You are on page 1of 15

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

PERAN PERAWAT DALAM PEMBERIAN PSIKOFARMAKA (ECT)

Disusun oleh :

1. Della Afrianti (P27820716004) 6. Aliyfia Syahadah (P27820716024)

2. Girindra (P27820716008) 7. Revi (P27820716028)

3. Rahma Amalia (P27820716012) 8. Arikhah (P27820716031)

4. Bella (P27820716016) 9. Diana (P27820716033)

5. Lela (P27820716020) 10. Novia (P278207160)

PRODI D IV KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO

JURUSAN KEPEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN

SURABAYA

TAHUN AKADEMIK 2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirannya yang telah menimpakan
rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang
Komunikasi Terapeutik dan Hubungan Terapeutik

Makalah ini kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.

Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi pembaca, karena keterbatasan dan pengetahuan kami. Oleh
karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca.

Surabaya, Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Cover..........................................................................................................................i

Kata Pengantar...........................................................................................................ii

Daftar isi....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...............................................................................................1


1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................1
1.3 Tujuan............................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi Terapeutik...............................................................3

2.2 Tujuan komunikasi Terapeutik......................................................................3

2.3 Kegunaan komunikasi terapeutik..................................................................4

2.4 Teknik – teknik komunikasi terapeutik.........................................................4

2.5 Fase – fase komunikasi terapeutik................................................................10

2.6 Sikap perawat dalam komunikasi terapeutik.................................................13

2.7 Faktor Penghambat Komunikasi Terapeutik...........................................18

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan...................................................................................................19

3.2 Saran.............................................................................................................20

Daftar Pustaka............................................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Psikofarmaka
Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif pada
Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental dan
perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh terhadap
taraf kualitas hidup pasien. Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan,
diantaranya: antipsikosis, anti-depresi, anti-mania, anti-ansietas, anti-insomnia.
Pembagian lainnya dari obat psikotropik antara lain: transquilizer, neuroleptic,
antidepressants dan psikomimetika.

2.2 Klasifikasi

Menurut Rusdi Maslim, yang termasuk obat-obatan psikofarmaka adalah


golongan :

2.2.1 Anti Psikotik

Anti psikotik termasuk golongan Mayor Transquilizer atau


Psikotropik : Neuroleptika

o Mekanisme kerja : menahan kerja reseptor Dopamin dalam otak (di


ganglia) pada sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal
o Efek farmakologi : sebagai penenang, menurunkan aktifitas
motorik, mengurangi insomnia, sangat efektif mengatasi Delusi,
Halusinasi, Ilusi dan gangguan proses berpikir
o Indikasi pemberian anti psikototik : pada semua jenis psikosa,
kadang untuk gangguan maniak dan paranoid.
o Efek samping pada anti psikotik : efek samping pada sistem syaraf

2.2.2 Anti Depresi


o Hipotesis : Sindroma depresi disebabkan oleh defisiensi salah satu
atau beberapa aminergic neurotransmitter seperti Noradrenalin,
Serotonin, Dopamin pada sinaps neuron di SSP, khususnya pada
sistem Limbik.
o Mekanisme kerja obat :

2
1) Meningkatkan sensitivitas terhadap aminergik
neurotransmitter
2) Menghambat reuptake aminergik neurotransmitter
3) Menghambat penghancuran oleh enzim MAO (Mono Amine
Oxidase) sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergik
neurotransmitter pada neuron SSP
o Efek farmakologi : mengurangi gejala depresi dan sebagai
penenang.
o Jenis obat yang digunakan adalah :
1) Trisiklik
2) MAO Inhibitor
3) Aminitriptylin
o Efek samping : yaitu efek samping Kolonergik (efek samping
terhadap sistem syaraf perifer) yang meliputi mulut kering,
penglihatan kabur, konstipasi.

2.2.3 Anti Mania (Lithium Carbonate)


o Mekanisme kerja : menghambat pelepasan Serotonin dan
mengurangi sensitivitas dari reseptor Dopamin.
o Hipotesa : pada mania terjadi peluapan aksi reseptor amine
o Efek farmakologi : mengurangi agresivitas, tidak menimbulkan
efek sedative, mengoreksi/mengontrol pola tidur, irritable. Pada
mania dengan kondisi berat pemberian anti mania dikombinasikan
dengan obat anti psikotik
o Efek samping : efek neurologik ringan seperti kelelahan, letargis,
tremor di tangan, terjadi pada awal terapi dapat juga terjadi diare
dan mual.
o Efek toksik : pada ginjal (poliuri, edema), peningkatan jumlah
litium, sehingga menambah keadaan edema. Sedangkan pada SSP
(tremor, kurang koordinasi, nistagmus dan disorientasi

