You are on page 1of 96

Skripsi

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KECEMASAN


PADA PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN PEMASANGAN KATETER
URIN DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG

DESIS EFFENDO
NIM. 05.13.071

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN 2017
Skripsi

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KECEMASAN


PADA PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN PEMASANGAN KATETER
URIN DI RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH PALEMBANG

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan

DESIS EFFENDO
NIM. 05.13.071

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN 2017

IIIALAM‐ PERNYATAAN ORISINILITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri dan semua dan semua sumber yang dikutip maupun

dirujuktelah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Desis Effendo

:05。 13.071

Tanda Tangan

Tangg証 :10 Juni 2017


HALADIAN PERSETUJUAN

Skripsi ini diajukan oleh ..

Nama Desis Effendo


NIM 05.13.071
Program Studi Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kecemasan
pada pasien yang akan dilakukan pemasangan kateter
urin di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

Telah diperiksa, disetujui dan dipertahankan didepan tim penguji skripsi.

Palembang, 10 Juni 2017

Pembimbing I

Miranti norcncia,S.Kep,。 Ns.,lⅥ .Kcp Ns., M.Kep

Disetujui
Ketua Program Studi

Anita Apriany, S.Kep., Ns., M.Bmd


ⅡALAMAN PENGESAHAN

Narna Desis Effendo


Nim 05。 13.071

Pro3Tam Studi 1hu Keperawatan


Judul Sbipsi Pengam pendidikm kesehatan terhadap kecemasan pada pasien
yang nan dilakukan pemasallgan katcter uFin di Rtt Sakit
Muha― adiyah Pdembang。

Telab beFhaゞl dipertahankan di hadapan]Dewan Pellgull dan ditetta sebagai baglan


persyaratatt yang dipeFlukan ulltuk mempero10h gelar Sattana Keperawatan Pada
Program Studi IImu Keperawatan Sekolah Tinggi 1lmu Kesehatan Muhammad筆 ah
Palembang


DIEWAN PENGUJI

Pembiinbittg I MiFanti Florencia,S.Kep。 ;Ns。 ,M.Kep

Pembimbillg :SwttL S.K甲 .jNs.M.Kep

PenguJl :hardialll,S.Kep.Ns.,M.Kep

PenguJl :MMa―ad Syapik,S.kcIP.∫ Ns.JИ 國」RS

Ditetapkan di : Palembang
Tanggal 10 Juni 2017
Ketua STIKes MP

Sri Yulia S.Kp.,IⅥ .Kep

NIDN.0213057502
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena


atas berkat rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul “Pengaruh Penkes Terhadap Kecemasan Pada Pasien Yang Akan
Dilakukan Pemasangan Kateter Urin di Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang” sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Studi Ilmu
Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Palembang
sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis sangat menyadari bahwa masih
banyak terdapat kekurangan dan kesalahan pada skripsi ini yang dikarenakan
keterbatasan Ilmu pengetahuan, pengalaman serta kekhilafan yang penulis
miliki. Maka dari itu, dengan ikhlas penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat mendidik dan membangun dari semua pihak demi kesempurnaan
penyusunan skripsi ini dimasa yang akan datang.
Penyusunan skripsi ini tidak akan terlaksana tanpa bimbingan,
pengarahan, bantuan serta saran dari berbagai pihak, sehingga dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan ucapkan terima kasih kepada :
1. Ibu Sri Yulia, S.Kp., M.Kep Selaku Ketua STIKES Muhammadiyah
Palembang.
2. Ibu Anita Apriyani, S.Kep., Ns., M.Bmd selaku Ketua Program Studi
Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah Palembang.
3. Ibu miranti florencia iswari, S.Kep., M.Kep.,M.Kep.selaku Pembimbing
I yang telah memberikan masukan dan motivasi dalam penulisan Skripsi ini.
4. Ibu Suratun, S.Kep., M.Kep., M.Kep selaku Pembimbing II yang telah
memberikan masukan dan motivasi dalam penulisan Skripsi ini.
5. Ibu Imardiani, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku penguji I yang telah memberikan
masukan dan motivasi dalam penulisan Skripsi ini.
6. Bapak M. Syapik, Skep.,Ns.,MARS selaku penguji II yang telah
memberikan masukan dan motivasi dalam penulisan Skripsi ini.
7. Seluruh dosen dan Staf STIKes Muhammadiyah palembang yang telah
memberikan bantuan dan motivasinya untuk penulisan skripsi ini.
8. Orang tua dan seluruh keluarga ku tercinta yang telah mendoakan
dan memberikan dukungan moral dan material sehingga dapat
menyelesaikan skripsi ini.
9. Rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas dan melimpahkan rahmat serta hidayah-
Nya dan menjadikannya sebagai amal jariyah. Akhirnya semoga Skripsi ini
dijadikan tindak lanjut penelitian selanjutnya Amin.

Palembang, 10 juni 2017

Penulis
IIALAMAN PERNYATAAN PEttTUJIIAN
SKRIPSI… 想 AKADEMIS

Sebagai sivitas akadellllls STIKes Muhamadiyah Palembang saya yang bemnda


tangan di bawah ini:

Nama Desis Erendo


Nim 05.13.071
Program Studi 1hnu Keperawatan
Jenis Karya Skripsi

demi pengembagan ihu"電 枷鐘yettui unmk memberikall kepada


ettu〔乳
STIKes Mmammadiyah Palembang Hak Bebas Royalti NoneLsunsifぶ 鴨 _
α J燿F力燿 RO"均 2を 鸞 0魏 陰 kaFya ilmiah saya yang beFiudul :pengamh
"睦
pendidikan kesehatan terhadap kecemasan pada paslen yang akan dilakukan
pemasangan kateter llrn di Rlmah Sakit Muha― adiyah Palembang Tahun 2017.
beserta lp踊顧 離 ymg ada Gika diperl遺 叫 .Dengall Hak Bebas Royalti
Nolneksklusif illi Stts Mmmmadiyah Palembang berhak menyimpan,
mengalihmedia/fomat― kan,nlengelola dalM beFlmk pansalan data(崚 滅矛
batSC)
mOrawat,dan menapublikasikan tugas akhir saya selama tetap IIlencantumkan nallla
saya sebagal penulis/pencipta dan sebagd pemilik Hak Cipta.

Delln轟 m pemyate inisaya buat dengan sebellmya

Dibuat Di :Palembang
Pada Tangal :10 Juni 2017

(Desis Effendo)
NIM.05。 13.071
ABSTRAK

Nama : Desis Effendo


Nim : 05.13.071
Program Studi : Ilmu Keperawatan
Judul Skripsi : Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kecemasan pada
pasien yang akan dilakukan pemasangan kateter urin di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Halaman : 1-57

Latar Belakang : Kateterisasi urin merupakan suatu tindakan memasukkan


selang kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra. Banyak pasien merasa
cemas, takut akan rasa nyeri dan ketidak nyamanan dalam menghadapi
kateterisasi urin. Mereka terlihat emosional menghadapi tindakan-tindakan
maupun perawatan terlebih yang berhubungan dengan daerah urogenital yang
dimana kateter menembus masuk ke dalam tubuh. Tujuan Peneliti : untuk
mengetahui pengaruh kecemasan pasien, sebelum dan sesudah dilakukan
pendidikan kesehatan mengenai pemasangan kateter di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang tahun 2017. Metode penelitian : penelitian ini
menggunakan pre-eksperimen dengan rancangan one-group pretest-postest
dengan pendekatan kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam
penelitian ini adalah purposive sampling, dengan jumlah 35 responden dan
istrumen yang digunakan yaitu kuesioner dan wawancara. Hasil : penelitian ini
menunjukkan rata-rata kecemasan responden sebelum dilakukan pendidikan
kesehatan yaitu 44,97 (cemas sedang), dan rata-rata sesudah dilakukan
pendidikan kesehatan 34,66 (cemas ringan). Hasil uji paired sample t test
didapatkan nilai signifikansi sebesar 0,001. Kesimpulan : Hal ini menunjukkan
bahwa ada pengaruh kecemasan pada pasien yang akan dilakukan pendidikan
kesehatan terhadap pemasangan kateter urin.

Kata Kunci : Kateterisasi Urin, Pendidikan Kesehatan, Tingkat Kecemasan


Daftar Pustaka : (2003-2015)
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ............................................................................ i


HALAMAN PERSETUJUAN ............................................................. ii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ............................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................... iv
DAFTAR ISI ........................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ................................................................................ viii
DAFTAR BAGAN ............................................................................... ix
DAFTAR SKEMA ............................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................ xi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................... 4
C. Tujuan Penelitian ............................................................ 4
1. Tujuan Umum ............................................................ 4
2. Tujuan Khusus ............................................................ 4
D. Ruang Lingkup................................................................ 5
E. Manfaat Penelitian .......................................................... 5
1. Manfaat Teoritis ......................................................... 5
2. Manfaat Praktis........................................................... 5

BAB II TINAJAUAN PUSTAKA


A. Tinjauan Teori................................................................. 6
1. Konsep Kecemasan..................................................... 6
a. Definisi .................................................................. 6
b. etiologi................................................................... 7
c. Tanda dan Gejala Kecemasan ................................. 8
d. Penyebab Kecemasan ............................................. 8
e. Rentang Respon Kecemasan .................................. 9
f. Ukuran Skala Kecemasan ....................................... 10
g. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan ........ 10
h. Bentuk-Bentuk Kecemasan .................................... 11
i. kecemasan pada pasien kateter urin ........................ 12
2. Kateterisasi urin .......................................................... 12
a. Definisi Kateterisasi ............................................... 12
b. Tujuan Kateterisasi ................................................ 12
c. ukuran kateterisasi ................................................. 13
d. Indikasi Pemasangan Kateter Urine ....................... 14
e. Kontra Indikasi Pemasangan Kateter Urine ........... 14
f. Jenis-jenis Kateter .................................................. 14
g. Resiko Pemasangan Kateter Urine.......................... 15
h. Perawatan Kateter Urine ........................................ 15
3. Konsep penkes (pendidikan kesehatan) ....................... 17
a. Definisi .................................................................. 17
b. Tujuan Pendidikan Kesehatan ................................ 18
c. Prinsip- Prinsip Pendidikan Kesehatan .................. 19
d. Sasaran Pendidikan Kesehatan .............................. 20
e. Media Pendidikan Kesehatan ................................ 20
f. Pendidikan kesehatan tentang Kateter Urin ........... 21
B. Kerangka Teori ............................................................... 24
C. Keaslian peneliti.............................................................. 25

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN


HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kerangka Konsep Penelitian............................................ 30
B. Definisi Operasional ........................................................ 30
C. Hipotesis ......................................................................... 31

BAB IV METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian............................................................. 30
B. Populasi dan Sampel Penelitian ....................................... 30
C. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................... 32
D. Teknik Pengumpulan Data .............................................. 32
E. Instrumen Penelitian ........................................................ 33
F. Pengolahan dan Analisis Data ......................................... 33
G. Etika Penelitian ............................................................... 35
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Profil Rumah Sakit ..................................................................... 40
B. Gambaran Ruang Instalasi .......................................................... 43
1. Ruang Instalasi Rawat Inap Bedah ....................................... 43
2. Ruang Kebidanan ................................................................ 43
C. Hasil Penelitian .......................................................................... 44
1. Karakteristik Responden ...................................................... 45
2. Analisa Univariat ................................................................. 47
3. Analisa Bivariat ................................................................... 48

BAB VI PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .......................................................................... 50
1. Karakteristik Responden ...................................................... 50
2. Analisa Univariat ................................................................. 51
3. Analisa Bivariat ................................................................... 54

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan ................................................................................ 57
B. Saran .......................................................................................... 57
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Halaman


Tabel 1.1 Keaslian Penelitian ............................................................... 25
Tabel 3.1 variabel peneliti .................................................................... 30
Tabel 5.1 Distribusi frekuensi karakteristik umur
Tabel 5.2 Karakteristik Responden ......................................................... 45
tabel 5.3 Tingkat Kecemasan Sebelum dan Setelah ................................ 47
tabel 5.4 Analisa Bivariat ....................................................................... 49
DAFTAR BAGAN

Nomor Bagan Halaman


Bagan 2.1 Kerangka Teori.................................................................. 35
DAFTAR SKEMA

Nomor Skema Halaman


Skema 3.1 Kerangka Konsep ............................................................. 36
DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Halaman


Gambar 2.1 Tingkatan Kecemasan ....................................................... 20
DAFTAR LAMPIRAN

No Lampiran
Lampiran 1 Surat Izin Pengambilan Data Awal
Lampiran 2 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 3 Lembar Kuesioner
Lampiran 4 hasil pengelolahan data

Lampiran 5 Berita Acara Selesai Pengambilan data


Lampiran 8 Surat Balasan Diklat
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kateterisasi urin merupakan salah satu tindakan memasukkan selang kateter


ke dalam kandung kemih melalui uretra dengan tujuan mengeluarkan urin
(Brockop, 2006). Kateterisasi urin ini dilakukan dengan cara memasukkan selang
plastik atau karet melalui uretra ke dalam kandung kemih yang berfungsi untuk
mengalirkan urin pada klien yang tidak mampu mengontrol perkemihan atau klien
yang mengalami obstruksi (Potter & Perry, 2005). Kateter diindikasikan untuk
beberapa alasan yaitu untuk menentukan jumlah urin, sisa dalam kandung kemih
setelah pasien buang air kecil (Smelzter, 2008).
Kateter dibedakan menjadi dua, yaitu Kateter sementara dan Kateter tetap.
kateter sementara yaitu untuk mengurangi ketidak nyamanan pada distensi vesika
urinaria, Pengambilan urine residu setelah pengosongan urinaria. Sedangkan
kateter tetap jangka pendek Untuk memantau output urine, Obstruksi saluran
kemih (pembesaran kelenjar prostat), Preventif pada obstruksi urethra dari
perdarahan Irigasi Vesika Urinaria, Pembedahan untuk memperbaiki organ
perkemihan, seperti vesika urinaria, urethra dan organ sekitarnya. Kateter tetap
jangka panjang penyembuhan penyakit ISK/UTI, Skin rash, ulcer dan luka yang
iritatif apabila kontak dengan urine, Klien dengan penyakit terminal (Eni 2006 ).
Data dunia menunjukkan 4 juta pasien per tahun di amerika serikat
menggunakan kateterisasi urin, 25 % pasien yang dirawat di rumah sakit
terpasang kateter indwelling dalam beberapa hari waktu perawatannya (gokula et.
all, 2004 ). Menurut penelitian di Amerika, dari 54 pasien di rumah sakit maupun
home care yang terpasang kateter indwelling, 72% di antaranya mengalami
beberapa komplikasi, antara lain terjadi blocking atau penyumbatan sehingga
aliran urin terganggu, 37% di antaranya mengalami kebocoran urin di sekitar
kateter dan 30% mengalami hematuria. (Madigan et al, 2003). Di yogyakarta
tahun 1999 menunjukkan bahwa pemasangan kateter urin berkisar 0,0% sampai
12,06% dengan rata-rata keseluruhan 4,26% yang melaksanakan pemasangan
kateter urin.

