You are on page 1of 14

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No.

2 Mei 2011: 11-23_____________________ ISSN 2087-4871

EKSPLORASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM PENANGKAPAN KAKAP


PUTIH (Lates calcarifer) DI KABUPATEN MIMIKA

(EXPLORATION OF THE APPROPRIATE FISHING TECHNOLOGY FOR


BARRAMUNDI (Lates Calcarifer) FISHERIES IN MIMIKA REGENCY)
Domu Simbolon1,2, Ari Purbayanto2, Julia E. Astarini2, dan Wesley Simanungkalit3
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT
Utilization level of barramundi in Mimika Regency waters tend to increase every years, because the kind of fish had the
high economical value. This condition usually could be trigger to use the environmental unfriendly fishing technology for increasing
the catches. Development of the appropriate fishing technology in Mimika waters must consider the maximum sustainable yield
(MSY) of barramundi resources, social, and economic aspects of fisherman. The objectives of this research were to explore the
MSY of barramundi resources, to determine the development opportunity of barramundi fisheries, to explore the appropriate
fishing technology of barramundi, and to determine the development strategy of barramundi fishing technology in Mimika Regency
waters. The research method used was survey through experimental fishing activitiy. Data were analyzed with bioeconomic model,
multicriteria analysis, and analitical hierarchy process approaches. The estimated MSY of barramundi in Mimika waters was
8,348 tons/year, and fishing effort was 970,122 trips/year. Development opportunity at MSY condition was 6,807 tons/year
while at MEY management was 6,553 tons/year. The appropriate fishing technology for Barramundi fisheries in Mimika
Regency was gillnet and handlne, but gillnet was more adventage than handline. The gillnet becomes main priority for developing
with a strategy of fisherman empowerment, and cooperative among stakeholders for improving catch and fishermen income.
Keywords: Barramundi, fishing technology, appropriate, Mimika Regency

ABSTRAK
Tingkat pemanfaatan ikan kakap putih di peraian Kabupaten Mimika cenderung meningkat setiap
tahun, karena jenis ikan ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Kondisi ini biasanya menjadi pemicu untuk
menggunakan teknologi penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dalam meningkatkan hasil tangkapan.
Pengembangan teknologi penangkapan ikan tepat guna di perairan Mimika harus mempertimbangkan potensi
lestari ikan kakap putih, aspek sosial dan ekonomi nelayan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi
potensi lestari SDI kakap putih, menentukan peluang pengembangan perikanan kakap putih, mengeksplorasi
teknologi penangkapan ikan kakap putih yang tepat guna, dan menentukan strategi pengembangan dalam
usaha penangkapan kakap putih di perairan Kabupaten Mimika. Metode penelitian yang digunakan adalah
survei melalui kegiatan experimental fishing. Data dianalisis dengan pendekatan model bio-ekonomi, multicriteria
analysis dan analitycal hierarchy process. Dugaan potensi lestari ikan kakap putih di perairan Mimika adalah 8.348
ton/tahun, dan upaya penangkapan optimum 970.122 trip/tahun. Peluang pengembangan pada kondisi
pengelolaan MSY adalah 6,807 ton/tahun, sedangkan pada kondisi pengelolaan MEY 6.553 ton/tahun.
Teknologi tepat guna dalam penangkapan kakap putih di perairan Mimika adalah jaring insang dan pancing
ulur, tetapi jaring insang lebih menguntungkan dibandingkan pancing ulur. Jaring insang menjadi prioritas
pertama untuk dikembangkan dengan melakukan strategi pembinaan nelayan, dan kerjasama antar pelaku
untuk meningkatkan hasil tangkapan dan kesejahteraan nelayan.
Kata kunci: Kakap putih, teknologi penangkapan, tepat guna, Kabupaten Mimika

I. PENDAHULUAN Mimika dari bidang perikanan tangkap.


Usaha penangkapan di perairan Mimika
1.1. Latar Belakang berusaha meningkatkan jumlah upaya
penangkapan kakap putih karena harga
Kakap putih (Lates calcarifer) ikannya yang cukup tinggi (Dinas
merupakan salah satu komoditas Perikanan dan Kelautan Kab Mimika,
unggulan sebagai penyumbang 2006). Fenomena tersebut dapat
pendapatan asli daerah (PAD) yang mengancam kelestarian sumberdaya ikan
diharapkan oleh Pemerintah Kabupaten apabila upaya penangkapan tidak

1
Corresponding author
2
Staf Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK - IPB
3
Alumni Program Studi Teknologi Kelautan Pascasarjana IPB

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, IPB _______________________________ E-mail: jtpkipb@gmail.com