2.2.4 Anti Cemas


o Termasuk Minor Transquilizer. Jenis obat antara lain Diazepam

2.2.5 Anti Insomnia : Phenobarbital


2.2.6 Anti Obsesif-Kompulsif : Clomipramine

3
2.2.7 Anti Panik, yang paling sering digunakan oleh klien jiwa :
Imipramine
2.3 Electro Convulsive Therapy

Electro Convulsive Therapy/ ECT, pertama kali diperkenalkan oleh 2


orang neurologist Italia, Ugo Carletti dan Lucio Bini pada tahun 1937 sebagai
terapi yang besifat somatic terhadap pasien dengan gangguan mental. ECT
digunakan secara luas pada tahun 1950-an dan 1960-an untuk berbagai
kondisi. Sekarang ECT hanya boleh digunakan dalam jumlah yang lebih kecil
dan pada kondisi yang lebih serius.
ECT atau yang lebih dikenal dengan elektroshock atau terapi kejut listrik
adalah suatu terapi psikiatri yang menggunakan energi shock listrik dalam
usaha pengobatannya. Diperkirakan hampir 1 juta orang di dunia mendapat
terapi ECT setiap tahunnya dengan intensitas antara 2-3 kali seminggu. ECT
efektif pada hampir 75% pasien yang menjalankan prosedur dengan benar.
Terapi ECT adalah suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand
mal secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang
dipasang pada satu atau dua temples. (Stuart Sundeen, 1998).
Electro Convulsive Therapy/ ECT merupakan suatu pengobatan untuk
penyakit psikiatri berat dimana pemberian arus listrik singkat pada kepala
digunakan untuk kejang tonik klonik umum. (Szuba and Doupe, 1997).
ECT bertujuan untuk menginduksi suatu kejang klonik yang dapat
memberi efek terapi (therapeutic clonic seizure) setidaknya selama 15 detik.
Kejang yang dimaksud adalah suatu kejang dimana seseorang kehilangan
kesadarannya dan mengalami rejatan. Tentang mekanisme pasti dari kerja
ECT sampai saat ini masih belum dapat dijelaskan dengan memuaskan.
Namun beberapa penelitian menunjukkan kalau ECT dapat meningkatkan
kadar serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) pada pasien depresi
yang tidak responsif terhadap terapi farmakologis.
Terapi ini menghasilkan kejang-kejang karena pengaruh aliran listrik yang
diberikan pada pasien melalui elektroda-elektroda pada lobus frontalis. Dalam
electroconvulsive terapi, arus listrik dikirim melalui kulit kepala ke otak.

4
Elektroda ditempatkan pada kepala pasien dan dikendalikan, menyebabkan
kejang-kejang singkat di otak.
Pada saat terapi ini dijalankan, pasien akan kejang-kejang dan kehilangan
kesadaran, kemudian kejang-kejang lambat laun hilang. Sebelum ECT, pasien
diberi relaksan otot setelah anestesi umum. Bila ECT dilakukan dengan benar,
akan menyebabkan pasien kejang, dan relaksasi otot diberikan untuk
membatasi respon otot selama episode. Karena otot rileks, penyitaan biasanya
akan terbatas pada gerakan kecil tangan dan kaki. Pasien dimonitor secara
hati-hati selama perawatan. Pasien terbangun beberapa menit kemudian, tidak
ingat kejadian seputar perlakuan atau perawatan, dan sering bingung.
2.4 Indikasi pemberian ECT

ECT adalah suatu prosedur yang serius, gunakan hanya pada keadaan yang
direkomendasikan. Sangat tidak bijaksana jika kita melakukannya pada setiap
pasien yang tidak membaik.
Electroconvulsive terapi digunakan untuk mengobati :
.1 Gangguan afek yang berat : pasien dengan penyakit depresi berat atau
penyakit mental lainnya dan gangguan bipolar (mania) yang tidak
berespon terhadap obat anti depresan atau pada pasien yang tidak dapat
menggunakan obat karena cukup beresiko (terutama pada orang tua yang
memiliki kondisi medis). ECT adalah salah satu cara tercepat untuk
mengurangi gejala pada orang yang menderita mania atau depresi berat.
ECT umumnya digunakan sebagai langkah terakhir ketika penyakit tidak
merespon obat atau psikoterapi. Pasien dengan depresi menunjukkan
respons yang baik dengan ECT 80-90% dibandingkan dengan antidepresan
70% atau lebih). Terapi ECT biasanya tidak efektif untuk mengobati
depresi yang lebih ringan, yaitu gangguan disritmik atau gangguan
penyesuaian dengan perasaan alam depresi.
.2 Gangguan skizofrenia (Katatonia, stupor, paranoid, kegaduhan akut) :
skizofrenia katatonik tipe stupor atau tipe excited memberika respon yang
baik dengan ECT. Cobalah anti psikotik terlebih dahulu, tetapi jika
kondisinya mengancam kehidupan (delirium hyperexcited), segera lakukan
ECT. Pasien psikotik akut (terutama tipe skizoafektif) yang tidak

