You are on page 1of 19

HUBUNGAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DAN STATUS

GIZI DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR DI


KOTA YOGYAKARTA

Naskah Publikasi
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Sarjana S2

Minat Utama Gizi dan Kesehatan


Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Diajukan oleh :

Akhmad Sujai
NIM: 09/293218/PKU/10751

KEPADA
PROGRAM PASCA SARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011
LEMBAR PENGESAHAN

Naskah Publikasi

HUBUNGAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DAN STATUS GIZI


DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR DI KOTA
YOGYAKARTA

Diajukan Oleh:
Akhmad Sujai
NIM: 09/293218/PKU/10751

Disetujui Oleh:

Pembimbing Utama
HUBUNGAN KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DAN STATUS GIZI
DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR
DI KOTA YOGYAKARTA

ASSOCIATION BETWEEN FOOD SECURITY OF THE HOUSEHOLD AND


NUTRITION STATUS AND ACADEMIC ACHIEVEMENT OF ELEMENTARYY
SCHOOL STUDENTS AT YOGYAKARTA MUNICIPALITY
Akhmad Sujai1, MG. Adiyanti2, Emy Huriyati3

ABSTRACT

Background: Poverty and lack of income will cause inability of the family to
provide enough and nutritious food for all the family members. Fulfillment of
nutritious food will bring direct impact to nutrition status of children. Malnutrition
will affect brain development and intelligence that in the long run disrupts
academic achievement.

Objective: To identify association between food security of the household and


nutrition status and academic achievement of elementary school students at
Yogyakarta Municipality.

Method: The study was observational with cross sectional design. Samples were
students of grade V of elementary school at Subdistrict of Gedongtengen,
Yogyakarta Municipality. Data of food security of the house were obtained
through interview based on questionnaire of Radimer/Cornell; data of nutrition
status were obtained through assessment and academic achievement through
secondary data, i.e. original score of final semester examination.

Result As much as 67.6% of the household were food insecure; 13.3% of


students were stunted. Food security of the household was significantly
associated with nutrition status (p=0.033) and achievement in mathematics
(p=0.045). There was association between nutrition status and achievement in
Mathematics (p=0.035) and in Bahasa Indonesia (p=0.000) and combined
achievement in Mathematics, Bahasa Indonesia and Science (p=0.004).

Conclusion: There was association between food security of the household and
nutrition status. There was association between food security of the household
and achievement in Mathematics; but not in Bahasa Indonesia and Science.
There was association between nutrition status in height for age and academic
achievement of students.

Keywords: household food security, nutritional status, learning achievement.


1. Health Office, District of West Lombok, Province of West Nusa Tenggara
2 Faculty of Psychology, Gadjah Mada University
3. Graduate Program in Health and Nutrition, Gadjah Mada University
1

PENDAHULUAN
Tingkat pendapatan sangat menentukan status ketahanan pangan
rumah tangga, dan akan mempengaruhi pola penyediaan pangan. Rumah
tangga yang tahan pangan tergambar dari kemampuannya untuk
memenuhi kebutuhan pangan yang cukup dan bergizi bagi seluruh
keluarga. Ketersediaan pangan dalam keluarga akan mempengaruhi
asupan zat gizi bagi setiap anggota keluarga (1)
Asupan zat gizi dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk
menyediakan energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh serta
mengatur proses kehidupan dalam tubuh. Manifestasi dari penggunaan
zat gizi oleh tubuh terlihat dalam penampilan fisiologis yang disebut
dengan status gizi (2)
Ketahanan pangan dan status gizi yang baik merupakan syarat
dasar bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Rumah
tangga dengan ketahanan pangan dan status gizi yang baik akan
menghasilkan anak dengan kualitas fisik dan kecerdasan yag optimal, dan
bila didukung oleh faktor lingkungan yang memadai akan mampu meraih
prestasi pada proses pendidikan yang dilaluinya (3).

Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang


bersumber dari internal maupun eksternal, salah satunya adalah
lingkungan keluarga (4). Keluarga yang miskin dan kurang pendapatan
akan menyebabkan ketidaktahanan/kerawanan pangan yang akan
menimbulkan kurangnya asupan zat gizi bagi anak sehingga dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan, baik fisik maupun psikososial yang
akhirnya dapat menurunkan prestasi belajar (5)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ketahanan


pangan rumah tangga dan status gizi dengan prestasi belajar siswa
sekolah dasar di Kota Yogyakarta.
2

METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan cross
sectional (potong lintang). Penelitian dilaksanakan di Kecamatan
Gedongtengen, Kota Yogyakarta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dari bulan Februari sampai dengan April 2011.
Subjek penelitian adalah siswa kelas 5 sekolah dasar berdasarkan
kriteria yang telah ditentukan, yaitu kriteria inklusi: berumur 10-11 tahun,
tinggal dengan orang tua kandung, dan sudah tinggal selama 2 tahun di
Kecamatan Gedongtengen. Kriteria eksklusi yaitu apabila siswa menderita
penyakit infeksi kronis atau kelainan bawaan. Jumlah populasi sebanyak
141 siswa dari 6 sekolah dasar. Pengambilan sampel dilakukan secara
sampling sistematis dengan jumlah sampel sebanyak 105 orang.
Data karakteristik subjek penelitian diperoleh dengan cara meminta
Kepala Sekolah mengisi format yang berisi: nama, umur, jenis kelamin,
nama orang tua, alamat, nilai asli semester terakhir mata pelajaran
matematika, Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam. Data
Ketahanan pangan rumah tangga diperoleh melalui wawancara dengan
ibu dari sampel terpilih dengan menggunakan kuesioner Radimer/Cornell.
Sedangkan data berat badan dan tinggi badan diperoleh melalui
pengukuran.
Data status gizi diolah menggunakan software anthroplus
berdasarkan parameter TB/U dengan rujukan WHO 2007. Data ketahanan
pangan rumah tangga dikategorikan menjadi 2 yaitu rumah tangga tahan
pangan dan tidak tahan pangan. Sedangkan data prestasi belajar
dikategorikan menjadi baik dan kurang. Penyajian data dengan analisis
univariat untuk melihat distribusi frekuensi karakteristik subjek penelitian,
variabel bebas, dan terikat. Untuk mengetahui hubungan antar variabel
digunakan uji chi square dan Fisher’s Exact.
3

HASIL
Karakteristik Subjek Penelitian
Dari jumlah sampel sebanyak 105 orang variabel jenis kelamin dan
umur hampir sebanding, yaitu jenis kelamin laki-laki 53 orang (50,5%)
perempuan 52 orang (49,5%) dan usia 10 tahun sebanyak 53 orang
(50,5%) dan 11 tahun sebanyak 52 orang (49,5%).
Tingkat pendapatan keluarga sebagian besar sampel tidak miskin
yaitu sebanyak 73 orang (69,5%), tingkat pendidikan ayah sebagian besar
rendah sebanyak 55 orang (52,4%), tingkat pendidikan ibu sebagian
besar rendah sebanyak 54 orang (51,4%). Sebagian besar orang tua
siswa bekerja, yaitu ayah bekerja 103 orang (98,1%) dan ibu bekerja
sebanyak 56 orang (53,3%).
Berdasarkan variabel presensi siswa dan ketahanan pangan,
sebanyak 69 orang (65,7%) pernah absen selama 1 semester, dan
sebanyak 34 siswa (32,4%) mempunyai status ketahanan pangan rumah
tangga food secure (tahan pangan) Berdasarkan status gizi parameter
TB/U sebanyak 91 orang (86,7%) status gizi siswa normal. Pada variabel
prestasi, sebagian besar siswa mempunyai nilai kurang pada pelajaran
matematika yaitu sebanyak 55 orang (52,4%), sedangkan pada pelajaran
Bahasa Indonesia dan IPA sebagian besar siswa mempunyai nilai baik
yaitu masing-masing 81 orang (77,1%) dan 66 orang (62,9%). Hasil
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
4

