You are on page 1of 19

LAPORAN KASUS

EPISODE DEPRESIF BERAT TANPA GEJALA


PSIKOTIK

Disusun Oleh :

Triana H. Datu
(131777714224)

Pembimbing : dr. Andi Soraya, M.Kes, Sp.KJ

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS KEPANITERAAN


KLINIK
PADA BAGIANILMU KEDOKTERAN JIWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ALKHAIRAAT
PALU
2018
STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
- Nama : Tn. K

0
- Umur : 57 thn
- Jenis Kelamin : laki-laki
- Agama : Islam
- Pendidikan : S1
- Suku Bangsa : Kaili
- Pekerjaan : PNS
- Alamat : Ds. Malonda, Kel.Silae
- Tanggal pemeriksaan : 25 Oktober 2018

II. Riwayat Psikiatri


Riwayat penyakit pasien diperoleh dari anamnesis terhadap pasien sendiri
(autoanamnesis): Autoanamnesis dilakukan di Ruang Poliklinik Jiwa RSU
Anutapura Palu. (Tanggal 25 Oktober 2018)

A. Keluhan Utama
Susah Tidur

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli jiwa RSU Anutapura dengan keluhan sulit tidur
yang dialami sejak 3 minggu. Pasien mengeluh sulit untuk memulai tidur
karena sering memikirkan tentang penyakitnya dan tentang anak-anaknya
bagaimana jika dirinya sudah tidak ada. Pasien mengeluh sering merasa
sakit kepala, sehingga terus memikirkan penyakit hipertensinya yang
mungkin akan menyebabkan penyakit-penyakit parah dan menyebabkan
kematian. pasien juga sering merasa sedih, kurang minat dan bergembira,
merasa diri tidak berguna, merasa sudah tidak memiliki masa depan yang
baik, dan sering memiliki keinginan untuk bunuh diri. Pasien juga
mengeluh sangat lemas, lelah, cepat capek, cepat marah (sering emosi
tinggi) dan sulit berkonsentrasi. Pasien masih bisa mengurus diri sendiri
namun sangat malas untuk pergi kekantor, dalam seminggu pasien hanya
dua kali ke kantor dan pulang cepat. Nafsu makan baik, BAK lancer, BAB
biasa.

1
Gejala seperti ini di mulai 5 tahun yang lalu dimana saat pasien
didiagnosa hipertensi oleh dokter spesialis jantung dan harus minum obat
setiap hari. Gejala ini setiap hari pasien rasakan dan 2 tahun awal pasien
merasa lebih parah sampai sering menangis-menangis kemudian sehabis
bencana alam yang terjadi pasien juga merasa lebih parah.
C. Hendaya/disfungsi:
Hendaya dalam bidang sosial (-)
Hendaya dalam bidang pekerjaan (+)
Hendaya dalam penggunaan waktu senggang (+)

D. Faktor stressor psikososial :


Stressor psikososial, pasien mencemaskan penyakit dan anak-anaknya
sehingga susah tidur.

E. Hubungan gangguan sekarang dengan riwayat penyakit fisik dan


psikis sebelumnya
Pasien di konsul dari interna ke bagian kedokteran jiwa dengan keluhan
sulit tidur dan merasa cemas.

F. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Pasien sudah mengalami keluhan seperti ini sejak 5 tahun yang lalu
dan berobat dipoliklinik jiwa.

2. Riwayat Gangguan Medis


- Riwayat kejang : Tidak ada
- Riwayat cedera kepala : Tidak ada
- Penyakit Infeksi Otak :Tidak ada
- Riwayat asma : Tidak ada
- Riwayat hipertensi : ada
- Riwayat diabetes melitus : Tidak ada
- Riwayat alergi : Tidak ada
- Riwayat opname : Tidak ada
3. Riwayat penggunaan zat psikoaktif
- NAPZA: merokok (+) dan sudah berhenti sejak 5 tahun yang lalu

G. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir cukup bulan dan persalinan lahir ditolong oleh dukun.
Selama masa kehamilan, ibu pasien dalam keadaan sehat.

2
2. Masa Anak
Pasien tumbuh dan berkembang sesuai usia sebagaimana anak
seusianya, sehingga tidak terdapat gangguan pertumbuhan maupun
perkembangan pada pasien. Pasien tidak pernah mengalami sakit berat
sejak kecil.

