You are on page 1of 25

Referat

Kondiloma Akuminata

Pembimbing:

dr. Silvi, SpKK

disusun oleh

Wayan Sadhira Gita (112018040)

Jane Laura (112017231)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KULIT DAN KELAMIN

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

RS HUSADA

1
BAB I

PENDAHULUAN

Kondiloma Akuminata adalah salah satu jenis penyakit menular seksual (sexually

transmitted disease). Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan masalah kesehatan

masyarakat di seluruh negara, termasuk Indonesia. IMS dapat mealui hubungan

seksual (HUS), baik secara genito – genital, oro – genital maupun ano – genital pada

HUS yang berlainan jenis atau sesama jenis.

Kondiloma akuminata merupakan salah satu manifestasi klinis yang disebabkan

oleh infeksi Human Papillomavirus Virus (HPV), paling sering ditemukan di daerah

genital dan jarang di selaput lendir. Sering terkait dengan HPV 6 dan 11 dengan masa

inkubasi 3 minggu sampai 8 bulan. Penyakit ini biasanya asimptomatik dan terdiri

dari papilomatous papula atau nodul pada perineum, genitalia dan anus. Ada dua

bentuk umum Kondiloma Akuminata, yaitu kondiloma akuminata dan gigantea, yang

dikenal sebagai tumor Buschke-Löwenstein.1

Kontak seksual yang terinfeksi HPV pada individu mempunyai peluang 75%

untuk terjadi kondiloma akuminata. Baik laki-laki maupun perempuan rentan untuk

terjadi infeksi.2

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Kondiloma akuminata ialah vegetasi oleh human papilloma virus tipe tertentu,

bertangkai dan permukaannya berjonjot. Human Papilloma Virus (HPV) ialah

virus yang menyebabkan proliferasi sel epitel mukosa dan kutaneus jinak. Infeksi

papillomavirus tidak akan menyebabkan reaksi lokal akut ataupun gejala sistemik

melainkan menimbulkan akumulasi lokal keratinosit yang lambat, biasa disebut

kutil.3

B. Epidemiologi

Penyakit ini termasuk Penyakit akibat Hubungan Seksual (PHS). Frekuensinya

pada pria dan wanita sama. Tersebar kosmopolit dan transmisi melalui kontak kulit

langsung.3

Prevalensi terbesar adalah pada usia 17-33 tahun, dengan insiden yang

memuncak pada usia 20-24 tahun.4

C. Etiologi

Virus penyebabnya adalah Human Papilloma Virus (HPV), ialah virus DNA

yang tergolong dalam family virus Papova. Sampai saat ini telah dikenal sekitar

60 tipe HPV , namun tidak seluruhnya dapat menyebabkan kondiloma akuminata.

3
Tipe yang pernah ditemui pada kondiloma akuminata adalah tipe 6, 11, 16,18,

30,31, 33,35, 39, 41, 42, 44, 51, 52, dan 56.3

Pada referensi lain menyebutkan, lebih dari 120 subtipe yang berbeda dari HPV

yang telah diidentifikasi, dengan 40 subtipe yang mampu menginfeksi traktus

anogenital. Jenis ini dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu low risk, intermediate

risk, dan high risk. HPV tipe 6 dan 11 jarang menimbulkan kanker serviks

sehingga disebut subtipe low risk. Infeksi dari genotif ini bertanggung jawab

sekitar 90% pada formasi genital warts. Sebaliknya tipe 16 dan 18 sangat

berhubungan dengan displasia serviks sehingga dianggap high risk, subtipe

onkogenik. Penelitian menunjukkan infeksi pada genotif ini adalah sampai 70%

terjadi Squamous Cell Carcinoma (SCC) dari serviks. HPV tipe 31, 33, 45, 51, 52,

56, 58, dan 59 adalah tipe intermediate risk, sering ditemukan pada neoplasma

skuamosa, tetapi jarang dihubungkan dengan SCC serviks. Pasien dengan

kondiloma akuminata dapat terinfeksi stimultan oleh beberapa jenis HPV.2

Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi, yaitu

tipe 16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada

kanker serviks. Sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering ditemui pada kondiloma