Tabel 1. Karakteristik Subyek Penelitian


Variabel Jumlah
n %
1.Jenis Kelamin
 Laki-laki 53 50,5
 Perempuan 52 49,5
2.Umur
 10 tahun 53 50,5
 11 tahun 52 49,5
3.Pendapatan
 Miskin 32 30,5
 Tidak Miskin 73 69,5
4.Pendidikan Ayah
 Rendah 55 52,4
 Tinggi 50 47,6
5.Pendidikan Ibu
 Rendah 54 51,4
 Tinggi 51 48,6
6.Pekerjaan Ayah
 Tidak Bekerja 2 1,9
 Bekerja 103 98,1
7.Pekerjaan ibu
 Tidak Bekerja 49 46,7
 Bekerja 56 53,3
8.Presensi Kehadiran siswa
 Nihil 36 34,3
 Absen 69 65,7
9.Status Ketahanan Pangan RT
 Severe unsecurity for children and 39 37,1
adult
 Unsecurity for adult 13 12,4
 Unsecurity for family 14 13,3
 Uncertain obout food 5 4,8
 Food secure 34 32,4
10.Status Gizi TB/U
 Pendek 14 13,3
 Normal 91 86,7
12.Nilai Matematika
 Kurang 55 52,4
 Baik 50 47,6
13.Nilai B. Indonesia
 Kurang 24 22,9
 Baik 81 77,1
14.Nilai IPA
 Kurang 39 37,1
 Baik 66 62,9
15. Nilai gabungan
 Kurang 72 68,6
 Baik 33 31,4
5

Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dan Status Gizi


Berdasarkan status gizi TB/U, sebanyak 13 orang (18,3%) siswa
mempunyai status gizi pendek berasal dari rumah tangga tidak tahan
pangan, dan 1 orang (2,9%) siswa berasal dari keluarga tahan pangan.
Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hubungan Status Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan
Status Gizi
Ketahanan Status gizi TB/U
Pangan pendek normal jumlah p OR
n % N % n % (CI)
Tdk tahan
pangan 13 18,3 58 81,7 71 100,0 0,033** 7,397
Tahan
Pangan 1 2,9 33 97,1 34 100,0 (0,926-59,109)
Jumlah 14 13,3 91 86,7 105 100,0
Ket. ** Uji Fisher’s Exact

Setelah diuji ternyata diperoleh hasil ada hubungan antara


ketahanan pangan rumah tangga dengan status gizi TB/U (p=0,033)
dengan Odd Ratio (OR) sebesar 7,397 yang berarti bahwa siswa yang
berasal dari rumah tangga tidak tahan pangan mempunyai resiko 7,397
kali mengalami stunting daripada siswa dari rumah tangga tahan pangan.

Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan Prestasi Belajar


Pada rumah tangga tidak tahan pangan jumlah siswa yang
memperoleh nilai kurang pada pelajaran matematika sebanyak 42 orang
(59,2%), sedangkan siswa yang memperoleh nilai baik sebanyak 29 orang
(40,8%). Setelah dilakukan uji statistik ternyata diperoleh hasil terdapat
hubungan bermakna antara ketahanan pangan rumah tangga dengan
prestasi siswa pada pelajaran matematika (p=0,045) dan OR sebesar
6

