You are on page 1of 15

Akibat Hukum Pelaksanaan Kawin Lari yang Tidak Disetujui Wali Nikah Diyinjau Dari Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1974


Oleh : Tantri Ummu Hani
Pembimbing 1 : Dr. Maryati Bachtiar, S.H., M.Kn
Pembimbing 2 :Riska Fitriani, S.H., M.H
Alamat : Jalan Delima Perumahan Griya Pasir Mas Blok A No 17 Pekanbaru
Email : tantriummuh@yahoo.com – Telpon : 0811 7600 703

ABSTRACT

Law No. 1 of 1974 on Marriage also regulates the legitimacy of a marriage. The existence of a legal
marriage, the child born shall be a valid child, in the sense that if the marriage is done lawfully according to
the religion and applicable law, then its existence and all its consequences will be accepted and
acknowledged legally by the public as well nation and state. The purpose of writing this thesis, namely:
First how the implementation of elopment marriage not approved by the guardian of marriage in view of
Law Number 1 Year 1974 Second how the legal effect of marriage. Implementation not approved marriage
guardian in terms of Marriage Act No. 1 of 1974 on Marriage.
This type of investigation can be categorized into a sociological juridical research type. Because in this
study the authors directly conduct research on the location or place studied in order to provide a complete
and clear picture of the problem under study. This research was conducted in Matur sub-district, while the
population and sample were all parties related to the problem studied in this research. Sources of data used,
primary data, secondary data and tertiary data, data collection techniques in this study by observation,
interview and literature study.
Conclusion Implementation of marriage which is not approved by marriage guardian from Law Number
1 Year 1974 that basically Kawin Lari is actually still in the category of siri marriage, because the
implementation is done secretly or secretly. However, the marriage guardian in this case is an unlawful
guardian, as well as the witness and employee of the marriage recorder. Due to the law of the
implementation of elopment which is not approved by marriage guardian from marriage law No. 1 year
1974 about marriage is always find problem in state administration, can not legalize marriage book in
office of KUA, country does not recognize marriage of married couple who make elopement, The couple
eloped did not get public service in government institution because it was done illegally due to the absence
of legal guardian therefore any form of legal relationship related to marriage administration can not be
done. But if there is no objection then the men just enough to pay a fine or substitute money according to
violations committed against the election rules, and on the size of the fine will be decided by consensus
mufakat which is confidential by both parties.

Keywords : Marriage, run marriage, marriage guardian

JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 1


I. PENDAHULUAN desa ini muncul karena adanya perkawinan,
A. Latar Belakang Masalah termasuk perkawinan marlojong „kawin lari‟.
Undang-Undang Perkawinan yang disingkat Kawin lari di desa ini sudah menjadi hal yang
UUP mendefinisikan perkawinan sebagai ikatan biasa. Bentuk perkawinan seperti ini tidak hanya
lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita ditemukan di kampung (bona bulu) tetapi ada juga
sebagai suami isteri dengan tujuan untuk di perkotaan yang merupakan tempat tinggal di
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal perantauan. Banyaknya anak muda Desa Janji
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Lobi yang melakukan sistem kawin lari ini
sedangkan Pasal 2 ayat (1) UUP menentukan didasari oleh rasa cinta yang dalam namun restu
bahwa sahnya perkawinan itu jika memenuhi dari orang tua tak kunjung didapat sehingga
syarat Pasal 2 sebagai berikut: mereka berani mengabaikan hukum (papudi
1. Perkawinan adalah sah apabila dilakukan uhum).2
menurut hukum masing-masing agamanya Istilah “kawin lari” disebut dengan
dan kepercayaannya itu. marlojong. Berdasarkan etimologinya, kata
2. Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut marlojong berasal dari awalan mar yang berarti
peraturan Undang-Undangan yang berl aku. „ber‟ lalu melekat pada kata lojong yang berarti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 „lari‟ sehingga kata marlojong berarti „berlari‟
tentang kemudian marlojong berkembang artinya menjadi
Adanya perkawinan yang sah, maka anak „kawin lari‟. Menurut masyarakat Angkola,
yang dilahirkan akan berkedudukan sebagai anak marlojong „kawin lari‟ ini merupakan satu
yang sah pula, dalam arti bahwa apabila perkawinan yang dapat diterima dalam adat
perkawinan dilakukan secara sah menurut agama istiadat. Perkawinan marlojong ini dilaksanakan
dan undang-undang yang berlaku, maka tanpa sepengetahuan atau persetujuan orang tua
keberadaan dan segala akibat yang perempuan, ada juga yang menyebut marlojong
ditimbulkannya akan diterima dan diakui secara ini dengan dua istilah lain yaitu mambaen rohana
sah oleh masyarakat maupun bangsa dan negara.1 dan marlojong takko-binoto.
Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 bahwa negara Istilah mambaen rohana terdiri atas dua kata.
memajukan kebudayaan nasional Indonesia di Pertama, kata mambaen yang berasal dari kata
tengah peradaban dunia dengan menjamin baen yang berarti „buat‟ dengan mendapat awalan
kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mam yang berarti „ber‟. Kedua, kata rohana pula
mengembangkan nilai-nilai budayanya, maka yang berasal dari kata roha yang berarti „hati‟ dan
masih terdapat masyarakat adat yang akhiran na yang berarti „nya‟. Ungkapan
mempertahankan budaya atau hukumnya dalam mambaen rohana berarti „sesuka hatinya‟ yang
segala aspek kehidupan termasuk pengaturan mengandung pengertian „menurutkan kata
tentang hukum perkawinan, salah satunya dapat hatinya‟. Istilah marlojong takko-binoto pula
dilihat dari masyarakat adat Batak salah satu berasal dari kata marlojong „berlari‟, takko yang
sukunya Angkola. berarti „curi‟ dan binoto yang juga berarti „tahu‟.
Perkawinan dalam adat Angkola dapat Sehingga istilah marlojong takko-binoto ini berarti
dilakukan dengan dua cara yaitu sepengetahuan „berlari curi tapi tahu‟.
keluarga yang disebut dengan istilah dipabuat dan Perbuatan marlojong ini dilakukan oleh
perkawinan tanpa persetujuan orang tua yang seorang pemuda yang disebut dengan poso-poso,
disebut marlojong. Kedua cara ini ada aturan, tata dengan membawa seorang anak gadis yang
cara, dan tata tertibnya yang harus selalu dipatuhi disebut dengan bujing-bujing, ke rumah orang tua
oleh setiap orang Angkola. Namun karena atau kerabat pihak laki-laki tanpa diketahui oleh
mayoritas masyarakat Angkola adalah muslim, orang tua perempuan. Secara umum orang tua
tetap merujuk pada hukum islam salah satunya pihak perempuan kurang menyetujui perkawinan
masyarakat Angkola di Desa Janji Lobi seperti ini karena adanya perbedaan status sosial,
Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas, namun marlojong ini dapat juga terjadi karena
desa ini merupakan desa terluas dan tertua di
Kabuaten Padang Lawas. Jaringan kekerabatan di

