You are on page 1of 34

MAKALAH APPENDISITIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Dewasa I

Dosen Pembimbing

Bapak Chandra Bagus Ropyanto, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.MB

Disusun Oleh : Kelompok 5

Diah Ayu Siska 22020114130131

Endang Susilowati 22020114120007

Fanni Dewi Astuti 22020114120069

Galuh Ianninda Pramono 22020114140087

I Putu Krisna Widya N. 22020114130105

Ririn Purwaningtyas 22020114130129

A14.2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami memberi judul makalah appendisitis.

Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari pihak-pihak
yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah
ini. Rasa terimakasih kami sampaikan kepada Ibu dosen pembimbing, Bapak Chandra Bagus
Ropyanto, S.Kp., M.Kep., Sp.Kep.MB yang telah bersedia menuntun dan membantu kami dalam
pembuatan makalah ini.

Kami sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan menyadari bahwa apa yang
kami sampaikan dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dalam proses
penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu kami
selaku penulis dan penyusun makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca yang bersifat membangun sehingga dapat membantu kami untuk dapat lebih
menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat berharap apa yang kami sajikan
dalam makalah ini dapat memberikan manfaat-manfaat yang sedianya dapat berguna bagi
pembaca pada umumnya dan para penyelenggara pendidikan pada khususnya sehingga apa yang
menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa Indonesia dapat tercapai
sebagaimana yang diharapkan.

Semarang, 24 November 2015

Kelompok 5

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................... I


DAFTAR ISI................................................................................................................................................. II
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 3
A. LATAR BELAKANG.............................................................................................................................. 3
B. RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................. 3
C. TUJUAN PENULISAN .................................................................................................................... 3
D. MANFAAT PENULISAN ................................................................................................................ 3
E. SISTEMATIKA PENULISAN ......................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................................................................. 4
A. PENGERTIAN ................................................................................................................................. 4
B. KLASIFIKASI .................................................................................................................................. 4
C. ANATOMI ........................................................................................................................................ 5
D. ETIOLOGI ........................................................................................................................................ 9
E. MANIFESTASI KLINIK ............................................................................................................... 11
F. SKEMA PATOFISIOLOGI ............................................................................................................ 12
G. PENATALAKSANAAN ................................................................................................................ 14
H. KOMPLIKASI ................................................................................................................................ 18
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ...................................................................................................... 19
A. PENGKAJIAN ................................................................................................................................ 19
B. RENCANA KEPERAWATAN ...................................................................................................... 24
BAB IV PENUTUP .................................................................................................................................... 32
A. KESIMPULAN ............................................................................................................................... 32
B. SARAN ........................................................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 33

II
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana konsep appendicitis ?
2. Bagaimana asuhan keperawatan pada appendicitis?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui konsep appendicitis.
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada appendicitis.

D. MANFAAT PENULISAN
Sebagai penulis maupun pembaca diharapkan dapat mengetahui atau mendalami
segala hal yang berkaitan dengan appendisitis secara baik. Hal-hal yang dapat diketahui
meliputi pengertian, etiologi, anatomi apendiks, manifestasi klinik, dan komplikasi pada
appendicitis serta masalah keperawatan dan penanganannya.

E. SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah ini terdiri dari 3 bab yang disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah,


tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika penulisan.

BAB II : Isi yang terdiri dari pengertian, klasifikasi, anatomi, etiologi,


manifestasi klinik, patofisiologi, penatalaksanaan, dan komplikasi.

BAB III : Asuhan keperawatan pada klien 3ppendicitis.

BAB IV : Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran

3
BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Apendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini mengenai semua umur baik
laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki berusia 10 sampai
30 tahun (Mansjoer, 2000). Sedangkan menurut Smeltzer C. Suzanne (2001), Apendisitis
adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan dari rongga
abdomen dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat.Jadi,
dapat disimpulkan apendisitis adalah kondisi dimana terjadi infeksi pada umbai
apendiks dan merupakan penyakit bedah abdomen yang paling sering terjadi.

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan
apendisitis kronik (Sjamsuhidayat, 2005).
1. Apendisitis akut.
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak
disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut adalah nyeri samar-samar
dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus.
Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah.
Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah
ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga
merupakan nyeri somatik setempat.
Apendisitis Akut menjadi apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu
setelah sembuh akan timbul striktur local dan appendisitis purulenta difusi, yaitu
sudah bertumpuk nanah.
Appendisitis akut dalam 48 jam dapat menjadi :

a. Sembuh
b. Kronik
c. Perforasi
d. Infiltrat
2. Apendisitis kronik.

4
Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya
riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara
makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah
fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks,
adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa , dan adanya sel inflamasi kronik.
Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.
Apendisitis kronik dibagi menjadi 2, yaitu apendisitis kronis fokalis atau
parsial, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur local dan apendisitis kronis
obliteritiva, yaitu appendiks miring dimana biasanya ditemukan pada usia tua.

