You are on page 1of 14

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Baru-baru ini dunia dikejutkan oleh laporan WHO menyebutkan ditemukannya kasus
penyakit Marburg di Uganda yang meninggal sejak tahun 2007. Ada 146 orang kontak
pada pasien ini sedang diawasi dengan ketat.
Marburg virus pertama kali ditemukan pada tahun 1967, ketika terjadi outbreak
demam berdarah yang terjadi secara serentak di laboratorium di Marburg dan Frankfurt,
Jerman dan di Belgrade, Yugoslavia (Serbia). Tiga puluh satu orang terjangkit, awalnya
pekerja laboratorium yang terkena diikuti beberapa anggota medis dan anggota keluarga
yang berada disekitar pasien terjangkit. Tujuh orang dilaporkan meninggal dunia. Orang
yang pertama kali terinfeksi dibeberkan berasal dari African Green Monkeys atau
jaringannya ketika sedang diperiksa.
Selain pada monyet Afrika, African Green Monkeys, penyakit Marburg juga
dihubungkan dengan kelelawar jenis Old World Fruit Bat. Wabah penyakit ini bermula
pada tahun 1967, di kota Marburg dan Frankfurt di Jerman serta Belgrade di Serbia, dan
bermula dari penelitian pada monyet dari Uganda yang diperiksa di Laboratorium di
Jerman. Wabah terakhir penyakit Marburg di Uganda terjadi pada 2012 yg lalu, 20 kasus
dan 9 orang meninggal dunia.
Penyakit Marburg disebabkan oleh virus yang masih satu golongan dengan virus
Ebola, yaitu filovirus (Filoridae). Gejalanya juga mirip Ebola, demam dll dan dapat
terjadi perdarahan hebat, sehingga disebut Marburg Hemorrhagic Fever, mirip dengan
nama Ebola Hemorrhagic Fever. Gejala lain penyakit Marburg adalah diare cair hebat,
nyeri perut hebat dan kelemahan. Perdarahan dapat terjadi muntah darah, BAB darah,
perdarahan dari hidung, mulut dan bahkan vagina.
Di Indonesia belum ada laporan tentang Marburg disease ini, tetapi dengan adanya
kasus baru Marburg disease di Uganda maka kita semua tentu harus waspada dan
mencegah masuknya virus ini ke Indonesia. Sebagai salah satu penjaga pintu masuk
negara, baik darat, laut dan udara, Kantor Kesehatan Pelabuhan diharapkan menjadi ujung
tombak untuk mendeteksi Marburg disease ini sebelum masuk dan menyebar di
Indonesia.
Peran Kantor Kesehatan Pelabuhan sangat penting untuk mencegah Marburg disease
masuk ke Indonesia. Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di

1
lingkungan Kementrian Kesehatan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada
Direktorak Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Permenkes
2348 tahun 2011 tentang perubahan atas Permenkes 356 tahun 2008 tentang Organisasi
dan tata kerja KKP).
Sebagai salah satu tahap dalam menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Senior, penulis
yang menjalani tugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan Tingkat I Belawan mengajukan
paper dengan judul “Marburg disease terkait potensial PHEIC”
1.2 Tujuan penelitian
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui telaah Marburg disease terkait potensial PHEIC
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi dan etiologi Marburg disease.
b. Mengetahui manifestasi klinis Marburg disease.
c. Mengetahui penatalaksanaan Marburg disease.
d. Untuk mengtahui telaah Marburg disease terkait potensial PHEIC

1.3 Manfaat Penulisan


a. Bagi Kantor Kesehatan Pelabuhan
Diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi KKP dalam meninjau kejadian
Marburg disease di dunia dalam rangka mencegah masuknya penyakit ini ke
Indonesia.
b. Bagi penulis
Untuk memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) dan menambah
pengetahuan tentang Marburg disease.
c. Bagi pembaca
Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca tentang Marburg disease.

