1 PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN SOSIOLOGI-ANTROPOLOGI DI SEKOLAH/MADRASAH Oleh: NUR AEDI

A. Epistemologi dan Definisi Konstruktivisme Seperti cendawan di musim hujan, kini terminologi ‖konstruktivisme‖ telah muncul dan merebak dalam dunia pendidikan. Merebaknya istilah ‖konstruktivisme’ itu sejalan dengan kebingungan kita khususnya dalam menerapkan pada tataran praktis pembelajaran. Menurut Brooks & Brooks (1993) konstruktivisme adalah lebih merupakan suatu filosofi dan bukan suatu strategi pembelajaran. ‖Constructivism is not an instructional strategy to be deployed under appropriate conditions. Rather, constructivism is an underlying philosophy or way of seeing the world”. Bahkan menurut Glasersfeld (1987) konstruktivisme sebagai "teori pengetahuan dengan akar dalam ―filosofi, psikologi dan cybernetics". Von Glasersfeld mendefinisikan konstruktivisme apapun namanya secara aktif dan kreatif akan selalu membentuk konsepsi pengetahuan. Ia melihat pengetahuan sebagai sesuatu hal yang dengan aktip menerima apapun melalui pikiran sehat atau melalui komunikasi dan interaksinya. Hal itu secara aktip dan kreatif terutama dengan membangun pengetahuan itu. Kognisi adalah adaptif dan membiarkan sesuatu untuk mengorganisir pengalaman dunia itu, dan bukan untuk menemukan suatu tujuan kenyataan (von Glasersfeld, 1989). Berbeda dengan pandangan kaum objektivis bahwa pengetahuan adalah stabil sebab kekayaan esensial objek pengetahuan dan secara relatif tak berubah-ubah. Dengan demikian secara metafisik kaum objektivis berasumsi bahwa dunia adalah riil, hal itu adalah tersusun, dan bahwa struktur itu dapat dimodelkan untuk siswa. Objektivisme masih meyakini bahwa tujuan pikiran adalah untuk "cermin" bahwa kenyataan dan strukturnya itu melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan decomposable (tidak dapat diubah). Maksudnya bahwa hal itu diproduksi oleh proses berpikir yang di luar si pembelajar, dan ditentukan oleh struktur dunia nyata (Murphy, 1997: 28).

2 Dalam pandangan konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan dan kenyataan itu tidak mempunyai suatu sasaran atau nilai mutlak atau, paling sedikit, bahwa kita tidak punya cara untuk mengetahui kenyataan ini. Von Glasersfeld (1995) menunjuk dalam hubungan ini dengan konsep kenyataan: "Hal itu terdiri dari jaringan sesuatu hal dan berhubungan bahwa kita bersandar pada hidup kita, dan yang lain-pun sama terhadapnya, kita percaya orang lain bersandar juga" (Murpy, 1997: 7). Siswa menginterpretasikan dan membangun suatu kenyataan berdasarkan pada interaksi dan pengalamannya dengan lingkungan. Bukannya berpikir tentang kebenaran dalam kaitannya dengan suatu pencocokan dengan kenyataan, von Glasersfeld malahan memfokuskan pada pemikiran-pemikiran kelangsungan hidup: "Untuk konstruktivisme, konsep-konsep, model-model, teori-teori, dan seterusnya adalah dapat berkembang terus jika mereka dapat membuktikan cukup matang dalam konteks dengannya di mana mereka telah ciptakan". Oleh karena itu dalam kontinum secara epistemologis, bahwa objektivisime dan konstruktivisme akan menghadirkan kebalikan yang ekstrim. Berbagai jenis konstruktivisme sudah dimunculkan. Kita dapat membedakan antara

konstruktivisme radikal, sosial, phisik, evolusioner, maupun pengolahan informasi, serta konstruktivisme sistem cybernetic (Steffe & Gale, 1995; Carrini, 1996; Heylighen,1993; Ernest,1995). Dengan demikian ruang lingkup epistemologi konstruktivisme secara jelas begitu luas dan sulit untuk dinamai. Tergantung pada siapa yang anda baca, anda boleh

mendapatkan sesuatu penafsiran yang sedikit berbeda. Namun demikian, banyak para penulis, pendidik dan peneliti nampak memiliki persetujuan tentang bagaimana epistemologi konstruktivisme ini seharusnya dapat mempengaruhi belajar dan praktek pendidikan. Bagian yang berikut ini mengingatkan kita, apa makna konstruktivisme untuk belajar. Hal itu penting untuk suatu pertimbangan jika kita mengambil suatu bentuk aktivitas tertentu maka disamping memberikan dalam aspek keingintahuan sebagai bagian nafsu akademisnya juga tidak kalah pentingnya memahami makna yang terkandung dalam upaya perbaikan suatu sistem pembelajaran yang lebih bermanfaat, padu, dan meyakinkan sebagai alternatif pendekatan pembelajaran yang lebih baik.

3 Dalam perkembangannya, konstruktivisme memang banyak digunakan dalam pendidikan ataupun pendekatan-pendekatan pembelajaran. Konstruktivisme pada

dasarnya adalah suatu pandangan yang didasarkan pada aktivitas siswa untuk menciptakan, menginterpretasikan, dan mereorganisasikan pengetahuan dengan jalan individual (Windschitl, dalam Abbeduto, 2004). Sejalan dengan pendapat tersebut menurut Schwandt (1994) bahwa konstruktivisme adalah seperti interpretivis dan konstruktivis. Hal ini sejalan pula dengan pendapat von Glaserfeld (1987) bahwa

pengetahuan bukanlah suatu komunikasi dan komoditas yang dapat dipindahkan dan tidak satu pengantar-pun itu ada.

B. Prinsip-prinsip dan Karaktersitik Pembelajaran Konstruktivisme 1. Prinsip-prinsip Belum banyak buku-buku yang beredar di Indonesia tentang konstruktivisme baik yang berbahasa asing apalagi yang berbahasa Indonesia. Namun demikan kita dapat memeperoleh beberapa sumber tentang pembelajaran konstruktivisme dari literatur asing baik dari buku-buku maupun internet. Seperti kita lihat dalam bagian penjelasan, Jacqueline Grennon Brooks dan Martin G. Brooks dalam The case for constructivist classrooms. (1993) menawarkan lima prinsip kunci konstruktivis teori belajar. Anda dapat menggunakan buku-buku itu untuk memandu pada kajian struktur kurikulum dan perencanaan pelajaran. Menurutnya terdapat lima panduan prinsip konstruktivisme:

Prinsip 1: Permasalahan yang muncul sebagai hal yang relevan dengan siswa Dalam banyak contoh, masalah style Anda mengajar mungkin akan menjadi relevan dengan selera untuk para siswa, dan mereka akan mendekatinya, merasakan keterkaitannya kepada kehidupan mereka. Sebagai contoh, Kelas XI-IPS SMA/MA sedang belajar tentang topik ―Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia" (Sosiologi-Antropologi). Dalam hal ini para siswa berusaha mengidentifikasi; (1) contoh-contoh budaya daerah atau lokal lainnya yang berkembang, seperti; bahasa, pakaian, kesenian, upacara keagamaan, dsb; (2) perlunya

para siswa SMA/MA di Jakarta dan para guru di kota-kota besar lainnya (Medan. menarik. (6) relitas sikap toleransi dan empati sosial terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Manado. Banjarmasin. Sebagai contoh. Sorong. Medan. (3) alasan-alasan perlunya pemahaman dan penghargaan atas etnis dan budayanya yang berbeda itu. Banjarmasin. (4) penilaian terhadap kebudayaan-kebudayaan orang lain. di sekolah tersebut para siswa dapat menimbulkan dan meningkatkan empati serta merasakan keterkaitan beberapa contoh budaya lokal yang mereka miliki. bapak. Keterkaitan dapat muncul melalui mediasi Anda sebagai guru. penghargaan dan penilaian atas budaya sendiri maupun orang lain. Banda Aceh. atau tetangga sedang tinggal di Palembang. melainkan mencoba melihat bagaimana kebudayaan tertentu dapat mengekspresikan nilai bagi anggota-anggotanya sendiri. Banda Aceh (Pilih salah satu) di mana Anda sebagai guru pasti mengakui adanya perasaan yang kuat agar mereka mengetahui dan menugaskan para siswa untuk menulis tentang perasaan mereka yang berkaitan dengan kebudayaan para teman sebaya. dsb. Banda Aceh. kenalan. ibu. bangga. dsb) menyusun suatu pertukaran . Medan. dan anak-anak mendapatkan untuk melihat teman sebaya mereka dan lingkungan teman sebaya mereka yang baru. Suatu kelompok siswa Sekolah Menengah Atas/MA di Jakara yang memiliki saudara kandung. sebagai hasil aktivitas mereka dan pasti mereka aan bangga. dan sebagainya di sana. Ambon. Sorong. senang. Tetapi keterkaitan tidak harus selalu terjalin sebelumnya. atau sebuah penghormatan dan keingintahuan tentang budaya dan etnis orang lain. Ketika dihubungkan kepada teman sejawat via internet. Para siswa di Jakarta dapat e-mail para siswa di Ambon. paman. Pontianak. kagum. Para guru dapat menambahkan unsur-unsur untuk belajar membuat aktivitas yang relevan kepada para siswa. Begitu juga para guru menukar foto digital dari kelas masing-masing mereka.4 suatu pemahaman. bukan dalam arti menyetujui seluruh aspek dari kebudayaan-kebudayaan tersebut. (5) beberapa kemungkinan/kecnderungan jika kurangnya sikap menghargai budaya sendiri maupun toleransi dan empati sosial terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Ambon. keponakan. dalam arti bisa terjadi mendadak untuk para siswa. seperti. Makassar. Sorong. tante.

