You are on page 1of 10

HUBUNGAN SIKAP KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA PADA

PEKERJA LAUNDRY DI KECAMATAN PURWOKERTO UTARA


KABUPATEN BANYUMAS

CORRELATION WORKING ATTITUDE WITH WORKING FATIGUE


IN LAUNDRY WORKERS AT NORTH PURWOKERTO DISTRICT
BANYUMAS REGENCY

Gandung Kartika Tri Nugroho1), Nur Ulfah2), Siti Harwanti3)


Mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jendral Soedirman

ABSTRACT
Fatigue could significantly degrade performance and increase the error rate of
employment. Moreover, fatigue contributed significantly to the occurrence of
occupational accidents. Fatigue is characterized by weakening employment of labor
in doing the work or activities. Fatigue was influenced by several factors, both
internal and external factors. Working attitude was one of the internal factors. The
purpose of this study was to determine the relationship of working attitude to the
occurrence of working fatigue of workers at Laundry on North Purwokerto district
in Banyumas. The study was conducted using observational approach by cross
sectional research design with the study sample amounted to 150 respondents
consisted of 30 samples in 5 section laundry. Analyses of data used are univariate
and bivariate analysis(chi square). Based on five section working attitude studied
are weighing, washing, drying, ironing and packaging, factor associated with work
exhausted is the ironing section. The factor that are not associated with work
exhausted is weighing, washing, drying and packaging. As a suggestion to reduce
the occurrence of fatigue, giving education of ergonomic attitude on laundry
workers and more resting time, and giving ergonomic design means working as an
ergonomic desk chair for ironing section.
Keywords : Working Fatigue, Working Attitudes, Labor in Laundry
Bibliography : 42 (1988-2011)
Kesmasindo, Volume 7(3) Juli 2015, Hal. 209-217

PENDAHULUAN dan penurunan produktivitas kerja


Kelelahan kerja merupakan (Budiono dkk, 2004). Hasil
kriteria yang lengkap tidak hanya penelitian yang dilakukan oleh
menyangkut kelelahan yang bersifat Kementrian Tenaga Kerja Jepang
fisik dan psikis saja tetapi lebih terhadap 12.000 perusahaan yang
banyak berkaitan dengan adanya melibatkan sekitar 16.000 pekerja di
penurunan kinerja fisik, adanya negara tersebut yang dipilih secara
perasaan lelah, penurunan motivasi, acak telah menunjukkan hasil bahwa