1
2

Berdasarkan data rekam medis Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang saat


pengambilan sampel didapatkat jumlah pasien yang terpasang kateter urin pada
tahun 2014 tercatat 581 pasien dari sebanyak 34.986, dan pada tahun 2015
berjumlah 1001 pasien dari 38.690, dan pada tahun 2016 pada bulan Desember
tercatat 883 pasien dari 34.974. (RSMP, 2016).
Tindakan kateterisasi urin merupakan ancaman potensial maupun aktual pada
seseorang yang dapat menyebabkan pasien merasa cemas, takut akan rasa nyeri
dan ketidak nyamanan dalam menghadapi kateterisasi urin, mereka terlihat
emosional dalam menghadapi tindakan-tindakan pengobatan maupun perawatan
terlebih yang berhubungan dengan daerah urogenital yang dimana kateter
menembus masuk ke daerah tubuh (Riyadi, 2006).
Kecemasan merupakan perasaan khawatir, takut yang dialami seseorang
individu dan bersifat subjektif yang dapat diamati secara langsung yang
berhubungan dengan situasi tertentu, dan kebanyakan orang yang telah
berhadapan dengan situasi tersebut perasaannya menjadi takut (Corey, 2007,
Batara, 2010).
Kecemasan pada pemasangan kateter urin yang dialami oleh pasien seperti
rasa tidak berdaya, takut, gangguan mental dan emosional secara nasional
gangguan kecemasan sebesar 6%. Kecemasan merupakan gangguan mental
terbesar, diperkirakan 20% dari populasi dunia menderita kecemasan, (Hidayati,
2013). Data penelitian Garvin dalam Hidayati (2013), mengungkapkan bahwa
33% responden berfikir bahwa kecemasan dapat mengancam kehidupan dan
hampir setengah responden 49,5% menyatakan rasa takut akan tindakan tersebut
(Riskesdas, 2013). Penelitian Rizwijaya (2008), tentang kecemasan
pemasangan kateter urin dinyatakan bahwa dari 45 responden pasien yang
akan dipasang kateter ada 37 responden (83 %) yang mengalami kecemasan
dengan berbagai tingkat kecemasan dari kecemasan ringan sampai kecemasan
berat.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan diruang bedah Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang dilakukan pada 7 Pasien yang dirawat dengan
rencana tindakakan pemasangan kateter urin, dari hasil kaji terdapat 5 Pasien
mengalami cemas berat dengan skor (60-74) dan 2 pasien pasien yang tidak

2
3

merasa cemas dan tidak menolak saat dilakukan tindakan tersebut dengan skor
(20-44). Bentuk kecemasan yang ditunjukkan seperti, klien mengatakan khawatir,
nyeri, takut, dan merasa malu karena akan menyentuh daerah yang bersifat sangat
privasi pada klien. Berdasarkan wawancara kepada perawat yang berjaga diruang
rawat inap bedah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, Memang tidak
dijelaskan tentang pemasangan kateter urin seperti, definisi, fungsi, dampak, dan
berapa lama pemasangan pemasangan kateter urin itu sendiri sehingga pasien
merasa tidak siap untuk dilakukan pemasangan kateter urin (RSMP).
Perawat bertanggung jawab tidak hanya pada tindakan kateterisasi yang
benar, tetapi juga memberi pendidikan untuk menghilangkan kecemasan tersebut,
karena perawat profesional adalah perawat yang mampu bertanggung jawab atas
tindakan yang dilakukannya berdasarkan pada ilmu yang didapatnya karena sikap
dan tingkah laku perawat dapat membantu menumbuhkan rasa kepercayaan
pasien, maka dalam hal ini perawat bertanggung jawab untuk mengatasi
kecemasan klien yang terpasang kateter urin.
Dampak kecemasan jika tidak diatasi pada pasien kateterisasi urin maka akan
berdampak pada klien itu sendiri, seperti klien tidak akan kooperatif, tidak bisa
istirahat, kateter akan sulit dimasukkan, klien akan mangalami trauma sehingga
tidak mau dipasang kateter lagi, dan bagi klien wanita akan mengejan saat
dipasang kateter, dan itu semua akan mempengaruhi tingkat kesehatan seorang
pasien. Untuk itu pasien yang menjalani pemasangan kateterisasi urin harus diberi
pendidikan kesehatan untuk menurunkan dan mengurangi kecemasan (Diana,
2009, Arif & Sari, 2009).
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menurunkan kecemasan seperti
pendidikan kesehatan pada pasien pra operatif apendicitis (Dunggio dkk, 2014),
pendidikan kesehatan dalam menghadapi menarche (Sarinah, 2015), pendidikan
kesehatan pre operasi hernia (kurniawan, 2013), pendidikan kesehatan tentang
kecemasan keluarga (Ismail, 2015), pendidikan kesehatan tentang kanker
payudara (Setyowinarni dkk, 2016). Akan tetapi, intervensi tersebut belum bisa
diaplikasikan sepenuhnya karena memiliki metode dan hasil ukur yang bervariasi
sehingga kecemasan belum bisa teratasi sepenuhnya, sehingga perlu dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk mengatasi kecemas pada saat pemasangan kateter

3
4

urin. Dalam hal ini sebagai perawat harus dapat membantu klien dan anggota
keluarga dalam menemukan cara untuk mengatasi kecemasan dan
mempertahankan gaya hidup yang fungsional (potter & perry, 2005).
Pendidikan kesehatan pada hakekatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
individu untuk menyampaikan informasi (transfer of knowledge) lebih khususnya
pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok individu dengan harapan bahwa
dengan adanya pesan tersebut, masyarakat kelompok dan individu dapat
menumbuhkan pengetahuan tentang kesehatan, dan pengetahuan tersebut
diharapkan berpengaruh terhadap perilakunya dengan kata lain pendidikan
tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran (Indrayani,
2012). Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien
tersebut, informasi yang diberikan berupa pendidikan kesehatan menjadi satu hal
yang sangat penting. Dari fenomena tersebut peneliti tertarik untuk meneliti
pengaruh pendidikan kesehatan terhadap tingkat kecemasan pasien yang
dilakukan pemasangan kateter urin di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka peneliti merumuskan
masalah pada penelitian ini adalah Adakah pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap kecemasan pada pasien yang akan dilakukan pemasangan katater
urin di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya pengaruh pendidikan
kesehatan terhadap tingkat kecemasan pasien yang dilakukan pemasangan
katater urin di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
2. Tujuan khusus
a. Diketahuinya rata-rata tingkat kecemasan pasien sebelum diberikan
pendidikan kesehatan mengenai pemasangan kateter urin di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang
b. Diketahuinya rata-rata tingkat kecemasan pasien setelah diberikan
pendidikan kesehatan mengenai pemasangan kateter urin di Rumah

4
5

Sakit Muhammadiyah Palembang


c. Menganalisis pengaruh/perbedaan rata-rata kecemasan pasien, sebelum
dan sesudah pendidikan kesehatan mengenai pemasangan kateter urin
di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.

D. Ruang Lingkup
Penelitian ini merupakan penelitian pada area keperawatan medikal
bedah, penelitian ini di tujukan kepada pasien yang akan dipasang kateter
urin, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pendidikan
kesehatan terhadap cemas pada pasien yang akan memasang kateterisasi urin.
penelitian ini meenggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian pre-eksperimen dengan rancangan one-group pretest. Ciri dari
penelitian ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara
melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek diobservasi sebelum
dilakukan intervensi kemudian diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam,
2009). Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu
pengambilan sampel yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang
dibuat oleh peneliti sendiri, di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pada
19 April sampai 25 April 2017
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan informasi secara ilmiah tentang kecemasan pada klien
yang akan dipasang kateter urin
b. Sebagai bahan masukan dan sebagai referensi dalam proses
pembelajaran. Hasil yang diperoleh dapat menjadi data dan bahan untuk
penelitian selanjutnya

2. Manfaat Praktis
Memberikan gambaran dan informasi sumber bagi tenaga kesehatan
maupun mahasiswa praktik tentang kecemasan dialami klien yang akan
dipasang kateter urin dan dapat diaplikasikan intervensi mandiri
pendidikan kesehatan dalam upaya menurunkan tingkat kecemasan yang
dialami klien sebelum dipasang kateter urin.

5
6

F. Keaslian Peneliti

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

N Peneliti Judul Metode Persamaa Perbedaan Hasil


o n
1 Dunggio Pengaruh Penelitian • Variabel • Responden Hasil Uji
Dkk, (2014) Pendidikan ini adalah peneliti • Waktu Tistik Paired
Kesehatan penelitian • Desain • Tempat T- Test
Terhadap pre- penelitia • Pengambil Diperoleh
Tingkat experimen n pre- an Sampel Nilai P Value
Kecemasan (one group experime Accidental =(0,000)<Α=(
Pada pre – post n (one Sampling 0,05)
Pasien Pra test group Sehingga
Operatif design),den pre – Dapat
Apendicitis gan teknik post test Responden
Di Ruang pengambila design) Sebelum
Bedah Atas n sampel • Uji Diberikan
Rsud Prof. yaitu statistik Pendidikan
Dr. H. Aloei accidental paired t- Kesehatan
Saboe Kota sampling. test. Mengalami
Gorontalo. Jumlah Kecemasan
sampel Sedang Yaitu
yang Sebanyak
didapatkan 23(96%)
yaitu 24. Sedangkan
Analisis Responden
data yang Setelah
digunakan Diberikan
adalah uji Pendidikan

6
7

statistik Kesehatan
paired t- Mengalami
test. Penurunan
Tingkat
Kecemasan
Menjadi
Kecemasan
Ringan Yaitu
20(83%).
2 Sarinah, Pengaruh Desain • Variabel • Penelitian Hasil
(2015) pendidikan penelitian peneliti Quasy- penelitian
kesehatan menggunak • Rancang experiment menunjukkan
terhadap an an one al design sebelum
tingkat kuantitatif group • Responden diberikan
Kecemasan dengan pretest- • Tempat pendidikan
dalam jenis posttest • Waktu kesehatan
menghadapi penelitian design. Mayoritas
menarche di Quasy- • Sampel tingkat
sd negeri experiment diambil kecemasan
Gebangsari al design secara dalam
03 genuk dengan purposiv kategori panik
semarang. rancangan e sebanyak
one group samplin (33,3%),
pretest- g sesudah
posttest Diberikan
design. pendidikan
Sampel kesehatan
diambil mayoritas
secara tidak cemas
purposive sebanyak
sampling (36,1%) dan
sehingga Hasil uji

7
8

diperoleh statistik
sampel 36 didapatkan
Responden. (p=0,000).
Ada pengaruh
tingkat
kecemasan
dalam
menghadapi
menarche
(menstruasi
pertama)
sebelum dan
sesudah
diberikan
pendidikan
kesehatan
3 Kurniawan Pengaruh Penelitian • Variabel • Desain Hasi
(2013). pendidikan ini dependen eksperime penelitian ada
kesehatan merupakan • Variabel n semu pengaruh yang
pre operasi penelitian independ (quasi signifikan
terhadap kuantitatif en experimen antara tingkat
tingkat dengan • Rancanga t) kecemasan
kecemasan desain n Responde sebelum dan
pada eksperimen penelitian n sesudah
pasien pre semu ini ialah • Pengambil diberikan
operasi (quasi one an sampel pendidikan
hernia di experiment) group dilakukan kesehatan
rsud dengan pretest dengan pada pasien
kudus. rancangan posttes metode pre operasi
penelitian accidental hernia
ini ialah sampling skrotalis yaitu
one group • Responde dengan p

8
9

pretest n value = 0,000


posttest dan • Tempat < α (0,05).
pengambila • Waktu Rekomendasi
n sampel yang dapat
dilakukan diberikan
dengan adalah agar
metode perawat dapat
accidental melaksanakan
sampling pendidikan
yaitu kesehatan
berjumlah secara
15 orang. berkelanjutan
pada setiap
pasien yang
akan
dilakukan
tindakan
operasi.
4 Taufik Pengaruh Penelitian • Variabel • Responden
P-Value 0,0 Hasi P-Value ≤
Ismail, Pendidikan Ini peneliti • Tempat 0,5 Dari Taraf
(2015) Kesehatan Termasuk • Penelitia • Waktu Nyata Α =
Tentang Dalam n 0,05 Artinya
Perawatan Penelitian Eksperi Terdapat
ICU-ICCU Kuantitatif men Pengaruh
Terhadap Dengan • Desain Yang
Kecemasan Desain penelitio Signifikan
Keluarga Penelitian ne Pemberian
Pasien Di Eksperimen Group Tindakan
Rumah tal One Pre Post Pendidikan
Sakit Group Pre Test Kesehatan
Umum Post Test Design Tentang
Daerah Dr. Design Perawatan

9
10

Soehadi Dengan 30 Pasien Di


Prijonegoro responden ICU-ICCU
Sragen Terhadap
Tingkat
Kecemasan
Yang Dialami
Keluarga
Pasien
5 Setyowinarni Pengaruh Jenis • Variabe • Jenis Hasil
dkk, (2016) pendidikan penelitia l penelitian penelitian
kesehatan n ini peneliti kuantitatif menunjukkan
terhadap adalah • Instrum dengan p value =
tingkat kuantitat en rancangan 0.001, artinya
kecemasan if peneliti penelitian terdapat
pasien dengan an pretest- pengaruh
kanker rancang berupa posttest pendidikan
payudara an satuan with kesehatan
menghadapi penelitia acara control terhadap
kemoterapi n pembel • Pendekata tingkat
di Instalasi pretest- ajaran n Cross kecemasan
Rawat Jalan posttest (SAP) Sectional pasien kanker
RSUP Dr. with • Kuesio • Pengambil payudara
Kariadi control ner an sampel menghadapi
Semarang menggu dengan kemoterapi
nakan teknik pertama kali
pendeka total di Instalasi
tan sampling Rawat Jalan
waktu • Tempat RSUP Dr.
cross- • Waktu Kariadi
sectional • Responde Semarang.
. Teknik n
samplin

10
11

g dalam
penelitia
n ini
menggu
nakan
total
samplin
g
dengan
sampel
sebanya
k 30
respond
en

11
12

BAB II

TINJUAN PUSTAKA

1. KONSEP KECEMASAN
1) Definisi
Ansisetas merupakan responden emosional dan penilaian individu yang
subjektif yang dipengaruhi oleh alam baah sadar dan belum diketahui secara
khusus faktor penyebabnya (Lestari, 2015)

Ansietas adalah perasaan was-was, khawatir,atau tidak nyaman seakan-


akan akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman Ansietas berbeda
dengan rasa takut. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang
berbahaya, sedangkan ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian
tersebut (Keliat, 2012).

Ansietas yaitu ketegangan yang tinggal secara samar-samar karena merasa


takut pada hampir sebagian besar waktunya dan cenderung beraksi secara
berlebihan terhadap stres yang ringan sekalipun (Bandiyah & Lukluk 2011).

2) Etiologi
a. Faktor predisposisi
Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang
yang dapat menimbulkan kecemasan (Hawari, 2007).
Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa :
1) Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan
dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau
situasional
2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan
baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan
yang menimbulkan kecemasan pada individu
3) Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidak mampuan individu
berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan

12
13

4) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidak berdayaan untuk mengambil


keputusan yang berdampak terhadap ego
5) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman
terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu
6) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress
akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang
dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam
keluarga
7) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respon
individu dalam berespon terhadap konflik dan mengatasi kecemasan
8) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan
yang mengandung benzodizepin, karena benzodizepin dapat menekan
neurotransmiter gama amino butyric acid (GABA) yang mengontrol
aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan
kecemasan.

b. Faktor Presipitasi
Stressor presipitasi adalah ketegangan dalam kehidupan yang dapat
mencetuskan timbulnya kecemasan. Stressor presipitasi kecemasan
dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
1) Ancaman terhadap intregitas fisik.Ketegangan yang mengancam integritas
fisik yang meliputi :
a) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem
imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya
hamil).
b) Sumber eksternal meliputi paparan terhadap infeksi virus dan
bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak
adekuatnya tempat tinggal
2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber eksternal dan internal
a) Sumber internal, kesulitan dalam berhubungan interpersonal
dirumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru.
Berbagai ancaman terhadap intergritas fisik juga dapat mengancam
harga diri.

13
14

b) Sumber eksternal: kehilangan orang yang dicintai, perceraian,


perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya (Eko
Prabowo, 2014).

3) Tanda Dan Gejala kecemasan


Hawari (2007), menyebutkan bahwa keluhan-keluhan yang sering
ditemukan oleh orang yang mengalami ansietas antara lain :

1. cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah


tersinggung.
2. merasa tegang, tidak tenang, gelisa, mudah terkejut.
3. takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
4. gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
5. ganguan konsentrasi dan daya ingat
6. keluhan-keluahan somatik, misalnya rasa sakit pada otot tulang,
pendengaran berdenging tinitus (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas,
gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, dan sakit kepala.

