.
na Albida (Boroga) in Chilika Lagoon,
India. European Journal of Experimental Scott A. 1979. Development of Economic
Biology. 1(2): 84-91. Theory of Fisheries Regulation. Journal
Fish. Res. Board. Canada 36: 725-741.
Krissunari D, Hariati T. 1994. Pendugaan Uku- Scott RD, Sampson DB. 2011. The Sensitivity
ran Pertama Kali Matang Gonad Bebe- of Longterm Yield Targets to Change in
rapa Ikan Pelagis Kecil di Perairan Utara Fishery Age-selectivity. Journal of Marine
Rembang. Jurnal Pen. Perikanan Laut Policy 35: 79-84.
85: 48-53.
Sharif A. 2009. Studi Dinamika Stok Ikan Layur
Najamuddin, Achmar M, Budimawa N, Indar. (Lepturacanthus Savala) di Teluk Palabu-
2004. Pendugaan Ukuran Pertama Kali
hanratu, Kabupaten Sukabumi, Propinsi
Matang Gonad Ikan Layang Beles
Jawa Barat [Skripsi]. Bogor: Institut
(Decapterus macrosoma, Bleeker). Jur-
Pertanian Bogor.
nal Sains dan Teknologi 4(1): 1-8.
Sholeh FR. 2012. Pengelolaan Sumber daya
Nash RDM, Geffen AJ. 2012. Mortality Through Ikan Layur (Lepturacanthus Savala,
the Early Life-History of Fish: What can Cuvier 1829) di Pelabuhan Perikanan
we Learn from European Plaice Pantai (PPP) Labuan, Kabupaten Pan-
(Pleuronectesplatessa L.). Journal of deglang, Provinsi Banten [Skripsi].
Marine Systems. 93: 58-68. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Siskawati et al. – Dinamika Populasi SDI Layur (Lepturacanthus savala) di Perairan Selat Sunda 85

Sparre P, Venema SC. 1998. Introduction to mating the Size at FrstMaturity in Fishes.
Tropical Fish Stock Assassment Part I: Fishbyte. 4(2): 8-10.
Manual. FAO Fisheries Technical Paper.
Widodo J, Suadi. 2006. Pengelolaan Sumber-
306(1), 2.
daya Perikanan Laut. Yogyakarta: Ga-
Sumirat E. 2011. Dampak Kebijakan Perikanan djah Mada University Press.
Terhadap Pemberdayaan Masyarakat
Wudji A, Suwarso, Wudianto. 2013. Biologi
Nelayan (Studi Kasus Wilayah Provinsi
Reproduksi dan Musim Pemijahan Ikan
Banten) [Tesis]. Jakarta: Pascasarjana
Lemur (Sardinella lemuru, Bleeker 1853)
Universitas Indonesia.
di Perairan Selat Bali. Jurnal BAWAL
Udupa KS. 1986. Statistical Method of Esti- 5(1): 49-57.

View publication stats