You are on page 1of 8

Nama : Ratih Yuliani

NPM : E1D016143
Shift : Rabu jam 08.00 - 10.00/03

LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM PERENCANAAN PEMBANGUNAN WILAYAH PERTANIAN

A. ACARA KE 4 : Analisis Ketimpangan (Indeks Ketimpangan Williamsons/IW)


B. HARI, TANGGAL : Pratikum ini dilaksanakan pada Rabu, 10 April 2019 di
Laboratorium Sosial Ekonomi Pertanian Ruang 1
C. MATERI
Untuk mengukur kesenjangan atau ketimpangan digunakan nilai indeks
ketimpangan/disparitas.Indeks ini digunkan untuk mengetahui ketimpangan pemerataan
kesejahteraan atau pembangunan:
- antar wilayah(kota,desa,antar regional)
- antar sektor
 Umumnya dihubungkan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat
kemiskinan.
2 macam indeks ketimpangan :
1. Indeks ketimpangan williamsons

Kisaran Nilai IW : 0 – 1

Bila indeks mendekati 1 : sangat timpang, dan

bila mendekati 0 : sangat merata

2. Indeks Ketimpangan Theil (I(y))

Kisaran Nilai I(y) : 0 – 1

Bila indeks mendekati 1 : sangat timpang, dan

bila mendekati 0 : sangat merata


D. TUJUAN :
 Untuk mengetahui ketimpangan pemerataan kesejahteraan atau pembangunan antar
wilayah (kota-desa, antar regional) dan antar sektor
E. TINJAUAN TEORITIS
Ketimpangan pada awalnya dapat disebabkan oleh adanya perbedaan suatu
kandungan sumberdaya alam dan perbedaan kondisi demografi yang terdapat pada
masing-masing wilayah. Akibatnya, kemampuan suatu daerah untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dalam mendorong proses pembangunan juga menjadi berbeda. Di
samping itu ketimpangan juga diperburuk oleh kurang lancarnya mobilitas barang dan
jasa, terkonsentrasinya pada kegiatan ekonomi tertentu, dan ketidakmerataan alokasi dana
antar wilayah. Terjadinya suatu ketimpangan pembangunan antar wilayah ini selanjutnya
akan membawa implikasi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat pada wilayah yang
bersangkutan (Syafrizal, 2012).
Kesenjangan ekonomi dapat diartikan sebagai perbedaan struktur ekonomi suatu
wilayah jika dibandingkan dengan wilayah yang lainnya. Menurut Kuncoro (2006)
berpendapat bahwa kesenjangan ekonomi setidaknya dapat dilihat dari 3 dimensi yaitu:
Pertama, berdasarkan tingkat kemodernan yaitu kesenjangan antara sektor modern dan
sektor tradisonal. Sektor modern pada umumnya berada di perkotaan sedang sektor
tradisional umumnya berada di daerah pedesaan.Kedua, kesenjangan regional adalah
suatu kesenjangan yang terjadi antara suatu daerah yang mempunyai potensi ekonomi
tinggi dengan suatu daerah yang potensi ekonominya rendah.Ketiga, kesenjangan
menurut etnis yaitu kesenjangan yang timbul lantaran perbedaan etnis contohnya antar
masyarakat pribumi dan non pribumi.
Kesenjangan pendapatan antar provinsi Indonesia dilakukan dengan menggunakan
Indeks Williamson. Rumus dari Indeks Williamson adalah sebagai berikut (Arsyad, 2004)