dikontrol sesuai dengan jumlah potensi ekonomi dan lingkungan, agar tidak
lestari. Fauzi dan Anna (2002), menimbulkan dampak negatif di masa
menyatakan bahwa keberlanjutan meru- mendatang.
pakan kata kunci dalam pembangunan
perikanan yang diharapkan dapat 1.2. Tujuan Penelitian
memperbaiki kondisi sumberdaya dan Tujuan penelitian ini adalah untuk
kesejahteraan masyarakat perikanan itu (1) mengeksplorasi potensi lestari SDI
sendiri. kakap putih, (2) menentukan peluang
Sumberdaya ikan (SDI) dikategori- pengembangan perikanan kakap putih,
kan sebagai sumberdaya yang dapat (3) mengeksplorasi teknologi penang-
pulih, namun demikian tingkat kapan ikan kakap putih yang tepat guna,
pemanfaatan SDI yang berlebihan dapat dan (4) menentukan strategi pengem-
menimbulkan permasalahan yang bangan dalam usaha penangkapan
kompleks (Malanesia et al., 2007). kakap putih di perairan Kabupaten
Penentuan alokasi optimum upaya Mimika.
penangkapan dalam pemanfaatan SDI
kakap putih di perairan Mimika II. METODOLOGI
membutuhkan data dan informasi yang
akurat tentang potensi lestari, sehingga 2.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
kelestarian SDI dan keberlanjutan usaha Penelitian ini dilaksanakan pada
perikanan tetap terjamin. bulan Maret-Mei 2006 di perairan
Pemanfaatan sumberdaya ikan Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
diharapkan dapat meningkatkan pen-
dapatan nelayan, namun demikian 2.2. Metode Pengumpulan Data
bahwa penggunaan teknologi penang- Penelitian ini dilakukan dengan
kapan harus sesuai (tepat guna) agar menggunakan metode survei. Data yang
tidak mengancam kelestarian SDI itu dikumpulkan meliputi produksi dan
sendiri. Jumlah alokasi unit upaya penangkapan, jumlah dan ukuran
penangkapan harus diatur agar tidak (size) ikan kakap putih yang tertangkap,
terjadi kelebihan tangkap, bahkan biaya operasi penangkapan, dan harga
konflik sosial di antara nelayan ikan kakap putih. Data produksi dan
(Simbolon, 2008). Peluang untuk upaya penangkapan selama tujuh tahun
menambah unit penangkapan dan diperoleh dari Dinas Perikanan dan
penggunaan teknologi yang tidak ramah Kelautan Kab. Mimika.
lingkungan dalam usaha penangkapan Sampel kapal yang diamati
ikan kakap putih di perairan Mimika ditentukan secara sengaja (purposive
cukup besar karena harga ikan tersebut sampling), dengan pertimbangan bahwa
relatif tinggi. kapal tersebut menangkap kakap putih
Pemanfaatan potensi perikanan dan layak operasi, serta ada
kakap putih di perairan Kabupaten izin/kesediaan pemilik kapal. Dengan
Mimika belum dapat dilakukan secara pertimbangan tersebut, maka ditetapkan
optimal karena keterbatasan informasi sampel kapal jaring insang dan pancing
dasar, terkait dengan jumlah potensi ulur masing-masing 10 unit. Data primer
SDI, dan keragaan teknologi yang dikumpulkan dari sampel kapal
penangkapan. Berdasarkan studi meliputi jumlah dan ukuran panjang
pendahuluan, kendala lain yang kakap putih yang tertangkap, jumlah
ditemukan di lokasi penelitian adalah anak buah kapal (ABK). Pada setiap trip
sarana dan prasarana usaha perikanan operasi kapal sampel, ditimbang jumlah
tangkap yang terbatas, armada tangkapan total dan tangkapan kakap
penangkapan yang masih tergolong skala putih, lalu diambil sampel ikan kakap
kecil, rantai pemasaran belum tertata putih untuk diukur panjangnya. Sampel
baik, keterbatasan modal usaha, dan ikan diambil secara acak yang jumlahnya
adopsi teknologi yang rendah. Untuk itu berkisar 5-10 ekor per trip tergantung
perlu dilakukan kajian yang sistematis variabilitas ukuran ikan.
untuk menentukan pola pengembangan Data biaya operasional, dan harga
perikanan kakap putih yang ikan kakap putih diperoleh dari hasil
berkelanjutan, dengan mempertimbang- wawancara dan pengisian kuesioner oleh
kan aspek biologis, teknis, sosial, 20 responden, masing-masing 10 orang
12 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23
ISSN 2087-4871

anak buah kapal (ABK) untuk mewakili Pengelolaan sumberdaya ikan


unit penangkapan jaring insang, 5 orang kakap putih dengan tingkat upaya
ABK untuk mewakili unit penangkapan maksimum lestari dengan
pancing ulur, dan 5 orang untuk memaksimumkan keuntungan secara
mewakili pedagang pengumpul ikan. ekonomi, dianalisis dengan pendekatan
Responden ditentukan secara sengaja model biologi dari Schaefer (1957), dan
(purposive sampling), dengan pertimbang- model ekonomi dari Gordon (1954),
an bahwa responden bersedia dan dengan rumus berikut :
memahami isi pertanyaan.   apE  bpE 2  cE
Tingkat keuntungan maksimum atau
2.3. Analisis Data maximum economic sustainable yield
(1) Pendugaan potensi lestari dengan (MEY) dicapai pada saat dπ/dE = 0,
model bio-ekonomi sehingga :
Pendekatan bio-ekonomi merupa-
MEY  d / dE  ap  2bpE  c
kan salah satu alternatif pengelolaan
yang dapat diterapkan dalam rangka
meningkatkan pengusahaan sumberdaya Tingkat upaya pada open access (EOA),
secara berkelanjutan. Potensi lestari ikan terjadi pada saat keseimbangan bio-
kakap putih di perairan Kabupaten ekonomi π = 0, yang secara matematis
Mimika dianalisis dengan model Schaefer dapat dinyatakan sebagai berikut :
dan model Fox. Sebelum dilakukan   TR  TC  0
analisis regresi untuk mengetahui apE  bpE 2  cE  0
hubungan antara CPUE dengan upaya
penangkapan (effort), terlebih dahulu ap  bpE  c  0

EOA  (ap  c)
dilakukan standarisasi terhadap effort,
karena jaring insang dan pancing ulur bp
yang menangkap kakap putih di lokasi
penelitian memiliki kemampuan tangkap Keterangan :
(catchability) yang berbeda. Teknik π = keuntungan dari upaya
standarisasi mengikuti prosedur yang pemanfaatan sumberdaya
dianjurkan Sparre & Venema (1999). C = biaya operasional penangkapan
1. Penentuan model yang menunjukkan ikan per satuan upaya
hubungan antara CPUE dengan effort E = upaya penangkapan (trip per
adalah : tahun)
p = harga hasil tangkapan
CPUE  h / E  a  bE
a dan b = koefisien upaya penangkapan
2. Pendugaan hasil tangkapan TR = total revenue (penerimaan total)
maksimum lestari (hMSY) dan upaya TC = total cost (penerimaan total)
optimum (EMSY) pada model Schaefer
adalah sebagai berikut : (2) Penentuan teknologi penangkapan
hMSY  a 2 / 4b ikan kakap putih yang tepat guna
Penentuan teknologi penangkapan
EMSY  a / 2b tepat guna dimaksudkan untuk
3. Pendugaan hasil tangkapan mendapatkan jenis alat tangkap yang
maksimum lestari (hMSY) dan upaya mempunyai keragaan terbaik ditinjau
optimum (EMSY) pada model Fox dari aspek biologi, teknik, sosial dan
adalah sebagai berikut : ekonomi. Kriteria penilaian yang
dibangun dalam penelitian ini adalah :
hMSY   (1 / b) exp ( a1)
(1) secara biologi tidak
EMSY   1 / b mengganggu/merusak kelestarian
Keterangan : sumberdaya ikan, (2) secara teknis
CPUE = rata-rata hasil tangkapan per efisien digunakan, (3) secara sosial dapat
satuan upaya penangkapan diterima masyarakat, (4) secara ekonomi
(kg/trip) menguntungkan. Penilaian terhadap
h = jumlah hasil tangkapan (kg) kriteria yang bernilai kualitatif dilakukan
E = upaya penangkapan (trip) secara subyektif dengan memberikan
yang sudah distandarisasi skor, sedangkan pada kriteria yang
a dan b = parameter regresi bernilai kuantitatif tidak dilakukan
skroring melainkan berdasarkan nilai

