You are on page 1of 11

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS PENGOBATAN DIABETES MILITUS

DARI EKSTRAK GINSENG (Panax quinquefolius) DAN BAWANG PUTIH


(Allium sativum)

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Farmakognosi
Dosen Pengampu :
Burhan Ma’arif ZA M.pharm Apt

Farmasi B 2017

Disusun Oleh:

1. Savira Julia S. Wahab (17930031)


2. Suci Anugra Heny (17930032)
3. Mahfirani Ayuningrum (17930050)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG

2019
1. Pendahuluan
Diabetes Melitus merupakan suatu gangguan metabolit yang diakibatkan oleh
kekurangan produksi insulin di dalam tubuh. Selain itu, adanya resistensi insulin
yang ditandai dengan hiperglikemia (kelebihan kadar gula darah) mampu
menyebabkan terjadinya komplikasi spesifik (Liu et al, 2012).
Penderita penyakit diabetes melitus sering menyerang di berbagai negara Asia,
salah satu Indonesia. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF)
tahun 2015 menyatakan Indonesia berada diperingkat ke-7 dengan prevalensi
diabetes melitus tertinggi sebanyak 10 juta orang setelah Cina, India, Amerika
Serikat, Brazil, Rusia, dan Mexico. Berdasarkan hal ini IDF memprediksi pada
tahun 2040 total penyandang diabetes melitus di Indonesia akan mengalami
peningkatan menjadi urutan ke-6 dengan jumlah 16,2 juta orang.

Ginseng (Panax quinquefolius) dapat dianggap sebagai "raja herbal" yang


menjadikannya sebagai suatu suplemen multifungsi. Tanaman ini mempunyai
berbagai macam aktivitas farmakologis seperti antiinflamasi, antikanker, antistress,
dan antiplatelet (Saba,et.al,2018). Selain itu, ginseng banyak digunakan dalam
pengobatan tradisional untuk mengatasi gangguan metabolit, kanker,
kardiovaskular, dan panyakit lain yang menyerang negara Asia. Sehingga, dapat
membuat ginseng berpotensi sebagai obat anti diabetes bagi masyarakat
(Park,et.al,2014).

Tanaman lain yang memiliki aktivitas farmakologis (antidiabetes) sama


seperti ginseng adalah bawang putih (Allium sativum). Bawang putih mempunyai
sejarah yang panjang sebagai pengobatan untuk berbagai macam masalah kesehatan
meliputi infeksi, kanker, kardiovaskular, dan diabetes. Hal ini dapat dibuktikan oleh
beberapa penelitian yang menyatakan bahwa tanaman ini berperan sebagai
antidiabetes dengan mekanisme kerja untuk menstimulasi insulin secara langsung.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat diketahui bahwa kedua tanaman


ini (Panax quinquefolius serta Allium sativum) memiliki potensi sebagai
antidiabetes yang didapatkan melalui metode pengujian secara in vivo. Zat aktif
yang terkandung dalam tanaman bawang putih yaitu “allicin”. Sedangkan, pada
tanaman ginseng terdapat zak aktif berupa “ginsenosides”. Sehingga, dalam review
ini akan dibahas mengenai perbandingan efektivitas antara ginseng dan bawang
putih untuk pengobatan penyakit diabetes melitus.

2. Tanaman Yang Digunakan Sebagai Pengobatan


a. Ekstrak Ginseng (Panax quinquefolius)

Gambar Panax quinquefolius (Gingseng Korea)

Panax ginseng C. A meyer diklasifikasikan oleh C.A. Meyer, scorang


botanis. Tumbuhannya mempunyai tinggi 30-70 cm, merupakan tumbuhan semak,
akarnya mencapai kedalaman 20-30 cm. Ginseng bisa didapatkan dalam bentuk
akar utuh, serbuk kering dan akar (ginseng putih), serbuk kering akar yang direbus
(ginseng merah), larutan, dan ekstrak standar. Akar ginseng terdin atas banyak
komponen yaitu triterpene saponin; minyak esensial yang mengandung poliasetilen
dan sequiterpenes; polisakarida; peptidoglikans; nitrogen, dan komponen lain
seperti asam lemak, karbohidrat, dan fenol. Komponen yang dipercaya mempunyai
banyak efek farmakologi adalah triterpene saponin, yang disebut ginsenoside.
(Skinner,2000)

