You are on page 1of 8

I.

PENDAHULUAN

Sejak masa lalu manusia telah menghadapi bencana alam yang berulan kali melenyapkan populasi
mereka. Pada zaman dahulu, manusia sangat rentan akan dampak bencana alam dikarenakan keyakinan
bahwa bencana alam adalah hukuman dan simbol kemarahan dewa-dewa. Semua peradaban kuno
menghubungkan lingkungan tempat tinggal mereka dengan dewa atau tuhan yang dianggap manusia
dapat memberikan kemakmuran maupun kehancuran. Kata bencana dalam Bahasa Inggris "disaster"
berasal dari kata Bahasa Latin "dis" yang bermakna "buruk" atau "kemalangan" dan "aster" yang
bermakna "dari bintang-bintang". Kedua kata tersebut jika dikombinasikan akan menghasilkan arti
"kemalangan yang terjadi di bawah bintang", yang berasal dari keyakinan bahwa bintang dapat
memprediksi suatu kejadian termasuk peristiwa yang buruk.

Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai
salju, dan masih banyak lagi. Dalam makalah kali ini saya akan lebih spesifik menjelaskan tentang gempa
vulkanik, Tsunami, runtuhan/pergerakan tanah, dan liquifaksi. Maka dari itu perkenankan saya untuk
menjelaskan sedikit materi yang telah saya rangkum dari bahan di atas.

II. PEMBAHASAN

A. Gempa Vulkanik

Gempa vulkanik atau gempa gunung api merupakan peristiwa gempa bumi yang di sembabkan oleh
tekanan magma dalam gunung berapi. Gempa ini dapat terjadi sebelum dan sesudah letusan gunung
api. Getarannya kadang-kadang dapat di rasakan oleh manusia dan hewan sekitar gunung berapi itu
berada. Perkiraan meletusnya gunung berapi salah satunya di tandai dengan sering terjadinya getaran-
getaran gempa vulkanik.

Adapun tipe gunung api dapat di tentukan berdsarkan karakter yang di miliki gunung api tersebut.
Berikut 7 tipe gunung api yang ada di dunia:

- Tipe Hawaian

Gunung api tipe Hawwaian memiliki ciri:


1) magma/lava yang sangat cair,
2) dapur magma sangat dangkal
3) tekanan gas (viskositas) rendah.
Contoh gunung api tipe Hawaaian seperti: gunung Maona Loa, Maona Kea dan Kilauea yang
semua berada di Kepulauan Hawai Amerika Serikat

- Tipe Stromboli

Gunung api tipe Stromboli memiliki ciri:


1) Lava/magma sangat encer,
2) kedalaman dapur magma dangkal
3) tekanan gas (viskositas) sedang
Contoh gunung api yang memiliki tipe stromboli seperti gunug Visuvius (Itali, Eropa) dan
gunung Raung (Jawa Timur)

- Tipe Perret

Gunung api tipe perret atau plinian dikenal sebagai tipe gunung api dengan letusan yang paling
berbahaya. Tipe gunung api memiliki ciri:
1) Lava encer
2) Tekanan gas/viskositasnya sangat tinggi
3) Kedalaman dapur magma sangat dalam
Gunung api yang memiliki ciri-ciri tersebut adalah gunung Krakatau (Indonesia) dan St. Helens
(Amerika Serikat)

- Tipe Merapi
Gunung api tipe Merapi, memiliki keunikan dengan awan panas yang sering dikenal oleh
masyarakat sekitar dengan sebutan wedus gembel. Awan panas ini keluar saat erupsi dan
meluncur menuruni lereng sangat cepat mencapai lebih dari 200km/jam. Warna yang abu-abu
bergumpal terlihat dari kejauhan seperti kambing biri-biri (wedus gembel) yang berlarian
menuruni lereng.
Tipe gunung api memiliki ciri:
1) Keadaan lava kurang encer
2) Tekanan gas atau viskositasnya rendah
3) Memiliki dapur magma yang sangat dangkal
Gunung Merapi di Jawa Tengah Indonesia merupakan contoh dari gunung api tipe ini.