sampai kepada jenis-jenis tradisi serta makanan kedaerahan yang khas. mentifact (aktivitas mental. maupun e-mail. tulisan Bill Dalton (1979). Dari buku-buku seperti. mencakup suatu perpustakaan kelas yang menggambarkan tentang aneka ragam etnis dan budaya bangsa Indonesia itu. pemikiran. Anda menyiapkan para siswa untuk menulis cerita mereka sendiri. film maupun media lainnya. pakaian. dan memperkenalkan gagasan melalui audio-visulal. e-mail) itu mempunyai peningkatan dalam arti ketika proyek pelajaran itu berproses.5 informasi tentang budaya lokal di mana anak SMA/MA di Jakara menulis syair dan nyanyian yang berkenaan dengan lirik lagu daerah." Sebagai contoh. sumber-sumber lain. dan sebagainya). Prinsip 2: Struktur belajar di sekitar konsep-konsep utama Mendorong para siswa untuk membuat makna dari bagian-bagian yang menyeluruh/utuh ke dalam bagian-bagian yang terpisah-pisah. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. bangunan. dan sebagainya). dan sebagainya). dan sebagainya. Indonesia Hanbook. jiwa. upacara adat dan religi. Kedua kelompok (siswa SMA/MA Jakarta dengan di kota-kota besar lainya bisa mengirimkan hasil itu pada suatu halaman web. perkakas. (1970) dan “Peranan Local Genius dalam Akulturasi‖ (1986) Editor Ayatrohaedi. Di mana kebudayaan itu jika diuraikan bisa meliputi atifact (peninggalan-peninggalan. Hindari mulai dengan bagian-bagian dahulu untuk membangun kemudian sesuatu yang "menyeluruh/utuh. rumah dan pakaian adat. Dalam hal ini pembelajaran sosiologi-antropologi harus dilengkapi dengan bukubuku. dan konstruksi halaman-Web. Struktur situasi para guru sedemikian sehingga para siswa memperoleh ketrampilan dalam beberapa bidang (penulisan. musik. sesuai dengan topik Anda dalam hal ini bisa dimuai dengan pengenalan konsep ―kebudayaan‖. Aktivitas terakhir mungkin menugaskan para siswa untuk merekonstruksi cerita bagaimana ketika membayangkan kunjungan mereka ke tempat-tempat teman mereka yang ada di daerah-daerah luar Jawa itu. gagasan-gagasan. Para siswa dapat menyusun kembali bagian-bagian dari suatu cerita bahkan materi video digitalisasi. Ensikopedia Budaya Bangsa Indonesia (2001) karya Zulyani Hidayah. . musik. dan socifact (aktivitas-aktivitas sosial keagamaan. komunikasi. Anda sebagai guru di sini dapat mendekati konsep-konsep itu dengan "bercerita" melalui aktivitas temuan-temuan konkrit.

Dengan demikian kedudukan dan peranan demonstarsi. Jika terjadi demikian. Para siswa juga harus mempunyai suatu kesempatan untuk mengelaborasi merinci dan menjelaskan. Tantangan gagasan dan pencarian elaborasi yang tepat untuk ditangkap siswa. siswa tidak hanya dituntut dalam pengembangan fluency-nya saja. perasaan Anda merasa keterterlibatannya itu agak percuma karena siswa tidak begitu cepat tanggap. adalah suatu awal yang baik untuk dapat memahami pengembangan konsep berikutnya. Maksudnya adalah bahwa sering para siswa dalam kelas yang secara tradisional mereka tidak bisa menduga serta menghubungkan apa yang guru maksudkan untuk jawaban yang benar dan cepat. sanggahan. Kadang-kadang. ―mengapa‖?. para siswa akan menemukan persiapan suatu naskah film atau suatu ringkasan tentang keaneka ragaman suku bangsa dan seni-budaya . melainkan juga harus terhindar dari situasi dan kondisi yang dapat menimbulkan verbalisme. ataupun jawaban yang diajukan. Sesuaikan pembelajaran dengan perkiraan yang menuju pada pengembangan siswa. mereka harus betul-betul "masuk" dan ‖sibuk‖ ikut mengkaji tugas-tugas dalam belajar sebagai konstruktivis lingkungan melalui petanyaan-peranyaan. Gunakan jawaban siswa itu untuk mengarah kepada adanya evidensi-evidensi yang kuat sehingga dapa mengokohkan validitas jawaban siswa tersebut. Atau apa yang siswa pikirkan dan yang dikemukakan mereka itu bukanlah hal yang penting untuk dipahami secara utuh. Memperkenalkan topik kajian dengan pengembangan yang tepat atau sesuai. Kebanyakan di sekolah menengah. hal ini adalah anggapan yang keliru. sering mengancam banyak siswa. karena itu jika siswa memulai dengan konsep yang tidak/kurang jelas maka dapat dilacak dengan pertanyaanpertanyaan terbuka seperti.6 Prinsip 3: Carikan dan hargai poin-poin pandangan siswa sebagai jendela untuk memberikan tanggapan mereka. dan ―bagaimana‖?. Prinsip 4. Sebab dalam belajar konstruktivisme pengetahuan menuntut tidak hanya waktu untuk mencerminkan atau menguaraikan tetapi juga untuk waktu praktik menjelaskan. Agar siswa tidak berada di luar topik dari diskusi kelas yang diadakan.

guru selalu ada bersama siswa. Begitu juga ketika Anda memberikan bantuan pada seseorang atau beberapa siswa. melainkan suatu assessment di suatu konteks yang penuh . tidak diwarnai oleh preseden penilaian sebelumnya. kesenian. Taylor seperti yang dituliskan dalam buku Primitive Culture Dia dengan mengelompokkan: ilmu pengetahuan. Fokuskan dalam penilaian itu harus benar-benar sedang menilai apa yang benarbenar sedang terjadi saat penilaian berlangsung. socifact). dan menilai aktivitas siswa selama belajar pendekatan konstruktivisme. maupun marah. Beberapa siswa mungkin ada yang kesulitan mengkategorikan unsur-unsur kebudayaan dari ketiga unsur tersebut (artIfact. sedih. dan ada pula yang mengikuti pola penggolongan elemen kebudayaan yang mengikuti pola E. untuk mengamati. Orientasi kejadian ini jangan sekali-kali menilai itu dalam kebiasaan skor yang diperoleh seseorang dari waktu ke waktu.7 Indonesia. bukan marah mengekspresikan kekesalan. dalam konteks pembelajaran. merasakan. Ekspresi Anda bisa bervariasi. Sebagai contoh. seorang guru sosiologi-antropologi di MA/SMA yang membahas topik tentang Perlunya Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia" ia bersiap-siap menghadapi para siswanya untuk mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan ‖kebudayaan‖ dan aspekaspeknya dari berbagai aktivitas (nonton film. dan pengkajian gambar-gambar serta foto. Prinsip 5. adat istiadat. Dalam diskusi kelas. tanya jawab. Namun perlu diingat marahnya seorang guru dalam kerangka sedang mendidik. Di sini-lah perlunaya authentic assessment yakni suatu penilaian yang betulbetul menilai apa yang terjadi sesungguhnya nyata secara alami. atau agar mendapat simpatik dari seorang siswi yang cantik. periang. teknologi. Anda harus memonitor proses dan jalannya pengembangan persepsi mereka dalam belajar. bukan sedang menyintai seseorang. mentifact. mata pencaharian. Ketika para siswa terlibat dalam pembahasan topik. penyimakan informasi/laporan. kebiasaan. dan lain-lain. bahkan sampai darmawisata). membaca. bantuan yang Anda lakukan benar-benar dalam kerangka mendidik. namun sesekali bisa pesimis. hukum. kadang-kadang optimis.B. Nilai hasil belajar siswa dalam konteks pembelajaran.

Oleh karena itu khasanah teori konstruktivisme betul-betul sangat beragam. 1995: 483) secara teoretis memiliki karakteristik yang umum menurut Ernest (1995: 485) adalah sebagai berikut: : 1. misalnya: Sekarang ini bangsa Indonesia sudah begitu maju dalam seni budaya. tidak hanya pengetahuan subjektif siswa. posisinya adalah semua varian karakteristik tentang konstruktivisme adalah radikal. mathematik. Apapun yang bernuansa seni-budaya global. Pendekatan secara metodologis diperlukan untuk dapat menjadi lebih berhati-hati dan reflektif sebab tidak ada "cara singkat" untuk mencapai kebenaran atau mendekati kebenaran itu. Derry dalam karyanya Constructivism in education (1996) ia istilahkan sebagai "etnosentrisme‖ dalam berbagai konstruktivis". Karaktersitik dalam Pembelajaran Pendekatan Konstruktivisme (Topik” “Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia") Prinsip-prinsip tersebut pada dasarnya dapat diterapkan pada semua jenjang dan langkah-langkah belajar. Pengetahuan secara keseluruhan adalah diproblematisasikan. 2. toleran terhadap keberagaman budaya Indonesia yang kita miliki. seperti biasanya Anda bekerja dengan gagasan untuk konstruktivisme yang begitu luas. Anda dapat saja mengembangkan versi pribadi yang sedikit berbeda bahkan mungkin menyederhanakan dari prinsip-prinsip di berikut ini. simpati. Namun demikian. . (“Benarkah sekarang ini sikap menghargai budaya sendiri dan toleransi serta simpati terhadap keberagaman budaya Indonesia itu menunjukkan pada titik yang rendah? Ataukah memang sebagai warga global kita tidak diperlukan lagi rasa menghargai. dan logika. mencakup pengetahuan secara budaya. dan sebagainya”) 2. Dalam hal yang serupa. (Anda bisa menyajikan topik ini dengan berbagai pendekatan seni-budaya.8 arti ketika berhubungan dengan permasalahan dan perhatian asli yang dihadapi oleh para siswa. Pertimbangan yang penting bagaimanapun berhubungan dengan kebutuhan sebagai Ernst lihat "untuk mengakomodasi komplementaritas antara konstruksi individu dan interaksi sosial" (Ernest. Ernest dalam Constructivism in education (1995: 483) mencatat bahwa terdapat beberapa karaktersitik konstruktivisme. dan kita cukup dengan mengembangkan budaya global?.