Eksplorasi Teknologi Tepat Guna .... (SIMBOLON, PURBAYANTO, ASTARINI, dan SIMANUNGKALIT) 13
obyektif yang diperoleh di lapangan, dan n
B C
urutan prioritas berdasarkan
tertinggi (Haluan & Nurani, 1988).
nilai  1  i  Bt  Ct  0
t 1
t
t
t

Penilaian kriteria aspek biologi dan


Net B / C 
B C
n
teknis dilakukan
berdasarkan data lapangan.
secara obyektif
Aspek
 1  i  Bt  Ct  0
t 1
t
t
t

biologi yang dinilai berhubungan dengan Keterangan :


efektifitas dan selektifitas alat tangkap, B = keuntungan
yaitu ukuran panjang (size) ikan yang C = biaya
tertangkap (cm/ekor), dan jumlah hasil i = discount rate
tangkapan (kg). Aspek teknis yang t = periode
dinilai berhubungan dengan efisiensi Jika Net B/C>1, investasi layak
pengoperasian alat tangkap, yaitu (menguntungkan); jika Net B/C=1, usaha
produksi per trip (kg/trip), dan produksi tidak memberikan keuntungan tetapi
per tenaga kerja (kg/trip/tenaga kerja). juga tidak rugi; dan jika Net B/C<1,
Aspek sosial yang dinilai investasi tidak layak (rugi).
berhubungan dengan respon penerimaan Kriteria IRR, dapat juga dianggap
masyarakat terhadap alat tangkap, dan sebagai tingkat keuntungan atas
penyerapan tenaga kerja (orang/trip). investasi bersih dalam suatu proyek.
Respon penerimaan nelayan terhadap Setiap benefit bersih yang diwujudkan
alat tangkap dievaluasi secara subyektif secara otomatis ditanam kembali dalam
dengan memberikan skor 1 bila alat tahun berikutnya dan mendapatkan
tangkap kurang disukai, skor 3 bila alat tingkat keuntungan yang diberi bunga
tangkap disukai, dan skor 5 bila alat selama sisa umur proyek. Rumus untuk
tangkap sangat disukai nelayan. menghitung IRR adalah :
Aspek ekonomi dinilai secara
NPV 
obyektif melalui hasil perhitungan IRR  i1  i2  i1 
kelayakan usaha jaring insang dan NPV   NPV 
pancing ulur. Kriteria yang dinilai adalah Keterangan:
net present value (NPV), benefit cost ratio i1 = discount rate NPV positif
(Net B/C), internal rate of return (IRR), i2 = discount rate NPV negatif
dan pendapatan nelayan. Perhitungan Bila IRR > dari tingkat bunga berlaku,
kelayakan usaha (NPV, B/C, dan IRR) berarti proyek dinyatakan layak. Bila IRR
mengikuti prosedur yang disampaikan sama dengan tingkat bunga yang
Husnan (1994). berlaku, maka NPV dari proyek tersebut
Kriteria NPV digunakan untuk sama dengan nol. Jika IRR < dari tingkat
menilai manfaat investasi dengan rumus: bunga yang berlaku, berarti proyek tidak
n
Bt  C1 layak.
NPV   Untuk menilai semua aspek biologi,
t 1 1  i t teknis, sosial, dan ekonomi dilakukan
standardisasi sehingga semua nilai
Keterangan : mempunyai standar yang sama.
Bt = benefit pada tahun t Standardisasi menggunakan metode
Ct = cost pada tahun t fungsi nilai, dengan rumus
n = umur ekonomis dari pada proyek (Mangkusubroto & Trisnadi, 1987) :
i = discount rate (suku bunga) x  x0
t = periode. v ( x) :
Apabila NPV > 0 berarti investasi x1  x0
dinyatakan menguntungkan, dan apabila i n

NPV < 0 berarti investasi dinyatakan v ( A)   v (x )


i 1
i i
tidak menguntungkan (tidak layak).
Apabila NPV = 0, investasi hanya Keterangan :
mengembalikan manfaat pada posisi V(X) = fungsi nilai dari variabel X
sama dengan tingkat social opportunity X1 = nilai tertinggi pada kriteria X
cost of capital. X0 = nilai terendah pada kriteria X
Kriteria net B/C, merupakan V(A) = fungsi nilai dari alternatif A
perbandingan antara nilai total dari Vi (Xi) = fungsi nilai dari alternatif pada
manfaat bersih dengan present value kriteria i, i = 1, 2, 3,…n.
total, dan dinyatakan dengan rumus :

14 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23
ISSN 2087-4871

(3) Strategi kebijakan pengembangan 970.122 trip/tahun (Gambar 1).


