You are on page 1of 15

BAB II

2.4 Epidemiologi
Penyakit akibat infeksi virus dengue tersebar di seluruh wilayah Asia
Tenggara, Pasifik Barat dan Karibia. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan
sebaran di seluruh wilayah tanah air. Tabel 2.1 menunjukkan jumlah kasus dan
angka kematian di Indonesia dari tahun 2008 sampai 2012.
Tabel 2.1. Jumlah Kasus dan Angka Kematian DBD di Indonesia, Tahun 2008-
20122
Tahun Jumlah Kasus Angka Kematian (%)
2008 137.469 0.86
2009 154.855 0.89
2010 156.086 0.87
2011 65.725 0.80
2012 90.245 0.88

Infeksi virus dengue ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya


aegipty dan Stegomiya albopictus. Transmisi virus bergantung dari faktor biotik
dan abiotik. Faktor biotik antara lain faktor virus, vektor nyamuk, dan pejamu
manusia. Faktor abiotik adalah suhu lingkungan, kelembaban dan curah hujan.1

2.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis infeksi virus dengue sangat luas, dapat bersifat
asimptomatis, demam tidak khas/sulit dibedakan dengan infeksi virus lain (sindrom
virus/viral syndrome, undifferentiated fever), demam dengue (dengue fever/DF),
demam berdarah dengue (dengue hemorragic fever/DHF) dan expanded dengue
syndrome/organopati dengan manifestasi klinis yang tidak lazim.3
Gambar 2.1. Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue1

- Sindrom Virus
Bayi, anak dan dewasa yang terinfeksi virus dengue untuk pertama kali
(infeksi primer) umumnya menunjukkan manifestasi klinis berupa demam
sederhana yang tidak khas yang sulit dibedakan dengan demam akibat infeksi virus
lain. Ruam makulopapular dapat menyertai demam atau pada saat penyembuhan.
Gejala gangguan nafas dan pencernaan sering ditemukan.3
Sindrom virus akan sembuh sendiri (self limited) namun dikhawatirkan
apabila di kemudian hari terkena infeksi yang kedua dengan serotipe virus yang
berbeda, manifestasi klinis yang diderita lebih berat berupa demam dengue, demam
berdarah dengue atau expanded dengue syndrome.1

- Demam Dengue
Demam dengue sering ditemukan pada anak besar, remaja dan dewasa,
berupa demam akut (acute febrile illness/AFI), terkadang demam bifasik dengan
masa inkubasi dengan rata-rata 4-6 hari (rentang 3-14 hari) timbul gejala berupa
demam, mialgia, sakit punggung, atralgia, muntah, fotofobia, nyeri retroorbital
pada saat mata digerakkan atau ditekan dan gejala lain yang tidak spesifik seperti
rasa lemah (malaise), anoreksia, dan gangguan rasa kecap.1 Gejala lain yang dapat
ditemukan berupa gangguan perncernaan (diare atau konstipasi), nyeri perut, sakit
tenggorok dan depresi.1
Demam umumnya timbul mendadak, tinggi (39 ºC – 40 ºC), terus menerus
(pola demam kurva kontinua), bifasik, biasanya berlangsung antara 2-7 hari. Pada
hari ketiga sakit umumnya suhu tubuh turun, namun masih diatas normal, kemudian
suhu naik tinggi kembali, pola ini disebut sebagai pola demam bifasik.
Ruam: pada hari demam pertama dan kedua dapat ditemukan erupsi
kemerahan pada wajah, leher dan dada. Pada hari demam ke-3 atau ke-4 ditemukan
ruam makulopapular atau rubeliformis, ruam ini segera berkurang sehingga
seringkali luput dari perhatian. Pada masa akhir periode demam timbul ruam atau
segera setelah suhu mulai turun ruam mulai memudar dan sejumlah petekie dapat
timbul di dorsum pedis, di betis, di tangan dan lengan. Pada masa konvalesens dapat
timbul ruam konvalesens yaitu petekie yang menyatu diselingi bercak –bercak putih
(white island in the sea of red) dapat disertai rasa gatal.3
Manifestasi perdarahan umumnya sangat ringan berupa uji tourniquet yang
positif (≥10 petekie dalam area 2,8 x 2,8 cm). Pada beberapa kasus demam dengue
manifestasi perdarahan berat seperti perdarahan saluran gastrointestinal,
hipermenorea dan epistaksis masif dapat terjadi, namun jarang ditemukan. Demam
dengue dengan manifestasi perdarahan harus dibedakan dengan demam berdarah
dengue.1,3
- Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue lebih sering pada anak berusia kurang dari 15 tahun
pada area hiperendemik, berhubungan dengan infeksi berulang virus dengue.3
Manifestasi klinis DBD dimulai dengan demam tinggi, mendadak, kontinyu,
kadang bifasik, berlangsung antara 2-7 hari.1 Demam disertai gejala lain yang
ditemukan pada demam dengue, namun yang membedakan adalah pada DBD
terjadi kebocoran plasma (plasma leakage) yang dimulai sekitar transisi dari fase
febril ke fase afebril yang secara klinis berbentuk efusi pleura, apabila kebocoran
plasma lebih berat ditemukan asites. Peningkatan hematokrit 10% - 15% diatas
baseline merupakan eviden awal dari kebocoran plasma.3
Manifestasi klinis DBD terdiri dari 3 fase yaitu fase demam, kritis serta
konvalesens (Gambar 2.2).
Gambar 2.2 Perjalanan penyakit infeksi dengue4