dan konsepsi-konsepsi pengetahuan. dan teori-teori tertentu tentang mata pelajaran. dan berbagi makna. 5. negosiasi. Oleh karena itu sesungguhnyalah dalam kajian ini bisa terjadi bahwa sebenarnya diri Anda yang sedang mengkaji “Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia" dan Anda hanya sedikit mungkin tidak memperoleh pengetahuan baru tentang kajian tersebut. Suatu kesadaran konstruksi pengetahuan sosial menyarankan suatu penekanan pedagogis atas diskusi. (Anda bisa mengelaborasi dan mengaitkan teori-teori difusi Smith & Perry.9 musik rock. yang berhubungan dengan pengembangan budaya lokal. tetapi kita tidak pernah dapat mengambil apapun kenyataan ini ketika ditetapkan. kebudayaan lokal itu berbeda bahkan mungkin bertentangan dengan kebudayaan global. guru bukan hanya dengan mata pelajaran dan ketrampilan diagnostik. pop. keyakinan-keyakinan. dan sebagainya berkembang di kalangan kaula muda kita. asimilasi Yinger. sebab dengan pembentukan kelompok tidak sekedar meningkatkan social skills siswa. (Anda bisa membentuk suatu atau berapa kelompok kerja siswa. yang lainnya mempunyai kenyataan yang tidak terikat (independent) pada kita. blues. dan sebagainya?) Walaupun kita secara tentatif dapat mengenali pengetahuan dari yang lain dengan menginterpretasikan tindakan dan bahasa mereka melalui konsepsi kita sendiri yang dibangun. Namun di sini yang diperlukan atas dedikasi Anda adalah keikhlasan pengorbanan Anda). enkulturasi Erik Fromm. teori imitasi Gabriel Tarde. kepercayaankepercayaan. kebudayaan lokal itu sebagai mmanifestasi kepercayaan dan tradisi-tradisi kelokakan. mengajar. kebudayaan itu sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup. dan sebagainya) Fokus perhatian dengan guru dan dalam pendidikan. tetapi kognisikognisi siswa. rap. kepercayaan. kebudayaan itu berkisar pada seni tradisional. Tentu saja. kebudayaan itu juga sebagai ekpresi dan mind set. tetapi dengan kepercayaan. kerja sama (kolaborasi). rambut. 4. maupun teori-teori belajar sosial Bandura. clasic. konsepsi-konsepsi. tetapi 3. (Dalam hal ini Anda tidak boleh berasumsi bahwa pengetahuan siswa itu identik dengan pengetahuan Anda. hal itu adalah realitas dari yang lain bersamaan dengan kenyataan kita sendiri yang bekerja keras untuk memahaminya. hiburan. mode pakaian. (Kebudayaan itu sebagai warisan generasi sebelumnya. akulturasi Ralph Linton. . 6. Benarkah ini semua menggambarkan dinamika majunya bangsa Indonesia dalam blantika musik maupun kebudayaan lainnya? Fokus perhatian bukan hanya kognisi-kognisi siswa. dan belajar.

kurang percaya diri dengan seni dan budaya sendiri itu terjadi karena kita kurang percaya pada kemampuan diri sendiri untuk ”mencipta”. Kalaupun . 2. penyempurnaan pandangan dari komunitas yang heterogen). memberikan berbagai penyajian atau perspektif pada isi. Tujuan dan sasaran pembelajaran harus dirundingkan dan tidak memaksakan. malu kalau memainkan kecapi Cianjuran dan tidak bisa memainkan piano. dan sebagainya. Pusatkan pada pendekatan realistis untuk memecahkan permasalahan dunia nyata. sebab kemajuan seni budaya Indonesia tidak akan pernah maju jika tidak dikembangkan dan dimajukan oleh bangsa Indonesia sendiri). dan lain-lain).10 juga memerlukan suatu konfirmasi konsep. rock. rap. dan jangan menampakkan kemauan Anda secara eksplisit. memetik gitar. Coba lihat bangsa Jepang walaupun mereka sudah maju dalam iptek-nya. malu kalau hanya bisa tari seudati tidak bisa breakdance. ia bangga dengan pakaian kimono. (Anda harus selalu siap untuk menolong /membantu siswa dalam memecahkan berbagai persoalan yang diajukan siswa sekitar “Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia") 4. Ciptakan lingkungan dunia nyata yang mempekerjakan konteks bahwa apa yang dipelajari itu itu relevan. (Anda harus mampu menguhubungkan hal-hal yang kelihatannya tidak relevan menjadi relevan bagi siswa. Anda juga dituntut suatu bentuk penyajian yang penuh bervariasi dalam berbagai perspektif isi secara inter/multidisipliner).. (Dalam penyusunan tujuan pembelajaran. (Banyak orang dan para siswa merasa rendah diri jika hanya bisa menyanyikan lagulagu lokal-tradisional tidak bisa menyanyikan lagu-lagu pop. Tekankan saling berhubungan konseptualnya. 5. dan sebagainya. Dari aplikasi ini. dan menabuh drum. Selanjutnya Jonassen (1991: 11-12) mencatat bahwa banyak pendidik dan ahli psikologi kognitif sudah menerapkan konstruktivisme untuk mengembangkan pelajaran lingkungan. 3. mereka bangga dengan seni bela diri yudo maupun karate-nya. Instruktur adalah seorang pelatih dan penganalisis strategi yang digunakan untuk memecahkan permasalahan ini. ia bangga dengan tradisi upacara minum teh-nya. ia telah membatasi sejumlah prinsip-prinsip disain konstruktivisme sebagai berikut: 1. Anda harus memperlihatkan sikap demokrasi Anda. Kita juga harus percaya diri dan bangga dengan seni-budaya bangsa sendiri yang kaya ini. maupun blues. sebagai ”kreator”. (Rasa malu.

hidup serba mahal. rekaman video. susahnya mencari pekerjaan. dan seterusnya). Apa kriterianya jika ingin nilai A. mal-mal dan pasar swalayan makin mendesak pasar tradisional. gambar-gambar. air. tanggapan. Hadirkan kompleksitas yang dialami dunia nyata. sehingga siswa dapat melakukan evaluasi diri. film. kurang memiliki idealisme yang tinggi. (Berikan suatu bentuk evaluasi yang transparan ataupun terbuka bagi siswa. Apa kriterianya jika ingin nilai B. 8. memiliki solidaritas sosial yang rendah. Contoh: Bukankah pengembangan budaya lokal/daerah itu penting? Salahkah jika Anda tidak peduli sama sekali terhadap budaya lokal/daerah lain yang ada di Indonesia? Dan sebagainya). (Pendapat-pendapat siswa. yakni dengan menggali pertanyaanpertanyaan tertutup maupun retorik. kriminalitas meningkat. (Menyediakan buku-buku sumber. A. lebih mengejar prestasi individual. dan sebagainya). Menyediakan alat-alat dan lingkungan yang membantu siswa menginterpretasikan berbagai perspektif tentang dunia. 7. dan Anda harus memberikan kriteria yang jelas dan tegas untuk memperoleh nilai. D. Sediakan berbagai penyajian kenyataan. Evaluasi harus melayani sebagai suatu alat analysis-diri. maupun harapan-harapan siswa harus Anda perhatikan. Belajar harus secara internal dikontrol dan dimediasi oleh siswa.11 sesungguhnya Anda memiliki rumusan tujuan dan sasaran. dan E. (Ketegangan dan keresahan hidup meningkat. walaupun sebenarnya Andalah sebagai pengendali sesungguhnya dalam kegiatan pembelajaran tersebut). aktivitas. hal itu bisa tidak diperlihatkan. lebih mementingkan kepuasan dan kesenangan pribadi. (Anak-anak muda sekarang ini banyak yang mengabaikan pentingnya pengembangan kebudayaan sendiri maupun budaya lokal laiinnya sebagai bangsa. 2. 6. B. polusi udara. dan sebagainya). C. kebudayaan lokal makin terpinggirkan oleh kebudayaan populer. nayanyian dan lagulagu daerah makin terdesak oleh nyanyian populer. . yang berhubungan dengan pengembangan budaya daerah Indonesia). tape recorder.). Jonassen (1994: 35) meringkas apa yang ia sebut sebagai "implikasi konstruktivisme untuk diasin pembelajaran". Prinsip yang berikut menggambarkan bagaimana konstruksi pengetahuan dapat dilakukan: 1. Dalam penyusunan alat evaluasi ini. tanah dan kebisingan meningkat. tidak mempersoalkan keutuhan integrasi bangsa.

