You are on page 1of 7

ECOTROPHIC • 6 (2) : 87 - 93 ISSN: 1907-5626

KAJIAN KERUSAKAN SUMBERDAYA HUTAN


AKIBAT KEGIATAN PERTA MBANGAN
I PUTU GEDE A.RDHANA
Jurusan Biologi, FMIPA Unud
Email: crescentbali@indo.net.id

ABSTRACT
The study was conducted in order to assess the damages of forest resources due to mining activities. The
method which use in this article is the nonnative legal research concerning with the legislation approach, the
case study approach and the library approach. The result of this study indicated that be damage of forestry by
mining activities threatens convenient ecosystem of Indonesia seriously. The study materials show obtained
that the original forest area in Indonesia were 144 million hectares, but have been systematically shrinkaged
that remained only 130 million hectares now, even though the 42 million hectares were completely without
vegetation. Primary forest left only 43 million hectares from forest encroachment and as rate currently reaches
1.1 million hectares per year. The result study showed that according with the governor's report in 10 provincies
throughout Indonesia the forest destructions are dominated by mining activities. The facts in the fields also
showed that the mining locations clearly faced visiable forests of Indonesia destroyed by quarrying, waste disposal
and mining operations support activities. The governmental policies to allow mining activities in protective and
conservation forest will destruct of forest resources. To address the threat of forest destruction it is suggested
that the Government shall revitalize the implementation of provisions with Act No. 41 of 1999, the Act No. 19
of 2004 and the Presidential Decree. No. 41 of 2004, the Cabinet Act 24 of 2010 and the Presidential Decree
No. 28 of 2011 concerning with the preservation of forest resources are still maintained.

Key words: forest damage, mining activities, the revitalization of the legislation,forest conservation.

ABSTRAK
Tulisan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji kerusakan sumberdaya hutan akibat kegiatan
pertambangan. Metode yang digunakan adalah metode kajian hukum normatif dengan pendekatan ketentuan
peraturan, pendekatan studi kasus dan pendekatan kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerusakan
hutan akibat aktivitas pertambangan sangat mencemaskan bahkan merupakan ancaman serius bagi kenyamanan
ekosistem Indonesia. Bahan kajian yang diperoleh menunjukkan bahwa kawasan hutan di Indonesia semula
adalah seluas 144 juta hektar, namun secara sistematik telah mengalami penyusutan yang saat ini hanya tersisa
130 juta hektar, bahkan 42 juta hektar sudah benar-benar gundul nyaris tidak bervegatasi. Hutan primer pun
hanya tersisa 43 juta hektar dan laju perambahan hutan saat ini mencapai 1,1 juta hektar per tahun. Hasil
kajian menunjukkan bahwa dari laporan Gubernur di 10 propinsi se-Indonesia kerusakan hutan di dominasi
oleh kegiatan pertambangan. Fakta dilapangan juga menunjukkan bahwa pada lokasi-lokasi pertambangan
terlihat jelas wajah hutan Indonesia hancur akibat penggalian, pembuangan limbah dan aktivitas penunjang
operasi tambang. Kebijakan pemerintah mengijinkan kegiatan pertambangan di kawasan lindung dan konservasi
akan mempercepat kehancuran sumberdaya hutan. Untuk menyikapi ancaman kerusakan hutan pemerintah
disarankan untuk merevitalisasi pelaksanaan Ketentuan Undang-undang No. 41 Tahun 1999, Undang-undang
No. 19 Tahun 2004 dan Keppres No. 41 Tahun 2004, PP No. 24 Tahun 2010 dan Perpres No. 28 Tahun 2011
agar kelestarian sumberdaya hutan masih tetap terjaga.

Kata kunci : kerusakan hutan, kegiatan pertambangan, revitalisasi perundang-undangan, pelestarian hutan.

PENDAHULUAN ini kawasan hutan telah menyusut menjadi 130 juta


hektar (70% dari luas daratan), dan secara sistematik
Luas kawasan hutan di Indonesia semula mencapai terns mengalami degradasi bahkan 42 juta hektar sudah
144 juta hektar sebagian besar digunakan untuk ka- benar-benar gundul, nyaris tanpa vegetasi (Menhut,
wasan hutan produksi seluas 65 juta hektar kawasan dalam Atep Afia, H., 2010).
hutan lindung seluas 30 juta hektar dan 19 juta hektar Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan lebih lanjut
digunakan untuk perlindungan keanekaragaman hayati mengungkapkan bahwa hutan primer di Indonesia
dan sisanya seluas 30 juta hektar dicadangkan untuk hanya tersisa 43 juta hektar dan hutan terlantar sudah
konversi menjadi lahan pertanian, hutan tanaman dan mencapai 12 juta hektar. Diungkapkan pula bahwa laju
perkebunan (Baharudin Nurkin, 1999). Namun saat perambahan hutan saat ini mencapai 1,1 juta hektar