akuminata dan neoplasia intraepitelial serviks derajat ringan.1 kondiloma juga

dapat menjadi koinfeksi yang “high risk” HPV seperti HPV tipe 16. Merupakan

penyakit menular seksual, dengan transmisi rata-rata 60% di antara partner

seksual.5

I. Faktor Resiko

4
a. Usia dan jenis kelamin

pakar mengemukakan, usia adalah faktor risiko independen pada kondiloma

akuminata, 80% penderita kondiloma akuminata terjadi pada usia 17-33 tahun,

puncak usia menderita penyakit ini di usaia 20-24 tahun. Pria rata-rata diusia 22

tahun bisa menderita kondiloma akuminata dan wanita 19 tahun, pria wanita

proporsi adalah 1:1,4.

b. Status perkawinan dan kehamilan

Data menunjukan perceraian, suami istri tidak serumah, janda atau duda, belum

nikah adalah paling mudah menderita kondiloma akuminata, karena keadaan

diatas mudah terjadi perilaku seksual yang berisiko tinggi.

Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa kehamilan

pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu besar dapat

menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca persalinan.

Selain itudapat juga menimbulkan kondiloma akuminata atau papilomatosis

laring (kutil padasaluran nafas) pada bayi baru lahir.

c. Fungsi kekebalan tubuh lemah

Kekebalan tubuh lemah individual seperti tumor ganas, kemoterapi

imunosupresif dan mengunakan dexamethasone. Persentase menderita

kondiloma akuminata serta persentase kambuh juga tinggi dan jumlah kutil pun

bertambah banyak.

d. Merokok dan minum alkohol

5
Merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh, dan persentase menderita

penyakit ini pun bertambah berdasarkan lama merokok dan jumlah batang

rokok yang dihisap per hari. Minum alkohol juga bisa menghambat kekebalan

tubuh. Merokok dan alkohol bisa menghambat sistem saraf tengah, mengurangi

kecemasan, meningkatan libido, resiko seksual pun bertambah, sehingga

meningkatkan kekambuhan akuminata mudah.

e. Hubungan seksual

Berdasarkan hasil penelitian dan statistik menunjukan, penyebab terjadinya

kondiloma akuminata karena memiliki banyak pasangan yang menderita

kondiloma akuminata, dan tingkat kekambuhan lebih tinggi dibandingkan

pasangan seksual tunggal.

f. Pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat

Berdasarkan banyak hasil penelitian menunjukan infeksi HPV bisa dicegah

dimana harus mengunakan alat kontrasepsi. Penelitian lain menunjukan,

penyebab terjadinya kondiloma akuminata dimana wanita yang mengunakan

obat kontrasepsi persentase terjadinya kondiloma akuminata lebih tinggi

dibandingkan tidak memakai obat kontrasepsi.

g. Menderita penyakit lain

penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya dengan penyakit

menular seksual lainnya seperti alat kelamin, kencing nanah dan AIDS. Banyak

penderita kondiloma akuminata bisa menyebabkan penyakit kelamin lainnya,

6
dan beberapa patogen penyakit menular seksual merusak mukosa, sehingga

kemampuan tubuh melawan HPV pun menurun.

D. Patofisiologi

Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita yang

terinfeksi HPV. HPV ini masuk melalui mikro lesi pada kulit, biasanya pada

daerah kelamin dan melakukan penetrasi pada kulit sehingga menyebabkan abrasi

permukaan epitel. Human Papilloma Virus adalah epiteliotropik; yang sifatnya

mempunyai afinitas tinggi pada sel-sel epitel. Replikasinya tergantung pada

adanya diferensiasi epitel skuamosa. Virus DNA (Deoxyribonucleic Acid) dapat

ditemukan pada lapisan terbawah dari epitel. Protein kapsid dan virus infeksius

ditemukan pada lapisan superfisial sel-sel yang berdiferensiasi. HPV dapat masuk

ke lapisan basal, menyebabkan respon radang. Pada wanita menyebabkan

keputihan dan infeksi mikroorganisme. HPV yang masuk ke lapisan basal sel

epidermis dapat mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak

terkendali. Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang

dapat berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi virus

DNA, kapsid dan partikel dimulai. Sel dari tuan rumah menjadi infeksius dari

struktur koilosit atipik dari kondiloma akuminata (morphologic atypical

koilocytosis of condiloma acuminate) berkembang.1,2 Lamanya inkubasi sejak

pertama kali terpapar virus sekitar 3 minggu sampai 8 bulan atau dapat lebih lama.