3. Masa Anak Pertengahan


Pasien menempuh jenjang pendidikan sampai SD, SMP, SMA, SI.
Semasa sekolah pasien dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Pasien
memiliki banyak teman di sekolah. Semasa sekolah pasien dapat
mengikuti pelajaran dengan baik. Pasien memiliki banyak teman dan
prestasi pasien di sekolah biasa-biasa saja.

4. Masa Remaja
Pasien bekerja sebagai PNS. Pasien memiliki banyak teman, pasien
termasuk orang yang ramah dan suka bergaul.

5. Riwayat Masa Dewasa


a) Riwayat Pekerjaan
Pasien bekerja sebagai PNS, Saat ini kebutuhan hidup pasien
sehari-hari terpenuhi.

b) Riwayat Perkawinan
Pasien sudah menikah mempunyai 3 orang anak, 2 perempuan dan
1 laki-laki.

c) Agama
Pasien beragama islam.

d) Aktivitas Sosial
Pasien kurang aktif dalam mengikuti kegiatan sosial di lingkungan
rumahnya.

e) Psikoseksual
Pasien menyukai lawan jenisnya.

H. Riwayat Kemiliteran dan Hukum


Pasien tidak pernah terlibat dalam kegiatan kemiliteran dan masalah
hukum.

3
I. Riwayat Situasi Sekarang
Pasien merasa sedih dan susah tidur karena memikirkan penyakitnya,
sehingga pasien di rujuk dari Interna ke poli riwa.

J. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak ke dua dari empat bersaudara. Tidak ada riwayat
keluarga yang menderita penyakit serupa.

III. Pemeriksaan Status Mental


a) Deskripsi Umum
1) Penampilan
Seorang laki-laki umur 57 tahun, wajah tampak sesuai umur, pakaian
tampak rapi, memakai baju abu-abu lengan pendek, memakai jaket
coklat dan celana panjang berwarna hitam, dan berambut pendek.
2) Kesadaran: Normal (GCS 15)/ Kompos Mentis
3) Perilaku dan aktivitas psikomotor : Pasien tampak tenang
4) Pembicaraan: Spontan lancar , intonasi biasa, suara kecil, dengan
nada melemah.
5) Sikap terhadap pemeriksa: Kooperatif

b) Keadaan Afektif
1) Mood : Depresif
2) Afek : Tumpul
3) Keserasian : serasi
4) Empati: Dapat diraba rasakan

c) Fungsi Intelektual atau Kognitif


1) Taraf pendidikan : Sesuai
2) Daya konsenterasi : kurang (sering menghayal)
3) Orientasi : Baik
4) Daya ingat : Baik
5) Pikiran abstrak : Baik
6) Bakat Kreatif : Tidak ada
7) Kemampuan menolong diri sendiri : baik

d) Gangguan Persepsi
1) Halusinasi : Tidak ada
2) Ilusi : Tidak ada
3) Depersinalisasi: Tidak ada
4) Derealisasi : Tidak ada

e) Proses Berpikir

4
1) Arus Pikiran
- Produktivitas : Baik
- Kontinuitas : Relevan
- Hendaya berbahasa : Tidak ada
2) Isi Pikiran
- Preokupasi : Pasien selalu memikirkan penyakitnya
- Gangguan isi pikiran : Tidak ada

f) Pengendalian Impuls
Baik

g) Daya Nilai
1) Norma sosial : Baik
2) Uji daya nilai : Baik
3) Penilaian Realitas : Baik

h) Tilikan (insight)
Tilikan derajat 6 : Menyadari dirinya sepenuhnya tentang situasi dirinya
disertai motivasi untuk mencapai perbaikan.

i) Taraf Dapat Dipercaya


Dapat dipercaya

IV. Pemeriksaan Diagnostik Lebih Lanjut


1. Status Internus
a. Kesan umum : Kompos mentis, gizi baik, konjungtiva anemis
(-/-), sklera ikterik (-/-).
b. Tanda vital : Tekanan darah: 130/90 mmHg, nadi: 90 x/menit,
suhu: 36,5 oC, respirasi: 20 x/menit.
c. Kepala : Dalam batas normal
d. Leher : Dalam batas normal
e. Thorak : Dalam batas normal
f. Abdomen : Dalam batas normal
g. Ekstremitas : Dalam batas normal

2. Status Neurologis
a. Fungsi kesadaran : GCS E4V5M6.
b. Fungsi luhur : Dalam batas normal.
c. Fungsi kognitif : Dalam batas normal.
d. Fungsi sensorik : Dalam batas normal.
e. Fungsi motorik : Dalam batas normal.
Kekuatan Tonus R. Fisiologis R. Patologis
Normal Normal + + - -
+ + - -

