You are on page 1of 7

LYMPHOGRANULOMA VENEREUM (LGV)

Penyebabnya adalah bakteri chlamydia trachomatis serovars L 1-3. Bakteri ini menembus kulit
dan mengeluarkan lendir di dalam node limfa, menyebabkan penyumbatan di sekitar node.
Penyakit ini mempengaruhi node limfa, alat kelamin bagian luar, bahkan rectum dan mulut
(Setyorini, 2014).

Gejala Lymphogranuloma Venereum (LGV)

 Gejala ini akan timbul 1 sampai 4 minggu setelah terinfeksi


 Bisul kecil pada alat kelamin (bisul tidak terasa sakit) pada laki-laki dan dalam saluran
kelamin pada perempuan.
 Pembengkakan dan kemerahan pada kulit didaerah selangkangan.
 Pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan dan dubur apabila melakukan
hubungan seks anal.
 Keluar darah/nanah dari rektum (darah ditinja).
 Nyeri buang air besar (tenesmus).

Pengobatan Lymphogranuloma Venereum (LGV)

 Doksisiklin 2 x 100 mg per oral.


 Untuk wanita hamil : Eritromisin 4 x 500 mg per oral.
 Lama pemberian obat 3 minggu.

Pencegahan Lymphogranuloma Venereum (LGV)

 Membatasi jumlah pasangan seks.


 Gunakan kondom laki-laki atau perempuan.
 Hati-hati mencuci alat kelamin setelah hubungan seksual.
 Jika anda mera terinfeksi hidarkan kontak seksual.
LGV Perempuan LGV Laki-laki

KONDILOMA AKUMINATA

Kondiloma Akuminata merupakan kutil didalam atau di sekeliling vagina, penis atau dubur.
Disebabkan oleh virus Human Papiloma Virus (HPV). Masa inkubasi 2-3 bulan setelah kuman
masuk ke dalam tubuh. (Kusmiran,2012)

Gejala Kondiloma Akuminata

 Timbulnya rasa gatal pada bagian kelamin akan sering mengalami pendarahan pada saat
berhubungan seksual.
 Terdapatnya bintik kutil pada bagian kelamin,
 Pada bagian genetalia akan bengkak dan berwarna ke-abu-abuan.

Pengobatan Kondiloma Akuminata

 Kemoterapi yakni pengobatan mengunakan Tinctura Podofilin 25%, Podofilotoksin 0,5%,


Asam Trikloroasetat 25%-50% dan Krim 5-flurourasil 1-5%. Pada wanita hamil digunakan
obat Asam Trikloroasetat 25-50% seminggu sekali hingga condyloma acuminata bersih.
 Tindakan pembedahan, meliputi: bedah scalpel (menggunakan pisau bedah), bedah listrik
(elektrokauterisasi) dan bedah buku menggunakan Nitrogen cair. Bedah buku merupakan
salah satu pilihan untuk pengobatan condyloma acuminata pada wanita hamil selain
menggunakan Asam Trikloroasetat.
 Laser karbondioksida. Metode ini lebih sedikit meninggalkan jaringan parut ketimbang
bedah listrik.
 Interferon. Dikenal 2 bentuk interferon, yakni interferon alfa (berbentuk suntikan dan krim)
yang diberikan 3 kali seminggu selama 6 minggu dan interferon beta (suntikan) yang
diberikan selama 10 hari.
 Imunoterapi. Metode pengobatan imunoterapi digunakan pada penderita dengan
condyloma acuminata yang luas dan resisten (kebal) terhadap pengobatan lain.
 Vaksinasi saat ini telah digunakan vaksin Papilloma virus (Gardasil) yang ditujukan untuk
mencegah kanker serviks. Vaksin Gardasil diberikan pada anak laki-laki, pria dewasa dan
wanita usia 9-26 tahun.`

Pencegahan Kondiloma Akuminata

 Menghindari gonta-ganti pasangan


 Penggunaan pengaman (kondom)
 Tidak berhubungan intim selama masa pengobatan hingga dinyatakan aman oleh dokter
HIV DAN AIDS

HIV adalah singkatan dari Human Immuno Virus ini termasuk family Retrovirus, yang menyerang
sitem kekebalan tubuh terutama limfosit (sel darah putih) dan merusaknya. (Setyorini, 2014)

AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrom adalah kumpulan gejala akibat
menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi virus HIV.
(Setyorini, 2014)

HIV dan Penyakit Kelamin

Penyakit HIV/AIDS merupakan bagian dari penyakit kelamin karena dapat ditularkan melalui
hubungan seksual (kelamin), tapi tidak selalu ditularkan melalui hubungan seksual (kelamin).
Karena HIV ditemukan dalam cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, air liur, ASI
maupun air mata. Cara penularannya yaitu bila cairan tersebut dari seseorang yang sudah terinfeksi
HIV masuk ke sistem darah melalui luka terbuka, sariawan, atau luka yang diakibatkan pada
hubungan seksual yang kadang tidak disadari oleh sipenderita maupun pasangannya. (Kusmiran,
2012).

