You are on page 1of 35

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari atau masa

setelah beberapa jam plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan

kembali seperti keadaan sebelum hamil (Saleha, 2009).

Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita setelah

melahirkan. Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi persalinan baik

secara langsung maupun tidak langsung. Masa nifas ini berlangsung sejak

plasenta lahir sampai dengan 6 minggu setelah kelahiran atau 42 hari setelah

kelahiran. Kunjungan selama nifas sering dianggap tidak penting oleh tenaga

kesehatan karena sudah merasa baik dan selanjutnya berjalan dengan lancar.

Konsep early ambulation dalam masa post partum merupakan hal yang perlu

diperhatikan karena terjadi perubahan hormonal. Jika ditinjau dari penyebab

kematian ibu, infeksi merupakan penyebab kematian terbanyak nomor dua

setelah perdarahan sehingga sangat tepat jika tenaga 1 kesehatan memberikan

perhatian yang tinggi pada masa ini. (Diah Wulandari 2010 )

Cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2009 adalah 71,54%,

sementara target cakupan kunjungan ibu nifas pada tahun 2015 adalah 90%.

Berdasarkan data dari profil kesehatan tahun 2009 cakupan kunjungan masa

nifas di Jawa Tengah yaitu 2 73, 38%. Cakupan pelayanan nifas adalah

pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa 6 jam sampai dengan 42 hari

1
2

pasca persalinan sesuai standar. Pelayanan nifas sesuai standar adalah

pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya tiga kali, pada enam jam pasca

persalinan sampai dengan hari ketiga, pada minggu kedua, dan pada minggu

keenam termasuk pemberian vitamin A dua kali serta persiapan dan atau

penggunaan alat kontrasepsi setelah persalinan peranan penting dalam upaya

pemerintah untuk meningkatkan kesehatan dan pengertian masyarakat

melalui konsep promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dari bukti-bukti

terkait bidang profesi, jelas bagi kita bahwa asuhan post partum, sebagaimana

aspek lain dalam layanan maternitas kurang dievaluasi dan diteliti, diberikan

dengan cara yang sering kali tidak tepat dan terbagi-bagi serta memiliki fokus

manajerial yang tidak teratur yang menghambat penggunaan sumber-sumber

secara efisien. Sebuah sistematic review mengidentifikasi ritual umum lintas

budaya terkait dengan periode post partum dan bukti untuk efek positif atau

negatif terhadap kesehatan mental ibu yang hasilnya berupa tema umum yang

ada diseluruh budaya mencakup dukungan yang terorganisir, periode

istirahat, pembatasan aktivitas, praktek kebersihan, diet, perawatan bayi dan

praktek untuk mempromosikan kesehatan. Pentingnya tenaga kesehatan

untuk menyadari praktek-praktek budaya umum dan konsekuensi yang

dirasakan karena tidak mengamati mereka. Hasil penelitian Elvina M pada

tahun 2011 di Medan tentang skor kualitas hidup postpartum berdasarkan

faktor demografi ibu menyebutkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna

berdasarkan masalah klinis yang menyertai dan jenis persalinan. Jenis


3

persalinan mempunyai hubungan yang bermakna terhadap skor kualitas

hidup. (Elvina M 2011)

Sustini F, Andajani S, Marsudiningsih A, meneliti tentang Pengaruh

pendidikan kesehatan, monitoring dan perawatan ibu pascapersalinan

terhadap kejadian morbiditas nifas di kabupaten Sidoarjo dan Lamongan

Jawa Timur yang hasilnya berupa monitoring ibu nifas terbukti berhubungan

dengan kejadian morbiditas nifas karena dapat memonitor keluhan atau

kejadian morbiditas ibu sehingga dengan monitoring ibu yang baik dapat

dideteksi morbiditas ibu lebih banyak.Kurangnya monitoring ibu selama

masa nifas berdampak pada kemungkinan tidak tercatatnya morbiditas ibu.

Perawatan ibu masa nifas terbukti berhubungan dengan risiko terjadinya

morbiditas nifas. Pelaksanaan perawatan yang kurang baik dapat

meningkatkan risiko terjadinya morbiditas nifas, seperti perawatan payudara

untuk mencegah mastitis, membersihkan diri menggunakan sabun setelah

buang air kecil dan buang air besar dapat mencegah infeksi genitalia.

Osman H, Chaaya M, Zein LE, Naassan G, Wick L, dalam penelitian

yang berjudul What do first time mother worry about? A study of usage

patterns and content of call made to a post partum support telephone hotline

menyebutkan bahwa tingkat pemanfaatan layanan dukungan telepon hotline

untuk post partum tertinggi adalah pada empat minggu pertama dalam masa

post partum.. 58% pasien menunjukkan kondisi yang berhubungan dengan

kehamilan; 42% pasien menunjukkan kondisi yang tidak berhubungan dengan

kehamilan. Kesimpulannya adalah bahwa penjadwalan dan isi pendidikan


4

tradisional dan kunjungan post partum kurang cocok untuk mencegah

morbiditas post partum.

B. Tujuan Umum

1. Untuk menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien Ny.J dengan P1A0

Post Partum Spontan: Ketuban Pecah Dini di Ruang Adas Manis RSUD

Pandan Arang Boyolali,beserta dokumentasi yang dibuat

2. Tujuan Khusus

Mendiskripsikan asuhan keperawatan pada pasien Ny.J dengan P1A0 Post

Partum Spontan: Ketuban Pecah Dini di Ruang Adas Manis RSUD

Pandan Arang Boyolali, meliputi

a. Pengkajian yang dilakukan

b. Diagnosa yang ditemukan

c. Rencana yang telah disusun

d. Implementasi yang telah dilakukan

e. Evaluasi yang dilakukan

f. Dokumentasi yang disusun selama melakukan asuhan keperawatan

C. Manfaat penelitian

1. Bagi pasien

Diharapkan karya tulis ini dapat memberi informasi kepada pasien

untuk dapat mencegah dan mengetahui tanda dan gejala terjadinya

masa nifas
5

2. Bagi profesi perawat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mendorong perawat untuk

mengembangkan diri, serta bersikap profesional dalam pemberian

asuhan keperawatan pada ibu khususnya pada pasien masa nifas

3. Bagi institusi pendidikan

Sebagai wacana, pengetahuan tentang perkembangan ilmu

keperawatan, terutama pengkajian pada pasien dengan post partum

spontan

4. Bagi penulis

Menambah pengetahuan,pemahaman dan pengalaman tentang asuhan

keperawatan pada pasien post partum spontan


6

BAB II

TINJAUAN TEORI DAN RESUM KASUS

A. Tinjauan Teori

1. Pengertian

Masa nifas merupakan masa yang dilalui oleh setiap wanita

setelah melahirkan. Pada masa tersebut dapat terjadi komplikasi

persalinan baik secara langsung maupun tidak langsung. Masa nifas

ini berlangsung sejak plasenta lahir sampai dengan 6 minggu setelah

kelahiran atau 42 hari setelah kelahiran. Kunjungan selama nifas

sering dianggap tidak penting oleh tenaga kesehatan karena sudah

merasa baik dan selanjutnya berjalan dengan lancar. Konsep early

ambulation dalam masa post partum merupakan hal yang perlu

diperhatikan karena terjadi perubahan hormonal. Pada masa ini ibu

membutuhkan petunjuk dan nasihat dari bidan sehingga proses

adaptasi setelah melahirkan berlangsung dengan baik. (Andi Offset,

2009)

Masa nifas (puerperium),berasal dari bahasa latin,yaitu puer

yang artinya bayi dan porous yang artinya melahirkan atau berarti

masa sesudah melahirkan.sering kali wanita merasa was-was dalam

menjalani masa nifas ini,yang sesungguhnya memang sebuah gejala

alami yang biasa terjadi pada wanita setelah selesai melahirkan.

(Marmi, 2012)

6
7

Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali,mulai

dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-

hamil.lama masa nifas ini 6-8 minggu.Batasan waktu nifas yang

paling singkat (minimum) tidak ada batas waktunya,bahkan bisa jadi

dalam waktu yang relatif pendek darah sudah keluar,sedangkan

batasan maksimumnya adalah 40 hari. (Eny Retna Ambarwati 2010)

Masa Nifas merupakan suatu periode dalam minggu-minggu

pertama setelah kelahiran. Lamanya “periode” ini tidak pasti, sebagian

besar mengganggapnya antara 4 sampai 6 minggu. Pada masa ini,

ditandai oleh banyaknya perubahan fisiologi.

(Cunningham. F, et al, 2013)

B. Etiologi

Kondisi dalam persalinan sangat sulit menetukan jumlah

perdarahan karena tercampur dengan air ketuban dan serapan pakaian atau

kain alas tidur, sehingga penetuan untuk perdarahan dilakukan setelah bayi

lahir dan penentuan jumlah perdarahan dilihat dari perdarahan lebih dari

normal yang telah menyebabkan perubahan tanda-tanda vital.

1. Atonomia

Dilihat dari factor predisposisinya: umur, paritas, partus lama dan

partus terlantar, obstetic operatif dan narkosa, uterus terlalu regang

dan besar, mioma uteri, malnutrisi.

2. sisa plasenta dan selaput ketuban

3. jalan lahir : robekan peritoneum, vagina serviks, forniks, dan rahim


8

4. penyakit darah

Kelainan pembekuan darah sering dijumpai pada perdarahan

yang banyak, solusio plasenta, kematian janin yang lama dalam

kandungan, pre-eklamsi dan eklamsi, infeksi, hepatitis, dan septic

syok. (Nanda NIC-NOC 2015)

C. Manifestasi klinis

Setelah persalinan pasien mengeluh lemah, pucat, limbung,

berkeringat dingin, menggigil, pusing, gelisah, hiperpnea, sistolik <

90mmHg, nadi > 100x/menit, kadar Hb < 8g%) ini karena kehilangan

darah lebih dari normal dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah

rendah, ekstermitas dingin,mual.

Gejala klinis berdasarkan penyebabnya

1. Atonia Uteri Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan

lembek dan perdarahan segera setelah anak lahir (perarahan post

partum primer). gejala yang kadang-kadang timbul: syok (tekanan

darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstermitas dingin, gelisah,

mual dan lain-lain )

2. Robekan jalan lahir

Gejala yang selalu ada : perdarahan segera, darah segar mengalir

segera setelah bayi lahir, kontraksi uterus baik, plasenta baik. gejala

yang kadang-kadang timbul : pucat,lemah, menggigil.


9

3. Retensio plasenta

Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit,

perdarahan segera, kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang-

kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan, intervensi

uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.

a. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)

Gejala yang selalu ada: plasenta atau sebagian selaput

(mengandung pembuluh darah) tidak lengkap dan perdarahan

segera. Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi

baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

b. Inversio uterus

Gejala yang selalu ada: Uterus tidak teraba, lumen vagina terisi

massa, tampak tali pusat (jika plasenta balum lahir), perdarahan

segera,dan nyeri sedikit atau berat. gejala yang kadang-kadang

timbul: Syok neurogenikk dan pucat. (Nanda NIC-NOC 2015)

D. Perubahan Psikologis Masa Nifas

Depresi akan terjadi pada ibu post partum yang baru pertama kali

mempunyai anak dan mendapatkan anaknya sedang menangis. Apabila

depresi terjadi lebih dari atau dua hari pasien harus dirujuk ke bagian

psikiatrik untuk menyingkirkan kemungkinan psikosis nifas. Penyesuaian

maternal dapat dibagi dalam 3 fase penyesuaian ibu terhadap peran

prenatal, yakni :
10

1. Fase dependen (fase taking – in)

Pada 1-2 hari post partum setelah melahirkan dalam memenuhi

kebutuhannya ibu sangat tergantung pada orang lain. Energi psikologis

ibu tercurah pada bayi. Fase ini berlangsung hanya dalam waktu 24 jam

setelah persalinan. Fase dependen merupakan waktu dimana ibu

biasanya sangat cerewet dalam memverbalisasikan pengalamannya

selama kehamilan dan persalinan.

2. Fase dependen-independen (taking-hold)

Pada fase ini ibu akan memilih antara kebutuhan untuk asuhan yang

luas dari penerimaan orang lain. Dalam 6-8 minggu setelah melahirkan

penguasaan tugas sebagai orang tua adalah sangat penting. Penerimaan

yang realities mempermudah fungsionalisasi keluarga selanjutnya.

3. Fase independen (letting go)

Ibu mampu merawat bayinya sendiri dan perhatikan ibu pada bayinya

meningkat. Dan hubungan anggota keluarga-keluarga kembali harmonis

seperti sebelum hamil. (Eny Retna Ambarwati 2010)

E. Tahapan pada mada nifas

Nifas dibagi menjadi 3 tahap

1. puerpurium dini.

Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan

berjalan-jalan.Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh

bekerja setelah 40 hari.


11

2. puerperium intermedial

Keputihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.

3. Remote puerperium.

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama

bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan,

tahunan. (Eny Retna Ambarwati 2010)

F. Fisiologis Masa Nifas

1. Involusi uterin

Involusi uterin terjadi 4-6 minggu dengan prinsip pengecilan sel

miometrium dan kondisi normal setelah kelahiran bayi pada ukuran

dan kondisi normal setelah kelahiran bayi.

Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi.

Involusi Tinggi fundus uterus Berat uterus


Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari di bawah perut 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 Ram

2. Kontraksi uterin

Intesintas konstraksi uterin meningkat secara bermakna setelah

persalinan bayi merupakan respon untuk mengurangi jumlah volume

intra uterin, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan.


12

3. Tempat pelepasan plasenta

Segera setelah plasenta dan membrank-membran dikeluarkan

terjadi kontraksi vaskuler dan trombos untuk menutupi kembali

timbulnya plasenta dengan nodul-nodul yang ireguler dan elevasi.

Regresi endometrium sempurna pada saat akhir minggu ketika post

partus kecuali pada tempat pelepasan plasenta. Placental bed mengecil

karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5

cm, sesudah 2 minggu terjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam 2, 4 cm

dan akhirnya pulih.

4. Lochea

Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan

vagina dalam masa nifas. Pada awal pemulihan uterin post persalinan

adalah merah terang tua kemudian coklat kemerahan. Menurut Rustam

Mochtar (2010) lochea ada:

a. Lochea rubra (kruenta) keluar dari 1-3 pasca persalinan. Berisi

darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks

kaseosa, lanugo dan mekonium.

b. Lochea sanguinolenta (keluar 3-7 pasca persalinan) berwarna

merah kuning berisi darah dan lendir.

c. Lochea serosa (keluar hari ke 7-14 pasca persalinan) berwarna

kuning, cairan lagi.

d. Lochea alba, cairan putih, setelah 2 minggu.


13

5. Serviks

Bagian atas serviks sampai segmen bagian bawah uterin

menjadi sedikit oedem, menipis dan flagi untuk beberapa hari setelah

persalinan seperti corong berwarna merah kehitaman, konsistensinya

lunak kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi

lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat

dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.

6. Vulva dan vagina

Vulva dan vagina beberapa hari pertama setelah persalinan

tetap dalam keadaan kendur tetapi setelah 3 minggu vulva dan vagina

kembali ke dalam, keadaan tidak hamil dari regue dalam vagina

biasanya sedikit membuka setelah wanita tersebut melahirkan.

7. Perineum

Setelah melahirkan perineum menjadi kendur karena

sebelumnya terenggang oleh tekanan kepala bayi bergerak maju.

8. Ligamen-ligamen

Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada

waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi

ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang

dan menjadi kendor, setelah melahirkan kebiasaan wanita Indonesia

melakukan “berkusuk” atau berurut dimana sewaktu melahirkan

ligamenta, fasia dan jaringan penunjang menjadi kendor. Jika

dilakukan kusuk/urut banyak wanita akan mengeluh kandungannya


14

turun atau terbalik untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan

latihan-latihan dan gimnastik pasca persalinan.

9. Dinding abdominal blood

Pada waktu seorang wanita terdiri pada hari pertama setelah

persalinan otot-otot abdominal tidak dapat menahan isi abdomen.

Abdomen menonjol dan memberikan bentuk seperti masih hamil.

Diperlukan waktu kira-kira 6 minggu sebelum dinding abdominal

kembali seperti semula.

10. Payudara

Sekresi dan eksresi kolostrum berlangsung beberapa hari

setelah persalinan pada hari ke 4 atau ke 5 payudara menjadi penuh,

tegang, bengkak, keras, perih dan hangat ketika disentuh. Menghadapi

masa laktasi (menyusukan) sejak dari kehamilan telah menjadi

perubahan-perubahan pada kelenjar mammae, yaitu :

a. Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan

lemak bertambah.

b. Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut

colostrums berwarna kuning putih susu.

( Marmi 2012)

11. Pemeriksaan Penunjang

a. kondisi uterus: palpasi fundus, kontraksi uterus, TFU

b. jumlah perdarahan: inspeksi perineum, laserasi, hematoma.

c. pengeluaran lochea.
15

d. kandung kemih distensi bladder.

e. tanda-tanda vital: suhu 1 jam pertama setelah partus,TD dan Nadi

terhadap penyimpangan cardiovaskuler. (Nanda NIC-NOC 2015)

12. Penatalaksanaan

resusitasi cairan adalah Pengangkatan kaki dapat

meningkatkan aliran darah balik vena sehingga dapat memberi waktu

untuk menegakkan diagnosis dan menangani penyebab perdarahan.

perlu dilakukan pemberian oksigen dan akses intravena.selama

persalinan perlu dipasang paling tidak 1 jalur intravena pada wanita

dengan resiko perdarahan post partum,dan dipertimbankan jalur kedua

pada pasien dengan resiko sangat tinggi.

Berikan resusitasi dengan cairan kristaloid dalam volume

yang besar,baik normal salin (NS/NaCI) atau cairan Ringer Laktat

melalui akses intravena perifer. NS merupakan cairan yang cocok

pada saat persalinan karena biaya yang ringan dan kompatibilitasnya

dengan sebagian besar obat dan transfusi darah. Resiko terjadinya

asidosinhiperkloremik sangat rendah dalam hubungan dengan

perdarahan post partum,bila dibutuhkan cairan kristaloid dalam

jumlah banyak (>10L),dapat dipertimbangkan penggunaan cairan

ringer laktat. (Nanda NIC-NOC 2015)


16

2. Asuhan keperawatan pada pasien post partum spontan

a. Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada hari 04 Februari 2019, jam 14: 10WIB,

di Ruang Adas Manis Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Arang

Boyolali.Asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 04 Februari

2019 – 06 Februari 2019. Identitas pasien nama Ny.J, umur 23 tahun,

Agama Islam, pekerjaan ibu rumah tangga, status menikah,alamat

tegalsari boyolali. pasien masuk pada hari 3 Februari 2019 jam 13:00

WIB,nomer Rekam Medis (RM) 19584xxx diagnosa medis post

partum spontan.

Riwayat kesehatan pasien mengatakan pada tanggal 3 Februari

2019 jam 08:00 WIB ,pasien mengatakan ketubanya sudah pecah tapi

hanya sedikit,kemudian lama – lama kok ketubanya menjadi banyak,

kemudian suaminya dan pasien datang ke IGD Rumah Sakit Umum

Daerah Pandan Arang Boyolali untung memeriksakan keadaanya

pasien mendapat terapi infus ringer laktat (RL) 20 tetes per

menit(tpm). Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital di IGD didapatkan

tekanan darah pasien 103/66mmHg, nadi 78x/menit, respirasi

20x/menit. kemudian pasien di pindah ke ruang kamar bersalin Rumah

Sakit Umum Daerah Pandan Arang Boyolali,sebelum nya pasien

belum pernah mondok di sini.keluarga mengatakan tidak ada riwayat

penyakit menurun dari keluarganya seperti hipertensi, DM, TBC,

HIV-AIDS.
17

Pada pemeriksaan fisik ditemukan: keadaan umum pasien

baik,kesadaran; composmentis. Tanda-tanda vital (TTV): tekanan

darah (TD)103/666 mmHg, nadi (N) 78 kali per menit, suhu (S)

36,2°C, respiratoryrate (RR) 20 kali per menit. Wajah tampak

menahan nyeri, mukosa bibir lembab.

Pengkajian pola fungsi menurut Henderson: pola bernafas

pasien saat sebelum sakit dan selama sakit pasien bernafas dengan

spontan, tidak menggunakan alat bantu pernafasan. Pola makan pasien

sebelum sakit pasien mengatakan makan-makanan biasa, makan 3 kali

sehari dengan nasi, sayur dan lauk pauk habis 1 porsi. Selama sakit

pasien mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi, sayur, lauk

rumah sakit habis ½ porsi. Status nutrisi: A (antropometri) BB: 60 kg,

TB: 153 cm, IMT: 25, 64 B (biokimia) hemoglobin 11,2 g/dl, leukosit

8320 ribu/ul, trombosit 301 ribu/ul,C (clinical) composmentis (GCS:

E4, V5 M6), D (dietary): pasien mengatakan makan habis ½ porsi

menu diit dari rumah sakit.

Pola gerak sebelum sakit pasien mengatakan dapat bergerak

bebas tanpa bantuan orang lain, selama sakit pasien mengatakan tidak

bisa bergerak bebas karena tangan kanan pasien terpasang infus

Ringer Laktat (RL) 20 tetes per menit dan aktivitasnya di bantu

keluarga. Indeks KATZ (ketergantungan untuk semua fungsi). Pola

menghindari bahaya sebelum sakit pasien mengatakan dapat

menghindari bahaya dengan sendiri tanpa bantuan orang lain, selama


18

sakit pasien tidak dapat menghindari bahaya sendiri karena pasien

hanya istirahat di tempat tidur dan aktivitas pasien dibantu oleh

keluarga untuk menghindari bahaya,pengkajian resiko jatuh 30 (resiko

sedang).

Data penunjang di dapatkan pada pemeriksaan labolatorium

tanggal 04 Februari 2019,Hemoglobin 11,2 g/dl ,Hematokrit: 33%,

Leokosit: 8320 H/ul, LED 84 H, pada tanggal 05 februari 2019

Hemoglobin 12,1 g/dl, Hematokrit: 33%,Leokosit: 8350 H/ul, LED

49H. Terapiyang diberikan infus RL 20 tpm,cefadroxil 500mg/12 jam,

asam mefenamat 500mg/8jam

b. Analisa data

Diagnosa pertama pada tanggal 4 februari2019 jam 14:00

data subjektif: pasien mengatakan nyeri pada bagian perineum luka

jahitan, data objektif ekspresi wajah tampak meringgis menahan nyeri

skala nyeri 4, problem agen injury fisik, etiologi Gangguan rasa

nyaman nyeri

Diagnosa kedua pada tanggal 4 februari 2019 jam 14:00

data subjektif: pasien megatakan ada luka bekas jahitan di

perineum,dara objektif: tampak ada luka bekas jahitan setelah

melahirkan di perineum problem Luka perineum dan Resiko infeksi

pecah ketuban lama sebelum kelahiran,etiologi: resiko infeksi

Diagnosa ketiga 4 februari 2019 jam 14:00 data subjektif :

pasien mengatakan aktivitas di bantu keluarganya karena nyeri luka


19

bekas jahitan data objektif: aktivitas pasien tampak dibantu

keluarganya,problem nyeri bekas jahitan,etiologi gangguan mobilita.

c. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan agen injury

fisik

2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka perineum dan pecah

ketuban lama sebelum kelahiran

3. Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan

gerak oleh nyeri bekas jahitan

d. Rencana keperawatan

Diagnosa pertama adalah Gangguan rasa nyaman nyeri akut

berhubungan dengan agen injury fisik,tujuan dan kriteria hasil Setelah

dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam nyeri teratasi dengan

kriteria hasil mampu mengontrol nyeri mampu menganalisa nyeri,

intervensi kaji karakteristik nyeri, ajarkan relaksasi nafas dalam,

ajarkan prinsip penanganan nyeri, kolaborasi pemberian analgetik

rasional mengetahui tingkat nyeri pasien mengurangi rasa nyeri

memberikan edukasi kepada pasien mengurangi rasa nyeri.

Diagnosa kedua adalah Resiko infeksi berhubungan dengan

luka perineum dan pecah ketuban lama sebelum kelahiran tujuan dan

kriteria hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x 24 jam

resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil tidak ada tanda- tanda

infeksi intervensi kaji tanda –tanda infeksi ganti pembalut 2 jam sekali
20

atau jika sudah penuh ganti kaji tanda-tanda vital,rasional mengetahui

adanya infeksi atau tidak agar tidak terjadi infeksi mengetahui tanda-

tanda vital

Diagnosa ketiga adalah Gangguan intolerasi aktivitas

berhubungan dengan keterbatasan gerak oleh nyeri bekas

jahitan,tujuan dan kriteria hasil Setelah dilakukan tindakan

keperawatan 1x24 jam mobilisasi teratasi dengan kriteria hasil pasien

dapat berpindah tanpa bantuan ,pasien dapat bergerak bebas

intervensi. kaji karakteristik gerak pasien ajarkan latihan ROM ,

rasional mengetahui tingkat gerak pasien mengurangi rasa kaku pada

sendi

e. Evaluasi

Evaluasi pada tanggal 6 februari 2019 jam 14:00 WIB diagnosa

pertama, Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan agen

injury fisik.evaluasi subjektif: pasien mengatakan sudah tidak

merasakan nyeri, Objektif: pasien tampak rileks ,Analisa data:

masalah nyeri teratasi sebagian, Planing: intervensi dilanjutkan

dengan relaksasi nafas dalam.

Diagnosa kedua Resiko infeksi berhubungan dengan luka perineum

dan pecah ketuban lama sebelum kelahiran, subjektif:pasien

mengatakan sudah tidak banyak lagi darah yang keluar objektif: darah

yang keluar hanya flek-flek sedikit,analisa data: masalah infeksi


21

teratasi sebagian, planning : intervensi dilanjutkan menjaga perawatan

diri menjaga perawatan vulva hygine

Diagnosa ketiga gangguan intoleransiaktivitas berhubungan dengan

keterbatasan gerak oleh nyeri bekas jahitan, Subjektif: pasien

mengatakan sudah bisah berjalan sendiri, objrktif: pasien tampak

berjalan sendiri kekamar mandi,analisa data : masalah mobilisasi fisik

teratasi, Planing: intervensi dihentikan

3. Resiko infeksi

Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman yang

masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas. Infeksi

nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia yang terjadi setelah

melahirkan, ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38 derajat celsius atau

lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan ,dengan

mengecualikan 24 jam pertama. (Khaidir,M.2009)

Resiko infeksi rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme

patogenik yang dapat mengganggu kesehatan.

Faktor resiko

1) Gangguan peristalsis

2) Gangguan integritas kulit

3) Vaksinasi tidak adekuat

4) Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen

5) Malnutrisi

6) Obesitas
22

7) Merokok

8) Statis cairan tubuh

Populasi beresiko

1) Terpajan pada wabah

Kondisi terkait

1) Perubahan pH sekresi

2) Penyakit kronis

3) Penurunan kerja siliaris

4) Penurunan hemoglobin

5) Imunosupresi

6) Prosedur invasif

7) Leukopenia

8) Pecah ketuban dini

9) Pecah ketuban lambat

10) Supresi respons inflamasi

(Nanda , 2018 )

4. Perawatan Vulva Hygine

Vulva hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara

kebersihan organ kewanitaan bagian luar (vulva) yang dilakukan untuk

mempertahankan kesehatan dan mencegah infeksi. Menyiapkan posisi

pasien dorsal recumbent, pakaian bagian bawah dike-atas-kan (perhatikan

cairan yang keluar dari vagina pasien), pasang pengalas bagian bawah

bokong pasien, dekatkan kom berisi kapas lembab pada pasien, letakkan
23

bengkok ke dekat bokong/perineum pasien, mencuci tangan dan

keringkan, memakai sarung tangan, ambil 5 kapas lembab, bersihkan labia

mayora kiri dan kanan dengan menggunakan kapas lembab dari atas ke

bawah sampai bersih (satu kapas satu kali usapkan) buang kapas ke dalam

bengkok, dengan tangan kiri petugas (jari telunjuk dan ibu jari) buka labia

mayora pasien kemudian bersihkan labia minora kiri dan kanan dengan

menggunakan kapas lembab dari atas ke bawah sampai bersih, kemudian

bersihkan bagian vestibulum, perineum, dan anus (selama melakukan

vulva hygiene perhatikan keadaan vagina), buang kapas ke dalam

bengkok, rapihkan pasien, dengan memakaikan kembali pakaian dalam

dan pembalutnya, rapihkan pasien serta alat dan cuci tangan dan keringkan

dengan handuk bersih. (Ayu, 2010)


24

B. KERANGKA TEORI

FISIOLOGI

Post partum

Involusi uterus Kontraksi uterus Laserasi jalan nafas

Pelepasan jaringan Serviks dan vagina


Kontraksi uterus
endometrium
lambat
Port de entry kuman
Lokhea keluar
Atonia uteri
Kurang perawatan Resiko infeksi
Robekan jalan lahir
Invasi bakteri

perdarahan
Nyeri

Volume cairan Ketidak efektifan


turun perfusi jaringan serbreal

Anemia akut

HB,O2 turun Daya tahan tubuh Kuman mudah


menurun masuk

Hipoksia Resiko infeksi

Kelemahan umum Penurunan Resiko syok


nadi,tekanan darah hipovolemik

Devisit perawatan Kekurangan


volume cairan
diri intoleransi
aktivitas
25

Nanda Nic Noc, 2015

PSIKOLOGI

Fase dependen Fase dependen –independen Fase independen


(fase taking –in ) (taking –hold ) (letting go)

(Eny Retna Ambarwati 2010 )

C. Kerangka Konsep

Resiko infeksi Perawatan vulva hygine


26

D. Resume Kasus

a. Pengkajian

Pengkajian dilakukan pada hari 04 Februari 2019, jam

14:10WIB, di Ruang Adas Manis Rumah Sakit Umum Daerah Pandan

Arang Boyolali. Asuhan keperawatan dilakukan pada tanggal 04

Februari 2019 – 06 Februari 2019.Identitas pasien nama Ny.J, umur

23 tahun, Agama Islam, pekerjaan ibu rumah tangga, status menikah,

alamat tegalsari boyolali. pasien masuk pada hari 3 Februari 2019 jam

13:00 WIB, nomer Rekam Medis (RM) 19584xxx diagnosa medis

post partum spontan.

Riwayat kesehatan pasien mengatakan pada tanggal 3 Februari

2019 jam 08:00 WIB, pasien mengatakan ketubanya sudah pecah tapi

hanya sedikit, kemudian lama – lama kok ketubanya menjadi banyak,

kemudian suaminya dan pasien datang ke IGD Rumah Sakit Umum

Daerah Pandan Arang Boyolali untung memeriksakan keadaanya

pasien mendapat terapi infus ringer laktat (RL) 20 tetes per menit

(tpm). Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital di IGD didapatkan tekanan

darah pasien 103/66 mmHg, nadi 78 x/menit, respirasi 20x/menit.

kemudian pasien di pindah ke ruang kamar bersalin Rumah Sakit

Umum Daerah Pandan Arang Boyolali, sebelum nya pasien belum

pernah mondok di sini. keluarga mengatakan tidak ada riwayat

penyakit menurun dari keluarganya seperti hipertensi, DM,TBC, HIV-

AIDS.
27

Pada pemeriksaan fisik ditemukan: keadaan umum pasien

baik,kesadaran; composmentis. Tanda-tanda vital (TTV): tekanan

darah (TD)103/666 mmHg, nadi (N) 78 kali per menit, suhu (S)

36,2°C, respiratoryrate (RR) 20 kali per menit. Wajah tampak

menahan nyeri, mukosa bibir lembab.

Pengkajian pola fungsi menurut Henderson: pola bernafas

pasien saat sebelum sakit dan selama sakit pasien bernafas dengan

spontan, tidak menggunakan alat bantu pernafasan. Pola makan pasien

sebelum sakit pasien mengatakan makan-makanan biasa, makan 3 kali

sehari dengan nasi, sayur dan lauk pauk habis 1 porsi. Selama sakit

pasien mengatakan makan 3 kali sehari dengan menu nasi, sayur, lauk

rumah sakit habis ½ porsi. Status nutrisi: A (antropometri) BB: 60 kg,

TB: 153 cm, IMT: 25,64 B (biokimia) hemoglobin 11,2 g/dl, leukosit

8320 ribu/ul, trombosit 301 ribu/ul,C (clinical) composmentis (GCS:

E4, V5 M6), D (dietary): pasien mengatakan makan habis ½ porsi

menu diit dari rumah sakit.

Pola gerak sebelum sakit pasien mengatakan dapat bergerak

bebas tanpa bantuan orang lain, selama sakit pasien mengatakan tidak

bisa bergerak bebas karena tangan kanan pasien terpasang infus

Ringer Laktat (RL) 20 tetes per menit dan aktivitasnya di bantu

keluarga. Indeks KATZ (ketergantungan untuk semua fungsi). Pola

menghindari bahaya sebelum sakit pasien mengatakan dapat

menghindari bahaya dengan sendiri tanpa bantuan orang lain, selama


28

sakit pasien tidak dapat menghindari bahaya sendiri karena pasien

hanya istirahat di tempat tidur dan aktivitas pasien dibantu oleh

keluarga untuk menghindari bahaya, pengkajian resiko jatuh 30

(resiko sedang).

Data penunjang di dapatkan pada pemeriksaan labolatorium

tanggal 04 Februari 2019, Hemoglobin 11,2 g/dl, Hematokrit: 33%,

Leokosit: 8320 H/ul, LED 84 H,pada tanggal 05 februari 2019

Hemoglobin 12,1 g/dl, Hematokrit: 33%,Leokosit: 8350 H/ul, LED

49H. Terapiyang diberikan infus RL 20 tpm, cefadroxil 500mg/12

jam, asam mefenamat 500mg/8jam

Data fokus: Diagnosa pertama pada tanggal 4 februari2019

jam 14:00 data subjektif: pasien mengatakan nyeri pada bagian

perineum luka jahitan, data objektif ekspresi wajah tampak meringgis

menahan nyeri skala nyeri 4, problem agen injury fisik, etiologi

Gangguan rasa nyaman nyeri

Diagnosa kedua pada tanggal 4 februari 2019 jam 14: 00 data

subjektif: pasien megatakan ada luka bekas jahitan di perineum,dara

objektif: tampak ada luka bekas jahitan setelah melahirkan di

perineum problem Luka perineum dan Resiko infeksi pecah ketuban

lama sebelum kelahiran, etiologi: resiko infeksi

Diagnosa ketiga 4 februari 2019 jam 14:00 data subjektif

:pasien mengatakan aktivitas di bantu keluarganya karena nyeri luka


29

bekas jahitan data objektif: aktivitas pasien tampak dibantu

keluarganya, problem nyeri bekas jahitan, etiologi gangguan mobilita.

b. Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan agen injury

fisik

b. Resiko infeksi berhubungan dengan luka perineum dan pecah

ketuban lama sebelum kelahiran

c. Gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan

gerak oleh nyeri bekas jahitan

c. Rencana keperawatan

Diagnosa pertama adalah Gangguan rasa nyaman nyeri akut

berhubungan dengan agen injury fisik, tujuan dan kriteria hasil Setelah

dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam nyeri teratasi dengan

kriteria hasil mampu mengontrol nyeri mampu menganalisa nyeri,

intervensi kaji karakteristik nyeri, ajarkan relaksasi nafas dalam,

ajarkan prinsip penanganan nyeri, kolaborasi pemberian analgetik

rasional mengetahui tingkat nyeri pasien mengurangi rasa nyeri

memberikan edukasi kepada pasien mengurangi rasa nyeri,

Implementasi Mengajarkan tehnik relaksasi nafas dalam, mengkaji

skla nyeri, Berkolaborasi dengan dokter pemberian analgetik.

Diagnosa kedua adalah Resiko infeksi berhubungan dengan luka

perineum dan pecah ketuban lama sebelum kelahiran tujuan dan

kriteria hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x 24 jam


30

resiko infeksi teratasi dengan kriteria hasil tidak ada tanda- tanda

infeksi intervensi kaji tanda –tanda infeksi ganti pembalut 2 jam sekali

atau jika sudah penuh ganti kaji tanda-tanda vital,rasional mengetahui

adanya infeksi atau tidak agar tidak terjadi infeksi mengetahui tanda-

tanda vital,Implementasi kaji tanda tanda infeksi, ganti pembalut jika

sudah terasa penuh, lakukan tindakan keperawatan vulva hygine.

Diagnosa ketiga adalah Gangguan intolerasi aktivitas berhubungan

dengan keterbatasan gerak akibat nyeri bekas jahitan,tujuan dan

kriteria hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam

mobilisasi teratasi dengan kriteria hasil pasien dapat berpindah tanpa

bantuan, pasien dapat bergerak bebas intervensi .kaji karakteristik

gerak pasien ajarkan latihan ROM, rasional mengetahui tingkat gerak

pasien mengurangi rasa kaku pada sendi,Implementasi kaji pola

aktivitas pasien,

d. Evaluasi

Evaluasi pada tanggal 6 februari 2019 jam 14:00 WIB diagnosa

pertama, Gangguan rasa nyaman nyeri akut berhubungan dengan agen

injury fisik. evaluasi subjektif: pasien mengatakan sudah tidak

merasakan nyeri, Objektif: pasien tampak rileks, Analisa data:

masalah nyeri teratasi sebagian, Planing: intervensi dilanjutkan

dengan relaksasi nafas dalam.

Diagnosa kedua Resiko infeksi berhubungan dengan luka perineum

dan pecah ketuban lama sebelum kelahiran, subjektif: pasien


31

mengatakan sudah tidak banyak lagi darah yang keluar objektif: darah

yang keluar hanya flek-flek sedikit, analisa data: masalah infeksi

teratasi sebagian, planning : intervensi dilanjutkan menjaga perawatan

diri menjaga perawatan vulva hygine

Diagnosa ketiga gangguan intoleransi aktivitas berhubungan dengan

keterbatasan gerak oleh nyeri bekas jahitan, Subjektif: pasien

mengatakan sudah bisah berjalan sendiri, objrktif: pasien tampak

berjalan sendiri kekamar mandi,analisa data : masalah mobilisasi fisik

teratasi, Planing: intervensi dihentikan


32

BAB III

METODE STUDI KASUS

Jenis penelitian yang digunakan peneliti dalam menyusun studi kasus ini

adalah observasioonal deskriptif dengan pendekatan studi kasus fokus studi

yang akan diteliti Post Partum Spontan dengan asuhan keperawatan yang

dimulai dari pengmpulan data dasar hingga evaluasi dan diakhiri dengan data

perkembangan menggunakan metode SOAP ( Subjektif, Objektif, Assesment,

Plan)

a. Rancangan studi kasus

Studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah tentang

asuhan keperawatan dilakukan untuk mengeksplorasi masalah tentang

asuhan keperawatan pada pasien Post Partum dalam pemenuhan kebutuhan

perawatan personal hygine

b. Subjek studi kasus

Subjek studi kasus ini adalah Ny.J umur 23 tahun di Rumah Sakit

Umum Daerah Pandan Arang Boyolali

c. Fokus studi kasus

Fokus studi dalam studi kasus ini adalah pemenuhan kebutuhan vulva

hygine pada pasien psot partum dengan indikasi ketuban pecah dini

32
33

d. Definisi operasional

Vulva Hygine adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan

dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan spikis.

Masa nifas adalah masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau

40 hari atau masa setelah beberapa jam plasenta lahir dan berakhir ketika

alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. (Saleha,

2009)

e. Tempat dan waktu penelitian

Tempat dan waktu pengambilan kasus ini adalah di bangsal Adas

Manis Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Arang Boyolali pada tanggal

4 Februari 2019 pada Ny. J yang beralamat rumah Tegalsari Boyolali

f. Pengumpulan data

Tehnik pengumpulan data yang digunakan penulisan studi kasus

ini adalah

1) Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara

mewancari kepada klien yang dilakukan kepada Ny.J dan suaminya

Tn.E di ruang Adas Manis Rumah Sakit Umum Daerah Boyolali

untuk pengumpulan data subjektif sesuai format keperawatan pada ibu

hamil.

2) Observasi

Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan langsung

terhadap klien secara langsung dengan menggunakan format asuhan


34

keperawatan pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus yang

digunakan di Progam DIII Keperawatan Stikes Mamba’ul Ulum

Surakarta.

g. Penyajian data

Penyajian Data yang digunakan dalam penulisan studi kasus ini adalah:

1) Data Primer

Data primer pada penyajian ini diperboleh dari hasil wawancara

secara langsung dengan Ny.J selaku subjek penelitian,keluarga

klien,serta perawat selaku tenaga medis,pemeriksaan fisik,dan

observasi langsung yang berhubungan dengan klien.

2) Data Sekunder

Data sekunder pada penyajian ini diperoleh dari hasil catatan

medis klien berupa pemeriksaan laboratorium,pemeriksaan penunjang,

tindakan perawat dan bidan, dokter,catatan perkembangan yang

berhubungan dengan klien dan dokumen rekam medis.

h. Etika studi kasus

Dijelaskan dalam etika studi kasus ini yang harus ditaati oleh

penulis dalam melakukan studi kasus ini yang mendasari penyusunan

studi kasus, yang teridiri dari

1) Informed Consent

Informend consent merupakan bentuk persetujuan peneliti dan

responden penelitian dengan memberi lembar persetujuan.informed

consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan


35

memberikan persetujuan untuk responden.Tujuanya adalah untuk

mendapat persetujuan dari pasien Ny. J untuk dilakukan tindakan

personal hygine

2) Anomity

Adalah tindakan menjaga kerahasiaan subjek penelitian dengan

tidak mencantumkan nama pada informed consent dan

kuesioner,cukup dengan inisial dan memberi nomor atau kode pada

masing-masing lembar tersebut

3) Confidentiality

Adalah untuk memberikan jaminan kerahasiaan hasil

penelitian baik informasi kerahasiaan tentang pasien Ny. J maupun

masalah-maslah lainnya untuk tidak dipublikasikan kepada orang

lain, kecuali dokter dan bidan jaga,keluarga Ny.J boleh dikasih

informasi tentang Ny. J