5
V. Ikhtisar Penemuan Bermakna
Pasien datang ke poli jiwa RSU Anutapura dengan keluhan sulit tidur yang
dialami sejak 3 minggu. Pasien mengeluh sulit untuk memulai tidur karena
sering memikirkan tentang penyakitnya dan tentang anak-anaknya bagaimana
jika dirinya sudah tidak ada. Pasien mengeluh sering merasa sakit kepala,
sehingga terus memikirkan penyakit hipertensinya yang mungkin akan
menyebabkan penyakit-penyakit parah dan menyebabkan kematian. pasien
juga sering merasa sedih, kurang minat dan bergembira, merasa diri tidak
berguna, merasa sudah tidak memiliki masa depan yang baik, dan sering
memiliki keinginan untuk bunuh diri. Pasien juga mengeluh sangat lemas,
lelah, cepat capek, cepat marah (sering emosi tinggi) dan sulit berkonsentrasi.
Pasien masih bisa mengurus diri sendiri namun sangat malas untuk pergi
kekantor, dalam seminggu pasien hanya dua kali ke kantor dan pulang cepat.
Gejala seperti ini di mulai 5 tahun yang lalu dimana saat pasien didiagnosa
hipertensi oleh dokter spesialis jantung dan harus minum obat setiap hari.
Gejala ini setiap hari pasien rasakan dan 2 tahun awal pasien merasa lebih
parah sampai sering menangis-menangis kemudian sehabis bencana alam yang
terjadi pasien juga merasa lebih parah.
Status mental, Seorang laki-laki umur 57 tahun, wajah tampak sesuai
umur, pakaian tampak rapi, memakai baju abu-abu lengan pendek, memakai
jaket coklat dan celana panjang berwarna hitam, dan berambut pendek.
Pembicaraan suara kecil dengan intonasi melemah, mood depresif, Afek
tumpul, konsentrasi berkurang, preokupasi pasien merasa sedih terhadap
penyakitnya, tilikan derajat 6 menyadari dirinya sepenuhnya tentang situasi
dirinya disertai motivasi untuk mencapai perbaikan. Dari pemeriksaan status
internus dan status neurologis dalam batas normal.

VI. Evaluasi Muktiaksial


Berdasarkan autoanamnesa, didapatkan adanya gejala klinis yang
bermakna yaitu sering merasa sedih, kurang minat dan bergembira, merasa
diri tidak berguna, mengeluh sangat lemas, lelah, cepat capek, susah tidur,
cepat marah (sering emosi tinggi) dan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini

6
menimbulkan penderitaan atau distress dan kesulitan dalam pekerjaan dan
penggunaan waktu senggang sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien
mengalami Gangguan jiwa.
Berdasarkan pemeriksaan status mental tidak didapatkan halusinasi dan
waham sehingga dikategorikan Gangguan jiwa non psikotik.
Dari status internus dan neurologis tidak ditemukan kelainan bermakna
sehingga kelainan organik dapat disingkirkan dan dikategorikan sebagai
Gangguan jiwa non psikotik non organik.
Pada pasien ditemukan adanya gejala yang bermakna yaitu sering
merasa sedih, kurang minat dan bergembira, merasa diri tidak berguna,
merasa sudah tidak memiliki masa depan yang baik, dan sering memiliki
keinginan untuk bunuh diri. Pasien juga mengeluh sangat lemas, lelah,
cepat capek, susah tidur, cepat marah (sering emosi tinggi) dan sulit
berkonsentrasi. Ganggan ini menimbulkan penderitaan yang secara klinis
bermakna atau hendaya dalam pekerjaan dan penggunaan waktu senggang,
dan berlangsung setiap hari selama lebih dari 2 minggu. dengan demikian
berdasarkan PPDGJ-III maka gejala tersebut masuk dalam kategori
diagnosis Episode Depresif Berat Tanpa Gejala Psikotik (f32.2), dan
berdasarkan DSM-IV-TR masuk dalam kategori diagnosis Episode
Depresif Berat.

 Aksis II
Diagnosis Aksis II tertunda
Ciri kepribadian emosional tidak stabil

 Aksis III
Hipertensi

 Aksis IV
Primary support grup (keluarga)
Pekerjaan

 Aksis V
GAF Scale 70 – 61 : Gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik.