Klasifikasi tanaman Gingseng Korea

Kingdom ............................ Plantae

Divisio ............................... Spermatophyta

Class ............................... Magnoliopsida

Ordo ............................ Apiales


Family ............................ Araliaceae

Genus ........................... Panax

Species ............................ Panax quinquefolius

(Skinner,2000)

b. Bawang Putih

Gambar Allium sativum (Bawang Putih)

Bawang putih (Allium sativum L.) adalah herba semusim berumpun yang
mempunyai ketinggian sekitar 60 cm. Tanaman ini banyak ditanam di ladang-
ladang di daerah pegunungan yang cukup mendapat sinar matahari. Bawang putih
sebenarnya berasal dari Asia Tengah, diantaranya Cina dan Jepang yang beriklim
subtropik. Dari sini bawang putih menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan akhirnya
ke seluruh dunia. Di Indonesia, bawang putih dibawa oleh pedagang Cina dan Arab,
kemudian dibudidayakan di daerah pesisir atau daerah pantai. Seiring dengan
berjalannya waktu kemudian masuk ke daerah pedalaman dan akhirnya bawang
putih akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. (Gembong,2010)

Klasifikasi tanaman bawang putih

Kingdom ............................ Plantae

Divisio ............................... Spermatophyta


Class ............................... Monocotyledonae

Ordo ............................ Liliales

Family ............................ Liliaceae

Genus ........................... Allium

Species ............................ Allium sativum (L)

(Gembong,2010)

3. Ginsenosides

Gambar Struktur Kimia Ginsenosides

Ginsenoside merupakan saponin triterpenoid yang dominan


diekstraksi dari P. ginseng C. A. Meyer. Ginsenoside merupakan bahan aktif dalam
ginseng korea. Pada akar tanaman ginseng terdiri dari zat organik (80% -90%) dan
anorganik (sekitar 10%) dan terdiri dari sejumlah konstituen aktif, seperti saponin
atau ginsenosides, karbohidrat (termasuk polisakarida), zat nitrogen, asam amino,
peptida, pitosterol, minyak atsiri, asam organik, vitamin, dan mineral. Dari jumlah
tersebut, ekstrak ini mengandung ginsenosides dan polisakarida yang telah
menunjukkan aktivitas hipoglikemik. (Xie:2005)

Ginseng (Panax quinquefolius) mengandung senyawa utama yang dibagi


menjadi tiga kelompok meliputi protopanaxadiols, protopanaxatriols, dan asam
oleat. Komponen-komponen ini dikenal dengan sebutan ginsenosides. Zat aktif
ginsenosides mampu mengalami bioaktivasi dengan mikroorganisme yang terdapat
dalam pencernaan. Hal ini akan meningkatkan terjadinya adsorbsi, bioaktivitas, dan
mengurangi toksisitas metabolit dibandingkan senyawa-senyawa utama lainnya.

Kemampuan hipoglikemik pada ekstrak akar ginseng telah dikenal sejak


beberapa dekade. Ekstrak akar ginseng korea dilakukan penelitian dengan model
tikus, hasil yang didapatkan penurunan kadar glukosa darah secara signifikan efek
lain yang ditemukan ialah seperti peningkatan kadar insulin darah dan mengurangi
kadar glukagon darah, pengendapan glikogen juga mendukung efek anti-diabetes
ginseng. Beberapa studi klinis juga telah mendukung kemanjuran akar ginseng pada
diabetes tipe 2 pasien. hal ini ditunjukkan penurunan glukosa darah puasa dan
hemoglobin terglikosilasi (Xie:2005)