1. Fase Demam
Demam umumnya timbul mendadak, tinggi (39 ºC – 40 ºC). Fase
demam akut biasanya berlangsung 2-7 hari dan sering disertai muka
kemerahan (facial flushing), eritema pada kulit, mialgia, artralgia dan nyeri
kepala. Beberapa pasien mungkin mengalami nyeri tenggorokan, faring
hiperemis dan injeksi konjungtiva. Anoreksia, mual dan muntah sering
ditemukan.4
Manifestasi perdarahan ringan seperti petekie dan perdarahan membran
mukosa (gusi dan hidung) dapat ditemukan. Perdarahan saluran
gastrointestinal dan perdarahan masif pervaginam (pada wanita usia
melahirkan) dapat terjadi pada fase ini namun jarang ditemukan. Hepar
seringkali membesar dan terdapat nyeri tekan setelah beberapa hari demam.
Abnormalitas awal dari hitung sel darah adalah menurunnya total hitung sel
darah putih, yang menandakan kemungkinan besar daripada infeksi dengue.4
2. Fase Kritis
Fase kritis terjadi saat demam mulai turun, ketika suhu tubuh turun ke
37,5 ºC – 38 ºC atau lebih rendah dan tetap pada rentang ini, biasanya pada
hari sakit ke 3-7, peningkatan permeabilitas kapiler paralel dengan
peningkatan hematokrit dapat terjadi. Periode kebocoran plasma yang
signifikan biasanya berlangsung dalam 24-48 jam.4
Progresif leukopeni diikuti dengan penurunan drastis hitung platelet
biasanya mendahului kebocoran plasma. Pada titik ini pasien tanpa
peningkatan daripada permeabilitas kapiler dapat mulai membaik, sedangkan
yang dengan peningkatan permeabilitas kapiler akan memburuk dengan
hilangnya volume plasma. Derajat kebocoran plasma bervariasi, efusi pleura
dan ascites dapat ditemukan tergantung pada derajat kebocoran plasma dan
volume dari terapi cairan. Rontgen thorax dan USG abdomen dapat menjadi
pemeriksaan penunjang diagnosis. Derajat peningkatan hematokrit diatas
baseline sering menjadi penanda keparahan dari kebocoran plasma.4
Syok terjadi ketika kritikal volume dari plasma darah hilang melalui
kebocoran plasma. Suhu tubuh dapat subnormal ketika syok terjadi. Dengan
prolonged syok, konsekuensi dari hipoperfusi mengakibatkan gangguan
organ progresif, asidosis metabolik dan koagulasi intravaskular diseminata.
Perdarahan hebat yang terjadi menyebabkan penurunan hematokrit dan
jumlah leukosit yang semula leukopenia dapat meningkat sebagai respon stres
pada pasien dengan perdarahan hebat. Beberapa pasien masuk ke fase kritis
perembesan plasma kemudian mengalami syok sebelum demam turun, pada
pasien tersebut peningkatan hematokrit dan trombositopenia yang terjadi
sangat cepat.1,4
3. Fase Penyembuhan (fase konvalesens)
Apabila pasien dapat melalui fase kritis yang berlangsung sekitar 24-48
jam, terjadi reabsorpsi cairan dari ruang ekstravaskular ke dalam ruang
intravaskular yang berlangsung secara bertahap pada 48-72 jam berikutnya.
Keadaan umum dan nafsu makan membaik, gejala gastrointestinal mereda,
status hemodinamik stabil dan diuresis meningkat. Pada beberapa pasien
dapat ditemukan ruam konvalesens, beberapa kasus lain dapat disertai
pruritus umum. Bradikardi dan perubahan elektrokardiografi pada umumnya
terjadi pada tahap ini.4
Hematokrit kembali stabil atau mungkin lebih rendah karena efek dilusi
cairan yang direabsorbsi. Jumlah leukosit mulai meningkat setelah penurunan
suhu tubuh tetapi pemulihan trombosit umumnya lebih lambat. Gangguan
pernapasan akibat efusi pleura masif dan ascites, edema paru atau gagal
jantung kongestif akan akan terjadi selama terutama pada fase penyembuhan
jika terapi cairan intravena diberikan secara berlebihan.4