87
ECOTROPHIC • VOLUME 6 NOMOR 2 TAHUN 2011 ISSN : 1907 -5626

per tahun, sedangkan pada masa Orde Baru mencapai dari bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
3 juta hektar per tahun. Adapun baban bukum primer yang digunakan
Secara teoritis memang hutan termasuk sumberdaya terutama berpusat dan bertitik tolak pada peraturan
alam yang dapat diperbaharui, misalnya dengan peng- perundang-undangan yang berlaku di Indonesia adalah
hijauan atau reboisasi. Namun dalam pelaksanaannya Peraturan Pemerintab (PP) No. 27 Tahun 1999 tentang
tidak semudah itu, menanam pohon kehutanan perlu Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), PERPU
pemeliharaan, bukan sekedar tanam lantas ditinggal No. 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-
begitu saja. Selain itu, hutan primer memiliki plasma undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kebutanan, PP
nutfah yang sangat beragam, dengan ekosistem yang No. 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan
harmonis. Beragam flora dan fauna ada didalamnya, Hutan, Peraturan� residen No. 28 Tahun;�ou
berinteraksi secara alamiah untuk mencapai keseim- tentang Penggunaan Kawasan Hutan Llndung uituk
bangan. Penambangan Bawah Tanab, UU No. s Tabun :'1967
Kerusakan Hutan selama ini telah terjadi di sejumlah tentang Undang-und�ng Pokok Kehutanan, UU No.
Propinsi di Indonesia, sebanyak sepuluh Propinsi 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam
melalui gubernurnya masing-masing telah melapor Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 41 Tahun 1999
ke Menteri Kehutanan terkait dengan penggunaan tentang Kebutanan, UU No. 10 Tahun 2004 tentang
kawasan hutan yang tidak prosedural di wilayahnya.
Laporan tersebut merespon surat Menteri Kehutanan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, UU No.
No.95/Menhut-lV/2010 tanggal 25 Februari 2010 yang 19 Tahun 2004 tentang PERPU No. 1 Tahun 2004, UU
ditujukkan kepada Gubernur se-Indonesia. No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, UU
Kesepuluh Gubernur yang sudah melapor yaitu: (1) No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan
Gubernur Aceh melaporkan 49 kasus tambang tanpa Batubara, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
ijin; (2) Gubemur Sumatera Utara melaporkan 23 kasus dan Pengelolaan Llngkungan Hidup.
perkebunan tanpa ijin, dan telah disidik dan dalam Berikutnya dipergunakan pula bahan bukum
sekunder berupa pendapat para ahli hukum, hasil-
proses persidangan s kasus; (3) Gubernur Bangka hasil kajian, kegiatan ilmiah dan beberapa informasi
Belitung melaporkan 87 kasus tambang dan kebun dari media masa. Pendekatan masalah yang dipakai
tanpa ijin; (4) Gubernur Lampung melaporkan sebagian terbadap kajian ini, adalah beberapa pendekatan yang
besar kawasan hutan telah dirambah, termasuk yang dikenal dalam bukum normatif, yaitu pendekatan kasus
dikelola oleh PT. Inhutani V, dan terdapat 5 tambang (the case approach), pendekatan perundang-undangan
illegal; (5) Gubernur Kalimantan Timur melaporkan (the statute approach), pendekatan analisis konsep
223 kasus terdiri dari 42 kasus perkebunan, 181 hukum (analitical conceptual approach).
kasus pertambangan, dan 1 kasus di TN Kutai; (6) Jenis bahan hukum yang dipergunakan berupa bah-
Gubernur Kalimantan Tengah melaporkan 456 kasus an-bahan hukum primer seperti peraturan perundang-
tambang tanpa ijin dan 964.000 ha kebun tanpa ijin; undangan, Peraturan Presiden, Peraturan Pemerintah,
(7) Gubernur Sulawesi Tenggara melaporkan 6 kasus sedangkan bahan-bahan bukum sekunder yaitu bahan-
perkebunan dan tambang tanpa ijin; (8) Gubernur bahan yang erat kaitannya dengan bahan-bahan bukum
Papua Barat melaporkan 13 kasus tambang tanpa primer dapat membantu menganalisis dan memahami
ijin; (9) Gubernur Papua melaporkan 7 kasus tambang hukum primer adalah : a) basil karya ilmiah para sar-
tanpa ijin; (10) Gubernur Bali melaporkan terbitnya 58 jana; b) hasil kajian; c) laporan-laporan, media massa.
sertifikat di kawasan hutan (Menhut, 2010). Bahan-bahan yang memberikan informasi tentang
Laporan kerusakan hutan ini baru sebatas 10 baban-baban hukum primer dan baban bukum
propinsi se-Indonesia, bagaimana dengan 23 propinsi sekunder meliputi bibliografi merupakan bahan-bahan
yang lain. Kerusakan hutan ini didominasi oleh kegiatan bukum tersier. Adapun metode pengumpulan bahan
pertambangan, disamping itu ada beberapa hukum dalam kajian ini adalah dengan menggunakan
kasus metode gabungan antara bola salju (snowball method)
perkebunan dan tambang tanpa ijin. Sementara fakta
di lapangan menunjukkan pertambangan merupakan dengan metode sistematis (systematic method). Dari
salah satu penyebab kerusakan hutan. Oleb karena basil pengumpulan bahan bukum, kemudian dianalisis,
itu dalam kajian ini permasalahan yang disampaikan dikontruksi dan diolah sesuai dengan rumusan masalah
adalah kajian kerusakan sumberdaya butan yang telah ditetapkan, kemudian disajikan secara
akibat deskriptif (Asbshofa, B., 2004)
kegiatan pertambangan.
PEMBAHASAN
METODOLOGI
Kebijakan pemerintah mengizinkan kegiatan pertam-
Tipe kajian ini tergolong kedalam kajian hukum nor- bangan di kawasan hutan lindung dan konserYasi,
matif dan penelitian bukum kepustakaan maka titik mempercepat "kiamat" Indonesia. Industri ini akan
berat penelitian mempergunakan bahan bukum bukan mengubah hamparan butan Indonesia menjadi padang
data, sebingga data primer yang dipergunakan banya pasir dengan lubang-lubang beracun. Kondisi seperti
bersifat memperkuat, melengkapi dan menunjang, ke- ini mengancam umat manusia secara global.
mudian sumber data sekunder dilakukan melalui sum- Ancaman serius ini tidak menyurutkan kehendak
ber data kepustakaan (library research) yang terdiri