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
.
2.1 Definisi
Marburg disease dipertimbangkan menjadi penyakit re-emerging karena menjadi
ancaman yang signifikan bagi kesehatan kesehatan manusia. Virus ini secara alami
mengakibatkan penyakit hemoragik dengan sindrom syok yang berat dan tingkat kematian
yang tinggi pada manusia maupun primata. Penyakit ini dikenal juga sebagai demam
berdarah Marburg.
Marburg disease, disebabkan oleh filovirus (lt.filoviridae), adalah jenis virus yang
jarang diketahui dengan identifikasi berupa demam disertai pendarahan, dan penyakit ini
mirip dengan Ebola. Para ilmuwan mencurigai virus ini disebarkan melalui kontak langsung
dengan cairan dan jaringan tubuh yang terinfeksi, atau dengan obyek penanganan yang
terkontaminasi.
Virus marburg termasuk ke dalam famili Filoviridae yang terdiri dari 3 genus yaitu
Ebola Virus, Marburg Virus, dan Cueva Virus. Genus marburg virus terdiri hanya dari 1
spesies yaitu Marburg marburgvirus, yang lebih sering dikenal dengan marburg virus. Genom
virus ini berbentuk linear, tidak bersegmen, molekul RNA rantai tunggal.
Agen yang merugikan ini mulai dikenali pada tahun 1967, ketika terjadi outbreak
demam berdarah secara serentak di laboratorium di Jerman (Marburg dan Frankfurt) dan
Yugoslavia/Serbia (Belgrade). Terdapat 31 pasien (25 infeksi primer dan 6 dengan infeksi
sekunder) yang terjangkit virus ini, dan dilaporkan 7 orang meninggal dunia,

1.2 Epidemiologi
Pada Agustus 1967, beberapa peneliti di Jerman yang sedang mengambil sampel
darah dari monyet tiba-tiba menderita sakit dengan gejala demam. Kasus ini berkembang
pula di Belgrade, 7 dari 30 orang mengalami demam cukup parah. Distribusi kasus
penyebaran virus ini bermula di Marburg, jumlah monyet meningkat pada waktu yang
bersamaan. Total persebaran penyakit ini mencapai titik puncak dan menular pada tubuh
manusia. Faktanya, berawal dari 25 kasus dan 5 tambahan kasus penularan penyakit yang
lebih parah semakin lama mencapai persentase tertinggi. 20 dari 29 orang yang terkena virus
Marburg ditularkan melalui kontak darah monyet ke penderita hingga akhirnya menyebar ke
dalam jaringan tubuh manusia.

3
Meskipun Ebola dan Marburg disebabkan oleh virus-virus yang berbeda, dua penyakit
ini berdasarkan ilmu pengobatan hampir tidak bisa dibedakan satu sama lainnya. Kedua
penyakit ini jarang ditemukan, namun memiliki kemampuan untuk menciptakan wabah yang
menyebar secara dramatis dengan tingkat kematian sangat tinggi. Berdasarkan pengalaman,
wabah sebuah penyakit cenderung menarik perhatian pihak otoritas kesehatan hanya setelah
penyebarannya tidak mampu lagi disaring melalui pengawasan infeksi dalam pelayanan
kesehatan yang telah diciptakan sebelumnya.
Sejauh ini, penyakit Marburg masih belum ditemukan vaksin atau perawatan khusus.
Walaupun dalam beberapa tahun terakhir ini penyelidikan dilakukan secara intensif, termasuk
melibatkan hasil test terhadap ratusan binatang, serangga dan tanaman-tanaman, belum ada
hewan atau sumber-sumber lingkungan alam lainnya dari kedua virus itu yang berhasil
diidentifikasi.
Monyet-monyet sangat sensitif untuk menginfeksi, namun tidak dipertimbangkan
sebagai tempat berkumpulnya virus ini karena secara kasat mata semua hewan yang terinfeksi
terlalu cepat mati untuk menjadi pusat penyebaran virus ini. Manusia juga dinilai tidak
merupakan bagian dari siklus transmisi penyakit ini.
Wabah penyakit ini dilaporkan telah terjadi di negara Angola, Republik Demokratik
Kongo dan Afrika Selatan. Wabah penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Jerman dan
mantan negara Yugoslavia pada tahun 1967. Saat itu virus tersebut terdeteksi pada sejumlah
pekerja di laboratorium yang tertular dari seekor monyet hijau (Cercopithecus aethiops) asal
Uganda yang terinfeksi virus mematikan tersebut.
Penyebaran virus antar manusia membutuhkan kontak yang sangat dekat dengan
pasien. Infeksi terjadi saat terjadi kontak dengan darah dan cairan tubuh, seperti kotoran
manusia, muntah, urin dan keringat, dengan konsentrasi virus yang tinggi, khususnya ketika
cairan itu mengandung darah. Transmisi melalui sperma yang terinfeksi juga dapat terjadi
hingga 7 minggu setelah pasien disembuhkan.
Infeksi melalui kontak tubuh secara langsung dinilai sangat jarang terjadi. Rendahnya
tingkat transmisi antar manusia melalui kontak tubuh dikarenakan bahwa transmisi aerosol
melalui pernafasan tidak efisien. Transmisi juga tidak akan terjadi selama masa inkubasi.
Seseorang diduga sangat berpotensi menginfeksi sesamanya saat menderita gejala-
gejala terjangkit virus Marburg. Kontak dekat dengan pasien yang sakit keras selama dirawat
di rumah atau rumah sakit dan proses pembakaran jenazah merupakan cara paling umum
penyebaran virus tersebut.

