You are on page 1of 6

LAPORAN EVIDENCED BASED PRATICE

PENGARUH PEMBERIAN LATIHAN RANGE OF MOTION


TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA NY. S
DI PANTI AISYIYAH SURAKARTA

Disusun untuk Memenuhi Penugasan Stase Keperawatan Gerontik


Program Studi Profesi Ners

Disusun oleh:

FRIDA AMELIA EKAWATI

(SN181068)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2019
LAPORAN EVIDENCED BASED PRATICE
PENGARUH PEMBERIAN LATIHAN RANGE OF MOTION
TERHADAP PENINGKATAN KEKUATAN OTOT PADA NY. S
DI PANTI AISYIYAH SURAKARTA

Nama Mahasiswa : Frida Amelia Ekawati


NIM : SN181068

1. Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) merupakan kelompok penduduk yang berumur 60
tahun atau lebih (WHO, 2015). Secara global proporsi populasi penduduk
berusia lebih dari 60 tahun pada tahun 2014 adalah 12% dari total populasi
global (UNFPA, 2015). Jumlah populasi lansia berusia lebih dari 60 tahun di
Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun yaitu 19.142.805 jiwa tahun
2014 menjadi 21.685.326 jiwa tahun 2015 (Kemenkes, 2015).
Meningkatnya populasi lansia ditandai dengan usia harapan hidup yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Usia harapan hidup lansia di Indonesia
pada tahun 2013 adalah 70,07 tahun, angka ini meningkat menjadi 70,59 tahun
pada tahun 2014 dan 70,78 tahun pada tahun 2015.
Proses menua menimbulkan suatu proses menghilangnya secara perlahan-
lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi serta memperbaiki kerusakan yang diderita. Imobilisasi, intoleransi
aktivitas, dan sindrom disuse sering terjadi pada lansia. Imobilisasi di
definisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang dari mobilisasi
normal. Dampak fisiologis dari imobilisasi dan ketidakaktifan adalah
peningkatan katabolisme protein sehingga menghasilkan penurunan kekuatan
otot. Selain itu lansia sangat rentan terhadap konsekuensi fisiologis dan
psikologis dari imobilitas. Secara fisiologis, tubuh bereaksi terhadap imobilitas
dengan perubahan-perubahan yang hampir sama dengan proses penuaan, oleh
karena itu memperberat efek penuaan. lansia yang mengalami gangguan
imobilisasi fisik seharusnya melakukan latihan aktif agar tidak terjadi
penurunan kekuatan otot. Namun pada kenyataannya banyak lansia yang masih
tergantung dengan lingkungan eksternal, sehingga kompetensinya menurun.
( Safa’ah, 2013).
Latihan ROM aktif membantu mempertahankan fleksibilitas sendi dan
kekuatan otot. Latihan ROM aktif merupakan latihan isotonik yang mampu
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot serta dapat
mencegah perburukan sendi, ankilosis dan kontraktur (Kozier dkk, 2010).
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh pemberian latihan
Range Of Motion terhadap peningkatan kekuatan otot pada Ny. S di Panti
Aisyiah Surakarta.

2. PICO
P (Problem) : Ekstremitas weakness
Keluhan : pasien mengatakan tangan dan kaki kiri sulit untuk
beraktivitas
I (Intervensi) : Range Of Motion
C (Comparation) : Tidak diisi
O (Outcome) : Muscle Strenght