88
Kajian Kerusakan Sumberdaya Hutan Akibat Kegiatan Pertambangan [I Putu Gede Ardhana]

pemerintah terbukti operasi pertambangan masih terns dari disetujuinya PERPU No. 1 Tahun 2004 tentang
berlanjut dan mengincar kawasan hutan lindung dan perubahaan atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang
konservasi. Dari beberapa data yang dikumpulkan Kehutanan oleh DPR RI, yang telah ditindaklanjuti
menunjukkan bahwa, saat ini terdapat 150 perusahaan dengan diterbitkannya Keppres No. 41 Tahun
yang telah mengantongi izin Departemen Energi dan 2004 yang mengijinkan 13 perusahaan melakukan
Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membuka penambangan di hutan lindung (Tabel 2). Pad.a saat itu,
tambang di kawasan-kawasan tersebut. Seratus lima salah satu pertimbangan pemerintah memberikan ijin
puluh perusahaan ini segera membuka usahanya pada penambangan kepada 13 perusahaan tersebut, adalah
kawasan hutan seluas 11.441.852 ha yang tersebar di dinilai UU No. 41 Tahun 1999 telah menimbulkan
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, ketidakpastian hukum dibidang pertambangan apabila
Maluku dan Papua. Departemen Kehutanan pada diberlakukannya sebelum UU tersebut berlaku.
waktu itu telah melakukan evaluasi terhadap 815 buah Ketentuan tersebut semestinya hanya berlaku sesudah
permohonan konversi lahan yang mencakup 11,4 juta berlakunya UU tersebut dan tidak diberlakukan surut
ha di kawasan lindung dan konservasi. Luas rencana ungkap pemerintah.
pertambangan dikawasan hutan lindung dan konservasi Peristiwa ini terjadi setelah melalui proses
disajikan dalam Tabel 1. persidangan dan berdasarkan pertimbangan, serta
keterangan para ahli, Mahkamah Konstitusi (MK)
Tabel 1. Luasan Rencana Pertambangan Dikawasan Hutan Lindung dan menilai bahwa gugatan tentang permohonan penolakan
Konservasi
PERPU No. 1 Tahun 2004 yang diajukan oleh
Hutan Lindung Hutan Konservasi masyarakat yang mewakili berbagai kepentingan dan
Pulau Konversi Konversi
Total tamban� Total tamban� profesi, tidak cukup beralasan sehingga permohonan
Sumatera 7.391.502 2.141.950 4.878.520 689.120 mereka ditolak. Dengan demikian, diharapkan semua
Jawa 728.6$1 468.233 273.300 pihak menghormati keputusan MK tersebut, khususnya
Sulawesi 4.821.237 996.445 4.821.237 184.617 para pengusaha pertambangan di hutan lindung yang
Nusa Tenggara 651.257 44.200 567.714 akan melanjutkan prosesnya pada tahap eksploitasi
Maluku 1.809.634 359.640 443.345 159.000 ungkapnya.
Kalimantan 6.858.792 1.767.580 4.458.887 Melihat dari latar belakang permasalahan diatas
Papua 11.452.990 3.319.000 7.539.300 1.507.000 dengan lahirnya Undang-undang No. 19 Tahun 2004
Total 33.938.350 8.628.815 20.579.347 2.813.037
yang merupakan perwujudan PERPU No. 1 Tahun 2004
Sumber : Departemen Kehutanan, 2000
dan Keppres No. 41 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan
pemerintah tentang kegiatan pertambangan pada
Dengan lahirnya Undang-undang No. 19 tahun 2004 kawasan hutan maka sehubungan dengan hal itu
merupakan peristiwa menandai dibukanya kembali sangat diperlukan pengkajian kerusakan sumberdaya
untuk menambang secara terbuka (open mining) di hutan akibat kegiatan pertambangan terutama tentang
kawasan hutan lindung bahkan sebagian ada yang kebijakan pemerintah dalam menyikapi pelestarian
tumpang tindih dengan kawasan konservasi. Hal sumberdaya hutan.
tersebut berarti akan terbuka kembali iklim investasi Dengan lahirnya Undang-undang Kehutanan No. 41
dari sektor pertambangan. Dilain pihak peristiwa Tahun 1999 maka sesuai ketentuan Pasal 38 ayat (4)
hukum tersebut mengancam pelestarian ekosistem clan diatur bahwa pada kawasan hutan lindung d ilarang
pelestarian keanekaragaman hayati pada kawasan hutan melakukan penambangan dengan pola pertambangan
yang akan ditambang mengingat kawasan hutan yang terbuka. Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 38 ayat
akan menjadi obyek kegiatan pertambangan termasuk (1) disebutkan pula bahwa kegiatan pembangunan
wilayah yang sangat sensitif dari sisi konservasi dan di luar kehutanan ditetapkan secara selektif untuk
telah ditunjuk fungsinya sebagai kawasan hutan lindung menghindari hilangnya fungsi kawasan hutan yang
atau konservasi (Ardhana, IPG., 2009). bersangkutan.
Seharusnya semua ketentuan Undang-undang No. Kegiatan pembangunan strategis tentang kegiatan
41/1999 tentang Kehutanan termasuk tentang adanya pertambangan di luar kegiatan kehutanan tidak dapat
larangan penambangan di hutan lindung dengan pola dielakan. Hal ini diperkuat dengan ketentuan Pasal
pertambangan terbuka, berlaku untuk semua pelaku 19 Undang-undang Kehutanan beserta penjelasannya
penambangan, setidak-tidaknya bagi yang sudah bahwa untuk kepentingan diluar pembangunan
memperoleh ijin sebelum berlakunya Undang-undang kehutanan dimungkinkan untuk melakukan perubahan
No. 41/1999 hams menyesuaikan (Dephut, 2005).
Namun demikian untuk membatasi dan mengatur peruntukkan dan perubahan fungsi kawasan. Walaupun
penggunaan kawasan hutan lindung untuk kegiatan demikian perubahan tersebut harus melalui serangkaian
pertambangan akan dilaksanakan atas dasar persetu- penelitian terpadu yang melibatkan instansi terkait
juan Kementerian Kehutanan dalam bentuk ijin kegiat- yaitu UPI selaku Scientific Authority, lingkungan
an atau ijin pinjam pakai kawasan hutan lindung (PP hidup, Kementerian yang terkait dan penetapannya
No. 24 Tahun 2010 dan PerPres No. 28 Tahun 2011). atas persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Penelitian
Pemberian ijin untuk melakukan penambangan di dimaksud meliputi aspek biofisik (perubahan iklim,
kawasan hutan lindung di atas merupakan konsekuensi ekosistem, gangguan tata air) dan aspek sosial ekonomi
masyarakat (Budi Riyanto, 2005). Disamping itu dalam

