You are on page 1of 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“TUBERCULOSIS (TBC)”

Disusun Oleh :
NANDA TRI SYAHPUTRA
201601099

PROGRAM STUDI
DIPLOMA III KEPERAWATAN PONOROGO
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
2018/2019

SATUAN ACARA PENYULUHAN


PENYAKIT TBC (TUBERKULOSIS)

Tema : Penyakit Tuberkulosis (TB)


Sasaran : Keluarga yang menderita penyakit TB
Hari / Tanggal : Jum’at, 1 Maret 2019
Waktu : 12.45-13.45 WIB
Tempat : Rumah Bapak Mukri
Pengajar : Mahasiswa Keperawatan Prodi Keperawatan Ponorogo
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang Tuberculosis selama 1 x 30
menit diharapkan keluarga mengerti tentang penyakit Tuberkulosis (TBC).
B. Tujuan Instruksional Khusus
1. Keluarga mampu memahami pengertian penyakit Tuberkulosis (TBC).
2. Keluarga mampu memahami tentang penyebab penyakit Tuberkulosis
(TBC).
3. Keluarga mampu memahami tentang cara penularan penyakit
Tuberkulosis (TBC).
4. Keluarga mampu memahami tentang cara pengobatan penyakit
Tuberkulosis (TBC)
5. Keluarga mampu memahami tentang cara pencegahan penyakit
Tuberkulosis (TBC).
C. Sasaran
Adapun sasaran dari penyuluhan ini ditujukan khususnya kepada keluarga
Bapak Mukri
D. Materi (terlampir)
1. Pengertian penyakit tuberculosis (TBC)
2. Penyebab penyakit tuberculosis (TBC)
3. Tanda dan gejala penyakit tuberculosis (TBC)
4. Cara penularan penyakit tuberculosis (TBC)
5. Cara pengobatan penyakit tuberculosis (TBC)
6. Cara pencegahan penyakit tuberculosis (TBC)
E. Media
1. Leaflet
F. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Evaluasi
G. Kegiatan Penyuluhan
NO. TAHAP KEGIATAN Kegiatan Peserta
1. Pembukaan  Mengucapkan salam  Menjawab salam
( 5 menit )  Memperkenalkan diri  Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan
pendidikan kesehatan
 Apersepsi dengan cara
menggali pengetahuan
yang dimiliki pasien dan
keluarga tentang penyakit
tuberculosis
2. Pelaksanaan  Menjelaskan materi  Mendengarkan
( 20 menit )  Pasien dan keluarga  Bertanya
memperhatikan
penjelasan tentang
penyakit tuberculosis
(TB)
 Pasien dan keluarga
menanyakan tentang hal-
hal yang belum jelas
3. Penutup  Menyimpulkan materi  Mendengarkan
(5menit)  Mengevalusi pasien dan  Menjawab salam
keluarga tentang materi
yang telah diberikan
 Mengakhiri pertemuan

H. Pengorganisasian
1. Penyaji : Nanda Tri Syahputra
I. Evaluasi
Menanyakan kembali tentang materi yang dijelaskan pada ibu menyusui
tentang :
1. Apakah pengertian dari penyakit tuberkulosis?
2. Apakah penyebab penyakit tuberkulosis?
3. Apa saja tanda gejala penyakit tuberkulosis?
4. Bagaimana cara penularan penyakit tuberculosis?
5. Bagaimana pengobatan dari penyakit tuberculosis?
6. Bagaimana cara pencegahan dari penyakit tuberculosis ?
MATERI PENYULUHAN