3. Tinjauan Kasus
Panti Usia Lanjut Aisyiyah Surakarta terdapat 30 lansia. Jumlah 30 lansia
terdapat empat diantara lansia mengalami kelemahan ektremitas dikarenakan
pasca jatuh, sebelumnya beberapa sudah pernah diberikan tindakan latian
Range Of Motion (ROM) untuk meningkatkan kekuatan otot tetapi tidak
berlanjut. Pada pasien diberikan latihan ROM 5 kali dalam seminggu dengan
pengulangan pergerakan sebanyak 7 kali untuk setiap gerakannya. Saat
dilakukan pengkajian pada lansia kelolaan mengatakan tangan kanan dan kaki
kanan terasa susah untuk beraktivitas. Jurnal pendukung akan diterapkan
pemberian latihan range of motion selama 5 kal dalam seminggu yang
berpengaruh terhadap peningkatan kekuatan otot pada lansia.
4. Dasar Pembanding
Penanganan yang biasa diberikan oleh Panti Usia Lanjut Aisyiyah untuk
mengatasi pasien dengan gangguan mobilisasi adalah dengan mdilakukan
senam 1 kali dalam seminggu. Cara lain yang belum diberikan di panti,
berdasarkan jurnal pendukung untuk meningkatkan kekuatan otot atau
mengatasi pasien dengan gangguan mobilisasi yaitu dengan pemberian latihan
Range Of Motion untuk meningkatkan kekuatan otot.
Latihan Range Of Motion dapat menimbulkan rangsangan sehingga
meningkatkan aktivasi dari kimiawi neuromuskuler dan muskuler. Rangsangan
melalui neuromuskuler akan meningkatkan rangsangan pada serat syaraf otot
ekstremitas terutama syaraf parasimpatis yang merangsang produksi
asetilcholin, sehingga mengakibatkan kontraksi. Mekanisme melalui muskulus
terutama otot polos ekstremitas akan meningkatkan metabolism pada
metakondria untuk menghailkan ATP yang dimanfaatkan oleh otot polos
ekstremitas sebagai energy untuk kontraksi dan meningkatkan tonus otot polos
ekstremitas. Oleh sebab itu dengan latihan Range of Motion (ROM) secara
teratur dengan langkah-langkah yang benar yaitu dengan menggerakkan sendi-
sendi dan juga otot, maka kekuatan otot lansia akan meningkat.

5. Implementasi
Berdasarkan jurnal : Pengaruh Latian Range Of Motion terhadap Peningkatan
Kekuatan Otot Lanjut Usia di UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia ( Pasuruan)
Kec. Babat kab Lamongan menjelaskan bahwa Range Of Motion dapat
meningkatkan kekuatan otot pada lansia. Oleh karena itu disarankan untuk
semua lansia untuk selalu melakukan latihan fisik untuk menggunakan latihan
Range Of Motion secara teratur.

6. Hasil
Berdasarkan intervensi yang dilakukai didapatkan peningkatan kekuatan otot
pada pasien. Skala diukur dengan mengukur kekuatan otot.

7. Diskusi

Seperti yang dikemukakan Stanley & Beare (2016) dengan pemeliharaan


kekuatan otot dan fleksibilitas sendi, latihan Range of Motion (ROM) bisa
meningkatkan dan mempertahankan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi
karena dari 10 sampai 15% kekuatan otot dapat hilang setiap minggu jika otot
beristirahat sepenuhnya, dan sebanyak 5,5% dapat hilang setiap hari pada
kondisi istirahat dan imobilitas sepenuhnya. Selain itu Asmadi (2008)
mengungkapkan bahwa latihan ROM mempunyai tujuan antara lain
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot,
mempertahankan fungsi kardiorespirasi, menjaga fleksibilitas dari masing-
masing persendian, mencegah kontraktur/kekakuan pada persendian.
Peningkatan kekuatan otot yang cukup besar ini disebabkan perubahan
anatomis, yaitu peningkatan jumlah miofibril, peningkatan ukuran miofibril,
peningkatan jumlah total protein kontraktil khususnya kontraktil miosin,
peningkatan kepadatan pembuluh kapiler dan peningkatan kualitas jaringan
penghubung, tendon dan ligamen. Selain itu, peningkatan kekuatan otot juga
disebabkan perubahan biokimia otot yaitu peningkatan konsentrasi kreatin,
peningkatan konsentrasi kreatin fosfat dan ATP dan peningkatan glikogen; serta
perubahan sistem saraf sulit diidentifikasi secara akurat. Namun, penelitian lain
mengungkapkan adanya adaptasi sistim saraf yang menyangkut sinkronisasi
dan rekurtmen unit motorik.

8. Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan
Ada pengaruh pemberian latihan range Of Motion terhadap peningkatan
kekuatan otot pada Ny. S di Panti Aisyiah Surakarta

b. Saran
Diharapkan Evidenced Based Practice ini dapat menambah wawasan dan
ilmu pengetahuan bagi pengasuh dan dapat menerapkan ilmu yang telah
didapat dan terus menerapkan pemberian latihan Range Of Motion terhadap
peningkatan kekuatan otot.

9. Daftar Pustaka

Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Situasi


usia lanjut (Lansia) di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI

Safa’ah Nurus. (2013). Pengaruh latihan range of motion terhadap peningkatan


kekuatan otot lanjut usia di UPT Pelayanan sosial lanjut usia (pasuruan)
kec. Babat Kab Lamongan. Jurnal Sain Med, Vol. 5