Pusatkan pada konstruksi pengetahuan. Dukung konstruksi kolaboratif pengetahuan yang melalui negosiasi sosial. apa yang bisa mungkin terjadi jika anak-anak muda kita begitu gengsi jika mngenalkan seni tradional / daerah ? Kemungkinan apa yang bisa terjadi jika sebagiuan besar warganya tidak menyukai budayanya sendiri ?). Tugas kamu adalah. dan sebagainya. 5. kita dapat . Memungkinkan konteks dan isi bergantung kepada konstruksi pengetahuan. Coba kamu buat suatu laporan/makalah bagaimana “nasib” perkembangan bahasa daerah Sunda di kalangan anak muda. 4. Coba kamu bandingkan bagaimana upaya pengembangan seni tradisional Jepang maupun Cina dengan di Indonesia berdasarkan studi literatur maupun tayangan film. C dan D). dan mengapa mereka bertahan memakai pakaian itu hingga sekarang?) Wilson dan Cole (1991: 59-61) memberikan suatu deskripsi model pengajaran kognitif yang "berwujud" konsep-konsep konstruktivisme. apa karaktersitik penampilan etnis Sikh India laki-laki. 6.12 3. Coba kamu analisis bagaiman perkembangan seni Lenong Betawi sekarang ini. dan bukannya meringkas instruksi). (Dengan memberi tugas atau pertanyaan sebagai berikut: Coba kamu kerja kelompok (Kelompok A. (Bagaimana budaya tradisional/lokal bisa terdesak oleg budaya global? Mengapa anak-anak muda sekarang lebih suka memakai “pakaian gaul” daripada pakaian daerah? Mengapa anak-anak muda sekarang banyak yang berperilaku cuek ataupun kurang memiliki kepekaan sosial? Dan sebagainya). simak baik-baik secara teliti. (Bagaimana setelah siswa melihat beberapa keprihatinan mendalam tentang pengembangan budaya bangsa? Apakah ini diperlukan para siswa mengadakan studi banding dengan negara-maju yang memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan budaya lokal ataupun tradisional?). Sajikan tugas autentik (kontekstualisasikan. B. Dari uraian ini. 8. Buat suatu kecenderungan-kecenderungan berdasarkan analisismu tentang perkembangan demonstrasi yang anarkis. mengapa anak-anak muda banyak yang menyukai rambutnya disemir coklat atau merah daripada disemir hitam? Dan sebagainya). dan bukan atas reproduksi. seni daerah apa yang akan muncul jika di daerahmu sudah tidak adala lagi bahasa daerah yang berkembang di daerah itu? Mengapa anak muda lebih suka menggunakan bahasa Betawi daripada bahasa Indonesia maupun daerah? Coba kamu teliti. Lebih memberikan tentang dunia nyata yang didasarkan pada belajar kasus lingkungan. (Coba kaji. 7. (Coba renungkan baik-baik. daripada menentukan urutan pembelajaran sebelumnya. Bantu praktik reflektif.

metafora. Berikan untuk kontrol pada siswa. kemudian tanaman itu tidak pernah disiram dan dipupuk serta dirawat. (Mungkinkah cara penyajian saya kurang sistematis dan . Coba Anda diagnostik pengajaran untuk memperbaiki kesalahan siswa dan adanya kesalah-pahaman. Berikan untuk yang autentik lawan konteks akademis untuk belajar. “Kalau kebudayaan itu dapat diibaratkan suatu tanaman. 2. Kepekaan dan penuh perhatian terhadap konstruksi siswa sebelumnya. terlalu tinggi sehingga mereka tidak memahami maknanya? Ataukah style saya terlalu ke kanak-kanakan sehingga membosankan bagi siswa? Atau juga cara berpikir saya yang kurang sistematis dan melompat-lompat? ) 3.13 mengidentifikasikan beberapa disain konsep yang berpusat pada pembelajaran konstruktivisme. kemukakan alasan-alasannya !) 2. contoh: Coba kamu analisis daerahmu. apa yang dapat kamu bayangkan pada tanaman itu?). sebagai berikut: 1. (Anda boleh menanyakan pada siswa. termasuk masyarakat yang memiliki tingkat kepedulian tinggi tidak terhadap budaya daerahnya sendiri.diri oleh siswa. Lekatkan belajar dalam sesuatu yang autentik dan kaya dengan pemecahan masalah lingkungan. Gunakan mekanisme suatu kesalahan sebagai pemberian feedback kepada siswa. secara umum: 1. dan apakah mereka peduli juga dengan budaya daeah lain? Mengapa demikian. (Apa yang akan kamu lakukan jika suatu masyarakat sudah sangat tidak peduli terhadap perkembangan budayanya sendiri? Coba berikan strategi penanggulangannya secara rinci dari hal yang sederhana sampai kepada hal yang kompleks atau rumit!) 4. (Betulkah dalam suatu pengembangan budaya lokal harus sama sekali mengabaikan unsur-unsur kemanfaatnnya dan yang penting lestari? Jadi apa pertimbangan perlu dikembangkan tidaknya itu harus berdasarkan apa saja ?) Ernest (1995: 485) dalam deskripsinya banyak sekolah yang menekankan pemikiran konstruktivisme menyarankan implikasi-imlpikasi konstruktivisme yang berikut. (Bertanyalah pada diri Anda sendiri:”Apakah konsep-konsep. Perhatikan untuk metacognition dan strategi pengaturan. (Anda boleh menanyakan kepada siswa. (Jelaskan mengapa anak muda sekarang tidak menyukai seni tradisional? Apakah ada hubungannya dengan harga diri maupun rendah diri?) 3.

Dalam hal ini sebaiknya Anda tetap menyadari bahwa tujuan pembelajaran adalah hal utama kalau bukan yang pertama. kepercayaan.. orang-orang Minang memang pandai membawa sajian makanan yang disusun dalam puluhan piring makan). Kesadaran pentingnya konteks sosial. dengan: “Ketika kamu melihat budaya Tari Lilin maupun Tari Piring dari Sumatera Barat. etika. kesenian. Dorong kemampuan diri dan nyatakan dalam proses belajar.. mata pencaharian. adat-istiadat... Caranya jangan sesekali membunuh tujuan siswa untuk tujuan pembelajaran. (Anda bisa melihat keasyikan siswa belajar itu belum tentu berorientasi pada tujuan pembelajaran. (Maksudnya jika Anda sudah mengetahui definisi ”kebudayaan” maka tinggal dibedakan saja yang mirip-mirip kebudayaan itu pada hakikatnya seruapa dengan ”peradaban”)........ Lekatkan belajar yang realistis dan relevan dengan konteks. (Anda bisa mengelaborasi dari konsep utama ”kebudayaan” ke konsep-konsep selanjutnya. 6.. Gunakan berbagai representasi konsep-konsep kebudayaan. Sebaliknya tujuan siswa mesti bisa dijadikan wahana untuk mencapai tujuan pembelajaran). jawabanmu karena tidak mungkin orang luar Betawi tanpa alasan yang jelas tiba-tiba ia berambisi menyukai Tari Topeng Betawi? Jadi mestinya orang Betawi juga mengembangkan dan menyukai budayanya sendiri !”). 11) menguraikan tujuh tujuan untuk disain belajar . 5. seperti: perkakas. bahasa. seperti perbedaan tipis antara sanak saudara atau ”kebudayaan” dengan ”peradaban” (dan suatu usaha untuk memanfaatkan yang terdahulu untuk yang belakangan). kebiasaan. dan sebagainya).).14 melompat-lompat sehingga membingungkan bagai para siswa ? Ataukah dalam membuat generalisasi tidak nampak unsur hubungan konsep-konsepnya yang saya rangkai dan kurang tajam?). (”Kalau begitu mengapa orang Betawi juga mestinya menghargai Lenong Betawi maupun Tari Topeng Betawi? Betul. Berikan pengalaman dengan pengetahuan proses konstruksi (Anda bisa mengajukan pertanyaan.. norma. teknologi. upacara... Honebein (1996: konstruktivisme lingkungan: 1. 4. 3. adakah hubungannya dengan keterampilan tertentu orang-orang Minang dalam mengelola Rumah Makan mereka ?) 2. Kesadaran adalah penting dalam mencapai tujuan belajar siswa.. dan bedakan antara tujuan siswa dan tujuan pembelajaran. Berikan pengalaman dan penghargaan untk berbagai perspektif. 4. (. (”Bagus jawaban kamu Ani.

kemudian disate. keterampilan yang tidak dapat siswa lakukan. Baik kalau begitu sebenarnya tidak terlalu sulit menggali kembali pengalaman-pengalaman di Gunung Kawi. Lekatkan belajar pengalaman sosial. Dan bila itu sudah dilakukan. janganjangan awal terkenalnya sate Madura itu adalah korban dari karapan sapi yang kalah. 6. 7. lingkungan dunia nyata. Tangga-tangga untuk cantolan itu membiarkan para siswa melaksanakan tugas yang akan secara normal menjadi sedikit di luar kemampuan mereka. maka Anda tidak lagi menyajikan dengan cerita namun dengan mendemonstrasikan beberapa budaya daerah atau seni tari maupun lagu-lagu daerah sesuai dengan kelompok siswa. jika tanpa bantuan dan bimbingan dari guru. keterampilan mungkin dapat siswa lakukan. Suatu konsep penting untuk konstruktivis sosial adalah sebagai perancah (tangga).15 5. aktivitas autentik. bisa dilanjutkan dengan penugasan masing-masing kelompok untuk membuat dan mempresentasikan laporan kelompok yang ditanggapi kelompok lainnya). sampai di Kuta). bisa begitu kan? Mungkin tidak ?”). ketrampilan pemecahan masalah siswa jatuh masuk ke tiga kategori: 1. Secara ringkas. harus ditekankan dan harus dihubungkan dengan pembelajajaran konstruktivisme. Berbagai perspektif. Dukungan guru yang sesuai dapat memberikan para siswa untuk berfungsi belajar secara zigzag dalam pengembangan individu mereka. Dorong kesadaran diri dalam proses konstruksi pengetahuan. proses memandu siswa dari apa yang segera dikenal ke apa yang akan dikenal. 3. keterampilan bahwa siswa dapat lakukan dengan bantuan. jangan segan-segan Anda membantu siswa: ”Ayo apa yang kamu bisa bayangkan dari Lomba Karapan Sapi Madura. Kampung Ubud. ketika siswa mulai menekuni masing-masing kesibukan kelompok. Istana Presiden. Bagian yang berikut memberikan suatu sintesis dan ringkasan . Dorong penggunaan berbagai gaya penyajian (Kalau saja Anda memulai dengan cerita. (Jika sebagian siswa ada yang masih belum paham betul dalam mengkonstruksi pengetahuan baru. (“Bukankah tahun lalu kita pernah Dharmawisata ke Bali kelas ini. 2. Tahapantahapan kemudian adalah suatu karakteristik konstruktivisme belajar dan mengajar yang perlu dipahami dengan mengaitkan aspek-aspek pengetahuan yang berhubungan itu. Menurut Vygotsky (1978). ada banyak persamaan antara perspektif dari peneliti yang berbeda-beda itu dalam tinjauan ulang literatur tersebut. yang mana adalah suatu prosedur.