7
VII. Diagnosis banding:
F41.2 Gangguan campuran anxietas dan depresi

VIII. Daftar Masalah


- Organobiologik : Ditemukan gejala yang bermakna yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, maka pasien memerlukan
farmakoterapi.
- Psikologik : Ditemukan adanya gejala depresif sehingga diperlukan
psikoterapi.
- Sosiologik: Ditemukan adanya hendaya dalam bidang sosial, sehingga
memerlukan sosioterapi.

IX. Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam.
Quo ad sanam : dubia ad bonam.
Quo ad fungsionam : dubia ad bonam.

X. Rencana Pengobatan Lengkap


Farmakoterapi
Amlodipin 10 mg 1dd1 (malam hari)
Psikofarmakoterapi :
1. Sandepril 2x50mg/hari (siang dan malam hari)

Psikoterapi suportif:
a. Ventilasi : Memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega.
b. Konseling : Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien
tentang penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya, dan
memahami cara menghadapinya, serta memotivasi pasien agar tetap
minum obat secara teratur.
c. Sosioterapi: Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang
terdekat pasein tentang keadaan pasien agar tercipta dukungan sosial
sehingga membantu proses penyembuhan pasien sendiri.
Non psikofarmaka
a) Edukasi terhadap pasien jika kondisi sudah membaik:
- Pengenalan terhadap penyakit, manfaat pengobatan, cara
pengobatan, dan efek samping pengobatan.

8
- Memotivasi agar minum obat secara teratur dan rajin kontrol
setelah pulang dari perawatan.
- Membantu agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari
secara bertahap
- menggali kemampuan yang bisa dikembangkan.

b) Eduksi terhadap keluarga:


- Memberikan penjelasan mengenai gangguan yang dialami pasien
agar keluarga lebih memaklumi kondisi pasien.
- Menyarankan agar lebih telaten dalam pengobatan pasien dengan
membawa kontrol secara teratur, memperhatikan agar minum obat
secara teratur, dan memberi dukungan agar mempunyai aktivitas
yang positif.

DISKUSI KASUS

1. Kriteria diagnosis DSM-IV TR Episode Depresif Berat:


a) Terdapat lima atau lebih simtom yang ada selama periode 2 minggu dan terlihat
adanya perubahan dari fungsi sebelumnya paling sedikit satu simtom lainnya, (1)
mood depresif, (2) hilangnya minat dan rasa nyaman. Catatan: Jangan

9
memasukkan gejala-gejala yang jelas-jelas karena suatu kondisi medis umum,
atau waham atau halusinasi yang tidak sejalan dengan mood.
1) Mood depresif hampir sepanjang hari, seperti yang ditunjukkan baik oleh
laporan subjektif (misalnya merasa sedih atau kosong) maupun pengamatan yang
dilakukan oleh orang lain (misalnya tampak sedih atau menangis). Catatan: Pada
anak-anak dan remaja, dapat berupa mood yang iritabel
2) Hilangnya minat atau kesenangan secara jelas dalam semua atau hampir semua
aktivitas sepanjang hari, hampir setiap hari (seperti yang ditunjukkan baik oleh
keterangan subjektif maupun pengamatan yang dilakukan oleh orang lain).
3) Penurunan berat badan yang bermakna ketika tidak sedang melakukan diet atau
penambahan berat badan (misalnya perubahan berat badan lebih dari 50% dalam
satu bulan) atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari.
Catatan: Pada anak – anak , pertimbangkan kegagalan mencapai pertambahan
berat badan yang diharapkan.
4) Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.
5) Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari (teramati oleh orang lain,
tidak semata-mata perasaan subjektif dari kegelisahan atau menjadi lamban).
6) Kelelahan atau hilangnya energi hampir setiap hari.
7) Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak
sesuai (yang mungkin bersifat waham) hampir setiap hari (tidak semata-mata
mencela diri sendiri atau perasaan bersalah karena sakit).
8) Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau memusatkan perhatian, atau tidak
dapat mengambil keputusan, hampir setiap hari (baik oleh keterangan subkjetif
maupun yang teramati oleh orang lain).
9) Pikiran tentang kematian yang berulang (bukan hanya rasa takut akan
kematian), ide bunuh diri yang berulang tanpa suatu rencana spesifik, atau suatu
usaha bunuh diri atau rencana khusus untuk melakukan bunuh diri.
b) Gejala-gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.
c) Gejala-gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.

