You are on page 1of 10

MAKALAH

BIMBINGAN KONSELING

LAYANAN PEMINATAN PESERTA DIDIK SECARA KLASIAL

Dosen Pengampu : Drs. Mukhlis, M. Ag

DISUSUN OLEH KELOMPOK XIII :

1. SATRIAJI PEBRIANSYAH : 170101223


2. ZAMNIA HIDAYATUL FIRQO : 170101225

REVIEWER :

1. REHANUN : 170101206
2. SYARIFAH ANNISA : 170101199
3. ZAINI MULIYADI : 170101198

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MATARAM

2019

i
DAFTAR ISI

COVER .......................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii

PEMBAHASAN

A. Hakekat Bimbingan Klasikal .............................................................................. 1


B. Tujuan Dan Manfaat Bimbingan Klasikal .......................................................... 2
C. Materi Bimbingan Klasikal ................................................................................ 3
D. Pelaksanaan Bimbingan Klasikal ....................................................................... 5
E. Langkah-Langkah Bimbingan Klasikal .............................................................. 6
F. Media Layanan Bimbingan Klasikal .................................................................. 7

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 8

ii
PEMBAHASAN

A. Hakekat Bimbingan Klasikal

Penjelasan pasal 54 (6) PP nomor 74 Tahun 2008 bahwa yang dimaksud dengan
mengampu layanan bimbingan dan konseling adalah pemberian perhatian, pengarahan,
pengendalian, dan pengawasan peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk
pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perorangan atau kelompok bagi
yang dianggap perlu dan yang memerlukan. Bimbingan klasikal merupakan suatu
layanan bimbingan yang diberikan kepada peserta didik sejumlah satuan kelas di kelas,
atau suatu layanan bimbingan yang diberikan oleh Guru bimbingan dan
konseling/Konselor kepada sejumlah peserta didik dalam satuan kelas yang
dilaksanakan di kelas. Bimbingan klasikal merupakan salah satu strategi pemberian
layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal.1

Bimbingan klasikal merupakan program bimbingan yang dirancang dengan


mengadakan pertemuan secara tatap muka dengan konselor, berbasis kelas. Pertemuan
diadakan secara terjadwal dengan materi yang telah diprogramkan dalam bentuk
program semester/tahunan. Pendekatan atau metode layanan menggunakan model
instruksional secara klasikal, seperti ekspositori, diskusi kelompok, permainan simulai,
bermain peran, dan sebagainya ( Depdiknas 2008: 219 ).2

Husairi, Achsan (2008: 98) menyebutkan bahwa “format layanan klasikal


merupakan format layanan bimbingan dan konseling yang melayani sejumlah peserta
didik dalam satu kelas”.3

Menurut Santoso (2011:139) bimbingan kelas(klasikal) adalah program yang


dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan para peserta
didik di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada
para peserta didik. Kegiatan bimbingan kelas ini bisa berupa diskusi kelas atau brain
storming (curah pendapat).

1
Modul
2
M. Ramli, dkk, “Bimbingan Klasikal Dan Kelompok”, SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA
PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIMBINGAN DAN KONSELING, hlm. 3.
3
Rismawati, “PELAKSANAAN LAYANAN KLASIKAL BIMBINGAN DAN KONSELING DI SMP NEGERI 3
KANDANGAN”, Jurnal Mahasiswa BK AN-NUR Vol. 1 No. 1, 2015, hlm. 66.

1
Menurut Delucia-Waack (2006:188) bimbingan kelas kadang terjadi saat
Konselor diminta hadir untuk memberikan topik mengenai harga diri, keterampilam
komunikasi, keluarga sehat, resolusi konflik, keterampilan persahabatan dan pecegahan
bullying. Pada bimbingan di dalam kelas kegiatan harus dikonseptualisasikan dalam
tahap yang sama (initial, working, terminasi) dan bagian-bagian yang sama dari setiap
sesi (opening, working, processing, closing) dalam rentang waktu yang jauh lebih
singkat.4

B. Tujuan Dan Manfaat Bimbingan Klasikal

Bimbingan klasikal sebagai salah satu strategi dalam pelayanan bimbingan dan
konseling memiliki tujuan untuk meluncurkan (delivery system) aktivitas-aktivitas
pelayanan yang mengembangkan potensi siswa atau mencapai tugas-tugas
perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral
spiritual), sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan nasional
sebagaimana yang dituangkan dalam UU No 20 Sisdiknas tahun 2003, bahwa
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.5

a. Tujuan Layanan Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan klasikal sangat dibutuhkan siswa-siswa yang tidak


mempunyai masalah maupun yang mempunyai masalah dapat terbantu, sehingga
mereka dapat belajar dengan baik. Menurut Downing ( Soetjipto dan Kosasai 200: 50 )
tujuan bimbingan di sekolah adalah membanu siswa :

1) Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh prestasi belajar


yang tinggi.
2) Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukan pada
saat proses belajar mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.