- Sindrom Syok Dengue


Sindrom syok dengue (SSD) / dengue syok syndrome (DSS) merupakan syok
hipovolemik yang terjadi pada DBD, yang diakibatkan peningkatan permeabilitas
kapiler yang disertai perembesan plasma. Syok dengue umumnya terjadi pada fase
kritis, dan seringkali didahului oleh tanda bahaya (warning sign). Pasien yang tidak
mendapat cairan intravena yang adekuar akan segera mengalami syok.1

- Expanded Dengue Syndrome


Expanded dengue syndrome (EDS) merupakan manifestasi klinis yang tidak
lazim/jarang ditemukan namun dilaporkan dari berbagai negara termasuk
Indonesia. Manifestasi klinis tersebut berupa keterlibatan organ seperti hati, ginjal,
otak maupun jantung yang berhubungan dengan infeksi dengue dengan atau tidak
ditemukannya tanda kebocoran plasma. Manifestasi klinis yang jarang ini terutama
disebabkan oleh kondisi syok yang berkepanjangan dan berlanjut menjadi gagal
organ atau pasien dengan komorbidita atau co-infeksi. Maka dapat disimpulkan
bahwa EDS dapat berupa penyulit infeksi dengue dan manifestasi klinis yang tidak
lazim. Penyulit infeksi dapat berupa kelebihan cairan (fluid overload) dan gangguan
elektrolit, sedangkan manifestasi klinis yang tidak lazim dapat berupa enselopati
dengue atau ensefalitis, perdarahan hebat (massive bleeding), infeksi ganda (dual
infection), kelainan ginjal dan miokarditis.1,3