C. ANATOMI
1. Anatomi usus besar
Usus besar atau kolon yang panjangnya kira-kira satu setengah meter, adalah
sambungan dari usus halus dan mulai di katup ileokolik atau ileoseka, yaitu tempat
sisa makanan lewat, dimana normalnya katup ini tertutup dan akan terbuka untuk
merespon gelombang peristaltik dan menyebabkan defekasi atau pembuangan.
Usus besar terdiri atas empat lapisan dinding yang sama seperti usus halus. Serabut
longitudinal pada dinding berotot tersusun dalam tiga jalur yang memberi rupa
berkerut-kerut dan berlubang-lubang. Dinding mukosa lebih halus dari yang ada pada
usus halus dan tidak memiliki vili. Didalamnya terdapat kelenjar serupa kelenjar
tubuler dalam usus dan dilapisi oleh epitelium silinder yang memuat sela cangkir.
Usus besar terdiri dari
a. Sekum
Sekum adalah kantung tertutup yang menggantung dibawah area katup
ileosekal. Apendiks vermiformis merupakan suatu tabung buntu yang sempit,
berisi jaringan limfoid, menonjol dari ujung sekum.
b. Kolon
Kolon adalah bagian usus besar, mulia dari sekum sampai rektum. Kolon
memiliki tiga bagian, yaitu :
a) Kolon asenden
Merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hatti sebelah kanan dan
membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.

5
b) Kolon transversum
Merentang menyilang abdomen dibawah hati dan lambung sampai ke tepi
lateral ginjal kiri, tempatnya memutar kebawah pada flkesura splenik.
c) Kolon desenden
Merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi kolon sigmoid
berbentuk S yang bermuara di rektum.
c. Rektum
Rektum Adalah bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12
sampai 13 cm. Rektum berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior
di anus.
2. Anatomi appendiks
Apendiks terbentuk dari caecum pada tahap embrio. Apendiks merupakan organ
yang berbentuk tabung panjang dan sempit. Panjangnya kira-kira 10cm (kisaran 3-
15cm) dan pada orang dewasa umbai cacing berukuran sekitar 10 cm. Walaupun
lokasi apendiks selalu tetap yaitu berpangkal di sekum, lokasi ujung umbai cacing
bisa berbeda-beda, yaitu di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang pasti tetap
terletak di peritoneum.
Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian
distal. Saat lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum.
Selama anak-anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi
masih dalam intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu
dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk
mendeteksi apendiks. Posisi apendiks terbanyak adalah Retrocaecal (74%) lalu
menyusul Pelvic (21%), Patileal(5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal
(1%).
Apendiks dialiri darah oleh arteri apendicular yang merupakan cabang dari bagian
bawah arteri ileocolica. Arteri apendiks termasuk arteri akhir atau ujung. Apendiks
memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus limfe
ileocaecal.

6
3. Fisiologi apendiks
Apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan
kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Lendir dalam apendiks bersifat
basa mengandung amilase dan musin. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan
oleh GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) yang terdapat disepanjang saluran
cerna termasuk apendiks ialah IgA. Immunoglobulin tersebut sangat efektif
sebagai perlindungan terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan
apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfa
disini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya disaluran cerna dan diseluruh
tubuh. Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur kedalam

7
sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan lumennya cenderung kecil, maka
apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap infeksi (
Sjamsuhidayat, 2005).

4. Fungsi appendiks

Para ahli meyakini fungsi appendiks antara lain sebagai berikut :

1. Berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh

Antara lain menghasilkan Immunoglobulin A (IgA) seperti halnya bagian lain dari
usus. IgA merupakan salah satu immunoglobulin (antibodi) yang sangat efektif
melindungi tubuh dari infeksi kuman penyakit. Menurut penelitian appendiks
memiliki fungsi pada fetus dan dewasa. Telah ditemukan sel endokrin pada
appendiks dari fetus umur 11 minggu yang berperanan dalam mekanisme kontrol
biologis (homeostasis). Pada dewasa, appendiks berperan sebagai organ limfatik.
Dalam penelitian terbukti appendiks kaya akan sel limfoid, yang menunjukkan
bahwa appendiks mungkin memainkan peranan pada sistem imun. Pada dekade
terakhir para ahli bedah berhenti mengangkat appendiks saat melakukan prosedur
pembedahan lainnya sebagai suatu tindakan pencegahan rutin, pengangkatan
appendiks hanya dilakukan dengan indikasi yang kuat, oleh karena pada kelainan
saluran kencing tertentu yang membutuhkan kemampuan menahan kencing yang
baik (kontinen), apendiks telah terbukti berhasil ditransplantasikan kedalam
saluran kencing yang menghubungkan buli (kandung kencing) dengan perut
sehingga menghasilkan saluran yang kontinen dan dapat mengembalikan
fungsional dari buli.

2. Appendiks dulunya berguna dalam mencerna dedaunan seperti halnya pada


primata. Sejalan dengan waktu, kita memakan lebih sedikit sayuran dan mulai
mengalami evolusi, selama ratusan tahun, organ ini menjadi semakin kecil untuk
memberi ruang bagi perkembangan lambung. appendiks kemungkinan merupakan
organ vestigial dari manusia prasejarahyang mengalami degradasi dan hampir
menghilang dalam evolusinya. Bukti dapat ditemukan pada hewan herbivora
seperti halnya Koala. Sekum dari koala melekat pada perbatasan antara usus besar

8
dan halus seperti halnya manusia, namun sangat panjang, memungkinkan baginya
untuk menjadi tempat bagi bakteria spesifik untuk pemecahan selulosa. Sejalan
dengan manusia yang semakin banyak memakan makanan yang mudah dicerna,
mereka semakin sedikit memakan tanaman yang tinggi selulosa sebagai energi.
Sekum menjadi semakin tidak berguna bagi pencernaan hal ini menyebabkan
sebagian dari sekum semakin mengecil dan terbentuklah appendiks. Teori evolusi
menjelaskan seleksi natural bagi appendiks yang lebih besar oleh karena
appendiks yang lebih kecil dan tipis akan lebih baik bagi inflamasi dan penyakit.