89
ISSN : 1907-5626
ECOTROPHIC • VotuME 6 NoMoR 2 TAHuN 2011

Tabel 2. Lampiran Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Daftar Perizinan atau Perjanjian di Bidang Pertambangan yang
Berada di Kawasan Hutan yang Telah Ditandatangani Sebelum Berlakunya Undang-undang Nomor 41Tahun 1999 Tentang Kehutanan yang
Dapat Melanjutkan Kegiatannya Sampai Berakhirnya Perizinan atau Perjanjiannya
Lokasi Luas
Jenis Nama Perusa- Bah Ga- Tahap Kegiatan Wilayah
No. Persetujuan Pemerintah Tangg�;��;data- Usaha haan f;
1 n Provinsi Kebupaten/Kota Perizinan
Ha
1 82/EK/KEP/4/1967 7 April 1967 KKG-1 Freeport Inda- Tembaga, Produksi Papua Mimika 10.000
7 Aeril 1967 nesia Come. Emas, dme
B-392/Pres/12/1991 30 Desember 1991 KKG-V Freeport lndo- Tembaga, Eksplorasi Papua Mimika, Paniai, Jaya 202.950
26 Desember 1991 nesia Come. Emas, dme Wijaya, Puncak Jaya
2 B-121/Pres/9/71 4 Oktober 1971 KKG-11 KarimunGranit Granit Produksi Kepulauan Karimun 2.761
22 Seetember 1971 Riau
3 8-745/Pres/12/1995 15 Januari 1996 KKG-1 1 INCOTbk. Nikel produksi Sulsel, Sult- Luwu Utara, Kolaka, 218.528
29 Oesember 1995 eng, Sultra Kendari, Morowari
4 0978/Ji.292/U/1990 5 Oktober 1990 PKP2B lndominco Batubara Produksi Kaltim KutaiTimur, Kota 25.121
5 Oktober 1990 G-1 Mandiri Bontang
5 1053.K/20.13/ 9 Juli 1997 KP Aneka NikeI Produksi Maluku Halmahera Tengah
MPE/1997 Tambang Utara 39.040
9 Juli 1997 Tbk A
6 B-43/Pres/11/1086 2 Oesember 1986 KKG-IV Natarang Emas dmp Konstruksi Lampung Lampung Selatan, 12.790
6 November 1986 Mining Tanggamus, Lampung
Barat
7 B.143/Pres/3/1997 28 April 1997 KKG-VI Nusa Halma- Emas dmp Produksi, Kon- Maluku Halmahera Utara, 29.622
17 Maret 1997 hera Minerals struksi, Eksplo- Utara Halmahera Barat
rasi
8 B-53/Pres/1/1998 19 Pebruari 1998 KKG-VII Pelsart Tam- Emas dmp Eksplorasi Kalsel Kotabaru, Banjar, 201.000
19 Januari 1998 bang Kencana Tanah Laut
9 850/A.1/1997 20 November 1997 PKP2B lnterex Sacra Batubara Studi Kelayakan Kaltim dan Pasir,Tabalong 15.650
20 November 1997 G-111 Raya Kalsel
10 B-53/Pres/1/1998 19 Pebruari 1998 KKG-VII Weda Bay NikeI eksplorasi (De- Maluku Halmahera tengah 76.280
19januari 1998 Nickel tail) Utara
11 B-53/Pres/1/1998 19 Pebruari 1998 KKG-VII Gag Nike! NikeI Eksplorasi (De- Papua Sarong 13.136
19 januari 1998 tail)
12 B-53/Pres/1/1998 19 Pebruari 1998 KKG-VII Sorikmas Min- Emas dmp Eksploraso (De- Sumut Mandailing, Natal 66.200
19 januari 1998 ing
13 1170/20.01/UPG/1999 7 September 1999 KP Aneka Tambang NikeI Eksplorasi (de- Sulawesi Kendari 14.570
7 seetember 1999 T bk(B) tail) Tenggara
Keterangan:
dmp : dan mineral pengikutnya
KK Kontrak Karya G-IV Generasi IV
PKP2B : Perjanjian Karya Perusahaan Pertambangan Batubara G·V Generasi V
KP Kuasa Pertambangan G-VI Generasi VI
G-1 Generasi I G·VII Generasi VII
G-11 Generasi II
G-111 Generasi Ill Sumber : Departemen Kehutanan, 2004