2.6 Faktor Resiko


Transmisi dari virus dengue tergantung pada faktor biotik dan abiotik. Faktor
biotik termasuk virus dengue itu sendiri, vektor dan host (pejamu). Faktor abiotik
termasuk temperatur, kelembaban dan curah hujan.3
2.6.1 Virus
Virus dengue termasuk anggota genus Flavivirus dan famili Flaviviridae.
Virus ini mengandung rantai tunggal RNA sebagai genom. Genom daripada dengue
virus terdiri atas 11.644 nukleotida dan terdapat tiga protein struktural yaitu
nukleokaprid atau core protein (C), protein membran (M) dan protein envelope (E)
dan tujuh protein non-struktural (NS) protein. Diantara protein non-struktural,
envelope glycoprotein, NS1 merupakan penanda diagnostik yang penting.1,3
Virus dengue membentuk kompleksitas yang berbeda dari genus Flavivirus
lainnya berdasarkan antigenik dan karasteristik biologis. Terdapat 4 serotipe dari
virus, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4. Infeksi dari salasatu
serotipe akan mengakibatkan imunitas seumur hidup terhadap virus dengan serotipe
tersebut. Keempat serotipe memiliki kandungan antigen yang hampir serupa
sehingga dapat menimbulkan perlindungan silang selama beberapa bulan setelah
infeksi dari salahsatu serotipe virus. Infeksi sekunder dari serotipe yang lain atau
infeksi multipel dengan serotipe yang berbeda dapat menyebabkan manifestasi
klinis yang berat dari demam dengue (sindrom syok dengue).3
Keempat serotipe virus dengue telah berhubungan dengan epidemi dari
demam dengue (dengan atau tanpa demam berdarah dengue) dengan tingkat
keparahan yang berbeda-beda.3
2.6.2 Vektor Dengue
Nyamuk Aedes (Stegomyia) aegypti dan Aedes (Stegomyia) albopictus
merupakan dua vektor penting dari transmisi virus dengue. Nyamuk Aedes
(Stegomyia) aegypti berasal dari Afrika, awalnya merupakan spesies liar,
berkembang biak di hutan, independen dari manusia. Kemudian spesies beradaptasi
di lingkungan peridomestik dengan berkembang biak di penampungan air di regio
Afrika. Perdagangan budak dan komersial dengan dunia luar pada abad ke 17-19
membawa spesies nyamuk ini ke “Dunia Baru” dan Asia Tenggara. Sekarang,
Aedes (Stegomyia) aegypti merupakan spesies kosmotropikal, berada di antara
ketinggian 45ºN dan 35ºS.3
Aedes (Stegomyia) albopictus termasuk ke dalam scutellaris grup subgenus
dari Stegomyia. Spesies ini berasal dari Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik Barat
dan Samudera India. Namun selama beberapa dekade terakhir spesies ini telah
menyebar ke Afrika, Asia Barat, Eropa dan Amerika.3
2.6.3 Host (Pejamu)
Dengue virus telah berkembang dari nyamuk, beradaptasi ke primata
kemudian ke manusia dalam proses evolusi. Viremia pada manusia mencapai titer
tertinggi pada hari kedua sebelum onset demam dan berlangsung selama 5-7 hari
setelah onset demam. Hanya diantara kedua periode ini vektor dapat menyebabkan
infeksi. Penyebaran melalui perpindahan dari host (manusia) dikarenakan
perpindahan vektor yang terbatas.3
Kerentanan manusia terhadap infeksi virus dengue tergantung pada status
imun dan predisposisi genetik.3
2.6.4 Musim dan Intensitas Transmisi Virus Dengue
Transmisi virus dengue biasanya terjadi pada musim hujan ketika temperatur
dan kelembaban memadai untuk populasi vektor berkembang biak di habitat
sekunder dan juga memperpanjang masa hidup nyamuk. Suhu kamar, selain
mempercepat siklus hidup dari Ae. aegypti dan mengakibatkan produksi nyamuk
ukuran kecil, juga mengurangi periode ekstrinsik inkubasi dari virus. Nyamuk
betina berukuran kecil memerlukan lebih banyak darah dari pejamu untuk produksi
telur, mengakibatkan lebih banyak individu yang terinfeksi dan mempercepat
epidemi selama musim kering.3
2.6.5 Faktor Lain yang Mempengaruhi Peningkatan Pembiakan Vektor
Urbanisasi
Berdasarkan laporan PBB, sekitar 40% dari populasi di negara berkembang
tinggal di daerah perkotaan, yang mana akan meningkat menjadi 56% pada 2030
dikarenakan migrasi dari pedesaan ke perkotaan. Kegagalan dari pemerintah kota
untuk menyediakan kebutuhan masyrakat yang memadai untuk mengatasi
urbanisasi ini akan meningkatkan pemukiman kumuh yang menjadi sarang nyamuk
berkembang biak. Hal ini akan meningkatkan penularan daripada virus Ae. aegypti.3
Peningkatan Perjalanan Global
Dengan meningkatkan wisata dan perdagangan, terdapat kemungkinan tinggi
untuk penularan virus dengue kepada turis yang bukan berasal dari daerah
endemik.3