2
Wawancara dengan Bapak Abner Hasibuan, Anggota
1
Lulik DjatiKumoro, Hukum Pengangkatan Anak di Humas Kantor Kepala Desa Janji Lobi, Hari Selasa, Tanggal
Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011, hlm. 1. 11 April 2017, Bertempat di Kantor Desa Janji Lobi.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 2
melangkahi kakak yang belum kawin dan Pernikahan tanpa persetujan orang tua, ada
bertentangan dengan adat istiadat.3 baiknya mengetahui syarat-syarat perkawinan,
Perbuatan marlojong pada masyarakat Desa yaitu:
Janji Lobi merupakan suatu kebiasaan apabila 1. Harus didasarkan atas persetujuan kedua
perkawinan yang umum tidak dapat dilakukan, calon mempelai
sehingga perkawinan marlojong ini merupakan 2. Melangsungkan perkawinan seorang yang
jalan keluar yang akan ditempuh oleh sepasang belum mencapai umur 21 tahun harus
muda-mudi Angkola apabila mereka memperoleh mendapat izin kedua orang tua atau salah
kesulitan dan kendala yang tidak dapat satu jika, orangtua ada yang sudah
diselesaikan, seperti salah satu kasus kawin lari meninggal atau wali bila ternyata kedua
yang pernah terjadi di Desa Janji Lobi, pada tahun orang tua sudah tidak ada.
2016 pasangan RN (20) dan RD (19) alasan Kedua hal tersebut diatur dalam Pasal 6 ayat (1)
mereka memutuskan marlojong karena takut dan ayat (2) Undang-Undang Perkawinan nomor 1
memberitahu orangtua bahwa mereka ingin Tahun 1974. Berdasarkan ketentuan di atas jika usia
menikah karena ada kesenjangan status sosial sudah mencapai 21 tahun maka tidak perlu
diantara keduanya. Beberapa faktor lainnya yang persetujuan orang tua untuk menikah. Usia kurang
menyebabkan kawin lari adalah tidak dari 21 tahun maka harus mendapatkan persetujuan
mendapatkan restu, lamaran yang di tolak, orang tua untuk menikah, jika orang tua tidak
ataupun laki- laki yang tidak mampu memenuhi menyetujui perkawinan tersebut maka dapat
mahar yang telah di tetapkan, dengan cara meminta izin dari Pengadilan di daerah tempat
mendatangi imam kampung tempat laki-laki itu tinggal. Pengadilan dapat memberikan izin menikah
tinggal, kemudian menyatakan bahwa wanita setelah mendengar pendapat dari orang tua (Pasal 6
tersebut ingin dinikahkan dengan laki-laki yang ayat 5 UU nomor 1 Tahun 1974) dan terpenuhinya
tinggal di kampung itu.4 syarat dari perkawinan tersebut termasuk wali nikah,
Pada sore hari RD meminta izin kepada jika karena satu atau lain alasan orang tua, dalam hal
orangtuanya untuk keluar bersama temannya, tapi ini ayah tidak bisa atau tidak mau menjadi wali
pada malam hari dia tidak kunjung pulang, ia pun nikah, maka dimungkinkan untuk meminta kerabat
mengirim pesan singkat kepada kerabatnya yang lain yang memenuhi syarat untuk menjadi wali
mengabarkan bahwa ia telah marlojong dengan nikah ataupun hakim.6
RN dengan meninggalkan surat dan sirih pertanda Berdasarkan hasil wawancara yang didapatkan
ia telah marlojong. 5 Merekapun melakukan dari pemuka adat Janji Lobi yang bergelar Raja
perkawinan di tempat lain dengan menggunakan Sulaiman, marlojong ini merupakan perkawinan
wali hakim akibat dari orang tuanya tidak yang tidak dicatatkan dimanapun,7 hanya disahkan
menyetujuinya dengan berbagai alasan, namun dengan hobar adat atau membayar adat yang
setelah menikah dan hidup bersama RN dan RD sepenuhnya dilaksanan oleh pihak laki-laki karena
mempunyai keturunan lalu tidak lama kedua dianggap dia yang paling bertanggung jawab tanpa
orangtua RD memanggil kembali anaknya harus melakukan pencatatan perkawinan sesuai
dikarenakan kerinduan orangtua terhadap anak undang-undang yang berlaku. Hobar adat yang
dan ingin melihat cucu mereka maka kedua belah harus dibayar adalah seekor kerbau atau kambing
pihak sepakat memperbaiki tata cara perkawinan dapat diganti dengan empat ekor ayam jika kerbau
mereka dari awal yaitu akad hingga dengan dan kambing terlalu memberatkan, hitak houl-houl
menggunakan hobar adat. dan barang-barang rumah tangga lengkap, jika
pihak laki-laki tidak mampu melakukan hobar adat,
maka dianggap berhutang seumur hidup sampai ke
3
Wawancara dengan Bapak Jusman Hasibuan Gelar seluruh keturunannya dan perkawinan dianggap
Baginda Sulaiman, Tokoh Adat Kabupaten Padang Lawas,
6
Hari Selasa, Tanggal 11 April 2017, Bertempat di kediaman Fikri Fawaid dan Moh. Hasin Abd Hadi, “Pelaksanaan
Bapak Jusman Hasibuan. Nikah Ngodheh Studi Komparasi Hukum Islam Dengan
4
Ika Ningsih, et. Al., “Perkawinan Munik (Kawin Lari Hukum Adat) di Desa Bangkes Kecamatan Kadur
Pada Suku Gayo Di Kecamatan Lintang Kabupaten Aceh Kabupaten Pamekasan Madura”, Jurnal Hukum
Tengah)”, Jurnal Ilmiah, Mahasiswa Pendidikan Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Cabang Daerah
Kewarganegaraan Unsyiah Volume 1, Nomor 1 Agustus Istimewa Yogyakarta, Vol.1, No.2 Juni 2015, hlm. 6.
7
2016, hlm. 110-119. Wawancara dengan Bapak Jusman Hasibuan Gelar
5
Wawancara dengan Ibu Riswan Nasution, Pelaku Baginda Sulaiman, Tokoh Adat Kabupaten Padang Lawas,
Kawin Lari di Desa Janji Lobi, Hari Senin, Tanggal 10 April Hari Selasa, Tanggal 11 April 2017, bertempat di kediaman
2017, Bertempat di kediaman Ibu Riswan Nasution. Bapak Jusman Hasibuan.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 3
tidak sah menurut adat sehingga mereka tidak yang merupakan suatu pencatatan yang dilakukan
diperbolehkan di desa lagi dan mengkuti acara adat oleh pejabat Negara terhadap peristiwa perkawinan.
yang berlaku di Desa Janji Lobi dari gambaran Perkawinan tidak tercatat termasuk salah satu
kasus yang terjadi di lingkungan masyarakat perbuatan hukum yang tidak dikehendaki oleh
tersebut, maka itu membuktikan bahwa hukum adat undang-undang karena terdapat kecerendungan kuat
marlojong masih dipertahankan oleh masyarakat dari segi sejarah hukum perkawinan bahwa
adat, semata-mata untuk menghindari mahalnya perkawinan tidak tercatat termasuk perkawinan
biaya perkawinan dan menerobos ketidak setujuan ilegal. Aqad pada perkawinan yang tidak tercatat
orang tua terhadap perkawinan atau bahkan isu biasanya dilakukan di kalangan terbatas, di muka
negatif bahwa marlojong dilakukan karena gadis Kyai atau tokoh agama tanpa kehadiran petugas
sudah tidak suci. KUA dan tentu saja tidak memiliki surat nikah resmi.
Melihat hukum adat dan kepercayaan Perkawinan tidak tercatat secara agama adalah sah
masyarakat yang ada di desa ini sudah sah, namun apabila memenuhi syarat dan rukun perkawinan,
secara negara tidak sah dan dapat dikategorikan dalam hukum positif dianggap tidak sah karena tidak
dengan pernikahan siri saja karena tidak dicatatkan diakui negara (Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang
cacatan nikahnya sesuai dengan aturan yang ada Perkawinan).
pada Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 B. Rumusan Permasalahan
Tahun 1974 tentang Perkawinan. 1. Bagaimana pelaksanaan kawin lari yang tidak
Sah artinya adalah sesuatu yang memenuhi disetujui wali nikah ditinjau dari Undang-
segala rukun dan syaratnya, di samping tidak adanya Undang Nomor 1 Tahun 1974?
halangan, sebaliknya maka dihukumi sebagai fasad 2. Bagaimana akibat hukum pelaksanaan kawin
atau batal. Suatu perbuatan hukum yang sah lari yang tidak disetujui wali nikah ditinjau
memilki implikasi hukum berupa hak dan dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
kewajiban, demikian pula halnya dengan perbuatan tentang Perkawinan?
hukum perkawinan. Dari perkawinan yang sah C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
timbul hak untuk bergaul sebagai suami istri, hak 1. Tujuan Penelitian
saling mewarisi, kewajiban menafkahi anak dan istri Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian
dan lain-lain. ini adalah:
Berdasarkan ketentuan Pasal 10 ayat (3) a. Untuk mengetahui pelaksanaan kawin lari
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang tidak disetujui wali nikah ditinjau dari
disebutkan bahwa dengan mengindahkan tata cara Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
perkawinan menurut masing-masing hukum tentang Perkawinan.
agamanya dan kepercayaannya itu, perkawinan b. Untuk mengetahui akibat hukum pelaksanaan
dilaksanakan di hadapan Pegawai Pencatat dan kawin lari yang tidak disetujui wali nikah
dihadiri oleh dua orang saksi8. Perkawinan dianggap ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun
sah apabila dilaksanakan menurut hukum agama dan 1974 tentang Perkawinan.
kepercayaannya masing-masing. Maksud dari 2. Kegunaan Penelitian
ketentuan agama dan kepercayaan masing-masing a. Untuk menambah pengetahuan bagi penulis
itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang dan peneliti lainnya mengenai perangkat
berlaku dalam agamanya dan kepercayaannya hukum perdata pada umumnya dan hukum
sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan perkawinan pada khususnya.
lain dalam undang-undang ini. Suatu perkawinan b. Sebagai bahan pertimbangan dan landasan
yang dilaksanakan bertentangan dengan ketentuan bagi pihak-pihak yang yang berkepentingan
agama dengan sendirinya menurut Undang-Undang dalam membahas akibat pelaksanaan kawin
Perkawinan dianggap tidak sah dan tidak lari.
mempunyai akibat hukum sebagai ikatan c. Sebagai pengembangan ilmu dan penerapan
perkawinan. 9 Dibutuhkan pencatatan perkawinan atas teori-teori yang penulis dapatkan selama
menjalani masa studi pada Fakultas Hukum
Universitas Riau. Diharapkan hasil penelitian
8
Andi Tahir Hamid, Beberapa Hal Baru Tentang ini dapat dijadikan sebagai bahan pengajaran
Peradilan Agama Dan Bidangnya, Sinar Grafika, Jakarta, bagi para dosen dalam memberi mata kuliah
2005, hlm. 18. yang sesuai dengan yang dibahas oleh penulis.
9
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia
Menurut Perundang-Undangan, Hukum Adat, Hukum
Agama, Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm. 34.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 4
D. Kerangka Teori peraturan hukum maka akibatnya akan kaku serta
1. Kepastian Hukum menimbulkan rasa tidak adil. Dalam peraturannya
Hukum akan menjadi berarti apabila perilaku tetap terjadi demikian, sehingga harus ditaati atau
manusia dipengaruhi oleh hukum dan apabila dilaksanakan undang-undang itu sering terasa kejam
masyarakat menggunakan hukum menuruti apabila dilaksanakan secara ketat, lex dure, sed
perilakunya, sedangkan di lain pihak efektivitas tamen scripta (undang-undang itu kejam tapi
hukum berkaitan erat dengan masalah kepatuhan memang demikianlah bunyinya).11
hukum sebagai norma. Berbeda dengan kebijakan Tujuan hukum memang tidak hanya
dasar yang relatif netral dan bergantung pada nilai keadilan, tetapi juga kepastian hukum dan
universal dari tujuan dan alasan pembentukan kemanfaatan. Idealnya hukum memang harus
undang-undang. mengakomodasikan ketiganya. Putusan hakim
Dalam praktek ada undang-undang sebagian misalnya, sedapat mungkin merupakan resultante
besar dipatuhi dan ada undang-undang yang tidak dari ketiganya.12
dipatuhi. Sistem hukum jelas akan runtuh jika setiap Adanya kepastian hukum bagi orang yang
orang tidak mematuhi undang-undang dan undang- melakukan kawin lari tanpa persetujuan orang tua
undang itu akan kehilangan ketidakefektifan dapat menuntut haknya yang telah dijaminkan oleh
undang-undang cenderung mempengaruhi waktu undang-undang yaitu apabila suatu saat terjadi
sikap dan kuantitas ketidak patuhan serta sengketa ataupun hak dan kewajiban yang dilanggar