Undang-undang No. 41 Tahun 1999 sudah sangat jelas kegiatan perencanaan kehutanan, pengelolaan hutan,
dan kuat disebutkan bahwa untulc mempertahankan penelitian dan pengembangan, pendidikan dan latihan,
kondisi kawasan hutan lindung, pembangunan yang penyuluhan kehutanan serta pengawasan. Dengan
akan dilaksanakan harus tetap menjamin kelestarian demikian, pemerintah berfungsi sebagai pengatur,
fungsi lingkungan hidup yang ada disekitarnya sehingga pengalokasi, pemberi ijin, perencana, pengelola,
pembangunan dapat berjalan denganberkesinambungan peneliti, pendidik, penyuluh sekaligus pengawas.
"Sustainable development" yang sampai saat ini masih Semangat desentralisasi dalam Undang-undang ini
terus menjadi topik pembahasan dalam forum-forum dimuat dalam Pasal 66. dalam rangka penyelenggaraan
Konferensi Tingkat Tinggi Internasional. kehutanan pemerintah pusat menyerahkan sebagian
Negara yang dalam hal ini ditafsirkan sebagai kewenangannya kepada pemerintah daerah. Namun
pemerintah memegang peran penting dalam kewenangan yang diserahkan itu hanyalah kewenangan
penguasaan dan pengelolaan sumber daya hutan. Pasal kebijakan yang bersifat operasional. Kebijakan
4 ayat (1) UU Kehutanan menyebutkan bahwa semua umum dan mendasar tetap dipegang pemerintah
hutan di dalam wilayah Republik Indonesia termasuk pusat. Pemerintah daerah pun tidak terlibat dalam
kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai proses penyusunan kebijakan pusat. Ketentuan
oleh Negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran tentang desentralisasi semacam ini bertentangan
rakyat. Penguasaan hutan oleh Negara memberikan dengan Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang
wewenang kepada pemerintah pusat untulc mengatur Pemerintahan Daerah, khususnya Pasal 10 ayat (1).
dan mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan Ditinjau dari aspek kelembagaan, Undang-undang
hutan, kawasan hutan dan basil hutan, menetapkan ini memberikan kewenangan terlampau luas kepada
status wilayah tertentu sebagai kawasan hutan, Kementerian Kehutanan. Kementerian Kehutanan
mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan hukum berwenang menetapkan status dan fungsi hutan.
antara orang dengan hutan serta perbuatan hukum Khusus dalam penetapan status hutan yang berkaitan
mengenai kehutanan. Pengurusan hutan meliputi dengan penguasaan tanah tidak ada satu pun ketentuan