3. Komponen sulfur (allicin)

Gambar Struktur Allicin

Bawang putih terdiri atas 0,1-0,3% minyak yang mudah menguap dan
senyawa ini banyak digunakan dalam bidang farmakologi. Tanaman ini juga
mengandung komponen sulfur termasuk aliin, allicin, allyl, propil,
dialyltrisulphide, sallylcysteine, vinyldithiines, dan lain-lain. Komponen sulfur
banyak digunakan dalam aktivitas farmakologi untuk keperluan pengobata. Selain
komponen sulfur, bawang putih juga terdiri dari 17 asam amino dan glikosida,
arginin, dan lain sebagainya. Mineral (sellenium) dan enzim (alinase, peroksidase,
dan mirosinase) juga terdapat dalam tanaman bawang putih.
Alisin (diallyl thiosulfinate) merupakan salah satu komponen biologis yang
paling aktifyang terkandung dalam bawang putih.Komponen ini, bersamaan dengan
komponen sulfur lain yang terkandung dalam bawang putih berperan pula
memberikan bau yang khas pada bawang putih. Allicin merupakan senyawa yang
bersifat tidak stabil, senyawa inidalam waktu beberapa jam akan kembali
dimetabolisme menjadi senyawa sulfur lain.Adanya kerusakan pada umbi bawang
yang ditimbulkan dari dipotongnya atau dihancurkannya bawang putih akan
mengaktifkan enzim Allinase yang akan memetabolisme allisin menjadi allicin,
yang kemudian akan dimetabolisme menjadi vinyldithiines dan ajoene. Proses ini
memakan waktu berjam-jam dalam suhu ruangan dan hanya memakan waktu
beberapa menit dalam proses memasak. (Liswati:2017)

Mekanisme kerja alisin pada bawang putih sebagai antidiabetes bekerja


melalui insulin di dalam plasma, yaitu dengan meningkatkan sekresi insulin dari sel
beta pankreas. Alisin pada bawang putih menstimulasi sel beta pankreas untuk
menghasilkan lebih banyak insulin, dengan cara tersebut, glukosa di dalam darah
akan masuk kedalam jaringan tubuh dengan adanya insulin yang diberikan dari
stimulasi alisin bawang putih tersebut. Efek antidiabetes dari bawang putih
menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih dapat menjaga kadar glukosa dalam
kadar normal. Bahkan ekstrak bawang putih dinyatakan dalam penelitian yang telah
dilakukan lebih efektif dibandingkan dengan glibenklamid. (Lisiswanti, 2017)

4. Metode In Vivo

In vivo ( bahasa Latin untuk "dalam hidup") adalah eksperimen dengan


menggunakan keseluruhan organisme hidup. Pengujian dengan hewan coba
ataupun uji klinis merupakan salah satu bentuk penelitian in vivo. Pengujian in vivo
lebih sering dilakukan daripada in vitro karena lebih cocok untuk mengamati efek
seseluruhan percobaan pada subjek hidup. (

Dalam biologi molekular, in vivo sering merujuk pada eksperimen yang


dilakukan dalam sel hidup terisolasi, bukan pada keseluruhan organisme, misalnya,
berasal dari sel-sel kultur biopsi. Dalam keadaan ini, istilah yang lebih spesifik
adalah ex vivo. Setelah sel terganggu dan bagian sel atau jaringan organisme yang
di uji atau di analisis, hal ini di kenali sebagai in vitro. Dalam biologi molekuler in
vivo sering di gunakan untuk merujuk pada eksperimen dilakukan di sel isolasi
hidup bukan di seluruh organisme, misalnya berasal dari sel-sel kultur biopsi. (

Pada literatur mengenai penelitian ginseng sebagai obat antidiabetes


digunakan metode penelitian yaitu berupa dibuat ekstrak gingseng terhidrolisis
(HGE) kemudian disuntikkan ke pada partisipan dan selama 8 minggu dipantau
nilai glukosanya ( Park,2014). Tidak hanya satu metode saja yang digunakan pada
literatur yang dikemukakan oleh (Saba,2018) digunakan metode pembuatan Red
Gingseng Ekstrak (RGE) yang didalamnya telah diperkaya dengan Rg3 ( salah satu
zat penyusun ginsenosides) kemudian disuntikkan kepada mencit dan di amati hasil
uji LDL nya.