perikanan kakap putih Berdasarkan model bio-ekonomi
Analisis strategi kebijakan (Gambar 2), peningkatan upaya
pengembangan perikanan kakap putih penangkapan diikuti produksi dan
dilakukan dengan menggunakan penerimaan yang meningkat hingga pada
pendekatan analitycal hierarchy process kondisi MSY dengan penerimaan usaha
(AHP) (Saaty, 1991). Penyusunan hirarki tertinggi pada kondisi MEY. Peningkatan
diawali dengan menentukan tujuan upaya penangkapan juga diiringi dengan
umum yang berada pada level 1, pihak- peningkatan biaya penangkapan. Rente
pihak yang berkepentingan di level 2, ekonomi terbesar diperoleh pada kondisi
faktor-faktor pengembangan di level 3, pengelolaan MEY yaitu Rp 56,91
tujuan yang ingin dicapai di level 4, dan milyar/tahun. Rente ekonomi pada
alternatif strategi kebijakan kondisi MEY ini tercapai pada saat
pengembangan di level terakhir. produksi (hMEY) 8.094 ton/tahun
Selanjutnya alternatif strategi sehingga menghasilkan total penerimaan
pengembangan dirancang interaksinya (TRMEY) Rp 80,94 milyar/tahun dikurangi
satu sama lain dengan bentuk struktur total biaya (TCMEY) Rp 24,03
hirarki dengan memperhatikan pelaku milyar/tahun.
utama, kriteria pengembangan, dan Perbandingan produksi, effort,
tujuan pengembangan. penerimaan, biaya, dan rente ekonomi
pada berbagai kondisi pengelolaan, yaitu
III. HASIL DAN PEMBAHASAN pada kondisi aktual, maximum
sustainable yield (MSY), maximum
3.1. Hasil Penelitian economic yield (MEY) dan open access
3.1.1. Model Bio-Ekonomi Perikanan (OA) disajikan pada Tabel 1. Produksi
Kakap Putih di Kabupaten dan upaya penangkapan kakap putih di
Mimika Kabupaten Mimika dewasa ini masih
Model Schaefer lebih tepat jauh di bawah batasan keseimbangan
diaplikasikan dalam pendugaan potensi bio-ekonomi. Kondisi tersebut
ikan kakap putih di perairan Kabupaten merupakan indikasi bahwa peluang
Mimika dibandingkan dengan model fox, pengembangan produksi dan upaya
karena nilai koefisien determinasi (R 2) penangkapan kakap putih masih besar
model schaefer lebih besar. Hasil hingga pada kondisi pengelolaan MSY
tangkapan maksimum lestari (hMSY) dan MEY. Pada kondisi pengelolaan di
untuk kakap putih adalah 8.348 tingkat MSY, produksi dan effort masih
ton/tahun, dan effort optimum pada dapat ditingkatkan masing-masing
tingkat potensi maksimum lestari (EMSY)

8
7
6
Produksi
(ton/thn) 5
4
3
2
1

Upaya penangkapan (ribu trip/thn)

Gambar 1. Hubungan antara produksi dengan upaya penangkapan, dugaan potensi


lestari dan upaya penangkapan optimum dalam perikanan kakap putih di
perairan Mimika

Eksplorasi Teknologi Tepat Guna .... (SIMBOLON, PURBAYANTO, ASTARINI, dan SIMANUNGKALIT) 15
sebesar 81,54% dan 89,31% dari kondisi biologi yang meliputi ukuran ikan kakap
aktual. Pada pengelolaan di tingkat MEY, (X1), dan persentase jumlah tangkapan
peningkatan produksi dan effort ikan target (X2), maka pengembangan
perikanan kakap putih masing-masing pancing ulur lebih diprioritaskan
sebesar 80,96% dan 87,06% dari kondisi dibandingkan dengan jaring insang
actual (Tabel 2). (Tabel 3). Akan tetapi berdasarkan
penilaian aspek teknis dengan kriteria
3.1.2. Eksplorasi teknologi penang- produksi per trip (X1), dan produksi per
kapan ikan tepat guna trip per tenaga kerja (X2), maka jaring
Prioritas teknologi tepat guna dalam insang lebih diprioritaskan pengembang-
penangkapan kakap putih dievaluasi annya dibandingkan dengan pancing
dengan menggunakan kriteria aspek ulur (Tabel 4).
biologi, teknis, sosial dan ekonomi.
Berdasarkan penilaian kriteria aspek

Gambar 2. Model bio-ekonomi untuk pengelolaan perikanan kakap putih di perairan


Mimika

Tabel 1. Status pengelolaan sumberdaya ikan kakap putih di perairan Mimika, tahun
2005

Total Rente
Kondisi Produksi Total Biaya
Effort (Trip) Penerimaan Ekonomi
pengelolaan (Ton) (Rp.milyar)
(Rp.milyar) (Rp.milyar)
Aktual 1.541 103.669 15,41 3,11 12,30
MEY 8.094 801.013 80,94 24,03 56,91
MSY 8.348 970.122 83,48 29,10 54,38
OA 4.806 1.602.025 48,06 48,06 0

Tabel 2. Peluang pengembangan perikanan kakap putih pada kondisi pengelolaan


MSY, dan MEY di Kabupaten Mimika

Kondisi Effort Produksi Peluang pengembangan(%)


pengelolaan (trip/tahun) (ton/tahun) Effort Produksi
Aktual 103.669 1.541
MSY 970.112 8.348 89,31 81,54
MEY 801.013 8.094 87,06 80,96

16 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23
ISSN 2087-4871

Tabel 3. Penilaian aspek biologi untuk menentukan teknologi penangkapan kakap


putih yang tepat guna di perairan Mimika

Jenis teknologi Kriteria Hasil Standarisasi Terhadap Kriteria


X1 UP1 X2 UP2 V1(X1) V2(X2) Total UP
Jaring insang 4,5 II 40 II 0 0 0 II
Pancing ulur 6 I 70 I 1 1 2 I
Keterangan : UP = urutan prioritas

Tabel 4. Penilaian aspek teknis untuk menentukan teknologi penangkapan kakap


putih yang tepat guna di perairan Mimika

Jenis teknologi Kriteria Hasil Standarisasi Terhadap Kriteria


X1 UP1 X2 UP2 V1(X1) V2(X2) Total UP
Jaring insang 60 I 20 I 1 1 2 I
Pancing ulur 40 II 13 II 0 0 0 II
Keterangan : UP = urutan prioritas