4
Adya Sakura, “Makalah Bimbingan Klasikal”, (http://gazebokonseling.blogspot.com/2014/04/makalah-
bimbingan-klasikal.html diakses pada 29 April 2019, 2019)
5
Modul

2
3) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
4) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan studi.
5) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perancanaan dan
pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka lulus.6
b. Fungsi Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan klasikal mempunyai berbagai fungsi, antara lain sebagai


berikut :

1) Dapat terjadinya interaksi sehingga saling mengenal antara Guru Bimbingan


dan Konselingatau konselor dengan peserta didik atau konseli.
2) Dapat terjalinnya hubungan emosional antara Guru Bimbingan dan Konseling
dengan peserta didik sehingga akan terciptanya hubungan-hubungan yang
bersifat mendidik dan membimbing.
3) Dapat terciptanya keteladanan dari Guru Bimbingan dan Konseling bagi
peserta didik yang dapat berpengaruh terhadap perubahan-perubahan sikap dan
perilaku lebih baik pada peserta didik.
4) Dapat sebagai wadah atau adanya media terjadinya komunikasi langsung
antara Guru Bimbingan Konseling dengan peserta didik, khusus bagi peserta
didik dapat menyampaikan permasalahan kelas atau pribadi atau curhat di
kelas.
5) Dapat terjadinya kesempatan bagi Guru Bimbingan Konseling melakukan tatap
muka,wawancara dan observasi terhadap kondisi peserta didik dan suasana
belajar di kelas.
6) Sebagai upaya pemahaman terhadap peserta didik dan upaya pencegahan,
penyembuhan, perbaikan, pemeliharaan, dan pengembangan pikiran, perasaan,
dan kehendak serta prilaku peserta didik.7
C. Materi Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan klasikal bukanlah kegiatan mengajar atau menyampaikan


materi pelajaran sebagaimana mata pelajaran yang dirancang dalam kurikulum

6
Muhammad Nurhadi, “Layanan Bimbingan Klasikal”, (https://id.scribd.com/doc/140832539/Layanan-
Bimbingan-Klasikal, Diakses pada 28 April 2019, 2019)

7
Ibid

3
pendidikan di sekolah, melainkan merancang suatu aktivitas yang memanfaatkan
dinamika kelompok yang dapat menumbuhkan kompetensi kemandirian untuk
mencapai perkembangan yang optimal dalam bidang belajar, pribadi, sosial dan karir.
Ruang lingkup materi untuk mengembangakan kompetensi dalam bidang belajar,
pribadi, sosial dan karir dapat diturunkan berdasarkan standar kompetensi kemandirian
peserta didik (SKKPD), asumsi teori tugas perkembangan (kondisi ideal berdasarkan
tugas perkembangan) dan kebutuhan individu yang diyakini mempunyai arti penting
bagi perkembangan peserta didik, hasil amatan langsung Guru bimbingan dan
konseling, serta materi yang didasarkan pada kebijakan sekolah/ pemerintah yang harus
diberikan kepada peserta didik/konseli. Selain itu, materi layanan bimbingan klasikal
dapat disesuaikan tujuan pendidikan nasional, falsafah negara dan agama. Materi yang
diberikan diharapkan dapat mengubah dan meningkatkan pola pikir, wawasan, sikap,
dan keterampilan serta perilaku yang baru untuk meningkatkan dan mencapai
kesuksesan dalam hidup dimasa yang akan datang.8

Materi bimbingan dalam strategi layanan bimbingan klasikal, dipersiapkan untuk


semua siswa, dirancang dalam program bimbingan yang akan dilaksanakan secara
terjadwal, tatap muka di kelas. Dalam menentukan materi yang dirumuskan dalam
bentuk topik-topik layanan, didasarkan pada kurikulum yang telah dikembangkan di
setiap sekolah, merujuk pada rambu-rambu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling
dalam Jalur Pendidikan Formal. Di samping itu juga didasarkan pada hasil need
asesmen yang telah dilaksanakan di setiap awal tahun ajaran baru dalam rangka
menyusun program bimbingan dan konseling baik program tahunan maupun program
semester.9

