You are on page 1of 9

MAKALAH MODUL V

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


PENDIDIKAN IPS DI SD (PDGK 4106)
Tutor : Dra. Hj. Julaeha, M.Pd

Disusun Oleh :
Kelompok 2
Arief Juliansyah(857423967)
Lia Wiliani (857423942)
Irwin Ardianto

Program Studi : S1 PGSD Masukan Sarjana


Pokjar/Kelas : SMPN 12 Bandung/ B

UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH BANDUNG


UNIVERSITAS TERBUKA
2019
Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena hanya dengan limpahan
rahmat, taufik dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam
penulisan makalah ini kami membahas materi modul 5, yakni “ ;Pendekatan dalam
Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman mata kuliah Pendidikan
IPS di Sekolah Dasar yang sangat diperlukan dalam materi perkuliahan demi mendapatkan
pemahaman yang maksimal dalam melakukan kegiatannya dan sekaligus melakukan apa
yang menjadi tugas mahasiswa. Penulis menyadari bahwa kami tidak dapat menyusun
makalah ini tanpa adanya bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Maka dari
itu kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu
persatu.
Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima saran maupun
kritik yang sifatnya membangun untuk perbaikan selanjutnya.
Akhir kata kami sebagai penulis mengucapkan banyak-banyak terimakasih dan
memohon maaf apabila ada kekurangaan dalam pembuatan makalah ini, semoga makalah
yang telah kami buat dapat bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bandung, April 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karakteristik pendekatan dalam pengajaran IPS di SD mengandung arti cara pandang
atau cara menyikapi sesuatu terhadap proses belajar murid dalam mata pelajaran IPS, dan
upaya penciptaan kondisi dan iklim kelas yang memungkinkan terjadinya proses belajar
Pendekatan sangat penting dilakukan oleh guru karena selain berfungsi sebagai
manajer kelas dan fasilitator belajar juga menjadi teladan aktor sosial.
Kemampuan yang dapat diperoleh setelah mempelajari modul 5 ini adalah
menganalisisi karakteristik :
1. Pendekatan Kognitif dalam pembelajaran IPS di SD
2. Pendekatan Sosial dalam pembelajaran IPS di SD
3. Pendekatan Personal dalam pembelajaran IPS di SD
4. Pendekatan Modifikasi perilaku dalam pembelajaran IPS di SD
5. Pendekatan Ekspositori dalam pembelajaran IPS di SD

Untuk menjawab permasalahan tersebut diatas, pada modul ini Anda akan diajak
untuk mempelajari lebih rinci berbagai cara pendekatan yang dapat ditempuh untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menganalisisi karakteristik :
 Pendekatan Kognitif dalam pembelajaran IPS di SD
 Pendekatan Sosial dalam pembelajaran IPS di SD
 Pendekatan Personal dalam pembelajaran IPS di SD
 Pendekatan Modifikasi perilaku dalam pembelajaran IPS di SD
 Pendekatan Ekspositori dalam pembelajaran IPS di SD

B. Rumusan Masalah
Dengan latar belakang diatas ada beberapa hal yang harus dicari tahu dalam kegiatan
pembelajaran IPS di SD. Pendekatan pembelajaran apa yang harus dan tepat dilakukan dalam
upaya penciptaan kondisi dan iklim kelas yang memungkinkan terjadinya proses
pembelajaran IPS di SD yang tepat

C. Tujuan

Tujuan dari rumusan masalah di atas adalah : Supaya guru SD mengetahui pendekatan –
pendekatan dalam pembelajaran IPS di SD yang efektif demi mencapai hasil kegiatan
pembelajaran yang maksimal
BAB II
PEMBAHASAN