HPV yang masuk ke sel basal epidermis ini dapat menyebabkan nodul kemerahan

7
di sekitar genitalia. Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran seperti

bunga kol. Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme

dan bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel.6

HPV yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang

merangsang pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat menstimulasi

saraf perifer. Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke otak dan timbul impuls

elektrokimia sepanjang nervus ke dorsal spinal cord kemudian ke thalamus dan

dipersepsikan sebagai rasa gatal di korteks serebri. Pada wanita yang terinfeksi

HPV dapat menyebabkan keputihan dan disertai infeksi mikroorganisme yang

berbau, gatal dan rasa terbakar sehingga tidak nyaman pada saat melakukan

hubungan seksual.6

E. Manifestasi Klinis

Kebanyakan pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan keluhan

ringan. Keluhan yang paling sering adalah ada bejolan atau terdapat lesi di

perianal.5

1. Gejala

Kebanyakan pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang dinyatakan tanpa

gejala. Jarang terdapat gejala seperti gatal, perdarahan, atau dispaurenia. Tetapi

terkadang lesi dapat menimbulkan ketidaknyamanan, rasa panas, dan pruritus.

Lesi yang besar dapat berdarah dan iritasi bila kontak dengan pakaian atau

selama hubungan seksual.5

8
2. Tanda-Tanda Fisik

Kondiloma biasanya pada jaringan yang lembab pada area anogenital. Lesi

sering ditemukan di daerah yang mengalami trauma selama hubungan seksual.

Pada pria tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius,

glands penis, muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di

daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri.

Terkadang dapat berkembang di mulut atau tenggorokam setelah kontak

seksual secara oral yang terinfeksi dari partnernya. Kondiloma akuminata

memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mungkin flat (datar), dome-shaped

(seperti kubah), cauliflower-shape (kembang kol) atau pedunculated.

Kondiloma dapat bermanifestasi sebagai soliter keratotik papul atau plak.

Awalnya dalam bentuk kecil, ukuran 1-2 mm flesh-colored papule dari kulit

dan bentuk ini dapat bertahan selama infeksi.2

Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan

kalau masih baru, jika telah lama agak kehitaman. Permukaannya berjonjot

(papilomatosa) sehingga pada vegetasi yang besar dapat dilakukan percobaan

sondase. Jika timbul infeksi sekunder warna kemerahan akan berubah menjadi

keabu-abuan dan berbau tidak enak.3

9
Terdapat lesi pada penis, gambaran multiple kembang kol pada
batang dan kulit penis.

Kondiloma Akuminata pada Vulva. Multiple papuls


pada labia yang berwarna pink-coklat.
Vegetasi yang besar disebut sebagai giant condyloma (Buschke) yang pernah

dilaporkan menimbulkan degenerasi maligna, sehingga harus dilakukan biopsy.

sering terdapat pada gland penis, daerah perianal.3

10
Giant condyloma dari Buschke-Lowenstein atau Buschke-Loewenstein tumor

(BLT) pertama kali ditemukan oleh Buschke pada tahun 1886. Oleh Buschke dan

Loewenstein tahun 1925, kemudian dinamai oleh Loewenstein “carcinoma-like

condyloma acuminata” pada penis. Pertumbuhannya sangat lambat tumor

verukosa dan mencapai ukuran besar. Beberapa penulis menyebutkan bahwa

etiologinya adalah HPV low risk yaitu tipe 6 dan 11, sementara yang lain

melaporkan pentingnya munculnya HPV risiko tinggi onkogenik yaitu tipe 16 dan

18. Faktor risikonya adalah kebersihan yang buruk, pasien yang tidak disirkumsisi,

seks bebas, iritasi kronik, imunosupresi karena infeksi virus HIV.7

F. Diagnosis

a. Anamnesis

 Partner seksual multipel dan usia coitus yang lebih muda merupakan faktor

risiko kondiloma akuminata.

11
 Umumnya, 2/3 dari individu yang memiliki pasangan kontak seksual

dengan kondiloma akuminata, lesi dapat berkembang dalam waktu 3 bulan.