1. PENGERTIAN
TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
micobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru-paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh yang lain.
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium
tuberculosis yang hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi
yang paling banyak adalah paru-paru (IPD, FK, UI).
Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi ( Mansjoer ,
1999).
TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TBC (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang Paru,
tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain (Dep Kes, 2003). Kuman TB
berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam
pewarnaan yang disebut pula Basil Tahan Asam (BTA).
2. PENYEBAB
Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang
berbentuk batang dan Tahan asam ( Price, 1997 ). Penyebab Tuberculosis
adalah M. Tuberculosis bentuk batang panjang 1 – 4 /m. Dengan tebal 0,3 –
0,5 m. selain itu juga kuman lain yang memberi infeksi yang sama yaitu M.
Bovis, M. Kansasii, M. Intracellutare.
Penyakit TBC paru disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium
Tuberculosis). Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu
tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai
Basil Tahan Asam (BTA), kuman TBC cepat mati terhadap sinar matahari
langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam ditempat yang
gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur
lama selama beberapa tahun. Sumber penularan adalah penderita TBC BTA
positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk droplet (percik dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat
bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat
terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama
kuman TBC masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasa, kuman TB
tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui system
peredaran darah, system saluran limfe, saluran napas, atau penyebaran
langsung kebagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seseorang
penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.
Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita
tersebut. Bila hasl pemeriksaan dahak negative (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular.
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi oleh Myobacterium
Tuberculosis :
1. Herediter : resistensi seseornag terhadap infeksi kemungkinan diturunkan.
2. Jenis kelamin : pada akhir masa anak-anak dan remaja, angka kematian dan
kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
3. Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
4. Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat,
kemungkinan infeksi cukup tinggi karena diit yang tidak adekuat.
5. Keadaan stress : situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang
nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik).
6. Meningkatnya sekresi steroid adrenaql yang menekan reaksi inflamasi dan
memudahkan untuk penyebarluasan infeksi.
7. Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebuh
mudah.
8. Nutrisi : status nutrisi kurang
9. Infeksi berulang : HIV, Measles, Pertusis.
10. Tidak mematuhi aturan perubahan.
3. Klasifikasi Tuberculosis
Menurut DepKes (2003), klasifikasi TB Paru dibedakan atas :
1. Berdasarkan organ yang terinveksi
A. TB Paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan
dahak, TB Paru dibagi menjadi 2, yaitu :

- TB Paru BTA Positif, disebut TB Paru BTA (+) apabila


sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS (Sewaktu Pagi
Sewaktu) hasilnya positif, atau 1 spesimen dahak SPS positif
disertai dengan pemeriksaan radiologi paru menunjukkann
gambaran TB aktif.
- TB Paru BTA Negatif , apabila dalam 3 pemeriksaan specimen
dahak SPS BTA negatif dan pemeriksaan rasiologi dada
menunjukkan gambaran TB aktif. TB Paru dengan BGA (-) dan
gambaran radioogi positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan,
bila menunjukkan keparahan yakni kerusakan luas dianggap
berat.

B. TB ekstra paru yaitu tuberculosis yang menyerang organ tubuh lain


selain paru, misalnya pleura, selapu otak, selapu jantung
(pericardium), kelenjar limfe, tulang persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing dan alat kelamin. TBC ekstra paru dibagi
berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu :

− TBC ekstra paru ringan yang menyerang kelenjar limfe, pleura,


tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.
− TBC ekstra paru berat seperti meningitis, pericarditis, peritonitis,
Tb tulang belakang, Tb saluran kencing dan alat kelamin.

2. Berdasarkan Tipe Penderita


Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberpa tipe penderita :

a. Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau
sudah pernah menelan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) kurang dari satu
bulan.
b. Kambuh (relaps) adalah penderita TBC yang belum pernah mendapat
pengobatan dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali berobat
dengan hasil pemeriksaan BTA positif.
c. Pindahan (transfer in) yaitu penderita yang sedang mendapat pengobatan
disuatu kabupaten lain kemudian pindah berobat ke kabupaten ini.
Penderita pindahan tersebut harus membawa surat rujukan/pindah.
d. Kasus berobat setelah lalai (default/drop out) adalah penderita yang sudah
berobat palig kurang 1 bulan attau lebih dan berhenti 2 bulan atau lebih
kemudian datang kembali berobat.
4. TANDA DAN GEJALA
A.Gejala umum Tb paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa
sputum, malaise, gejala flu, demam ringan, nyeri dada, batuk darah.
( Mansjoer, 1999)
B.Gejala lain yaitu kelelahan, anorexia, penurunan Berat badan ( Luckman
dkk, 93)
a. Demam : subfebril menyerupai influenza.
b. Batuk : batuk kering (non produktif), batuk produktif (sputum)
c. Hemaptoe
d. Sesak Nafas : pada penyakit TB yang sudah lanjut dimana infiltrasinya
sudah ½ bagian paru-paru.
e. Nyeri dada
f. Malaise : anoreksia, nafsu makan menurun, sakit kepala, nyeri otot,
keringat malam.
5. KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien penyakit TBC apabila tidak
ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi, diantaranya yaitu :
1. Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura , empiema, faringitis.
2. Komplikasi lanjut :
a. Obstruksi jalan napas, seperti SOPT (Sindrom Obstruksi Pasca
Tuberculosis)
b. Kerusakan parenkim berat, seperti SOPT atau Fibrosis paru Cor
pulmonal, amilosis, karsinoma paru, ARDS.
6. CARA PENULARAN
Penyakit tuberculosis (TBC) bisa ditularkan melalui kontak langsung
dengan pasien TBC, seperti terpapar hembusan nafasnya, cairan tubuhnya, dan
apabila menggunakan sendok dan handuk secara bersamaan.
7. PENGOBATAN
Jenis obat yang dipakai
a. Obat Primer b. Obat Sekunder
1. Isoniazid (H) 1. Ekonamid
2. Rifampisin (R) 2. Protionamid
3. Pirazinamid (Z) 3. Sikloserin
4. Streptomisin 4. Kanamisin
5. Etambutol (E) 5. PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
6. Tiasetazon
7. Viomisin
8. Kapreomisin
Pengobatan TB ada 2 tahap menurut DEPKES 2000 yaitu :
1. Tahap INTENSIF
Penderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung untuk
mencegah terjadinya kekebalan terhadap rifampisin. Bila saat tahab
intensif tersebut diberikan secara tepat, penderita menular menjadi tidak
tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TBc
BTA positif menjadi negatif (konversi) pada akhir pengobatan intensif.
Pengawasan ketat dalam tahab intensif sangat penting untuk mencegah
terjadinya kekebalan obat.

2. Tahap lanjutan

Pada tahap lanjutan penderita mendapat obat jangka waktu lebih


panjang dan jenis obat lebih sedikit untuk mencegah terjadinya
kelembutan. Tahab lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten
(dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

Paduan obat kategori 1 :


Tahap Lama (H) / day R day Z day F day Jumlah
Hari X
Nelan Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 60
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 54

Paduan Obat kategori 2 :


Tahap Lama (H) R Z E E Strep. Jumlah
@30 @450 @500 @ @50 Injeks Hari X
0 Mg mg 250 0 i Nelan
Mg mg mg Obat
Intensif 2 1 1 3 3 - 0,5 % 60
bulan 1 1 3 3 - 30
1
bulan
Lanjuta 5 2 1 3 2 - 66
n bulan

Paduan Obat kategori 3 :


Tahap Lama H @ 300 R@450mg P@500m Hari X Nelan
mg g Obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 60
Lanjutan 4 bulan 2 1 1 54
3 x week

OAT sisipan (HRZE)


Tahap Lama H R Z E day Nelan X
@300mg @450m @500mg @250mg Hari
g
Intensif 1 bulan 1 1 3 3 30
(dosis
harian)

8. CARA PENCEGAHAN
Cara penularan TBC perlu diwaspadai dengan mengambil tindakan-
tindakan pencegahan selayaknya untuk menghindarkan infeksi tetes dari
penderita ke orang. Salah satu cara adalah batuk dan bersin sambil menutup
mulut/hidung dengan sapu tangan atau tissue untuk kemudian didesinfeksi
dengan lysol atau dibakar. Bila penderita berbicara, jangan terlampau dekat
dengan lawan bicaranya. Ventilasi yang baik dari ruangan juga memperkecil
bahaya penularan.
Anak-anak dibawah usia satu tahun dari keluarga yang menderita TBC
perlu divaksinasi BCG sebagai pencegahan, bersamaan dengan pemberian
isoniazid 2-10 mg/kg selama 6 buan (kemoprofilaksis)
a) Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul
erat dengan penderita tuberkulosisi paru BTA postif. Pemeriksaan meliputi
tes tuberkulin, klinis dan radiologis. Bila tes tuberkulin positif, maka
pemeriksaan radiologis foto thorax diulang pada 6 dan 12 bulan
mendatang. Bila massih negatif diberikan BCG vaksinasi. Bila positif,
berarti terjadi konversi hasil tes tuberkulin dan diberikan kemoprofilaksis.
b) Mass chest x-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok
populasi tertentu misalnya : karyawan rumahsakit/puskesmas/balai
pengobatan, penghuni rumah tahanan dan siswa-siswi pesantren.
UNTUK PENDERITA :
1. Minum obat sampai habis sesuai petunjuk
2. Menutup mulut ketika batuk atau bersin
3. Tidak meludah di sembarang tempat
4. Meludah di tempat yang terkena sinar matahari langsung atau ditempat
yang sudah ada karbol/lisol
UNTUK KELUARGA :
1. Jemur kasur seminggu sekali
2. Buka jendela lebar-lebar agar udara dan sinar matahari bisa langsung
masuk
3. Memakai masker bagi penderita
PENCEGAHAN LAIN :
1. Imunisasi BCG pada bayi
2. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes Marilynn E ,Rencana Asuhan Keperawatan ,EGC, Jakarta , 2000.
Mansjoer dkk , Kapita Selekta Kedokteran ,edisi 3 , FK UI , Jakarta 1999.
http://tuberkulosis.org/ (17 : 00, 10 Desember 2014)
http://www.ilmudokter.com/2013/11/komplikasi-tuberkulosis.html (16 : 56, 10
Desember 2014)