4
Penyebaran melalui peralatan injeksi yang terkontaminasi atau jarum suntik pada
luka-luka tertentu diduga akan semakin mempercepat penyebaran virus, memperburuk
kondisi kesehatan dan kemungkinan tingginya resiko kematian. Masa inkubasi dari virus ini
adalah 3 hingga 9 hari.
Semua kelompok umur sangat rentan terinfeksi dengan virus Marburg, tetapi
kebanyakan kasus ini menimpa orang-orang dewasa. Sampai dengan penyebaran virus
Marburg di Angola, kasus-kasus anak kecil yang terinfeksi virus ini sangat jarang. Dalam
wabah penyakit terbesar yang pernah tercatat sebelumnya di Republik Demokratik Kongo
dari tahun 1998 - 2000, hanya ditemukan 12 orang atau 18 % dimana korbannya berusia
dibawah 5 tahun. (WHO, 2009)

1.3 Etiologi

Gambar 1. Virus Marburg


Virus Marburg memiliki morfologi yang mirip dengan virus Ebola yaitu berbentuk
filamen dan berkelok-kelok sehingga dimasukkan ke dalam famili Filoviridae (filo =
filamen/benang) dan genus Filovirus. Dilihat dari mikroskop, virus-virus tersebut
memperlihatkan partikel-partikel sel berukuran kecil, halus dan memanjang, serta kadang-
kadang melingkar-lingkar dalam bentuk aneh, diameter virion yaitu berukuran sekitar 80 nm
dengan panjang 800 – 1.000 nm. Kapsomer tertutup nukleokapsid yang berbentuk helicoid.
(WHO, 2009)
Virus Marburg ditemukan disegala jenis darah dan hati manusia ketika masuk tahap
percobaan di Laboratorium. Para ahli berpendapat bahwa pembawa virus Marburg yang
paling berbahaya yaitu pada monyet, manusia (menyebar saat memasuki tahap paling akut),
bayi babi, bayi tikus, dan embrio ayam. Tidak ada tanda-tanda bahwa tikus dewasa membawa
virus penyakit, virus ini berduplikasi pada tikus yang baru lahir. (G. Wolf, 1971)