90
Kajian Kerusakan Sumberdaya Hutan Akibat Kegiatan Pertambangan [I Putu Gede Ardhana}

yang menyebutkan perlunya koordinasi antara hutan. Sementara fakta di lapangan menunjukkan,
Kementerian Kehutanan dengan Badan Pertanahan pertambangan merupakan salah satu penyebab
Nasional (BPN). Hal ini berpotensi menimbulkan kerusakan hutan.
perebutan kewenangan dalam pengaturan mengenai Di lokasi-lokasi pertambangan terlihat jelas ba-
lahan hutan antar instansi pemerintah serta tumpang gaimana wajah hutan Indonesia yang hancur karena
tindih pengaturan dalam wilayah yang sama terutama penggalian, pembuangan limbah batuan dan limbah
pada kegiatan penambangan dikawasan hutan lindung tailing serta aktivitas penunjang operasi tambang lain-
yang sebagian besar tumpang tindih dengan kawasan nya. Beberapa perusahaan yang akan menghentikan
konservasi. kegiatan tambangnya, menyatakan tidak mampu men-
Penegakan hukum diatur cukup rinci dalam Undang- ghutankan kembali bekas lubang tambang dan kolam
undang ini. Sanksi yang diberikan tidak hanya pidana limbah mereka.
tetapi juga perdata dan administratif. Selain itu diatur Lubang-lubang itu dibiarkan terus menganga dan
juga tentang penyelesaian sengketa kehutanan yang menjadi danau asam beracun pasca penambangan.
Begitu pula kolam limbah tailing akan menjadi
tidak hanya bisa dilakukan melalui pengadilan, tetapi hamparan pasir yang mengandung logam berat dalam
ada juga upaya penyelesaian sengketa kehutanan kurun waktu sangat panjang.
melalui jalur luar pengadilan (alter native dispute PT. Kelian Equatorial Mining misalnya, menutup
resolution) (Nurjaya, 2008). tambangnya di Kelian, Kalimantan Timur pada tahun
Lahirnya PERPU dalam penyelenggaraan pemerin- 2003. perusahaan milik Rio Tinto ini akan membiarkan
tahan diperlukan apabila benar-benar dalam keadaan lubang tambangnya seluas 1.766.250 m2 sedalam 600
yang mendesak untuk kepentingan Negara dan bangsa meter tanpa mampu dihutankan kembali. Keterbatasan
Indonesia. Sedangkan dalam pengelolaan hutan tidak teknologi dan besarnya biaya yang mereka pakai sebagai
pernah mengalami dalam keadaan genting dan mende- alasan menelantarkan tanah yang porak poranda
sak mengapa harus diterbitkan PERPU No. 1 Tahun setelah sumberdayanya mereka nikmati dan tak lagi
2004 dan kemudian menjadi Undang-undang No. 19 bisa dipungut hasilnya.
Tahun 2004. Adapun alasan dikeluarkan PERPU terse- Hal yang sama dilakukan PT. Freeport Indonesia.
but adalah untuk mengakomodir perijinan dan perjan- Limbah tailing Freeport yang dibuang langsung
jian yang telah ada agar pemerintah tidak dituntut oleh ke Sungai Ajkwa telah mematikan ratusan hektar
para investor di International Arbitrase. Sebenarnya hutan di kawasan operasi tambangnya. Sementara
alasan tersebut sangat tidak rasional karena Undang- Newmont Minahasa Raya di Sulawesi Utara yang
undang No. 41 seperti yang disebutkan di atas tidak menutup tambangnya di tahun 2003, menyebutkan
berlaku surut artinya perijinan yang telah ada pada meninggalkan enam lubang tambang besar dan dalam
tahap ekploitasi tetap berlanjut sesuai ijin. Padahal den- yaitu: Mesel, Nibong, Limpoga, Nona Hua dan Pasolo
gan menggunakan mekanisme Pasal 19 Undang-undang dengan luas totalnya 26 ha.
No. 41 tahun 1999, hal yang terkait dengan kegiatan Mesel merupakan daerah bekas tambang terluas
pertambangan dapat di atasi dengan pertimbangan dengan lubang besar sepanjang 700 meter, lebar 500
yang sangat selektif dengan melibatkan Tim Terpadu meter dan kedalaman maksimum 250 meter. Sedang
dan persetujuan DPR untuk mempertimbangkan aspek kedalaman lubang lain diperkirakan 100-110 meter.
lingkungan. Semestinya pemerintah dapat member- Lebih tragis lagi mereka hanya akan mereklamasi
lakukan PERPU dengan alasan bahwa kondisi hutan sebesar 15,4% dari wilayah bekas penambangan.
pada saat ini sedang mengalami tantangan dan anca- Banyak perusahaan lain juga tidak mampu atau tidak
man yang cukup berat dan sangat mengkhawatirkan mau menghutankan kembali bekas galian tambang
yang dapat mengakibatkan kemunduran. mereka seperti, PT Indo Muro Kencana di Kalimantan
Pertambangan batubara misalnya, menjadi ancaman Timur, PT Adaro di Kalimantan Selatan, PT Timah di
utama bagi kelestarian sumberdaya hutan karena cadan- Bangka dan Belitung, PT Barisan Tropical Mining di
gan pertambangan batubara di Indonesia terbukti san- Sumatera Selatan, PT Kaltim Prima Coal di Kalimantan
gat besar sekitar 4,4 milyar ton dan perkiraan cadangan Timur dan banyak lainnya.
untuk semua Negara ASEAN adalah sekitar 27,7 milyar Semua perusahaan ini akan meninggalkan lubang-
ton dari perkiraan 35 milyar ton demikian besarnya lubang tambang yang menyerupai danau diakhir operasi
dan hampir sebagian besar terletak langsung di bawah pertambangan mereka, di kawasan yang dulunya
hutan hujan tropis yang sangat kaya dengan keanek- hutan (Walhi, 2002). Begitu pula seperti yang telah
aragaman hayati. Produksi tahunan batubara, sebagian disampaikan di atas tentang laporan kerusakan hutan
besar di Sumatera, naik dari kira-kira 337 ribu ton tahun dari 10 propinsi se-Indonesia juga memperkuat fakta
1980 menjadi 22,5 juta ton tahun 1992 (Marr, 1993). di lapangan yang menunjukkan kegiatan pertambangan
Rencana pembangunan yang sedang berjalan sekarang merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan.
menetapkan perluasan produksi menjacli 71 juta ton Ancaman utama inilah yang semestinya sebagai
menjelang tahun 1999 (GOI, 1994).(Soerjani, M., 1997) dasar pemerintah untuk menentukan kebijakan
Disamping itu sampai saat ini sudah ada sekitar pertambangan dalam menerbitkan PERPU di
150 Kontrak Pertambangan dengan seijin pemerintah, kawasan hutan lindung. Dengan demikian PERPU
telah mengeluarkan biaya investasi yang cukup besar seharusnya disusun Pemerintah dengan tujuan untuk
untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di wilayah