2.7 Komplikasi
Komplikasi dari demam dengue dapat berupa perdarahan yang berhubungan
dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya seperti ulkus peptikum. Dapat juga
terjadi perdarahan akibat trombositopenia dan trauma.
Komplikasi dari demam berdarah dengue dapat berupa syok yang mengarah
ke asidosis metabolik dan perdarahan berat kemudian kegagalan organ multipel.
Terapi cairan yang berlebihan pada masa konvalesens dapat mengakibatkan
gangguan respirasi, kongesti paru dan gagal jantung. Syok yang berkepanjangan
dan komorbid yang lain juga dapat mengakibatkan manifestasi klinis yang tidak
biasa seperti ensefalopati seperti yang terdapat pada expanded dengue syndrome
(EDS).1,3

DAFTAR PUSTAKA

1. Hadinegoro Sri R, Moedjito Ismoedijanto, Chairulfatah Alex. Pedoman


Diagnosis dan Tata Laksana Infeksi Virus Dengue pada Anak. UKK Infeksi
dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014.
2. Direktorat Jenderal PP-PL Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Data
Ditjen PP-PL Kemenkes RI 2012. Buku Informasi PP-PL Kemenkes RI.
2013.
3. World Health Organization. Comprehensive Guidelines for Prevention and
Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. World Health
Organization, Regional Office for South-East Asia. 2011.
4. World Health Organization. Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment,
Prevention and Control. A joint publication of the World Health Organization
(WHO) and the Special Programme for Research and Training in Tropical
Diseases (TDR). 2009.