3. Menjaga Flora Usus

Penelitian yang dilakukan mengajukan teori bahwa appendiks menjadi surga bagi
bakteri yang berguna, saat penyakit menghilangkan semua bakteria tersebut dari
seluruh usus. Teori ini berdasarkan pada pemahaman baru bagaimana sistem imun
mendukung pertumbuhan dari bakteri usus yang berguna. Terdapat bukti bahwa
appendiks sebagai alat yang berfungsi dalam memulihkan bakteri yang berguna
setelah menderita diare.

D. ETIOLOGI
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai berperan sebagai faktor
pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks dan cacing
askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat
menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti
E.histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi
akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.
Semuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut. (Sjamsuhidayat, 2005).
Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. namun ada
beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :
1. Faktor sumbatan

9
Faktor obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%)
yang diikuti oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan
lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab
lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obsrtruksi yang
disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut
diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65%
pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis
akut dengan rupture.
2. Faktor Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis
akut. Adanya fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan
memperberat infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen
apendiks, pada kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara
Bacteriodes fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas,
Bacteriodes splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman
anaerob sebesar 96% dan aerob<10%.
3. Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan tedapatnya malformasi yang herediter dari organ,
apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang
mudah terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan
dalam keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya
fekolith dan mengakibatkan obstruksi lumen.
4. Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari.
Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih
tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang,
kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke pola
makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi serat
kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang lebih tinggi.
5. Faktor infeksi saluran pernapasan setelah mendapat penyakit saluran pernapasan akut
terutama epidemi influenza dan pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat.

10
Namun, hati-hati karena penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menimbulkan
seperti gejala permulaan apendisitis.

E. MANIFESTASI KLINIK
Apendisitis akut sering tampil dengan gejala yang khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat. Nyeri kuadran bawah terasa
dan biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan.
Pada apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan pada kuadran kanan
bawah pada titik Mc.Burney yang berada antara umbilikus dan spinalis iliaka superior
anterior. Derajat nyeri tekan, spasme otot dan apakah terdapat konstipasi atau diare tidak
tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi apendiks. Bila apendiks melingkar
dibelakang sekum, nyeri dan nyeri tekan terasa di daerah lumbal. Bila ujungnya ada pada
pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. nyeri pada
defekasi menunjukkan ujung apendiks berada dekat rektum. nyeri pada saat berkemih
menunjukkan bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya
kekakuan pada bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul
dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial menyebabkan
nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi
menyebar. Distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan kondisi pasien
memburuk.Pada pasien lansia, tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi.
Tanda-tanda tersebut dapat sangat meragukan, menunjukkan obstruksi usus atau proses
penyakit lainnya. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur
apendiks. Insidens perforasi pada apendiks lebih tinggi pada lansia karena banyak dari
pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang
lebih muda (Smeltzer C. Suzanne, 2002).

11
F. SKEMA PATOFISIOLOGI

Infeksi akibat bakteri, virus, jamur, feses yang membatu, pola hidup,
benda asing.

Apendiksitis

Inflamasi

Edema (Berisi Pus)

Infeksi

Bakteri flora Apendik Obs. usus


usus
(bawah kanan
rongga abdomen)
Abses
Konstipasi
sekunder
Rangsang syaraf
reseptor

Pelvis Diafragma Hati


Nyeri

Jumlah
leuosit

Hiperthermy

12
13
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pasien dengan apendisitis akut meliputi terapi medis dan terapi bedah.
Terapi medis terutama diberikan pada pasien yang tidak mempunyai akses ke pelayanan
bedah, dimana pada pasien diberikan antibiotik. Namun sebuah penelitian prospektif
menemukan bahwa dapat terjadi apendisitis rekuren dalam beberapa bulan kemudian
pada pasien yang diberi terapi medis saja. Selain itu terapi medis juga berguna pada
pasien apendisitis yang mempunyai risiko operasi yang tinggi.

Namun pada kasus apendisitis perforasi, terapi medis diberikan sebagai terapi awal
berupa antibiotik dan drainase melalui CT-scan pada absesnya. The Surgical Infection
Society menganjurkan pemberian antibiotik profilaks sebelum pembedahan dengan
menggunakan antibiotik spektrum luas kurang dari 24 jam untuk apendisitis non perforasi
dan kurang dari 5 jam untuk apendisitis perforasi.

Penggantian cairan dan elektrolit, mengontrol sepsis, antibiotik sistemik adalah


pengobatan pertama yang utama pada peritonitis difus termasuk akibat apendisitis dengan
perforasi.