209
210 Jurnal Kesmasindo, Volume 7, Nomor 3, Juli 2015, Hal. 209-217
ditemukan 65% pekerja Metodologi Penelitian
mengeluhkan kelelahan fisik akibat Penelitian ini menggunakan
kerja rutin, 28% mengeluhkan pendekatan Crossectional. Penelitian
kelelahan mental dan sekitar 7% dilakukan di Jasa Laundry
pekerja mengeluh stress berat dan Kecamatan Purwokerto Utara dengan
merasa tersisihkan (Hidayat, 2003). sampel penelitian berjumlah 150
Ada beberapa faktor-faktor orang terdiri dari 30 pekerja ditiap
yang menyebabkan terjadinya bagian yaitu penimbangan,
kelelahan antara lain kesegaran pencucian, pengeringan, penyetrika-
jasmani, kebiasaan merokok, an dan pengemasan. Sumber data
masalah psikologis, status kesehatan, dalam penelitian ini adalah data
jenis kelamin, status gizi, waktu primer yaitu data yang diperoleh dari
kerja, beban kerja, usia, dan masalah hasil wawancara kepada responden
lingkungan kerja (Tarwaka, 2004). dengan menggunakan kuesioner dan
Berdasarkan survei Survei data sekunder yaitu dengan
pendahuluan terhadap 10 responden kuesioner KAUPK 2 dan check list
pada pekerja laundry, 3 responden sikap kerja.
(30%) tergolong dalam kelelahan Variabel penelitian dalam
berat, 3 responden (30%) tergolong penelitian ini terdiri dari variabel
dalam kelelahan sedang, dan 3 bebas yaitu keluhan perasaan lelah,
responden (30%) tergolong dalam variabel terikat yaitu sikap kerja
kelelahan ringan. Sikap kerja yang disetiap bagian. Analisis data yang
dilakukan, 9 responden melakukan digunakan yaitu analisis univariat
sikap kerja dengan memutar dan analisis bivariat (uji Chi-
pinggang dan membungkuk pada Square).
proses penimbangan, 7 responden
tidak berdiri pada posisi yang wajar Hasil dan Pembahasan
pada proses pengeringan, 5 1. Hubungan Sikap kerja dengan
responden dengan postur kerja yang Kelelahan Kerja dibagian
statis pada proses penyetrikaan. Penimbangan
Gandung Kartika TN., Hubungan Sikap Kerja Dengan Kelelahan Kerja 211
Analisis bivariat dilakukan Lingkungan Fisik dan Sikap Kerja
dengan menggunakan uji chi-square terhadap Perubahan Tingkat
dimana skala data ordinal. Hasil Kelelahan Siswa Sd Negeri Sompok
analisis dapat dilihat pada tabel 1 IV Semarang menunjukan bahwa
Tabel 1 Hubungan Sikap kerja tidak ada hubungan antara sikap
dengan Kelelahan dibagian kerja dengan perubahan tingkat
penimbangan kelelahan siswa SD Negeri Sompok
Kelelahan P
IV Semarang dengan nilai p=0,134 >
Sikap Total α
Value
Kerja
Ringan Berat α = 0,005.
N % N % N %
Hal ini dikarenakan sikap
Baik 12 70,6 5 29,4 27 100 0,072
0,05
kerja yang dilakukan pada bagian
Buruk 4 30,8 9 69,2 13 100
Total 16 14 30 100
penimbangan hanya sesaat, dengan
proses kerja yang singkat sehingga
Hasil Uji Chi Square
waktu istirahat manjadi banyak.
diperoleh nilai p = 0,072 > α = 0,005
Istirahat bersifat katabolistis yaitu
yang menunjukan bahwa tidak ada
membangun tubuh kembali. Istirahat
hubungan antara sikap kerja dengan
yang cukup dapat memberikan
kelelahan pada pekerja laundry
kesempatan kepada tubuh untuk
bagian penimbangan.
melakukan pemulihan. Pada keadaan
Penelitian ini sejalan dengan
istirahat atau relaksasi, bahan-bahan
penelitian yang dilakukan oleh
yang diperlukan oleh sel-sel otot
Nurmala (2008) tentang Hubungan
dapat sampai kepada jaringan dan
Antara Karakteristik Individu, Sikap
sel-sel otot (Suma’mur, 1989).
Kerja, dan Kualitas Tidur Dengan
2. Hubungan Sikap Kerja dengan
Kelelahan Kerja Pada Perawat Rs. X
Kelelahan Kerja dibagian
Gresik, tidak terdapat hubungan
Pencucian
antara sikap kerja dengan kelelahan
Analisis bivariat dilakukan
dengan nilai p = 0,031 > α = 0,005.
dengan menggunakan uji chi-square
Penelitian lain oleh Nurullita (2008)
dimana skala data ordinal. Hasil
tentang Hubungan Peran Faktor
analisis dapat dilihat pada tabel 2
212 Jurnal Kesmasindo, Volume 7, Nomor 3, Juli 2015, Hal. 209-217

Tabel 2 Hubungan Sikap kerja dengan Kelelahan dibagian pencucian

Kelelahan
Total P Value α
Sikap Kerja Ringan Berat
N % N % N %
Baik 8 66,7 4 33,3 12 100 0,156
0,05
Buruk 6 33,3 12 66,7 18 100
Total 14 16 30 100

Hasil Uji Chi Square Kerja Duduk dengan Kelelahan yang


diperoleh nilai p = 0,156 > α = 0,005 dialami oleh Tenaga Kerja Bagian
yang menunjukan bahwa tidak ada Penjahitan Pt. Sai Apparel Industries
hubungan antara sikap kerja dengan Semarang menunjukan bahwa tidak
kelelahan pada pekerja laundry ada hubungan sikap kerja duduk
bagian pencucian. Penelitian ini dengan kelelahan pada tenaga kerja
sejalan dengan penelitian yang bagian penjahitan di PT. Sai Apparel
dilakukan oleh Herlina dan Ratna Industries Semarang.
(2007) menunjukan bahwa tidak 3. Hubungan Sikap Kerja dengan
terdapat hubungan antara sikap kerja Kelelahan Kerja dibagian
lama duduk pada pengemudi bis Pengeringan
trans jogja dengan kelelahan dengan Analisis bivariat dilakukan
nilai p = 1,000 atau p > 0,05. dengan menggunakan uji chi-square
Penelitian lain oleh Wulandari dimana skala data ordinal. Hasil
(2006) tentang Hubungan Sikap analisis dapat dilihat pada tabel 3

Tabel 3 Hubungan Sikap kerja dengan Kelelahan dibagian pengeringan

Kelelahan
Total P Value α
Sikap Kerja Ringan Berat
N % N % N %
Baik 9 56,2 7 43,8 16 100 0,448
0,05
Buruk 5 35,7 9 64,3 14 100
Total 14 16 30 100
Gandung Kartika TN., Hubungan Sikap Kerja Dengan Kelelahan Kerja 213
Penelitian ini sejalan dengan
penelitian Akhadia (2008) tentang
Hasil Uji Chi Square Hubungan Antara Postur Kerja
diperoleh nilai p = 0,448 > α = 0,005 dengan Kelelahan Perawat di Ruang
yang menunjukan bahwa tidak ada Igd, Icu dan Ibs Rumah Sakit "X"
hubungan antara sikap kerja dengan Gresik menunjukan bahwa tidak ada
kelelahan pada pekerja laundry hubungan yang signifikan antara
bagian pengeringan. Proses kerja postur kerja dengan kelelahan
bagian pengeringan dinamis dinama dengan nilai p=0,278. Penelitian lain
pekerja membawa cucian ketempat oleh Mentari dkk (2012) me-
pengeringan. Menurut Tarwaka nunjukan bahwa tidak ada hubungan
(2004) untuk mengurangi tingkat sikap kerja angkat-angkut dengan
kelelahan maka harus dihindarkan kelelahan pada pada pemanen kelapa
sikap kerja yang bersifat statis dan sawit di PT. Perkebunan Nusantara
diupayakan sikap kerja yang lebih IV (Persero) Unit Usaha Adolina
dinamis. Hal ini dapat dilakukan Tahun 2012 dengan nilai p=0,134.
dengan merubah sikap kerja yang 4. Hubungan Sikap Kerja dengan
statis menjadi sikap kerja yang lebih Kelelahan Kerja dibagian
bervariasi atau dinamis. Sehingga Penyetrikaan
sirkulasi darah dan oksigen dapat Analisis bivariat dilakukan
berjalan normal ke seluruh anggota dengan menggunakan uji chi-square
tubuh. dimana skala data ordinal. Hasil
analisis dapat dilihat pada tabel 4

Tabel 4 Hubungan Sikap kerja dengan Kelelahan dibagian penyetrikaan

Kelelahan
Total P Value α
Sikap Kerja Ringan Berat
N % N % N %
Baik 12 80 3 20 15 100 0,003
0,05
Buruk 3 20 12 80 15 100
Total 15 15 30 100
214 Jurnal Kesmasindo, Volume 7, Nomor 3, Juli 2015, Hal. 209-217

Hasil Uji Chi Square dari meja kerja akan mengalami


diperoleh nilai p = 0,003 < α = 0,05 kelelahan yang lebih besar
yang menunjukan bahwa ada dibandingkan dengan pekerja yang
hubungan antara sikap kerja dengan bekerja dengan sikap kerja dengan
kelelahan pada pekerja laundry siku yang tidak terlalu tinggi dari
bagian penyetrikaan. meja kerja. Penelitian lain oleh
Pada saat tubuh berada dalam Susetyo dan Titin (2009)
posisi statis maka akan terjadi menunjukan bahwa keluhan
penyumbatan aliran darah dan subyektif kelelahan pada perajin
mengakibatkan pada bagian tersebut perak di Desa Singapadu Kabupaten
kekurangan oksigen dan glukosa dari Gianyar desebakan oleh sikap kerja
darah. Hal ini apabila terjadi terus- yang kurang alamiah dan intensitas
menerus akan menimbulkan lingkungan kerja yang kurang
kelelahan (Setyowati, 2011). memadai.
Penelitian ini sejalan dengan 5. Hubungan Sikap Kerja dengan
Eni (1998) yang menunjukkan Kelelahan Kerja dibagian
bahwa ada hubungan antara sikap Pengemasan
kerja tidak ergonomis dengan Analisis bivariat dilakukan
kelelahan pada pekerja sanding CV. dengan menggunakan uji chi-square
Citra Jepara Divisi Karangjati dimana skala data yang digunakan
Kabupaten Semarang. Pekerja yang adalah ordinal. Hasil analisis dapat
melakukan pekerjaan dengan sikap dilihat pada tabel 4.10.
kerja tinggi siku yang terlalu tinggi

Tabel 4.10. Hubungan Sikap kerja dengan Kelelahan dibagian pengeringan

Kelelahan P
Total α
Sikap Kerja Ringan Berat Value
N % N % N %
Baik 11 68,8 5 31,2 16 100 0,067
0,05
Buruk 4 28,6 10 71,4 14 100
Total 15 15 30 100
Gandung Kartika TN., Hubungan Sikap Kerja Dengan Kelelahan Kerja 215

