You are on page 1of 1

RIGHT TO TOURISM

Sejak lahir manusia memiliki hak yang akan terus melekat serta tidak dapat diserahkan maupun dicabut
oleh siapapun. Hak yang paling mendasar antara lain hak seseorang untuk hidup, hak kebebasan, dan
hak untuk memiliki sesuatu. Beberapa hak lainnya meliputi kebebasan seseorang untuk bergerak,
berkembang, bekerja, memperoleh kenyamanan. Pada konteks hukum yang terdapat dalam Undang –
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pasal 28C ayat (1) yang menyebutkan “bahwa
setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak
mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan
budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan manusia.”

Salah satu contoh meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia antara lain dengan
melakukan kegiatan berekreasi atau berwisata. Menurut UN-WTO (Ismayanti 2010, Cooper 2006, Ricthie
and Goeldner 2003, Gee 1999) tujuan seseorang untuk berwisata dibagi menjadi tiga kelompok, seperti
berikut ini.

1. Leisure and recreation , yang bertujuan untuk vakasi, mengunjungi event budaya, kesehatan,
olahraga aktif (yang bukan professional) dan tujuan liburan lain termasuk dalam kategori
bersenang –senang.
2. Business and professional, yang bertujuan untuk kegiatan profesi seperti rapat, misi, perjalanan
insentif dan kegiatannya yang berhubungan erat dengan pekerjaan. Perjalanan yang dilakukan
tidak untuk mencari nafkah, tetapi kegiatannya berdampak pada pekerjaannya.
3. Other tourism purpouse, yang kegiatannya mencakup pembelajaran, pemulihan kesehatan,
transit, berkunjung kepada kerabat dan saudara, melakukan perjalanan keagamaan yang
bertujuan menambah wawasan, bersosialisasi, dan pemeriksaan kesehatan.

Dengan demikian kita memang harus mendapatkan semua yang menjadi hak kita karena itu sangat
berpengaruh pada perkembangan hidup kita termasuk hak berwisata.