Gejala HIV dan AIDS

Gejala HIV Gejala AIDS


Tenggorokan sakit Infeksi jamur pada mulut, tenggorokan, dan
vagina
Demam Demam yang berlangsung lebih dari 10 hari
Muncul ruam ditubuh (tidak gatal) Bintik-bintik ungu yang tidak hilang pada kulit
Pembengkakan noda limfa Noda limfa atau kelenjar getah bening
membengkak pada bagian leher dan pangkal
paha
Penurunan berat badan Berat badan turun tanpa diketahui
penyebabnya
Diare Diare yang parah dan berkelanjutan
Kelelahan Merasa kelelahan hampir setiap hari
Nyeri persendian dan otot Mudah memar atau berdarah tanpa sebab
Cara Penularan HIV/AIDS

1. Melalui Hubungan Seksual


Jalur utama penularan HIV/AIDS yang paling umum ditemukan. Virus dapat ditularkan
dari seseorang yang sudah terkena HIV kepada mitra seksualnya (pria ke wanita, wanita
ke pria, pria ke pria) melalui hubungan seksual tanpa pengaman (kondom). Jalur ini dapat
dicegah dengan cara:

a. Abstinence, tidak berhubungan seksual


b. Be faithful, saling setia dengan satu pasangan
c. Condom, selalu menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual
d. Drug, tidak menggunakan obat-obat terlarang.
2. Parental (produk darah)
Penularan dapat terjadi melalui transfusi darah atau produk darah, atau penggunaan alat-
alat yang sudah dikotori darah seperti jarum suntik, jarum tato, tindik, dan sebagainya.
Jalur ini dapat dicegah dengan cara :
a. Memastikan bahwa darah yang diterima pada saat transfusi tidak mengandung HIV
b. Memastikan bahwa peralatan (jarum suntik, jarum tato, tindik) telah disterilkan dan
apabila memungkinkan gunakan peralatan yang sekali pakai buang.
3. Perinatal
Penularan melalui ibu keppada anaknya. Ini bisa terjadi saat anak masih berada dalam
kandungan, ketika dalm proses lahir atau sesudah lahir. Kemungkinan ibu pengidap HIV
melahirkan bagi HIV positif adalah 15-39%. Seorang bayi yang baru lahir akan membawa
antibodi ibunya, begitupun kemungkinan positif dan negatif sibayi tertular HIV adalah
tergantungan dari seberapa parah tahapan perkembangan AIDS pada diri sang ibu.
Sebaiknya lakukan tes darah sebelum hamil. Kelompok yang berisiko terkena HIV adalah
a. Wanita dan laki-laki yang selalu berganti-ganti pasangan dalam melakukan
hubungan seksual
b. Wanita dan laki-laki pekerja seks
c. Melakukan hubungan seksual yang tidak wajar seperti melalui anal dan mulut,
homoseksual dan biseksual
d. Penyalahgunaan obat-obatan melalui suntikan secara bergantian

HIV dan AIDS tidak menular melalui :

 Kontak mata dan sentuhan.


 Pemakaian kamar mandi yang sama.
 Ciuman.
 Berenang bersama.
 Keringat.
 Batuk atau bersin.

Pencegahan HIV dan AIDS

 Melakukan hubungan seksual hanya dengan satu pasangan yang setia.


 Menghindari prosedur pembedahan yang tidak steril dari petugas kesehatan.
 Melakukan penyuluhan terhadap orang yang berperilaku risiko tinggi terhadap penularan
penyakit untuk mengurangi risiko penularan.
 Deteksi infeksi (simptomatik & asimptomatik).
 Pengobatan dan penyuluhan terhadap mitra seksual dari yang terinfeksi.
 Tidak berbagi jarum dan peralatan menyuntik.

Cara Pemeriksaan Tes HIV

1. ELISA (Enzym Liked Immuno Sorbent Assay)


Tes ini digunakan mencari antibodi yang ada dalam darah seseorang termasuk HIV. Sifat
tes ini sangat sensitif dalam membaca kelainan darah.
2. Western Bolt
Tes ini dapat mendeteksi kehadiran antibodi HIV dengan lebih akurat tetapi lebih mahal
dari ELISA.
3. DIPSTICK HIV (En Te Be)
Tes ini jenis tes yang cepat dan murah. Sifat cukup sensitif dan spesifik dalam melihat
kelainan darah.
HIV pada anak HIV pada orang dewasa