2,340 yang berarti siswa dari rumah tangga tidak tahan pangan
mempunyai resiko 2,340 kali untuk memperoleh nilai kurang pada
pelajaran matematika. Hasil selengkapnya pada Tabel 3.
Tabel 3 Hubungan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan Prestasi
Matematika
Matematika
Ketahanan
Kurang Baik Jumlah p OR
Pangan
n % N % n % (CI)
Tdk Tahan
Pangan 42 59,2 29 40,8 71 100,0 0,045* 2,340
Tahan
Pangan 13 38,2 21 61,8 34 100,0 (1,012-5,409)
Jumlah 55 52,4 50 47,6 105 100,0
Ket. * Uji Chi Square
Pada pelajaran Bahasa Indonesia sebagian besar siswa
mempunyai prestasi baik yaitu sebanyak 81 orang (77,1%), masing-
masing sebanyak 51 orang (71,8%) berasal dari rumah tangga tidak tahan
pangan dan 30 orang (88,2%) berasal dari rumah tangga tahan pangan.
Setelah diuji statistik hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan
prestasi siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia diperoleh p = 0,061
dan OR sebesar 2,941. Hasil selengkapnya pada Tabel 4.

Tabel 4 Hubungan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan Prestasi


Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
Ketahanan OR
Pangan Kurang Baik Jumlah p
n % N % (CI)
Tdk Tahan
Pangan 2,941
20 28,2 51 71,8 71 100,0 0,061*
Tahan
Pangan 4 11,8 30 88,2 34 100,0 (0,918-9,423)
Jumlah 24 22,9 81 77,1 105 100,0
Ket. * Uji Chi Square
7

Demikian juga pada pelajaran IPA sebagian besar siswa


mempunyai prestasi baik yaitu sebanyak 66 orang (62,9%), masing-
masing sebanyak 43 orang (60,60%) berasal dari rumah tangga tidak
tahan pangan dan 23 orang (67,6%) berasal dari rumah tangga tahan
pangan. Setelah diuji statistik diperoleh p = 0,482. Jadi tidak terdapat
hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan prestasi IPA. Hasil
selengkapnya pada Tabel 5

Tabel 5 Hubungan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan Prestasi


IPA
IPA
Ketahanan
Kurang Baik Jumlah p OR
Pangan
n % N % (CI)
Tdk Tahan
Pangan 28 39,4 43 60,6 71 100,0 0,482* 1,262
Tahan
Pangan 11 32,4 23 67,6 34 100,0 (0,575-3,223)
Jumlah 39 37,1 66 62,9 105 100,0
Ket. * Uji Chi Square

Hubungan antara ketahanan pangan rumah tangga dengan


gabungan prestasi ketiga mata pelajaran tersebut dapat dilihat pada Tabel
6, dimana hasilnya adalah p = 0,136. Hal ini berarti tidak ada hubungan
antara ketahanan pangan rumah tangga dengan gabungan prestasi siswa
ketiga mata pelajaran tersebut.
8

Tabel 6 Hubungan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan Prestasi


Belajar Gabungan Ketiga Mata Pelajaran

Prestasi Gabungan
Ketahanan OR
Pangan Kurang Baik Jumlah p
n % N % (CI)
Tdk Tahan
Pangan 52 73,2 19 26,8 71 100,0 0,136* 1,916
Tahan
Pangan 20 58,8 14 41,2 34 100,0 (0,809-4,535)
Jumlah 72 68,6 33 31,4 105 100,0
Ket. * Uji Chi Square

Status Gizi TB/U Dan Prestasi


Mata pelajaran matematika mungkin masih dianggap mata
pelajaran yang sulit oleh siswa karena sebagian besar siswa atau 52,4%
memperoleh nilai kurang. Hasil uji statistik menunjukkan p = 0,035 dan OR
sebesar 3,917. Hal ini berarti terdapat hubungan antara status gizi dengan
prestasi Matematika, dan siswa yang pendek mempunyai resiko 3,917 kali
memperoleh nilai kurang pada pelajaran Matematika daripada siswa yang
dengan status gizi normal.
Tabel 7. Hubungan Status Gizi Dengan Prestasi Matematika

Matematika
Status Gizi Kurang Baik Jumlah p OR
n % n % n % (CI)
TB/U

Pendek (Stunted) 11 78,6 3 21,4 14 100,0 0.035* 3,917


Normal 44 48,4 47 51,6 91 100,0 (1,024-14,975)