4) Penyebab Kecemasan
Menurut Hudak & Gallo (2008) penyebab yang paling umum dari
kecemasan (Ansietas) adalah :
a. Kecemasan dialami saat terdapat suatu ancaman ketidak berdayaan atau
kurang pengendalian.
b. Perasaan terisolasi dapat dikurangi dengan mengajak pasien berbicara
tentang pengobatan dan penyentuhannya saat keadaan yang menakutkan.
c. Timbulnya stimulus termasuk hal yang mengancam keamanan individu.
Penerimaan di unit perawatan kritis secara daramatid menyakinkan
pasien dan keluarga bahwa keamanan mereka pada semua tingkat secara
hebat terancam.
Penyebab kecemasan (Ansietas) adalah kejadian yang dapat menimbulkan
kecemasan. Ansietas terjadi bila ada :
a. Ancaman ketidak berdayaan.
b. Kehilangan kendali.

14
15

c. Perasaan kehilangan fungsi dan harga diri.


d. Kegagalan membentuk pertahanan.
e. Perasaan terisolasi.
f. Takut mati.

5) Proses Terjadinya Kecemasan


Menurut Stuart (2012), kecemasan dialami secara subjektif dan
dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan berbeda dengan rasa takut,
yang merupakan penilaian intelektual terhadap bahaya, kecamasan merupakan
respon emosional terhadap penilaian tersebut. Kecemasan diperlukan untuk
bertahan hidup, tetapi tingkat kecemasan yang berat dapat tidak sejalan dengan
kehidupan dan dapat menyebabkan kelemahan dan kematian. Kecemasan pada
individu dapat menberikan motivasi untuk mencapai suatu tujuan dan merupakan
sumber penting dalam usaha untuk memelihara keseimbangan hidup.

6) Rentan Respon Kecemasan

Gambar Rentan Respon Kecemasan 2.1

Menurut Dalami (2008), tingkat kecemasan dibagi menjadi empat yaitu :


a. Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari yang
menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan
persepsi. Tanda dan gejala antara lain: persepsi dan perhatian meningkat,
waspada, mampu mengatasi situasi bermasalah dapat mengintegrasikan
pengalaman masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang.

15
16

b. Kecemasan Sedang
Pada tingkat ini individu lebih memfokuskan hal penting saat ini dan
mengesampingkan yang lain, sehingga mempersempit lahan
persepsinya. Tanda dan gejala dari kecemasan sedang yaitu persepsi
agak menyempit secara selektif, tidak perhatian tetapi dapat
mengarahkan perhatian.

c. Kecemasan Berat
Pada tingkat ini lapangan persepsi individu sangat menurun dan
cenderung memusatkan perhatian pada hal-hal yang kecil, semua prilaku
ditujukan untuk mengurangi kecemasan, individu tersebut mencoba
memusatkan perhatian pada lahan lain dan memerlukan banyak
pengarahan.
d. Panik
Pada tingkat ini lapangan persepsi individu sudah sangat menyempit dan
sudah terganggu sehingga tidak dapat mengendalikan diri lagi dan tidak
dapat melakukan apa-apa walaupun telah diberi pengarahan. Pada tahap
ini lapangan persepsi menyempit dan tidak dapat berpikir logis.

7) Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS)


Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS/SRAS) merupakan kuesioner
baku dalam bahasa inggris yang dirancang oleh William WK Zung.
Kemudian kuesioner ini telah dialih bahasakan ke dalam bahasa indonesia
dan dijadikan sebagai alat pengukur kecemasan yang sudah teruji validitas
dan reliabilitasnya (Nursalam, 2013). Hasil uji validitas tiap pertanyaan
kuesioner dengan nilai terendah 0,663 dan tertinggi adalah 0,918 (Nasution,
et al., 2013) Suatu pertanyaan dikatakan valid jika r hitung > r tabel
sedangkan jika r hitung < r tabel artinya pertanyaan tidak valid. Tingkat
signifikansi yang digunakan 5% atau 0,05 (Hidayat, 2007).
Dalam SAS ada 20 item pernyataan Setiap pernyataan memiliki skor
dari 1 hingga 4 yang dinilai berdasarkan freskuensi dan durasi gejala yang
muncul penilaian untuk pernyataan negatif dan positif 1: Sangat Jarang, 2:
kadang-kadang, 3: sering, 4: selalu. Dengan rentang penilaian 20-80 (Zung-

16
17

Self Anxiety rating Scale dalam ian mcdowel, 2006) dengan pengelompokan
antara lain :
1. Skor 20-44 : kecemasan ringan
2. Skor 45-59 : kecemasan sedang
3. Skor 60-74 : kecemasan berat
4. Skor 75-80 : kecemasan panik
Penggunaan Zung Self-rating Anxiety Scale pada penelitian ini dikarenakan
reliabilitas yang dapat dipercaya, telah teruji keasliaan dan keterandalannya serta
dipergunakannya skala ini secara luas dalam menilai tingkat kecemasan.
Peneliti tidak melakukan uji validitas dan reliabilitas karena kuesioner yang di
adobsi merupakan kuesioner baku dan di jadikan sebagai alat pengukur
kecemasan yang valid dan reliabel (Nursalam, 44 2013). Nilai validitas terendah
0,663 dan tertinggi adalah 0,918 sedangkan hasil uji reliabilitas diperoleh nilai
alpha sebesar 0,829 (Nasution, et al., 2013).

8) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan


Tidak semua kecemasan dapat dikatakan bersifat patologis ada juga
kecemasan yang bersifat normal Dibawah ini adalah faktor- faktor yang
mempengaruhi tingkat kecemasan menurut Rufaidah (2009), yaitu :

1) Usia
bahwa umur muda lebih muda menderita stress dari pada umur tua.

2) Keadaan Fisik
Kelemahan fisik dapat melemahkan kondisi mental individu
sehingga memudahkan timbulnya kecemasan.

3) Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial adalah salah satu faktor yang dapat


mempengaruhi kecemasan individu. Jika individu tersebut berada
pada lingkungan yang tidak baik, dan individu tersebut
menimbulkan suatu perilaku yang buruk, maka akan menimbulkan

17
18

adanya berbagai penilaian buruk dimata masyarakat. Sehingga dapat


menyebabkan munculnya kecemasan.

4) Trauma atau konflik


Munculnya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi
individu, dalam arti bahwa pengalaman-pengalaman emosional atau
konflik mental yang terjadi pada individu akan memudahkan
timbulnya gejala-gejala kecemasan.

5) Tingkat Pendidikan
tingkat pendidikan seseorang berpengaruh dalam memberikan
respon terhadap sesuatu yang datang baik dari dalam maupun dari
luar. Orang yang memppunyai mempunyai pendidikan tinggi akan
respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang berpendidikan
lebih rendah atau mereka yang tidak berpendidikan. kecemasan
adalah respon yang dapat dipelajari.Dengan demikian pendidikan
yang lebih rendah menjadi faktor penunjang terjadinya kecemasan.

6) Tingkat Penetahuan
pengetahuan yang rendah mengakibatkan seseorang mudah
mengalami stress. ketidaktahuan terhadap sesuatu hal dianggap
sebagai tekanan yang dapat mengakibatkan krisis dan dapat
menimbulkan kecemasan. Stress dan kecemasan dapat terjadi pada
individu dengan tingkat pengetahuan yang rendah, disebabkan
karena kurangnya informasi yang diperoleh.

9) Bentuk-Bentuk Kecemasan
Menurut Gunarsa, (2008), bentuk kecemasan itu dalam dua tingkat yaitu :
a. Tingkat Psikologis
Kecemasan yang berwujud sebagai gejala-gejala kejiwaan, seperti
tegang, bingung, khawatir, perasaan tidak menentu dan sebagainya.
b. Tingkat Fisiologis

18
19

Kecemasan yang sudah mempengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala


fisik, terutama pada fungsi sistem syaraf, misalnya tidak dapat tidur,
jantung berdebar-debar, gemetar, perut mual, dan sebagainya.

10) Kecemasan Pada Pemasangan Kateter Urin


Menurut penelitian (Riyadi, 2006) menyatakan bahwa banyak pasien merasa
cemas, takut akan rasa nyeri dan ketidak nyamanan dalam menghadapi
kateterisasi urin. Mereka terlihat emosional dalam menghadapi tindakan-tindakan
maupun perawatan, terlebih yang berhubungan dengan daerah urogenital, dimana
ketika kateter masuk ke dalam tubuh. Perawat bertanggung jawab tidak hanya
pada penampilan tindakan kateterisasi yang benar, tetapi juga memberi
pendidikan untuk menghilangkan kecemasan tersebut, karena perawat profesional
adalah perawat yang mampu bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya
berdasarkan pada ilmu.

2. KATETER URIN
1) Definisi

Kateterisasi urine adalah tindakan memasukkan alat berupa selang karet


atau plastik melalui uretra ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan urine
(Hooton et al, 2010).
Menurut Hooton et al (2010), jenis – jenis pemasangan kateter urine
terdiri dari kateter indwelling, kateter intermitten, dan kateter suprapubik. Kateter
indwelling biasa juga disebut retensi kateter/folley kateter indwelling yang dibuat
sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kandung kemih. Kateter
indwelling adalah alat medis yang biasanya disertai dengan penampungan urine
yang berkelanjutan pada pasien yang mengalami dysfungsi bladder. Kateter jenis
ini lebih banyak digunakan pada perawatan pasien akut dibanding jenis lainnya
(Newman, 2010). Kateter intermitten digunakan untuk jangka waktu yang pendek
(5-10 menit) dan klien dapat diajarkan untuk memasang dan melepas sendiri.
Kateter suprapubik kadang-kadang digunaka untuk pemakaian secara permanent.

19
20

Cara memasukan kateter dengan jenis ini dengan membuat sayatan kecil diatas
suprapubik.

2) Tujuan Pemasangan Kateter Urine Indwelling


Penggunaan kateter urine indwelling dengan tujuan untuk menentukan
perubahan jumlah urine sisa dalam kandung kemih setelah pasien buang air kecil,
memintas suatu obstruksi yang menyumbat aliran urine, menghasilkan drainase
pasca operatif pada kandung kemih, daerah vagina atau prostat, dan
memantau pengeluaran urine setiap jam pada pasien yang sakit berat (Hooton et
al, 2010; Makic et al, 2011).

3) Ukuran Kateter Urin


Ukuran kateter uretra ditentukan dalam satuan charrière (ch). Charrière
adalah ukuran lingkar luar dari kateter dalam milimeter dan setara dengan tiga kali
diameter. Jadi kateter 12 ch memiliki diameter 4 mm. Semakin besar ukuran
kateter, semakin besar dilatasinya. 12 ch biasanya cocok untuk pria dan wanita.
Diameter uretra adalah sekitar 6 mm, ini setara dengan ukuran 16 ch kateter. Hal
ini perlu untuk diketahui karena memiliki implikasi untuk kenyamanan pasien.

Potensi kateter yang kebesaran meliputi:

1. Rasa sakit dan ketidaknyamanan.


2. Terjadinya ulkus akibat tekanan, yang dapat mengarah ke pembentukan
striktur.
3. Penyumbatan saluran paraurethral.
4. Pembentukan abses.
5. Bypassing - kebocoran uretra.
Prinsip dasarnya adalah memilih kateter dengan ukuran terkecil yang
diperlukan dalam menjaga drainase yang memadai. Jika urine yang dikeluarkan
diperkirakan bersih/jernih, kateter 12 ch harus dipertimbangkan. Ukuran kateter
yang lebih besar mungkin diperlukan jika terdapat puing-puing atau gumpalan di
dalam urin (Brockop & Marrie, 2006).

20
21

4) Dampak Pemasangan Kateter Urin


Pemasangan kateter merupakan tindakan invasif, menimbulkan nyeri dan
dapat menimbulkan komplikasi permanen, maka pemasangannya harus melalui
persetujuan tertulis (informed consent). Kateterisasi juga dapat menimbulkan
infeksi pada uretra dan buli-buli, oleh karena itu harus dilakukan secara aseptik
(Anonim, tth), perhatian juga harus diberikan pada pasien yang terpasang kateter
untuk memastikan agar setiap pasien yang berada dalam kondisi kebingungan
tidak melepaskan kateter tanpa disadari pada saat balon retensi mengembang,
karena kejadian ini akan menyebabkan perdarahan dan trauma yang cukup luas
pada uretra (Brunner & Suddarth, 2006).

5) Indikasi Pemasangan Kateter Urine


Kateterisasi sementara digunakan pada penatalaksanaan jangka panjang
klien yang mengalami cidera medulla spinalis, degenerasi neuromuscular, atau
kandung kemih yang tidak kompeten, pengambilan spesimen urin steril,
pengkajian residu urin setelah pengosongan kandung kemih dan meredakan rasa
tidak nyaman akibat distensi kandung kemih (Perry & Potter, 2005). Menurut
Hidayat (2006) Kateterisasi sementara diindikasikan pada klien yang tidak
mampu berkemih 8-12 jam setelah operasi, retensi akut setelah trauma uretra,
tidak mampu berkemih akibat obat sedative atau analgesic, cidera pada tulang
belakang, degerasi neuromuscular secara progresif dan pengeluaran urin residual.
Kateterisasi menetap (foley kateter) digunakan pada klien paskaoperasi uretra dan
struktur di sekitarnya (TUR-P), obstruksi aliaran urin, obstruksi uretra, pada
pasien inkontinensia dan disorientasi berat (Hidayat, 2006).

6) Kontra Indikasi Pemasangan Kateter Urine

Pemasangan kateter urine tidak diindikasikan untuk mencegah jatuh,


manajemen pasien yang mengalami kerusakan status mental, untuk mencegah
kerusakan kulit, atau untuk menperoleh spesimen urine (Gould et al, 2009;
Hooton et al, 2010).

21
22

7) Jenis-Jenis Pemasangan Kateter


Menurut ( Brockop & Marrie, 2006 ) Jenis – jenis pemasangan kateter
urine terdiri dari :
1. Indewelling catheteter yang biasa disebut juga dengan retensi kateter /
folley cateter – indewelling catheter dibuat sedemikian rupa sehingga tidak
mudah lepas dari kandung kemih.
2. Intermitten catheter yang digunakan untuk jangka waktu yang pendek ( 5-
10 menit ) dan klien dapat diajarkan untuk memasang dan melepas sendiri.
3. Suprapubik catheter kadang - kadang digunakan untuk pemakaian secara
permanent. Cara memasukan kateter dengan jenis ini dengan membuat
sayatan kecil diatas suprapubik.
Saat ini ukuran kateter yang biasanya dipergunakan adalah ukuran dengan
kalibrasi French ( FR ) atau disebut juga Charriere ( CH ). Ukuran tersebut
didasarkan atas ukuran diameter lingkaran kateter tersebut misalkan 18 FR atau
CH 18 mempunyai diameter 6 mm dengan patokan setiap ukuran 1 FR = CH 1
berdiameter 0,33 mm. Diameter yang diukur adalah diameter pemukaan luar
kateter. Besar kecilnya diameter kateter yang digunakan ditentukan oleh tujuan
pemasangan kateter urine tersebut untuk klien dewasa,ukuran kateter urine yang
biasa digunakan adalah 16-19 FR. Kateter yang mempunyai ukuran yang sama
belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena perbedaan bahan dan
jumlah lumen pada kateter tersebut.
Bahan kateter dapat berasal dari logam, karet, latteks dengan lapiasan
silicon. Perbedaan bahan kateter menentukan biokompabiliti kateter didalam buli-
buli sehingga akan mempengaruhi daya tahan kateter yang terpasang di buli - buli.