Keterangan :
CVw = Indeks Williamson
Fi = Jumlah penduduk provinsi ke-i (jiwa)
N = Jumlah penduduk indonesia (jiwa)
Yi = PDRB per kapita provinsi ke-i (Rupiah)
y = PDRB per kapita rata-rata indonesia (Rupiah)
Jurnal : Analisis statistika dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah (studi kasus:
provinsi sumatera utara).
Statistika adalah suatu cabang ilmu yang dapat diterapkan pada berbagai bidang
termasuk dalam bidang pembangunan ekonomi daerah, yaitu untuk mengetahui pola dan
struktur perekonomian, mengetahui ada atau tidaknya ketimpangan perekonomian,
mengetahui sektor/ sub sektor ungulan, merumuskan dan mengevaluasi kebijakan
pembangunan ekonomi suatu daerah. Beberapa alat analisis statistika yang digunakan adalah
scatterplot, angka indeks, dan analisis regresi logistik. Pertama, scatterplot digunakan
sebagai alat analisis tipologi daerah untuk mengetahui struktur perekonomian suatu daerah.
Kedua, bilangan indeks yang meliputi Indeks Williamson (IW) untuk mengetahui tingkat
ketimpangan antar daerah, Indeks Location Quotient (LQ) untuk menentukan subsektor
unggulan perekonomian suatu daerah, Indeks Spesialisasi Regional (IS) untuk mengetahui
tingkat spesialisasi antar daerah. Dan ketiga, analisis regresi logistik untuk mengetahui
faktor-faktor yang membedakan pengklasifikasian daerah. Pada studi kasus provinsi
Sumatera Utara dengan menggunakan data PDRB Provinsi berdasarkan Kabupaten/ Kota
tahun 1993-2005, melalui analisis tipologi tampak bahwa daerah yang berada di wilayah
Pantai Timur cenderung lebih maju dari segi perekonomian di banding Kabupaten/ Kota yang
berada di wilayah Pantai Barat. Namun, ketimpangan tersebut semakin kecil dari tahun ke
tahun. Dari segi keunggulan daerah, Kabupaten/Kota yang berada di wilayah Pantai Barat
cenderung unggul di sektor pertanian dan jasa-jasa sedangkan sektor lainnya masih tertinggal.
Sehingga strategi pembangunan dan pemerataan ekonomi provinsi Sumatera Utara dapat
dilakukan dengan pembagunan wilayah berdasarkan geografis dan pembangunan.

Jurnal : Analisis disparitas spasial menggunakan dynamic k-means cluster dan location
quotient pdrb kabupaten cilacap tahun 2014.
Dalam usaha meningkatkan pertumbuhan suatu daerah, pemerintah berupaya untuk
memajukan sektor-sektor yang dapat menumbuhkan perekonomian suatu daerah, salah
satunya data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Suatu wilayah yang mempunyai
daerah dengan rata-rata PDRB rendah tetapi di wilayah tersebut terdapat daerah yang
mempunyai PDRB sangat tinggi dapat menyebabkan ketimpangan di wilayah tersebut, yaitu
kabupaten Cilacap. Salah satu model yang cukup representatif untuk mengukur tingkat
ketimpangan pembangunan antar wilayah adalah Indeks Williamson (IW) dan terdapat
beberapa metode untuk memberikan solusi dalam pemecahan masalah ketimpangan di
kabupaten Cilacap antara lain Dynamic K-Means Clustering dan analisis Location Quotient
(LQ). Pada penelitian ini, hasil analisis IW menunjukan kabupaten Cilacap pada tahun 2014
terdapat ketimpangan pendapatan tetapi tidak telalu tinggi, masih adanya ketimpangan
pendapatan antar kecamatan dapat dilihat dari tingginya perbedaan pendapatan dan perbedaan
produktivitas sektor yang mencolok setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Cilacap. Hasil
analisis Dynamic K-Means Cluster menghasilkan jumlah cluster sebanyak 2 yaitu Cluster 1
(C1) dan Cluster 2 (C2). Karakteristik anggota C1 unggul di Sek_2, Sek_3, Sek_4, Sek_5,
Sek_6, Sek_7, Sek_8, dan Sek_9 sedangkan anggota C2 unggul di Sek_1. C1 jumlah anggota
sebanyak 6 kecamatan dan C2 jumlah anggota sebanyak 18 kecamatan. Dan hasil analisis LQ
menunjukan sektor pertanian kabupaten Cilacap merupakan potensi yang terbaik untuk
dikembangkan.

Jurnal : Analisis pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan pembangunan di Wilayah Sumatera

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan ekonomi serta meninjau


seberapa besar ketimpangan pembangunan masing-masing provinsi di wilayah Sumatera.
Penelitian ini menggunakan data panel provinsi-provinsi di Wilayah Sumatera selama periode
2011-2015. Metode analisis yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dan regresi
data panel. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi di wilayah
Sumatera cenderung mengalami penurunan, sedangkan ketimpangan pembangunan berkisar
antara IW 0,406-0,446. Tingkat ketimpangan tertinggi terjadi tahun 2012 di Provinsi
Sumatera Selatan sebesar 0,876 dan terendah terjadi tahun 2014 di Provinsi Lampung dengan
angka 0,103. Berdasarkan hasil regresi data panel diketahui bahwa secara simultan investasi,
belanja pemerintah, aglomerasi, dan tenaga kerja berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi.