mempunyai efek nyata terhadap perilaku hukum, dilakukan, maka adanya kepastian hukum kepada
termasuk perilaku pelanggar hukum. Kondisi ini orang yang kawin lari tanpa persetujuan orang tua
akan mempengaruhi penegakan hukum yang sesuai dengan undang-undang perkawinan.
menjamin kepastian dan keadilan dalam masyarakat. 2. Konsep Perkawinan
Kepastian karena hukum dimaksudkan, bahwa Perkawinan adalah kerja sama antara dua
karena hukum itu sendirilah adanya kepastian orang yang telah sepakat untuk hidup bersama
misalnya hukum menentukan adanya lembaga hingga hayatnya. Kehidupan rumah tangga dapat
daluarsa, dengan lewat waktu seseorang akan langgeng sepanjang masa mutlak diperlukan
mendapatkan hak atau kehilangan hak. Hukum ikatan yang kuat berupa rasa cinta dan saling
dapat menjamin adanya kepastian bagi seseorang memahami. Perkawinan adalah suatu ikatan janji
dengan lembaga daluarsa akan mendapatkan sesuatu setia antara suami dan istri yang di dalamnya
hak tertentu atau akan kehilangan sesuatu hak terdapat suatu tanggung jawab dari kedua belah
tertentu. pihak. Janji setia yang terucap merupakan sesuatu
Tentang teori kepastian hukum, Soerjono yang tidak mudah diucapkan.13
Soekanto mengemukakan wujud kepastian hukum Pasal 1 Undang-Undang No 1 Tahun 1974
adalah peraturan-peraturan dari pemerintah pusat tentang Perkawinan, mendefinisikan pernikahan
yang berlaku umum diseluruh wilayah negara. ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan
Kemungkinan lain adalah peraturan tersebut berlaku seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan
umum tetapi bagi golongan tertentu, selain itu dapat membentuk keluarga (rumah tangga) yang
pula peraturan setempat, yaitu peraturan yang dibuat bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang
oleh penguasa setempat yang hanya berlaku di Maha Esa, sedangkan defenisi pernikahan
daerahnya saja, misalnya peraturan Kotapraja.10 menurut Duvall & Miller adalah:14
Arti penting kepastian hukum menurut “Socially recognized relationship between a man
Soedikno Mertokusumo bahwa masyarakat and woman that provider for sexual relationship,
mengharapkan adanya kepastian hukum karena
dengan adanya kepastian hukum, masyarakat akan
lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian 11
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu
hukum karena bertujuan untuk ketertiban Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1988, hlm. 136.
masyarakat tanpa kepastian hukum, orang tidak tau 12
Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok
apa yang harus diperbuatnya sehingga akhirnya Filsafat Hukum Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum di
timbul keresahan, namun jika terlalu menitik Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2009,
hlm. 155.
beratkan pada kepastian hukum dan ketat menaati 13
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia,
Ghalia Indonesia, Jakarta Timur, 2002, hlm. 3.
10 14
Soerjono Soekanto, Beberapa Permasalahan Hukum Evelyn Millis Duvall dan Brent C. Miller, Marriage
Dalam Kerangka Pembangunan Indonesia, UI Pres, Jakarta, and Family Development, Harpercollins, New York, 1985,
1974, hlm. 56. hlm. 74.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 5
legitimates childbearing and establishes a division Masdar Helmy mengemukakan bahwa tujuan
of labour between spouses” pernikahan selain memenuhi kebutuhan hidup
Dapat disimpulkan bahwa pernikahan jasmani dan rohani manusia, juga membentuk
bukan semata-mata legalisasi dari kehidupan keluarga dan memelihara serta meneruskan
bersama antara seorang laki-laki dan perempuan keturunan di dunia, mencegah perzinahan, agar
tetapi lebih dari itu pernikahan merupakan ikatan tercipta ketenangan dan ketentraman jiwa bagi yang
lahir batin dalam membina kehidupan keluarga. bersangkutan, ketentraman keluarga dan
Dalam menjalankan kehidupan berkeluarga masyarakat.
diharpkan kedua individu itu memenuhi Menurut Soemijati tujuan pernikahan adalah
kebutuhannya dan mengembangkan dirinya. untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan,
Pernikahan sifatnya kekal dan bertujuan berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam
menciptakan kebahagian individu yang terlibat rangka mewujudkan keluarga bahagia dengan dasar
didalamnya.15 cinta dan kasih sayang, memperoleh keturunan yang
Menurut Bachtiar defenisi pernikahan adalah sah dengan mengikuti ketentuan - ketentuan yang
pintu bagi bertemunya dua hati dalam naungan telah diatur oleh hukum.19
pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka Menurut Bachtiar, lima tujuan pernikahan
waktu yang lama, yang di dalamnya terdapat yang paling pokok adalah:20
berbagai hak dan kewajiban yang harus a. Memperoleh keturunan yang sah dalam
dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk masyarakat, dengan mendirikan rumah tangga
mendapatkan kehidupan yang layak, bahagia, yang damai dan teratur
harmonis, serta mendapat keturunan. Pernikahan itu b. Mengatur potensi kelamin
merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh c. Menjaga diri dari perbuatan-perbuan yang
perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing- dilarang agama
masing pihak untuk hidup bergaul guna memelihara d. Menimbulkan rasa cinta antara suami-isteri
kelangsungan manusia di bumi.16 e. Membersihkan keturunan yang hanya bisa
Menurut Saxton pernikahan memiliki dua diperoleh dengan jalan pernikahan.
makna, yaitu:17 Menurut Ensiklopedia Wanita Muslimah,
a. Sebagai suatu institusi sosial. Suatu solusi tujuan pernikahan adalah:21
kolektif terhadap kebutuhan sosial. Eksistensi a. Kelanggengan jenis manusia dengan adanya
dari pernikahan itu memberikan fungsi pokok keturunan
untuk kelangsungan hidup suatu kelompok b. Terpeliharanya kehormatan
dalam hal ini adalah masyarakat. c. Menenteramkan dan menenagkan jiwa
b. Makna individual. Pernikahan sebagai bentuk d. Mendapatkan keturunan yang sah
legitimisasi (pengesahan) terhadap peran 2. Konsep Tentang Kawin Lari
sebagai individual, tetetapi yang terutama, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
pernikahan di pandang sebagai sumber Perkawinan yang dimuat dalam Lembaran Negara
kepuasan personal. Nomor 309 dan diatur pelaksanaannya pada
Berdasarkan berbagai definisi tentang Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
pernikahan di atas, dapat disimpulkan bahwa Undang-undang tersebut merupakan salah satu
pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara laki- hukum nasional yang diundangkan pada tanggal 2
laki dan perempuan sebagai suami isteri yang Januari 1974 dan dinyatakan berlaku secara efektif
memiliki kekuatan hukum dan diakui secara sosial pada tanggal 1 Oktober 1975.22
dengan tujuan membentuk keluarga sebagai Dalam undang-undang tentang perkawinan
kesatuan yang menjanjikan pelestarian kebudayaan mengatur mengenai dasar perkawinan, syarat-syarat
dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan inter- perkawinan, pencegahan perkawinan, batalnya
personal.18 perkawinan, perjanjian perkawinan, hak dan
kewajiban suami istri, harta benda dalam
perkawinan, putusnya perkawinan, kedudukan anak,
15
Evelyn Millis Duvall dan Brent C. Miller, Loc.cit.
16 19
Bachtiar, A., Menikahlah, Maka Engkau Akan Bahagia!, Bachtiar, A., Op.cit, hlm. 5.
20
Saujana, Yogyakarta, 2004, hlm. 2. Bachtiar, A., Op.cit, hlm. 6.
17
Lloyd Saxton, The Individual, Marriage and The
22
Family, Wadsworth Publishing Company, California, 1986, M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional,
hlm 15. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974,
18
Maramis, W.F. dan Yuwana, T.A.,Op.cit, hlm. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 6
hak dan kewajiban antara orang tua dan anak Nikah Ditinjau dari Undang-Undang Perkawinan
perwalian, ketentuan-ketentuan lain dan ketentuan Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
peralihan dan segala yang berkaitan dengan b. Data Sekunder
perkawinan telah terlindungi secara keseluruhan Data yang dikumpulkan untuk mendukung
dalam undang-undang tersebut.23 tujuan penelitian ini, antara lain mencakup
Kebiasaan kawin lari yang banyak dilakukan dokumen-dokumen resmi, buku-buku, hasil-hasil
oleh masyarakat Batak Angkola dalam pembahasan penelitian yang berwujud laporan, dan sebagainya.
skripsi ini, merupakan suatu proses untuk menuju Adapun jenis datanya (bahan hukum) adalah :
perkawinan yang syah yaitu yang pada akhirnya 1) Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan
akan mengikuti prosesi perkawinan yang penelitian yang berasal dari peraturan-peraturan
berdasarkan aturan pada Undang-Undang Nomor 1 dan ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan
Tahun 1974 tentang Perkawinan. judul dan permaslahan yang dirumuskan.
D. Metode Penelitian 2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang
1. Jenis Penelitian berasal dari literature atau hasil penulisan para
Jenis penelitian hukumnya adalah secara sarjana yang berupa buku-buku, artikel, jurnal
Yuridis Sosiologis, dimana dalam penelitian ini, dan bahan-bahan bacaan yang ada di media
dilakukan dengan cara langsung ke lapangan untuk elekronik .
mengumpulkan data primernya, dan menggunakan 3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang
metode Deskriptif, karena penilitian ini bertujuan memberikan petunjuk maupun penjelasan
untuk mendikripsikan (menggambarkan), mencatat, terhadap bahan hukum primer dan bahan
menganalisa, menginterprestasikan fenomena yang hukum sekunder, seperti kamus hukum,
terjadi sesuai dengan kenyataan yang hidup dalam ensiklopedia.25
masyarakat.24 5. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian Yuridis Empiris (sosiologis) Alat pengumpulan data yang digunakan untuk
menggunakan metode deskriftif merupakan suatu memperolah bahan-bahan yang diperlukan untuk
bentuk penelitian yang berusaha mendiskripsikan penyusunan skripsi ini menggunakan studi
tentang tindak perdata apa yang terjadi, bagaimana lapangan dan studi kepustakaan yaitu:
modus operandinya, serta memberikan uraian yang a. Wawancara
jelas. Cara untuk memperoleh informasi dengan
2. Lokasi Penelitian bertanya langsung pada yang diwawancarai.
Lokasi penelitian dilakukan di Desa Janji Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan
Lobi Kecamatan Barumun Kabupaten Padang komunikasi. 26 Adapun wawancara yang penulis
Lawas Provinsi Sumatera Utara. lakukan untuk melengkapi data-data yang
3. Populasi dan Sampel diperlukan dalam penelitian ini adalah:
Populasi dari responden penelitian ini adalah 1) Wawancara struktur, yaitu suatu wawancara
pelaku kawin lari, orang tuanya, serta tokoh yang disertai dengan suatu daftar pertanyaan
masyarakat Desa Janji Lobi. Sampel ditetapkan yang disusun sebelumnya.
secara metode random sampling yang diambil 2) Wawancara tidak berstruktur, yaitu suatu
secara acak wawancara yang tidak disertai dengan suatu
4. Sumber Data daftar perencanaan.27
Adapun sumber data yang digunakan yang b. Kepustakaan
digunakan dalam penelitian ini: Pencarian data naskah-naskah, dokumen-
a. Data Primer dokumen, atau informasi yang berkaitan dengan
Data primer adalah data yang diperoleh dari penelitian yang penulis lakukan.
informasi pelaku kawin lari dan orang tua pelaku 6. Analisis Data
kawin lari berkaitan dengan Akibat Hukum Teknik analisa data yang digunakan dalam
Pelaksanaan Kawin Lari Yang Tidak Disetujui Wali penelitian ini adalah analisa secara kualitatif yaitu