8) Resiko Pemasangan Kateter Urine

Penggunaan kateter urine indwelling yang lama dapat mengakibatkan


resiko terjadinya infeksi saluran kemih, trauma pada uretra, blokade kateterisasi
dari enkrustasi atau penumpukan kalsium (Hooton, 2010).

22
23

9) Perawatan Kateter Urine

Perawatan kateter urine indwelling harus diperhatikan agar dapat mencegah


terjadinya bakteriuria. Tindakan asepsis yang ketat diperlukan saat memasang
kateter dan perawatan kateter. Asepsis adalah hilangnya mikroorganisme patogen
atau penyebab penyakit. Teknik asepsis adalah prosedur yang membantu
mengurangi resiko terkena infeksi (Potter & Perry, 2009). Tindakan mencuci
tangan mutlak harus dilakukan sebelum dan setelah penanganan kateter, selang
dan kantong penampung urine (Potter & Perry, 2009).
Perawatan kateter urine adalah perawatan yang dilakukan menggunakan
teknik aseptik dengan membersihkan permukaan kateter urine dan daerah
sekitarnya agar bersih dari kotoran, smegma, dan krusta yang terbentuk dari
garam urine (Gilbert, 2006). Berdasarkan rekomendasi AACN (2009) bahwa
bagian dari perawatan kateter urine indwelling adalah hygiene rutin dua kali
sehari di daerah perineal dan kateter urine. Pembersihan dapat dilakukan pada
saat mandi sehari-hari atau saat pembersihan daerah perineum setelah pasien
buang air besar. Bagian dari perawatan kateter urine indwelling juga termasuk
pembersihan daerah meatus uretral. Pembersihan kateter urine yang rutin dapat
menghilangkan krusta dari permukaan kateter sebelah luar (Makic et al, 2011).
Perawatan kateter urine juga harus dilakukan dengan mempertimbangkan
uretral terhindar dari trauma, erosi, dan peningkatan ketidaknyamanan pada uretra
pasien. Perawatan perineal yang dilakukan dengan rutin menggunakan sabun dan
air lebih baik dibandingkan dengan menggunakan cairan pembersih antiseptik,
krim, losion, atau minyak (Makic et al, 2011). Penggunaan bahan antiseptik
seperti povidone iodine dan chlorhexidine pada perawatan kateter indwelling yang
rutin dilakukan akan meningkatkan resiko infeksi melalui iritasi meatus uretra
(Wilson et al, 2009). Povidone iodine 10% dapat menyebabkan kulit dan mukosa
iritasi dan terbakar (Al-Farsi, Oliva, Davidson, et al, 2009). Chlorhexidine dapat
mengakibatkan kulit dan mukosa iritasi, terbakar dan reaksi anaphylaksis (Ebo,
Bridts, & Stevens, 2004).
Membersihkan adalah menghilangkan semua kotoran dari objek dan
permukaan (Rutala & Weber, 2005). Umumnya membersihkan melibatkan
penggunaan air dan tindakan mekanik dengan sabun atau produk enzimatik.

23
24

Sabun harus mempunyai pH alami (Potter & Perry, 2009). Sabun adalah
surfactant yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan yang bekerja
dengan bantuan air. Surfactant adalah singkatan dari surface active agents yaitu
bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan sehingga
mempermudah penyebaran dan pemerataan pembersihan kotoran (Robertson &
Brown, 2011). Kriteria sabun yang direkomendasikan untuk perawatan kateter
adalah sabun yang mengandung pH netral kulit normal (5,5 – 5,8) agar tidak
menyebabkan iritasi. Kriteria tersebut dapat dipenuhi pada jenis sabun yang
rendah surfactant. Idealnya kandungan sabun jenis rendah surfactant adalah non
alkaline, bebas lonelin, tanpa parfum dan pH netral. (Robertson & Brown, 2011).
Penggunaan kateter urine indwelling dengan sistem drainase tertutup juga
merupakan upaya untuk mencegah terjadinya kolonisasi bakteri. Untuk mencegah
kontaminasi pada sistem tertutup, selang tidak boleh dilepas dari kateter. Tidak
boleh ada bagian dari kantong penampung urine atau selang drainase yang
terkontaminasi. Sistem drainase urine tertutup yang dirakit sebelumnya dan steril
sangat penting dan tidak boleh dilepas sebelum, selama atau sesudah pemasangan
kateter (Hooton, 2010; Makic et al, 2011). Kantong penampung urine tidak boleh
ditinggikan diatas kandung kemih pasien karena tindakan ini akan mengakibatkan
aliran urine terkontaminasi dalam kandung kemih dari kantong penampung
tersebut akibat gaya berat. Urine tidak boleh dibiarkan berkumpul di dalam selang
karena aliran urine yang bebas harus dipertahankan untuk mencegah infeksi.
Kantong penampung tidak boleh menyentuh lantai. Kantong penampung harus
dikosongkan setiap 8 jam sekali melalui katup drainase (Makic et al, 2011).
Kateter urine tidak boleh dilepas dari selang untuk mengambil
sampel urine. Kateter tidak boleh dibiarkan menetap lama di saluran kemih. Jika
harus menetap lama, kateter harus diganti secara periodik sekitar seminggu
sekali dan pemasangan tidak boleh dihentikan tanpa latihan kandung kemih.
Penanganan dan manipulasi kateter yang tidak cermat oleh pasien dan staf rumah
sakit harus dihindari (Smeltzer & Bare, 2008). Ketika kateter dilepas, pasien
harus dapat melakukan urinasi dalam waktu 8 jam. Jika urineasi tidak bias
dilakukan, maka kateterisasi dilakukan dengan kateter yang lurus. Jika terlihat
tanda-tanda infeksi, spesimen urine harus segera diambil untuk pemeriksaan

24
25

kultur (Smeltzer & Bare, 2008).

3. KONSEP PENKES (PENDIDIKAN KESEHATAN)


1) Definisi Pendidikan Kesehatan
Pendidikan menurut departemen kesehatan RI (2004) adalah upaya untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk,
dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri mereka sendiri serta
mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial
budayasetempat dan dukungan kebijakan publik yang berwawasan kesehatan
(Kholid, 2014)
Menurut World Health Organization (WHO) pendidikan kesehatan adalah
proses membuat seseorang mampu meningkatkan dan memperbaiki kesehatan
pada diri sendiri. Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang
dinamis, bukan hanya sebuah proses transfer materi dan teori, tetapi juga
perubahan perilaku kesadaran dari dalam diri individu, kelompok, masyarakat
sendiri (Mubarok, 2007).

2) Tujuan Pendidikan Kesehatan


Menurut UU kesehatan No. 23 tahun 2007, tujuan dari pendidikan
kesehatan yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga
produktif secara ekonomi maupun secara sosial, pendidikan kesehatan disemua
program kesehatan baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan,
gizi masyarakat, pendidikan kesehatan maupun program kesehatan lainnya.
Sedangkan tujuan pendidikan kesehatan menurut mubarok (2007) agar
seseorang mampu:
1) Menetapkan masalah pada kebutuhan individu sendiri.
2) Memahami apa yang bisa individu itu lakukan terhadap permasalahannya
dengan sumber daya yang dimiliki individuitu dan ditambah dengan
dukungan dari luar.
3) Memutuskan rencana kegiatan yang paling tepat agar dapat mewujudkan
hidup yang sehat dan kesejahteraan masyarakat.

25
26

Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan


Ruang lingkup pendidikan dapat di lihat dari berbagai dimensi
1) Dimensi sasaran, pendidikan dikelompokan menjadi
a) Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu
b) Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
c) Pendidikan kesehatan kesehatan masyarakat dengan sasaran kelompok
2) Dimensi tempat pelaksanaan, pendidikan kesehatan dapat berlangsung di
berbagai tempat, dengan sendirinya sasaran berbeda misalnya:
a) Pendidikan disekolah sasaran siswa.
b) Pendidikan kesehatan dengan sasaran pasien atau keluarga pasien.
c) Pendidikan kesehatan ditempat tempat erja dengan sasaran buruh atau
karyawan yang ada ditempat kerja tersebut.
3) Dimensi tingkat pelayanan pendidikan kesehatan, pendidikan kesehatan
dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat lima tingkat pencegahan (five
lafe prevention).
a) Health promotion atau peningkatan kesehatan yaitu peningkatan status
kesehatan masyarakat melalui beberapa kegiatan seperti penyuluhan
kesehatan pengadaan rumah sehat dan pendidikan kesehatan.
b) General and specific protection (perlindungan umum dan khusus
merupakan usaha kesehatan untuk memberi perlindungan secara khusus
atau umum kepada seseorang atau masyarakat).
c) Early diagnosis and prompt treatmen (diagnosis dini dan pengobatan
segera atau adekuat), usaha ini dilakukan karena rendahnya pengetahuan
dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan penyakit, maka
penyebabnya sulit mendeteksi penyakit-penyakit yang terjadi dalam
masyarakat.
d) Disability limition atau pembatasan kecacatan, kurang pengertian dan
kesadaran masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas
karena menganggap semunya baik-baik saja.
e) Rehabilititation atau rehabiltasi, setelah sembuh dari suatu penyakit
tertentu , seseorang kadang-kadang orang menjadi cacat. Untuk bisa
memulihkan cacatnya tersebut diperlukan latihan-latihan tertentu.

26
27

3) Prinsip- Prinsip Pendidikan Kesehatan


Menurut Notoatmodjo (2007), prinsip-prinsip dalam pendidikan kesehatan yaitu:
1) Belajar mengajar berfokus pada klien, pendidikan klien adalah hubungan
klien yang berfokus pada kebutuhan klien yang spesifik.
2) Belajar mengajar bersifat menyeluruh (holistik), dalam memberikan
pendidikan kesehatan harus dipertimbangkan klien secara kesehatan tidak
hanya berfokus pada muatan spesifik saja.
3) Belajar mengajar negosiasi, pentingnya kesehatan klien bersama-sama
menentukan apa yang telah diketahui dan apa yang penting untuk
diketahui.
4) Belajar mengajar yang interaktif, adalah suatu proses yang dinamis dan
interaktif yang melibatkan partisipasidari petugas kesehatan dan klien.
5) Pertimbangan umur dalam pendidikan kesehatan, untuk menumbuhkan
seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran sehingga
perlu di pertimbangkan umur klien dan hubungan dengan proses belajar
mengajar.

4) Sasaran Pendidikan Kesehatan


Menurut Lestari (2015), Sasaran Pendidikan Kesehatan yaitu :
1) Sasaran Primer
Sasaran primer adalah sasaran utama san menjadi sasaran langsung atas
upaya melakukan pendidikan kesehatan atau promosi kesehatan.
2) Sasaran Skunder
Sasaran skunder terdiri atas tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat.
Diberikannya pendidikan kesehatan pada kelompok ini akan dapat
mempercepat penerimaan informasi kesehatan sehingga perubahan
perilaku kesehatan yang diharapkan dapat tercapai.
3) Sasaran Tersier
Sasaran tersier adalah para pembuat keputusan, pengambil kebijakkan baik
ditingkat pusat maupun ditingkat daerah diharapkan dengan keputusan
dari kelompok ini akan berdampak kepada perilaku kelompok sasaran
sekunder yang kemudian pada kelompok primer.

27
28

5) Media Pendidikan Kesehatan


Menurut Maulana (2009), Media pendidikan adalah alat bantu pendidikan
kesehatan, berdasarkan fungsinya sebagai penyalur pesan-pesan kesehatan, media
ada dua macam yaitu :
1) Media elektronik
Media elektronik adalah suatu media bergerak dan dinamis, dapat dilihat
dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat bantu
elektronik. Macam-macam media tersebut adalah :
a) Televisi, penyampaian pesan kesehatan melalui media televisi dalam
bentuk sandiwara, forum diskusi atau tanya jawab dalam masalah
kesehatan.
b) Radio, penyampaian pesan kesehatan melalui radio dapat dalam
bentuk obrolan, sandiwara, ceramah, radio spot.
c) Video film, penyampaian pesan kesehatan melalui film dalam bentuk
lebih ke arah sasaran secara masal, sifatnya menghibur namun
bermkna edukatif.
d) Slide : digunakan untuk menyampaikan pesan/informasi kesehatan.
2) Media cetak
a) Foto yang menggambarkan informasi kesehatan.
b) Poster bentuk media cetak yang berisi pesan atau informasi kesehatan,
c) Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah di dalamnya
membahas masalah kesehatan, hal-hal yang berkaitan dengan
kesehatan.
d) Flif chart (lembar balik), medi apenyampaian pesan kesehatan dalam
bentuk lembar balik.
e) Flayer (selembaran) bentuk seperti leaflet tetapi tidak berlipat.
f) Booklet suatu media untuk menyampaikan pesan kesehatan dalam
bentuk buku, baik erupa tulisan maupun gambar.
g) Leaflet bentuk penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui
lembaran yang dilipat.

28
29

6) Pendidikan kesehatan tentang Kateter Urin


Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan
perilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan. Artinya, pendidikan
kesehatan berupaya agar masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara
memelihara kesehatan mereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal–hal
yang merugikan kesehatan mereka dan kesehatan orang lain, kemana seharusnya
mencari pengobatan jika sakit, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007). Pemberian
pendidikan kesehatan semacam ini juga harus diterapkan pada pasien yang akan
menjalani pemasangan kateter. Secara mental pasien harus dipersiapkan untuk
mengahadapi pemasangan kateter karena selalu ada rasa cemas dan takut
Kecemasan adalah respon emosional terhadap suatu penilaian, dalam hal ini
kecemasan yang berhubungan dengan pemasangan kateter (Wartonah, 2006).
a. Pemasangan Katater Urin
Cara pemasangan kateter pada pria dan wanita (Brockop & Marrie, 2006)
yaitu
1. pria :
tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh pasien sambil
membuka orificum uretra externa,tangan kanan memegang kateter dan
memasukkanya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan pasien menarik
napas dalam,kaji kelancaran pemasukkan kateter jika ada hambatan
berhenti sejenak kemudian dicoba lagi, jika masih ada hambatan
kateterisasi di hentikan.masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5-
7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.
2. wanita :
jari jari tangan kiri membuka labia minora, dan tangan kanan melakukan
desinfektan. Desinfektan dimulai dari atas (klitoris), meatus lalu kearah
bawah menuju rektum. lakukan sebanyak 3 kali. Depper terakhir ditinggal
diantara labia minora dibawah klitoris untuk mempertahankan
penampakan meatus uretra.

29
30

b. Hal yang harus dilakukan pasien ketika pemasangan kateter


Pasien telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan
yang akan dilakukan, Posisi yang biasa dilakukan adalah berbaring di
tempat tidur atau diatas meja perawatan khususnya bagi wanita kurang
memberikan rasa nyaman karena panggul tidak ditopang, sehingga untuk
melihat meatus urethra menjadi sangat sulit. Posisi sims / lateral dapat
dipergunakan sebagai posisi berbaring / miring sama baiknya tergantung
posisi mana yang dapat memberikan perasaan nyaman bagi klien dan
perawat saat melakukan tindakan kateterisasi urine. (Setyawa, 2012).

c. Lama pemasangan kateter urin


Kateter urine tidak boleh dilepas dari selang untuk mengambil
sampel urine. Kateter tidak boleh dibiarkan menetap lama di saluran
kemih. Jika harus menetap lama, kateter harus diganti secara periodik 3-7
hari sekali dan pemasangan tidak boleh dihentikan tanpa latihan kandung
kemih (bladder training), (Karya, 2013).

30
31

B. Kerangka Teori
gambar 3.0 kerangka teori
penelitian

Kateter Urin
Kelompok besar
Faktor yang
• Ceramah
mempengaruhi
• Seminar
Kelompok kecil Trauma Kateter komplikasi kecemasan
Urin Dan Saluran
• Diskusi Kemih 1.faktor internal
Kelompok
1. usia
• Brain Storming
• Snow Balling 2. Pengalaman
kecemasan
• Role Play 3. Aset Fisik
• Simulation 2. Faktor Eksternal
Game Tingkat
1. Pengetahuan
Kecemasan
1. Ringan 2. Pendidikan
2. Sedang 3. Financial/Material
3. Berat
4. Keluarga
4. Panik
5. Obat
6. Sosial Budaya
Pendidikan penurunan
Suport.
Kesehatan kecemasan

Gunarsa (2008), (Potter & Perry, 2005 & Notoatmodjo 2007).