1. Cairan intravena

Cairan yang secara massive ke rongga peritonium harus di ganti segera dengan cairan
intravena, jika terbukti terjadi toxix sistemik, atau pasien tua atau kesehatan yang
buruk harus dipasang pengukur tekanan vena central. Balance cairan harus
diperhatikan. Cairan atau berupa ringer laktat harus di infus secara cepat untuk
mengkoreksi hipovolemia dan mengembalikan tekanan darah serta pengeluaran urin
pada level yang baik. Darah di berikan bila mengalami anemia dan atau dengan
perdarahan secara bersamaan.

2. Antibiotik

Pemberian antibiotik intravena diberikan untuk antisipasi bakteri patogen, antibiotik


initial diberikan termasuk gegerasi ke 3 cephalosporins, ampicillin– sulbaktam, dll,
dan metronidazol atau klindanisin untuk kuman anaerob. Pemberian antibiotik
postops harus di ubeah berdasarkan kulture dan sensitivitas. Antibiotik tetap
diberikan sampai pasien tidak demam dengan normal leukosit. Setelah memperbaiki
keadaan umum dengan infus, antibiotik serta pemasangan pipa nasogastrik perlu di
lakukan pembedahan sebagai terapi definitif dari appendisitis perforasi.

Perlu dilakukan insisi yang panjang supaya mudah dilakukan pencucian rongga
peritonium untuk mengangkat material seperti darah, fibrin serta dilusi dari bakteria.

14
Pencucian cukup dengan larutan kristaloid isotonis yang hangat, penambahan
antiseptik dan antibiotik untuk irigasi cenderung tidak berguna bahkan malah
berbahaya karena menimbulkan adhesive (misal tetrasiklin atau provine iodine),
antibiotik yang diberikan secara parenteral dapat mencapai rongga peritonium dalam
kadar bakterisid.

Ada juga ahli yang berpendapat bahwa dengan penambahan tetrasiklin 1 mg dalam 1
ml larutan garam dapat mengendalikan sepsis dan bisul residual, pada kadar ini
antibiotik bersifat bakterisid terhadap kebanyakan organisme. Walaupun sedikit
membuat kerusakan pada permungkaan peritonial tapi tidak ada bukti bahwa
menimbulkan resiko perlengketan. Tapi zat lain seperti iodine tidak populer. Setelah
pencucian seluruh cairan di rongga peritonium seluruh cairan harus diaspirasi.

3. Apendiktomi
Apendiktomi terbuka merupakan operasi klasik pengangkatan apendiks.
Mencakup Mc Burney, Rocke-Davis atau Fowler-Weir insisi. Dilakukan diseksi
melalui oblique eksterna, oblique interna dan transversal untuk membuat suatu
muscle spreading atau muscle splitting, setelah masuk ke peritoneum apendiks
dikeluarkan ke lapangan operasi, diklem, diligasi dan dipotong. Mukosa yang terkena
dicauter untuk mengurangi perdarahan, beberapa orang melakukan inversi pada
ujungnya, kemudian sekum dikembalikan ke dalam perut dan insisi ditutup.
Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah
appendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Penundaan
appendektomi sambil memberikan antibiotic dapat mengakibatkan abses perforasi.
Insidens appendix normal yang dilakukan pembedahan sekitar 20%. Pada
appendicitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah.
Konservatif kemudian operasi elektif, yaitu :
- Bed rest total posisi Fowler (anti Tredelenburg)
- Diet rendah serat
- Antibiotika spectrum luas
- Metronidazole
- Monitor: Tanda-tanda peritonitis (perforasi), suhu tiap 6 jam, LED bila
baik disuruh mobilisasi dan selanjutnya dipulangkan.

15
Penderita anak perlu cairan intravena untuk mengkoreksi dehhidrasi ringan.
Pipa nasogastrik dipasang untuk mengosongkan lambung dan untuk mengurangi
bahaya muntah pada waktu induksi anestesi. Pada appendicitis akut dengan
komplkasi berupa peritonitis karena perforasi menuntut tindakan yang lebih intensif,
karena biasanya keadaan anak sudah sakit berat.

Timbul dehidrasi yang terjadi karena muntah, sekuestrasi cairan dalam rongga
abdomen dan febris. Anak memerlukan perawatan intensif sekurang-kurangnya 4-6
jam sebelum dilakukan pembedahan. Pipa nasogastrik dpasang untuk mengosongkan
lambung agar mengurangi distensi abdomen dan mencegah muntah. Kalau anak dalm
keadaan syok hipovolemik maka diberikan cairan Ringer Laktat 20ml/kgBB dalam
larutan glukosa 5% secara intravena, kemudian diikuti dengan pemberian plasma atau
darah sesuai indkasi. Setelah pemberian cairan intravena sebaknya devalues kembali
kebutuhan dan kekurangan cairan. Sebelum pembedahan, anak harus memiliki urine
output sebanyak 1ml/kgBB/jam. Untuk menurunkan demam diberikan acetaminophen
suppository (60mg/ tahun umur). Jika suhu diatas 38% pada saat masuk rumah
sakit,kompres alcohol dan sedasi diindikasikan untuk mengontrol demam.