Secara teknis operasional, topik-topik bimbingan dalam bimbingan klasikal


ditentukan berdasarkan pada rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik
(SKKPD), pada setiap aspek perkembangan, sesuai dengan jenjang pendidikan
(SMP,SMA/MA/SMK). Sebab pada hakekatnya kompetensi yang dikembangkan
berdasarkan tugas perkembangan itulah yang harus dicapai oleh peserta didik, sesuai
dengan jenjang pendidikannya. Berdasarkan kompetensi kemandirian tersebut yang
8
Modul
9
M. Ramli, dkk, “Bimbingan Klasikal Dan Kelompok”, SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA
PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIMBINGAN DAN KONSELING, hlm. 13-14.

4
dirumuskan dalam tataran pengenalan, akomodasi dan tindakan, kemudian dirumuskan
topik-topik materi bimbingan yang relevan dengan kebutuhan (dari hasil need
assessment), untuk mencapai kompetensi yang dimaksud.10

Materi layanan bimbingan klasikal menurut Widyantoro ( Miqdad 200 : 14 )


materi pemahaman bahaya seks bebas perlu ditekankan adalah sebagai berikut :

a. Proses pertumbuhan anak-anak menuju dewasa, termasuk pertumbuhan organ-


organ seksualnya.
b. Segi etika dan prilaku seksual, peran sosial dari laki-laki dan wanita serta
tanggung jawab masing-masing baik sebelum maupun sesudah perkawinan.

Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa materi layanan


bimbingan klasikal untuk meningkatkan pemahaman tentang bahaya prilaku seks bebas
merupakan materi yang berkaitan dengan pengetahuan tentang perubahan-perubahan
pola pikir seorang remaja terhadap seks dan bahaya seks bebas.11

D. Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal

Layanan bimbingan klasikal merupakan layanan dalam bimbingan dan konseling.


Layanan klasikal berbeda dengan mengajar. Layanan ini juga memiliki beberapa
ketentuan dalam pelaksanaannya.12 Adapun perbedaannya antara mengajar dan
membimbing :

1) Layanan bimbingan klasikal bukanlah suatu kegiatan mengajar atau


menyampaikan materi pelajaran sebagaimana mata pelajaran yang dirancang
dalam kurikulum pendidikan disekolah, melainkan menyampaikan informasi
yang dapat berpengaruh terhadap tercapainya perkembangan yang optimal
seluruh aspek perkembangan dan tercapainya kemandirian peserta didik atau
konseli.

10
Ibid
11
Muhammad Nurhadi, “Layanan Bimbingan Klasikal”, (https://id.scribd.com/doc/140832539/Layanan-
Bimbingan-Klasikal, Diakses pada 28 April 2019, 2019)
12
Saiful Umam, Penggunaan Teknik Modeling Dalam Bimbingan Klasikal Untuk Meningkatkan
Kedisiplinan Siswa, Jurnal Bimbingan Dan Konseling IPI, Hal. 40.

5
2) Materi bimbingan klasikal berkaitan erat dengan domain bimbingan dan
konseling yaitu bimbingan belajar, pribadi, social, dan kariri, serta aspek-
aspek perkembangan peserta didik.
3) Guru mata pelajaran dalam melaksanakan tugsnya adalah menyelenggarakan
pembelajaran yang mendidik, dan tugas guru bimbingan dan konseling atau
konselor adalah menyelenggarakan layanan bimbingan konseling yang
memandirikan peserta didik atau konseli.13
E. Langkah-Langkah Bimbingan Klasikal

Untuk dapat melaksanakan layanan bimbingan klasikal secara baik, dalam Linda
D Webb ; Greg ABrigman ( terjemahan Hartanto : 2006 ) terdapat beberapa langkah
yang perlu diperhatikan sebagai berikut :