31
32

BAB III

A. KERANGKA KONSEP

Kerangka konsep dalam penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara
konsep satu terhadap konsep yang lain dari masalah yang ingin dinteliti
(Notoadmodjo, 2007). Berdasarkan tunjauan pustaka yang telah dikemukankan
sebelumnya, kerangka konsep ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
pendidikan kesehatan terhadap kecemasan pada pasien yang akan melakukan
pemasangan kateter urin. maka kerangka konsep yang dapat peneliti jelaskan
adalah sebagai berikut:

Gambar 3.1 Variabel Penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen

Tingkat Kecemasan Pada


Pendidikan kesehatan Pasien Yang Akan
Dilakukan Pemasangan
Kateter Urin

Variabel dalam penelitian ini adalah dependen dan independen.


Pengukuran variabel pada penelitian ini menggunakan skala Numerik;
interval

32
33

B. Definisi Operasional

Definisi Alat skala


No Variabel Cara Hasil ukur
Operasional Ukur Ukur
Ukur
1 Pendidikan Pemberian informasi, SAP check Tercapainya
kesehatan pengetahuan dan list pendampingan
sikap dengan SAP pendidikan
dan waktu yang kesehatan sesuai
diperlukan 35 menit. SAP

2 Tingkat Ketidak mampuan Check (ZSAS) Zung- Ordinal


kecemasan mengatasi situasi list Self Anxiety
pemasangan dengan adaptif, rating Scale
kateter menimbulkan Wawancara dengan skor
kecenderungan Terendah 20 dan
untuk berespon tertinggi 80

C. Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh Pendidikan kesehatan terhadap penurunan tingkat kecemasan


pada pasien yang dilakukan pemasangan kateter urin di ruang bedah dan ruang
kebidanan di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang tahun 2017.

33
34

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini menggunakan pre-eksperimen dengan
rancangan one-group pretest-postest (Pra-pasca test dalam satu kelompok)
secara kuantitatif. Ciri dari penelitian ini adalah mengungkapkan hubungan
sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek. Kelompok subjek
diobservasi sebelum dilakukan intervensi kemudian diobservasi lagi setelah
intervensi (Nursalam, 2009).
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Menurut Setiadi (2012), populasi merupakan wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Adapun populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien yang dilakukan pemasangan kateter urin di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang sebanyak 35 responden.
2. Sampel
Sampel penelitian adalah bagian dari populasi, yang diambil
dengan menggunakan cara-cara tertentu (Wasis, 2008). Sampling adalah
proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi
(Nursalam, 2009). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah purposive sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan
cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki
Peneliti (tujuan/masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut
dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya.
Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah:
Kriteria inklusi merupakan karakteristik umum subjek penelitian dari suatu
populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2009)

34
35

a. Kriteria Inklusi
1) Semua pasien yang akan melakukan pemasangan kateter urin
2) Kesadaran compos mentis
3) Dapat berkomunikasi dengan baik
4) Bersedia menjadi responden
5) Tidak mengalami masalah pendengaran
6) Tidak menglalami masalah penglihatan

d. Kriteria Ekslusi :
a. Pasien tidak kompeten dengan kueisioner
b. pasien yang mempunyai riwayat pemasangan kateter

Rumus pengambilan sampel (Setiadi, 2007) :


N
n
1  N (d 2 )
Keterangan :
n = Besar sampel
N = Besar populasi
d = Tingkat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan (0,1)
b. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah :
N = 665 : 12
= 55
N
n
1  N (d 2 )
55
n
1  55(0,12 )
55
n
1,55
n = 35,48 = 35 responden.

35
36

C. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Lokasi Penelitian
Penelitian Ini Dilakukan Di Ruang Rawat Inap Bedah Dan Ruang
Kebidanan di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang Tahun 2017.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19 April sampai 25 April 2017.

D. Tehnik Pengumpulan Data


a. Tahap administrasi
1) Permohonan izin dari pihak program studi ilmu keperawatan untuk
melakukan studi pendahuluan untuk pengambilan data awal di Rumah
Sakit Muhammadiyah Palembang tahun 2017
2) Permohonan izin pengambilan data awal kepada direktur Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang (surat izin terlampir)
3) Peneliti mengumpulkan data primer dan sekunder di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang
4) Peneliti sendiri yang melakukan intervensi
5) Peneliti mempersiapkan materi dan konsep yang akan mendukung
penelitian
b. Tahap Pelaksanaan
Adapun Prosedur Penelitian Yang Dilakukan Sebagai Berikut:

1) Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan ke kepala ruangan Bedah Dan


Ruang Kebidanan
2) Peneliti melakukan permohonan izin ke kepala ruangan Bedah Dan
Ruang Kebidanan
3) Setelah mendapat izin dari kepala ruangan, peneliti akan melakukan
pemilihan responden sesuai dengan kriteria insklusi
4) Kemudian peneliti memberikan informed consent pada responden
untuk di tandatangani sebagai bukti persetujuan menjadi responden
5) Kemudian peneliti melaksanaan pengukuran kecemasan 1 jam sebelum
intervensi dengan skala cemas zung-self anxiety rating scale (zsas)

36
37

6) Peneliti memberikan leaflet kateter urin kepada klien untuk memahami


maksud dari pemasangan kateter urin
7) Kemudian peneliti melaksanaan pendidikan kesehatan terhadap pasien
yang akan dilakukan pemasangan kateter urin 35 menit
8) 1 jam kemudian peneliti melakukan pengukuran sesudah intervensi
dengan skala cemas zung-self anxiety rating scale (zsas).

E. Instrumen Penelitian
Instrumen ini menggunakan kuesioner dan Variabel tingkat kecemasan
menggunakan Zung-Self Anxiety rating Scale (ZSAS). Zung Self-Rating
Anxiety Scale (SAS/SRAS) merupakan kuesioner baku dalam bahasa inggris
yang dirancang oleh William WK Zung. Kemudian kuesioner ini telah dialih
bahasakan ke dalam bahasa indonesia dan dijadikan sebagai alat pengukur
kecemasan yang sudah teruji validitas dan reliabilitasnya (Nursalam, 2013).
Hasil uji validitas tiap pertanyaan kuesioner dengan nilai terendah 0,663 dan
tertinggi adalah 0,918 (Nasution, et al., 2013) Suatu pertanyaan dikatakan
valid jika r hitung > r tabel sedangkan jika r hitung < r tabel artinya
pertanyaan tidak valid. Tingkat signifikansi yang digunakan 5% atau 0,05
(Hidayat, 2007).
Dalam SAS ada 20 item pernyataan Setiap pernyataan memiliki skor
dari 1 hingga 4 yang dinilai berdasarkan freskuensi dan durasi gejala yang
muncul penilaian untuk pernyataan negatif dan positif 1: Sangat Jarang, 2:
kadang-kadang, 3: sering, 4: selalu. Dengan rentang penilaian 20-80 (Zung-
Self Anxiety rating Scale dalam ian mcdowel, 2006) dengan pengelompokan
antara lain :
5. Skor 20-44 : kecemasan ringan
6. Skor 45-59 : kecemasan sedang
7. Skor 60-74 : kecemasan berat
8. Skor 75-80 : kecemasan panik
Penggunaan Zung Self-rating Anxiety Scale pada penelitian ini dikarenakan
reliabilitas yang dapat dipercaya, telah teruji keasliaan dan keterandalannya serta
dipergunakannya skala ini secara luas dalam menilai tingkat kecemasan.

37
38

Peneliti tidak melakukan uji validitas dan reliabilitas karena kuesioner yang di
adobsi merupakan kuesioner baku dan di jadikan sebagai alat pengukur
kecemasan yang valid dan reliabel (Nursalam, 44 2013). Nilai validitas terendah
0,663 dan tertinggi adalah 0,918 sedangkan hasil uji reliabilitas diperoleh nilai
alpha sebesar 0,829 (Nasution, et al., 2013).

F. Pengolahan dan Analisis data


1. Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo (2010), agar analisis data yang dikumpulkan
dapat menghasilkan informasi yang benar, data harus dikelolah dengan
melakukan beberapa proses tahapan yaitu:

a. Editing, yaitu peneliti telah melakukan pengecekan isian formulir atau


kuesioner yang diisi oleh responden dan peneliti telah memastikan
jawaban yang ada di kuesioner sudah lengkap, jelas, relevan, dan
konsisten.
b. Coding, yaitu peneliti telah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari
responden kedalam kategori sehingga data yang di entry kedalam
program komputer dalam bentuk nilai skor yang telah di totalkan dari
hasil total skor kuesioner. untuk jenis kelamin 1. laki-laki 2. jenis
kelamin permpuan. Untuk tingkat pendidikan 1. rendah (TIDAK
SEKOLAH/SMP), 2. Pendidikan sedang (SMA), 3. Pendidikan tinggi
(PT).
c. Sorting, yaitu peneliti telah mensortir dengan memilih atau
mengelompokan data menurut jenis yang telah dikehendaki (klasifikasi
data) dan peneliti telah mengklasifikasikan data sesuai dengan jenis
permasalahan yang sudah dirumuskan.
d. Entry Data, yaitu peneliti telah mengklasifikasi jawaban-jawaban yang
sudah diberikan kode kategori dalam bentuk nilai total skor dari
kuesioner kemudian data dari responden dimasukan dalam tabel
dengan cara menghitung frekuensi, persentase, menguji hipotesa data
melalui pengolahan komputer.

38
39

e. Cleaning, yaitu peneliti telah melakukan pembersihan data dan telah


memastikan bahwa data sudah benar dan peneliti telah melakukan
pemeriksaan kembali untuk memastikan tidak terdapat missing.
f. Mengeluarkan informasi, peneliti telah menyesuaikan data dengan
tujuan penelitian yang dilakukan dan data telah disajikan sesuai
dengan tujuan permasalahan yang sudah dirumuskan.

2. Analisis Data
Setelah melalui tahapan tersebut, data kemudian diuji dengan
menggunakan hubungan antar variabel dengan analisis statistic, menurut
Notoadmodjo (2012) analisis suatu penelitian melalui tahap-tahap sebagai
berikut :

a. Analisis Univariat
Untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap
varuabel penelitian. Data dianalisis dan menghasilkan distribusi
frekuensi dan persentase dari tiap variabel yang diteliti yaitu tingkat
kecemasan pasien yang akan dipasang kateter uretra di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang tahun 2017.

b. Analisis Bivariat
Metode statistik yang digunakan oleh peneliti untuk mengetahui
pengaruh dari intervensi terhadap variabel penelitian yaitu untuk
mengetahui adakah pengaruh pendidikan kesehatan (variabel
independen) terhadap tingkat kecemasan (variabel dependen) untuk
mencari keefektifan dari pendidikan kesehatan (variabel independen)
terhadap tingkat kecemasan (variabel dependen) menggunakan uji
dependent T-test. Dengan ketentuan bila nilai p value < (0.05), maka
tidak ada hubungan antara dua variabel yang diuji dan Bila nilai p
value > (0,05), maka ada hubungan antara dua variabel yang diuji.
Sedangkan Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran
distribusi suatu data apakah normal atau tidak. Uji normalitas data

39
40

berupa uji Kolmogorov-Smirnov digunakan apabila besar sampel >50


sedangkan uji Shapiro-Wilk digunakan apabila besar sampel < 50 .

Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke


dalam bentuk p dan diasumsikan normal. Jika nilainya di atas 0,05
maka distribusi data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas, dan jika
nilainya di bawah 0,05 maka diinterpretasikan sebagai tidak normal
(Dahlan, 2008).

G. Etika Penelitian
1. Informed Consent
Peneliti telah melakukan Informed Consent terhadap responden
dengan menjelaskan tujuan dan manfaat dilakukakannya penelitian ini
sehingga responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian, serta
dampak yang terjadi selama dalam pengumpulan data. Pada penelitian
ini responden yang bersedia untuk diteliti responden telah
menandatangani lembar persetujuan tersebut dan responden yang tidak
bersedia peneliti telah menghormati hak-hak responden.

2. Anonimity (tanpa nama)


Peneliti telah memberikan jaminan dalam penggunaan subjek
penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama
responden pada lembar kuesioner dan hanya menuliskan inisial pada
lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang telah disajikan.
3. Confidentiality (Kerahasiaan)
Peneliti telah memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian,
baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi
yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya dan peneliti tidak
membeberkan identitas responden, hanya kelompok data tertentu yang
dilaporkan pada hasil riset.
4. Protection from disconfort
Peneliti telah menjaga kenyamanan responden dengan meyakinkan
responden bahwa partisipasinya dalam penelitian atau informasi yang

40
41

telah diberikan tidak dipergunakan dalam hal-hal yang dapat merugikan


responden dalam bentuk apapun.
5. Beneficience
Penelitian yang telah dilakukan memang mampu memberikan
manfaat bagi kehidupan manusia sehingga dapat memberikan manfaat
berupa pengetahuan tentang cara mengatasi kecemasan dengan
pendidikan kesehatan sebelum dilakukan pemasangan kateter urin.
6. Justice
Peneliti telah menerapkan prinsip keadilan, terutama terhadap
subjek maupun partisipan dalam penelitian yang telah dilakukan dengan
cara memberikan imformasi ,perlakuan dan komunikasi yang sama
kepada semua responden.

41
42

BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Profil Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang 2017


a) Sejarah Singkat

Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang adalah Amal Usaha


Persyarikatan Muhammadiyah yang diresmikan tanggal 10 Dzulhijjah 1417 H
/ 18 April 1997 oleh Gubernur Propinsi Sumatera Selatan (Bapak H. Ramli
Hasan Basri) bersama Ketua PP Muhammadiyah (Bapak Prof. DR. Amien
Rais) merupakan salah satu amal usaha dibawah langsung Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah (PWM) SumSel.

b) Visi
Terwujudnya rumah sakit yang profesional dalam pelayanan dan berkarakter
islam.

c) Misi
1. Memberikan pelayanan, pendidikan dan penelitian kesehatan secara
profesional, modern dan Islami.
2. Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien
3. Mewujudkan citra sebagai wahana ibadah dan pengemban dakwah amar
ma’ruf nahi munkar dalam bidang kesehatan.
4. Menjadi pusat persemaian kader Muhammadiyah dalam bidang pelayanan,
pendidikan dan penelitian kesehatan.

d) Moto
Melayani sebagai Ibadah dan Dakwah

42
43

e) Derikasi

Direktur dr. Pangestu Widodo, MARS

Wakil Direktur Pelayanan .Rizal Daulay, Sp.OT, MARS


Medis

Wakil Direktur Administrasi Amidi, SE, M.Si


& Keuangan

Wakil Direktur SDM, AIK & Mustofa, S.Ag, M.Pd.I


Kerjasama

(sumber profil rumah sakit muhammadiyah, 2017)

f) sumber daya manusia

Jenis ketenagaan jumlah

Pegawai tetap 451 orang

Calon pegawai 18 orang

Pegawai khusus 3 orang

Pegawai Harian 11 orang

Pegawai Kontrak 51 orang

Pegawai Outsourching : 29 orang

jumlah 563 orang

(sumber profil rumah sakit muhammadiyah, 2017)

43
44

g) menurut jenis ketenagaan

Jenis ketenagaan jumlah

Spesialis tetap 8 orang

Spesialis tamu 50 orang

Dokter umum tetap 8 orang

Dokter umum tamu 11

Dokter gigi tetap 1 orang

Dokter gigi tamu 2 orang

Perawat dan bidan 241

Tenaga kesehatan lainya 81 orang

Tenaga non medis 222 orang

(sumber profil rumah sakit muhammadiyah, 2017)

h) Fasilitas Pelayanan
a. instalasi gawat darurat 24 jam
b. instalasi rawat jalan
c. instalasi rawat inap
d. instalasi perawatan intensif

i) Pelayanan Penunjang
a. Instalasi Farmasi
b. Konsultasi Gizi
c. Kamar Operasi
d. Echocardiography
e. Laboratorium
f. Treadmill
g. Radiologi
h. USG/ECG

44
45

i. Fisioterapi
j. Ambulance

j) Pasilitas Pelayanan Umum


a. Musholla Asy-Syifa’
b. Bank dan ATM
c. Kantin Umum
d. Koperasi Pegawai
e. Area parkir kendaraan yang luas
f. Bimbingan Rohani Pasien
g. Penyelenggaraan Jenazah
h. Pengelolaan ZIS
(sumber profil rumah sakit muhammadiyah, 2017)

B. Gambaran Ruang Instalasi Rawat Inap Bedah dan Kebidanan Rumah


Sakit Muhammadiyah Palembang

1. Ruang Instalasi Rawat Inap Bedah


Instalasi Rawat Inap Bedah Ibnu Rusyd Rumah Sakit Muhammadiyah
Palembang terbagi atas 6 ruangan yaitu 2 ruangan kelas I dengan masing-
masing ruangan memiliki 3 tempat tidur, dan 2 ruangan kelas II dan 2 ruangan
kelas III dengan masing-masing ruagn terdiri dari 8 tempat tidur.
Manajemen keanggotaan di ruang instalasi rawat inap bedah terdiri dari
Kepala Ruangan, Ketua Tim, Penanggung Jawab Shift, Tim Pelaksana 1 dan 2
dengan jumlah keseluruhan perawat yaitu 18 orang perawat.