Jumlah 55 52,4 50 47,6 105 100,0


Ket. * Uji Chi Square
9

Pada pelajaran Bahasa Indonesia sebagian besar siswa (77,1%)


memperoleh prestasi dengan nilai baik. Namun setelah diuji ternyata
menghasilkan p sebesar 0,000 dan OR sebesar 9,12. Hal ini berarti
terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi Bahasa Indonesia
dan siswa yang pendek mempunyai resiko 9,12 kali memperoleh nilai
kurang pada pelajaran Bahasa Indonesia. Hasil selengkapnya pada Tabel
8.
Tabel 8. Hubungan Status Gizi Dengan Prestasi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia
Status Gizi Kurang Baik Jumlah p OR
n % n % n % (CI)
TB/U
Pendek
(Stunted) 9 64,3 5 35,7 14 100,0 0.000** 9,120

Normal 15 16,5 76 83,5 91 100,0 (2,678-31,060)


Jumlah 24 22,9 81 77,1 105 100,0
Ket. ** Uji Fisher’s Exact

Pada tabel 9 menunjukkan hubungan antara status gizi dengan


pelajara IPA dengan hasil p = 0,905 dan OR sebesar 0,931. Hal ini berarti
tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi IPA.
Tabel 9. Hubungan Status Gizi Dengan Prestasi IPA

IPA
Status Gizi Kurang Baik Jumlah p OR

n % n % n % (CI)
TB/U
Pendek
(Stunted) 5 35,7 9 64,3 14 100,0 0.905* 0,931
Normal 34 37,4 57 62,9 91 100,0 (0,288-3,009)

Jumlah 39 37,1 66 62,9 105 100,0


Ket. * Uji Chi Square
10

Hubungan antara status gizi TB/U dengan prestasi gabungan


ketiga mata pelajaran menghasilkan p = 0,004. Hal ini berarti terdapat
hubungan antara status gizi TB/U dengan prestasi gabungan ketiga mata
pelajaran tersebut.
Tabel 10. Hubungan Status Gizi Dengan Prestasi Gabungan
Ketiga Mata Pelajaran

IPA
Status Gizi Kurang Baik Jumlah p
n % n % n %
TB/U
Pendek (Stunted) 14 100,0 0 0,0 14 100,0 0.004**
Normal 58 63,7 33 36,3 91 100,0
Jumlah 39 68,6 66 31,4 105 100,0
Ket. ** Uji Fisher’s Exact

BAHASAN
Hubungan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Dengan Status Gizi
TB/U

Penelitian ini menemukan bahwa hasil analisis hubungan


ketahanan pangan rumah tangga dengan status gizi TB/U, dengan uji
Fisher’s Exact menghasilkan p=0,033 dan OR sebesar 7,397 yang berarti
terdapat hubungan yang signifikan antara status ketahanan pangan rumah
tangga dengan status gizi TB/U dan siswa dari rumah tangga tidak tahan
pangan mempunyai resiko sebesar 7,937 kali mengalami stunting (Tabel
2).
Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada rumah tangga tidak tahan
pangan, ketersediaan makanan bergizi yang dibutuhkah oleh anak-anak
untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sangat terbatas. Bila
kondisi ketidaktahanan atau kerawanan pangan terjadi dalam jangka
11

waktu lama maka akan dapat mengganggu pertumbuhan anak dan


perkembangan anak. Penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak dari
rumah tangga tidak tahan pangan mempunyai kemungkinan mengalami
stunting dan underweight daripada anak-anak dari rumah tangga tahan
pangan karena mengkonsumsi lebih sedikit protein hewani dan makanan
snack (6).
Selain itu kekurangan konsumsi zat gizi pada rumah tangga tidak
tahan pangan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang lebih
sering, daya tahan menjadi menurun sehingga mudah terkena penyakit
infeksi yang dapat mengurangi nafsu makan dan menyebabkan anak
kurang gizi dan tidak tumbuh optimal (7). Penelitian lain menunjukkan
bahwa bila stunting terjadi pada 2 tahun masa kehidupan, dapat berakibat
negatif jangka panjang yaitu terjadi kemunduran fungsi kognitif dan
penurunan score IQ pada masa anak sampai remaja (8). Perbaikan IQ
anak yang stunting tidak dapat mencapai anak yang tidak stunting
walaupun melalui cara pemberian suplemen dan stimulasi (9)
Oleh karena itu diharapkan setiap rumah tangga harus mampu
menyediakan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi
bagi setiap anggota keluarga terutama bagi anak-anak yang masih dalam
masa tumbuh dan berkembang sehingga dapat mengurangi kejadian
stunting pada anak.