5
Penularan filovirus dari kelelawar :
a. Penularan virus (PCR) 1,6-5,1 %
b. Penularan sebelumnya (IgG) 2,3-20,5 %

2.4 Manifestasi Klinis


Marburg disease bermanifestasi klinis dengan demam yang muncul secara tiba-tiba,
menggigil, dan mialgia. Terdapat dua gambaran yang mengindikasikan patogenesis dari
Marburg disease yang beresiko yaitu kerusakan endotel yang disebabkan oleh virus Marburg
maupun peningkatan regulasi sitokin toksik (dengan kebocoran vaskular sebagai akibatnya)
dan koagulasi intravaskular diseminata yang mengakibatkan trombositopenia yang serius.
Sebagai hasilnya, perdarahan berat dapat terjadi di beberapa lokasi tubuh dalam jangka waktu
5-7 hari setelah onset gejala pertama. Perdarahan dari hidung, gusi, dan mata umumnya
diobservasi, sedangkan perdarahan pada gastrointestinal sering bermanifestasi sebagai
muntah berdarah ataupun BAB berdarah. Dehidrasi dapat menjadi salah satu gejala yang
menyertai.
Rasio kasus kematian pada Marburg disease ini berkisar antara 23-90%. Pasien yang
telah terjangkit virus ini tetap mengalami gejala konvalens seperti mialgia, kelemahan otot,
arthralgia, myelitis, hepatitis, gangguan okuli, penurunan pendengaran, dan bahkan di
beberapa kasus terjadi psikosis.

2.5 Penatalaksanaan dan tindakan preventif


Satu-satunya terapi untuk infeksi virus Marburg adalah perawatan suportif sacara
umum, yang meliputi pemberian cairan melalui pembuluh darah dan terapi lain untuk
menjaga fungsi tubuh. Pemulihan dapat memakan waktu yang lama.
Info terbaru dari pengobatan virus Marburg, Agustus 2014, Jurnal Science
Translational Medicine memberitakan sukses penelitian yang membangkitkan harapan akan
ditemukannya obat untuk menyembuhkan pasien terinfeksi virus Ebola. Virus Marburg,
menurut jurnal itu, berhubungan dekat dengan Ebola.
Peneliti mengatakan 16 monyet terinfeksi virus Marburg, dengan kondisi beragam;
mulai dari gejala awal sampai sekarat. Mereka diberi suntikan obat produksi Tekmira
Pharmaceuticals Corporation pada waktu berbeda, mulai dari 45 menit sampai tiga hari
setelah infeksi. Sekelompok monyet lain, yang juga terinfeksi, tidak diberi obat itu. Hasilnya,
seluruh monyet yang diberi obat sembuh dan kembali ke kehidupan normal. Yang tidak
diberi obat meninggal pada hari kedelapan setelah terinfeksi.

6
Hingga saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah infeksi virus
Marburg. Isolasi ketat sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.

7
BAB 3
PEMBAHASAN

3.1 Public Health Emergency of International Concern


Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) adalah kedaruratan
kesehatan yang meresahkan dunia dimana terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dapat
menjadi ancaman bagi negara lain dan dalam penanggulangannya membutuhkan koordinasi
internasional.
Untuk menetapkan suatu penyakit menjadi PHEIC disebutkan pada pasal 12 IHR
2005 :
1. Direktur Jenderal WHO harus menetapkan berdasarkan informasi yang diterima,
khususnya dari Negara Peserta yang di dalam wilayahnya kejadian itu berlangsung,
bahwa kejadian itu merupakan suatu PHEIC menurut kriteria dan prosedur yang
ditetapkan dalam Peraturan ini.
2. Bila Direktur Jenderal WHO mempertimbangkan, berdasarkan suatu penilaian menurut
Peraturan ini, bahwa suatu PHEIC sedang berlangsung, Direktur Jenderal harus
berkonsultasi dengan Negara Peserta yang di dalam wilayahnya kejadian tersebut
muncul, tentang penetapan awal itu. Bila Direktur Jenderal dan Negara Peserta sepakat
mengenai penetapan itu, maka berdasarkan prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 49,
Direktur Jenderal harus meminta pendapat dari Komite yang dibentuk menurut Pasal 48
(selanjutnya disebut “Komite Kedaruratan”) mengenai rekomendasi sementara yang
tepat.
3. Jika, setelah konsultasi sesuai ayat 2 di atas, Direktur Jenderal WHO dan Negara Peserta
yang di dalam wilayahnya kejadian itu berlangsung, tidak mencapai konsensus dalam
waktu 48 jam mengenai apakah kejadian tersebut merupakan PHEIC, maka harus
diambil keputusan berdasarkan prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 49.
4. Dalam menetapkan bahwa suatu kejadian merupakan PHEIC, Direktur Jenderal WHO
harus mempertimbangkan:
(a) informasi yang diberikan oleh Negara Peserta;
(b) bagan keputusan sebagaimana tercantum dalam Lampiran 2
(c) saran dari Komite Kedaruratan;
(d) prinsip ilmiah dan bukti ilmiah yang ada, serta informasi relevan lainnya; dan
(e) penilaian risiko terhadap kesehatan manusia, risiko penyebaran penyakit secara
internasional, dan risiko gangguan terhadap lalu lintas internasional.