23 25
Khoirul Hidayah, “Dualisme Hukum Perkawinan di Ibid, hlm. 30, 31, 32.
26
Indonesia (Analisis Sosiologi Hukum Terhadap Praktik Ronny Hanitidjo Soemitro, Metodologi Penelitian
Nikah Sirri)”, Jurnal Perspektif Hukum, Universitas Hang Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988, hlm.
Tuah Surabaya, Vol. 8 Mei 2008, hlm. 90. 57.
24 27
Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas Kerja Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode
atau Skripsi llmu Hukum, CV. Mandar Maju, Bandung, Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004,
1995, hlm. 61. hlm. 84.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 7
uraian-uraian yang dilakukan peneliti terhadap data juga sebagai pemberontakan terhadap kekuasaan
yang terkumpul, uraian-uraian ini berupa kalimat orang tua, namun terjadinya kawin lari itu tidak
yang tersusun secara sistematis sesuai dengan berarti akan melaksanakan perkawinan sendiri
permasalahan yang dibahas. Dengan kata lain tanpa pengetahuan dan campur tangan orang tua,
terhadap data-data disajikan dalam bentuk tabel dan terutama orang tua pihak laki-laki harus berusaha
bentuk uraian-uraian dengan diberi penjelasan. menyelesaikannya secara damai dengan pihak
Selanjutnya data-data tersebut dianalisis dengan cara perempuan melalui jalur hukum adat yang
membandingkan dengan peraturan perundang- berlaku.
undangan yang berlaku dan dengan teori-teori Terkait dengan pembahasan nikah siri,
hukum sehingga tampak persesuaian atau perbedaan Naqiyah Mukhtar membagi nikah siri kepada
antara keduanya, kemudian penulis menarik empat kategori:29
permasalahan pokok dan menarik kesimpulan secara 1. Perkawinan tanpa saksi, dalam kitab fikih
deduktif yaitu dengan menghubungkan hal-hal yang nikah siri didefinisikan sebagai pernikahan
bersifat umum kepada hal-hal yang bersifat khusus yang dilakukan dengan tanpa saksi, bahkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang menurut Imam Malik termasuk nikah siri,
berlaku. sekalipun dilaksanakan dengan adanya
II. PENELITIAN DAN PEMBAHASAN saksi, jika kemudian disertai pesan bahwa
A. Pelaksanaan Kawin Lari Yang Tidak pernikahan tersebut harus dirahasiakan
Disetujui Wali Nikah Ditinjau Dari (tidak boleh disiarkan), namun menurut Abu
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Hanifah dan asy-Syafi‟i, pernikahan yang
Tentang Perkawinan demikian itu tidak termasuk nikah siri. Tiga
Masyarakat Angkola di Desa Janji Lobi imam tersebut sepakat bahwa hukum nikah
Kecamatan Barumun Kabupaten Padang Lawas, siri sesuai dengan pandangan masing-
desa ini merupakan desa terluas dan tertua di masing tidak boleh. Mereka juga sepakat
Kabupaten Padang Lawas. Jaringan kekerabatan bahwa saksi merupakan syarat nikah, tetapi
di desa ini muncul karena adanya perkawinan, mereka berbeda pendapat apakah saksi
termasuk perkawinan marlojong „kawin lari‟. merupakan syarat sempurnanya nikah atau
Terlepas dari adat perkawinan Desa Janji Lobi bahkan sebagai syarat sahnya akad nikah.30
yang begitu panjang, terdapat upaya lain yang Penyebab perbedaan pendapat tersebut
dilakukan oleh masyarakat Angkola di Desa Janji adalah apakah saksi merupakan hukum syara‟
Lobi untuk mewujudkan terjadinya pernikahan, atau hanya dimaksudkan untuk menghambat
yaitu salah satunya perkawinan marlojong (kawin kemungkinan lahirnya ekses-ekses negatif seperti
lari). Perkawinan marlojong (kawin lari) dapat ikhtilaf atau pengingkaran terhadap terjadinya
terjadi karena beberapa faktor, yaitu tidak nikah bagi sebagian ulama yang menganggap
mendapatkan restu, lamaran yang di tolak. bahwa saksi itu sebagai hukum syara‟, seperti
Perkawinan yang didahului dengan Malik dan Syafi‟i, saksi merupakan syarat sahnya
Marlojong (kawin lari) ini sebenarnya bukanlah nikah, akan tetapi bagi yang memandang bahwa
cara-cara yang dapat disetujui oleh segenap saksi sebagai sadd al-zari‟ah, seperti Abu Hanifah
masyarakatAngkola, namun karena marlojong maka saksi hanya sebagai syarat sempurnanya
sering terjadi dan sukar untuk membendungnya nikah. Akar perbedaan ini besumber dari hadis
maka seakan-akan marlojong ini sudah riwayat Ibnu Abbas sebagai berikut:
merupakan kebiasaan apabila perkawinan biasa Artinya:
tidak dapat dilaksanakan.28 “Tidak ada nikah kecuali dengan dua orang saksi
Kawin lari menurut adat juga berarti dan wali yang cerdas” (HR. Ibnu Abbas).
perkawinan tanpa acara pelamaran dan masa Penafsiran dalam hadis tersebut dipahami
pertunangan. Gadis dan pemuda bersama-sama oleh sebagian ulama sebagai penafsiranan
mengaturnya sendiri yang dibantu oleh beberapa keabsahan nikah kecuali dilakukan oleh wali,
anggota keluarga terdekat dari pihak pemuda,
terjadinya kawin lari itu menunjukkan persetujuan 29
http://www.ejournal.stainpurwokerto.ac.id, diakses,
pria dan wanita untuk melakukan perkawinan dan
tanggal 23 Oktober 2017, jam 08.00 WIB.
30
Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad
28
Wawancara dengan Bapak Abner Hasibuan, Anggota ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa al-Nihayah al-
Humas Kantor Kepala Desa Janji Lobi, Hari Selasa, 15 Muqtasid, Maktabah Usaha Keluarga, Semarang, 2010, hlm.
September 2017 bertempat di Kantor Desa Janji Lobi. 3.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 8
namun sebagian yang lain memahaminya dengan mengirim pesan singkat kepada kerabatnya
penafian kesempurnaan nikah saja, sedangkan mengabarkan bahwa ia telah marlojong dengan
nikahnya tetap sah. Pertanyaan yang dapat RN dengan meninggalkan surat dan sirih pertanda
diajukan dalam konteks Indonesia adalah apa ia telah marlojong, 32 saat dia kembali lagi ke
sebenarnya motif pernikahan tanpa saksi padahal desanya sudah resmi melakukan perkawinan di
keberadaan saksi merupakan salah satu rukun tempat lain dengan menggunakan wali hakim
nikah sebagaimana telah diatur dalam pasal 14 akibat dari orang tuanya tidak menyetujuinya
KHI (Kompilasi Hukum Islam). Melihat dari dengan berbagai alasan. Dapat disimpulkan,
tujuan pernikahan selain untuk memenuhi seorang wanita berhak untuk mengajukan masalah
kebutuhan biologis di antaranya untuk perwaliannya kepada hakim dengan beberapa
memperoleh ketenangan serta menjalin cinta kasih syarat:
untuk tujuan reproduksi, untuk saling melindungi a. Lelaki yang melamarnya adalah lelaki yang
dan sebagai institusi pendidikan. Perkawinan sekufu (setara) dari semua sisi, baik agama
tanpa saksi, selain merupakan pelanggaran maupun dunia.
terhadap aturan yang berlaku dapat menimbulkan b. Lelaki tersebut baik agama dan akhlaknya.
fitnah dan potensial untuk terjadinya pelanggaran, c. Lelaki tersebut memiliki kemampuan secara
baik fisik, psikologis, ekonomis dan penelantaran. finansial, sehingga bisa memberikan mahar
Dengan nikah siri akan sulit untuk mencapai dan nafkah sebagaimana umumnya
tujuan pernikahan yang sebenarnya, khusunya masyarakat.
untuk saling melindungi, meskipun di kalangan d. Penolakan yang dilakukan oleh wali karena
ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai kedzaliman, dan bukan dalam rangka
saksi dalam pernikahan sebagaimana telah memberikan kemaslahatan bagi putrinya.