 Keluhan utama biasanya salah satu benjolan nyeri, pruritus atau discharge.

Terlibatnya lebih dari satu area sering terjadi. Riwayat lesi multipel.

 Lesi pada mukosa oral, laring atau trakea (tapi jarang) mungkin terjadi

karena kontak oral-genital.

 Riwayat hubungan seksual anal baik pada lak-laki maupun perempuan

dapat menyebabkan lesi pada perianal.

 Perdarahan uretra atau obstruksi uretra meskipun jarang dapat terjadi, dapat

disebabkan oleh kondiloma yang terdapat di meatus.

 Riwayat pasien dengan PMS sebelumnya atau sedang terjadi.

 Perdarahan saat koitus dapat terjadi. Perdarahan vagina selama kehamilan

terjadi karena erupsi dari kondiloma.4

b. Pemeriksaan Fisik

 Erupsi papular single atau multipel dapat diobservasi. Erupsi mungkin

muncul mutiara, filiform, kembang kol (caulifowler) atau plaquelike.

Semuanya ini dapat secara halus (terutama pada penis), verukosa atau

lobular. Erupsi ini mungkin tidak berbahaya atau dapat mengganggu

penampilan.

12
 Warna erupsi mungkin sama dengan warna kulit atau dapat juga eritema

atau hiperpigmentasi. Periksa ketidakteraturan dalam bentuk, warna yang

mensugesti melanoma atau keganasan.

 Kecenderungan pada glands penis pada pria dan daerah vulvovagina dan

serviks pada perempuan.

 Lesi meatus uretra dan mukosa dapat terjadi.

 Mencari adanya klinis dari PMS lainnya (misalnya ulserasi, adenopati,

vesikelm discharge).

 Melihat lesi perianal, terutama pada pasien dengan riwayat atau risiko dari

imunosupresi atau hubungan seksual secara anal.4

c. Pemeriksaan Penunjang

 Kolposkopi (Stereoskopi Mikroskopik)

Pemeriksaan kolposkopi merupakan tindakan yang rutin dilakukan di

bagian kebidanan, namun belum digunakan secara luas di bagian

penyakit kulit. Pemeriksaan ini terutama berguna untuk melihat lesi

subklinis. Kolposkopi menggunakan sumber cahaya yang kuat dan

lensa binokular sehingga lesi dari infeksi HPV dapat diidentifikasi.

Biasanya kolposkopi digunakan bersama asam asetat untuk membantu

visualisasi dari jaringan yang terkena. Walaupun awalnya kolposkopi

didesign untuk memeriksa alat kelamin wanita, aplikasi dari

kolposkopi sudah dikembangkan untuk memeriksa penis dan anus.

13
Servikal kolposkopi dan anoskopi resolusi tinggi biasanya dilakukan

setelah tes sitologi yang abnormal pada skrining dari kanker serviks

dan anus

 Tes asam asetat

 Tes asam asetat menggunakan asam asetat 5% yang dioleskan menggunakan

lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Pemeriksaan dinyatakan positif jika

setelah 1-5 menit lesi berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan

warna pada lesi di daerah perianal perlu waktu lebih lama sekitar 15 menit

 Biopsi

Biopsi diindikasikan untuk lesi yang atipikal, rekurent setelah terapi awal

berhasil atau resisten terhadap pengobatan atau pasien dengan risiko tinggi

untuk neoplasia atau imunosupresi. Biopsi tidak diperlukan untuk kutil

anogenital yang khas.

G. Diagnosa Banding

a. Veruka vulgaris

Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama

dengan warna kulit. Terutama terdapat pada anal-anak, tetapi dapat juga pada

dewasa dan orang tua. Tempat predileksinya terutama di ekstremitas bagian

ekstensor, walaupun penyebarannya dapat ke tubuh bagian lain termasuk

mukosa mulut dan hidung. Kutil ini bentuknya bulat berwarna abu-abu,

14
besarnya lentikular, permukaan kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbul

autoinkolusi sepanjang goresan (fenomenan Kobner).3

b. Kondiloma latum

Pada sifilis, biasanya dengan permukaan rata dan STS positif, ditemukan

banyak Spirochaeta pallidum dengan mikroskop lapangan gelap.8

15
c. Karsinoma sel skuamosa

Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah dan berbau. Karsinoma

sel skuamosa berasal dari sel epidermis yang mempunyai beberapa tingkat

kematangan, dapat intraepidermal, dapat pula bersifat invasif dan bermetastasis

jauh. Umur yang paling sering adalah 40-50 tahun (dekade V-VI).3

H. Pengobatan

Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum dapat

dibedakan menjadi kemoterapi, dan bedah.

