You are on page 1of 4

Radioaktivitas

Radioaktivitas adalah peluruhan atau penyusunan ulang struktur-struktur internal secara


spontan. Peluruhan terjadi pada sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini
adalah sebuah proses acak sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom.
Radioaktivitas pertama kali ditemukan pada tahun 1896 oleh fisikawan Perancis Henri Becquerel
(1852-1908) ketika sedang bekerja dengan material fosforen (King & Regev, 1997).
Radioaktivitas di Indonesia diterapkan dalam berbagai hal seperti untuk kesehatan dan lainnya.
Lembaga di Indonesia yang mengatur tentang hal ini adalah Badan Tenaga Nuklir Indonesia
(BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) yang mengurusi masalah
pengembangan, penelitian dan pengawasan nuklir di Indonesia.

Radioaktivitas sendiri diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Indonesia nomor 02/Ka-BAPETEN/V-99 tentang “Baku Tingkat Radioaktivitas di Lingkungan”.
Dalam keputusan tersebut dijelaskan tentang definisi radioaktivitas sebagai besaran yang
menyatakan kekuatan sumber radioaktif yaitu banyaknya /jumlah inti radioaktif yang
mengalami proses peluruhan per satuan waktu (BATAN, 1999). Dalam keputusan tersebut,
diterangkan mengenai nilai batas radioaktivitas di udara dan air.
Di Jawa Barat, penggunaan radioaktivitas dalam menghitung umur batuan/ fosil telah
dilakukan oleh beberapa tim arkeolog Indonesia. Seperti tim arkeologi Universitas Indonesia yang
telah meneliti batuan pada candi Batujaya di antara Desa Segaran dan Telagajaya, Kecamatan
Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat pada tahun 1984.

Gambar 1 Kerangka Prasejarah di kompleks situs Batujaya, Karawang


Waktu Paro/Paruh (Half Time)
Waktu paro adalah selang waktu yang dibutuhkan agar aktivitas radiasi berkurang
setengah dari aktivitas semula. Waktu paro juga dapat didefinisikan sebagai selang waktu yang
dibutuhkan agar setengah dari inti radioaktif yang ada meluruh (Tipler, 1998), Untuk
menghitungnya digunakan rumus :

Keterangan:
T1/2 : Waktu paro
In : Logaritma Natural
λ : tetapan peluruhan (S-1)

Sementara untuk menghitung umur bahan radioaktif digunakan persamaan diatas dengan:

Keterangan:
t: umur fosil,

N/No: perbandingan kandungan C-14 pada fosil jaringan hidup,

T1/2: waktu paro (dalam fosil dikenal T1/2 Carbon-14 = 5730 tahun.

(-0,693): hasil logaritma natural (ln) 1/2

In: Logaritma Natural (Logaritma dengan bilangan pokok e)

Elemen radioaktif ini berangsur-angsur meluruh sehingga hilanglah sifat radioaktivitasnya


menjadi radioaktif yang massanya menjadi separuh, waktu peluruhannya disebut waktu paruh atau
half life (Yuwono, 2007). Waktu paruh bisa menjadi sangat pendek atau sangat panjang. Tabel 3.1
menunjukkan waktu paruh (t1/2) dari beberapa jenis isotop radioaktif.

Cuplikan waktu paruh penting untuk diketahui, sebab dapat digunakan untuk menentukan
kapan suatu bahan radioaktif aman untuk ditangani. Aturannya adalah suatu cuplikan dinyatakan
aman bila radioaktivitasnya telah turun sampai di bawah batas pengamatan (ini terjadi setelah
10 kali waktu paruh). Aplikasi waktu paruh yang sangat berguna adalah pada pelacakan radioaktif.
Ini berhubungan dengan penentuan usia benda-benda kuno (Benton, 2008).
Karbon 14 (C-14) adalah isotop karbon radioaktif yang dihasilkan di atomosfer bagian atas oleh
radiasi kosmis. Senyawa utama di atmosfer yang mengandung karbon adalah karbon dioksida
(CO2). Sangat sedikit sekali jumlah karbon dioksida yang mengandung isotop C-14. Tumbuhan
menyerap C-14 selama fotosintesis. Dengan demikian, C-14 terdapat dalam struktur sel tumbuhan.
Tumbuhan kemudian dimakan oleh hewan, sehingga C-14 menjadi bagian dari struktur sel pada
semua organisme.
Selama suatu organisme hidup, jumlah isotop C-14 dalam struktur selnya akan tetap
konstan. Tetapi, bila organisme tersebut mati, jumlah C-14 mulai menurun. Para ilmuwan kimia
telah mengetahui waktu paruh dari C-14, yaitu 5730 tahun. Dengan demikian, mereka dapat
menentukan berapa lama organisme tersebut mati.
Daftar Rujukan

BATAN, B. T. A. N., 1999. Keputusan Kepala BAPETEN No. 5 Tahun 1999 tentang Baku
Tingkat Radioaktivitas di Lingkungan. [Online]

Benton, M. J., 2008. Vertebrae Palaeontology. London: Blackwell Publishing.

King, A. R. & Regev, O., 1997. Physics with Answer. Cambridge: Cambridge University
Press.

Tipler, P. A., 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Yuwono, T., 2007. Biologi Molekular. Jakarta: Penerbit Erlangga