Hasil penilaian aspek sosial dengan dari jaring insang yang lebih besar
menggunakan kriteria penyerapan daripada pancing ulur. Nilai IRR untuk
jumlah tenaga kerja tiap unit usaha jaring insang sebesar 43,99% dan
penangkapan (X1), dan tingkat untuk pancing ulur sebesar 40,98%. Hal
penerimaan masyarakat nelayan ini berarti bahwa nilai IRR dari kedua
terhadap jenis teknologi yang digunakan jenis alat tangkap yang dikaji berada di
(X2), menunjukkan bahwa masyarakat atas discount rate 18%. Hasil penilaian
nelayan lebih menginginkan (menyukai) aspek ekonomi dengan kriteria NPV (X1),
untuk memiliki alat tangkap jaring Net B/C (X2), IRR (X3), dan pendapatan
insang dibandingkan pancing ulur (Tabel nelayan (X4) menunjukkan bahwa jaring
5). insang lebih diprioritaskan
Kriteria yang digunakan dalam pengembangannya dibandingkan dengan
penilaian aspek ekonomi adalah pancing ulur (Tabel 7).
kelayakan financial (NPV, B/C, IRR), dan Berdasarkan hasil analisis
pendapatan nelayan. Berdasarkan terhadap aspek teknis, sosial dan
analisis kelayakan finansial, jaring ekonomi, jaring insang memiliki
insang dan pancing ulur layak keragaan yang lebih baik dibandingkan
dikembangkan dalam usaha pancing ulur. Namun dari aspek biologi,
penangkapan kakap putih di perairan ternyata pancing ulur memiliki keragaan
Mimika (Tabel 6). Berdasarkan nilai B/C, yang lebih baik dibandingkan jaring
setiap biaya Rp 1,00 yang dikeluarkan insang. Setelah dilakukan penggabungan
pada jaring insang akan diperoleh keempat aspek biologis, teknis, sosial
keuntungan Rp 1,93, sedangkan pada dan ekonomi (Tabel 8), dapat
pancing ulur hanya Rp 1,79. Artinya disimpulkan bahwa teknologi
bahwa jaring insang lebih penangkapan tepat guna yang lebih
menguntungkan dibandingkan pancing diprioritaskan pengembangannya dalam
ulur dalam usaha penangkapan kakap penangkapan kakap putih di perairan
putih. Indikasi besarnya keuntungan Mimika adalah aring insang.
tersebut juga diperkuat oleh nilai NPV

Eksplorasi Teknologi Tepat Guna .... (SIMBOLON, PURBAYANTO, ASTARINI, dan SIMANUNGKALIT) 17
Tabel 5. Penilaian aspek sosial untuk menentukan teknologi penangkapan kakap
putih yang tepat guna di perairan Mimika

Jenis teknologi Kriteria Hasil Standarisasi Terhadap Kriteria


X1 UP1 X2 UP2 V1(X1) V2(X2) Total UP
Jaring insang 3 I 5 I 1 1 2 I
Pancing ulur 3 I 3 II 1 0 1 II
Keterangan : UP = urutan prioritas

Tabel 6. Nilai NPV, B/C, dan IRR jaring insang dan pancing ulur dalam pemanfaatan
ikan kakap putih di perairan Mimika

Kriteria investasi Usaha penangkapan ikan kakap putih


Jaring insang Pancing ulur
NPV (Rp 1 juta) 26,26 16,88
Net B/C 1,93 1,79
IRR (%) 43,99 40,98

Tabel 7. Penilaian aspek ekonomi untuk menentukan teknologi penangkapan kakap


putih yang tepat guna di perairan Mimika

Jenis Kriteria Hasil Standarisasi Terhadap Kriteria


teknologi X1 UP1 X2 UP2 X3 UP3 X4 UP4 V1(X1) V2(X2) V3(X3) V4(X4) Total UP
Jaring 26 I 1,9 I 44 I 55 I 1 1 1 1 4 I
insang 17 II 1,8 II 41 II 39 II 0 0 0 0 0 II
Pancing
ulur
Keterangan : UP = urutan prioritas

Tabel 8. Penilaian aspek biologi, teknis, sosial, dan ekonomi untuk menentukan
teknologi penangkapan kakap putih yang tepat guna di perairan Mimika

Jenis Aspek Hasil Standarisasi Terhadap Aspek


teknologi Biologi Teknis Sosial Ekonom V1(X1) V2(X2) V3(X3) V4(X4) Total UP
(X1) (X2) (X3) i (X4)
Jaring 0 2 2 4 0 1 1 1 3 I
insang 2 0 1 0 1 0 0 0 1 II
Pancing ulur
Keterangan : UP = urutan prioritas

3.2. Pembahasan berpengaruh terhadap siklus hidup dan


Potensi lestari ikan kakap putih di recruitment ikan, dan akibatnya akan
perairan Kabupaten Mimika diperkirakan berdampak positif terhadap besarnya
8.348 ton/tahun. Hasil tangkapan kakap potensi ikan.
putih di perairan Mimika tersebar di tiga Menurut Azis (1989) diacu dalam
habitat, yaitu di sekitar perairan pantai, Muksin (2006), tingkat pemanfaatan
muara sungai hingga ke hulu sungai. sumberdaya ikan dikelompokkan
Kondisi perairan Mimika cocok dengan menjadi tiga kategori yaitu : (1) under
habitat yang dikehendaki ikan kakap exploited dengan tingkat pemanfaatan ≤
putih, karena banyaknya sungai yang 65%, (2) optimal dengan tingkat
bermuara, dan didukung juga oleh pemanfaatan > 65% dan < 100%, (3)
kondisi mangrove yang masih baik. overfishing dengan tingkat pemanfaatan
Menurut Simbolon (2008), kondisi ≥ 100%. Berdasarkan pengelompokan
perairan yang sesuai dengan habitat tersebut, maka tingkat pemanfaatan
yang dikehendaki oleh ikan akan kakap putih di perairan Kabupaten
18 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23
ISSN 2087-4871