(Anda harus memberikan layanan pembelajaran yang betul-betul demokrasi serta menyediakan sumber-sumber yang memadai. (Anda bisa bertanya pada siswa: “Ini peralatan dan buku-buku sumber. seolah-olah kebudayaan itu hanya kesenian. Peluang. karena kamu terlalu menganggap sempit arti kebudayaan. dengan mengajukan: pertanyaan-pertanyaan yang tertutup maupun retorik yang menuntut jawaban ya atau tidak. Para guru melayani dan berperan sebagai pemandu. pelatih.refleksi dan –mengembangkan kesadaran siswa. (Anda bisa menanyakan pada siswa. Namun di bawah ini tidaklah dipresentasikan dalam tatanan yang hirarkis urutanurutannya. tutor dan fasilitator. dan aktivitas sosial (socifact) ? 3. aktivitas jiwa maupun mental (mentifact). pemonitor. alat-alat. dan waktu yang memadai untuk berbagai aktivitas siswa belajar). Siswa memainkan suatu peran sentral dalam memediasi dan mengendalikan belajar. dan mengapa pula kebudayaan itu hasil belajar? Adakah hubungan kebudayaan dengan kepribadian?). adatistiadat. dan lingkungan disajikan untuk mendorong metakognisi. “bagaimana ada kesulitan”? “Di mana kebingunganmu sehingga kelompokmu menghadapi jalan buntu”? “Nah itu persoalannya. benda-benda peninggalan serta kebiasaan-kebiasaan dan warisan generasi terdahulu saja”) 4.16 karakteristik pembeljaran konstruktivisme seperti yang dipresentasikan di atas secara runut. analisis-diri . dan perlu kesepakatan mau berapa lama kalian belajar tentang kebudayaan-kebudayaan daerah di Indonesia?) . Tujuan dan sasaran hasil diperoleh oleh siswa atau dalam negosiasinya dengan guru merupakan satu sistem. Contoh: Dalam pembahasan berbagai kebudayaan daerah di Indonesia. harus mendorong siswa belajar. setujukah jika tujuan kita dalam pembahasan tersebut untuk mengidentifikasikan beberapa kebudayaan daerah di Indonesia yang perlu kita ketahui lengkap dengan etnisnya? Setujukan jika dalam pembahasan kita nanti mengklasifikasikan mana yang tergolong budaya peninggalan (artifact). 5. (Anda harus bernegosiasi dengan siswa dalam merumuskan tujuan merupakan suatu sistem dalam konstruktivisme. (Mengapa kebudayaan itu begitu luas? Apa unsur-unsur kebudayaan itu? Apa karakteristik kebudayaan itu milik bersama. alat-alat. serta video film. bagaimana rencana kalian. 2. sudah kami sediakan. Berbagai perspektif dan penyajian konsep-konsep dan isi yang dipresentasikan. maupun computer-internet. setuju atau tidak setuju. 1.

ketrampilan. mendeskripsikan bentuk karaktersitik peninggalan maupun tarian. Situasi belajar lingkungan. Kelompok 3 tadi tugasnya apa coba (maksudnya mengidentifikasi kebudayaan daerah di P. 13. (Anda bisa bertanya pada Siswa:”Sekarang kamu Budi sudah paham betulkan bedanya Tari Syaman dengan Tari Lenso baik asal daerahnya maupun ciri-ciri pokok kedua tarian itu?).Kalimantan. (Siswa Anda lebih banyak dianjurkan meneliti deskripsi (gambaran) peninggalan yang dimaksud dan karakteristik-karakteristiknya serta manfaat penerapan budaya itu daripada siswa banyak dianjurkan agar siswa memiliki produk budaya daerah itu). wayang kulit. adalah hal yang ditekankan. 12. itu sedikit kurang tepat coba sekali lagi. kepercayaan dan sikap dipertimbangkan dalam proses konstruksi pengetahuan. 9. Explorasi adalah suatu pendekatan yang mesti disukai dalam rangka mendorong para siswa untuk mencari pengetahuan secara . dan seterusnya. 11. autentik dan menghadirkan kompleksitas yang alami dari 'dunia nyata'. (Coba kita ingat-ingat lagi. beri kesempatan untuk suatu pemahaman yang lebih tepat dan mendalam dalam mengkonstruksi pengetahuan siswa berikutnya.17 6. Sumber data utama digunakan dalam rangka memastikan autentisitas dan kompleksitas dunia nyata. makanan. lagu-lagu. ini kelompok satu tugasnya membahas apa tadi (maksudnya mengidentifikasi budaya daerah di P. wayang orang. Jawa). Konstruksi di sini diambil dalam konteks individu dan melalui negosiasi sosial. tiga-tiganya memiliki perbedaan dan persamaan. Konstruksi pengetahuan siswa sebelumnya. (Apakah jawaban Ani itu betul Andi tentang persamaan Panjang Jimat dan Sekaten? Lalu bagaimana dengan pengalaman Lukman yang pernah langsung menyaksikan upacara Panjang Jimat di Cirebon itu?) 10. (“Awas hati-hati kamu Budi. Nah… gitu sekarang jawabanmu jauh lebih tepat dan rinci. isi dan tugas itu harus relevan. realistis. Konstruksi pengetahuan dan bukan penekanan reproduksi. Pemecahan masalah. keterampilan berpikir dalam tatanan-tinggi dan pemahaman betul-betul ditekankan (Wayang golek. saya senang melihat kemajuanmu belajar”). (Anda bisa menyuruh siswa mencari foto-foto kebudayaan daerah sesuai dengan tugas yang diberikan. kolaborasi dan pengalaman. 7. Jika terjadi kesalahan. 8. apa menunjukkan persamaan tiga bentuk pertunjukan wayang itu dalam kaitannya dengan ajaran filsafatnya?). Ayo ini kelompok dua tadi tugasnya apa (maksudnya mengidentifikasi kebudayaan daerah di P. dan sebagainya sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya). Coba jika ditelusuri ceritanya. Sumatra).

Adapun . C. Nilai adalah autentik berkaitan dengan pengajaran. 14. (Anda bisa menghimbau kepada siswa: “Silakan kamu pelajari sebanyak mungkin dari buku-buku sumber maupun internet serta sumber-sumber lainnya yang sudah disediakan. (Wah. Tiga Model-model Konstruktivisme (Topik: “Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia") I. logis. ataupun rasa simpati anda sematamata). ketrampilan dan didapatnya pengetahuan yang mendalam. karya tulismu bagus. (Anda boleh dengan menawarkan bantuan kepada siswa. (Anda harus menilai dalam proses belajar dan hasil pekerjaan siswa.. bukan sebagai kebiasaan siswa. benarkah yang Siti katakan bahwa kebudayaan itu juga merupakan “warisan”? Mengapa kebudayaan itu dinamais?). Model Siklus Belajar Merupakan suatu disain tiga-langkah pembelajaran yang digunakan sebagai suatu kerangka umum untuk banyak macam aktivitas konstruktivisme pembelajaran. (Bagaimana itu budaya imlek etnis Tionghoa jika ditinjau dari sisi musim.…kamu betul-betul hebat Adi . 17. Itulah sebabnya mereka bersuka cita karena terbebas dari musim dingin). Pencapaian tahapan tujuan harus dimudahkan untuk membantu para siswa melaksanakan sedikit di luar batas kemampuan mereka. 15. umpamanya: “Jika anda masih bingung. karena mereka bersukacita dengan tiba saatnya pergantian dari musim hujan ke musim semi. baik saya ulangi lagi penjelasan saya bahwa antara kegembiraan dengan sering hujan pada hari imlek itu ada hubungannya. bahwa melalui belajar kolaboratif/kooperatif dapat mempertemukan pendapat yang beragam. Kolaboratif dan belajar kooperatif diutamakan dalam rangka menyingkapkan siswa ke sudut pandang alternatif. 16. sesuai dengan tujuan belajar yang telah kamu tetapkan !”). contoh: Coba Ani.18 independen dan untuk mengatur pengejaran tujuan mereka. …jika ada kesempatan ataupun tawaran. adakah hubungannya antara kegembiraan dengan sering hujan? Mengapa demikian?). Siswa diberikan kesempatan untuk belajar secara efektif di mana ada suatu peningkatan kompleksitas tugas. Kompleksitas pengetahuan dicerminkan dalam suatu penekanan atas saling berhubungan antar konsep-konsep dan belajar secara interdisipliner. 18. kamu harus ikut lomba karya tulis ilmiah remaja yah?). dan sistematis. (Anda harus meraya yakin.