2. Ruang Kebidanan
Ruang Perawatan Kebidanan Siti Walidah adalah ruang perawatan pasien
pindahan dari kamar bersalin dan ruangan Recovery Room (RR) yang merawat
pasien dengan diagnosa post partum dan gangguan reproduksi lainnya.
Ruangan keperawatan kebidanan terdiri dari 5 ruangan perawatan yang terdiri
dari 1 kamar perawatan melahirkan, 1 kamar perawatan bayi, dan 4 kamar

45
46

perawatan post partum yang terdiri dari kelas I, kelas II, dan Kelas III A dan B.
Dengan jumlah tempat tidur keseluruhan adalah 31 tempat tidur.
Tenaga kesehatan berjumlah 8 orang yang terdiri dari Kepala Ruangan,
Ketua Tim, Penanggung Jawab Shift, Perawat Pelaksana.

C. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di Rumah Sakit


Muhammmadiyah Palembang Tahun 2017, penelitian dilakukan pada tanggal
19-26 April 2017 data yang dikumpulkan berjumlah 35 responden. Hasil
penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel dan teks sebagai berikut :
Dari hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan
persentase, dari hasil penelitian pengaruh pendidikan kesehatan terhadap
tingkat kecemasan pada pasien yang akan dipasang kateter urin di Ruang
kebidanan dan ruang bedah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang
diperoleh gambaran sebagai berikut :

46
47

1. Karakteristik Responden

1) Usia
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi karakteristik berdasarkan umur
responden sebelum dilakukan pemasangan kateter urin di
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang (n=35)

total Mean Median SD MIN-MAX


35 32,00 31,294 5,594 21-42

Dari tabel 5.1 dari 35 responden yang ada didapatkan hasil bahwa
usia termuda adalah 21 tahun dan usai tertua adalah 42 tahun dengan rata-
rata usia responden adalah 32 tahun serta standar deviasi 5,594.

2) Jenis Kelamin Dan Pendidikan


Tabel 5.2

Distribusi karakteristik Responden berdasarkan Jenis


kelamin dan Tingkat pendidikan di Rumah Sakit
Muhammadiyah

Palembang
No Karakteristik Frekuensi Persentase
N (%)
1. Jenis Kelamin
1. Laki-laki 3 8,6
2. Perempuan 32 91,4

Total 35 100
2. Pendidikan
1. TS 1 2,9
2. pendidikan rendah
(SD) 1 2,9

47
48

3. pendidikan rendah
(SMP) 17 48,6
4. pendidikan
menengah ( SMA) 13 37,1
5. pendidikan tinggi
(PT) 8,6
3
Total 35 100

Berdasarkan Tabel 5.2, hasil analisis ditribusi frekuensi sebagian besar


pasien yang akan dilakukan pemasangan kateter urin berjenis kelamin
perempuan yaitu sebesar (91,4%) responden, dan berdasarkan tingkat
pendidikan sehingga sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan
SMP yaitu sebesar (48,6%)

2. Analisa Univariat
Dari hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi
dan persentase dari hasil penelitian sebelum dan sesudah dilakukan
intervensi, terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang akan
dilakukan pemasanagan kateter urin di Ruang bedah dan Ruang
kebidanan di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang diperoleh
dalam bentuk tabel & gambaran grafik sebagai berikut

48
49

a. Rata-Rata Tingkat Kecemasan pasien Sebelum dan


Sesudah Dilakukan pendidikan kesehatan
grafik 5.3
Tingkat Kecemasan pasien Sebelum dan Setelah Diberikan
Pendidikan Kesehatan ditinjau dari Analisa Univariat (n=35)
Dengan gambaran distribusi dalam bentuk grafik yaitu sebagai
berikut :
Hasil grafik 5.3 Distribusi data skor tingkat kecemasan responden

penkes terhadap kecemasan


50
40
30
20
10
0
sebelum sesudah
selisih 44.97 34.66

Berdasarkan grakik 5.3, nilai rata-rata tingkat kecemasan sebelum


delakukan pendidikan kesehatan 44,97 sedangkan nilai rata-rata tingkat
kecemasan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan 34,66.

3. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk menguji hipotesa penelitian, yaitu
untuk menentukan ada atau tidaknya pengaruh pendidikan kesehatan
terhadap kecemasan pasien sebelum dilakukan pemasangan kateter urin
sebelum menganalisa menggunakan analisa bivariat, Data ini diuji
normalitasnya. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Statistik paired
sample T-test

49
50

a. Deskripsi data hasil uji normalitas


Sebelum dilakukan transfrom data tidak normal dengan nilai 𝜌 <
0,05 atau 0,27 dan setelah dilakukan transfrom data didapatkan hasil
normal dengan nilai 𝜌 0,87, Maka hasil ini bisa menggunkan Uji
normalitas Shapiro-Wilk karena jumlah data ≤ 50. Berdasarkan Uji
normalitas didapatkan nilai 𝜌 value sebelum dilakukan pendidikan
kesehatan 𝜌 = 0,124 dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan nilai
𝜌 = 0,87. Maka dengan demikian dapat disimpulkan kedua Nilai pada
sebelum dan sesudah dilakukan pemasangan kateter urin nilai 𝜌 > 0,05
dengan demikian dapat dikatakan kedua data terdistribusi normal.

b. pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap pasien yang Akan


dilakukan Pemasangan Kateter Urin

Tabel 5.4
Perbedaan rata-rata tingkat kecemasan sebelum dan sesudah
diberikan pendidikan kesehatan pada pasien yang dilakukan
pemasangan kateter urin.

Tingkat n Mean S.D P


Kecemasan
Sebelum 35 44,97 8,115 0,000
Sesudah 35 34,66 3,298

Dari tabel 5.4 analisa bivariat diatas hasil uji statistik didapatkan
nilap𝜌= 0,001, Maka dapat diartiakan ada pengaruh sebelum dan
sesudah pendidikan kesehatan terhadap kecemasan pada pasien yang
akan dilakukan pemasangan kateter urin di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang tahun 2017.

50
51

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Dalam bab ini menguraikan tentang tingkat kecemasan pasien yang akan
dilakukan pemasangan kateter urin, yang diperoleh melalui pengumpulan data
menggunakan kuesioner, skala tingkat kecemasan terhadap 35 responden pasien
pasien yang akan dilakukan pemasangan kateter urin di ruang bedah dan ruang
keidanan Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Berdasarkan karakteristik
responden, distribusi usia yang paling tinggi adalah usia dewasa muda yaitu 32
tahun (72,42%), jenis kelamin terbanyak adalah perempuan (91,4%), pendidikan
terbanyak adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) (48,6%) dapat dilihat pada
Tabel 5.1
Rerata skor tingkat kecemasan pre test intervensi adalah 44,97 dengan
Standar Deviasi 8,115. Sedangkan nilai rata-rata tingkat kecemasan postintervensi
34,66 dengan Standar Deviasi 3,2985.

1. Karakteritik Responden
Berbagai faktor pendukung lainnya seperti usia, jenis kelamin, pendidikan,
juga berpengaruh terhadap tingkat kecemasan yang dirasakan responden.
Pengaruh usia pada tingkat kecemasan dan toleransi kecemasan tidak diketahui
secara luas. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar
responden penelitian berada pada rentang usia dewasa muda (72,42%), di usia
tersebut adalah usia yang produktif dimana mereka aktif mencari jati diri di
dalam kehidupan dan pekerjaannya dan disaat usia aktif mereka harus
menghentikan segala aktifitasnya karena sakit, sehingga timbul kecemasan
(tomb, 2003).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Christianawati ( 2007
), bahwa dari 86 responden terdapat 43 % responden yang mengalami
kecemasan pada usia 21 - 35 tahun.

51
52

Tabel 5.2 menunjukan bahwa sebagian besar responden adalah berjenis


kelamin perempuan (91,4%), Hasil analisis responden berdasarkan tingkat
pendidikan menunjukan bahwa sebagian besar responden berpendidikan Sekolah
Menengah Pertama (SMP) (48,6%), Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi
seorang individu untuk memecahkan masalah atau persoalan yang dihadapi.
Seseorang yang berpendidikan tinggi akan mudah untuk mengambil keputusan
dan berespon terhadap stimulus (pieter & lubis, 2010).

2. Analisa Univariat

a. Tingkat Kecemasan Sebelum Diberikan Pendidikan Kesehatan


Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa rerata tingkat kecemasan sebelum
dilakukan pendidikan kesehatan berada pada tingkat kecemasan sedang. Rerata
skor tingkat kecemasan adalah 44,97.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mubarak (2010), dengan
hasil bahwa gambaran tingkat kecemasan pasien sebelum dilakukan pemasangan
kateter urin di RSI Sultan Agung Semarang sebagian besar adalah mengalami
cemas berat dan sedang yaitu sebanyak 19 orang (63,3%).
Menurut Suliswati, et al (2005), kecemasan merupakan respon individu
terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh semua
makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian lain dari kecemasan
menurut Bandiyah dan Lukluk (2011) kecemasan yaitu ketegangan yang tinggal
secara samar-samar karena merasa takut pada hampir sebagian besar waktunya
dan cenderung beraksi secara berlebihan terhadap stres yang ringan sekalipun.
Hal ini sesuai dengan pendapat Wilkinson dan Nancy, (2011) dimana
kecemasan terjadi pula pada pasien pra bedah dengan tingkatan tertentu ringan,
sedang, maupun berat. Gejala klinis kecemasan dapat berupa frekuensi berkemih
meningkat, merasakan jantung deg-degan tidak seperti biasa, merasakan pusing.
Dari observasi yang peneliti lakukan pada pasien yang akan dilakukan
pemasangan kateter urin juga merasakan hal ini yang disebabkan karena mereka
merasa takut dan kurangnya pengetahuan tentang pemasangan kateter yang akan
dilakukan.

52
53

Menurut asumsi peneliti, dapat dilihat dari hasil penelitian ini dimungkinkan
karena belum adanya pengetahuan responden tentang prosedur, tujuan dan
manfaat dari tindakan pemasangan kateter tersebut. Adanya informasi yang
diperoleh seseorang melalui pengalaman atau cerita orang lain yang belum tentu
kebenarannya akan membuat kecemasan seseorang semakin meningkat.
Berdasarkan hal tersebut maka, perlu adanya pengetahuan yang cukup untuk dapat
mengurangi kecemasan seseorang salah satunya adalah dengan pemberian
informasi melalui pendidikan kesehatan

b. Tingkat Kecemasan Setelah Diberikan Pendidikan Kesehatan


Setelah diberikan pendidikan kesehatan responden yang mengalami cemas
sedang (44,97) menjadi cemas ringan (34,66). Hal ini terjadi karena setelah
diberikan pendidikan kesehatan responden mengajukan pertanyaan. Pertanyaan
yang diajukan pun ada yang sesuai dengan materi adapun yang menanyakan tidak
sesuai materi. Pada saat diwawancara setelah diberikan pendidikan kesehatan,
responden juga memperlihatkan respon berupa respon verbal dan non verbal.
Adapun respon verbal yakni responden mengatakan rasa takut yang dialami
sedikit berkurang, tidak khawatir lagi, tidak merasa malu, dan tidak tegang selain
itu responden juga mengatakan sudah mengerti atau sudah paham tentang
prosedur pemasangan kateter urin. Responden mengerti apa yang akan mereka
terima nantinya sebelum dilakukan pemasangan kateter urin.
Penelitian ini sesuai dengan penelitian Diyono (2014) Pengaruh
PendidikanKesehatan Pra Bedah Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pra Bedah
Di Rumah Sakit Dr. Oen Surakarta yang membuktikan bahwa nilai kecemasan
pasien pra bedah setelah diberi pendidikan kesehatan menunjukkan penurunan
dengan penurunan nilai rata-rata kecemasan menjadi 9,00.
Menurut Notoatmodjo, (2003) dimana konsep dasar pendidikan adalah suatu
proses belajar yang berarti didalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan,
perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih
matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. Dalam mencapai tujuan
tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat tidak terlepas dari kegiatan
belajar.

53
54

Hal ini sesuai dengan teori menurut Wood (1926) yang dikutip oleh Sinta
(2011), pendidikan kesehatan adalah pengalaman–pengalaman yang bermanfaat
dalam mempengaruhi kebiasaan, sikap dan pengetahuan seseorang atau
masyarakat.
Menurut Potter dan Perry (2006), pendidikan kesehatan preoperatif yang
terstruktur dapat mempengaruhi klien yang akan menjalani pembedahan memiliki
kecemasan yang lebih rendah dan menyatakan rasa sehat secara psikologis yang
lebih besar.
Menurut asumsi peneliti, bahwa Pendidikan kesehatan dapat menambah
wawasan dan informasi mengenai apa dan bagaimana proses pemasangan kateter
yang akan dialami sehingga pasien merasa lebih tenang dan siap untuk menjalani
pemasangan kateter

3. Analisa Bivariat
a. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Tingat Kecemasan Pasien
Pengaruh pendidikan kesehatan terbukti mampu menurunkan tingkat
kecemasan dapat dilihat dengan nila 𝜌 value = 0,001 yang berarti nilai p value
lebih dari 0,05 (𝜌 value > 0,05), Artinya bahwa sebanyak 35 responden
mengalami penurunan tingkat kecemasan setelah diberikan perlakuan berupa
pendidikan kesehatan tentang perawatan pasien di ruang bedah dan kebidanan
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang.
Penurunan kecemasan keluarga tersebut tidak terlepas dengan pendidikan
kesehatan yang diberikan peneliti, Penerimaan Informasi yang baik oleh pasien
menjadikan sebuah pemahaman yang positif akan hal-hal yang berkaitan dengan
kecemasan pasien sehingga menjadikan pengetahuan pasien terhadap hal yang
berkaitan dengan pemasangan kateter. Berdasarkan wawancara dengan beberapa
pasien didapatkan data bahwa sebelum dilakukan pendidikan kesehatan terkait
dengan pemasangan kateter beberapa pasien mengatakan tidak tahu banyak
tentang kateter urin. pasien masih banyak yang beranggapan bahwa pasien yang
akan dipasangan kateter urin mengalami masalah pada saluran kemih. Namun
setelah diberikan pendidikan kesehatan secara lengkap terkait dengan pemasangan
kateter urin pasien mengatakan merasa senang, lebih paham dan lebih tenang.