5
berespons pada medikasi saja mungkin akan membaik jika ditambahkan
ECT, tetapi pada sebagian besar skizofrenia kronis, ECT tidak terlalu
berguna/ tidak efektif.
.3 Pasien dengan bunuh diri yang aktif dan tidak mungkin menunggu
pengobatan untuk dapat mencapai efek terapeutik. ECT juga digunakan
ketika pasien parah menimbulkan ancaman bagi diri mereka sendiri atau
orang lain dan itu berbahaya bila menunggu sampai obat-obatan
berpengaruh.
.4 Jika efek sampingan ECT yang diantisipasikan lebih rendah daripada efek
terapi pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok jantung/
gangguan hantaran jantung yang sudah ada sebelumnya dan selama masa
kehamilan khususnya trimester pertama (ECT lebih aman untuk
kehamilan). Namun diperlukan pertimbangan khusus jika ingin melakukan
ECT bagi ibu hamil, anak-anak dan lansia karena terkait dengan efek
samping yang mungkin ditimbulkannya.
.5 Pada pasien hypoaktivitas dan hiperaktivitas, kurang tidur, gangguan
makan/minum dan perilaku bunuh diri dan lain-lain.
2.5 Kontraindikasi pemberian ECT

Pasien dengan gangguan mental disertai adanya gangguan system


kardiovaskuler dan adanya tumor pada otak.

.1 Resiko sangat tinggi


- Pasien dengan masalah pernapasan berat yang tidak mampu mentolerir
efek anestesi umum.
- Peningkatan tekanan intracranial (karena tumor otak, hematoma,
stroke yang berkembang, aneurisma yang besar, infeksi SSP), ECT
dengan cepat meningkatkan tekanan SSP dan resiko herniasi
tentorium. Selalu periksa adanya papiledema sebelum melakukan ECT.
- Infark Miokard baru atau penyakit miokard berat : ECT sering
menyebabkan aritmia (aritmia menimbulkan CVP pasca kejang atau
kapan saja saat melakukan prosedur ECT) berakibat fatal jika terdapat
kerusakan otot jantung. Tunggu hingga enzim dan EKG stabil.

6
.2 Resiko sedang
- Osteoartritis berat, osteoporosis atau fraktur yang baru : siapkan
selama terapi (pelemas otot)
- Penyakit kardiovaskuler (misal hipertensi, angina aneurisma/ Angina
tidak terkontrol, aritmia, Gagal jantung kongestif), berikan
premedikasi dengan hati-hati, dokter spesialis jantung hendaknya
berada di sana. ECT untuk sementara meningkatkan tekanan darah,
sehingga hipertensi primer berat harus terkontrol, paling tidak
sebelum setiap pengobatan.
- Infeksi berat, cedera serebrovaskular (Cerebrovascular accident/ CVA)
baru, kesulitan bernafas yang kronis, ulkus peptic yang akut,
Osteoporosis berat, fraktur tulang besar, glaukoma, retinal
detachment.
2.6 Efek samping ECT

Efek samping ECT secara fisik hampir mirip dengan efek samping dari
anesthesia umum. Secara psikis efek samping yang paling sering muncul
adalah kebingungan dan memory loss (75% kasus) setelah beberapa jam
kemudian (biasanya hilang satu minggu sampai beberapa bulan setelah
perawatan). Biasanya ECT akan menimbulkan amnesia retrograde terhadap
peristiwa tepat sebelum masing-masing pengobatan dan anterograde,
gangguan kemampuan untuk mempertahankan informasi baru. Beberapa ahli
juga menyebutkan bahwa ECT dapat merusak struktur otak. Namun hal ini
masih diperdebatkan karena masih belum terbukti secara pasti.
Efek samping khusus yang perlu diperhatikan :
Cardiovaskuler :
.1 Segera : stimulasi parasimpatis (bradikardi, hipotensi)
.2 Setelah 1 menit : Stimulasi simpatis (tachycardia, hipertensi,
peningkatan konsumsi oksigen otot jantung, dysrhythmia)
.3 ECT dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, atau kematian
(kasus yang sangat jarang). Orang dengan masalah jantung tertentu
biasanya tidak diindikasikan untuk ECT.

7
Efek Cerebral :
1. Peningkatan konsumsi oksigen.
2. Peningkatan cerebral blood flow
3. Peningkatan tekanan intra cranial
4. Amnesia (retrograde dan anterograde) – bervariasi, dimulai setelah 3-4
terapi, berakhir 2-3 bulan atau lebih. Lebih berat pada terapi dengan
metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik
yang meningkat dan adanya organisitas sebelumnya.