Anda boleh menggunakan siklus berikutnya di mana dalam hal ini mengulangi tahapan-tahapan yang memadai dalam satu pelajaran atau unit tertentu. "aplikasi konsep" para siswa bekerja pada permasalahan baru yang mempertimbangkan kembali konsep belajar yang dikaji dalam tahap satu dan dua. serta bagaimana mendeonstrasikannya? Apa keunikan “tari lenso”. “sintren”. “seudati”. (c) Pada langkah yang ketiga. “cianjuran”. Dan sebagainya ). dan bagaiman memainkannya? Apa itu seni “gending . dan bagaimana pelaksanaan serta urutan-urutannya? Apa itu tari “seudati” dan “sjaman”. guru mendorong para siswa untuk menghasilkan pertanyaan maupun hipotesis dari kegiatan dengan berbagai materi. Tidak ada “tari jaipong”. Apa yang akan terjadi jika budaya lokal itu kita biarkan apa adanya tanpa perhatian dari masyarakat dan pemerintah Indonesia? Bagaimanakah caranya untuk menghidupkan kembali budaya lokal Indonesia itu? Adakah hubungan signifikan antara perkembangan budaya lokal dengan kokohnya kepribadian bangsa? Dan sebagainya). “panjang jimat”. “sekaten”. “lenso”. “karapan sapi”. Bagaimana sebaiknya bentuk-bentuk penghargaan yang perlu diberikan pada budaya lokal itu?.19 Siklus Belajar tersebut sebenarnya secara historis merupakan model yang sudah lama dihargai sebagai proses belajar yang tertua (sejak zaman Sokrates) yang digunakan dalam ilmu pendidikan: (a) Proses ini mulai dengan tahap "diskaveri‖. “gending sriwijaya”jika tidak ada kecintaan masyarakat Indonesia untuk mengembangkan seni-budaya tersebut. serta bagaimana urutan-urutannya? Apa keunikan pertunjukan “karapan sapi”. “sjaman”. (b) Berikutnya. dan bagaimana memainkannaya? Memperingati peristiwa apa upacara “panjang jimat” itu. (Contohnya: Bagaimana caranya jika kita ingin menghidupkan kembali kebudayaan-kebudayaan lokal? Bentuk-bentuk penghargaan dan toleransi pengembangan “kebudayaan lokal” yang bagaimana yang mesti kita lakukan? Di mana jika kita ingin mempelajari tarian “jaipongan?” Untuk kegiatan-kegiatan apa seni “Degung” dan “Cianjuran” di tepat dipentaskan? Bagaimana itu upacara “sekaten” dilakukan tahapan-tahapannya? Harus menggunakan apa seni “lais” dan “sintren” dapat dapat didemonstrasikan. Di dalamnya. lais”. (Contohnya: Mestikah semua budaya lokal itu perlu dihargai sebagai aset bangsa Indonesia? Budaya daerah (lokal) yang bagaimana yang perlu dihargai oleh budaya lainnya di Indonesia?. Di sini guru memusatkan pertanyaan siswa tersebut dan membantu mereka menciptakan hipotesis dan disain eksperimen ataupun pembelajaran (Contohnya: Tidak ada kebudayaan yang bertahan jika tidak ada pendukungnya. guru memberikan pelajaran "pengenalan konsep".

membuat keputusan. menyebut nomor urut satu demi satu secara diacak. Dalam model ini. empat. kompak. Gagnon Jr. enam atau lebih. 3. atau menentukan tujuan. dalam kolaboratif berpikir tim dua orang. kelas secara keseluruhan. membuat kesimpulan. Anda bisa menugaskan kepada para siswa untuk memecahkan masalah: “Bagaimana ini bisa terjadi? Faktor-faktor apa yang menyebabkan ini semua? Dapat metaforakan (diibaratkan) sebagai apa Indonesia ini? Mengapa demikian? Bagaimana seharusnya masyarakat dan pemerintah berbuat?”). atau mencampur-adukan antara siswa yang cukup pandai dengan yang kurang pandai dalam tiap kelompok? Ini tergantung pada situasi yang anda disain dan material yang anda punyai atau tersedia. dan bagaimana Anda dapat memainkannya? Dan sebagainya) II. guru menerapkan suatu ukuran tahapan mereka dalam struktur pengajaran yang terdiri dari enam tahapan. Model konstruktivisme belajar Gagnon & Collay Sesuai dengan namanya model ini didisain dan dikembangkan oleh George W. Apa yang anda akan lakukan untuk membuat pengelompokan para siswa. dan penuh semangat). (Anda boleh menugaskan kepada siswa untuk membentuk kelompok: “Silakan kamu buat kelompok dengan jumlah masing-masing kelompok 5 atau 6 orang !” Selanjutnya tiap-tiap kelompok harus bekerja secara efektif. memilih berdasarkan daftar nama secara abjad alfabetis. menciptakan metafora. and Michelle Collay. menggambar.20 sriwijaya”. lima. dan proses apa yang anda akan gunakan untuk menggolongkan mereka. tiga. menjawab pertanyaan. Situasi: Situasi apa yang berlangsung untuk disusun bagi siswa untuk menjelaskan sesuatu? Berikan situasi ini suatu judul dan uraikan atau lukiskan suatu proses memecahkan permasalahan. individu. Pengelompokan.. Situasi ini harus meliputi apa yang anda harapkan untuk dilakukan para siswa dan bagaimana para siswa itu akan membuat makna diri mereka sendiri? (Contoh: Indonesia sedang mengalami krisis budayaannya sendiri. yakni: 1. di mana anak-anak muda khususnya enggan untuk mengembangkan budaya bangsa serta lebih suka mengembangkan “budaya global”. Jembatan: Ini adalah suatu awal aktivitas yang diharapkan untuk menentukan siswa terlebih dahulu tentang pengetahuan dan untuk membangun sebuah "jembatan" antara apa yang mereka telah diketahui dan apa yang mereka mungkin belajar dengan menjelaskan . 2.

atau membuat daftar. dan sebagainya. Anda harus memikirkan apa yang paling sesuai (Setelah para siswa membentuk kelompoknya masing-masing. dan untuk mendorong reflektif? Anda juga harus mengantisipasi pertanyaan dari para siswa dan frame pertanyaan lain yang tidak diduga agar mereka tetap terdorong untuk menjelaskan pemikiran mereka maupun untuk mendukung pendapat temannya. membangun suatu penyajian phisik dengan model. atau penyajian visual lain. permainan atau suatu game. Apa yang akan memandu pertanyaan yang Anda gunakan untuk memperkenalkan situasi itu. untuk menyediakan jembatan. untuk mememelihara pelajaran secara aktif berlangsung. 4. serta untuk melanjutkan pemikiran untuk diri mereka sendiri (Contohnya: Bagaimana kalian semua sudah siap? Coba simak adakah gerakan-gerakan dalam tarian itu yang berhubungan dengan etos kerja yang menunjukkan sifat-sifat dinamis. memerankan atau role playing. untuk menyusun pengelompokan. tabel. bisa berlangsung masing-masing unsur disain belajar. Kadang-kadang hal ini adalah baik untuk dilaksanakan sebelum para siswa dibentuk kelompoknya masing. Hal ini bisa mencakup suatu penulisan yang menguraikan suatu penelaahan dan melakukan suatu presentasi lisan. (Dalam hal ini bisa diambil contoh: Siswa mendemonstrasikan hasil kajian pendalaman tentang pemahaman budaya daerah dengan membuat laporan kerja kelompok yang dipresentasikan di kelas yang ditanggapi oleh kelompok lainnya). membuat suatu grafik. Pertanyaan. Selanjutnya para siswa ditugaskan untuk mengidentifikasi maing-masing tarian dan lagu-lagu daerah tersebut). energik. dan bekerja keras ? Pada tarian dan lagu-lagu tradisional apa itu didapat? Kemudian mana pula yang menunjukkan tarian dan lagu-lagu daerah yang memperlihatkan kehalusan dan kelembutan? Mungkinkah keduanya itu dipadukan dalam suatu bentuk tarian maupun lagu-lagu daerah tertentu? Coba jelaskan menurut pendapatmu bagaimana!). atau bisa juga setelah mereka dikelompokkan. sedangkan untuk anggota yang lain dapat melakukan perekaman dalam menjelaskan suatu adegan yang sedang dikaji. Hal ini mungkin melibatkan hal-hal seperti memberikan mereka suatu masalah sederhana untuk dipecahkan.21 situasi itu. untuk mengefektifkan pameran. foto. mereka ditugaskan untuk menonton Video tentang Pementasan Tari-tarian dan Lagu-lagu daerah selama 10 menit. atau tape audio untuk pajangan. 5. mempunyai suatu diskusi kelas yang utuh dan menantang. . dan membuat suatu tape video. Mempertunjukkan atau mendemonstrasikan: Hal ini melibatkan para siswa untuk membuat sesuatu untuk dipamerkan.

dan konsep yang akan para siswa ambil setelah ke luar dari pintu? Apa yang telah para siswa pelajari hari ini bahwa mereka tidak akan melupakan besok? Apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. kamu kemukakan kesan apa yang kamu dapatkan? Dan. maupun Lenso? Gerakan-gerakan apa yang mendorongmu menjadi sangat terpesona?”) . walaupun di sisi lain mereka bangga karena telah berusaha keras untuk memberikan penampilan yang terbaiknya ). apa yang telah mereka ingin ketahui. gambar-gambar seni daerah di Indonesia termasuk seni etnis pendatang tertentu yang perlu dipelajari”. Refleksi: Ini adalah refleksi siswa dari apa yang mereka pikirkan sekitar menjelaskan situasi sementara dan kemudian melihat pertunjukkan dari yang lainnya. Selanjutnya. materi-materi yang menyimpan konteks secara alami foto. dan apa yang telah mereka pelajari? (Contohnya: Setelah para siswa saling melaporkan keja kelompoknya masing-masing yang dipresentasikan di depan kelas. III. diperoleh disain model teknologi yang didukung lingkungan belajar pada Sekolah Dalton di New York. Konstruksi Informasi (Information Construction yang disebut ICON atau KI) pada hakikatnya berisi ada tujuh langkah-langkahnya: (1) Observasi: Para siswa melakukan observasi terutama atas sumbersumber. kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya. (2) Konstruksi Interpretasi: Para siswa menginterpretasikan pengamatan mereka dan memberikan penjelasan dan alasan mereka. ketrampilan. kesan dalam imajinasi mereka. Model Robert O. Seudati. mengapa demikian?). Mereka akan mencakup apa yang para siswa ingat dari proses berpikir mereka tentang perasaan dalam spirit mereka. maupun jenis-jenis permainan atau simulasi mereka tentang kebudayaan daerah (Anda menugaskan para siswa: “Coba kamu amati (observasi) foto-foto. kemudian para siswa merenungkan hasil kerja kelompoknya masingmasing. namun disain lain yang didukung lingkungan belajar pada Sekolah Dalton di New York. (“Mengapa kamu begitu tertarik pada tari Syaman. Mereka menyadari bahwa apa yang dilaporkannya itu ada hal-hal yang perlu disempurnakan. gambar.22 6. Black Sesuai dengan namanya model konstruktivisme ini didisain dan dikembangkan oleh Robert O. McClintock dan Yohanes B. rekaman video.Black dari Universitas Columbia. selanjutnya dengan membandingkan pada kelompok-kelompok lainnya. Sikap apa. McClintock dan Yohanaes B. dan bahasa dalam dialog internal mereka.