10
d) Gejala-gejala bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya
obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum
(misalnya hipotiroidisme).
e) Gejala tidak lebih baik diterangkan oleh dukacita, yaitu setelah kehilangan
orang yang dicintai, gejala-gejalanya menetap lebih dari 2 bulan atau ditandai oleh
hendaya fungsional yang jelas, preokupasi morbid dengan rasa tidak berharga, ide
bunuh diri, gejala psikotik atau retardasi psikomotor.

2. Menurut kriteria diagnosis PPDGJ III Episodik Depresif


A. Gejala Utama : (pada derajat ringan, sedang, dan berat)
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas.
B. Gejala lainnya
- Konsentrasi dan perhatian berkurang
- Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistik.
- Gagasan atau perubahan membahayakan diri atau bunuh dir
- Tidur terganggu
- Nafsu makan berkurang.
C. Untuk episodik depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut
diperlukan masa selurang-kurangnya 2 mingu untuk penegakan
diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat dibenarkan jika
gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
D. Kategori diagnosis episodik ringan, sedang, dan berat hanya
digunakan untuk diagnosis depresif tunggal. Episodik depresif
berikutnya harus diklasifikasikan dibawah salah satu diagnsosis
gangguan depresif berulang.

Episodik Depresif tanpa gejala psikotik (f32.2)


- Semua 3 gejala utama depresi harus ada
- Ditambah sekurangnya 4 dari gejala lain, dan beberapa diantaranya
harus berintensitas berat.

11
- Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor)
yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu
untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode
depresif berat masih dapat dibenarkan.
- Episodik depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat,
maka masih dibenarkan untuk menegakan diagnosis dalam kurun
waktu kuran dari 2 minggu.
- Sangat tidak mungkin pasien untuk mampu meneruskan kegiatan
sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang
terbatas.

Berdasarkan anamnesis, Pada pasien ditemukan adanya gejala yang


bermakna yaitu sering merasa sedih, kurang minat dan bergembira, merasa diri
tidak berguna, merasa sudah tidak memiliki masa depan yang baik, dan sering
memiliki keinginan untuk bunuh diri. Pasien juga mengeluh sangat lemas, lelah,
cepat capek, susah tidur, cepat marah (sering emosi tinggi) dan sulit
berkonsentrasi. Ganggan ini menimbulkan penderitaan yang secara klinis
bermakna atau hendaya dalam pekerjaan dan penggunaan waktu senggang, dan
berlangsung setiap hari selama lebih dari 2 minggu. dengan demikian berdasarkan
PPDGJ-III maka gejala tersebut masuk dalam kategori diagnosis Episode
Depresif Berat Tanpa Gejala Psikotik (f32.2), dan berdasarkan DSM-IV-TR
masuk dalam kategori diagnosis Episode Depresif Berat.

Menurut WHO, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan


munculnya gejala penurunan mood. Pada pasien diatas masalah emosional yang
terkait adalah walaupun sudah dilakukan psikoterapi dan farmakoterapi, namun
pasien tetap mengeluh sakit, sehingga perlu diketahui apa saja penyebab
depresi,dengan demikian jika mengetahui penyebab utamanya, maka dapat pula
ditentukan terapinya.

12
Dasar umum untuk gangguan depresi berat tidak diketahui, tetapi diduga
faktor-faktor dibawah ini berperan :

a) Faktor Biologis

Data yang dilaporkan paling konsisten dengan hipotesis bahwa gangguan


depresi berat adalah berhubungan dengan disregulasi pada amin biogenik
(norepineprin dan serotonin). Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi dan
pada beberapa pasien yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolik serotonin di
dalam cairan serebrospinal yang rendah serta konsentrasi tempat ambilan
serotonin yang rendah di trombosit. 1

Faktor neurokimiawi lain seperti adenylate cyclase, phospotidylinositol dan


regulasi kalsium mungkin juga memiliki relevansi penyebab. Kelainan pada
neuroendokrin utama yang menarik perhatian dalam adalah sumbu adrenal, tiroid
dan hormon pertumbuhan. Neuroendokrin yang lain yakni penurunan sekresi
nokturnal melantonin, penurunan pelepasan prolaktin karena pemberian
tryptopan,

penurunan kadar dasar folikel stimulating hormon (FSH), luteinizing hormon


(LH) dan penurunan kadar testoteron pada laki-laki.1

b) Faktor Genetika

Data genetik menyatakan bahwa sanak saudara derajat pertama dari penderita
gangguan depresi berat kemungkinan 1,5 sampai 2,5 kali lebih besar daripada
sanak saudara derajat pertama subyek kontrol untuk penderita gangguan.
Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan angka kesesuaian pada kembar
monozigotik adalah kira-kira 50 %, sedangkan pada kembar dizigotik mencapai
10 sampai 25 %.1

c) Faktor psikososial

13
Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan klinis yang
telah lama direplikasi bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih
sering mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya,
hubungan tersebut telah dilaporkan untuk pasien dengan gangguan depresi berat.