1. Kemoterapi

a. Podophyllin

Podophyllin pertama direkomendasikan untuk pengobatan kondiloma

oleh Culp dan Kaplan pada tahun 1942, bahan ini adalah agen sitotoksik

yang berasal dari resin podofilum emodi dan peltatum podofilum yang

mengandung senyawa lignin biologis aktif, termasuk podofilox, yang

16
merupakan komponen paling aktif terhadap kondiloma akuminata.

Podophyllin memiliki keuntungan menjadi mudah digunakan dan sangat

murah. Yang digunakan iaah tingtura podofilin 25%. Kulit disekitarnya

dilindungi dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi. Jika belum

ada penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali pemberian

jangan melebihi 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala

toksisitas ialah mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat napas, dan

keringat yang disertai kulit dingin. Dapat pula terjadi supresi sumsum

tulang yang disertai trombositopenia dan leukopenia. Pada wanita hamil

sebaiknya jangan diberikan karena dapat terjadi kematian fetus.3

Beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan penggunaan dan toksisitas

sistemik. Podophyllin harus dicuci setelah 6 jam karena sangat mengiritasi

kulit normal di sekitarnya dan menyebabkan reaksi lokal yang parah

berupa dermatitis, nekrosis, dan jaringan parut. 9

b. Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid

Bichloracetic Acid adalah keratolitik kuat dan telah berhasil digunakan

untuk terapi kondiloma akuminata. Seperti podophyllin, Bichloracetic

Acid atau Trichloracetic Acid murah dan mudah diterapkan. Namun, juga

dapat menyebabkan iritasi kulit lokal dan seringkali memerlukan

kunjungan beberapa kali, umumnya pada interval mingguan. Dalam

sebuah studi oleh Swerdlow dan Salvati, bichloracetic acid dan

trichloracetic acid lebih nyaman digunakan oleh pasien dan memiliki

17
kemungkinan kekambuhan yang minimal dibandingkan yang lain.

Mempunyai efek kaustik dengan menimbulkan koagulasi dan nekrosis

pada jaringan superfisial terutama pada bentuk hiperkeratotik . 9

c. 5-fluorourasil

Konsentrasinya antara 1-5% dalam krim. Bersifat sebagai

antimetabolit yang dapat mengganggu sintesis DNA, dipakai terutama

pada lesi di meatus uretra. 5-FU krem 1 % digunakan 2 kali sehari secara

periodik selama 2-6 minggu, dan krem 5% digunakan 4 kali sehari secara.

periodik selama 10 minggu. Sebaiknya penderita tidak miksi selam 2 jam

setelah pengobatan.3

2. Bedah Terapi

a. Elektrokauterisasi

Elektrokauterisasi adalah cara yang efektif untuk menghancurkan

kondiloma akuminata di anus internal dan eksternal tetapi teknik ini

memerlukan anestesi lokal dan tergantung pada keterampilan operator

untuk mengontrol kedalaman dan lebar kauterisasi tersebut. Mengontrol

kedalaman luka penting untuk mencegah jaringan parut dan luka pada

sfingter ani mendasarinya. Luka bakar melingkar harus dihindari untuk

mencegah stenosis ani. Jika penyakit ini sangat luas atau melingkar,

upaya-upaya harus dilakukan untuk mempertahankan kontinuitas kulit.9

b. Eksisi bedah

18
Eksisi bedah telah lama digunakan untuk mengobati kondiloma

akuminata dengan tingkat keberhasilan tinggi. Kombinasi eksisi dan

elektrokauter dianggap sebagai gold standard untuk pengobatan

kondiloma akuminata.9

c. Bedah Beku (N2, N2O cair)