F. DATA YANG DIGUNAKAN


a. PDRB (atas harga konstan) tiga daerah tingkat II yang berbeda yaitu Kabupaten
Muko-Muko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu tahun 2010-2014
b. Jumlah penduduk tiga daerah tingkat II yang berbeda yaitu Kabupaten Muko-Muko,
Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu tahun 2010-20114.
G. METODELOGI
Waktu dan tempat mencari data pratikum
1. Waktu Dan Tempat
Waktu : Senin,11 maret 2019
Tempat : Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu
2. Alat Analisis
- Data PDRB daerah acuan (Prov.Bengkulu dan daerah analisis (Kab. Muko-Muko)
yang telah diambil,dapat diinput ke dalam komputer
- Nilai Rata-rata dan nilai total dicari dari data yang telah dimasukkan ke dalam
komputer.
Data yang digunakan dalam praktikum ini adalah data PDRB (atas harga konstan) tiga
daerah tingkat II yang berbeda dan Jumlah penduduk tiga daerah tingkat II yang berbeda
yaitu Kabupaten Muko-Muko, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu yang bersumber dari BPS.
Praktikan memasukkan data yang sudah didapat ke komputer, Sektor yang terdapat didalam
data terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan,listrik dan
gas,Pengadaan Air sebesar,Kontruksi,Perdagangan Besar dan Eceran,Transportasi dan
Perdagangan ,Penyediaan Akomodasi ,Informasi dan Komunikasi,Jasa Keuangan dan
Asuransi,Real Estate,Jasa Perusahaan ,Administrasi Pemerintah,Jasa Pendidikan,Jasa
Kesehatan,Jasa Lainnya. Kemudian praktikan mengolah data menggunakan analisis Indeks
Ketimpangan Williamsons (IW).
1. Indeks ketimpangan williamsons

Dimana,

Untuk Ketimpangan Regional :

Yi = Pendapatan per kapita di subwilayah ke-i

Y = Pendapatan per kapita rata-rata total wilayah yang diamati

fi = Jumlah penduduk di subwilayah ke-i

n = Total penduduk di wilayah yang diamati


Untuk Ketimpangan Sektoral :

Yi = Pendapatan per TK sektor ke-i

Y = Pendapatan per TK rata-rata total sektor-sektor

fi = Jumlah TK sektor ke-i

n = Jumlah TK total sektor-sektor

Kisaran Nilai IW : 0 – 1

Bila indeks mendekati 1 : sangat timpang, dan

bila mendekati 0 : sangat merata

2. Indeks Ketimpangan Theil (I(y))

Dimana,

yj = Pendapatan per kapita di subwilayah ke-j

Y = Rata-rata pendapatan per kapita total wilayah yang diamati

xj = Jumlah penduduk di subwilayah ke-j

X = Total penduduk wilayah yang diamati

Kisaran Nilai I(y) : 0 – 1

Bila indeks mendekati 1 : sangat timpang, dan

bila mendekati 0 : sangat merata


H. DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 2004. Pengantar Perencanaan Dan Ekonomi Pembangunan Ekonomi
Daerah.Yogyakarta: BPFE.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Cilacap. 2015. Pendapatan Regional
Kabupaten Cilacap Tahun 2014. BAPPEDA Cilacap. Cilacap.
Badan Pusat Statistik. 2010-2014. Kabupaten Muko-Muko Dalam Angka 2014. Badan
Statistik.
Badan Pusat Statistik. 2010-2014. Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2014. Badan Statistik.
Badan Pusat Statistik. 2010-2014. Kabupaten Bengkulu Utara Dalam Angka 2014. Badan
Statistik.
Kuncoro, Mudrajad. 2006. Ekonomika Pembangunan: Teori, Masalah dan Kebijakan
(Edisi 4). Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
Kuncoro, M (2004) . Otonomi Pembangunan daerah : Reformasi,perencanaan,strategi,dan
peluang. Jakarta: Erlangga
Syafrizal. 2012. Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Jakarta: Rajawali Press.
Umiyati, Etik. (2012). Analisis Tipologi Pertumbuhan Ekonomi dan Disparitas
Pendapatan dalam Implementasi Otonomi Daerah di Provinsi Jambi. Jurnal
Paradigma Ekonomi Vol. 1 (5)

Bengkulu, 10 april 2019


Menyetujui,
Co-ass

( )