4. Pengetahuan
Pengetahuan adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran
seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan dan hubungan dengan
lingkungan dan alam sekitarnya.1 Pengetahuan ini meliputi emosi, tradisi,
keterampilan , informasi, akidah dan pikiran-pikiran.2 Pengetahuan merupakan
faktor yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan
juga sangat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan seseorang.3 pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi
materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman
pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan. Hasil dari
pengukuran pengetahuan dapat digunakan dalam sebuah penelitian terkait dengan
kejadian sebuah penyakit.1,4
4.1 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2007) ada enam tingkatan pengetahuan yang dicakup
dalam domain kognitif, yaitu:5
1. Mengetahui
Tahu yang diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat
kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang diterima. Tahu ini merupakan tingkat
pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang
tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami
Memahami yang diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan
materi tersebut dengan benar.
3. Menerapkan
Menerapkan diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat
diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke
dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam satu struktur organisasi
dan masih ada kaitannya satu dengan lainnya. Kemampuan analisis ini dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat menggambarkan,
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis
Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru,
dengan kata lain sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi-
formulasi yang ada.
6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian-penilaian ini didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria
yang telah ada.
4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
Notoatmojo (2007) menyatakan bahwa usia, pendidikan, informasi, minat,
sikap, dukungan keluarga berpengaruh terhadap kesehatan agar tercapainya derajat
kesehatan masyarakat yang optimal termasuk tingkat pengetahuan.5
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu:
1. Usia
Usia adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai saat ini dalam
satuan tahun. Usia merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan yang
baru.5
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambahnya usia akan semakin berkembang pula daya tangkap
dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik.
Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan
kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya
upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya akan
lebih banyak menggunakan waktu untuk membaca. Kemampuan intelektual,
pemecahan masalah, dan kemampuan verbal dilaporkan tidak ada penurunan
pada usia ini.2
2. Pendidikan
Pendidikan adalah proses pertumbuhan seluruh kemampuan dan perilaku
melalui pengajaran, sehingga pendidikan itu perlu mempertimbangkan usia
(proses perkembangan) dan hubungannya dengan proses belajar. Tingkat
pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi
seseorang untuk lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi yang baru.5
Pengetahuan seseorang tentang sesuatu objek juga mengandung dua aspek
yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek inilah yang akhirnya akan
menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu. Semakin banyak aspek
positif yang diketahui, akan menumbuhkan sikap positif terhadap objek
tersebut. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi persepsi
seseorang untuk menerima informasi yang lebih baik.6
3. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan seseorang setiap hari dalam
menjalankan kehidupannya. Seseorang bekerja diluar rumah cenderung
memiliki akses yang baik terhadap informasi dibandingkan sehari-hari berada
di rumah.5
4. Informasi
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang. Bila seseorang banyak memperoleh informasi, maka
ia cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih luas.5
5. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik
lingkungan fisik, biologis maupun sosial. Lingkungan berpengaruh terhadap
proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam
lingkungan tersebut.5
6. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulangi kembali
pengetahuan yang diperoleh memecahkan masalah yang dihadapi di masa
lalu.5
4.3 Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat diketahui dengan cara orang yang
bersangkutan mengungkap akan hal-hal yang diketahuinya dalam bentukj jawaban
baik lisan maupun tulisan.5
Pertanyaan (test) yang dapat dipergunakan untuk pengukuran pengetahuan
secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Pertanyaan subjektif
Pertanyaan essay disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk
pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif dari penilaian, sehingga cara
menilainya akan berbeda-beda.
2. Pertanyaan objektif
Pertanyaan pilihan ganda, menjodohkan, benar atau salah disebut pertanyaan
objektif karena pertanyaan ini dapat dinilai secara pasti oleh penilainya tanpa
melibatkan faktor subjektifitas.
Pengukuran tingkat pengetahuan menurut Rustaman (2007) terdiri dari:7
1. Baik, jika 76-100% pertanyaan dapat dijawab dengan benar.
2. Cukup, jika 56-75% pertanyaan dapat dijawab dengan benar.
3. Kurang, jika <56% pertanyaan dapat dijawab dengan benar.
Daftar Pustaka:
1. Muharromi, Rianti. Efektivitas Penyuluhan Sadari Terhadap Pengetahuan
dan Sikap Mahasiswi Politeknik Negeri Sambas di Kecamatan Sambas Tahun
2014. Pontianak: Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura. 2010.
2. Saputra, Ginto. Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Terkait
HIV/AIDS pada Siswa-Siswi Kelas 3 SMA PGRI Kota Bogor. Jakarta:
Laboratorium Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. 2008.
3. Potter, Perry. Fundamental of Nursing: Konsep, Proses dan Praktik. Buku 1.
Jakarta: Salemba Medika, 2009.
4. Imeldyanti, Auvka. Hubungan Pengetahuan Sikap Remaja Putri Terhadap
Perilaku SADARI di SMUN 2 Pasar Kemis Kabupaten Tangerang Tahun
2010. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2010
5. Notoatmojo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku: Teori dan Aplikasi.
Jakarta: Bhineka Cipta. 2007.
6. Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI.
Jakarta: Rineka Cipta. 2006.
7. Rustaman NY. Perkembangan Penelitian Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam
Pendidikan Sains. Bandung: FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. 2007.