91
ECOTROPHIC • VOLUME 6 NOMOR 2 TAHUN 2011 ISSN · 1907-5626

moratorium pemanfaatan hasil hutan untuk keperluan 1. Dalam memproses perijinan yang diajukan, tetap
komersial dalam jangka waktu tertentu agar hutan berpegang pada asas kelestarian (Pasal 32).
dapat bernafas dan memulihkan kondisinya. Bukan 2. Penggunaan kawasan hutan lindung harus
sebaliknya justru menerbitkan PERPU yang sangat berdasarkan persetujuan Menteri Kehutanan (Pasal
Kontroversial sebagaimana PERPU No. 1 Tahun 38 ayat (3) ).
2004 yang selanjutnya menjadi Undang-undang No. 3. Di kawasan hutan lindung dilarang melakukan
19 Tahun 2004. penambangan dengan pola penambangan terbuka
Dengan lahirnya PERPU No. 1 Tahun 2004 yang (Pasal 38 ayat (4)).
kemudian di syahkan menjadi Undang-undang No. 4. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan
19 Tahun 2004 yang berakibat melemahkan posisi pengawasan kehutanan (Pasal 60 ayat (1)).
Undang-undang No. 41 Tahun 1999 dalam pengelolaan 5. Pemerintah berkewajiban melakukan pengawasan
Hutan Lindung. Lahirnya Undang-undang ini terhadap pengurusan hutan yang diselenggarakan
cenderung kebijakan Pemerintah mengarah ke faham oleh pemerintah daerah (Pasal 61).
antroposentris sempit yang tidak peduli terhadap 6. Dalam rangka penyelenggaraan kehut anan,
lingkungan dan merupakan kemunduran dari sisi pemerintah menyerahkan sebagian kewenangan
kebijakan lingkungan. kepada pemerintah daerah (Pasal 66 ayat (1)).
Dasar hukum untuk pengelola an kawasan 7. Pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat
lindung diperkuat dengan disahkannya Undang- melalui berbagai kegiatan di bidang kehutanan yang
undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan berdaya guna dan berhasil guna (Pasal 70 ayat (2));
Ekosistemnya No. 5 Tahun 1990. Telah mengatur
prinsip perlindungan antara lain perlindungan jenis Dan untuk pemegang ijin pertambangan dikawasan
yang meliputi jenis-jenis yang dilindungi dan jenis- hutan lindung antara lain:
jenis yang tidak dilindungi. Undang-undang ini 1. Mengajukan permohonan ijin penggunaan kawasan
dimaksudkan sebagai kerangka menyeluruh untuk hutan lindung (Pasal 64 dan 65 Undang-undang No.
pelestarian keanekaragaman hayati dan penggunannya 4 Tahun 2009). Selanjutnya harus melalui Studi
bertujuan melindungi sistem pendukung kehidupan; Analisis Dampak Lingkungan (PP No. 27 Tahun
melindungi keanekaragaman jenis tanaman dan hewan, 1999).
termasuk ekosistemnya; dan melestarikan tumbuhan 2. Melampirkan peta lokasi dan luas kawasan yang
dan hewan yang dilindungi. Undang-undang ini lahir di mohon rencana kegiatan eksplorasi didalam
pada tanggal 10 Agustus 1990, setelah ada kesadaran kawasan hutan lindung (Permen No. P.12/Menhut-
perlunya melindungi ekosistem dan perlindungan jenis II/2004).
3. Revitalisasi kewajiban dan tanggung jawab
tumbuhan dan satwa yang berguna bagi pelestarian pemegang ijin pertambangan (Pasal 35 ayat (1)
alam. Kesadaran tersebut baru muncul setelah 23 (dua dan (2), Pasal 45 ayat (2) dan (3), Pasal 48 ayat
puluh tiga) tahun sejak lahirnya Undang-undang No. 5 (3) Undang-undang No. 41 Tahun 1999 dan Pasal
Tahun 1967 tentang Undang-undang Pokok Kehutanan. 95 (a) dan (e), Pasal 96 (c) dan (e), Pasal 97, 98
Undang-undang ini mengartikan sumber daya alam dan 99 Undang-undang No. 4 Tahun 2009).
hayati sebagai unsur-unsur hayati di alam yang terdiri 4. Revitalisasi sanksi pelanggaran terhadap pemegang
dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber ijin pertambangan (Pasal 80 ayat (1), (2) dan (3)
daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan dan Pasal 78).
unsur non hayati (habitat dan relung) di sekitarnya 5. Dan revitalisasi pelaksanaan ketentuan PP No.
yang secara keseluruhan membentuk ekosistem. 24 Tahun 2010 dan PerPres No. 28 Tahun 2011
Unsur-unsur dalam sumber daya alam hayati dan (Ardhana, IPG. 2011).
ekosistemnya pada dasarnya saling bergantung antara
satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi Saran
sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur Untuk menyikapi ancaman kerusakan sumberdaya
akan berakibat terganggunya ekosistem sumberdaya hutan akibat kegiatan pertambangan diperlukan
hutan. revitalisasi pelaksanaan Undang-undang No. 41 Tahun
1999, Undang-undang No. 19 Tahun 2004 dan Keppres
SIMPULAN DAN SARAN No. 41 Tahun 2004, PP No. 24 Tahun 2010 dan PerPres
No. 28 Tahun 2011.
Sirnpulan Lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif
Dari hasil kajian kerusakan sumberdaya hutan akibat hendaknya memiliki kepedulian terhadap keberadaan
kegiatan pertambangan dapat disimpulkan bahwa hutan dalam menyikapi ancaman serius terhadap
pemerintah disarankan agar melakukan revitalisasi kerusakan sumberdaya hutan.
pelaksanaan ketentuan peraturan pemerintah dan Etika lingkungan mestinya sebagai dasar pijakan
pemegang ijin pertambangan terutama ketentuan hak, dalam mengelola sumberdaya hutan, dengan
kewajiban dan tanggung jawab untuk mengatur dan menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi
mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan hutan agar terhindar dari malapetaka bagi kelestarian
dan hasil-hasil hutan (UU No. 41 Tahun 1999, Pasal sumberdaya hutan.
4 ayat (2) untuk pemerintah antara lain:

92
Kajian Kerusakan Sumberdaya Hutan Akibat Kegiatan Pertambangan [I Putu Gede ArdhanaJ

Ditinjau dari as pek sosial masyarakat yang bermukim Nurjaya, I Nyoman. 2008. Pengelolaan Sumber Daya Alam
diwilayah yang akan dilakukan kegiatan pertambangan dalam PerspektifAntropologi Hukum. Prestasi Pustaka,
Jakarta
perlu diberikan informasi dan dimintakan pers etujuan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis
bagi rencan a pemberian ijin pertambangan, agar Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Peraturan
tidak merugikan masyarakat setempat terutama bagi Pemerintah, Pengganti Undang-undangNo.1 Tahun
masyarakat adat. 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 41
Tahun 1999 tentang Kehutanan
DAFfAR PUSTAKA PeraturanPemerintah,No. 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan
Kawasan Hutan
Peraturan Presiden No. 28 Tahun 2011 tentang Penggunaan
Ardhana, IPG. 2009. Sinkronisasi kegiatan pertambangan pada Kawasan Hutan Lindung Untuk Penambangan Bawah
kawasan hutan. Jurnal Lingk'llngan Hidup Bumi Lestari, Tanah
No. 9. Vol 2: 288-289. PPLH-Lemlit Unud, Denpasar RepublikIndonesia, Undang-undangNo. 5 Tahun 1967 tentang
Ardhana, IPG. 2011, Revitalisasi pelaksanaan ketentuan per- Undang-undang Pokok Kehutanan.
aturan pemerintah dan pemegang ijin pertambangan Republikindonesia, Undang-undangNo. 5 Tahun 1990 tentang
dalam menyikapi pelestarian keanekaragaman hayati di Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
kawasan hutan. Jurnal Lingkungan Hidup Bumi Lestari, Republik Indonesia, Undang-undang No. 41 Tahun 1999 ten-
No. 1. Vol 11: 93-104. PPLH-Lemlit Unud, Denpasar tang Kehutanan
Ashshofa, B., 2004. Metode Penelitian Hukum. PT. Rineka Republik Indonesia, Undang-undang No. 10 Tahun 2004
Cipta, Jakarta tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Atep A. H. 2010. http://green.kompasiana.com/penghijau- Republik Indonesia, Undang-undangNo. 19 Tahun 2004 ten-
an/2010/u/15/keru-sakan-hutan-makin-parah-siapa- tang PERPU No. 1 Tahun 2004.
bertanggungjawab Republik Indonesia, Undang-undangNo. 32 Tahun 2004 ten-
Budi Riyanto. 2005. Bunga Rampai Undang-undang No. 19 tang Pemerintah Daerah
Tahun 2004 dalam PerspektifEtika Lingkungan. Hukum Republik Indonesia, Undang-undangNo. 4 Tahun 2009 tentang
Kehutanan dan Sumber Daya Alam. Lembaga Pengkajian Pertambangan Mineral dan Batubara.
Hukum Kehutanan dan Lingkungan, Bogor Republik Indonesia, Undang-undangNo. 32 Tahun 2009 ten-
Departemen Kehutanan. 2005. Aktualisasi Kebijakan Kehu- tang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
tanan Kumpulan Siaran Pers Tahun 2005. Departemen Soerjani, M. 1997. Pembangunan dan Lingkungan Meniti
Kehutanan, Jakarta Gagasan dan Pelaksanaan Sustainable Development.
Keputusan Presiden No. 41 Tahun 2004 tentang Perizinan Jakarta: !PPL
atau Perjanjian di Bidang Pertambangan yang berada di Walhi, 2002, Tanah Air. Majalah Advokasi Lingkungan Hidup
Kawasan Hutan Indonesia No.2/th XXII/2002, Walhi. Jakarta
Menhu t , 2010, http://w artapedia .com/lingkungan/
konservasi/214-menhut-kasus-kerusakan-hutan-di-
10-Propinsi-harus-dituntaskan.html

93