Mimika pada tahun 2005 termasuk penerimaan (TR) semakin berkurang


dalam kategori under exploited, yaitu akibat terjadinya penurunan produksi.
sekitar 19%. Dengan demikian, upaya Penambahan effort hingga pada kondisi
penangkapan masih dapat ditambah MSY menghasilkan penurunan rente
hingga mencapai batasan keseimbangan ekonomi menjadi sebesar Rp 54,38
secara bio-ekonomi dalam rangka milyar/tahun. Penambahan effort yang
meningkatkan hasil tangkapan. tidak terkendali hingga mencapai kondisi
Tingkat pemanfaatan yang masih keseimbangan open access (EOA),
dalam kategori under exploited, menyebabkan total penerimaan (TR)
membuka peluang bagi nelayan untuk sama dengan total biaya (TC), sehingga
lebih mengintensifkan kegiatan tidak ada lagi rente ekonomi yang
penangkapan kakap putih di perairan diterima (nol). Gordon, (1954)
Kabupaten Mimika. Dari pengamatan di menyebutkan bahwa tingkat effort pada
lapangan, kendala utama yang kondisi open access (EOA) disebut sebagai
menyebabkan rendahnya tingkat bioeconomic equilibrium of open access
pemanfaatan kakap putih karena jarring fishery. Pada kondisi pengelolaan open
insang dan pancing ulur masih access nelayan cenderung menambah
menggunakan perahu tanpa motor, dan upaya penangkapannya secara besar-
rantai pemasaran belum tertata dengan besaran dengan harapan akan
baik. mendapatkan hasil tangkapan yang lebih
Pemanfaatan sumberdaya kakap besar, dan kondisi ini dapat berdampak
putih diharapkan dapat memberikan negatif terhadap kelestarian SDI.
manfaat yang lebih luas, baik untuk Peningkatan produksi kakap putih
peningkatan kesejahteraan nelayan, di perairan Mimika seyogianya tidak
sumber penerimaan daerah, dan semata-mata hanya untuk mencari
peningkatan konsumsi ikan. Oleh karena keuntungan secara ekonomi saja, tetapi
itu potensi sumberdaya kakap putih di juga harus memperhatikan daya dukung
Kabupaten Mimika sudah seharusnya dari sumberdaya ikan. Hal ini berarti
dimanfaatkan sebesar-besarnya dengan bahwa pemanfaatan kakap putih di
tetap menjaga kelestarian sumberdaya. perairan Mimika disarankan dilakukan
Malanesia et al. (2007), menyatakan hanya sampai pada titik MEY karena
bahwa kelestarian sumberdaya ikan pada kondisi ini akan diperoleh
dapat terjaga bilamana regulasi dalam keuntungan ekonomi bagi para pelaku
pengelolaannya dapat dijalankan dengan perikanan, tanpa mengganggu
baik oleh para pelaku perikanan, kelestarian sumberdaya kakap putih itu
termasuk kebijakan yang tepat untuk sendiri (keuntungan biologi). Menurut
menentukan jenis teknologi tepat guna, Simbolon & Mustaruddin (2006), usaha
serta jumlah alokasi optimum unit perikanan tangkap seyogianya tidak
penangkapan ikan. hanya berorientasi terhadap permintaan
Pemanfaatan kakap putih pada pasar semata tetapi juga harus
tahun 2005 baru mencapai 1.541 ton mempertimbangkan daya dukung
dengan rata-rata 1.303 ton/tahun sumberdaya ikan agar tetap dijaga
selama periode 1999-2005. Hal tersebut kelestariannya, sehingga dapat menjamin
menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan usaha.
pemanfaatan masih jauh dari yang Berdasarkan penilaian aspek
diharapkan bila dibandingkan pada biologis, pengembangan pancing ulur
tingkat MEY (8.094 ton/tahun) dan MSY lebih diprioritaskan dibandingkan
(8.348 ton/tahun). Harahap et al. (2006) dengan jaring insang, karena kakap
menyatakan bahwa potensi sumberdaya putih yang tertangkap dengan pancing
ikan yang belum termanfaatkan hingga ulur memiliki ukuran lebih besar (rata-
pada kondisi maximum economic yield rata 6 kg/ekor) dibandingkan dengan
(MEY) sebenarnya merupakan suatu jaring insang (rata-rata 4,5 kg/ekor).
kerugian karena belum dapat Disamping itu, pancing ulur lebih selektif
mengoptimalkan rente ekonomi secara dalam menghasilkan kakap putih (target
optimal. species) dibandingkan jaring insang
Rente ekonomi secara perlahan karena persentase tangkapan target
semakin berkurang dengan meningkat- species pada pancing ulur sebesar 70%,
nya total biaya (TC) akibat dari sedangkan pada jaring insang hanya
penambahan effort, sementara total 40%. Namun demikian, jaring insang

Eksplorasi Teknologi Tepat Guna .... (SIMBOLON, PURBAYANTO, ASTARINI, dan SIMANUNGKALIT) 19
lebih produktif daripada pancing ulur. ditentukan berdasarkan harapan para
Hal ini sesuai dengan pendapat Monintja stakeholder (aktor), dengan mempertim-
(1987), bahwa pancing umumnya bangkan faktor-faktor berpengaruh
memiliki tingkat selektivitas yang tinggi, (kriteria) dan tujuan pengembangan.
namun kemampuan tangkapnya Aktor, faktor, dan tujuan tersebut
(catchability) relatif rendah dibandingkan disusun dalam bentuk hirarki melalui
dengan jaring insang. analisis AHP. Penggunaan AHP didasari
Berdasarkan evaluasi aspek sosial, atas pertimbangan bahwa AHP
nelayan Mimika lebih menyukai jaring merupakan metode yang sederhana dan
insang dibandingkan dengan pancing fleksibel yang menampung kreativitas
ulur, walaupun kedua alat tangkap ini dan rancangannya terhadap suatu
memiliki daya serap tenaga kerja yang masalah (Saaty, 1991). Rasio
sama. Hasil wawancara dengan kepentingan yang menunjukkan prioritas
masyarakat menunjukkan bahwa status masing-masing komponen yang terdapat
sosial nelayan akan lebih baik jika pada aktor, faktor (kriteria), tujuan, dan
mereka dapat memiliki unit alternatif strategi pengembangan dapat
penangkapan jaring insang. dilihat pada Gambar 3.
Strategi pengembangan perikanan
kakap putih di Kabupaten Mimika

Pengembangan perikanan kakap


FOKUS putih yang berkelanjutan

Nelayan Pengusaha Pedagang Dinas


AKTOR perikanan ikan perikanan
(0,484) (0,155) (0,134) (0,228)

SDI SARPRA SDM PASAR TEKNO PRODUK UKUR LBAGA UPI


FAKTOR
(0,068) (0,140) (0,068) (0,186) (0,065) (0,229) (0,067) (0,055) (0,122)