Bedah beku merupakan metode pengobatan umum dermatologist,

berbahan dasar nitrogen atau karbondioksida cair, es beku kering

penghancur kulit, penghancur kulit untuk edema lokal, bertujuan untuk

mencapai tujuan pengobatan. Virus kondiloma akuminata menyebabkan

terjadinya hiperplasia prostatik jinak pada kulit dan membran mukosa. Ini

memiliki pembuluh darah lecil dalam jumlah banyak, berproliferasi secara

cepat. Metode dapat menggunakan es beku untuk kondiloma akuminata,

membentuk edema lokal derajat tinggi. Keuntungan yang paling bagus

dari bedah beku ini ialah hanya bersifat lokal tanpa meninggalkan bekas,

tingkat keberhasilan pengobatan kira-kira 70%. Tersedia dalam metode

semprot atau kontak langsung, mampu diaplikasikan pada bentuk kecil.

Dapat digunakan dalam 1 minggu sebanyak 2-3 kali. Bedah beku ini

banyak menolong untuk pengobatan kondiloma akuminata pada wanita

hamil dengan lesi yang banyak dan basah.

19
3. Terapi Laser

Terapi laser karbon dioksida untuk menghancurkan kondiloma pertama kali

dilaporkan oleh Baggish pada tahun 1980. Sebuah tingkat keberhasilan

keseluruhan dari 88 sampai 95% telah dilaporkan. Ini mirip dengan

elektrokauter, namun ablasi laser memiliki tingkat kekambuhan tinggi dan

menimbulkan nyeri pasca operasi, keuntunganya luka lebih cepat sembuh, dan

meninggalkan sedikit jaringan parut.3,9

4. Interferon

Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (i.m atau intralesi) dan topikal

(krim). Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU. i.m 3 kali seminggu

selama 6 minggu atau dengan dosis 1-5 mU i.m selama 6 minggu. Interferon

beta diberikan dengan dosis 2x106 unit i.m selama 10 hari berturut-turut.3

Interferon tidak direkomendasikan sebagai modalitas pengobatan utama.

Diproduksi secara alami oleh protein dengan antivirus, antitumor dan

immunomodulatory actions.

5. Imunoterapi

Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap pengobatan dapat

diberikan pengobatan bersama imunostimulator.3

6. Topikal Terapi
Terapi topikal yang dapat diberikan pada pasien dengan kondilomata
akuminata yaitu tingtur podofilin, podofilotoksin, dan asam trikloroasetat.10

20
Tingtur podofilin
Setelah melindungi kulit di sekitar lesi dengan vaselin agar tidak terjadi iritasi,
oleskan tingtur podofilin (15-25 %) pada lesi dan biarkan sampai 4-6 jam,
kemudian cuci. Bila belum terjadi penyembuhan boleh diulang setelah 3 hari.
Pemberian obat dilakukan seminggu dua kali. Setiap pemberian tidak boleh
melebihi 0,5 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksisitas
adalah mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat nafas, dan keringat yang
disertai kulit dingin. Dapat pula terjadi kompresi sumsum tulang yang disertai
trombositopenia dan leukopenia. Tidak\boleh diberikan pada wanita hamil
karena dapat menyebabkan kematian fetus. Cara pengobatan dengan pedofilin
ini sering dipakai. Hasilnya baik pada lesi yang baru, tetapi kurang
memuaskan pada lesi yang hiperkeratotik, lama atau yang berbentuk flat.10

Podofilotoksin 0,5% (podofiloks)


Bahan ini merupakan zat aktif yang terdapat dalam podofilin. Setelah
pemakaian podofiloks, dalam beberapa hari akan terjadi destruksi pada
jaringan kondiloma akuminata. Reaksi iritasi pada pemakaian podofiloks
lebih jarang terjadi dibandingkan dengan podofilin dan reaksi sistemik belum
pernah dilaporkan. Obat ini dapat dioleskan sendiri oleh penderita sebanyak 2
kali sehari selama 3 hari berturut-turut.10

Asam trikloroasetat
Digunakan larutan dengan konsentrasi 50 – 90%, dioleskan setiap minggu.
Pemberiannya harus hati-hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam.
Dapat diberikan pada wanita hamil.

21
I. Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

 Tidak ada medikasi yang efektif 100%. Vaksin HPV dapat dilakukan dan telah

disetejui oleh FDA. The Advisory Committee on Immunization Practice (ACIP)

merekomendasikan vaksinasi rutin untuk perempuan usia 11-12 tahun dan

vaksinasi catch-up untuk perempuan usia 13-26 tahun.