8
5. Bila Direktur Jenderal, setelah berkonsultasi dengan Negara Peserta yang di dalam
wilayahnya telah terjadi PHEIC, mempertimbangkan bahwa PHEIC telah berakhir,
Direktur Jenderal harus mengambil keputusan menurut prosedur yang ditetapkan dalam
Pasal 49.

Pada lampiran dalam IHR 2005 terdapat bagan yang menjelaskan tentang kriteria
penentuan PHEIC

Gambar 2. Kriteria Penentuan PHEIC

3.2 Telaah Marburg disease terkait potensial PHEIC


Tidak diketahui secara pasti bagaimana transmisi awal virus marburg dari hewan ke
manusia. Bagaimanapun, pada 2 kasus wisatawan yang berkunjung ke Uganda pada tahun
2008, tidak terlindungi dari kontak dengan feses kelelawar yang terinfeksi yang kemungkinan
besar menjadi rute infeksi fecal-oral.
Setelah persilangan awal virus ini dari hewan (host) ke manusia, transmisi terjadi antara
manusia ke manusia. Hal ini mungkin terjadi melalui beberapa cara yaitu kontak langsung

9
dengan droplet dari cairan tubuh pasien yang terinfeksi, atau kontak dengan peralatan
maupun alat lain yang terkontaminasi dengan darah atau jaringan yang terinfeksi.
Penyebaran virus diantara manusia dapat terjadi di lingkungan tertutup dan kontak langsung.
Contoh yang paling umum yakni melalui perawat dan dokter di rumah sakit (transmisi
nasokomial)
Orang yang kontak dengan kelelawar buah Afrika, Rousettus aegyptiacus, orang yang
telah terinfeksi ataupun primata yang terinfesi virus marburg beresiko untuk terinfeksi. Orang
yang memiliki resiko tinggi termasuk anggota keluarga dan staf rumah sakit yang merawat
pasien yang telah terinfeksi dan tidak menggunakan alat pelindung diri yang memadai.
Beberapa profesi tertentu seperti dokter hewan dan laboratorium atau pekerja di kantor
karantina yang menangani primata dari Afrika, bisa meningkatkan resiko terpajan virus
Marburg.
Resiko terpajan dapat lebih tinggi pada wisatawan yang mengunjungi daerah endemik di
Afrika dan daerah lain termasuk Uganda dan memiliki riwayat kontak dengan kelelawar buah
atau memasuki goa atau situs pertambangan yang didiami oleh kelelawar buah.
Dengan adanya outbreak yang terjadi dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk
menjadikan Marburg disease potensial menjadi PHEIC. Penyakit ini memang jarang terjadi,
tetapi memiliki kemampuan untuk mengakibatkan outbreak yang dramatis dengan tingkat
kematian yang tinggi. Menurut bagan Kriteria Penentuan PHEIC yang dilampirkan dalam
IHR 2005, Marburg disease dapat diusulkan menjadi suatu kejadian yang terjadi yang harus
dilaporkan kepada WHO sesuai IHR. Selanjutnya penetapan Marburg disease menjadi
PHEIC sesuai dengan prosedur pasal 12 dalam IHR 2005.