a. Melakukan pemahaman peserta didik ( menetukan kelas layanan, menyiapkan


instrument pemahaman peserta didik, pengumpulan data, analisis data, dan
merumuskan pemahaman ).
b. Menentukan kecenderungan kebutuhan layanan bimbingan klasikal bagi
peserta didik/konsli atas dasar hasil pemahaman peserta didik.
c. Memilih metode dan teknik yang sesuai untuk memberikan layanan
bimbingan klasikal (ceramah-diskusi; atau ceramah-simulasi-diskusi, atau
ceramah-tugas-diskusi ).
d. Persiapan pemberian layanan bimbingan klasikal dapat disiapkan secara
tertulis merupakan suatu bukti administrasi kegiatan, dengan demikian materi
layanannya disajikan secara terencana dengan harapan mencapai hasil yang
optimal, sebab disusun atas dasar kebutuhan dan literature yang relevan.
e. Memilih sistematika persiapan yang dapat disusun oleh Guru Bimbingan dan
Konseling atau Konselor, dengan catatan telah mencerminkan adanya
kesiapan layanan bimbingan klasikal dan persiapan diketahui oleh
Koordinator Bimbingan dan Konseling dan Kepala sekolah.
f. Mempersiapkan alat bantu untuk melaksanakan pemberian layanan bimbingan
klasikal sesuai dengan kebutuhan layanan.

13
Ibid

6
g. Evaluasi pemberian layanan bimbingan klasikal perlu dilakukan untuk
mengetahui bagaimana proses, tepat tidaknya layanan yang diberikan atau
perkembangan sikap dan prilaku atau tingkat ketercapaian tugas-tugas
perkembangan. Secara umum aspek yang dievaluasi meliputi :kesesuaian
program dalam pelaksanaan, keterlaksanaan program, hambatan-hambatan
yang dijumpai, dampak terhadap kegiatan belajar mengajar, dan respon
peserta didik personal sekolah,dan orang tua serta perubahan perkembangan
peserta didik ( tugas-tugas perkembangan ) atau perkembangan belajar,
pribadi, sosial, dan karirnya.
h. Tindak lanjut, perlu dilakukan sebagai upaya peningkatan pemberian layanan
bimbingan kelas. Kegiatan tindak lanjut senantiasa mendasarkan pada hasil
evaluasi kegaiatan yang telah dilaksanakan.14
F. Media Dalam Bimbingan Klasikal

Media pembelajaran dalam bimbingan klasikal menurut Belawati dikelompokkan


menjadi tiga yaitu :

1. Media cetak adalah sejumlah media yang siapkan dalam kertas, yang dapat
berfungsi untuk keperluan pembelajaran dan penyampaian informasi, contoh :
buku teks, majalah, leaflet, modul, handout, dan lembar kerja siswa.
2. Media non cetak adalah sejumlah media yang disiapkan tidak pada kertas,
yang berfungsi untuk keperluan pembelajaran dan penyampaian informasi.
Contoh media non cetak : oht ( overhead transparancies ), audio, video, slide
dan computer.
3. Media display adalah jenis media pembelajaran yang berisi materi tulisan atau
gambaran yang dapat ditampilkan di dalam kelas ataupun di luar kelas, di
kelompok kecil atau besar, perorangan tempat menggunakan proyeksi. Contoh
media display : flipchart, adhesive, chart, poster, peta, foto, dan berupa
gambar yang nyata secara anatomi.15

14
Ibid
15
Vera Ariesta Hajar, skripsi: LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN
PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 6 BANDAR LAMPUNG” (Bandar Lampung:
UIN RADEN INTAN, 2017) hlm. 20.

7
DAFTAR PUSTAKA

Adya Sakura, “Makalah Bimbingan Klasikal”,


(http://gazebokonseling.blogspot.com/2014/04/makalah-bimbingan-klasikal.html
diakses pada 29 April 2019, 2019)

M. Ramli, dkk, “Bimbingan Klasikal Dan Kelompok”, SUMBER BELAJAR


PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN BIMBINGAN
DAN KONSELING

Muhammad Nurhadi, “Layanan Bimbingan Klasikal”,


(https://id.scribd.com/doc/140832539/Layanan-Bimbingan-Klasikal, Diakses pada 28
April 2019, 2019)

Rismawati, “PELAKSANAAN LAYANAN KLASIKAL BIMBINGAN DAN


KONSELING DI SMP NEGERI 3 KANDANGAN”, Jurnal Mahasiswa BK AN-NUR
Vol. 1 No. 1, 2015

Saiful Umam, Penggunaan Teknik Modeling Dalam Bimbingan Klasikal Untuk


Meningkatkan Kedisiplinan Siswa, Jurnal Bimbingan Dan Konseling IPI.

Vera Ariesta Hajar, skripsi: LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DALAM


MENINGKATKAN KEDISIPLINAN PESERTA DIDIK DI SEKOLAH MENENGAH
PERTAMA NEGERI 6 BANDAR LAMPUNG” (Bandar Lampung: UIN RADEN
INTAN, 2017)