UPBER TATING UNTUNG SJTRA SDI MUTU PASHA KERJA PAD


TUJUAN (0,152) (0,123) (0,129) (0,185) (0,056) (0,070) (0,123) (0.119) (0,037)

STRATEGI Pembinaan nelayan Tingkatkan Pengembangan Pengembangan Pengembangan


PENGEM- dan kerjasama antar produksi kakap potensi pasar sarana prasarana alat tangkap
BANGAN pelaku (0,252) putih (0,183) (0,167) (0,173) (0,225)

Gambar 3. Hirarki pengembangan perikanan kakap putih di Kabupaten Mimika

Aktor yang berperan dalam Kabupaten Mimika. Simbolon &


pengembangan perikanan kakap putih di Mustaruddin (2006) juga melaporkan
Kabupaten Mimika adalah nelayan, bahwa nelayan merupakan pelaku utama
pengusaha perikanan, pedagang ikan, yang paling diprioritaskan dalam
dan Dinas Perikanan. Nelayan mendapat pengembangan perikanan cakalang di
prioritas tertinggi dengan rasio perairan Sorong.
kepentingan 0,484, sedangkan prioritas Pedagang pengumpul ikan belum
terakhir adalah pedagang ikan. Nelayan mendapat prioritas penting dalam
memiliki rasio kepentingan paling besar pengembangan perikanan kakap putih di
karena nelayan dianggap sebagai ujung Kabupaten Mimika. Hal ini mungkin
tombak paling berperan memberikan disebabkan karena pedagang ikan
kontribusi dalam pemanfaatan dan selama ini belum mendistribusikan
penyediaan pasokan kakap putih di produksi kakap putih ke luar daerah
20 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23
ISSN 2087-4871

Mimika, akan tetapi lebih daerah meningkat (PAD). Tujuan


mengutamakan distribusinya untuk pengembangan perikanan kakap putih
konsumsi lokal dalam produk ikan segar. yang menjadi prioritas utama adalah
Faktor-faktor yang berpengaruh kesejahteraan nelayan dengan rasio
dalam pengembangan perikanan kakap kepentingan 0,185, dan prioritas terakhir
putih di Kabupaten Mimika adalah adalah pemasaran dan harga terjamin
potensi sumberdaya ikan (SDI), sarana dengan rasio kepentingan 1,23.
dan prasarana (SARPRA), potensi Tingginya nilai rasio kepentingan
sumberdaya manusia (SDM), peluang terhadap kesejahteraan nelayan
pasar (PASAR), adopsi teknologi (TEKNO), merupakan indikasi bahwa para
ukuran ikan tangkapan (UKUR), stakeholders memberikan tanggapan
produksi hasil tangkapan (PRODUK), positif akan pentingnya peranan nelayan
kelembagaan (LBAGA), dan unit sebagai ujung tombak dalam
penangkapan ikan (UPI). Faktor pemanfaatan dan penyediaan pasokan
pengembangan perikanan kakap putih kakap putih di Kabupaten Mimika. Hal
yang utama adalah produksi hasil ini sesuai dengan pendapat Simbolon
tangkapan dengan rasio kepentingan (2008), yang menyatakan bahwa upaya
0,229, dan terakhir adalah unit untuk menuju perikanan berkelanjutan
penangkapan dengan rasio kepentingan adalah usaha penangkapan
0,122. Stakeholders perikanan kakap menguntungkan agar kesejahteraan
putih di Kabupaten Mimika lebih nelayan terpenuhi, pengoperasian
mementingkan produksi hasil tangkapan teknologi penangkapan tepat guna,
yang tinggi karena mereka menganggap alokasi unit penangkapan dan
bahwa produksi kakap putih merupakan sumberdaya ikan yang optimum.
faktor yang paling menentukan dalam Upaya untuk menjaga potensi SDI
keberlanjutan usaha, dan akan agar tetap lestari belum menjadi prioritas
meningkatkan pendapatan keluarga tujuan karena para stakeholders
nelayan. Malanesia et al. (2008) beranggapan bahwa potensi ikan kakap
melaporkan bahwa faktor pembatas yang putih di peraran Mimika masih cukup
paling menentukan keberhasilan tinggi, bahkan tingkat pemanfaatannya
pengembangan perikanan pelagis di masih rendah. Upaya untuk
Lampung Selatan adalah ketersediaan menghasilkan ikan yang bermutu tinggi
SDM yang terampil. Perbedaan ini juga dianggap belum perlu diprioritaskan
mungkin saja disebabkan karena kondisi karena kakap putih yang tertangkap
dan karakteristik perikanan pelagis dan masih terbatas pemasarannya untuk
perikanan kakap putih yang berbeda. konsumsi lokal dalam bentuk produk
Faktor keterampilan nelayan (SDM) ikan segar.
dalam kegiatan penangkapan kakap Strategi pengembangan perikanan
putih di perairan Mimika belum kakap putih di Kabupaten Mimika adalah
mendapat prioritas penting karena para pembinaan nelayan dan kerjasama antar
stakeholders menganggap potensi ikan pelaku sebagai prioritas pertama, dan
masih banyak dan belum ditemukan prioritas selanjutnya secara berurutan
kesulitan untuk menangkap ikan adalah pengembangan alat tangkap,
walaupun hanya menggunakan teknologi peningkatan produksi, pengembangan
sederhana. Akibatnya, faktor potensi sarana dan prasarana, dan
SDI, ukuran ikan, dan adopsi teknologi pengembangan potensi pasar.
belum mendapat prioritas penting. Terpilihnya pembinaan nelayan dan
Tujuan yang diharapkan dalam kerjasama antar pelaku perikanan
perikanan kakap putih adalah usaha sebagai prioritas pertama dalam strategi
penangkapan berkelanjutan (UPBER), pengembangan perikanan kakap putih di
hasil tangkapan tinggi (TATING), Kabupaten Mimika karena strategi
keuntungan usaha maksimal (UNTUNG), tersebut mengakomodir dengan lebih
kesejahteraan nelayan meningkat baik para pelaku perikanan, faktor-
(SJTRA), potensi SDI lestari (SDI), mutu faktor pembatas dalam pengembangan,
ikan baik (MUTU), pemasaran dan harga dan tujuan pengembangan yang
terjamin (PASHA), lapangan kerja ditetapkan.
meningkat (KERJA), pendapatan asli