Hasil Uji Chi Square mengalami kelelahan ringan 16


diperoleh nilai p = 0,067 > α = 0,05 pekerja ( 53,3%) dan lainya
yang menunjukan bahwa tidak ada mengalami kelelahan berat 14
hubungan antara sikap kerja dengan pekerja (46,7%).
kelelahan pada pekerja laundry b. Pekerja dibagian pencucian
bagian pengemasan. Penelitian ini melakukan sikap kerja tidak
sejalan dengan penelitian Umiyati ergonomi 18 pekerja (60%)
(2009) menunjukan bahwa tidak ada dan sikap kerja ergonomi 12
hubungan yang antara postur kerja pekerja (40%). Pekerja yang
dengan kelelahan pada pekerja mengalami kelelahan berat 16
penjahit sektor usaha informal di pekerja ( 53,3%) dan lainya
wilayah Ketapang Cipondoh mengalami kelelahan ringan 14
Tangerang dengan nilai p=0,146. pekerja (46,7%).
Penelitian lain oleh Sulistia c. Pekerja dibagian pengeringan
(2011) menunjukan bahwa resiko melakukan sikap kerja
ergonomi pekerjaan tidak memiliki ergonomi 16 pekerja (53,3%)
hubungan yang bermakna dengan dan tidak ergonomi 14 pekerja
kejadian kelelahan pada karyawan di (46,7%). Pekerja yang
instalasi gizi Rumah Sakit Umum mengalami kelelahan berat 16
Daerah (RSUD) Pasar Rebo Jakarta pekerja ( 53,3%) dan lainya
dengan nilai p = 0,723 > α = 0,05 mengalami kelelahan ringan 14
pekerja (46,7%).
SIMPULAN DAN SARAN d. Pekerja dibagian penyetrikaan
Simpulan memiliki melakukan sikap
1. Karakteristik sikap dan kelelahan kerja ergonomi maupun tidak
tiap bagian laundry. ergonomi 15 pekerja (50%)
a. Pekerja dibagian penimbangan dan pekerja yang mengalami
melakukan sikap kerja kelelahan ringan maupun berat
ergonomi 17 pekerja (56,7%) 15 pekerja (50%).
dan tidak ergonomi 13 pekerja e. Pekerja yang melakukan sikap
(43,3%). Pekerja yang kerja ergonomi baik 16 pekerja
216 Jurnal Kesmasindo, Volume 7, Nomor 3, Juli 2015, Hal. 209-217

(53,3%) dan ergonomi buruk


14 pekerja (46,7%). Pekerja Saran
yang mengalami kelelahan 1. Disarankan adanya penyuluhan
ringan maupun berat 15 tentang sikap ergonomis pada
pekerja ( 50%). pekerja laundry.
2. Tidak ada hubungan antara sikap 2. Mendesain sarana kerja yang
kerja dibagian penimbangan, ergonomis seperti meja kursi yang
pencuucian, pengeringan dan ergonomis untuk bagian
penyetrikaan dengan kelelahan di penyetrikaan.
bagian penimbangan. 3. Tenaga kerja diharapkan lebih
3. Ada hubungan antara sikap kerja memeperhatikan waktu istirahat
dengan kelelahan di bagian terutama pada bagian
penyetrikaan. penyetrikaan.

DAFTAR PUSTAKA Manuba, A. 2000. Ergonomi


kesehatan dan Kesekamatan
ILO. 2007. Encyclopedia of
Kerja. Guna Widya. Surabaya.
Occupational Health and
Setyawati, Lintje Kusuma Maurits.
Safety. 4th edition Vol 1-2-4.
2011. Selintas Tentang
Kelelahan Kerja. Amara
Joko Susetyo, Titin Isna Oes,
Books, Yogyakarta.
Suyasning Hastiko
Indoneisani. 2008. Prevalensi Suma’mur, P.K. 1989. Ergonomi
Keluhan Subjektif atau untuk Produktivitas Kerja. PT.
Kelelahan Karena Sikap Kerja Toko Gunung Agung, Jakarta.
yang Tidak Ergonomis pada
_____________. 2009. Higene
Pengrajin Perak. Jurnal
Perusahaan dan Kesehatan
Teknologi-Volume 1/ No. 2/
Kerja. PT. Toko Gunung
2008
Agung, Jakarta.
Gandung Kartika TN., Hubungan Sikap Kerja Dengan Kelelahan Kerja 217

Tarwaka, Solichun HA. Bakri, Lilik


Sudiajeng. 2004. Ergonomi
untuk keselamatan, Kesehatan
Kerja dan Produktivitas. Uniba
Press, Surakarta.