dikemukakan di atas karena sudah diatur dalam Sama sekali bukanlah membolehkan seseorang
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun untuk menikah tanpa wali atau menikah dengan wali
1974 Pasal 2 ayat (1) bahwa perkawinan sah „gadungan‟, karena permasalahannya nikah
apabila dilakukan menurut hukum islam, yakni bukanlah masalah yang ringan. Keterangan di atas
memenuhi rukun dan syarat perkawinan (Pasal 4 justru sangat membatasi bahwa pernikahan harus
KHI) maka keberadaan saksi dalam perkawinan dilakukan dengan wali, meskipun perwalian nikah
sudah menjadi qanun yang mengikat. Hal ini tidak selamanya ada di tangan orang tua namun bisa
menghilangkan perbedaan yang terjadi dalam berpindah ke yang lain, dengan beberapa
fatwa ulama. Oleh karena itu, orang Indonesia persyaratan di atas. Hakim yang dimaksud adalah
harus tunduk terhadap aturan tersebut, tidak boleh pejabat resmi KUA dengan kuasa dari lembaga, dia
memilih fatwa yang sifatnya tidak mengikat.31 datang atas nama lembaga bukan atas nama pribadi.
2. Perkawinan tanpa wali, dalam konteks Perwalian bisa berpindah ke pihak yang lain selain
Indonesia ada ragam pengertian dan praktik kerabat dan pejabat,jika sudah tidak memungkinkan
nikah siri yang dipersepsikan masyarakat, untuk mengajukan masalah ke KUA. Selama masih
yang dapat dibedakan menjadi tiga kategori memungkinkan untuk mengajukan masalah ke KUA
a. Perkawinan tanpa wali secara resmi maka tidak diperkenankan
b. Perkawinan di bawah tangan menyerahkan masalah ke orang lain, semua pihak
c. Perkawinan tanpa walimah. hendaknya berusaha bertakwa kepada Allah dan
Perkawinan yang dilakukan tanpa wali tidak menggampangkan masalah ini tidak lain dalam
dalam konteks Indonesia disebut sebagai nikah rangka menjaga batasan halal-haram dalam
siri. Pernikahan semacam ini dilakukan secara pernikahan.
rahasia (siri) dengan latar belakang yang beragam, Perbedaan penafsiran di kalangan ulama di
salah satu penyebabnya adalah karena wali atas disebabkan oleh perbedaan mengenai konsep
perempuan tidak setuju sehingga nikah perwalian dalam pernikahan. Abu Hanifah misalnya,
dilangsungkan tanpa wali. Salah satu kasus yang memandang hak perwalian yang dimiliki seorang
dijadikan sampel penilitan adalah pada kasus RD wali didasarkan pada `illat hukum belum dewasa
dan RN. Pada sore hari RD meminta izin kepada (al-shaghir), sedangkan bagi Syafi'i hak perwalian
orangtuanya untuk keluar bersama temannya tapi itu didasarkan pada „illat hukum keperawanan (al-
pada malam hari dia tidak kunjung pulang, ia pun
32
Wawancara dengan RN, Pelaku Kawin Lari di Desa
31
Mulyadi., Hukum Perkawinan Indonesia, Badan Janji Lobi, Hari Senin, Tanggal 10 April 2017, Bertempat di
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2008, hlm 34. kediaman RN
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 9
bikarah). Oleh karena itu, bagi Abū Hanifah, baik menurut fikih maupun menurut hukum
perawan yang sudah dewasa (al-bikarah al- positif.
balighah) boleh menikahkan dirinya sendiri dan 4. Perkawinan bawah tangan. Perkawinan ini
wali tidak boleh menikahkannya tanpa merupakan nikah yang dilangsungkan menurut
persetujuannya. ketentuan fikih (telah memenuhi syarat dan
Menurut al-Syafi`i menganggap wali rukunnya) tetapi masih bersifat internal
bahkan mempunyai hak ijbar untuk menikahkan keluarga, belum dilakukan pencatatan oleh PPN
anak perempuannya tanpa persetujuannya. dan bisaanya belum diadakan resepsi
Demikian juga tidak ada hak ijbar bagi wali pernikahan (walimah al-arusy). Kadangkala
terhadap seorang janda yang masih kecil (al-sayyib pernikahan semacam ini dilakukan secara diam-
al-saghirah) karena „illat hukum hak ijbar diam dan dirahasiakan.
menurutnya adalah keperawanan (al-bikarah) Perkawinan lari yang dimaksud dalam
sedangkan menurut Abu Hanifah sebaliknya, untuk penelitian ini adalah perkawinan yang tidak
janda yang masih kecil harus minta izin walinya dilakukan di depan pegawai pencatat perkawinan,
ketika hendak menikah. wali, dan dua orang saksi yang tidak berwenang.
Selanjutnya, sekalipun fatwa ulama berbeda, Penyebutan kata tidak berwenang dalam hal ini
yakni ada yang menganggap tidak sah nikah tanpa menunjukkan adanya wali palsu, saksi palsu dan
wali di samping ada yang menganggap sah, karena pegawai pencatat perkawinan palsu. Proses
sudah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan perkawinan inibisaanya dilakukan di luar daerah
Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 2 ayat (1) bahwa calon pengantin itu bertempat tinggal dan tanpa
perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum dihadiri oleh keluarga masing-masing.
Islam yakni memenuhi rukun dan syarat perkawinan Pencatatan perkawinan sebagai upaya untuk
(pasal 4 KHI) atau bisa juga sah berdasarkan agama tertib administrasi dan merupakan kewajiban warga
atau kepercayaan lainnya.33 Keberadaan wali dalam negara sehingga mereka yang kawin lari atau tidak
pernikahan sudah menjadi qānūn yang mengikat dicatat di Kantor Urusan Agama tidak dijamin
mengikat seluruh orang Indonesia, sehingga dengan akibat administrasinya dikarenakan mereka tidak
sendirinya akan meniadakan perbedaan dari fatwa punya bukti nikah, bahkan PP Nomor 9 tahun 1975
ulama. Konsekuensinya, orang Indonesia harus Pasal 45 Jo Pasal 3 dan PP Nomor 9 tahun 1975
tunduk terhadap aturan tersebut, tidak boleh memilih mereka diancam dengan hukuman kurungan satu
fatwa yang sifatnya tidak mengikat. bulan atau dengan hukuman denda setinggi-
3. Perkawinan tanpa walimah seperti nikah siri tingginya Rp. 7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah)
yang lain adalah nikah tanpa “walimah” yakni dan orang yang menikahkan tanpa ada kewenangan
nikah yang telah memenuhi ketentuan syariat diancam hukuman 3 bulan kurangan.34
Islam dan telah dilangsungkan di hadapan PPN Perkawinan merupakan awal bagi pembentukan
bahkan telah diberikan salinan akta nikah keluarga. Keluarga merupakan kesatuan sosial
kepada kedua mempelai karena calon suami terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk
isteri sudah memenuhi syarat-syarat sahnya sosial. Sebuah keluarga terdiri dari atas seorang laki-
nikah menurut hukum positif, hanya saja laki dan seoerang perempuan ditambah dengan
nikahnya masih dilangsungkan dalam anak-anak mereka yang bisanya tinggal dalam satu
lingkungan intern keluarga dan handai taulan rumah yang sama. Keluarga juga merupakan suatu
yang sangat terbatas dambelum di adakan kesatuan kekerabatan yang juga merupakan satuan
resepsi atau pesta pekawinan. Perkawinan tempat tinggal yang ditandai oleh adanya kerjasama
seperti ini bisanya suami istri belum tinggal ekonomi dan mempunyai fungsi untuk
bersama karena mungkin salah satu atau berkembangbiak, mensosialisasikan atau mendidik
keduanya masih sedang menyelesaikan studi anak dan menolong serta melindungi yang lemah
atau training kepegawaian atau perusahaan. khususnya merawat orang-orang tua mereka yang
Motif perkawinan terutama untuk mendapatkan telah jompo.35
ketenangan dan kehalalan, perkawinan Pemahaman terhadap masalah perkawinan
semacam ini tidak ada masalah, sah hukumnya selalu dikaitkan dengan suatu hubungan yang legal,