KB 1 : Pendekatan Kognitif dalam Pembelajaran IPS di SD


Karakteristik pembelajaran IPS di SD secara umum merupakan pendidikan kognitif
sebagai dasar partisipasi sosial. Artinya, pusat perhatian utama pembelajaran ips adalah
pengembangan murid sebagai aktor sosial yang cerdas. Untuk menjadi aktor sosial yang
cerdas, tidak berarti dan memang tidak bisa hanya dikembangkan melalui aspek kecerdasan
rasionalnya (rational integence), tetapi juga kecerdasan emosionalnya (emotional intelegence)
(Goleman : 1996). Seperti ditegaskan oleh Goleman (1996) maka dua kecerdasan itu sama
sama memilki kontribusi terhadap keberhasilan seseorang, dalam masyarakat masing masing
diperkirakan 20% kecerdasan rasional dan 80% kecerdasan emosional.
A. Tujuan
Tujuan utama pendekatan penelitian sosial adalah membangun teori atau secara
umum membangun pengetahuan sosial dengan kerangka keilmuan sederhana

B. Proses penelitian
Bagi siswa SD proses penelitian berfungsi sebagai media untuk mengenal gejala-
gejala sosial dan perkembangan masyarakat dengan menggunakan kacamata atau cara
kerja ilmu sosial. Tentu anda dapat membayangkan modelnya dan bentuknya sebagai
berikut :

Masalah --------------Hipotesis ------------ Data -------------- Kesimpulan

1. Masalah
Masalah ada dalam pikiran berkaitan dengan yang tampak atau dapat ditangkap oleh
pancaindera kita. Misalnya, suatu waktu terjadi hujan lebat sehingga air sungai melimpah
keluar dari badan sungai dan masuk ke kawasan sekitar aliran sungai. Apa apa yang yang
diamati adalah fenomena gejala alam
Proses berpikir terjadi apabila terjadi proses asimilasi (kontak objek dengan pikiran)dan
keterkaitan konsep konsep dalam pikiran dengan informasi tentang objek yang disebut
proses akomodasi. Masalah yang dirumuskan pada dasarnya merupakan hasil rekayasa
pikiran berkenaan dengan fenomena dan teori dan nilai yang ada pada pikiran kita

2. Hipotesis
Hipotesis berasal dari bahsa latin hypo dan thesis. Hipotesis dapat diartikan sebagai
suatu kesimpulan yang masih sementara atau setenglah benar dan masih memerlukan
pengujian dan pembuktian. Sedangkan Asumsi adalah pernyataan mengenai hal hal yang
berhubungan dengan unsur unsur yang permasalhkan yang diterima sebagai kebenaran
tanpa bukti
3. Data
Data berasal dari bahasa latin datum yang artinya satu informasi petunjuk. Instrumen
yang baik dapat mengukur apa yang seharusnya diukur dan ini dikenal sebagai alat yang
valid atau sahih. Apabila data mngenai hal hal yang bersifat psikologis, sosial atau kultular
diperlukan alat pengumpul data berupa pedoman observasi, data cek, catatan, pengamatan,
angket, pedoman wawancara dan tes.
4. Kesimpulan
Adalah hipotesis yang telah diuji dan dibuktikan kebenarannya. Teori merupakan
bentuk pengetahuan yang paling tinggi dan merupakan isi pokok ilmu pengetahuan.
Orientasi ini sering diberi label bermacam macam seperti : inquiri, discovery,
problem solving, critical thinking, reflective thinking, induction, dan investigator
(jarolimek,1971:11)
 Menitik beratkan pada proses berfikir yang berkaitan dengan pemecahan masalah
 Melibatkan murid dalam proses belajar
 Merupakan alternatif lain yang bersifat inofatif yang lebih maju dari pada penyampai
informasi ekspositori
Menurut jarolimek (1971) menyebutkan sebagai idea cantered atau program pembelajaran
yang berorientasi pada ide atau gagasan. Gagasan yang dimaksud adalah konsep, generalisasi,
konstruksi, ide dasar, ide pokok, atau pengertian umum