- Tipe Pelle

Gunung api tipe pelle memiliki ciri:


1) Magma atau lava kurang encer
2) Tekanan gas/viskositas sangat tinggi
3) Dapur magma dangkal
Contoh gunung api tipe ini adalah gunung Pelle di Amerika Tengah.
- Tipe St. Vincent

St Vincent merupakan tipe gunung api dengan ciri-ciri:


1) Lava atau magma kurang encer
2) Tekanan gas / viskositas sedang
3) Dapur magma dangkal
Gunung St Vincent di Kepulauan Antiles di laut Karibia Amerika dan gunung Kelud di Jawa
Timur merupakan contoh dari tipe gunung api ini.

B. Tsunami

Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti
"ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebakan oleh perubahan permukaan
laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa
bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman
meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam
gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang
tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500–1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat
terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang
tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang
tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai
puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai.
Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun
material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-
tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin
lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan
gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat
minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.

geologi, geografi, dan oseanografi pada masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik".

Dalam catatan badan sains Amerika, NOAA, tsunami yang tercatat pertama kali pada tahun 416,
terjadi di sekitar Laut Jawa. Kemudian pada 1608 hingga 1690 tsunami terjadi selama 13 kali,
terdapat lebih dari 2000 korban meninggal, yang tercatat pada tsunami di sekitar laut Banda pada
1674. dengan ketinggian gelombang hingga 100 meter, termasuk salah satu tsunami yang paling
tinggi yang pernah terjadi di Indonesia.
Tsunami juga merenggut 1200 korban jiwa di Bali pada 1815, dengan skala gempa saat itu
berkekuatan 7,0 pada skala Richter.
Erupsi Gunung Krakatau yang akhirnya menyebabkan tsunami menyebabkan setidaknya lebih
dari 30.000 orang meninggal pada 1883, dengan ketinggian gelombang sampai 41 meter.
Tsunami selanjutnya yang disebabkan oleh erupsi Gunung Krakatau terjadi pada 1930, menurut data
NOAA, dengan ketinggian gelombang mencapai 500 meter, tsunami tertinggi yang pernah terjadi di
Indonesia, data tentang korban jiwa tidak tercatat.

Tsunami yang terjadi pada abad ke-20

Catatan tsunami sejak 1992 hingga 2018 sebanyak 37 kali.


Tsunami di Flores dengan skala magnitudo 7,8 pada desember 1992 menewaskan 1169 jiwa,
ketinggian gelombang kala itu mencapai 26 meter. Rentetan tsunami terus terjadi sejak 1994
hingga yang paling besar pada 2004.
Tsunami Aceh, dan sebagian wilayah pesisir barat Sumatera, mengakibatkan korban jiwa sekitar 120.000
dari lebih 230.000 di sejumlah negara di seputar Samudra Hindia. Tinggi gelombang yang tercatat sampai
50 meter.
Pada 2018, tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, ketinggian gelombang yang
tercatat di pusat data NOAA mencapai 11 meter, dengan korban jiwa lebih dari 1.500 orang dan sekitar
1.000 kemungkinan terkubur sampai Jumat (05/10).