Data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa kehidupan paling


berhubungan dengan perkembangan depresi selanjutnya adalah kehilangan orang
tua sebelum usia 11 tahun. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan
onset satu episode depresi adalah kehilangan pasangan.1

Beberapa artikel teoritik dan dari banyak laporan, mempermasalahkan


hubungan fungsi keluarga dan onset dalam perjalanan gangguan depresi berat.
Selain itu, derajat psikopatologi didalam keluarga mungkin mempengaruhi
kecepatan pemulihan, kembalinya gejala dan penyesuaian pasca pemulihan.1

Penatalaksanaan

Bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai taraf hebatnya gejala
depresi dan besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan dengan
bijkasana dan penderita sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan pikiran-
pikiran bunuh diri kepada orang yang memahami masalahnya, tetapi pada
beberapa penderita ada yang tidak memberitahukan keinginan bunuh dirinya
kepada pemeriksa karena takut di cegah. Bila sering terdapat pikiran-pikiran atau
rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan
pemberian terapi elektrokonvulsi di samping psikoterapi dan obat anti depresan.1

Sebagian besar klinisi dan peneliti percaya bahwa kombinasi psikoterapi dan
farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi
berat. Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yaitu terapi kognitif, terapi
interpersonal dan terapi perilaku, telah diteliti tentang manfaatnya di dalam
pengobatan gangguan depresi berat.1

14
Pada farmakoterapi digunakan obat anti depresan, dimana anti depresan
dibagi dalam beberapa golongan yaitu :

1. Golongan trisiklik, seperti : amitryptylin, imipramine, clomipramine dan


opipramol.
2. Golongan tetrasiklik, seperti : maproptiline, mianserin dan amoxapine.

3. Golongan MAOI-Reversibel (RIMA, Reversibel Inhibitor of Mono Amine


Oxsidase-A), seperti : moclobemide.

4. Golongan atipikal, seperti : trazodone, tianeptine dan mirtazepine.

5. Golongan SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor), seperti : sertraline,


paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram.3

Prognosis

Gangguan depresi berat bukan merupakan gangguan yang ringan. Keadaan


ini cenderung merupakan gangguan yang kronis dan pasien cenderung mengalami
relaps. Pasien yang dirawat di rumah sakit untuk episode pertama gangguan
depresif memiliki kemungkinan 50 % untuk pulih di dalam tahun pertama.

Rekurensi episode depresi berat juga sering, kira-kira 30 sampai 50 % dalam


dua tahun pertama dan kira-kira 50 sampai 70 % dalam 5 tahun. Insidensi relaps
adalah jauh lebih rendah dari pada angka tersebut pada pasien yang meneruskan
terapi psikofarmakologis profilaksis dan pada pasien yang hanya mengalami satu
atau dua episode depresi.

15
KESIMPULAN

Gangguan depresi berat merupakan suatu masa terganggunya fungsi manusia


yang berkaitan dengan perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada psikomotor, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi
vegetatif.

Penyebab dari gangguan depresi terdiri dari faktor biologis, faktor genetika
dan faktor psikososial. Pada hipotesis timbulnya depresi dihubungkan dengan
peran beberapa neurotransmiter aminergik. Hipotesis tersebut menjadi dasar
penggunaan dan pengembangan obat-obat anti depresan.

16
Kombinasi psikoterapi dan farmakoterapi adalah pengobatan yang paling
efektif untuk gangguan depresi berat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H., Sadock B,. 2017. Buku ajar psikiatri klinis. Gangguan
Kecemasan. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hal. 266-267
2. Tomb, D. A. 2000. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC. Hal. 96-
110
3. Maslim, Rusdi. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas
PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran
Unika Atmajaya. Hal. 72-75
4. Maslim, Rusdi. 2014. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal.
23 – 41
5. WHO.2015. Depression.,(Online http://www.who.int/topics/depression/en/
diakses pada tanggal 25 oktober 2018).

17
18