Hubungan ketahanan pangan rumah tangga dengan prestasi belajar.

Ketersediaan pangan pada rumah tangga merupakan syarat utama


terpenuhinya asupan makanan bagi anggota keluarga. Anak yang cukup
asupan zat gizi akan selalu sehat karena zat gizi akan mempengaruhi
sistem imunitas tubuh dan antibodi (2) sehingga akan meningkatkan
kualitas fisik dan kecerdasan serta bila didukung oleh faktor lingkungan
12

yang memadai akan mampu meraih prestasi pada proses pendidikan yang
dilaluinya (3).
Di samping faktor kesehatan fisik seperti pendengaran dan
penglihatan, prestasi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis yaitu minat,
kecerdasan dan motivasi (10). Selain itu faktor keluarga, guru dan cara
mengajarnya, alat-alat yang digunakan dalam belajar mengajar,
perbedaan kurikulum dan program pendidikan dan lingkungan sangat
mempengaruhi prestasi belajar siswa (11-12).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara
status ketahanan pangan rumah tangga dengan prestasi matematika
(p=0,045) dengan OR sebesar 2,340 (Tabel 3). Namun tidak demikian
dengan pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA. Hal ini mungkin karena
prestasi belajar matematika berhubungan dengan kemampuan spasial
anak. Kemampuan spasial adalah bagian dari aspek kognitif yang
berkaitan dengan pemahaman perspektif, kiri kanan, bentuk-bentuk
geometris, menghubungkan konsep spasial dengan bayangan visual.
Pada anak sekolah dasar kemampuan spasial ini erat hubungannya
dengan kecerdasan anak secara umum (13).

Hubungan antara kecerdasan dengan status gizi sangat erat,


kurang gizi pada anak dapat mempengaruhi perkembangan otak dan
kecerdasan yang akhirnya menurunkan prestasi belajar (14). Pada rumah
tangga tidak tahan pangan kebutuhan zat gizi untuk tumbuh dan kembang
secara optimal bagi anak tidak terpenuhi sehingga dapat berdampak pada
kecerdasan (7). Hal inilah yang menyebabkan anak yang berasal dari
rumah tangga tidak tahan pangan memiliki nilai matematika lebih rendah
dari pada anak dari rumah tangga tahan pangan (15-16).
Namun bila dilihat dari hubungan ketahanan pangan dengan
gabungan prestasi ketiga mata pelajaran yang diteliti ternyata tidak
terdapat hubungan karena hasilnya yaitu p = 0,136. Hal ini dapat
13

dijelaskan bahwa ketahanan pangan tidak secara langsung


mempengaruhi prestasi belajar. Ketersediaan pangan dalam jumlah cukup
di rumah tangga belum tentu dapat dimanfaatkan secara optimal untuk
peningkatan asupan zat gizi anak agar tercapai status gizi yang
diinginkan, yaitu prasyarat yang diperlukan untuk pencapaian prestasi
yang diinginkan. Beberapa kendala yang menyebabkan ketersediaan
pangan tidak dapat dimanfaatkan untuk peningkatan gizi antara lain nafsu
makan anak yang rendah karena penyakit (7) dan faktor budaya atau
pantangan tertentu bagi anak (17). Dengan tidak tercapainya status gizi
baik maka harapan untuk mencapai prestasi tidak akan terwujud ditengah
ketersediaan pangan yang cukup.