Ambon dan sebagainya. dari sekian banyak lagu-lagu daerah Jawa. nincak endog. dan aplikasi konsep. dan contextualisasi. Di bawah ini. . dan moral dari masing-masing cerita rakyat yang di Sumatera Barat.23 (3) Kontekstualisasi: Para siswa membangun konteks untuk penjelasan mereka. Petunjuk dan Tahapan-tahapan Rencana Pembelajaran Konstruktivisme Usahakan Anda hanya membuat sutu disain rencana pembelajaran dalam hal ini bisa menggunakan salah satu dari ke tiga disain model konstruktivisme yang kita uraikan. Sunda. Batak. (“Mampu tidak kamu menirukan gerakan-gerakan tari Bali yang lincah untuk dipadukan dengan Tari Burung Merak dari Sunda-Jawa Barat yang halus dan lembut ?”) (4) Belajar keahlian kognitif: Para guru membantu pengamatan penguasaan siswa. maupun Betawi. pengenalan konsep. menafsirkan. Anda dapat menggunakan kotak yang kosong untuk mengisi gagasan Anda untuk rencana pelajaran Anda. coba kemukakan bagaimana kemiripan dataupun persamaannya dengan upacara perkawinan adapt Jawa !”) D. coba diskusikan masing-masing kelompok untuk mengkategorikan lagu-lagu mana yang syairnya sentimental dan lagu-lagu mana yang syairnya ceria atau gembira”. interpretasi. (“Coba simak dan resapi baik-baik. Minang. (“Mengapa kamu begitu ambisi ingin mampu menyanyikan lagu-lagu keroncong? Benarkah kamu merasa siap untuk belajar meniti nada-nada tinggi serta cengkokannya yang meliuk-liuk?”). Anda akan menemukan satuan pertanyaan untuk mempertimbangkan ketika mengembangkan langkah masing-masing tentang rencana pelajaran Anda. budaya politik. Jawa Barat.) (6) Interpretasi Jamak: Para siswa memperoleh fleksibilitas kognitif dengan memiliki kemampuan mengunjukkan ke berbagai penafsiran dari para siswa lainnya dan dari contoh para ahli. saweran. (Contohnya: Para siswa dapat menjelaskan tinjauannya dari perspektif ekonomi. adu kendi. seserahan. (5) Kolaborasi: Para siswa bekerja sama dalam observasi. (“Setelah kamu cermati secara seksama tentang upacara perkawinan adat Sunda seperti. muka panto. dan kontekstualisasi.) (7) Manifestasi Jamak: Para siswa memperoleh transferabilitas dengan melihat berbagai penjelmaan penafsiran yang beragam.Disain Siklus Belajar. misalnya yakni memuat tentang penemuan konsep.

Hubungan apa yang dapat dillakukan dari penglihatan siswa ? (Kerja keras. Budaya Batak. Belajar tentang apa yang dapat Anda jadikan pangkal dalam menyususun pelajaran itu? (Perlunya rasa saling harga-menghargai. Budaya Sunda. masakan. perantau. tari lenso. . dari buku-buku teks. Ambon. pengacara. sate. dsb) Peluang Untuk Penemuan Terbuka (“Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia ") 5. toleransi. hukum Islam. Minang. Budaya Minang.24 1. Batak. seudati. Jawa Barat. Budaya Aceh. Jawa Tengah. dan sebagainya) 4. Cerita apa atau pengalaman apa yang akan Anda hubungkan dengan topik tersebut? (Cerita tentang beberapa macam seni pertunjukan Wayang. itu memiliki seni pertunjukan Wayang) 8. tari syaman. dan simpati antar pendukung dan budaya daerah yang berbeda-beda di Indonesia). suka lalab. Lakukan agar para siswa Anda mempunyai pengalaman sebelumnya yang berkaitan dengan topik ini ? (Suku/Enis Jawa. Budaya Madura. rumah makan. Buaya Ambon. ternyata di Jawa Timur. Bagaimana relevansinya antara topik ini pengalaman belajar para siswa Anda? (Budaya Jawa. atlas. karapan sapi. Madura. dsb) 3. Apa topik besarnya yang Anda akan tujukan ? (“Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya Indonesia") 2. Sunda. sopir. film dokumenter. Aceh. peta. dan aneka gambar /foto budaya Indonesia) 6. Materi apa yang Anda akan buat sehingga cukup tersedia? (Keberagaman Budaya Indonesia.

foto. Penyelidikan gambar-gambar. film. 2. Bagaimana nantinya struktur siswa Anda dalam bekerja sama yang dikembanagkannya ? Bagaimana nantinya Anda membantu berkembangnya dialog yang diperlukan untuk menilai siswa dalam berpikir mengikuti perkembangan zaman mutahhir? (Pengembangan konsep belajar ini dititikberatkan pada dua konsep kunci: yakni “Kebudayaan” dan “Penghargaan”). Perencanaan Untuk Belajar: Ketikapertukaran informasi dg internet. menentukan apa Anda memberikan waktunya kepada para siswa untuk 1. Jadi siswa sebagai pusat pembelajar. Permainan dan Diskusi Kelas .25 Merencanakan Untuk Menggunakan Prinsip "Pusat Belajar" Organisir masing-masing tentang pola-pola belajar yang sedemikian rupa sehingga hal itu berisi materi yang sesuai dengan konsep-konsep yang para siswa sedang eksplorasi.

Perkenalkan konsep itu yang Anda ingin tuju dengan menujukkan pertanyaan mereka. serta pertukaran informasi teman sebaya melalui internet )  Hal itu yang akan lakukan dengan mengikut apa? (permainan dan diskusi kelas) Memperkenalkan Topik (Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya) Dalam hal ini bisa sederhana atau dielaborasi sehingga cukup kompleks. foto. memperkenalkan keragaman budaya Indonesia yang terdiri atas ratusan etnis dan budaya yang ada di Indonesia.  Penyelidikan apa yang akan para siswa lakukan untuk menyusun pertanyaan dan hipotesis? (Penyelidikan melalui gambar-gamabar. Guru membantu para siswa untuk membahas sesuai "ukuran" tentang penyelidikan mereka pada berapa lama yang dapat mereka alokasikan waktu pembagian kerjanya?. slide film. sebagai contoh. (Sebuah kelas besar proyek. beri petunjuk mereka ke pengenalan melalui pendapat Gagnon dan Collay apa yang disebut "jembatan" ketika kita melihat di atas. Para siswa kemudian menempatkan pada suatu peta Indonesia mendekati panjangnya benua Eropa maupun Asia) mengestimasikan sejumlah waktu para siswa kemudian akan membahas tentang "Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya" (Antropologi-Sosiologi Kelas XI Semester 1).26 Yang mereka perlukan untuk mengetahui dan "menemukan" pengetahuan yang baru. . Dalam hal ini para siswa mengeksplorasi konsep-konsep yang berhubungan dengan topik tersebut.

.suatu masalah dengan parameter yang berbeda. dan metode demosntrasi yang akan memberi Anda dengan beberapa titik awal yang bermanfaat. * rumusan keilmuan untuk menjelaskan suatu masalah. (Mereka juga membangun dengan baik atas teknik-teknik untuk Menunjukkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial Terhadap Keberagaman Budaya. dan Sebagainya) (dua pertemuan atau dua minggu) Refleksikan atas pemahaman Anda tentang kesiap-siagaan siswa. Apakah kamu harus menyajikan informasi lain atau mengembangkan ketrampilan lain? Adakah dibantu dengan film. presentasi. rencana bantuan mereka mengambil jalan untuk mengkonstruksi dan mendemonstrasikan solusi mereka. atau pertunjukan yang memberikan peluang untuk membuat pemaknaan lebih jauh? Web atau apa yang mengumpulkan informasi yang tersedia? Apa sumbernya yang dapat Anda kumpulkan dari berbagai media dan perpustakaan Anda? Dalam model disain belajar siklus ini. Para siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan tambahan dengan memperhitungkan analisis: * solusi ke permasalahan dalam sekolah atau masyarakat Anda (perlu menggunakan sumber belajar yang memadai baik dari bukubuku dan gambar-gambar anekaragam budaya Indonesia. tetapi dengan serupa mendasari konsep-konsep sebagai masalah yang asli itu. perekaman.27 Waktu yang Tersedia (Hari. secara umum juga variabel berbeda. atau pose suatu solusi (kurangnya penghargaan dan empati thd keragaman budaya bangsa). Ketika para siswa membahas masalah. Minggu. konteksnya berbeda dan. dan internet). video. Yang berikut ini merupakan daftar pameran/pertunjukkan. para siswa sering bekerja atas suatu masalah baru-.