54
55

Mereka lebih paham khususnya kondisi penyakit dan prognosis pasien dan
pemahaman tersebut berdampak terhadap penurunan kecemasan dari keluarga
pasien (Dungio, 2014).
Selain informasi terdapat beberapa factor yang mempengaruhi kecemasan
pasien. diantaranya adalah asing dengan lingkungan, wajah baru, pertama kali
dirawat di Rumah Sakit, beserta aturanya dimana pasien dibatasi untuk dikunjungi
juga mempunyai andil terkait kecemasan pasien. Faktor ekonomi juga mempunyai
peranan penting terhadap kecemasan pasien yang mempunyai keterbatasan
ekonomi tentunya akan membuat lebih tegang. Perawatan yang lama
menimbulkan pengeluaran biaya yang tidak sedikit bagi pasien. Kecemasan akan
bertambah jika yang dirawat adalah pasien tersebut menjadi tulang punggung
ekonomi keluarga (Tri Peni, 2014).
Penelitian Burhanuddin (2011), tentang Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Fraktur Di
RSUD Dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten, yang menyimpulkan pendidikan
kesehatan dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan pengetahuan
pada pasien pre operasi fraktur.
Maka dengan demikian dapat dipahami bahwa adanya pendidikan
kesehatan terhadap pasien merupakan salah satu cara untuk mengatasi tingkat
kecemasan pasien yang akan menjalani pemasangan kateter urin. Diperoleh dari
hasil penelitian didapatkan hasil adanya penurunan tingkat kecemasan pada
responden setelah diberikannya pendidikan kesehatan tentang pengertian
pemasangan kateter urin dan prosedur pemasangan kateter urin. Diharapkan
responden dapat lebih tenang dan tahu. Sehingga responden lebih tahu untuk
pemenuhan kebutuhan fisik maupun psikologisnya, dimana dapat berdampak pada
proses penyembuhan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa adanya pendidikan
kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengatasi tingkat kecemasan
responden (Asmadi, 2014).
Maka dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan
tentang pemasangan kateter urin dapat memberikan pengaruh terhadap tingkat
kecemasan. Dengan adanya pengetahuan tentang tentang pemasangan kateter urin

55
56

dapat membantu mengurangi dampak kecemasan sebelum dilakukan tindakan


pemasangan kateter urin.

B. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini terdapat banyak keterbatasan
diantaranya yaitu pada saat penelitian khususnya pada pasien perempuan peneliti
mengalami kesulitan saat akan melakukan pendidikan kesehatan karena rata-rata
pasien perempuan menolak dikarenakan pasien mengira kalau peneliti sendiri
yang akan melakukan pemasangan kateter hal itu membuat pasien merasa tidak
nyaman dan malu, maka untuk mengatasi hal tersebut peneliti menjelaskan
kepada pasien bahwa peneliti hanya menjelaskan prosedur pemasangan kateter
bukan melakukan pemasangan kateter.

56
57

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tanggal 19 April s.d 26


April tahun 2017 di Ruang Inap Bedah dan Ruang Kebidanan Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil analisa univariat kecemasan sebelum dilakukan pendidikan
kesehatan pada pasien yang akan dilakukan pemasangan kateter urin
memiliki nilai rata-rata 44,97 (cemas sedang).
2. Hasil analisa univariat kecemasan setelah dilakukan pendidikan kesehatan
pada pasien yang akan dilakukan pemasangan kateter urin memiliki nilai
rata-rata menjadi 34,66 (cemas ringan).
3. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap kecemasan pada pada pasien
yang akan dilakukan pemasangan kateter urin dengan nilai 𝜌 value 0,001
atau 𝜌 > 0,05.

B. Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak Rumah Sakit,
pasien, institusi pendidikan maupun bagi penelitian selanjutnya, berdasarkan
kesimpulan di atas, peneliti mengajukan saran-saran antara lain :

1. Bagi Rumah Sakit


Rumah Sakit diharapkan dapat meningkatkan pendidikan kesehatan sebagai
salah satu penatalaksanaan nonfarmakologis sebagai bagian dari sebuah
proses penyembuhan. Dan perawat Akan sangat baik jika setiap pendidikan
kesehatan diberikan secara lengkap pada setiap klien karena kebutuhan
informasi adalah hak bagi klien dalam pelayanan kesehatan. Untuk responden
yang akan menjalani pemasangan kateter bisa meminta informasi kepada
perawat sehingga pasien mengerti tujuan dan manfaat dari pemasangan
kateter tersebut.

57
58

2. Bagi Institusi Pendidikan


Penelitian mengenai Keperawatan Medikal Bedah merupakan bagian yang
sangat penting dari ilmu keperawatan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka
kepada institusi pendidikan khususnya PSIK Muhammadiyah Palembang,
disarankan untuk memasukkan hasil penelitian ini pada mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah khususnya pada sub pokok bahasan cemas
sebelum dilakukan pemasangan kateter urin.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Perlu dilakukkan penelitian lanjutan dengan menggunakan kelompok
kontrol dengan jumlah sampel yang lebih banyak untuk mendapatkan hasil
intensitas cemas yang lebih akurat. Selain itu diharapkan pada mahasiswa
menggunakan, lokasi penelitiannya diperluas dan menyempurnakan dengan
metode-metode yang lain seperti Pengaruh pendidikan kesehatan terhadap
nyeri.

58
59

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Kholid. (2014). Promosi Kesehatan. Jakarta: RajaGrafindo. Almatsier,


Sunita. (2005). Prinsip Dasar Ilmu Gizi (cetakan V). Jakarta : PT.
Gramedia.
Asmadi, 2014. Konsep Dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien.Jakarta.Selemba
Medika

Al-Farsi, S., Oliva, M., Davidson, R., Richardson, S.E., & Ratnapalan, S. (2009).
Periurethral Cleaning Prior to Urinary Catheterization in Children:
Sterile Water Versus 10% Povidone-iodine. Clinical Pediatrics, 48(6),
656–660.
Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika. Aditama. Dr. Budi Anna keliat, S.
(2012). Model Praktik Keperawatan Profesional

Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing. Direja, A.H.S. 2011.


Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika. Eko Prabowo.
2014

Ahmad, Kholid. (2014). Promosi Kesehatan. Jakarta: RajaGrafindo. Almatsier,


Sunita. (2005). Prinsip Dasar Ilmu Gizi (cetakan V). Jakarta : PT.
Gramedia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi
Revisi VI. Jakarta: PT Rineka Cipta

Bandiyah, S. & Lukluk, Z.A (2011). Psikologi Kesehatan.v A. & Muhith. A.


(2011). Dasar – dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta. S alemba Medika.
Ulumuddin .

Bandiyah, Siti dan Lukluk Zuyina. Psikologi Kesehatan. Yogyakarta : Nuha


Medika, 2011.

Batara, Panji. 2010. Solusi Cerdas Mengatasi Cemas. Jakarta: ST Book.

Burhanuddin (2011), Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Penurunan


Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Fraktur Di RSUD
Dr.Soeradji Tirtonegoro Klaten.

Brockopp, Doroty Y., & Tolsma-Hastings, Marie. T (2006). Dasar-Dasar Riset


Keperawatan (Fundamentals of Nursing Research) Edisi 2. Jakarta:
EGC.

59
60

Christianawati, D (2007), Hubungan komunikasi traupeutikdengan tingkat


kecemasan pasien dalam menghadapi tindakann keperawatandi ruang
inap RS panti wilasa citarum semarang, skripsi tidak di publikasikan,
program studi ilmu keperawatan fakultas kedokteran universitas
diponegoro semarang

Corey,Gerald.2007.Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Semarang:


IKIP Semarang Press.

Dalami, E, dkk. (2008). Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah Psikososial,


Jakarta: Trans Info Media.

Dahlan MS (2009) Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam penelitian
kedokteran dan kesehatan. Ed. 2, Jakarta: Penerbit SalembaMedika.

Tomb, DA., (2003). Buku Saku Psikiatrik, Jakarta : EGC

Diyono, Herminto, B., & Pertiwi, D.H. (2014). Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Pra Bedah terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pra Bedah di Rumah
Sakit Dr. Oen Surakarta. Surakarta: AKPER Panti Kosala.

Desai DG, Liao KS, Cevallos ME. Silver or Nitrofurazone Impregnation of


Urinary Catheters Has a Minimal Effect on Uropathogen Adherence. J
Urol. 2010; 184(6): 2565–71

Ebo (2004). Anaphylaxis to An Urethral Lubricant: Chlorhexidine as The Hidden


Allergen. Acta Clinical Belgica, 59(6), 358–360

Elina Rharisti Rufaidah. (2009). Efektifitas Terapi Kognitif terhadap Penurunan


Tingkat Kecemasan pada Penderita Asma di Surakarta. Tesis. Fakultas
Psikologi-UGM.

Ferry Zulfianto, (2011). Prosedur Pemasangan Kateter. Program Studi S1


Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Insan Cendekia Medika
Jombang 2011

Fitriani, Sinta, 2011. Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Gould, CV., Umscheid, CA., Agarwal, RK, Kuntz, G., Pegues, DA., & Health
Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC) (2009).
Guideline for Prevention of Catheter Associated Urinary Tract Infection.

60
61

Gilbert (2006). Taking a Midstream Specimen of Urine. Nursing Times. 102. 18.
22-23

Gokula RR, Hickner JA, et al. (2004). American Journal of Epidemiology- Infect
Control.;32(4):196-9., Vol 135, Issue 3 291-301. USA : Oxford
University Press

Gunarsa. (2008). Psikologi Perawatan. Jakarta: Gunung Mulia.

Hawari. D (2007). Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa, Skizofrenia. Jakarta


: FKUI

Hudak & Gallo (2008). Keperawatan Kritis Edisi 6. Jakarta; EGC

Hidayat, (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan


Proses Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Hooton, T.M., et. al. (2010). Diagnosis, Prevention, and Treatment of Catheter
Associated Urinary Tract Infection in Adults: 2009 International
Clinical Practice Guidelines from the Infectious Disease Society of
America, Guidelines Catheter Urinary. 625-663.

Kusyati Eni.2006. Ketrampilan Dasar dan Prosedur Laboratorium: EGC

Lestari, T. (2015) Kumpulan Teori Untuk Kajian Pustaka Penelitian Kesehatan.


Yogyakarta: Medical Book.

Indrayani, A & Agus Santoso (2012), Hubungan pendidikan kesehatan dengan


kecemasan orang tua pada Anak hospitalisasi. Skripsi. Universitas
Diponegoro: Semarang

Indra S, ferlina. 2002. hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat


kecemasan pasien. http//:digilib.itb.ac.id/gdl. diakses pada tanggal 27
februari 2017

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses
Belajar Mangajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Notoatmodjo, soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta:


Rineka Cipta.

61
62

Notoatmodjo. 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka


Cipta, 2011.

Mete dkk, 2015. Gambaran Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Rumah
Sakit Adi Husada Kapasari Surabaya

Makic, M.B., Vonrueden, K.T., Rauen, C.A., & Chadwick, J. (2011). Evidence-
Based Practice Habits: Putting More Sacred Cows Out to Pasture. Critical
Care Nurse. Vol 31. No.2. 38-6

Maulana, Heri D. J. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC

Newman, DK., (2010) Prevention and Management of Catheter Associated


UTIs. Independently Developed by McMahon Publishing. Infectious
Disease Special Edition. 13-20.

Madigan, E & Neff, D. (2003). Care of Patients with Long-Term Indwelling


Urinary Catheters. Online Journal of Issues in Nursing
www.nursingworld.org/ojin/hirsh/topic2/tpc2_1.htm
Maslim, R. 2007, Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta :
PT Nuh Jaya Zieve , David. 2012. Generalized Anxiety Disorder [Online]
Diakses tanggal 11 April 2012. Availabvlefrom :
www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0001915/

Mavika Tarika Nusrat (2005), Hubungan Antara Lama Waktu Terpasang Kateter
Dengan Derajat Ketidaknyamanan (Nyeri) Pada Pasien Yang Terpasang
Kateter Uretra Di Bangsal Rawat Inap Rsu Pku Muhammadiyah Tahun
2005. skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta

Mosby: Elsevier Inc Doughty D, Kisanga J (2010) Regulatory Guidelines for


Bladder Management in Long-term Care. Journal Wound Ostomy
Continous Nursing.

Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses
Belajar Mangajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

62
63

Newman, DK., (2010) Prevention and Management of Catheter Associated


UTIs. Independently Developed by McMahon Publishing. Infectious
Disease Special Edition. 13-20.

Maulana, Heri, d.j, Promosi Kesehatan (Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran


EGC,. 2009)

Nursalam. (2009). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu


keperawatan pedoman skripsi, tesis Dan instrument penelitian
keperawatan Ed.II. Jakarta: Selemba Medika.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Notoatmodjo, soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Jakarta:
Rineka Cipta.

Notoatmodjo. 2007. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005a). Fundamental of Nursing. (7th ed.). Vol.1.

. (2009b). Fundamental of Nursing. (7th ed.). Vol.2. Mosby:


Elsevier Inc

Potter, P.A; & Perry, A.G. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan.
Jakarta: EGC.

Rizqi Subandini, (2014). Konsep Dasar Praktik Klinik. diakses pada 1 maret
2017.Availabvle from :
http://bidansrikandidunia.blogspot.co.id/2014/04/pemasangan-
kateter_24.html

Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta:


Balitbang Kemenkes RI

Robertson, K., & Brown, P. (2011) Mild Soaps and Radiotherapy: A Survey of
the UK Public to Identify Brands of Soap Considered Mild and Analysis of
These to Ascertain Suitability for Recommendation in Radiotherapy
Departments. European Journal of Cancer Care , 20 (3). 315-320.

63
64

Rutala W., & Weber DJ. (2005) Centers for Disease Control and Prevention,
Hospital Infection Control Practice Advisory Committee: Guideline for
Desinfection and Sterilization in Health Care Facilities.
http://www.cdc.gov. 2 Februari 2017

Setiadi. (2007). Konsep dan penulisan riset keperawatan. Yogyakarta : Graha


Ilmu

Setiadi.(2012).Konsep & penulisan dokumentasi asuhan keperawatan.Yogyakarta


: Graha Ilmu.

Smeltzer & Bare (2008). Textbook of Medical Surgical Nursing Vol.2.


Philadelphia: Linppincott William & Wilkins.

Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta:EGC.

Suliswati, et al. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan. Jakarta : EGC, (2005)

Stuart C C (2002) Assessment, supervision and support in clinical practice: a


guide for nurse, midwives and other health professionals
,Edinburgh:Churchill Livingstone

Riyadi, M.E. 2006. Hubungan Antara Lama Waktu Terpasang Kateter dengan
Kecemasan pada Klien yang Terpasang Kateter Urethra di Bangsal Rawat
Inap Dewasa Kelas III RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Karya Tulis
Ilmiah. Tidak Dipublikasikan. UMY: Yogyakarta.

Suliswati. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC. Susiaty.


(2008).

Videbeck, Sheila L. (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Wartonah. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi Ke-
3. Jakarta: Salemba Medika.