C. Runtuhan/Pergerakan Tanah

Gerakan tanah adalah suatu konsekuensi fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat
gangguan keseimbangan lereng yang terjadi, baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia. Gerakan
tanah akan terjadi pada suatu lereng, jika ada keadaan ketidakseimbangan yang menyebabkan terjadinya
suatu proses mekanis, mengakibatkan sebagian dari lereng tersebut bergerak mengikuti gaya gravitasi,
dan selanjutnya setelah terjadi longsor, lereng akan seimbang atau stabil kembali. Jadi longsor merupakan
pergerakan massa tanah atau batuan menuruni lereng mengikuti gaya gravitasi akibat terganggunya
kestabilan lereng. Apabila massa yang bergerak pada lereng ini didominasi oleh tanah dan gerakannya
melalui suatu bidang pada lereng, baik berupa bidang miring maupun lengkung, maka proses pergerakan
tersebut disebut sebagai longsoran tanah. Menurut Suripin (2002) tanah longsor adalah merupakan bentuk
erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif
besar. Ditinjau dari segi gerakannya, maka selain erosi longsor masih ada beberapa erosi akibat gerakan
massa tanah, yaitu rayapan (creep), runtuhan batuan (rock fall), dan aliran lumpur (mud flow). Karena
massa yang bergerak dalam longsor merupakan massa yang besar maka sering kejadian longsor akan
membawa korban, berupa kerusakan lingkungan, yaitu lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur,
serta hilangnya nyawa manusia.
Proses terjadinya gerakan tanah melibatkan interaksi yang kompleks antara aspek geologi, geomorfologi,
hidrologi, curah hujan, dan tata guna lahan.
Secara umum faktor pengontrol terjadinya longsor pada suatu lereng dikelompokan menjadi faktor
internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari kondisi geologi batuan dan tanah penyusun lereng,
kemiringan lereng (geomorfologi lereng), hidrologi dan struktur geologi. Sedangkan faktor eksternal yang
disebut juga sebagai faktor pemicu yaitu curah hujan, vegetasi penutup, penggunaan lahan pada lereng,
dan getaran gempa.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyebutkan bahwa
daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana tanah longsor dikategorikan dalam kawasan fungsi
lindung. Sedangkan batasan kawasan lindung diatur lebih lanjut dalam Surat Keputusan Menteri
Pertanian Republik Indonesia Nomor 837/KPTS/UM/11/1980 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan
Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya.
Daerah perbukitan atau pegunungan yang membentuk lahan miring merupakan daerah rawan terjadi
gerakan tanah. Kelerengan dengan kemiringan lebih dari 20o (atau sekitar 40%) memiliki potensi untuk
bergerak atau longsor, namun tidak selalu lereng atau lahan yang miring punya potensi untuk longsor
tergantung dari kondisi geologi yang bekerja pada lereng tersebut.

D. Liquifaksi

Liquifaksi adalah fenomena pencarian tanah yang jenuh kehilangan kekuatannya, terjadi
biasa pada daerah-daerah yang banyak mengandung air atau dekat dengan sumber air seperti di
pantai . biasanya terjadi pada saat gempa bumi , sehingga tanah yang tadinya padat menjadi
cairan atau lumpur, hal ini membuat benda-benda di tanah (termasuk bangunan) bergerak sesuai
gerakan tanh yang sudah menjadi lumpur.

Suatu "kegagalan aliran" dapat muncul jika kekuatan tanah berkurang di bawah batas tekanan
yang dibutuhkan untuk mempertahan keseimbangan suatu kemiringan atau dasar bangunan
sebagai contoh. Hal ini dapat terjadi karena pembebanan monotonik atau siklis dan dapat terjadi
secara tiba-tiba serta menjadi bencana besar. Salah satu contoh historis adalah bencana Aberfan.
Athur Casagrande menyebut fenomena seperti ini sebagai 'pencairan aliran' meskipun keadaan
tekanan efektif nol tidak terwujud untuk kejadian tersebut.
III. KESIMPULAN

Dari penjelasan di atas saya dapat menyimpulkan, bahwa bencana alam dapat terjai kapan saja dan
kita tidak dapat mengetahui kapan bencana itu akan datang. Kita hanya dapat melakukan upaya
pencegahan dampak dari bencana alam tersebut, misalnya membuat peta rawan bencana. Dengan begitu
kita dapat mengetahui di mana saja lokasi-lokasi yang pantas dan yang tidak pantas untuk di bangun.

Dan juga setiap bencana alam yang terjadi pasti ada hikmah di balik semua itu sehingga kita dapat
lebih dekat lagi pada-Nya.

IV. DAFTAR PUSTAKA

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45708229
https://id.wikipedia.org/wiki/Pencairan_tanah
http://parfikh.blogspot.com/2008/12/gerakan-tanah-longsoran.html
https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45742383
https://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami
https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-
files/kontenkm/km2016/KM201624/materi3.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam
http://www.mistamajahp.com/pengertian-gempa-tektonik/#z