Hubungan Status gizi TB/U dengan prestasi belajar


Stunting atau pendek dapat mempengaruhi perkembangan proses
kognitif pada masa anak-anak, anak yang mengalami stunting
menunjukkan hasil kurang baik pada waktu ujian karena mengalami
gangguan dalam konsentrasi, pemahaman verbal, persepsi visual dan
kekuatan ingatan.(18)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status gizi TB/U
berhubungan secara signifikan dengan prestasi Matematika dan Bahasa
Indonesia (Tabel 7 dan 8). Mengapa hanya pada pelajaran Matematika
dan Bahasa Indonesia saja hubungan ini bermakna, mungkin karena
materi pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia masih dianggap sulit
oleh siswa, selain itu menurut beberapa penelitian matematika dan
Bahasa Indonesia erat hubungannya dengan kecerdasan (5, 12).

Sedangkan pelajaran IPA mungkin dianggap lebih mudah oleh siswa,


karena menurut penelitian di 41 negara mengungkapkan bahwa prestasi
IPA akan lebih tinggi apabila siswa merupakan penduduk asli, tinggal
bersama kedua orang tuanya, tinggal dengan saudara kandung, dan ada
14

keterlibatan keluarga dalam belajar (19). Hal inilah yang menyebabkan


prestasi IPA relatif lebih baik daripada Matematika dan Bahasa Indonesia.
Tapi kalau dilihat hubungan status gizi TB/U dengan gabungan
prestasi ketiga mata pelajaran yang diteliti, ternyata terdapat hubungan
secara signifikan antara status gizi TB/U dengan prestasi belajar
(p=0,004). Hubungan ini juga dapat dijelaskan bahwa kekurangan gizi
pada anak akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan
struktur otak (20), sehingga secara langsung maupun tidak langsung akan
menurunkan kecerdasan anak (21). Di samping itu kemungkinan rendahnya
prestasi belajar anak dapat disebabkan karena anak mengalami
kekurangan gizi (22) dan stunting sejak lahir. Anak yang mengalami
stunting pada 2 tahun masa awal kehidupannya mempunyai efek jangka
panjang yaitu mempunyai IQ atau kecerdasan lebih rendah daripada anak
yang tidak stunting, namun kecerdasan anak stunting dapat ditingkatkan
dengan cara menstimulasinya dengan pemberian suplemen dan
rangsangan psikososial walaupun tidak dapat mencapai kecerdasan anak
yang normal (9)
Oleh karena itu sangat penting untuk mencegah munculnya
masalah stunting pada anak dengan cara pemberian zat gizi yang cukup
bagi ibu yang sedang hamil, dan pemenuhan kebutuhan zat gizi pada 2
tahun masa kehidupan dan pada usia selanjutnya sesuai dengan
kebutuhan gizinya.

KESIMPULAN DAN SARAN


Ada hubungan antara ketahanan pangan rumah tangga dengan
status gizi siswa. Ada hubungan antara ketahanan pangan rumah tangga
dengan prestasi Matematika, namun tidak dengan prestasi Bahasa
Indonesia dan IPA. Ada hubungan antara status gizi dengan prestasi
belajar siswa pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia
15