Efek lain :
1. Peningkatan tekanan intra okuler
2. Peningkatan tekanan intragastric
3. Kebingungan (biasanya hanya berlangsung selama jangka waktu yang
singkat), pusing.
4. Mual, Headache/ sakit kepala, nyeri otot.
5. Fraktur vertebral dan ekstremitas dan Rahang sakit. Efek ini dapat
berlangsung dari beberapa jam sampai beberapa hari. Jarang terjadi bila
relaksasi otot baik.
6. Resiko anestesi pada ECT
7. Kematian dengan angka mortalitas 0,002%
2.7 Peran Perawat dalam Pelaksanaan ECT
2.7.1 Peran perawat dalam persiapan klien sebelum tindakan ECT

a. Anjurkan pasien dan keluarga untuk tenang dan beritahu prosedur


tindakan yang akan dilakukan.
b. Lakukan pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk
mengidentifikasi adanya kelainan yang merupakan kontraindikasi
ECT.
c. Siapkan surat persetujuan tindakan.
d. Klien dipuasakan 4-6 jam sebelum tindakan.
e. Lepas gigi palsu, lensa kontak, perhiasan atau jepit rambut yang
mungkin dipakai klien.
f. Klien diminta untuk mengosongkan kandung kemih dan defekasi.

8
g. Klien jika ada tanda ansietas, berikan 5 mg diazepam IM 1-2 jam
sebelum ECT.
h. Jika klien menggunakan obat antidepresan, antipsikotik, sedatif
hipnotik, dan antikonvulsan, harus dihentikan sehari sebelumnya.
Litium biasanya dihentikan beberapa hari sebelumnya karena
beresiko organik.
i. Premedikasi dengan injeksi SA (sulfatatropin) 0,6-1,2 mg setengah
jam sebelum ECT. Pemberian antikolinergik ini mengendalikan
aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal (Riyadi,
2009).

2.7.2 Peran perawat setelah ECT


Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan perawat untuk
membantu klien dalam masa pemulihan setelah tindakan ECT
dilakukan yang telah dimodifikasi dari pendapat Stuart (2007) dan
Townsen (1998). Menurut pendapat Stuart (2007) memantau klien
dalam masa pemulihan yaitu dengan cara sebagai berikut:
a. Bantu pemberian oksigen dan pengisapan lendir sesuai kebutuhan.
b. Pantau tanda-tanda vital.
c. Setelah pernapasan pulih kembali, atur posisi miring pada pasien
sampai sadar. Pertahankan jalan napas paten.
d. Jika pasien berespon, orientasikan pasien.
e. Ambulasikan pasien dengan bantuan, setelah memeriksa adanya
hipotensi postural.
f. Izinkan pasien tidur sebentar jika diinginkannya.
g. Berikan makanan ringan.
h. Libatkan dalam aktivitas sehari-hari seperti biasa, orientasikan
pasien sesuai kebutuhan.
i. Tawarkan analgesik untuk sakit kepala jika diperlukan.

Menurut Townsend (1998), jika terjadi kehilangan memori dan


kekacauan mental sementara yang merupakan efek samping ECT yang

9
paling umum hal ini penting untuk perawat hadir saat pasien sadar
supaya dapat mengurangi ketakutan-ketakutan yang disertai dengan
kehilangan memori. Implementasi keperawatan yang harus dilakukan
adalah sebagai berikut:

a. Berikan ketenangan dengan mengatakan bahwa kehilangan memori


tersebut hanya sementara.
b. Jelaskan kepada pasien apa yang telah terjadi.
c. Reorientasikan pasien terhadap waktu dan tempat.
d. Biarkan pasien mengatakan ketakutan dan kecemasannya yang
berhubungan dengan pelaksanaan ECT terhadap dirinya.
e. Berikan sesuatu struktur perjanjian yang lebih baik pada aktivitas-
aktivitas rutin pasien untuk meminimalkan kebingungan.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

11
DAFTAR PUSTAKA

Helda puspitasari. 2014. Peran perawat dalam pelaksanaan ECT. Blogspot.co.id.


update 20 April 2018. Pukul 14.20 WIB. (acces online).
http://heldapuspitasari.blogspot.co.id/2014/05/peran-perawat-dalam-
pelaksanaan-ect.html

Keliat, B.A. dkk.2007. Advance Course Community Mental Health Nursing.


Manajemen Community Health Nursing District Level: Jakarta

Hafifah Purwaningtyas. 2011. Peran Perawat Dalam Electroconvulsi Therapy


(Ect). Blogspot.co.id. update 20 April 2018. Pukul 14.32 WIB. (acces online.)
http://hafifahparwaningtyas.blogspot.co.id/2011/05/ect.html

12