5. Efektivitas Bawang Putih (Allium Sativum) Sebagai Antidiabetes

Hasil dari penilitian bawang putih dengan metode in vivo ini yaitu dimana
bawang putih memiliki efek hipoglikemik pada tikus diabetes melalui peningkatan
sekresi insulin dan peningkatan sensitivitas insulin sehingga hal ini menunjukkan
adanya peningkatan aktivitas GLUT4 dan mengembalikan resistensi insulin yang
terjadi, dimana bahwa glikogen akan diperbaiki dalam otot rangka, sehingga hal ini
menunjukkan bahwa bawang putih bisa meningkatkan toleransi glukosa dan
sensitivitas insulin melalui peningkatan aktivitas GLUT4 dan dapat di simpulkan
bahwa penggunaan bawang putih sebagai obat antidiabetes, dimana hal ini lebih
mengarah ke pengobatan diabetes melitus tipe 2 menujukkan hasil pengobatan yang
cukup efesien ( ). Pada literatur lain disebutkan bahwa bawang ptutih dapat
menghambat transportasi secara aktif gula yang diangkut, dan cairan. Konsentrasi
D-glukosa terakumulasi di usus tikus meningkat secara signifikan pada kehadiran
A. sativum. Glukosa dipertahankan dalam dinding usus sulit untuk diukur karena
glukosa dimetabolisme dengan cepat oleh enterosit. Penting untuk itu A. sativum
mengurangi hilangnya mukosa dan penampilan serosal glukosa, yang mungkin
mencerminkan penurunan dalam transfer zat terlarut baik pada mukosa dan serosal.
Dengan demikian mungkin bahwa hambatan yang diamati transportasi glukosa oleh
A. sativum adalah karena beberapa peningkatan pemanfaatan glukosa oleh dinding
usus yang menghasilkan pengurangan glukosa yang diangkut ke dalam serosal
larutan. Studi menunjukkan bahwa transportasi glukosa dihambat oleh A. sativum
di kantung usus ().

6. Efektivitas Ginseng (Panax Quinquefolius) Sebagai Antidiabetes

Hasil penelitian pada tanaman gingseng menggunakan metode in vivo


menunjukkan dengan tepat bagaimana ekstrak ginseng merah yang diperkaya Rg3
(Rg3-RGE) menurunkan glukosa, kadar trigliserida, dan low-density lipoprotein
(LDL) pada tikus LDLe / e. Aspartat aminotransferase / serum glutamat-
oksaloasetat transaminase), alanin aminotransferase / serum glutamat-piruvat
transaminase, dan steatohepatitis ditemukan berkurang, dan pembentukan ateroma
dihambat oleh Rg3 pada ekstrak ginseng merah (Saba, et al, 2018). Hal ini diperkuat
dengan lieratur lain yang menunjukkan bahwa untuk menyelidiki efek antidiabetes
dari ekstrak ginseng terhidrolisis (HGE) untuk dilakukan uji dalam 8-minggu
meliputi uji klinis acak, double-blinded, kontrol dengan pembanding plasebo. Hasil
yang didapat termasuk pengukuran kefektivitasan berupa FPG, glukosa
postprandial, plasma puasa insulin, insulin postprandial, penilaian model
homeostatik-resistensi insulin, dan model homeostatik penilaian-b dan keamanan
(efek samping, tes laboratorium, elektrokardiogram, dan tanda-tanda vital). Setelah
8 minggu suplementasi HGE, FPG dan glukosa postprandial menurun secara
signifikan pada kelompok HGE dibandingkan dengan kelompok plasebo. Tidak ada
perubahan signifikan secara klinis dalam keamanan apa pun Parameter diamati.
Studi kami mengungkapkan bahwa HGE adalah agen antidiabetik kuat yang tidak
menghasilkan efek samping yang nyata. Suplemen HGE mungkin efektif untuk
mengobati individu glukosa puasa yang terganggu (Park, et al,2014).

7. Kesimpulan
Berdasarkan literatur yang telah didapat dapat kita ambil kesimpulan
bahwasanya baik bawang putih maupun gingseng dapat berpotensi sebagai obat
diabetes. Pada literatur mengenai bawang putih dibahas mengenai GLUT4 dan
penghambatan transportasi glukosa yang menyebabkan dapat berpotensi sebagai
obat disbetes. Sedangkan pada literatur mengenai tanaman gingseng membahas
mengenai Rg3 (Rg3-RGE) sebagai suatu senyawa yang dapat menurunkan glukosa,
kadar trigliserida, dan low-density lipoprotein (LDL) pada tikus serta ekstrak
gingseng terhidrolisis (HGE) yang mungkin efektif untuk mengobati glukosa puasa.
Dari kedua perbandingan tersebut dapat kita ketahui bahwa kedua tanaman
berpotensi sebagai obat antidiabetes dengan mekanisme kerjayang berbeda, namun
perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Park, Soo-Hyun,et al.2014. A-8wk,randomized,double-blind,placebo-controlled


clinical trial for antidiabetic effects of hydrolyzed gingseng extract. Journal of
Gingseng Research Volume 38 Page 239-234
Saba, et al. 2018. Allevation of diabetic complications by ginsenoside Rg3-
enriched red gingseng extract in western diet fed LDL _ /_ mice. Journal of
Gingseng Research Volume 42 Page 352 – 355