serta gabungan prestasi mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia


dan IPA.
Untuk mengetahui potensi siswa dalam berprestasi di sekolah, perlu
dilakukan pemantauan status gizi siswa sejak baru masuk sekolah (kelas
1), dengan melakukan pengukuran tinggi badan sehingga diketahui siswa
yang mengalami stunting, kemudian dilanjutkan secara berkala untuk
mengetahui perkembangannya. Siswa yang mempunyai prestasi kurang
sebaiknya diberikan waktu bimbingan khusus agar dapat meningkat
prestasinya. Untuk penelitian yang berkaitan dengan prestasi sebaiknya
mengukur variabel kecerdasan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Matheson DM, Varady J, Varady A, Killen JD. Household food security
and nutritional status of Hispanic children in the fifth grade. Am J Clin
Nutr. 2002 Jul;76(1):210-7.
2. Almatsier S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama; 2009.
3. Suyamto, Indrasari SD, Hanarida I. Biofortifikasi dan Ketahanan
Pangan. Proseding Temu Ilmiah XIII PERSAGI. Jakarta: PERSAGI;
2005. p. 100-9.
4. Azwar S. Tes prestasi fungsi pengembangan prestasi belajar.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2009.
5. Alaimo K, Olson CM, Frongillo EA, Jr. Food insufficiency and
American school-aged children's cognitive, academic, and
psychosocial development. Pediatrics. 2001 Jul;108(1):44-53.
6. Isanaka S, Mora-Plazas M, Lopez-Arana S, Baylin A, Villamor E. Food
insecurity is highly prevalent and predicts underweight but not
overweight in adults and school children from Bogota, Colombia. J
Nutr. 2007 Dec;137(12):2747-55.
7. Milman A, Frongillo EA, de Onis M, Hwang JY. Differential
improvement among countries in child stunting is associated with long-
term development and specific interventions. J Nutr. 2005
Jun;135(6):1415-22.
8. Berkman DS, Lescano AG, Gilman RH, Lopez SL, Black MM. Effects
of stunting, diarrhoeal disease, and parasitic infection during infancy
on cognition in late childhood: a follow-up study. Lancet. 2002 Feb
16;359(9306):564-71.
16

9. Walker SP, Chang SM, Powell CA, Grantham-McGregor SM. Effects


of early childhood psychosocial stimulation and nutritional
supplementation on cognition and education in growth-stunted
Jamaican children: prospective cohort study. Lancet. 2005 Nov
19;366(9499):1804-7.
10. Suryabrata. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada;
2004.
11. Purwanto MN. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya
2008.
12. Djamarah. Psikologi belajar. Jakarta: Rhineka Cipta; 2008.
13. Tambunan SM. Hubungan Antara Kemampuan Spasial Dengan
Prestasi Belajar Matematika. Makara Sosial Humaniora. 2006 1 Juni
2006;10 (1):27-32.
14. Gorman kS. Malnutrition and Cognitive Development: Evidence from
Experimental/Quasy-Experimental Studies Among the Mild-to-
Moderately Malnourished. The Journal of Nutrition. 1995;1256:22398-
448.
15. Alaimo K, Olson CM, Frongillo EA, Jr., Briefel RR. Food insufficiency,
family income, and health in US preschool and school-aged children.
Am J Public Health. 2001 May;91(5):781-6.
16. Jyoti DF, Frongillo EA, Jones SJ. Food insecurity affects school
children's academic performance, weight gain, and social skills. The
Journal of Nutrition. 2005;135:2831-9.
17. Susanto. Fungsi-fungsi Sosio Budaya Makan. Majalah Pangan
1991:51-6.
18. Kar BR, Rao SL, Chandramouli BA. Cognitive Development In
Children With Chronic Protein Energy Malnutrition. Behavioral and
Brain Function [serial on the Internet]. 2008; 4 : 31: Available from:
http://behavioralandbrainfunctions.com/content/4/I/31.
19. Chiu MM. Families, economies, cultures, and science achievement in
41 countries: country-, school-, and student-level analyses. J Fam
Psychol. 2007 Sep;21(3):510-9.
20. Georgieff MK. Nutrition and the developing brain: nutrient priorities and
measurement. The American Journal of Clinical Nutrition. 2007;85.
21. Ariani M. Penguatan ketahanan pangan daerah untuk mendukung
ketahanan pangan nasional2010: Available from:
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Mono26-3.pdf.
22. Halterman JS, Kaczorowski JM, Aligne CA, Auinger P, Szilagyi PG.
Iron deficiency and cognitive achievement among school-aged
children and adolescents in the United States. Pediatrics. 2001
Jun;107(6):1381-6.