 Sexual abstinence

 Kondom dapat mencegah terjadinya penularan. 4

J. Komplikasi

 Transformasi untuk keganasan genitourinaria pada laki-laki maupun perempuan

 Penularan pada neonatus

 Kondiloma akuminata yang berulang. 4

 Pre-cancer dan cancer

Pre-malignant (vulva, anal, penile intra-epithelial neoplasia) atau lesi invasif

(vulva, anal dan kanker penis) dapat muncul bersamaan dengan kondiloma.

Bowenoid papulosis (BP) adalah lesi coklat kemerahan yang dihubungkan

dengan tipe HPV yang onkogenik dan merupakan bagian dari spektrum klinis

neoplasia intraepithelial anogenital. Biopsi dapat dilakukan. Varian lain yang

jarang adalah HPV tipe 6/11 yaitu penyakit kondiloma raksasa atau Buschke-

22
Lowenstein tumor. Ini merupakan karsinoma verukosa, ditandai dengan

infiltrasi lokal yang agresig sampai ke struktur dermal.5

K. Prognosis

Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Faktor predisposisinya

dicari, misalnya higiene, adanya flour albus, atau kelembaban pada pria akibat

tidak disirkumsisi.3

Banyak pasien baik itu gagal untuk merespon pengobatan atau rekuren. Tingkat

kekambuhan lebih dari 50% setelah 1 tahun dihubungkan dengan:

 Infeksi berulang dari kontak seksual

 Masa inkubasi yang panjang dari HPV

 Lokasi virus pada lapisan kulit superfisial

 Virus yang persisten di kulit, folikel rambut

 Lesi yang dalam

 Lesi subklinik

 Anunderlying immunosuppression. 4

BAB III

KESIMPULAN

23
Kondiloma akuminata merupakan penyakit menular seksual yang umum

terdapat dimasyarakat. Penyebabnya adala human papilloma virus (HPV). Sekitar

90% kondiloma akuminata berhubungan denga subtipe HPV 6 dan 11, yang memiliki

potensial yang rendah menimbulkan keganasan. Namun, apabila terkait dengan HPV

tipe 16 dan 18 cenderung untuk transformasi onkogenik. Terapi yang diberikan

terdapat beberapa macam yaitu kemoterapi (podophyllin, asam trikloroasetat, 5-

florourasil), terapi bedah (bedah eksisi, electrosurgery, laser theraphy), imunoterapi,

dan interferon. Vaksinasi HPV mungkin secara signifikan dapat mengurangi beban

penyakit dengan mencegah infeksi dan penularan virus.2, 3, 9

DAFTAR PUSTAKA

1. Bakardzhiev I, Pehlivanov G, Stransky D, Gonevski M. Treatment of


Candylomata Acuminata and Bowenoid Papulosis With CO2 Laser and
Imiquimod. J of IMAB- Annual Procceding (Scientific Papers). 2012;18:246-9.
2. Valarie, Yanofsky, Patel, & Goldenberg. Genital Warts: A Comprehensive
Review. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. June 2012: Vol
5:61.
3. Djuanda A. Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2009.
4. Ghadishah,Delaram.Reference:Condyloma-Acuminata.
http://emedicine.medscape.com/article/781735-overview.
5. Lacey, Woodhall, Wikstrom, Ross. European Guideline for the Management of
Anogenital Warts. 2011: 130911.

24
6. Djuanda A. Penyakit Virus. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010. p. 112-4.
7. Braga, Stiepcich, Muller, Nadal, Valeria. Buschke-Loewenstein tumor:
Identification of HPV type 6 and 11. Anais Brasileiros de Dermatologia.
2012;87(1):131-134.
8. Siregar, R.S. Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2005. p. 90-91.
9. Chang GJ, Welton M. Human Papilloma Virus, Condylonata Acuminata, and
Anal Naoplasia. Clinic in Colon and Rectal Surgery. 2004., 17(4), p. 221-230
10. Zubier F. Dalam : Daili SF, Makes WIB, Zuber F. Infeksi Menular Seksual. Edisi
Keempat. Jakarta: Balai Penerbit; 2009.h.140-145.

25