98
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 9 Tahun
33 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang No 1 Tahun
Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Islam Ditjen
Pembinaan Kelembagaan Islam Departemen Agama, 1974 Tentang Perkawinan
35
Kompilasi Hukum Islam Indonesia, 2001. Wahyu M.S, Wawasan Ilmu Sosial Dasar, Usaha
Nasional, Surabaya, 1986, hlm. 57.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 10
disamping melegalkan hubungan seksual kawinnya sah, tetapi kalau orang yang
perkawinan juga mengatur hak dan kewajiban dinikahkannya tidak dengan wali yang sah,
diantara mereka yang diikat oleh hubungan meskipun ada mahar dan saksi maka perkawinannya
perkawinan, seperangkat kewajiban sosial setalah tetap tidak sah.
mereka resmi menjadi suami-isteri apalagi telah Perkawinan yang sah salah satu syarat adanya
mempunyai anak dan penempatan diri mereka wali, tetapi kalau tidak ada wali pernikahannya tidak
sebagai bagian dari anggota kekerabatan kedua sah, tapi negara kita bukan negara islam, wali nikah
belah pihak dimana kedua suami dan isteri itu yang dimaksud oleh Negara adalah qadi yang
berasal. Dalam kajian sosiologi, perkawinan ditunjuk sementara wali dalam islam itu harus dibeli
merupakan suatu pola sosial yang disetujui dengan oleh orang yang ingin menikah karena telah
cara mana dua orang atau lebih membentuk menunjuknya sebagai wali), disamping oknum jasa
keluarga. 36 kawin lari telah menyediakan wali dan saksi, namun
Perkawinan tidak hanya mencakup hak untuk ada juga pasangan pengantin yang datang membawa
melahirkan dan membesarkan anak tetapi juga wali dan saksi yang sesuai dengan ketentuan hukum
seperangkat kewajiban dan hak-hak istimewa yang perkawinan islam dari rumahnya.
mempengaruhi banyak orang atau masyarakat. Arti 1. Alasan atau Faktor Penyebab yang
sesungguhnya dari perkawinan adalah penerimaan Melatarbelakangi Pasangan Pengantin yang
status baru, dengan sederatan hak dan kewajiban Melakukan Praktik Kawin Lari
yang baru, serta pengakuan atas status baru oleh a. Terhalang Oleh Proses Administrasi
orang lain. Layaknya proses perkawinan yang resmi b. Terhalang Restu Orang Tua dan Restu Adat
dan legal, praktik kawin lari di Desa Janji Lobi c. Rendahnya Pemahaman Masyarakat
dalam pelaksanaanya mempunyai proses untuk Tentang Aturan Perkawinan
menuju perkawinan yang sah dan legal. d. Keinginan Beristri Lebih dari Satu atau
Hal demikian tentunya berbeda dengan tata cara Poligami Tanpa Izin
perkawinan yang telah ditentukan dan diatur dalam e. Hamil Diluar Nikah
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 f. Kesenjangan Ekonomi
tentang Perkawinan Pasal 12 selanjutnya yang B. Akibat Hukum Pelaksanaan Kawin Lari
menentukan tata cara pelaksanaan perkawinan diatur Yang Tidak Disetujui Wali Nikah Ditinjau
melalui Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 dan dari Undang-Undang perkawinan Nomor 1
dijabarkan dalam Kompilasi Hukum Islam,37 namun Tahun 1974 tentang Perkawinan
untuk proses kawin lari perbedaannya dapat Salah satu contoh marlojong dapat dilihat dari
ditelusuri bahwa yang bertindak sebagai wali, saksi kasus yang dialami RD ini. Pada sore hari RD
dan pegawai pencatat perkawinannya adalah palsu meminta izin kepada orangtuanya untuk keluar
tapi ada sebagian pasangan yang membawa sendiri bersama temannya, tapi pada malam hari dia tidak
wali dan saksinya yang sah. Proses praktik kawin kunjung pulang, ia pun mengirim pesan singkat
lari bisaanya dilakukan dirumah penyedia jasa kepada kerabatnya mengabarkan bahwa ia telah
kawin lari bagi pasangan pengantin yang ingin marlojong dengan RN dengan meninggalkan surat
menikah dengan jasa tersebut ada yang membawa dan sirih pertanda ia telah marlojong, 38 saat dia
keluarga atau kerabat. Bertindak sebagai wali dan kembali lagi ke desanya sudah resmi melakukan
saksi dalam praktik kawin lari, biasanya sudah perkawinan di tempat lain dengan menggunakan
dipersiapkan oleh oknum jasa kawin lari tersebut, wali hakim akibat dari orang tuanya tidak
sehingga dapat memudahkan pasangan pengantin menyetujuinya dengan berbagai alasan, namun
untuk melakukan perkawinannya. setelah menikah dan hidup bersama, RN dan RD
Perkawinan adalah agama, sedangkan agama mempunyai keturunan lalu tidak lama kedua
ini mempunyai rukun dan syaratnya, kalau orangtua RD memanggil kembali anaknya
perkawinannya dengan wali yang sah maka dikarenakan kerinduan orangtua terhadap anak
dan ingin melihat cucu mereka maka kedua belah
pihak sepakat memperbaiki tata cara perkawinan
36
B. Horton, Paul dan L. Hunt, Chester, Sosiologi, mereka dari awal yaitu akad hingga dengan
Erlangga, Jakarta, 1984, hlm. 35.
37 menggunakan hobar adat, sehingga muncul
Pasal yang dimaksud dalam Undang-Undang No 1
Tahun 1974 tersebut adalah “Tata cara perkawinan diatur
dalam peraturan perundang-undangan tersendiri”. Lihat
38
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, UII Press, Wawancara dengan RN, Pelaku Kawin Lari di Desa
Yogyakarta, 2000, hlm. 65. Janji Lobi, Hari Senin, Tanggal 10 April 2017, Bertempat di
kediaman RN.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 11
beberapa akibat antara lain seperti akibat sosial, Sementara dari aspek kualitas hubungan suami
hukum dan juga dalam hubungan suami istri. istri, umumnya pasangan kawin lari tidak ada
Akibat yang muncul karena Praktik Kawin kepastian dalam menjalani rumah tangganya apakah
Lari antara lain: rumah tangga tersebut akan berlangsung kekal
1. Akibat social karena para pihak pelaku kawin lari dapat
a. Masyarakat mengucilkan pelaku kawin lari meninggalkan pasangan nya dikarenakan tidak ada
beserta keluarganya dasar dan kepastian hukum yang pasti, meskipun
b. Dalam aturan adat di, pasangan yang pada awal mereka melaksanakan kawin lari mereka
melakukan praktik kawin lari tidak diakui meyakini bahwa rumah tangga yang dibangun atas
oleh adat (KAN) kecuali bayar uang jujur dasar saling mencintai akan kekal sepanjang hidup
c. Sebagian desa menyatakan pasangan kawin dan mampu mengatasi masalah secara bersama.
lari diberi sanksi adat, yaitu dibuang Kendati jika tidak ada mengalami masalah yang
sepanjang adat serius, namun hal ini diragukan oleh penghulu-
2. Akibat Hukum penghulu adat bahwa pasangan yang melakukan
a. Selalu mendapati masalah dalam kawin lari cenderung dibayangi oleh persoalan
administrasi Negara rumah tangga, karena perkawinan yang dimulai
b. Tidak bisa me-legalisir buku nikah di dengan permasalahan, biasanya tidak akan lama
kantor KUA bertahan, sehingga berdampak kepada pelemahan
c. Negara tidak mengakui perkawinan generasi berikut. Diantaranya, anak akan merasa
pasangan pengantin ya-ng melakukan kesulitan berinteraksi denga lingkungan karena
kawin lari merasa minder dengan status perkawinan
d. Pasangan pengantin kawin lari tidak men- orangtuanya.
dapatkan layanan publik di instansi Kawin lari yang selama ini terjadi di Desa Janji
pemerintah Lobi adalah merupakan suatu kebiasaan yang sudah
e. Anak yang dihasilkan dari pelaku kawin lama terjadi dan turun temurun, tetapi bukan
lari adalah anak luar nikah dan hanya merupakan adat, seperti halnya di masyarakat adat
punya hubungan perdata dengan ibu nya suku Sasak Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat,
3. Akibat Kualitas HubunganSuami Istri bahwa kawin lari itu merupakan adat sehingga bagi
a. Tidak ada kepastian hubungan pelaku kawin masyarakat yang akan melaksanakan perkawinan
lari sehingga berdampak mudah berpisah harus didahului oleh kawin lari dan kawin larinya
dan tidak bertahan lama tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi tetapi
b. Masyarakat dan Penghulu adat selalu orang lain ikut mengetahui kepergiannya.
meragukan keutuhan rumah tangga Mekanisme pelaksanaan perkawinan harus
pasangan kawin lari berdasarkan mekanisme adat sampai kepada yang
Dampak terbesar jika diteliti sesuai dengan berhubungan dengan sanksi-sanksi bagi yang
kasus yang terjadi antara RD dan RN adalah mereka melanggarnya. Kasus kawin lari di Desa Janji Lobi
mengkhawatirkan persoalan kedudukan hukum dan pada dasarnya suatu perbuatan yang tidak
nasib anaknya dikemudian hari. Dampak ini mulai menyenangkan dan tidak terpuji serta tidak
dirasakan, ketika pasangan tersebut mengalami bermartabat karena perbuatan tersebut akan
kesulitan administrasi yang berhubungan dengan mempengaruhi status sosial orang tua dan keluarga.
legalitas perkawinan, yaitu berupa buku nikah dan Menurut pandangan agama Islam bahwa perbuatan
muara dari legalitas perkawinan ini adalah tidak kawin lari tersebut bertentangan dengan agama,
terpenuhi haknya dalam pelayanan publik pada karena tidak dibenarkan bagi kaum muslim untuk
instansi pemerintahan, seperti mengurus Kartu berduaan antara laki-laki dan perempuan yang
Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), Akta bukan muhrim, sehingga haram hukumnya.
Kelahiran Anak dan lain sebagainya. Kesulitan- Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan pada
kesulitan ini juga tercermin bagi pasangan kawin dasarnya kawin lari tersebut juga tidak dibenarkan,
lari, setiap urusannya tidak dilayani, karena karena didalamnya ada hal-hal yang dilanggar yaitu
administrasinya tidak lengkap. Kemanapun dia antara lain: Tidak mengindahkan asas musyawarah
mengadu misalkan untuk buat KTP dan KK, tidak dan mufakat, terjadinya pemaksaan kehendak dan
akan bisa. Hal ini disebabkan karena tidak ada bukti terbukanya aib keluarga maupun masyarakat, karena
perkawinan yang sah, walaupun mereka datang ke konotasi dari kawin lari akan berpeluang terjadinya
Camat juga tidak bisa karena dikelurahan urusannya perbuatan-perbuatan maksiat.
belum selesai.

JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 12


Praktek kawin lari tersebut merupakan suatu dilaporkan kepada pihak yang berwajib untuk
kebiasaan yang telah diakui keberadaannya oleh diproses secara hukum.
masyarakat Desa Janji Lobi khususnya masyarakat Kawin lari merupakan perbuatan yang dapat
Angkola Desa Janji Lobi pada umumnya apabila menurunkan martabat atau status sosial orang tua
terdengar orang yang kawin lari oleh masyarakat itu dan keluarga, sehingga ada salah seorang responden
sudah menjadi hal yang biasa. yang menjadi sampel dalam penelitian ini yang
Akibat hukum dari perkawinan antara suami dalam perkawinan (melalui kawin lari) oleh orang
istri menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tuanya tidak diberikan hak walinya, setelah tidak
tentang Perkawinan telah diatur dengan jelas dan diberikannya wali nikah kepada yang melaksanakan
gampang dipahami, ketika adanya niat yang baik kawin lari dilakukan upaya musyawarah oleh para
dalam menegakkan dan menghormati Undang- tokoh masyarakat yang menjadi utusan dalam
undang. Suatu perkawinan yang dilangsungkan rangka upaya perbaikan ke kedua orang tua si
secara sah menurut hukum akan menimbulkan perempuan dan laki-laki, upaya musyawarah
berbagai akibat hukum. tersebut akan dapat diterima apabila pihak laki-laki
Pengaduan dilakukan: bersedia membayar denda atau uang pengganti
1. Wanita ketika dibawa pergi belum cukup menurut pelanggaran yang dilakukan terhadap
umur, oleh dia sendiri, atau orang lain yang ketentuan kawin lari dan prosesnya tidak dilakukan
harus memberi izin bila dia nikah. acara lamaran tetapi pihak laki-laki melakukan
2. Wanita ketika dibawa pergi sudah cukup permintaan maaf terhadap kejadian tersebut. Denda
umur, oleh dia sendiri atau oleh suaminya. yang dimaksud akan dimusyawarahkan antara kedua
Apabila yang membawa pergi lalu nikah orang tua perempuan dan laki-laki, dan mengenai
dengan wanita yang dibawa pergi dan terhadap besar kecilnya denda akan diputuskan secara
pernikahannya berlaku aturan-aturan Burgerlijk musyawarah yang sifatnya rahasia.
Wetboek maka tak dapat dijatuhkan pidana sebelum Upaya yang Dilakukan Para Pihak Terhadap
pernikahaanya dinyatakan batal. Kasus Kawin Lari di Desa Janji Lobi
Melihat ketentuan Hukum Pidana dapat 1. Ketua Adat: Bertindak sebagai yang paling
diuraikan bahwa disetiap pelaksanaan kawin lari dituakan di Desa dan disegani Masyarakat,
yang secara tidak langsung bahwa membawa lari para Ketua Adat selalu memanggil dari
anak perempuan orang lain akan dikenakan pihak kedua belah Keluarga untuk
ancaman hukuman pidana penjara yaitu tujuh tahun bermusyawarah guna menemukan jalan
apabila perbuatan berlarian itu disetujui oleh keluar bagi keduanya, sehingga masalah ini
perempuan yang dibawa lari, tetapi apabila berlarian tidak berlarut-larut serta merugikan kedua
itu perempuannya tidak setuju untuk melarikan diri belah pihak dan ketua adat juga membantu
tetapi akibat tipu daya, kekerasan atau ancaman pasangan kawin lari untuk memperbaiki tata
kekerasan maka terhadap laki-laki yang cara perkawinan nya dimulai dari akad
membawanya lari dikenakan ancaman hukuman hingga selesai dengan hobar adat.
penjara selama-lamanya sembilan tahun. 2. Pemerintahan Desa: Melihat eksistensi
Hukuman yang dimaksud terlebih lebih, kawin lari yang tiap tahun pasti selalu ada
terhadap kawin lari yang dilakukan terhadap anak pihak pemerintahan Desa Janji Lobi
perempuan yang belum cukup umur untuk dapat bertindak tegas dengan menerapkan
melakukan penuntutan terhadap laki-laki yang ketentuan seperti, setiap anak sekolah wajib
membawa lari anak perempuan orang lain tersebut menggunakan akta lahir yang bisa terbit dari
adalah apabila ada pengaduan yang mana perkawinan sah yang diakui negara dengan
pengaduan dapat dilakukan oleh perempuan itu bukti mempunyai buku nikah. Pemerintahan
sendiri atau walinya dan pada waktu dibawa lari Desa juga melakukan pendataan terhadap
telah dewasa maka pengaduan dapat dilakukan oleh pasangan yang telah kawin lari (marlojong)
perempuan itu atau suaminya kalau sudah kawin, baik yang sudah memperbaiki tata cara
apabila dalam kawin lari tersebut mereka telah perkawinan dari akad hingga hobar adat atau
kawin maka laki-laki yang membawa lari tidak pasangan yang belum memperbaiki tata cara
dapat dikenakan pidana sebelum perkawinan perkawinan untuk membantu pasangan
dibatalkan, apabila orang tua merasa keberatan marlojong mengurus surat-surat resmi yang
dengan tindakan yang dilakukan oleh pihak laki-laki berguna bagi para kedua belah pihak.
terhadap anaknya, anak laki-laki tersebut akan bisa 3. Orang tua dan Keluarga: Mengetahui anak
mereka melakukan kawin lari, para keluarga

JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 13


setiap pihak biasanya lebih dulu berkumpul anak sudah saatnya untuk diajak duduk
sebelum diselesaikan oleh ketua adat. bersama untuk membicarakan tentang calon
Mereka akan membagi tugas dari suami atau istri.
menentukan siapa yang akan mencari b. Para tokoh agama, tokoh masyarakat dan
pasangan kawin lari, mengadukan ke ketua ketua adat sebaiknya memberikan
adat hingga menemui keluarga dari yang pemahaman kembali kepada masyarakat
membawa anak mereka kawin lari39. bahwa menikah dengan cara kawin lari tidak
III. PENUTUP harus dilakukan dan meluruskan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah pemahaman tentang cara melamar yang
penulis lakukan, maka dapat disimpulkan dianggap mahal, sehingga dapat meluruskan
sebagai berikut: pemahaman sebelumnya yang telah menjadi
A. Kesimpulan tradisi dalam masyarakat. Peran aktif para
1. Pelaksanaan kawin lari yang tidak disetujui tokoh agama, tokoh masyarakat dan ketua
wali nikah ditinjau dari Undang-Undang adat sangat penting dalam melakukan
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pembaruan ini sehingga mudah diterima
bahwa pada dasarnya kawin lari sebenarnya oleh masyarakat.
masih berada dalam kategori kawin siri karena DAFTAR PUSTAKA
pelaksanaannya dilakukan secara sembunyi A. Buku
atau rahasi, hanya saja wali nikah dalam hal Andi Tahir Hamid, Beberapa Hal Baru Tentang
ini adalah wali yang tidak sah, demikian juga Peradilan Agama Dan Bidangnya, Sinar
dengan saksi dan pegawai pencatat Grafika, Jakarta, 2005, hlm. 18.
perkawinannya. Orang Indonesia harus B.Horton, Paul dan L. Hunt, Chester, Sosiologi,
tunduk terhadap aturan tersebut, tidak boleh Erlangga, Jakarta, 1984, hlm. 35.
memilih fatwa yang sifatnya tidak mengikat. Bachtiar, A., Menikahlah, Maka Engkau Akan
2. Akibat hukum pelaksanaan kawin lari yang Bahagia!, Saujana, Yogyakarta, 2004, hlm.
tidak disetujui wali nikah ditinjau dari 2.
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok-pokok
1974 adalah selalu mendapati masalah dalam Filsafat Hukum Apa dan Bagaimana
administrasi negara tidak bisa melegalisir Filsafat Hukum di Indonesia,PT. Gramedia
buku nikah di kantor KUA dan Negara tidak Pustaka Utaman, Jakarta, 2008, hlm. 155.
mengakui perkawinan pasangan pengantin Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan
yang melakukan kawin lari. Pasangan Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2003,
pengantin kawin lari tidak mendapatkan hlm. 1 dan 82.
layanan publik di instansi pemerintah karena Hilman Hadikusuma, Metode Pembuatan Kertas
dilakukan tidak sah akibat tidak adanya wali Kerja atau skripsi llmu Hukum, cv. Mandar
sah makanya segala bentuk hubungan hukum Maiu, Bandung, 1995, hlm. 61.
yang berkaitan dengan administrasi K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia,
perkawinan tidak dapat dilakukan, selain itu Ghalia Indonesia, Jakarta Timur, 1982, hlm.
apabila orang tua perempuan dan keluarga 3, 160.
merasa keberatan atas kasus yang dialami oleh Lloyd Saxton, The Individual, Marriage and The
anaknya maka sesuai dengan ketentuan Family, Wadsworth Publishing Company,
Hukum Pidana, pihak orang tua perempuan California, 1986, hlm 15.
dan keluarga dapat melaporkannya ke pihak Lulik DjatiKumoro, Hukum pengangkatan anak di
yang berwajib dan diproses secara hukum. Indonesia, PT. Utra Aditya Bakti, Bandung,
B. Saran 2011, hlm. 1.
a. Hendaknya kepada orang-orang tua M. Yahya Harahap., Hukum Perkawinan
terutama yang mempunyai anak yang telah Nasional, Berdasarkan Undang-Undang
memasuki usia perkawinan untuk lebih Nomor 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah
terbuka membangun komunikasi dengan Nomor 9 Tahun 1975
anak artinya pada umur yang dimaksud si Maramis, W.F. dan Yuwana, T.A., Dinamika
Perkawinan Masa Kini, Diana, Malang,
1990, hlm. 3.
39
Hasil wawancara dari Bapak Jusman Hasibuan selaku Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn
ketua adat dan pemerintahan Desa Janji Lobi,pada Hari Ahmad ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa
Rabu, 19 November ,di kantor camat Desa Janji Lobi.
JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 14
al-Nihayah al-Muqtasid, Maktabah Usaha Mahkamah Agung Republik Indonesia,
Keluarga, Semarang, 2010, hlm. 3 Jakarta, 1 Agustus 2009, hlm. 4.
Mulyadi., Hukum Perkawinan Indonesia. Badan D. Website
Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang, http://blog.djarumbeasiswaplus.org/galangputra/
2008,hlm. 34. 2014/10/24/makalah-prinsip-UU-no-1-
Ronny Hanitidjo Soemitro, Metodologi Penelitian tahun-1974-tentang-perkawinan, diakses,
Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, tanggal, 05 April 2017.
Jakarta, 1988, Hlm. 57. http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/delegalata/artic
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu le, diakses, tanggal 10 April 2017, Hari
Pengantar), Liberty, Yogyakarta, 1988, Senin, Pukul 11.00 WIB.
hlm. 136. E. Peraturan Perundang-Undangan
Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam: Hukum Fiqih Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Lengkap, Sinar Baru Algae Sind, Bandung, Kompilasi Hukum Islam
2012, hlm, 387. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
B. Jurnal Perkawinan
Chatib Rasyid, “Anak Lahir Di Luar Nikah Secara Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang
Hukum Berbeda Dengan Anak Hasil Zina- Pencatatan Nikah, Nikah, Talak dan Rujuk
Kajian Yuridis Terhadap Putusan MK Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975
No.46/ PUU-VII/2012”, Jurnal Mimbar tentang Pelaksanaan Undang-Undang
Hukum Dan peradilan. Jakarta, Nomor 75 Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
Tahun 2012, hlm. 184.
Fikri Fawaid dan Moh. Hasin Abd Hadi,
“Pelaksanaan Nikah Ngodheh Studi
Komparasi Hukum Islam Dengan Hukum
Adat) di Desa Bangkes Kecamatan Kadur
Kabupaten Pamekasan Madura”, Jurnal
Hukum Perhimpunan Mahasiswa Hukum
Indonesia Cabang Daerah Istimewa
Yogyakarta, Vol.1, No.2 Juni 2015, hlm. 6.
Ika Ningsih, et. Al., “Perkawinan Munik (Kawin
Lari Pada Suku Gayo Di Kecamatan
Lintang Kabupaten Aceh Tengah)”, Jurnal
Ilmiah, Mahasiswa Pendidikan
Kewarganegaraan Unsyiah Volume 1,
Nomor 1 Agustus 2016, hlm. 110-119.
Khoirul Hidayah, “Dualisme Hukum Perkawinan
di Indonesia (Analisis Sosiologi Hukum
Terhadap Praktik Nikah Sirri)”, Jurnal
Perspektif Hukum, Universitas Hang Tuah
Surabaya, Vol. 8 Mei 2008, hlm. 39.
M. Nur Yasin, “Kontekstualisasi Doktrin
Tradisional Di Tengah Modernisasi Hukum
Nasional: Studi tentang Kawin Lari
(Merari‟) di Pulau Lombok”, Jurnal
Istinbath, Vol. IV, No. 1 Tahun 2006, hlm.
73-75.
C. Makalah
Bagir Manan, “Keabsahan dan Syarat-Syarat
Perkawinan antar orang Islam menurut UU
No. 1 Tahun 1974”, makalah disampaikan
pada Seminar Nasional dengan tema Hukum
Keluarga dalam Sistem Hukum Nasional
antara Realitas dan Kepastian Hukum,

JOM Fakultas Hukum Volume V No. 2 Oktober 2018 Page 15