Eksplorasi Teknologi Tepat Guna .... (SIMBOLON, PURBAYANTO, ASTARINI, dan SIMANUNGKALIT) 21
IV. KESIMPULAN DAN SARAN kepada reviewer yang telah memberikan
masukan perbaikan, sehingga dapat
4.1. Kesimpulan menambah bobot tulisan ini ke arah
Kesimpulan yang diperoleh dari yang lebih baik.
penelitian ini adalah :
1. Potensi lestari ikan kakap putih di DAFTAR PUSTAKA
perairan Kabupaten Mimika
diperkirakan 8.348 ton/tahun, dan Dinas Perikanan dan Kelautan Kab.
tingkat keuntungan maksimum Mimika. 2006. Statistik Perikanan.
tercapai pada saat produksi sebesar Mimika. 12 hal.
8.094 ton/tahun.
2. Untuk mencapai keuntungan Fauzi A., dan S. Anna, 2002. Evaluasi
maksimum dengan tetap menjamin status keberlanjutan pembangunan
kelestarian sumberdaya ikan, upaya perikanan. Aplikasi Pendekatan
penangkapan masih dapat Rapfish. Jurnal Jurusan Sosial
ditingkatkan hingga 87% dari kondisi Ekonomi Perikanan FPIK IPB. Bogor.
aktual atau 697.344 trip/tahun. Hal 43-55.
3. Teknologi tepat guna yang lebih
diprioritaskan pengembangannya Gordon, H.S. 1954. The economic theory
dalam penangkapan kakap putih di of a common property resources :
perairan Mimika adalah jaring insang The fishery. Journal of Political
dibandingkan dengan pancing ulur. Economy. 62 : 124-142.
4. Strategi pengembangan dalam usaha
penangkapan kakap putih di perairan
Husnan S. 1994. Studi kelayakan proyek.
Kabupaten Mimika lebih
Edisi Ketiga. UPP AMP YKPN.
diprioritaskan pada aspek pembinaan
Yogyakarta. 379 hal.
nelayan, dan kerjasama antar pelaku
perikanan untuk meningkatkan
produksi dan kesejahteraan nelayan. Haluan, J dan T. W. Nurani. 1988.
Penerapan Metode Skoring dalam
4.2. Saran Pemilihan Tehnologi Penangkapan
Saran yang dapat diberikan untuk Ikan yang Sesuai untuk
menindaklanjuti penelitian ini adalah : Dikembangkan di Suatu Wilayah
1. Pemerintah daerah perlu menyusun Perairan. Bulletin Jurusan
dan melaksanakan program-program Pemanfaatan Sumberdaya
yang berorientasi pada aspek Perikanan, Fakultas Perikanan. IPB
pembinaan nelayan dan kerjasama Bogor. Vol. II No. 1. Hal 5-17.
antar pelaku perikanan.
2. Diperlukan upaya sosialisasi yang Malanesia, M., J. Haluan, H.
lebih intensif terutama kepada Hardjomidjojo, dan D. Simbolon.
pemerintah darah dan usaha 2007. Analisis Unit Penangkapan
penangkapan kakap putih, terkait Ikan Pilihan di Kabupaten
dengan jumlah upaya penangkapan Lampung Selatan. Buletin PSP. IPB
dan hasil tangkapan kakap putih yang Bogor. Vol. XVI No. 3. Hal. 483-
diperbolehkan. 501.
3. Untuk memacu peningkatan produksi
tangkapan, diperlukan kajian tentang Malanesia, M., J. Haluan, H.
adopsi teknologi alat tangkap baru Hardjomidjojo, dan D. Simbolon.
yang lebih produktif untuk 2008. Sensitivitas Opsi
mendukung alat tangkap yang sudah Pengembangan Unit Penangkapan
ada. Ikan Terpilih di Kabupaten
Lampung Selatan. Buletin PSP. IPB
UCAPAN TERIMA KASIH Bogor. Vol. XVII No. 1. Hal. 88-110.
Penulis mengucapkan terima kasih
kepada para ABK unit penangkapan Mangkusubroto, K. & C.L. Trisnadi.
jaring insang dan pancing ulur, serta 1987. Analisa keputusan.
pedagang pengumpul ikan yang bersedia Pendekatan system dalam
sebagai responden dalam penelitian ini. manajemen usaha dan proyek.
Penulis juga menyampaikan terimakasih Ganeca Exact. Bandung. 271 hal.

22 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23
ISSN 2087-4871

Monintja, D.R. 1987. Beberapa teknologi to the management of commercial


pilihan untuk pemanfaatan marine fisheries. Buletin of the
sumberdaya hayati laut di Inter-America Tropical Tuna
Indonesia. Buletin Jurusan Commission. 1 : 27 -56.
Pemanfaatan Sumberdaya
Perikanan. Fakultas Perikanan IPB. Simbolon, D., dan Mustaruddin. 2006.
Vol, no 1. Hal 14-25. Prioritas Kebijakan Pengembangan
Sistem Perikanan Cakalang di
Saaty, T.L. 1991. Decision making for Perairan Sorong. Buletin PSP. IPB
leader : The analytical hierarchy Bogor. Vol. XV No. 2. Hal. 73-85.
process for decision complex word.
Edisi bahasa Indonesia (terjemahan Simbolon D. 2008. Alokasi Unit
Liana Setiono). PT. Pustaka Penangkapan Cakalang, Menuju
Binaman Pressindo. Jakaera. 270 Usaha Perikanan Berkelanjutan di
hal. Perairan Sorong. Jurnal Mangrove
& Pesisir PSPK Univ. Bung Hatta
Schaefer, M.B. 1957. Some aspect of the Padang. Vol. VIII No. 1. Hal. 13-21.
dynamics of population important

Eksplorasi Teknologi Tepat Guna .... (SIMBOLON, PURBAYANTO, ASTARINI, dan SIMANUNGKALIT) 23
24 Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 1. No. 2. Mei 2011: 11-23