Willson, M., et al.(2009). Nursing interventions to reduce the risk of catheter-


associated urinary tract infection: Part 2. J Wound Ostomy Continence
Nurs.36(2):137-154

Wilkinson, Judith M., Ahern dan Nancy R. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.
Edisi IX. Alih bahasa Esty Wahyuningsih, et al. Jakarta : EGC, 2011

64
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Pendidikan kesehatan mengenai tindakan pemasangan kateterisasi


urin

Sasaran : Klien yang akan dilakukan pemasangan kateter urin

Tempat : Ruang inap bedah Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang

Waktu : 35 menit

A. Tujuan

1. Tujuan Umum

memberikan pendidikan kesehatan mengenai tindakan pemasangan


kateterisasi

2. Tujuan Khusus

a. Menjelaskan maksud, tujuan, Prosedur Pemasangan, serta


Lamanya Kateter Urin yang harus di ganti dengan yang baru
b. pendidikan kesehatan yang akan dilakukan
c. Terlaksananya pendidikan kesehatan tentang kateterisasi urin

B. Materi

1. Penjelasan, tujuan, Prosedur Pemasangan, serta Lamanya Kateter


Urin. kegiatan yang akan dilakukan yaitu penkes tentang
kateterisasi

2. memberikan pendidikan mengenai prosedur pemasangan kateter


urin
C. Alat Dan Bahan

1. Lembar kueisioner (PQSI)

2. leaflet

3. foster

D. Metode

1. Ceramah

2. Tanya Jawab

3. pendidikan kesehatan

E. Kegiatan

No Kegiatan Materi Metode Media Waktu


1 Pembukaan  Mengucapkan  Ceramah 5 menit
salam  Tanya
 Memperkenal jawab
kan diri
 Kontrak
Waktu
2 Isi  Menjelaskan  Ceramah  Lembar menit
maksud dan tanya imfromed 20 menit
tujuan jawab consent
 Memberikan  Lembar
penjelasan lembar
 Prosedur kueisioner
Pemasangan (PQSI)
kateter urin  leaflet
 menjelaskan  foster
Lamanya
Kateter Urin
yang terpasang
 memberikan
pendidikan
kesehatan
tentang
pemasangan
kateterisasi
urin
3 evaluasi  evaluasi  Tanya 5 menit
perasaan klien jawab
 tanya jawab
4 penutup  Mengucapkan  Tanya 5 menit
jawab
terima kasih
 salam penutup
■ ■ ‐ ■
”︻
①∽おい ︻ド計①け①喘 L鮎”″ げ〇︼
] OF 針 げや再ぽ”い


C‐
ないのO①計”り ︻
”口︺” ″r ∽”F減一
”わ
乙”﹃つも”● げの∽①■け” ”一
︼ ”∽
浮 ュ F ︺岸 ” F 峙湧 8 o鷺 計8

” ド0 00。
∽oC一
F 8 P ″”︹o針R F餞 暉貿 鮮 w”oL

” ①D¨″〇″ ”け”∝ ”︻
①■げQダ①” 〇鮎凛ハ い︲q F”嗜
∽00”︻” O①L一 ︻∽①F”目

FF

Ocり付
一p撃
>OC”らの∽

T︻
ぞ。
”oぃ””嘔ぃ””D ″”計Q界鴻 暉Lい の
” ①け”鮎一
りの・
く”い∞ ︻ ” 鮎”芍”計
鍮Rr
” o①”C”CO だFのp
穴げ ︻
B のぃ電 に げ”寿 ”o お ∽
寿o
︺ 〇︻
” ″”づ”∽ ∽”く一
〇p◆ F 驀 ド ぉ″∽
おき ︵ 卜豊 餞 S

内 嬌 ﹄ F 質 ”L 爾 い 0 ”鮎” 聾 8 嗜 ざ
”① ぴ”∞・
″ご ︻
鮎”ぃ り のo C●pげ ”︹鍮口 ″”一0”0︻ ”静”﹂
Ч

芍 のぃc8 0 cr”ゎ ″R一


∽F﹂づ
﹁ ﹁く ョコ Jヨ

ンぬoぃ””””∽ぃ一0簿 ツF”●●K”
りふ①D∞いけ”∽”″OLO”″
﹂︻︼
●0 0︼Q”r薇●
穴 ビ お け①L ∽”資 ″ヽ い
い① 鮎≧ ”F B5︻●OC”● C●ご ″ 昴嘔L︵

ド”●OC●” ″0曰LF

い◆ ﹁oo∞〇∽〇●∞”● ″ D鮎CD∞
①D彎卜は■一
7肖 螢爾FF
Lo 鮎注圧”D H ”∽C″″”●
● OR r

F B 警 器8 S FD∞西 o り■〇鮎“″∽︼ “Lい ① O︻oF
”け げ0吟C芍” ∽①︻ D∞ F”嗜0一
”︻
い。 〓o
いo 静▼8FF
い言″” ひ
∞口一
”︻∽
00■
”” 
  ″
”一
CR計


C Dご ″ ︻ o ①︻〇︼
“ o口︼ ①F
”降賂〓り無”︻
市Cり︼ L c喘
o質” ”F ︼
“Lbo ∽o[o〓 ヨン宍い
げ”r”い     “Lo① ∽針Qユ︻
,, 卜・
F 鐘RF″”D鮎CD∞ ″OoLF
鮎”︼
≦げD鮎いo”弊いD ″︻岸︼

〓8∞o∽
oぃ鴨8


∽〇一障 ″”D鮎CD∞   F①いLF

∽①げ①冒〓● 鮎”D ∽①︼


墜R︼

〇り の■”∽ト
〓8 一 ぃ
ぶ ”ぶ 賦 芍”∽8
計0︹”O    FoL D” 芍”鮎”
鮎”①︻”F   ”︻
”計  庁わ︼
螢RL●

”∞”喘 FC目け ︹①け”o ﹂ご F


鮎”い L鮎”庁 い
い い︺
″∽い

げ”い一C い
ソハQ眼︺ づ ①︼
”Lド
汀 B σ洋 簿撻
8 oB LF″B
O①ぃ∞0ぃ鮎注目磁︼ ″”p鮎嘔D∞
聾J 庁い口LF ∽00 ︻” い〇壼R“”

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN


PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN
YANG AKAN DIPASANG KATETER URIN
OLEH:
Desis Effendo
NIM : 05.13.071
Saya adalah mahasiswa Keperawatan Stikes Muhammadiyah Palembang.
Saya akan melakukan penelitian sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan
tugas akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan di Stikes
Muhammadiyah Palembang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien
sebelum dipasang kateter urin. Oleh karena itu saya mengharapkan kesediaan
responden untuk menjadi peserta dalam penelitian ini. Saya berharap responden
dapat kooperatif dengan intervensi yang diberikan peneliti. Saya menjamin
kerahasiaan identitas dan informasi tentang responden. Hasil dari peneitian ini,
hanya akan digunakan untuk perkembangan ilmu keperawatan.

No. Responden :
Nama Responden :
Tanda Tangan :
Tanggal :
Peneliti :
Tanda Tangan :
Lampiran 2

LEMBAR KUESIONER DATA DEMOGRAFI

Petunjuk pegisian:

a. Semua pertanyaan harus dijawab.

b. Berilah tanda (√) pada kolom yang disediakan.

c. Isilah dengan pernyataan singkat pada kolom titik-titik (………..)

d. Bila ada yang kurang dimengerti dapat ditanyakan pada peneliti.

a. Jenis Kelamin : Laki-laki

Perempuan

b. Umur : ………………………….
c. Status Perkawinan : Menikah Tidak Menikah

Duda Janda

d. Pendidikan : Tidak sekolah SD


SMP SMA Perguruan Tinggi

e. Apakah anda pernah menjalani pemasangan kateter sebelumnya :


Ya Tidak
f. Berapa kali anda menjalani pemasangan kateter urin:…………………….
Lampiran 3

ZUNG-SELF ANXIETY RATING SCALE (ZSAS)

Jawablah pernyataan dibawah ini sesuai dengan keadaan yang anda alami
pada saat ini sebelum dipasang kateter uretra, dengan memberikan tanda (√) pada
setiap kolom yang tersedia.

Sangat Kadang-
No Pernyataan Sering Selalu
Jarang kadang

1 Saya merasa lebih gugup dan cemas


dari biasanya
2 Saya merasa takut tanpa alasan
3 Saya mudah marah atau merasa panik
4 Saya merasa seperti tak berdaya
5 Saya merasa baik-baik saja dan tidak
ada sesuatu yang buruk akan terjadi
6 Tangan dan kaki saya gemetar akhir-
akhir ini
7 Saya merasa terganggu dengan sakit
kepala, leher dan nyeri punggung
8 Saya merasa lemah dan cepat lelah
9 Saya merasa tenang dan dapat duduk
dengan santai
10 Saya merasa jantung saya berdetak
dengan cepat
11 Saya terganggu karena pusing
12 Saya pingsan atau merasa seperti mau
pingsan
13 Saya dapat bernapas dengan mudah
14 Saya merasa mati rasa dan kesemutan di
jari tangan dan jari kaki
15 Saya merasa perut saya terganggu
16 Saya sering kencing
17 Tangan saya kering dan hangat
18 Wajah saya terasa panas dan kemerahan
19 Saya dapat tidur dengan mudah
20 Saya mengalami mimpi buruk

DESCRIPTIVES VARIABLES=tingkat_kecemasa■ _Pre tingkat_kecettasan_post


/STATISTICS=MEAN STDDEV MttN ― .

Descriptives
[DataSet■ : D:ヽ DATAヽ PROPOSALヽ PROPOSALヽ BABヽ data lnentahosav

Descrlptive Statistics

N Minimum Maximum M鯰農 Std.DeviatiEOn

∞ 2

∞ 3
3 3
5 5
tingkat kecemasan pre 44,97 3,115


ti n g ka!_kecemasanlxost 34,66 31298


Valid N (listwise)

Explore
[DataSet■ ]D二 ヽDATAヽ PROPOSAII\ PROPOSAEIヽ BABヽ data merktahosav

Case Processing Summary

Cases
Valid Mも轟 9 TOtal
N Percent N Peroent N Percent
“ 3

∞ 3

tingkat kecemasan pre 100鰈 Q07・ 100,00/●



ti n gka!_keoemasanlsost 100,0・/0 0,0% 100,0%

Descriptives

Stattstic Std.Eror
tingkat kecernasan pe ile6n 44,97 1.372
42,18
for Mean
Bound 47,76
,Upper
57o Trimmed Mean 44,87
Median 45,00

Vattnce 65,8卜 t,42

Std. こ〉 eAJkJ嬌 そ‖ R 8,115


Minimum 30
Maximum 60
Range 30
interquttle Range 16
Sk鋤 嗣無鴻s ,268 ,398
Kurtosls ‐
,859 ,778
tingkat*kecemasanJ3ost Mean 34166 ,558
33,52
forlirean LtppsBourd 35,79

5%Trirnncd lt{ean 34,53


Median 34,00

Vanance 10,879
St● . 3,298
Minimum ―
29
Page 1
Descriptives

Statistic Std. Error


Maximum 43
Range 14
lrt"rq"*f,|" R*,gt 4
Skewness ,687 ,398
Kurtosis -,026 ,778

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig_ Statistic df Sig.

∞ 3

“ 3
tingkat kecemasan pre ,184 ,004 ,951 ,124


tingkat_kecemasanjost ,150 ,o44 ,946 ,087

a. Lilliefors Significance Correction

NPAR TESTS
/ K-S ( NORMAL ) :tingikat_ke cemas an_pre tingkat_kecema san_pos t
/MISS]NG ANALYSIS.

NPar Tests
IDatasetl ] D : \DATA\PROPOSAL\pnOpOSar,\BAB\data mentah. sav

One€am ple KolmogorovSmirnov Test

tingkat
kecemasan tingkat_kece
pre masan post
N 35 35
Normal Parametersa'b M""n 44,97 34,66
Std. Deviation 8,115 3,298
Most Extreme Differences Absolute ,184 ,1s0
Positive ,184 ,150
Negative -,124 -,096
Kolmogorov-Smirnov Z 1,090 ,890
Asymp. Sig. (2tailed) ,n85 347

a, Test distribution is Normal,

b. Calculated from data.

T-TEST PAIRS:tingkat_kecemasan_pre WITH tingkat_kecemasan_post ( PAIRED )

/cnrreRra:c1 (.9500)
/urssrue:aNAtYSTS .

T-Test
IDAIASCTl] D: \DATA\PROPOSAL\PROPOSAL\BAB\dATA MCNIAh. SAV

Page 2

Paired Sattples Statistics

鑢M
詭囲
Mean N Std.Deviation


5   5
Pair 1 tingkat kecemasan pre 44,97 8,115 1,372


tin gka!_kecemasanJrost 34β 6 3,298 ,558

Paired Samples Conelations

N Correlation Sb.
Pair 1 tingkat kecenrasan pre &
35 ‐
,005 ,978
ti n gkat_kecemasa nloost

Paired Samp:es Test

Paired Difierences
950/●

Std.Eror Conflderlce.
Mean Std.Devialon Mean Lower
Pair 1 tingkat kecemasan pre -
10.314 8,774 1,483 7,300
tingkat_kecernasanjost

Paimd Samplee Teet

Palred ..

95%
β Onfldence._
Upper t dF Sig.f2-tailed)
Pair 1 tingkat kecemasan pte -
13,328 6,954 34 ,000
tingkat_kecemasan_.post

Page 3
Ruro, So*,, Mrr,q.no*ADTYAH P^.u*uo*o
``″ し′
υ α J Seb4gα ′乃 ααα力αα Dα lψ α″''
“ “

ヽ 紳 椰L魂

:%/D‐ 5/RSMPJ2017

Palembang,14 Rabiul Akhir 1 438H
13 Januan 2017M
:Iガ n Studi Pendahuluan

Kepada Yth,
Ketua STIKes Muhammadiyah
Di Palembang

Assalamu' alaikum Wr.Wb

Menindaklanjuti surat Ketua STIKes Muhammadiyatr Palembang tertanggal 22


Desember 2016 no. lWSm3.AUEt20l6 tentang izin Studi Pendahuluan bagi Mahasiswa
Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Muhammadiyah Palembang di
RS.Muhammadiyah Palembang yang bernama : Iksis Effendo, NIM : 0513071 dengan
ini kalrli sampaikan bahwa kami mengizinkan kegiatan dimaksud dengan ketentuan sbb :

1. Mahasiswa yang bersangkrfian mematuhi peraturan dan ketentuan yang berlaku di


RS Muhammadiyah Palembang
2. Data yang diperoleh hanya ilmiah dan tidak akan
dipublikasikan/disebarluaskan tanpa izin dari Rs.Muhammadiyatr Palembang
3. Hal-hal lain dapat be.rkoordinasi langsung ke Bagian Diklat Rs.Muhammadiyah
Palembang

Demikian hal ini karni sampaikan ,atas perhatian diucapkan terima kasih

Nasrunminallah Wafathun Qarib


Wassalarru' alaikum Wr. Wb.

Jln,Jend.A. Yuni I 3 L)lu Telp, 0711 ) 511446 Fa.r, 07 II ) i199EE


e-mail :rsmuhllg@yahoo.co.id Palembang 3026j
Ruoaeu So",, Mrrono*ADTYAH Porun,,uo*o

“Metttα ″ &ら 喀 α′乃 αあ 力″ ″Dαル開 力"

紳 椰肛 魂

No:ら,1ぶ ΞT/D-5/RSMP/V/2017

Direktur Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dengan ini menerangkan bahwa :

Nalna Desis Erendo


NIM 05。 13.071

Jurusan 1hlu Keperawatan


lnstitusi Stikes Muhammadiyah Palembang

Adalah benar telah melakukan penelitian di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang


tanggal 19 - 26 April 2017 dengan judul penelitian "Pengaruh Pendidikan Kesehatan
Terhadap Kecemasan Pada Pasien Yang Akan Dipasang Kateter Urin di Rumah Sakit
Muhammadiyah Palembang Tahun 2A17."
Demikianlah surat keterangan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya

Palembang, 12 Sva'ban 1438H


09 Mei 2017M

D鵬職 ,

ノ ,ル ′ j″ 1//〃 ル ,ρ 7ノ 5〃 イ
″И 物″ イ6 Fal,ρ 7″ り5ノ 99∂ ∂
7″
″ 〃
ζ
-777α ′
ノ溶 、 』 /goα 力οοιο′ グP77た ″みα77g3″
"″