Antibiotika sebelum pembedahan dberikan pada semua anak dengan


appendists, antibotika profilaksis mengurangi insidensi komplikasi infeksi
appendicitis. Pemberian antibiotika dihentikan setelah 24 jam selesai pembedahan.
Antibiotika berspektrum luas diberikan secepatnya sebelum ada pembakan kuaman.
Pemberian antibiotika untuk infeksi anearob sangat berguna untuk kasus-kasus
perforasi appendicitis. Antibiotika diberikan selama 5 hari setelah pembedahan atau
melihat kondisi klinis penderita. Kombinasi antibiotika yang efektif melawan bakteri
aerob dan anaerob spectrum luas diberikan sebelum dan sesudah pembedahan.
Kombinasi ampisilin (100mg/kg), gentamisin (7,5mg/kg) dan klindamisin (40mg/kg)
dalam dosis terbag selama 24jam ukup efektif untuk mengontrol sepsis dan
menghilangkan komplikasi appendicitis perforas. Metronidazole aktif terhadap
bakteri gram negative dan didistribusikan dangen baik ka cairan tubuh dan jaraingan.
Obat ini lebh murah dan dapat dijadikan pengganti klindamisin.

16
4. Laparoskopik apendiktomi
Laparoskopik apendiktomi mulai diperkenalkan pada tahun 1987, dan telah
sukses dilakukan pada 90-94% kasus apendisitis dan 90% kasus apendisitis perforasi.
Saat ini laparoskopik apendiktomi lebih disukai. Prosedurnya, port placement terdiri
dari pertama menempatkan port kamera di daerah umbilikus, kemudian melihat
langsung ke dalam melalui 2 buah port yang berukuran 5 mm. Ada beberapa pilihan
operasi, pertama apakah 1 port diletakkan di kuadran kanan bawah dan yang lainnya
di kuadran kiri bawah atau keduanya diletakkan di kuadran kiri bawah. Sekum dan
apendiks kemudian dipindahkan dari lateral ke medial. Berbagai macam metode
tersedia untuk pengangkatan apendiks, seperti dectrocauter, endoloops, stapling
devices. Laparoskopi merupakan teknik terbaru dalam operasi untuk mengeluarkan
appendix. Dengan teknik resiko pembedahan seperti perdarahan dapat dminimalkan.
Selain itu, laparotomi merupakan salah satu langkah diagnostik dalam menegakkan
diagnose appendicitis.

17
Mengenai pemilihan metode tergantung pada ahli bedahnya. Apendiks
kemudian diangkat dari abdomen menggunakan sebuah endobag. Laparoskopik
apendiktomi mempunyai beberapa keuntungan antara lain bekas operasinya lebih
bagus dari segi kosmetik dan mengurangi infeksi pasca bedah. Beberapa penelitian
juga menemukan bahwa laparoskopik apendiktomi juga mempersingkat masa rawatan
di rumah sakit. Kerugian laparoskopik apendiktomi antara lain mahal dari segi biaya
dan juga pengerjaannya yang lebih lama, sekitar 20 menit lebih lama dari
apendiktomi terbuka. Namun lama pengerjaanya dapat dipersingkat dengan
peningkatan pengalaman. Kontraindikasi laparoskopik apendiktomi adalah pada
pasien dengan perlengketan intra-abdomen yang signifikan.

H. KOMPLIKASI
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks yang dapat berkembang
menjadi peritonitis atau abses. Insidens perforasi adalah 10% sampai 32%. Insidens
lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah
awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,70C atau lebih tinggi, penampilan
toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu (Smeltzer C.Suzanne, 2002).

18
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
Dalam melakukan asuhan keperawatan, pengkajian merupakan dasar utama dan
hal yang penting di lakukan baik saat pasien pertama kali masuk rumah sakit maupun
selama pasien dirawat di rumah sakit.
1. Biodata
Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/ bangsa,
pendidikan,pekerjaan, alamat dan nomor register.
2. Lingkungan
Dengan adanya lingkungan yang bersih, maka daya tahan tubuh penderita akan
lebih baik daripada tinggal di lingkungan yang kotor.
3. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Nyeri pada daerah kuadran kanan bawah, nyeri sekitar umbilikus. klien post
apendiktomi biasanya mengeluh nyeri pada luka operasi dan keterbatasan
aktifitas.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat operasi sebelumnya pada kolon.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan sekarang dikaji dengan menggunakan PQRST (paliatif and
provokatif, quality and quantity, region and radiasi, severity scale dan timing).
Klien yang telah menjalani operasi apendiktomi pada umumnya mengeluh
nyeri pada luka operasi yang akan bertambah saat digerakkan atau ditekan dan
umumnya berkurang setelah diberi obat dan diistirahatkan. Nyeri dirasakan
sperti ditusuk –tusuk dengan skala nyeri lebih dari lima (0-10). Nyeri akan
terlokalisasi di area operasi dapat pula menyebar di seluruh abdomen dan paha
kanan dan umumnya menetap sepanjang hari. Nyeri mungkin dapat
mngganggu aktivitas sesuai rentang toleransi masing –masing klien.
4. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi

19
Penderita berjalan membungkuk sambil memegang perut yang sakit,
kembung(+) bila terjadi perforasi, penonjolan perut kanan bawah terlihat pada
appendikuler abses.
Pemeriksaan pada anak, perhatikan posisi anak yang terbaring pada
meja periksa. Anak menunjukkan ekspresi muka yang tdak gembira. Anak
tidur miring ke sisi yang sakit sambil melakukan fleksi pada sendi paha,
karena setiap ektensi meningkatkan nyeri.
b. Palpasi
 Nyeri tekan (+) Mc. Burney
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran bawah atau titik Mc
Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
 Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum
Rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah rasa nyeri yang hebat
(dapat dengan melhat mimic wajah) di abdomen kanan bawah saat tekanan
secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang
perlahan dan dalam dititik Mc Burney.
 Defens muskuler(+) karena rangsangan M.Rektus Abdominis
Defens muskuler adalah nyeri tekan seluruh lapanagn abdomen yang
menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal.
 Rovsing sign
Penekanan perut sebelah kiri terjadi nyer sebelah kanan, karema
tekanan merangsang peristaltic dan udara usus, sehingga menggerakkan
peritoneum sekitar appendix yang meradang (somatic pain).
Rovsing sign adalah nyeri abdomen bagian kiri bawah, hal ini
diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang djalarkan karena ritasi peritoneal
pada sisi yang berlawanan.
 Psoas sign
Pada appendix letak retroceacal, karena rangsangan peritoneum Psoas
sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan
yang terjadi pada appendix.
Ada 2 cara memeriksa:

20
1. Aktif : Pasien telentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa,
pasien memfleksikan articulation coxae kanan atau nyeri perut
kanan bawah.
2. Pasif : Pasien miring kekiri, paha kanan dihiperekstensikan
pemeriksa, nyeri perut kanan bawah.
 Obturator sign
Dengan gerakan fleksi dan endorotasi articulation coxae pada posis
terlentang terjad nyeri (+). Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi
bila panggul dan lutut difleksikan kemudian dirotasikan kearah dalam dan
luar secara pasif, hal tersebut menunjukkan peradangan appendix terletak
pada daerah hipogastrium.
c. Perkusi,nyeri ketuk (+)
d. Auskultasi
Peristaltik normal, peristaltic (-) pada ileus paralitik karena peritonitis
generalisata akibat appendicitis perforate. Auskultasi bunyi.
e. Rectal toucher, nyeri tekan pada jam 9-12
Colok dubur juga tidak banyak membantu dalam menegakkan
diagnosis appendicitis pada anak kecil karena biasanya menangis terus
menerus. Pada anak kecil atau anak yang irritable sangat sult untuk diperiksa,
maka anak dimasukkan ke rumah sakit dan diberikan sedative non narkotik
ringan, seperti pentobarbital (2,5mg/kgBB) secara suppositoria rectal. Setelah
anak tenang, biasanya setelah satu jam dilakukan pemeriksaan abdomen
kembali. Sedatif sangat membantu untuk melemaskan otot dinding abdomen
sehingga memudahkan penilaian keadaan intraperitoneal.
f. Perubahan pola fungsi
Data yang diperoleh dalam kasus apendisitis menurut Doenges (2000)
adalah sebagai berikut :
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : Malaise.
b. Sirkulasi
Tanda : Takikardi.

21
c. Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan awal dan diare (kadang-kadang).
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan/ nyeri lepas, kekakuan, dan
penurunan atau tidak ada bising usus.
d. Makanan / cairan
Gejala : Anoreksia.
Mual/muntah.
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc.Burney
(setengah jarak antara umbilikus dan tulang ileum kanan),
meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam (nyeri
berhenti tiba-tiba diduga perforasi atau infark pada
apendiks).Keluhan berbagai rasa nyeri/ gejala tak jelas
(berhubungan dengan lokasi apendiks, contoh : retrosekal atau
sebelah ureter).
Tanda : Perilaku berhati-hati; berbaring ke samping atau telentang dengan
lutut ditekuk. Meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah
karena posisi ekstensi kaki kanan/ posisi duduk tegak.: Nyeri lepas
pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal.
f. Pernapasan
Tanda : Takipnea, pernapasan dangkal.
g. Keamanan
Tanda : Demam (biasanya rendah).
5. Pemeriksaan Diagnostik
Laboratorium : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif
(CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah
leukosit antara 10.000-20.000/ml (leukositosis) dan neutrofil
diatas 75%. Sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang
meningkat.

22
Radiologi : terdiri dari pemeriksaan ultrasonografi dan CT-scan. Pada
pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada
tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada
pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian menyilang dengan
apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami
inflamasi serta pelebaran sekum.
Untuk lebih memudahkan diagnosis klinis apendisitis, para klinisi telah berhasil
mengembangkan berbagai metode diagnosis. Salah satunya adalah dengan menggunakan
indeks alvarado, berikut adalah indeks alvarado:

Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan dengan menjumlah setiap skor, kemudian
kemungkinan diagnosis apendisitis adalah berdasarkan pembagian interval nilai yang
diperoleh tersebut.

1) Skor >8 : Berkemungkinan besar menderita apendisitis. Pasien ini dapat langsung
diambil tindakan pembedahan tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Kemudian perlu
dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan patologi anatomi.

23
2) Skor 2-8 : Tingkat kemungkinan sedang untuk terjadinya apendisitis. Pasien ini
sbaiknya dikerjakan pemeriksaan penunjang seperti foto polos abdomen ataupun CT
scan.
3) Skor <2 : Kecil kemungkinan pasien ini menderita apendisitis. Pasien ini tidak perlu
untuk di evaluasi lebih lanjut dan pasien dapat dipulangkan dengan catatan tetap
dilakukan follow up pada pasien ini.