C. Konsep
Konsep merupakan suatu kata atau pernyataan abstrak yang berguna untuk
mengelompokan benda, idea atau peristiwa. Apabila dilihat dari sifatnya ada beberapa
konsep, yakni konsep teramati atau observed concept, konsep tersimpul atau invered concept,
konsep relasional atau relational concept dan konsep ideal atau ideal type concept (Fenton:
1966, Jarolimek : 1971, Banks:; 1977). Konsep teramati adalah konsep yang contohnya dapat
ditangkap pancaindera, seperti manusia, rumah, jalan raya, bising, manis, merdu. Konsep
tersimpul yang contohnya harus disimpulkan dari beberapa hasil pengamatan atau beberapa
peristiwa sebagai indikator, misalnya sopan, tertib, pahlawan, makmur, dan adat.
Konsep relasional adalah konsep yang melibatkan jarak dan atau waktu misalnya,
abad, dasawarsa, mil, lintang, bujur, isobar, isotherm, kawsan dan landasan-preen . Konsep
ideal adalah konse tersimpul yang lebih abstrak dan merupakan konsep yang memerlukan
pengumpulan indikator yang lebih luas. Misalnya, keadilan, pancasila, takwa, nyaman,
patriotik, kasih sayang, kejujuran dan kesejahteraan.

D. Generalisasi
Generalisasi adalah pernyataan mengenai keterkaitan dua konsep atau lebih.
Contohnya, perilaku guru di muka kelas merupakan produk interaktif antara kompetensi
mengajar guru dengan lingkungan belajar.
Secara umum generalisasi dapat digolongkan menjadi 3 aras (Banks, 1977: 99-100)
1. Generalisasi aras tinggi
2. Generalisasi aras sedang
3. Generalisasi aras rendah
Generalisasi aras tinggi berlaku secara universal , artinya pernyataan itu berlaku
dimana saja, kapan saja, dan bagi siapa saja. Contohnya : manusia dengan lingkungannya.
Generalisasi aras sedang berlaku terbatas pada suatu wilayah budaya atau kurun
waktu tertentu. Contohnya : pada masa penjajahan Belanda kesempatan pendidikan bagi
rakyat Indonesia sangat terbatas.
Generalisasi aras rendah berlaku lebih terbatas lagi pada lingkup yang lebih sempit.
Contohnya : Pada musim angin barat penghasilan nelayan tradisional di pelabuhan ratu
menurun karena terbatas frekuensi dan jarak tangkapan ikan.

F. Teori / konstruk
Teori atau konstruk merupakan bentuk pengetahuan tertinggi yang dapat digunakan
untuk menerangkan dan memperkirakan perilaku manusia (Banks, 1977: 103). Teori aras
tinggi yang memenuhi syarat sebagai berikut :

 Melukiskan hubungan antar konsep; atau variabel yang didefinisikan secara jernih.
 Mengandung sistem deduksi yang secara ;logis ajeg atau tetap.
 Merupakan sumber dari hipotesis yang sudah diuji kebenarannya (Banks, 1977:103).

KB 2 : Pendekatan Sosial, Personal dan Perilkaku dalam Pembelajaran IPS di SD


Pendekatan sosial, personal, dan perilaku pada prinsipnya merupakan bentuk sentuhan
pedagogisnya terhadap dimensi sosial dan personal atau dimensi integensia emosional
integence menurut Goleman (1996)
A. Emosi
Emosi (emoltion) sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu,
setiap keadaan mental yang hebat atau meluap luap. Goleman(1996) mengartikan emosi
sebagai suatu perasaan dan pikiran atau suatu keadaan biologis dan psikologis dan
serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Tercakup dalam emosi ini adalah amarah, kesehatan, rasa takut, kenikmatan, cinta,
kejutan, jengkel dan malu (Goleman, 1996 411-412)
Menurut W.T. Grand Consortiums, dalam Goleman (1996: 426-427), keterampilan
emosional mencakup hal-hal berikut :
1. Mengidentifikasi dan memberi nama perasaan-perasaan
2. Mengungkapkan perasaan
3. Menilai intensitas perasaan
4. Mengelola perasaan
5. Menunda perasaan
6. Mengendalikan dorongan hati
7. Mengurangi stress
8. Mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan

B. Nilai dan Sikap

1. Nilai
Sesuatu dapat dinilai memiliki value atau harga apabila memang hal itu memiliki
kualitas kebaikan dan dilihat oleh pengamat sebagai hal yang baik. Nilai adalah suatu
jenis kepercayaan yang ada dalam keseluruhan berperilaku atau perlu tidak sesuatu
dicapai. Nilai juga merupakan ukuran untuk menetapkan baik dan buruk. Contohnya,
setiap orang memiliki sistem nilai religi yang terbentuk dari pengetahuan pemahaman
pelaksanaan dan komitmen yang dipeluknya dengan baik
2. Sikap
Alport (1935) dalam winataputra (1989) sikap adalah suatu kondisi kesiapan
mental dan syarat yang terbentuk melalui pengalaman yang memancarkan arah
atau pengarah yang dinamis terhadap respon atau tanggapan individu terhadap
objek atau individu yang dihadapinya.

Dilihat dari Kadarnya


Sikap multipleks (rumit)
Sikap simplek (sederhana)

C. Perilaku Sosial
Termasuk ke dalam keterampilan sosial, antara lain berkomunikasi (Krech
dkk, 1962:), membaca, menulis, menggunakan kepustakaan, menganalisis,
menggunakan peta (Pellison1989), keterampilan sosial pada dasarnya mencakup
semua kemampuan operasional yang memungkinkan individu dapat berhubungan
dan hidup bersama secara tertib dan teratur dengan orang lain.
Pembelajaran di bagi menjadi dua, yaitu :

 Pembelajaran Formal, yang menitik beratkan pada pemahaman dan analisis di


dalam atau di luarkelas
 Pembelajaran informal, yang menitikberatkan pada penghayatan, pelibatan dan
penciptaan suasana yang mencerminkan komitmen terhadap nilai dan sikap
terutama di luar kelas

Khusus dalam pembelajaran formal Simon,Howe, Kirshenbaum, Menawarkan 4


pendekatan yang berorientasi pada nilai dan sikap sebagai berikut :
 Transmisi nilai secara bebas
Anak disajikan pilihan nilai secara bebas atas alternatif nilai yang secara sosial
dapat diterima dalam masyarakat Indonesia
 Penanaman nilai atau value inculcation
Proses pembelajaran nilai secara langsung mengenai konsep dan nilai yang sudah
dianggap baik
 Suri teladan atau Modelling Model
Menitikberatkan pada langklah sistematis melaksanakan nilai. Klarifikasi nilai ini
merupakan bentuk komunikasi dialogis guru murid dalam memantapkan nilai yang
dihayati murid atas pengarahan guru
 Klarifikasi Nilai atau Clarification
Menitikberatkan langkah sistematis dalam menghayati, memahami dan
melaksanakan nilai.
Langkah-langkahnya adalah :
I. Bangga atas nilai dan perilaku
1. Menunjukan rasa senang dan bangga
2. Mengatakan nilai pada orsng lain
II. Memilih nilai dan perilaku
3. Memilih dari berbagai kemungkinan
4. Memilih setelah mengujinya
5. Memilih dengan bebas
III. Bertindak atas dasar pilihan itu
6. Bertindak atau berperilaku
7. Bertindak sesuai pola secara konsisten

 Klarifikasi nilai terintegrasi struktur


Menitikberatkan pada pembelajaran nilai melalui proses analisis konsep bidang
studi. Model tersebut akan terbentuk model perpaduan atau model eklektik yang
dalam modul ini akan dikemukakan sebagai berikut :
1. Pendekatan ekspositori berorientasi nilai dan sikap
Tujuannya adalah menyampaikan nilai sikap secara dialogis melalui ceramah,
peragaan dan tanya jawab

2. Pendekatan analitik keteladanan


Tujuannya adalah menangkap nilai/sikap melalui analisis sampel keteladanan
dalam masyarakat dalam berbagai bidang, di berbagai tempat, dan dalam berbagai
era/kurun waktu dan memotivasi untuk mengadaptasi keteladanan itu

3. Pendekatan kajian nilai


Tujuannya menangkap nilai melalui kajian nilai sistematis dan mendasar

4. Pendekatan integratif konsep dan nilai


Tujuannya adalah menangkap nilai tang melekat atau merupakan implikasi
dan suatu konsep melalui kajian akademis