10
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Marburg disease memiliki kemampuan untuk mengakibatkan outbreak yang dramatis
dengan angka kematian yang tinggi sehingga menjadi potensial PHEIC.
2. Marburg disease adalah demam berdarah Marburg disebabkan oleh filovirus
(lt.filoviridae), adalah jenis virus yang jarang diketahui dengan identifikasi berupa
demam disertai pendarahan. Virus ini disebarkan melalui kontak langsung dengan
cairan dan jaringan tubuh yang terinfeksi, atau dengan obyek penanganan yang
terkontaminasi.
3. Virus marburg termasuk ke dalam famili Filoviridae yang terdiri dari 3 genus yaitu
Ebola Virus, Marburg Virus, dan Cueva Virus. Genus marburg virus terdiri hanya dari
1 spesies yaitu Marburg marburgvirus, yang lebih sering dikenal dengan marburg
virus. Genom virus ini berbentuk linear, tidak bersegmen, molekul RNA rantai
tunggal.
4. Marburg disease bermanifestasi klinis dengan demam yang muncul secara tiba-tiba,
menggigil, mialgia serta perdarahan dari hidung, gusi, mata, dan perdarahan pada
gastrointestinal yang sering bermanifestasi sebagai muntah berdarah ataupun BAB
berdarah.
5. Terapi untuk infeksi virus Marburg adalah perawatan suportif secara umum, yang
meliputi pemberian cairan melalui pembuluh darah dan terapi lain untuk menjaga
fungsi tubuh.

4.2 Saran
1. Saran Untuk KKP
Diharapkan bagi KKP lebih mengedukasi tentang Marburg disease kepada pelaku
perjalanan lintas negara.
2. Saran Untuk Lintas Sektor Wilayah
Diharapkan bagi instasi instasi terkait seperti Dinas Parisiwisata, Pengelola tempat
wisata dapat bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan dalam mengedukasi
pelaku perjalanan seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata
keluar negeri.
3. Saran untuk pelaku perjalanan

11
Diharapkan pelaku perjalanan lebih memperhatikan keadaan lingkungan negara yang
akan dikunjungi, serta sanitasi di daerah tersebut agar terhindar dari Marburg disease.
4. Saran Untuk Masyarakat
Diharapkan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap perjalanan lintas
negara, masyarakat yang ingin melakukan perjalanan ke negara terjangkit agar
mempelajari tentang transmisi Marburg disease.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Soeharsono (2002). Zoonosis: Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia. From


: http://books.google.co.id/books?id=BaV3U0vkTtoC&pg=PA104&lpg=PA104&dq=
GEJALA+PENYAKIT+virus+marburg&source=bl&ots=90xV-
dUfUp&sig=omh_CyYNDE2oFF46Gc8jJEGo3As&hl=en&sa=X&ei=Tl1KVIb0LMz
M8gWtpYGYBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=GEJALA%20PENYAKIT%20virus
%20marburg&f=false

2. U, Marguerite A. 2009. Hemorrhagic Fevers. Merck Manual Home Health


Handbook. Mediacastore.

3. Verona (2010). Ebola and Marburg Viruses Human-Animal Interfaces. From


: http://www.fao.org/docs/eims/upload/276639/ak744e00.pdf

4. Libby Burch (2012). Lassa, Ebola, dan Marburg Viruses, From


:http://web.stanford.edu/group/parasites/ParaSites2012/Lassa%20Libby%20Burch/La
ssaEbolaMarburg_LibbyBurch_3-8-2012.pdf

5. Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama (2014) Selain Ebola, Kini Ada kasus baru Marburg
diseases. From :http://www.litbang.kemkes.go.id/node/539

6. Professor Dr. med. Gustav Adolf Martini (1971). Marburg Virus Disease. From
: http://link.springer.com/search?query=Marburg+diseases&facet-
discipline=%22Medicine%22

7. WHO (2009). Virus Marburg yang Mematikan. From


:http://www.indosiar.com/ragam/virus-marburg-yang-mematikan_21475.html

13
14