B. RENCANA KEPERAWATAN
1. Pre Operasi Apendisitis
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal
oleh inflamasi)
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan nyeri klien
berkurang
Kriteria Hasil : Klien mampu mengontrol nyeri, mampu melaporkan bahwa
nyeri berkurang, tanda tanda vital dalam keadaan normal, dan
klien dapat beristirahat.
Intervensi :
a) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan
indiaktor secara dini untuk dapat memberikan tindakan
selanjutnya.
b) Jelaskan pada pasien tentang penyebab nyeri
Rasional : informasi yang tepat dapat menurunkan tingkat kecemasan
pasien dan menambah pengetahuan pasien tentang nyeri.
c) Ajarkan tehnik untuk pernafasan diafragmatik lambat / napas dalam.
Rasional : napas dalam dapat menghirup O2 secara adequate sehingga
otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa
nyeri.
d) Berikan aktivitas hiburan (ngobrol dengan anggota keluarga).
Rasional : meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan
koping.
e) Observasi tanda-tanda vital.

24
Rasional : deteksi dini terhadap perkembangan kesehatan pasien.
f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik.
Rasional : sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri.

b. Perubahan pola eliminasi (konstipasi) berhubungan dengan penurunan peritaltik.


Tujuan : konstipasi klien teratasi
Kriteria hasil : feses klien lunak dan bising usus 5-30 kali/ menit
Intervensi :
a) Pastikan kebiasaan defekasi klien dan gaya hidup sebelumnya.
Rasional : membantu dalam pembentukan jadwal irigasi efektif.
b) Auskultasi bising usus
Rasional : kembalinya fungsi gastriintestinal mungkin terlambat
oleh inflamasi intra peritonial
c) Tinjau ulang pola diet dan jumlah / tipe masukan cairan.
Rasional : masukan adekuat dan serat, makanan kasar memberikan
bentuk dan cairan adalah faktor penting dalam menentukan
konsistensi feses.
d) Berikan makanan tinggi serat.
Rasional : makanan yang tinggi serat dapat memperlancar pencernaan
sehingga tidak terjadi konstipasi.
e) Berikan obat sesuai indikasi, contoh : pelunak feses.
Rasional : obat pelunak feses dapat melunakkan feses sehingga tidak
terjadi konstipasi.
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah.
Tujuan : keseimbangan cairan pada klien dapat dipertahankan.
Kriteria hasil : membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, dan haluan urin
pada klien adekuat; 1 cc/kg BB/jam
Intervensi :
a) Kaji membrane mukosa, kaji tugor kulit dan pengisian kapiler.

Rasional : Indicator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler.

25
b) Awasi masukan dan haluaran, catat warna urine/konsentrasi, berat jenis.
Rasional : Penurunan haluaran urin pekat dengan peningkatan berat jenis
diduga dehidrasi/kebutuhan peningkatan cairan.
c) Auskultasi bising usus, catat kelancaran flatus, gerakan usus.
Rasional : Indicator kembalinya peristaltic, kesiapan untuk pemasukan
per oral.
d) Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus pada perlindungan
bibir.
Rasional : Dehidrasi mengakibatkan bibir dan mulut kering dan pecah-
pecah.
e) Pertahankan penghisapan gaster/usus.

Rasional : Selang NG biasanya dimasukkan pada praoperasi dan


dipertahankan pada fase segera pascaoperasi untuk
dekompresi usus, meningkatkan istirahat usus, mencegah
mentah.

f) Kolaborasi pemberian cairan IV dan elektrolit


Rasional : Peritoneum bereaksi terhadap iritasi/infeksi dengan
menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat menurunkan
volume sirkulasi darah, mengakibatkan hipovolemia. Dehidrasi
dapat terjadi ketidakseimbangan elektrolit.
d. Cemas berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.
Tujuan : kecemasan pada klien dapat berkurang.
Kriteria hasil : klien mampu melaporkan ansietas menurun sampai tingkat
teratasi dan klien rileks.
Intervensi :
a) Evaluasi tingkat ansietas, catat verbal dan non verbal pasien.

Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, penting pada


prosedur diagnostik dan pembedahan.

b) Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan

26
Rasional : dapat meringankan ansietas terutama ketika pemeriksaan
tersebut melibatkan pembedahan.

c) Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur.


Rasional : membatasi kelemahan, menghemat energi dan meningkatkan
kemampuan koping.
d) Anjurkan keluarga untuk menemani disamping klien
Rasional : Mengurangi kecemasan klien.
2. Post Operasi Apendisitis
a. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi
appendiktomi).
Tujuan : nyeri pada klien dapat berkurang
Kriteria hasil : Klien melaporkan nyeri berkurang/ hilang, klien rileks,
mampu istirahat/ tidur dengan tepat.
Intervensi :
a) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10). Selidiki dan
laporkan perubahan nyeri dengan tepat.
Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat, kemajuan
penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri menunjukkan
terjadinya abses/ peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan
intervensi.
b) Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler.
Rasional : Gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam abdomen bawah
atau pelvis, menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi
telentang.
c) Dorong dan ajarkan ambulasi dini.
Rasional : Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh :
merangsang peristaltik dan kelancaran flatus, menurunkan ketidaknyamanan
abdomen.
d) Berikan aktivitas hiburan.
Rasional : Fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi, dan dapat
meningkatkan kemampuan koping.

27
e) Pertahankan puasa/ penghisapan NG pada awal.
Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik usus dini dan
iritasi gaster/ muntah.
f) Berikan analgesik sesuai indikasi secara kolaborasi.
Rasional : Menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama dengan intervensi
terapi lain seperti ambulasi, batuk.
g) Berikan kantong es pada abdomen.
Rasional : Menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui penghilangan rasa
ujung saraf. Catatan : jangan lakukan kompres panas karena dapat
menyebabkan kompresi jaringan.

b. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan


utama, perforasi/ ruptur pada apendiks, pembentukan abses; prosedur invasif
insisi bedah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan infeksi berkurang.
Kriteria Hasil : Meningkatnya penyembuhan luka dengan benar, bebas tanda
infeksi/ inflamasi, drainase purulen, eritema dan demam.

Intervensi :

a) Awasi tanda vital. Perhatikan demam, menggigil, berkeringat, perubahan


mental, meningkatnya nyeri abdomen.
Rasional : Dugaan adanya infeksi/ terjadinya sepsis, abses, peritonitis.
b) Lihat insisi dan balutan. Catat karakteristik drainase luka/ drein (bila
dimasukkan), adanya eritema.
Rasional : Memberikan deteksi dini terjadinya proses infeksi, dan/ atau
pengawasan penyembuhan peritonitis yang telah ada
sebelumnya.
c) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka aseptik. Berikan
perawatan paripurna.
Rasional : Menurunkan resiko penyebaran infeksi.
d) Berikan informasi yang tepat, jujur, dan jelas pada pasien/ orang terdekat.

28
Rasional : Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan
dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas.
e) Ambil contoh drainase bila diindikasikan.
Rasional : Kultur pewarnaan Gram dan sensitivitas berguna untuk
mengidentifikasikan organisme penyebab dan pilihan terapi.
f) Berikan antibiotik sesuai indikasi.
Rasional : Mungkin diberikan secara profilaktik atau menurunkan
jumlah mikroorganisme (pada infeksi yang telah ada
sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan
pertumbuhannya pada rongga abdomen.
g) Bantu irigasi dan drainase bila diindikasikan.
Rasional : Dapat diperlukan untuk mengalirkan isi abses terlokalisir.

c. Defisit self care berhubungan dengan nyeri.


Tujuan : klien dapat mempertahankan kebersihan pada diri klien.
Kriteria hasil : klien tampak bersih dan kebutuhan aktivitas dan latihan (ADL)
pada klien dapat mandiri atau dengan bantuan.
Intervensi :
a) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta
cuci rambut dan potong kuku klien.

Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan


meningkatkan kesehatan.

b) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih.


Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa
nyaman.
c) Berikan Hynege Edukasi pada klien dan keluarganya tentang pentingnya
kebersihan diri.
Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga
personal hygiene.
d) Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.

29
Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam
kebersihan
e) Bimbing keluarga klien memandikan / menyeka pasien.
Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan.
f) Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.
Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta
mencegah terjadinya infeksi.

d. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan kurang informasi.

Tujuan : diharapkan pengetahuan klien bertambah.

Kriteria hasil : klien mampu menyatakan pemahaman proses penyakit dan


pengobatannya, serta mampu berpartisipasi dalam proses
penyembuhan.

Intervensi :

a) Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi


Rasional : Memberikan informasi pada pasien untuk merencanakan
kembali rutinitas biasa tanpa menimbulkan masalah.
b) Anjuran menggunakan laksatif/pelembek feses ringan bila perlu dan hindari
enema.
Rasional. : Membantu kembali ke fungsi usus semula mencegah ngejan
saat defekasi.
c) Diskusikan perawatan insisi, termasuk mengamati balutan, pembatasan mandi,
dan kembali ke dokter untuk mengangkat jahitan/pengikat.
Rasional : Pemahaman meningkatkan kerja sama dengan terapi,
meningkatkan penyembuhan.
d) Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medic, contoh peningkatan
nyeri edema/eritema luka, adanya drainase, demam.

30
Rasional : Upaya intervensi menurunkan resiko komplikasi lambatnya
penyembuhan peritonitis.

31
BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN

32
DAFTAR PUSTAKA
1. Erik, Prabowo. 2009. http://www.bedah.info/bedah_digestif/usus_buntu_
_apendiks_tercipta_bagi_ahli_bedah/ (diunduh tangal 28 April 2012)
2. Guyton, Arthur C. 1996. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta:EGC (Penerbit
Buku Kedokteran).
3. Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi Jilid 2A Untuk SMA kelas XI. Jakarta:Erlangga.
4. Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/19162/4/Chapter%20II.pdf (Diakses
tanggal 26 April 2012)
5. Craig Sandy, Lober Williams. Appendicitis, Acute. Diakses dari www.emedicine.com,
tanggal 23 November 2010.
Katz S Michael, Tucker Jeffry. Appendicitis. Diakses dari: www.emedicine.com, tanggal 23
November 2010.
6. Doenges, Marylinn E. (2000), Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien,
Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.
7. Henderson, M.A. (1992), Ilmu Bedah Perawat, Yayasan Mesentha Medica, Jakarta.
8. Schwartz, Seymour, (2000), Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Penerbit Buku Kedokteran,
EGC. Jakarta. 4.Smeltzer, Suzanne C, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah,
Volume 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

33