28 * metoda penggolongan untuk beberapa budaya daerah (etnis) yang berbeda berdasarkan pada observasi seksama (barangkali suatu koleksi kecil. dan arsitektur). bangunan. atau rumah yang dibuat mirip "musium") (peninggalan benda atau artifact. upacara adat/tradisional keagamaan) Para siswa dapat membangun pengetahuan tambahan dengan menuliskan:              permainan singkat layar permainan ringkasan peraturan lirik lagu cerita rakyat buku harian riwayat seniman-budayawan cerita perjalanan wawancara surat (atau e-mail) ke para ahli mitos tarian dan nyanyian daerah upacara adat dan religi Siswa dapat menambah konstruk pengetahuan dengan membuat / invensi / pendisainan / penggambaran. aktivitas mental/kejiwaan maupun pikiran dan gagasan atau mentifact. dan aktivitas dan hubungan sosialkeagamaan atau socifact. sebagai berikut:            poster-poster kartun-kartun garis waktu model-model table-tabel peta-peta grafik papan permainan peta konsep presentasi multimedia peta buta . senjata. * suatu rencana untuk suatu peninggalan benda (alat-alat khas perkakas rumah tangga. * suatu harta socifact (seni tradisional.

(1986) .Ragam Kebudayaan-kebudayaan Daerah Ind. Fasilitas. (2001) . Zulyani. dan sebagainya) (Materi: . peristiwa bersejarah mengumpulkan nyanyian tradisonal tentang sebuah topik dari bidang yang lainnya * Adakah bidang pengalaman atau peristiwa lain yang khusus dapat memberikan suatu perluasan peluang riset? (Tentu ada. Video Cassette. (1978) . Computer. Televisi.Hidayah. Bill. (Sumber-sumber: .Lingkup Kebudayaan . untuk lebih jauh meneliti seni tradisional etnis dan budaya tertentu) * Bagaimana nantinya Anda mengukur pemahaman konsep siswa? (Dengan membandingkan hasil kemajuan belajar siswa) * Strategi apa yang Anda akan gunakan untuk menggabungkan penilaian dengan mengajar? (Portofolio) Lihat Bagian Explorasi tentang Workshop ini untuk berbagai metoda para siswa untuk mempertunjukkan pengetahuan mereka.Dalton. . Sumber-Sumber (Fasilitas: Tape Recorder.29 Siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan tambahan penampilan/penyajian:      sebuah permainan tradisional sebuah konser ceramah dan bermain peran (seperti halnya pengetahuan pribadi dari sejarah) suatu tarian yang didasarkan atas literatur atau sejarah. Material. (1976).Definisi & R.Koentjaraningrat.Perlunya sikap menghargai keberagaman bdy.

Begitu juga jika tidak. harus memberikan bimbingan dalam cara bagaimana agar bisa merefleksikan dengan satu fokus. Bantu para siswa untuk menggantikan laporan umum subjektif-emosional itu dengan pernyataan seperti "Mari kita selesaikan tugas kita masih banyak‖. Atau "mengapa kita sering mengabaikan kebudayaan etnis minoritas. Bantu para siswa untuk menghapuskan laporan umum yang subjektif-emosional seperti. mungkin juga tidak. faktor apa yang memberikan peluang kemudahan bagi siswa untuk mengembangkan imajinasi dan simpati mereka terhadap budaya yang beragam di Indonesia. sikap. (2005) Menjadi suatu kepastian untuk menyediakan cukup waktu untuk refleksi—Anda. Jika ya. James L.Apakah yang dilakukan para siswa mencapai maksud untuk menilai kemajuan imajinatif mereka." atau "Hari ini tidak ada menulis. dan kita lebih menyukai pembahasan peranan etnis yang dominan”? ―Mengapa kita sering sinis terhadap budaya etnis tertinggal?” Di sini adalah daftar format untuk refleksi di mana Anda boleh ingin menyertakan dengan:        jurnal-jurnal buku harian audio tapes rekaman video e-mails peta konsep pengetahuan catatan-catatan . ketrampilan.Peacock. dan isi pengetahuan? (Mungkin ya. "Ini adalah kesenanganku" atau "Aku benar-benar menyukai aktivitas itu.30 . seperti halnya juga para siswa kepada teman sebaya. faktor penghambat/kendala apa yang menyebabkan imajinasi dan rasa simpati mereka gagal dalam . karena menulis adalah membosankan".

Atzori. . D. Leonard. (1996) Discovering CyberAntarctic: A Conversation with Knowbotics Research. 251-259. Referensi Abbeduto.. Kemudian dengan para rekan kerja juga perlu Anda sampaikan hasil kerja Anda sebagai bahan masukan Anda mengadakan pembelajaran. (2004) Taking Sides: Clashing Views on Controversial Issues in Educational Psychology. baik yang menyangkut prosedur. 48. isi. maka sebelumnya Anda harus menegosiasikan penilaian tersebut kepada siswa. harus segera di bagikan hasil pekerjaan siswa jangan ditumpuk – tumpuk menjadi kertas kiloan.Negosiasikan dengan siswa . ―In defense of advance organizers: A reply to the critics‖. Jika Anda pernah mencoba salah satu dari pelajaran baru Anda. maupun karakteristiknya untuk dipertimbangkan berbagi pemikiran dan mempertanyakan dengan pendidik lainnya. Review of Educational Research.ctheory.Tanyakan kepada pendidik lainnya . Apa yang Anda pelajari dapat membantu yang lain untuk belajar juga. Available at: http://www. (1978). McGraw-Hill/Dushkin.Sampaikan hasil kerja Anda kpd rekan kerja Anda (minta masukan) Sebagaimana Anda sedang mengembangkan rencana pelajaran. Third Edition.com/ Ausubel.31 mengembangkan sikap apresiatif dan toleran terhadap keberagaman budaya Indonesia yang ada?) Penilaian dan Refleksi . CTHEORY. P.

A. 163-174. 23 (7). Driver. Hillsdale NJ: Erlbaum. 168(3). Alexandria. Aasoko. Bill (1978) Indonesia Hanbook. Martin G. H. R. Scott. New York: Teachers College Press.. Situated cognition and the culture of learning. Vermont: Moon Publication. 5-12. P. In C. Dalton. Constructivism in education (pp. & Jonassen. Journal of Educational Psychology.. Steffe & J. Duffy.S. Fosnot (Ed. The case for constructivist classrooms. Derry.Inc. (1987) The having of wonderful ideas. (pp. Bruner. K. J.. (1986) ―Building from children's strengths‖. (1986) Understanding and facilitating adult learning. S. . Brooks.8-33). VA: ASCD Brown. In L.459-486). Patricia.17-39). Mortimer. Jerome. In L.).. J. New York: Teachers College Press. (1992). Social construction and the educational process. (1996). and practice. (1995). ―Cognitive Schema Theory in the Constructivist Debate‖. Constructing scientific knowledge in the classroom.. C. Journal of Education. & Duguid. John (1964) John Dewey on education: Selected writings. 32-42. Cambridge. (1989). New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.) Constructivism: Theory. Carini. perspectives. Gale (Eds. Ernest. Gergen. P. S. Gale (Eds. (1995). Derry.). H. Stephen. 13-24. (1986) Actual minds. (1994). MA: Harvard University.32 Brookfield. Steffe & J. (Eds. The one and the many. Chicago: University of Chicago Press. Educational Researcher . D. Educational Researcher. Fosnot. In Educational Psychologist. Dewey. Constructivism and the technology of instruction: A conversation. M. (pp. S. 413-418. Constructivism in education.). Jacqueline Grennon and Brooks. Eleanor. 18(1). Beyond symbolic processing: Expanding horizons in educational psychology. Duckworth. (1996)‖Constructivism: A Psychological theory of learning‖. Leach. E. Collins. possible worlds. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. San Francisco: Jossey-Bass.. (1992). 31(3/4).Inc. (1993). T.

Jonassen. Richard. 2004.33 Hacking. Lev. Steffe Leslie P. & Cole. C. (1966). (1986) “Peranan Local Genius dalam Akulturasi’. . Constructivism in education (pp. Hillsdale. Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Educational Technology. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 47-63. Jonassen. Koentjaraningrat. IA: W.coe. (1991a.. (Eds. A constructivist approach to teaching. In L. Educational Technology Reseach & Development. Massachusetts and London: Harvard University Pres. NJ: Lawrence Erlbaum von Glasserfield. A review of cognitive teaching models. (1988) Group processes in the classroom.kn. September). . Retrieved January 28. Zulyani (2001) Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Journal for Research in Mathematics Education. (2003). Constructivism in education. (1986) Thought and Language.) (1995). 39 (4). Toward a working model of constructivist teaching: A reaction to Simon. Brown. NJ: Lawrence Erlbaum Vygotsky.). Pat. & Gale J. Hillsdale. (1995). New York: Harper & Row. 2004. Jakarta: LP3ES. Hidayah. Constructivist Classroom: An Internet Hotlist on Constructivist Class. Steffe. Dubuque. H. B. (1970) Manusia dan Kebudayaannya di Indonesia. James L. S. P. E. (2005) Ritus Modernisasi Aspek Sosial & Simbolik Teater Rakyat Indonesia. Gale (Eds. (2003. dalam Ayatrohaedi Ed. ―Evaluating constructivistic learning‖..html.missouri. MA: MIT Press. Classroom questions: what kinds?.pacbell. 28-33. Steffe & J. Wilson.com/wired/fil/pages/listconstrucsa1. Penerjemah Eko Prasetyo. & Schmuck. 26. Ian (2003) The Social Construction of What ? Cambridge. (1991). G. Beatriz S. (1995). Schmuck. Mon Mar 3 6:59:24 US/Pacific 2003). & and D'Ambrosio. from http://tiger. Jakarta: Pustaka Jaya. 3-16). D. from http://www. (Original work published in 1962). 146-159. Depok: Desantara. Retrieved 22 January. Designing Constructivist Learning Environments (CLEs). Peacock. Sanders.edu/~jonassen/courses/CLE/ Kever. D. Koentjaraningrat. Norris. Cambridge. Leslie P.

. Mark (2004) ―The Challenges of Sustaining a Constructivist Classroom Culture.34 Windshitl. Taking Sides: Clashing Views on Controversial Issues in Educational Psychology. dalam Leonard Abbeduto. McGraw-Hill/Dushkin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful