You are on page 1of 38

49

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas tentang hasil dan pembahasan laporan kasus

asuhan keperawatan pada dua orang bayi dengan berat lahir rendah

(BBLR) dengan gangguan termoregulasi : Hipotermi. Asuhan keperawatan

ini mencakup lima tahap proses keperawatan yang meliputi pengkajian,

diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan,

dan evaluasi keperawatan.


A. Hasil
1. Gambaran Lokasi Pengambilan Data
Pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilakukan pada tanggal 9 - 16

Maret 2018 di Ruang Tulip RSUD Tugurejo Semarang. RSUD Tugurejo

Semarang merupakan rumah sakit kelas B milik Pemerintah Provinsi Jawa

Tengah yang terletak di Semarang Bagian Barat dengan kapasitas 437

tempat tidur, terdiri dari beberapa gedung dan ruangan. Salah satunya

ruang Tulip (perinatologi), yaitu ruangan tempat penulis melakukan

asuhan keperawatan. Terdiri dari 4 kamar dan berkapasitas 11 tempat tidur

(inkubator). Tiga kamar dengan masing – masing berisi 2 inkubator khusus

untuk fototerapi dan satu kamar berisi 5 inkubator untuk bayi dengan

gangguan berat lahir rendah, asfiksia, infeksi dan gangguan termoregulasi.

Fasilitas yang ada di ruang Tulip yaitu, inkubator, ruang perawat, ruang

linen, wastafel, dapur dan ruang pumping untuk ibu bayi, serta disediakan
50

kursi di samping setiap inkubator untuk ibu saat melakukan Perawatan

Metode Kanguru dan menyusui bayinya.


2. Pengkajian
Pengkajian pada klien 1 dilakukan pada tanggal 9 Maret 2018

pukul 15.00 WIB dan pada klien 2 dilakukan pada tanggal 14 Maret 2018

pukul 15.00 WIB di ruang Tulip RSUD Tugurejo Semarang.


a. Identitas
1) Klien 1
Hasil pengkajian didapatkan data, nama By. Ny. T, nomor

rekam medis 554xxx, lahir pada tanggal 9 Maret 2018, berusia 1

hari, jenis kelamin laki-laki. Klien beragama islam, alamat

Wonopolo, Semarang, suku Jawa. Klien 1 masuk ruang Tulip

(perinatologi) pada tanggal 9 Maret 2018. Ibu klien bernama Ny.T,

berusia 27 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan ibu rumah tangga,

beragama islam, suku bangsa Jawa-Indonesia, status perkawinan

menikah. Nama ayah klien 1 bernama Tn. A, berusia 28 tahun,

pendidikan SMA, pekerjaan swasta, agama islam, suku bangsa

Jawa-Indonesia, status perkawinan menikah.


2) Klien 2
Hasil pengkajian didapatkan data, nama By. Ny. S, nomor

rekam medis 555xxx, lahir pada tanggal 14 Maret 2018, berusia 1

hari, jenis kelamin perempuan. Klien beragama islam, alamat

Podorejo, Ngaliyan, Kota Semarang, suku Jawa. Klien masuk

ruang Tulip (perinatologi) pada tanggal 14 Maret 2018. Ibu klien

bernama Ny. S, berusia 25 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan ibu

rumah tangga, beragama islam, suku bangsa Jawa-Indonesia, status


51

perkawinan menikah. Nama ayah klien 2 bernama Tn. R, berusia

28 tahun, pendidikan SMA, pekerjaan swasta, agama islam, suku

bangsa Jawa-Indonesia, status perkawinan menikah.


b. Keluhan Utama

1) Klien 1

Setelah dilakukan pengkajian pada keluhan utama, By. Ny. T

yaitu berat lahir rendah (1680 gr) dengan hipotermi (36,2C).

2) Klien 2

Setelah dilakukan pengkajian pada keluhan utama, By. Ny. S

yaitu berat lahir rendah (1800 gr) dengan hipotermi (36C).

c. Riwayat keperawatan
1) Klien 1 (By. Ny. T)
a) Riwayat keperawatan sekarang
Klien 1 (By. Ny. T) masuk ruang Tulip (perinatologi) pada

tanggal 9 Maret 2018, setelah dilahirkan di ruang VK (ruang

bersalin) secara spontan pervaginam pukul 03.45, dengan usia

kehamilan 33 minggu, dengan BB 1680 gr, panjang badan 39 cm,

lingkar dada 27 cm, lingkar kepala 28 cm, suhu tubuh 36,2C, dan

pada saat datang klien 1 menangis lemah. Pada saat dilahirkan di

ruang VK, kondisi ruang VK dingin karena menggunakan AC,

suhu AC yaitu 20C.


b) Riwayat keperawatan dahulu
Sebelum dilahirkan Ny. T mengatakan tidak merasakan

keluhan apapun yang mengganggu kehamilan. Ny. T tetap


52

beraktivitas seperti biasa, namun saat kehamilan memasuki usia 33

minggu Ny. T merasakan ada cairan yang merembes keluar dari

jalan lahir yang berwarna bening, setelah di bawa ke RS Tugurejo

Semarang Ny. T didiagnosa mengalami ketuban pecah dini namun

masih bisa dipertahankan. Setelah 2 hari dirawat di VK Ny. T

mengatakan merasakan tanda-tanda akan melahirkan, seperti perut

terasa kencang-kencang, mulas dan sakit pada tulang belakang.

Klien 1 merupakan anak pertama dari Ny. T. Untuk riwayat tumbuh

kembang klien 1 diantaranya, reflek berkedip ada, reflek

menggenggam lemah, rooting refleks lemah, reflek menghisap

masih sangat lemah. Riwayat imunisasi klien 1 memperoleh

imunisasi HB 0 di ruang VK.


c) Riwayat keperawatan keluarga
Pada pengkajian keperawatan keluarga didapatkan hasil

bahwa keluarga klien 1 tidak memiliki riwayat penyakit gagal

ginjal, jantung, hipertensi, diabetes melitus, TB, maupun penyakit

menular.
2) Klien 2
a) Riwayat keperawatan sekarang
Klien 2 (By. Ny. S) masuk ruang Tulip (perinatologi) pada

tanggal 14 Maret 2018, setelah dilahirkan di ruang VK (ruang

bersalin) secara spontan pervaginam pukul 14.25, dengan usia

kehamilan 35 minggu, dengan BB 1800 gr, panjang badan 40

cm, lingkar dada 28 cm, lingkar kepala 29 cm, suhu tubuh 36C,

dan pada saat datang klien 2 menangis lemah. Pada saat


53

dilahirkan di ruang VK, kondisi ruang VK dingin karena

menggunakan AC.
b) Riwayat keperawatan dahulu
Sebelum dilahirkan Ny. S mengatakan tidak merasakan

keluhan apapun yang mengganggu kehamilan. Ny. S tetap

beraktivitas seperti biasa, namun saat kehamilan memasuki usia

35 minggu Ny. S merasakan tanda-tanda akan melahirkan,

seperti perut terasa kencang-kencang, mulas dan sakit pada

tulang belakang dan pinggang. Ny. S kemudian dibawa ke

rumah sakit dan sempat dirawat di ruang VK selama satu hari

satu malam. Klien 2 merupakan anak pertama dari Ny. S. Untuk

riwayat tumbuh kembang klien 2 diantaranya, reflek berkedip

ada, reflek menggenggam lemah, rooting refleks lemah, reflek

menghisap masih sangat lemah. Riwayat imunisasi klien 2

memperoleh imunisasi HB 0 di ruang VK


c) Riwayat keperawatan keluarga
Pada pengkajian keperawatan keluarga didapatkan hasil

bahwa keluarga klien 2 tidak memiliki riwayat penyakit gagal

ginjal, jantung, hipertensi, diabetes melitus, TB, maupun

penyakit menular.
d. Pola Fungsional Gordon
1) Klien 1
Pada saat dilakukan pengkajian pola fungsional gordon pada

klien 1 diperoleh data diantaranya pada pola persepsi kesehatan / pola

manajemen kesehatan tidak diperoleh data karena klien 1 masih bayi

dan belum bisa mengatakan persepsinya mengenai kesehatan.


54

Pola nutrisi / metabolik klien 1 minum perah ±15 cc / 3 jam

menggunakan pipet.
Pola eliminasi klien 1, pada saat dikaji tanggal 9 Maret 2018

pukul 15.00 WIB sudah BAB sebanyak satu kali dalam satu hari

dengan konsentrasi lengket berwarna hitam dan BAK sebanyak 7-8

kali dalam sehari dengan warna urin kuning jernih berbau khas.
Pola aktivitas / latihan klien 1 termasuk dalam APGAR score
7 – 8 - 9 yaitu bayi tidak memerlukan tindakan khusus.
Pola istirahat / tidur klien 1 dalam sehari kurang lebih selama

21 jam / per hari, sisanya hanya untuk menetek, BAB, BAK dan saat

dimandikan.
Pola kognitif / persepsi dan pola persepsi diri / konsep diri pada

klien 1 belum dapat dikaji karena klien 1 masih bayi.


Pola peran dan hubungan klien 1, ibu klien 1 (Ny. T),

mengatakan klien 1 merupakan anak pertama dengan kehamilan yang

diharapkan.
Pola seksualitas / reproduksi klien 1, berjenis kelamin laki –

laki, belum dikhitan, testis belum turun dan skrotum belum banyak

lipatan.
Pola koping / toleransi stress, karena masih bayi maka cara

mengungkapkan keinginannya yaitu dengan menangis. Perawat akan

memeriksa keadaan klien dan memanggilkan ibu klien untuk

menenangkan klien.
Pola nilai / keyakinan belum dapat dikaji, namun agama klien 1

dilihat dari agama orang tua klien 1 adalah islam.


2) Klien 2
Pada saat dilakukan pengkajian pola fungsional gordon pada

klien 2 diperoleh data diantaranya pada pola persepsi kesehatan / pola


55

manajemen kesehatan tidak diperoleh data karena klien 2 masih bayi

dan belum bisa mengatakan persepsinya mengenai kesehatan.


Pola nutrisi / metabolik klien 2 minum ASI perah ±15 cc / 3

jam menggunakan pipet.


Pola eliminasi klien 2, pada saat dikaji tanggal 14 Maret 2018

pukul 15.00 WIB belum BAB dan BAK, namun pada tanggal 15 Maret

2018 klien 2 sudah BAB sebanyak satu kali dalam satu hari dengan

konsentrasi lengket berwarna hitam dan BAK sebanyak 7-8 kali dalam

sehari dengan warna urin kuning jernih berbau khas.


Pola aktivitas / latihan klien 2 termasuk dalam APGAR score
8 – 9 - 10 yaitu bayi tidak memerlukan tindakan khusus.
Pola istirahat / tidur klien 2 dalam sehari kurang lebih selama
21 jam / per hari, sisanya hanya untuk BAB, BAK, menetek dan saat

dimandikan.
Pola kognitif / persepsi dan pola persepsi diri / konsep diri pada

klien 2 belum dapat dikaji karena klien 2 masih bayi.


Pola peran dan hubungan klien 2, ibu klien 2 (Ny. S),

mengatakan klien 2 merupakan anak pertama dengan kehamilan yang

diharapkan.
Pola seksualitas / reproduksi klien 2, berjenis kelamin

perempuan, labia mayora belum menutupi labia minora.


Pola koping / toleransi stress, karena masih bayi maka cara

mengungkapkan keinginannya yaitu dengan menangis. Perawat akan

memeriksa keadaan klien dan memanggilkan ibu klien untuk

menenangkan klien.
Pola nilai / keyakinan belum dapat dikaji, namun agama klien 2

dilihat dari agama orang tua klien 2 adalah islam.

e. Pemeriksaan Fisik
56

1) Klien 1
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada klien 1 yaitu,

keadaan umum baik dilihat dari APGAR score 9, nadi 130x / menit,

suhu tubuh 36,2C, pernapasan 30x / menit.


Pada pemeriksaan kepala, bentuk kepala mesochepal, rambut

hitam, tidak ada lesi, sutura belum menutup, mata simetris,

konjungtiva merah muda, sklera berwarna putih / tidak ikterik, hidung

bersih tidak ada polip, letak hidung sejajar antara kanan dan kiri,

mukosa bibir lembab, lidah bersih tidak ada stomatitis, kemampuan

menghisap lemah, telinga bersih, tidak ada penumpukan serumen dan

lesi, letak telinga simetris kanan dan kiri, pada leher tidak ada

pembesaran kelenjar tyroid,


Pada pemeriksaan integumen pada kulit ekstremitas, bibir, dan

kuku tidak ada sianosis, kulit tipis transparan, banyak terdapat lanugo

dan keriput.
Pada pemeriksaan dada terdiri dari pemeriksaan jantung dan

paru. Pada pemeriksaan jantung secara inspeksi, tidak ada lesi pada

permukaan kulit, ictus cordis tak tampak. Palpasi, teraba ictus cordis

pada intercosta ke V dan VI midclavikula. Perkusi, terdengar suara

pekak di lapang jantung. Auskultasi, terdengar bunyi jantung I/II

reguler, tidak ada bunyi jantung tambahan. Pemeriksaan paru secara

inspeks, simetris antara kanan dan kiri, tidak ada retraksi dinding dada,

tidak ada lesi. Palpasi, teraba pengembangan dada kanan dan kiri

simetris, tidak ada benjolan. Perkusi, terdengar suara sonor di lapang

paru. Auskultasi, suara napas vesikuler.


57

Pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi, bentuk perut simetris,

tidak ada lesi dan benjolan, tali pusat belum lepas, terpasang infus.

Auskultasi, terdengar bising usus 5x/menit. Palpasi, tidak teraba massa

dan tidak ada distensi abdomen. Perkusi, terdengar suara timpani di

lapang abdomen.
Pada pemeriksaan genetalia diperoleh, jenis kelamin laki-laki,

alat kelamin bersih, testis belum turun, skrotum belum banyak lipatan.

Pada pemeriksaan rektum tidak ditemukan adanya kelainan seperti

benjolan dan hambatan pada lubang anus.


Pemeriksaan yang terakhir yaitu pada ekstremitas atas dan

bawah, simetris kanan dan kiri, akral teraba hangat namun jari kaki

teraba dingin, capillari refill < 2 detik, tidak sianosis, tidak ada edema.
2) Klien 2
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada klien 2 yaitu,

keadaan umum baik dilihat dari APGAR score 10, nadi 128x / menit,

suhu tubuh 36C, pernapasan 40x / menit.


Pada pemeriksaan kepala, bentuk kepala mesochepal, rambut

hitam, tidak ada lesi, sutura belum menutup, mata simetris,

konjungtiva merah muda, sklera berwarna putih / tidak ikterik, hidung

bersih tidak ada polip, letak hidung sejajar antara kanan dan kiri,

mukosa bibir lembab, lidah bersih tidak ada stomatitis, kemampuan

menghisap lemah, telinga bersih, tidak ada penumpukan serumen dan

lesi, letak telinga simetris kanan dan kiri, pada leher tidak ada

pembesaran kelenjar tyroid,


58

Pada pemeriksaan integumen pada kulit ekstremitas, bibir dan

kuku tidak sianosis, kulit tipis transparan, banyak terdapat lanugo dan

keriput.
Pada pemeriksaan dada terdiri dari pemeriksaan jantung dan

paru. Pada pemeriksaan jantung secara inspeksi, tidak ada lesi pada

permukaan kulit, ictus cordis tak tampak. Palpasi, teraba ictus cordis

pada intercosta ke V dan VI midclavikula. Perkusi, terdengar suara

pekak di lapang jantung. Auskultasi, terdengar bunyi jantung I/II

reguler, tidak ada bunyi jantung tambahan. Pemeriksaan paru secara

inspeks, simetris antara kanan dan kiri, tidak ada retraksi dinding dada,

tidak ada lesi. Palpasi, teraba pengembangan dada kanan dan kiri

simetris, tidak ada benjolan. Perkusi, terdengar suara sonor di lapang

paru. Auskultasi, suara napas vesikuler.


Pemeriksaan abdomen meliputi inspeksi, bentuk perut simetris,

tidak ada lesi dan benjolan, tali pusat belum lepas dan tertutup kassa

steril. Auskultasi, terdengar bising usus 4x/menit. Palpasi, tidak teraba

massa dan tidak ada distensi abdomen. Perkusi, terdengar suara

timpani di lapang abdomen.


Pada pemeriksaan genetalia diperoleh, jenis kelamin

perempuan, alat kelamin bersih, labia mayora belum menutupi labia

minora. Pada pemeriksaan rektum tidak ditemukan adanya kelainan

seperti benjolan dan hambatan pada lubang anus.


Pemeriksaan yang terakhir yaitu pada ekstremitas atas dan

bawah, simetris kanan dan kiri, akral teraba dingin, capillari refill < 2

detik, tidak sianosis, tidak ada edema.


59

f. Pemeriksaan Diagnostik
1) Klien 1
Dilakukan pemeriksaan glukosa 3 jam setelah klien dilahirkan

dengan hasil 54 mg/dL.


2) Klien 2
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang, sebab tidak ada

indikasi untuk dilakukan tindakan infasif.


g. Program Terapi
1) Klien 1
Program terapi yang klien 1 gunakan yaitu infus Dextrose 5 %

5cc / jam, Ampicilin 50mg/ 12 jam, Calcium Gluconate 0.5cc / 12

jam, Aminophilin 2.5mg / 12 jam, minyak telon dan inkubator dengan

suhu 33C.
2) Klien 2
Terapi yang klien 2 gunakan yaitu minyak telon dan inkubator

dengan suhu 33C.


3. Diagnosa Keperawatan
1) Klien 1 (By. Ny. T)
Diagnosa keperawatan yang dapat diambil pada klien 1 setelah

dilakukan pengkajian pada tanggal 9 Maret 2018 dapat dirumuskan

fokus diagnosa keperawatan yaitu gangguan termoregulasi: Hipotermi

berhubungan dengan perpajanan terhadap lingkungan yang dingin.

Masalah yang telah diambil tersebut berdasarkan data yang telah

ditemukan data subyektif dan obyektif, namun pada data subyektif

klien 1 belum bisa memberi informasi mengenai apa yang

dirasakannya karena masih bayi. Untuk data objektif berupa suhu

tubuh 36,2C, akral teraba hangat namun jari kaki teraba dingin, kulit

tipis transparan, suhu ruangan saat klien 1 dilahirkan 20C.


60

Diagnosa lain yang dapat diambil berdasarkan kemampuan

menghisap bayi yang masih lemah yaitu resiko gangguan pemenuhan

nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang belum sempurna.


2) Klien 2
Diagnosa keperawatan yang dapat diambil pada klien 2 setelah

dilakukan pengkajian pada tanggal 14 Maret 2018 dapat dirumuskan

fokus diagnosa keperawatan yaitu gangguan termoregulasi suhu tubuh:

hipotermi berhubungan dengan perpajanan terhadap lingkungan yang

dingin. Masalah yang telah diambil tersebut berdasarkan data yang

telah ditemukan data subyektif dan obyektif, namun pada data

subyektif klien 2 belum bisa memberi informasi mengenai apa yang

dirasakannya karena masih bayi. Untuk data objektif berupa suhu

tubuh 36C, akral teraba dingin, kulit tipis transparan, suhu ruangan

saat klien 2 dilahirkan 20C.


Diagnosa lain yang dapat diambil berdasarkan kemampuan

menghisap bayi yang masih lemah yaitu resiko gangguan pemenuhan

nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang belum sempurna.


4. Perencanaan/ Intervensi
Rencana keperawatan yang dilakukan pada klien 1 (By. Ny. T) dan

klien 2 (By. Ny. S) memiliki tujuan setelah dilakukan tindakan

keperawatan 3x24 jam masalah gangguan termoregulasi suhu tubuh:

Hipotermi dapat teratasi. Dengan kriteria hasil: suhu tubuh dalam batas

normal (36,5-37,5C), akral teraba hangat.


Rencana tindakan yang diberikan yaitu dimulai dengan

mengobservasi tanda-tanda vital setiap dua jam, rawat bayi dalam

inkubator dengan temperatur sesuai kebutuhan (32-35C), jaga suhu


61

lingkungan adekuat, hangatkan benda-benda yang akan bersentuhan

dengan bayi, monitor adanya tanda-tanda hipotermi, pakaian dan selimut

adekuat, ganti pakaian bayi jika pakaian basah, lakukan metode nesting,

anjurkan menghangatkan bayi dengan cara melakukan kontak kulit dengan

kulit, anjurkan ibu untuk menyusui / memberikan ASI perah lebih sering,

tidak memandikan bayi jika suhu tubuh bayi belum stabil.

5. Implementasi dan Respon

1) Klien 1 (By. Ny. T)

Implementasi pertama yang penulis lakukan pada klien 1

tanggal 9 Maret 2018 pukul 15.00 WIB yaitu mengobservasi tanda-

tanda vital serta mengukur suhu tubuh per axilla setelah sebelumnya

menghangatkan termometer yang akan digunakan terlebih dahulu dan

memonitor tanda – tanda hipotermi, data subyektif tidak ada (karena

masih bayi), data obyektif suhu tubuh 36,2C, pernapasan 30x / menit,

nadi 130x / menit, akral hangat namun dingin pada jari kaki, tidak ada

sianosis. Kemudian memonitor temperatur inkubator, yaitu 33C.

Tidak memandikan bayi terlebih dahulu, pada pukul 15.10 WIB

memberi minyak telon pada dada, punggung, perut, ekstremitas serta

mengganti popok. Dilanjutkan dengan mengganti kain alas tidur bayi,

selimut dan kain yang menutupi kepala bayi dengan kain baru yang

kering, serta memakaikan kaos kaki dan kaos tangan pada bayi pada

pukul 15.15 WIB. Mengatur suhu lingkungan agar tetap hangat dengan
62

mengganti kain alas tidur bayi yang dilakukan di dalam inkubator.

Karena klien 1 masih bayi tidak ada data subyektif, data obyektif klien

1 menangis tetapi lemah saat kain alas tidurnya diganti, namun

kembali tenang saat sudah diberi kaos kaki, kaos tangan, selimut dan

penutup kepala.

Pukul 16.00 menganjurkan ibu memberi ASI pada bayi

sesering mungkin, ASI perah sebanyak 15cc / 3 jam diberikan

menggunakan pipet. Data subyektif, ibu klien 1 (Ny. T) mengatakan

“iya mbak, besok kalo sudah tidak lemas saya akan mencoba menyusui

anak saya secara langsung mbak”. Data obyektif menghabiskan 6cc

ASI perah dan tidak muntah. pukul 16.30 WIB memberikan

pendidikan kesehatan mengenai perawatan metode kanguru pada ibu

klien 1 (Ny. T). Data subyektif ibu klien 1 (Ny. T) mengatakan, “ iya

mbak, besok pagi saja ya saya akan mencoba”. Data obyektif, ibu klien

1 (Ny. T) terlihat masih lemah.

Pukul 17.00 mengukur suhu tubuh klien 1per axilla, setelah

sebelumnya menghangatkan termometer yang akan dipakai. Data

subyektif, tidak ada (karena masih bayi). Data obyektif, suhu tubuh

klien 36,5C.

Pada hari kedua pada tanggal 10 Maret 2018 tindakan yang

dilakukan yaitu pada pukul 10.00 WIB, yaitu mengukur suhu tubuh

klien 1 per axilla setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang

akan digunakan. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data
63

obyektif suhu tubuh klien 1, yaitu 36,4C, akral teraba hangat.

Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan menjaga suhu

inkubator. Data subyektif tidak ada karena masih bayi. Data obyektif,

suhu inkubator 33C.

Pukul 10.20 WIB mengajarkan perawatan metode kanguru

pada ibu klien 1 (Ny. T) dan menganjurkan ibu klien 1 (Ny. T) untuk

memberi ASI sesering mungkin. Data subyektif, pada klien 1 tidak ada

karena masih bayi, ibu klien 1(Ny. T) mengatakan “ senang bisa diajari

seperti ini ”. Data obyektif, klien 1 sempat menangis saat baru

dilakukan perawatan metode kanguru, dan kembali tenang setelah

posisinya sudah nyaman, ibu klien 1 (Ny. T) masih terlihat kaku dan

takut – takut saat melakukan metode kanguru, namun klien 1 belum

mau menyusu secara langsung. Pukul 11.00 WIB memberi ASI perah

melalui pipet. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif klien 1 minum ASI 5cc menggunakan pipet dan tidak muntah.

Pukul 11.15 WIB mengganti alas tidur, selimut dan penutup

kepala klien yang basah dengan kain baru yang kering. Data subyektif,

tidak ada karena masih bayi. Data obyektif, klien 1 tampak terganggu

namun tidak menangis. Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan

melakukan tindakan keperawatan dengan klien 1 tetap didalam

inkubator. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data obyektif,

suhu inkubator 33C.


64

Pukul 12.00 WIB mengukur suhu tubuh klien 1 per axilla

setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang akan digunakan

terlebih dahulu. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif suhu tubuh klien 1, yaitu 36,5C.

Pada hari ketiga pada tanggal 11 Maret 2018 tindakan yang

dilakukan yaitu pada pukul 10.00 WIB, yaitu mengukur suhu tubuh

klien 1 per axilla setelah sebelumnya menghangatkan termometer

yang akan digunakan. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi.

Data obyektif suhu tubuh klien 1, yaitu 36,5C, akral teraba hangat.

Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan menjaga suhu

inkubator. Data tidak ada karena masih bayi. Data obyektif, suhu

inkubator 33C.

Pukul 10.30 WIB membantu ibu klien 1 (Ny. T) melakukan

perawatan metode kaguru dan menganjurkan ibu klien 1 (Ny. T) untuk

memberi ASI secara langsung. Data subyektif, pada klien 1 tidak ada

karena masih bayi. Data obyektif, klien 1 sempat menangis saat baru

dilakukan perawatan metode kanguru, dan kembali tenang setelah

posisinya sudah nyaman, ibu klien 1 (Ny. T) masih terlihat sedikit kaku

saat melakukan metode kanguru, klien 1 sudah mau menetek secara

langsung namun masih lemah saat menghisap. Pukul 11.00 WIB

memberi ASI perah melalui pipet. Data subyektif, tidak ada karena

masih bayi. Data obyektif klien 1 minum ASI 5cc menggunakan pipet

dan tidak muntah.


65

Pukul 11.15 WIB mengganti alas tidur, selimut dan penutup

kepala klien yang basah dengan kain baru yang kering. Data subyektif,

tidak ada karena masih bayi. Data obyektif, klien 1 tampak terganggu

namun tidak menangis. Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan

melakukan tindakan keperawatan dengan klien 1 tetap didalam

inkubator. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data obyektif,

suhu inkubator 33C.

Pukul 12.00 WIB mengukur suhu tubuh klien 1 per axilla

setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang akan digunakan

terlebih dahulu. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif suhu tubuh klien 1, yaitu 36,7C.

2) Klien 2 (By. Ny. S)

Implementasi pertama yang penulis lakukan pada klien 2

tanggal 14 Maret 2018 pukul 15.10 WIB yaitu mengobservasi tanda-

tanda vital dan mengukur suhu tubuh per axilla setelah sebelumnya

menghangatkan termometer yang akan digunakan terlebih dahulu dan

memonitor tanda – tanda hipotermi, data subyektif tidak ada (karena

masih bayi), data obyektif suhu tubuh 36,0C, pernapasan 40x / menit,

nadi 128x / menit, akral teraba dingin, tidak ada sianosis. Kemudian

memonitor temperatur inkubator, yaitu 33C.

Tidak memandikan bayi terlebih dahulu (sebelum 6 jam), pada

pukul 15.15 WIB memberi minyak telon pada dada, punggung, perut,
66

ekstremitas serta mengganti popok. Dilanjutkan dengan mengganti

kain alas tidur bayi, selimut dan kain yang menutupi kepala bayi

dengan kain baru yang kering, serta memakaikan kaos kaki dan kaos

tangan pada bayi pada pukul 15.20 WIB. Mengatur suhu lingkungan

agar tetap hangat dengan mengganti kain alas tidur bayi yang

dilakukan di dalam inkubator. Karena klien 2 masih bayi tidak ada data

subyektif, data obyektif klien 2 tetap tenang dan tidak menangis saat

kain alas tidurnya, kaos kaki, kaos tangan, selimut dan penutup kepala

diganti.

Pukul 17.00 mengukur suhu tubuh klien 2 per axilla, setelah

sebelumnya menghangatkan termometer yang akan dipakai. Data

subyektif, tidak ada (karena masih bayi). Data obyektif, suhu tubuh

klien 36,2C.

Pukul 17.15 menganjurkan ibu memberi ASI pada bayi

sesering mungkin. Data subyektif, ibu klien 2 (Ny. S) mengatakan “iya

mbak, besok kalo coba”. Pukul 17.15 WIB memberikan pendidikan

kesehatan mengenai perawatan metode kanguru pada orang tua klien 2.

Data subyektif ibu klien 2 (Ny. S) mengatakan, “ iya besok saya coba”.

Data obyektif, ibu klien 2 (Ny. S) terlihat masih lemah setelah

melahirkan.

Pada hari kedua pada tanggal 15 Maret 2018 tindakan yang

dilakukan yaitu pada pukul 15.00 WIB, yaitu mengukur suhu tubuh

klien 2 per axilla setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang


67

akan digunakan. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif suhu tubuh klien 2, yaitu 36,5C, akral teraba hangat. Pukul

15.05 WIB memandikan bayi dengan cara mengusap badan bayi

dengan menggunakan T-towel yang sudah direndam dalam air hangat

dan mengeringkan bayi dengan segera. Data subyektif tidak ada karena

masih bayi. Data obyektif, klien 2 menangis dengan lemah. Pukul

15.10 WIB memberi minyak telon pada dada, punggung, perut,

ekstremitas klien 2 serta mengganti alas tidur, selimut dan penutup

kepala klien dengan kain baru yang kering. Data subyektif, tidak ada

karena masih bayi. Data obyektif, klien 2 tampak tenang setelah

kembali hangat. Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan

melakukan tindakan keperawatan dengan klien 2 tetap didalam

inkubator. Data subyektif tidak ada karena masih bayi. Data obyektif,

suhu inkubator 33C.

Pukul 15.30 WIB megajarkan perawatan metode kanguru pada

ibu klien 2 (Ny. S) dan menganjurkan ibu klien 2 (Ny. S) untuk

memberi ASI sesering mungkin. Data subyektif, pada klien 2 tidak ada

karena masih bayi, ibu klien 2 (Ny.S ) mengatakan “ senang mbak, bisa

ikut merawat anak saya ”. Data obyektif, klien 2 sempat menangis saat

baru dilakukan perawatan metode kanguru, dan kembali tenang setelah

posisinya sudah nyaman, ibu klien 2 (Ny. S) masih terlihat kaku dan

takut – takut saat melakukan metode kanguru, klien 2 sudah mau

menetek meskipun masih lemah saat menghisap. Pukul 16.10 WIB


68

memberi ASI perah menggunakan pipet. Data subyektif, tidak ada

karena masih bayi. Data obyektif klien 2 minum ASI 5cc

menggunakan pipet dan tidak muntah. Menjaga suhu lingkungan tetap

hangat dengan melakukan tindakan keperawatan dengan klien 2 tetap

didalam inkubator. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif, suhu inkubator 33C.

Pukul 17.00 WIB mengukur suhu tubuh klien 2 per axilla

setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang akan digunakan

terlebih dahulu. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif suhu tubuh klien 2, yaitu 36,5C.

Pada hari ketiga pada tanggal 16 Maret 2018 tindakan yang

dilakukan yaitu pada pukul 10.00 WIB, yaitu mengukur suhu tubuh

klien 2 per axilla setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang

akan digunakan. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif suhu tubuh klien 2, yaitu 36,5C, akral teraba hangat.

Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan menjaga suhu

inkubator. Data tidak ada karena masih bayi. Data obyektif, suhu

inkubator 33C.

Pukul 10.30 WIB membantu ibu klien 2 (Ny. S) melakukan

perawatan metode kanguru dan menganjurkan ibu klien 2 (Ny. S)

untuk memberi ASI secara langsung. Data subyektif, pada klien 2 tidak

ada karena masih bayi. Data obyektif, klien 2 sempat menangis saat
69

baru dilakukan perawatan metode kanguru, dan kembali tenang setelah

posisinya sudah nyaman, ibu klien 2 (Ny. S) masih terlihat kaku dan

takut – takut saat melakukan metode kanguru, klien 2 mau menetek

namun masih lemah saat menghisap. Pukul 11.00 WIB memberi ASI

perah menggunakan pipet. Data subyektif, tidak ada karena masih

bayi. Data obyektif klien 2 minum ASI 5cc menggunakan pipet dan

tidak muntah.

Pukul 11.15 WIB mengganti alas tidur, selimut dan penutup

kepala klien yang basah dengan kain baru yang kering. Data subyektif,

tidak ada karena masih bayi. Data obyektif, klien 2 tampak terganggu

namun tidak menangis. Menjaga suhu lingkungan tetap hangat dengan

melakukan tindakan keperawatan dengan klien 2 tetap didalam

inkubator. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data obyektif,

suhu inkubator 33C.

Pukul 12.00 WIB mengukur suhu tubuh klien 2 per axilla

setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang akan digunakan

terlebih dahulu. Data subyektif, tidak ada karena masih bayi. Data

obyektif suhu tubuh klien 2, yaitu 36,8C.

6. Evaluasi Keperawatan
1) Klien 1 (Ny. T)
Hasil evaluasi tindakan keperawatan setelah dilakukan selama

3x24 jam pada klien 1 tanggal 11 Maret 2018 pukul 12.00 WIB

didapatkan data subyektif (S), klien 1 idak ada karena masiih bayi, ibu

klien 1 (Ny. T) mengatakan mengerti tentang materi penkes yang telah


70

dijelaskan. Data Obyektif (O), Ibu klien 1 (Ny. T) bisa melakukan

perawatan metode kanguru dengan bantuan. Tanda – tanda vital bayi,

suhu 36,7C, nadi 128x / menit, pernapasan 40x / menit. Akral teraba

hangat. Assesment(A) masalah gangguan termoregulasi suhu tubuh:

Hipotermi teratasi. Planning (P) pertahankan intervensi, monitor


tanda – tanda vital, mengganti baju bayi jika basah, menjaga suhu

lingkungan adekuat, anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering

mungkin, anjurkan ibu untuk tetap melakukan perawatan metode

kanguru secara rutin setiap hari.


2) Klien 2 (By. Ny. S)
Hasil evaluasi tindakan keperawatan setelah dilakukan selama

3x24 jam pada klien 2 tanggal 16 Maret 2018 pukul 12.00 WIB

didapatkan data subyektif (S), klien 2 tidak ada karena masih bayi, ibu

klien 2 (Ny. S) mengatakan mengerti tentang materi penkes yang telah

dijelaskan. Data obyektif (O), ibu klien 2 (Ny. S) bisa melakukan

perawatan metode kanguru dengan bantuan. Tanda – tanda vital bayi,

suhu 36,8C, nadi 128x / menit, pernapasan 42x / menit. Akral teraba

hangat. Assesment(A) masalah gangguan termoregulasi suhu tubuh:

Hipotermi teratasi. Planning (P), pertahankan intervensi, monitor


tanda – tanda vital, mengganti baju bayi jika basah, menjaga suhu

lingkungan adekuat, anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering

mungkin, anjurkan ibu untuk tetap melakukan perawatan metode

kanguru secara rutin setiap hari.


B. Pembahasan
71

Pembahasan asuhan keperawatan ini mencakup lima tahap proses

keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi

keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan.

1. Pengkajian
Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan pada tanggal 9

Maret 2018 dan 14 Maret 2018 pukul 15.00 WIB di ruang Tulip

(perinatologi) RSUD Tugurejo Semarang pada klien 1 dan klien 2 yang

dirawat di ruang Tulip dengan diagnosa medis BBLR dengan

hipotermi. BBLR adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari

2500 gram (Pantiawati, 2010). Pada bayi yang lahir dengan berat

badan rendah sangat rentan terhadap terjadinya hipotermi (Agnes,

2009).
Data yang didapatkan saat pengkajian antara lain, klien 1 (By.

Ny. T) dilahirkan saat usia kehamilan 33 minggu dengan BB 1680 gr,

panjang badan 39 cm, lingkar dada 27 cm, lingkar kepala 28 cm,

skrotum masih belum banyak terdapat lipatan, menangis lemah dan

kemampuan menghisap lemah. Pada klien 2 (By. Ny. S) dilahirkan

ketika usia kehamilan 35 minggu dengan BB 1800 gr, panjang badan

40 cm, lingkar dada 28 cm, lingkar kepala 29 cm, terlihat labia mayora

belum menutupi labia minora, menangis lemah dan kemampuan

menghisap lemah. Serta dalam pemeriksaan fisik pada sistem

integumen pada kedua klien ditemukan hasil yaitu, kulit tipis

transparan karena sedikitnya lemak subkutan yang dimiliki, masih


72

banyak terdapat lanugo dan akral teraba dingin. Hal tersebut sesuai

dengan teori yang telah dipaparkan oleh Proverawati & Ismawati

(2010) dalam bukunya bahwa manifestasi klinis BBLR yaitu, BB <

2500 gram, PB < 45 cm, LD < 30 cm, LK < 33 cm, umur kehamilan <

37 minggu, kulit tipis transparan karena sedikitnya lemak subkutan

yang dimiliki, masih banyak terdapat lanugo dan keriput, akral teraba

dingin, testis belum turun pada bayi laki – laki dan labia mayora belum

menutupi labia minora pada bayi perempuan.


Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data suhu tubuh klien

1 yaitu 36,2C dan pada klien 2 yaitu 36C serta akral teraba dingin

yang berarti klien mengalami hipotermi, dimana suhu tubuh normal

yaitu antara 36,5 – 37,5C, serta saat kedua klien dilahirkan kondisi

ruang bersalin dingin karena berAC dengan suhu 20C. Hipotermi

menurut Partiwi, dkk (2015) adalah kondisi ketika tubuh kehilangan

suhu panas dengan cepat sehingga suhu tuhuh menurun drastis.

Menurut Syafrudin, Kartiningsih & Mardiana (2011) kriteria

hipotermia sedang adalah suhu tubuh bayi < 36,5C dan dapat terjadi

karena tepapar suhu lingkungan yang rendah. Semakin kecil tubuh

neonatus, semakin sedikit cadangan lemaknya. Suhu permukaan kulit

akan berubah sesuai dengan perubahan suhu lingkungan. Bayi baru

lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya secara sempurna sehingga

perubahan suhu lingkungan di sekitar bayi akan mempengaruhi suhu

tubuh bayi (Sholeh Kosim, 2007).


73

Klien 1 dan Klien 2 memiliki kemampuan menghisap yang

masih lemah dan belum bisa minum ASI secara langsung pada saat

dikaji, sesuai dengan pernyataan Mendri & Prayogi (2016) bahwa bayi

dengan berat lahir rendah beresiko mengalami beberapa masalah salah

satunya kesulitan makan, masalah lain yang dapat terjadi antara lain

mengalami masalah pada pernapasan, pengaturan suhu tubuh dan

mudah terkena infeksi .


Dari hasil pengkajian kedua klien termasuk kedalam bayi

kurang bulan karena lahir saat usia kehamilan < 37 minggu, bayi bisa

dikatakan cukup bulan jika lahir saat usia kehamilan antara 37 - 41

minggu (Lestari, 2016). Dari hasil wawancara dengan ibu klien

didapatkan data dari ibu klien 1 (Ny. T) penyebab klien 1 lahir kurang

bulan yaitu karena klien mengalami ketuban pecah dini saat

usiakehamilan memasuki 33 minggu, Ny. T mengatakan tidak pernah

terjatuh sebelumnya dan tidak pernah ada masalah pada kehamilannya,

beliau beraktivitas seperti biasa dan secara tiba – tiba merasa ada

cairan yang merembes dari jalan lahir. Kondisi ini sesuai dengan teori

yang dipaparkan Mitayani (2009) sebagai penyebab dari BBLR yaitu

Ketuban Pecah Dini (KPD). Ketuban pecah dini adalah keadaan

pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan yang dapat terjadi karena

infeksi rahim, trauma, volume cairan ketuban yang terlalu banyak,

stress dan pernah mengalami KPD pada kehamilan sebelumnya

(Sarwono, 2010). Ketuban pecah dini dapat menyebabkan infeksi dan


74

juga prematuritas karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang

bulan yang mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan rendah

(Manuaba, 2010). Pada ibu klien 2 (Ny. S) mengatakan tidak ada

keluhan apapun sebelum melahirkan, Ny. S mengatakan tidak pernah

jatuh sebelumnya dan selalu kontrol tepat waktu serta tidak memiliki

riwayat melahirkan prematur sebelumnya, Ny. S hanya merasakan

tanda - tanda akan melahirkan seperti perut lebih sering kencang –

kencang, mulas dan sakit pada daerah pinggang saat usia kehamilan 35

minggu.
2. Diagnosa Keperawatan
Dirumuskan fokus diagnosa keperawatan yang diambil dalam

pembuatan laporan karya tulis ilmiah yaitu gangguan termoregulasi

suhu tubuh: Hipotermi berhubungan dengan perpajanan terhadap

lingkungan yang dingin. Masalah yang telah diambil tersebut

berdasarkan data yang telah ditemukan pada By. Ny. T, yaitu BB 1680

gram, suhu tubuh 36,2C, akral teraba hangat namun pada jari kaki

dingin, kulit tipis transparan, kemampuan menghisap lemah, tangisan

lemah. Dan pada By. Ny. S berupa BB 1800 gram, suhu tubuh 36C,

akral teraba dingin, kulit tipis transparan, kemampuan menghisap

lemah, tangisan lemah. Suhu ruangan saat kedua klien dilahirkan 20C

hal ini menyebabkan hilangnya panas pada bayi karena terpapar udara

lingkungan yang rendah seperti yang telah dipaparkan oleh Syafrudin,

Kartiningsih & Mardiana (2011) hipotermi dapat terjadi karena

terpapar suhu lingkungan yang dingin atau basah (suhu lingkungan


75

rendah, permukaan dingin atau basah). Serta sesuai dengan manifestasi

klinis hipotermi dari Maryunani (2013) diantaranya akral teraba

dingin, suhu tubuh < 36,5C, kemampuan menghisap rendah dan bayi

menangis lemah.
Masalah lain yang mungkin menyertai BBLR dengan hipotermi

adalah bayi beresiko terkena masalah dalam pemenuhan kebutuhan

nutrisi karena BBLR yang terkena hipotermi memiliki kemampuan

menghisap yang lemah sehingga dapat diambil diagnosa resiko

gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap

yang belum sempurna (Lestari, 2016). Jika hipotermi tidak segera

ditangani bayi beresiko mengalami penurunan kesadaran karena terjadi

penurunan kadar oksigen dalam darah atau hipoksemia yang ditandai

dengan adanya sianosis dan sesak napas. Pada saat melakukan

pengkajian penulis tidak menemukan adanya sianosis dan sesak napas

pada klien 1 dan klien 2, kelalaian penulis adalah tidak mengukur

saturasi oksigen klien menggunakan pulse oximeter.


Namun pada karya tulis ini penulis hanya berfokus pada

masalah hipotermi sehingga penulis menegakkan satu diagnosa pada

kedua klien, yaitu gangguan termoregulasi: Hipotermi berhubungan

dengan perpajanan terhadap lingkungan yang dingin.

3. Intervensi

Rencana tindakan yang telah dirumuskan pada kedua klien

untuk mengatasi masalah keperawatan klien yaitu berfokus pada


76

termoregulasi suhu tubuh klien. Adapun yang dilakukan untuk

mengatasi masalah gangguan termoregulasi: Hipotermi klien yaitu

mengobservasi tanda-tanda vital sebelum dilakukan tindakan dan

monitor suhu tubuh setiap dua jam setelah tindakan sesuai dengan

penanganan hipoterni menurut Lestari (2016), dimaksudkan untuk

mengetahui perkembangan / keadaan bayi, mencegah agar tidak

terjadi penurunan suhu yang berlebihan dan terjadi komplikasi akibat

hipotermi yang tidak tertangani seperti yang dipaparkan Purwoastuti &

Walyani (2015), yaitu hipoglikemia-sidosis metabolik, gangguan

pembekuan darah, shock, apnea, perdarahan intra ventrikuler dan juga

menurut Saifuddin, Abdul Bari, dkk. (2009) hipotermi yang lambat

ditangani menyebabkan penyempitan pembuluh darah, yang

mengakibatkan terjadinya metabolik anaerobik, meningkatkan

kebutuhan oksigen, mengakibatkan hipoksemia dan berlanjut dengan

kematian.
Merawat bayi dalam inkubator dengan temperatur sesuai

kebutuhan (32-35C), dalam menentukan suhu inkubator untuk bayi

dilakukan dengan menyesuaikan berat badan bayi. Syarat perawatan

bayi dalam inkubator antara lain, inkubator dihangatkan terlebih

dahulu dan pastikan kasur sudah bersih sebelum ditempati bayi,

pastikan resevoir inkubator kosong karena bakteri yang berbahaya

dapat berkembang dalam air dan menginfeksi bayi, pada beberapa

keadaan bayi tidak dipakaikan baju untuk memudahkan pengamatan,


77

tutup kap secepat mungkin setelah meletakkan bayi di dalamnya dan

pertahankan jendela inkubator tetap tertutup setiap saat, serta terdapat

plastik tunnel guna mempertahankan kehangatan inkubator, periksa

suhu inkubator setiap tiga jam, penempatan inkubator juga harus

diperhatikan, jangan terlalu dekat dengan dinding atau jendela karena

panas tubuh bayi dapat berpindah ke dinding yang dingin (World

Health Organisation, 2007).


Mengganti pakaian bayi jika pakaian basah dan menjaga

lingkungan bayi tetap hangat dengan cara melakukan tindakan

keperawatan seperti memandikan bayi dan mengganti pakaian bayi

dengan bayi tetap berada di dalam inkubator serta menghangatkan

benda-benda yang akan bersentuhan dengan bayi untuk mencegah

panas tubuh bayi berpindah ke lingkungan sekitar dan tubuh

kehilangan panas melalui cara – cara yang dijelaskan Syafrudin,

Kartiningsih & Mardiana (2011), yaitu perpindahan panas tubuh bayi

melalui evaporasi, konduksi, konveksi dan radiasi.


Memberi pakaian dan selimut yang adekuat yang juga meliputi

topi, karena sebagian besar (kurang lebih 25%) kehilangan panas dapat

terjadi melalui kepala bayi (Kosim., dkk, 2014).


Kemudian memonitor adanya tanda-tanda hipotermi seperti

suhu tubuh bayi < 36,5C, akral teraba dingin, kemampuan menghisap

lemah dan bayi menangis dengan lemah (Syafrudin, Kartiningsih &

Mardiana, 2011). Tidak memandikan bayi jika suhu tubuh bayi belum
78

stabil karena dapat membahayakan bayi dengan terjadi penguapan

panas tubuh yang berlebih dan menyebabkan shock (Lestari, 2016).


Melibatkan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan

pada BBLR dengan hipotermi dengan cara menganjurkan ibu

menyusui bayinya dengan lebih sering serta melakukan perawatan

metode kanguru. Penatalaksanaan perawatan pada neonatus dengan

preterm atau BBLR sangat perlu mendapat dukungan dari berbagai

pihak, salah satu caranya yaitu dengan meningkatkan pengetahuan

yang benar pada ibu dan keluarga atau dapat memberikan sentuhan

terapeutik dengan konsep family center care (FCC), sehingga

pengetahuan ini dapat membantu ibu terhadap perawatan yang

berkualitas dan tidak menimbulkan cedera pada bayi preterm atau

BBLR. Dalam hal ini, penatalaksanaan perawatan pada bayi dapat

dilakukan oleh seorang ibu ataupun ayah dengan cara mempertahankan

suhu dan kehangatan bayi BBLR di rumah, selalu memberikan ASI

kepada bayi BBLR di rumah dan berusaha mencegah terjadinya infeksi

bayi pada BBLR (Girsang, 2009).


Menganjurkan ibu untuk menyusui / memberikan ASI perah

sesering mungkin karena menurut Arief (2009) dengan memberikan

ASI dengan frekuensi sering akan meningkatkan berat badan bayi,

sehingga apabila berat badan bayi meningkat maka cadangan lemak

dalam tubuh akan semakin banyak dan akan meningkatkan suhu tubuh.

Selain itu menganjurkan ibu untuk menghangatkan bayi dengan cara

melakukan kontak kulit dengan kulit atau metode kanguru. Karena


79

dengan melakukan kontak kulit ibu ke bayi (skin to skin contact) dapat

menstabilkan suhu, pola pernapasan bayi menjadi lebih teratur, denyut

jantung lebih stabil, bayi dapat menetek lebih sering dan lebih lama,

serta berkurangya kejadian infeksi sebagai mana telah dijelaskan oleh

Hernawati & Kamila (2017). Selain itu mengikutsertakan orang tua

dalam tindakan keperawatan akan memunculkan rasa lebih percaya diri

orang tua dalam merawat bayinya serta akan tercipta penngkatan

hubungan antara ibu dengan bayi (Bounding Attachment).


4. Implementasi keperawatan
Proses keperawatan implementasi merupakan fase ketika

perawat mengimplementasikan intervensi keperawatan (Kozier, dkk,

2010). Sehingga tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien 1

(By. Ny. T) dan klien 2 (By. Ny. S) sesuai dengan intervensi

keperawatan yang telah disusun. Tindakan pertama yang dilakukan

yaitu memonitor tanda – tanda vital dan mengukur suhu tubuh per

axilla, setelah sebelumnya menghangatkan termometer yang akan

digunakan terlebih dahulu untuk mencegah perpindahan panas tubuh

bayi ke suhu termometer yang dingin. Pada kedua klien tidak

didapatkan data subyektif karena masih bayi. Data obyektif pada klien

1 (By. Ny. T) didapatkan suhu tubuh 36,2C, pernapasan 30x / menit,

nadi 130x / menit dan pada klien 2 (By. Ny. S) didapatkan suhu tubuh

36,0C, pernapasan 40x / menit, nadi 128x / menit. Pada klien 1 (By.

Ny. T) dan klien 2 (By. Ny. S) terdapat persamaan yaitu menangis

dengan lemah dan kemampuan menghisap masih lemah. Memonitor


80

tanda – tanda vital meliputi megukur suhu tubuh, mengukur nadi,

mengukur tekanan darah, dan frekuensi pernapasan dilakukan sebagai

indikator status kesehatan, ukuran – ukuran yang menandakan

keefektifan sirkulasi, respirasi, serta neurologi dan endokrin tubuh

(Muttaqin, 2009).
Pengukuran suhu tubuh pada BBLR dengan hipotermi

seharusnya dilakukan dengan cepat, pengukuran dapat dilakukan per

aurikel yang hanya memerlukan waktu 2-5 detik sedangkan jika

dilakukan per axilla memerlukan waktu beberapa menit. Hal ini dapat

menyebabkan bayi terlalu lama terpapar udara luar dan mengakibatkan

panas tubuh bayi berpindah ke lingkungan sekitar dan tubuh

kehilangan panas melalui cara – cara yang dijelaskan Syafrudin,

Kartiningsih & Mardiana (2011), yaitu perpindahan panas tubuh bayi

melalui evaporasi, konduksi, konveksi dan radiasi.


Memonitor temperatur inkubator, yaitu 33C. Tidak

memandikan bayi terlebih dahulu karena pada klien 1 (By. Ny. T) suhu

tubuhnya rendah (36,2C) sedangkan pada klien 2 (By. Ny. S) belum 6

jam setelah dilahirkan dan juga memiliki suhu tubuh rendah (36C).

Hal ini dilakukan karena memandikan bayi saat suhu tubuhnya rendah

(hipotensi) dapat membahayakan bayi, sesuai dengan pedapat Lestari

(2016). Kemudian kedua klien diberi minyak telon pada dada,

punggung, perut, ekstremitas serta mengganti kain alas tidur, selimut,

penutup kepala, kaos kaki dan kaos tangan sebagai penghangat. Hal

tersebut dilakukan tetap di dalam inkubator untuk menjaga suhu


81

lingkungan tetap hangat. Respon subyektif pada kedua klien tidak ada

karena masih bayi, sedangkan respon obyektifnya kedua klien tampak

terganggu saat diganti kain alas tidurnya, namun saat sudah hangat

kedua klien kembali tidur.


Mengajarkan perawatan metode kanguru pada ibu klien 1 (By.

T) dan ibu klien 2 (Ny. S) serta menganjurkan pada ibu klien 1 (Ny. T)

dan ibu klien 2 (Ny. S) untuk menyusui / memberi ASI perah sesering

mungkin. Respon subyektif pada kedua klien tidak ada karena masih

bayi, pada ibu klien 1 (Ny. T) dan ibu klien 2 (Ny. S) mengatakan

mengerti tujuan dan cara melakukan perawatan metode kanguru dan

mengatakan senang diajari melakukan metode kanguru. Terdapat

kesamaan dalam respon obyektif pada klien 1 (By. Ny. T) dan klien 2

(By. Ny. S) yaitu menangis saat awal dilakukan metode kanguru dan

kembali tenang saat posisi sudah nyaman. Saat menetek kemampuan

menghisap kedua klien masih lemah, pada hari pertama dan kedua

klien 1 belum mau menyusu secara langsung dan pada hari ketiga klien

1 sudah mau menyusu secara langsung, sedangkan pada klien 2 pada

hari pertama klien belum mau menyusu secara langsung, namun pada

hari kedua klien sudah mau menyusu secara langsung. Ibu klien 1 (Ny.

T) dan ibu klien 2 (Ny. S) masih terlihat kaku dan takut saat melakukan

metode kanguru, namun ibu klien 1 (Ny. T) terlihat lebih bersemangat

saat mencoba melakukan PMK dan saat menyusui bayinya.


Mengukur suhu tubuh kedua klien per axilla setelah dilakukan

tindakan keperawatan. Respon subyektif pada kedua klien tidak ada


82

karena masih bayi. Terdapat persamaan respon obyektif pada klien 1

dan klien 2 yaitu terjadi peningkatan suhu tubuh setelah dilakukan

asuhankeperawatan, pada klien 1 (By. Ny. T) suhu tubuh pada hari ke-

1 dan ke-2 yaitu 36,5C dan pada hari ke-3 yaitu 36,7C. Pada klien 2

(By. Ny. S) suhu tubuh hari ke-1 yaitu 36,2C, suhu tubuh hari ke-2

yaitu 36,5C dan suhu tubuh pada hari ke-3 yaitu 36,8C.
Selain tindakan yang telah dilakukan diatas seharusnya perawat

juga memeberikan terapi dengan menggunakan metode nesting.

Nesting berasal dari kata nest yang artinya ialah sangkar. Nesting

terbuat dari bahan phlanyl dengan panjang sekitar 121 – 132 cm yang

dapat disesuaikan dengan panjang bayi yang bertujuan untuk

meminimalkan pergerakan bayi yang diberikan pada bayi prematur

atau BBLR (Priya & Bijlani, 2005). Nesting ditujukan untuk

mengurangi pergerakan pada neonatus dimana mereka akan tetap pada

posisi fleksi layaknya ketika masih di dalam rahim ibu, sehingga

mencegah terjadinya perubahan posisi yang drastis yang dapat

mengakibatkan hilangnya energi dan nantinya mempercepat proses

pertumbuhan dan perkembangannya (Bayuningsih, 2011).


Dengan nesting, bayi dirawat seolah - olah masih dalam

kandungan sang ibu. Bayi akan merasa nyaman, tidak menangis atau

rewel, mengurangi stress, sehingga energinya dapat dipakai untuk

pertumbuhan berat badan hingga 40 miligram/hari, jika hanya

menggunakan inkubator pertumbuhan hanya 10 miligram/hari (Try

Setiowati, 2015). Menurut Arief (2009) apabila berat badan bayi


83

meningkat maka cadangan lemak dalam tubuh akan semakin banyak

dan akan meningkatkan suhu tubuh.


Metode nesting juga berpengaruh pada suhu tubuh bayi dengan

berperan memberikan kehangatan melalui kain flanel yang dibentuk

menyerupai sarang burung. Tubuh dan wajah bayi akan bersentuhan

secara langsung dengan kain yang hangat dan lembut yang akan

membuat bayi menjadi lebih hangat serta bayi tubuh bayi tidak banyak

terekspos dan terpapar dengan udara luar (Bayuningsih, 2011).


Menurut Try Setiowati (2015), nesting yang cocok untuk bayi

menggunakan bahan dakron, semacam kapas yang digulung-gulung

sehingga badan bayi melengkung dan posisi kepala miring 30-45

derajat. Kemiringan ini bertujuan mencegah bayi muntah sehingga

nutrisi yang diasupkan optimal untuk memicu pertumbuhan. Di

samping itu, bayi ditempatkan pada inkubator dengan suhu 32-34C.


Pemilihan kain yang digunakan berupa flanel, dakron dan kain

katun dikarenakan bahan – bahan tersebut mampu menyerap keringat,

lembut, lentur dan akan membuat bayi merasa hangat serta nyaman

(Kania, 2015).
Dengan metode nesting, waktu perawatan bayi dapat

dipersingkat dari 2-3 bulan menjadi 1,5 bulan. Bayi bisa pulang dalam

kondisi sehat dan selanjutnya dirawat oleh ibu atau keluarga

(Darwanti, 2015).
Namun metode nesting belum dapat diterapkan dalam tindakan

keperawatan penulis karena harus mengikuti prosedur yang ada di

rumah sakit tempat penulis melakukan asuhan keperawatan.


84

Menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil merupakan salah satu

kebutuhan paling penting untuk BBLR. Hal ini dikarenakan bayi baru

lahir belum mampu mempertahankan kestabilan suhu tubuhnya secara

mandiri. BBLR mempunyai permukaan tubuh yang lebih luas, bayi

yang baru lahir memiliki luas permukaan tubuh tiga kali lebih besar

dari pada orang dewasa namun tingkat metabolismenya hanya dua kali

lipat dari orang dewasa, hal inilah yang membuat bayi kehilangan

panas tubuh dengan cepat. BBLR juga memiliki lemak subkutan yang

lebih tipis sehingga saat bayi terpapar dengan suhu lingkungannya

yang lebih rendah ataupun tinggi, bayi belum mampu untuk

mempertahankan suhu tubuhnya dan akan terpengaruh oleh suhu

lingkungan. Faktor selanjutnya adalah mekanisme produksi panas

tubuh pada bayi yang belum optimal. Pada bayi baru lahir belum

memiliki respon menggigil untuk menungkatkan panas, sehingga

caranya memproduksi panas tubuh dengan melibatkan metabolisme

dan konsumsi oksigen. Hal ini mengakibatkan kebutuhan oksigen

dalam tubuh meningkat, sedangkan bayi baru lahir beresiko mengalami

gangguan pernapasan karena immaturitas fungsi paru dan organ lain

(Whaley & Wong, 1997).


5. Evaluasi
Evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan dan

terarah ketika klien dan profesional kesehatan menentukan kemajuan

klien menuju pencapaian tujuan/hasil dan keefektifan rencana asuhan

keperawatan. Dalam hal ini menunjukkan apakah intervensi


85

keperawatan harus diakhiri, dilanjutkan atau diubah (Kozier, dkk.,

2010).
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien 1 (By. Ny.

T) dan klien 2 (By. Ny. S) selama 3x24 jam diperoleh data sebagai

berikut, data subyektif (S) pada kedua klien tidak ada karena klien

masih bayi. Data obyektif (O) yang hampir sama pada kedua klien

yaitu terjadi peningkatan suhu tubuh pada kedua klien setelah

dilakukan asuhan keperawatan. Klien 1 (By. Ny. T) suhu tubuh 36,7C

yang berarti meningkat 0,5C dari hari pertama sampai dengan hari

ketiga serta akral teraba hangat dan pada klien 2 (By. Ny. S) suhu

tubuh 36,8C yang berarti meningkat 0,8C dari hari pertama sampai

dengan hari ketiga serta akral teraba hangat. Sehingga pada

Assesment(A) masalah keperawatan gangguan termoregulasi:

Hipotermi teratasi. Planning (P) yaitu pertahankan intervensi

mengobservasi tanda-tanda vital, merawat bayi dalam inkubator

dengan temperatur sesuai kebutuhan (32-35C), menjaga lingkungan

bayi tetap adekuat, anjurkan pada ibu untuk tetap melakukan

perawatan metode kanguru setiap hari di rumah sakit dan dirunmah

jika bayi sudah diperbolehkan pulang serta menyusui / memberikan

ASI perah sesering mungkin. Bila suhu tetap dalam batas normal dan

bayi dapat minum dengan baik serta tidak ada masalah lain yang

memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan dengan


86

menasehati ibu cara menghangatkan bayi di rumah (Kosim, dkk,

2014).
Dengan demikian dari hasil evaluasi yang penulis lakukan,

penulis memperoleh hasil bahwa tindakan keperawatan yang dilakukan

pada klien 1 (By. Ny. T) dan klien 2 (By. Ny. S) dapat memberikan

pengaruh terhadap suhu tubuh kedua klien, terbukti dengan adanya

peningkatan suhu tubuh pada kedua klien menjadi dalam batas normal

yaitu diantara 36,5C – 37,5C.


C. KETERBATASAN
Dalam pengambilan data untuk laporan kasus ini, penulis melakukan

pendekatan secara terbuka dan melakukan komunikasi dengan baik. Namun

terdapat beberapa hal yang membatasi pengambilan data secara maksimal,

diantaranya:
1. Penulis tidak bisa 24 jam berada disamping klien, sehingga bila ada

perubahan pada kondisi klien penulis tidak selalu dapat melihat secara

langsung.
2. Tidak semua intervensi yang penulis susun dapat terlaksana sesuai rencana

karena harus mengikuti peraturan yang ada di rumah sakit.


3. Saat melakukan pendidikan kesehatan perawatan metode kanguru belum

maksimal karena ayah klien tidak dapat hadir dan melakukan secara

langsung.
4. Dalam melakukan tindakan keperawatan, penulis bersama – sama dengan

perawat lain.