You are on page 1of 22

MINYAK ATSIRI DAN RESIN

Dosen Pengampu:
Eko Retnowati, M.Si.,M.Farm.,Apt
Disusun oleh
Nama : Dewi lestari
Nim : F320175078

FAKULTAS FARMASI STIKES MUHAMMADIYAH


KUDUS 2017/2018
DEFINISI MINYAK ATSIRI

Minyak Atsiri, atau dikenal juga sebagai Minyak Eteris (Aetheric Oil), Minyak Esensial, Minyak
Terbang, serta Minyak Aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental
pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak Atsiri
merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam
perdagangan, sulingan Minyak Atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.

Minyak atsiri (minyak esensial) adalah komponen pemberi aroma yang dapat ditemukan dalam
berbagai macam bagian tumbuhan. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau
tanaman asalnya. Dalam keadaan murni tanpa pencemar, minyak atsiri tidak berwarna.Namun pada
penyimpanan yang lama, minyak atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resin serta warnanya
berubah menjadi lebih tua (gelap). Untuk mencegah supaya tidak berubah warna, minyak atsiri
harus terlindungi dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap
.Bejana tersebut juga diisi sepenuh mungkin sehingga tidak memungkinkan hubungan langsung
dengan udara, ditutup rapat serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk.

Minyak atsiri adalah minyak yang dihasilkan dari jaringan tanaman tertentu, seperti akar, batang,
kulit, bunga, daun, biji dan rimpang. Minyak ini bersifat mudah menguap pada suhu kamar (250C)
tanpa mengalami dekomposisi dan berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya, serta
umumnya larut dalam pelarut organik tetapi tidak larut dalam air (Gunther, 1990).

Minyak atsiri dapat digunakan sebagai bahan pewangi, penyedap (flavoring), antiseptic internal,
bahan analgesic, sedative serta stimulan. Terus berkembangnya penggunaan minyak atsiri di dunia
maka minyak atsiri di Indonesia merupakan penyumbang devisa negara yang cukup signifikan
setelah Cina (Sastrohamidjoyo, 2004).

Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan
resin dari dinding sel. Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ tanaman, seperti didalam
rambut kelenjar (pada famili Labiatae), di dalam sel-sel parenkim (pada famili Piperaceae), di dalam
rongga-rongga skizogen dan lisigen (pada famili Pinaceae dan Rutaceae).

Minyak atsiri secara umum di bagi menjadi dua kelompok. Pertama, minyak atsiri yang komponen
penyusunnya sukar untuk dipisahkan, seperti minyak nilam dan minyak akar wangi. Minyak atsiri
kelompok ini lazimnya langsung digunakan tanpa diisolasi komponen-komponen penyusunnya
sebagai pewangi berbagai produk. Kedua, minyak atsiri yang komponen-komponen senyawa
penyusunnya dapat dengan mudah dipisahkan menjadi senyawa murni, seperti minyak sereh wangi,
minyak daun cengkeh, minyak permen dan minyak terpentin. Senyawa murni hasil pemisahan
biasanya digunakan sebagai bahan dasar untuk diproses menjadi produk yang lebih berguna.

Pada tanaman, minyak atsiri mempunyai tiga fungsi yaitu: membantu proses penyerbukan dan
menarik beberapa jenis serangga atau hewan, mencegah kerusakan tanaman oleh serangga atau
hewan, dan sebagai cadangan makanan bagi tanaman. Minyak atsiri digunakan sebagai bahan baku
dalam berbagai industri, misalnya industri parfum, kosmetika, farmasi, bahan penyedap (flavouring
agent) dalam industri makanan dan minuman (Ketaren, 1985).

Ciri-ciri minyak atsiri :


Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa
komponennya kuat memengaruhi saraf manusia (terutama di hidung) sehingga seringkali
memberikan efek psikologis tertentu. Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan
campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda. Karena pengaruh psikologis ini, minyak atsiri
merupakan komponen penting dalam aromaterapi atau kegiatan-kegiatan liturgi dan olah
pikiran/jiwa, seperti yoga atau ayurveda.

2.2 SIFAT FISIKA MINYAK ATSIRI

Seperti bahan-bahan lain yang memiliki sifat fisik, minyak atsiri juga memiliki sifat fisik yang bisa di
ketahui melalui beberapa pengujian. Sifat fisik dari setiap minyak atsiri berbeda satu sama lain. Sifat
fisik terpenting dari minyak atsiri adalah dapat menguap pada suhu kamar sehingga sangat
berpengaruh dalam menentukan metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan
komponen kimia dan komposisinya dalam minyak asal.

Sifat-sifat fisika minyak atsiri, yaitu : bau yang karakteristik, bobot jenis, indeks bias yang tinggi,
bersifat optis aktif.

1) Bau yang karakteristik

Minyak atsiri adalah minyak yang dihasilkan dari jaringan tanaman tertentu, seperti akar, batang,
kulit, bunga, daun, biji dan rimpang. Minyak ini bersifat mudah menguap pada suhu kamar (250C)
tanpa mengalami dekomposisi dan berbau wangi sesuai dengan tanaman penghasilnya, serta
umumnya larut dalam pelarut organik tetapi tidak larut dalam air (Gunther, 1990).

2) Bobot Jenis

Bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada suhu 250C terhadap bobot air dengan
volume dan suhu yang sama. Penentuan bobot jenis menggunakan alat piknometer. Berat jenis
minyak atsiri umumnya berkisar antara 0,800-1,180. Bobot jenis merupakan salah satu kriteria
penting dalam penentuan mutu dan kemurnian minyak atsiri (Gunther, 1987).

Besar bobot jenis pada berbagai minyak atsiri sangat di pengaruhi dari ukuran bahan dan lama
penyulingan yang di lakukan. berikut adalah grafik yang di peroleh dari pengujian bobot jenis pada
minyak atsiri kayu manis.

Uji BNJ menunjukkan bahwa perlakuan Bo dan B1 tidak berbeda nyata terhadap bobot jenis, tapi
keduanya berbeda dengan perlakuan B2. Nilai bobot jenis minyak ditentukan oleh komponen kimia
yang terkandung di dalamnya. Semakin tinggi kadar fraksi berat maka bobot jenis semakin tinggi.
Pada waktu penyulingan, penetrasi uap pada bahan berukuran kecil berlangsung lebih mudah
karena jaringannya lebih terbuka sehingga jumlah uap air panas yang kontak dengan minyak lebih
banyak. Kondisi tersebut mengakibatkan komponen fraksi berat minyaknya lebih mudah dan cepat
diuapkan. Dari segi ukuran bahan, bobot jenis tertinggi (0,9935) diperoleh dari bahan ukuran kecil,
sedangkan dari segi lama penyulingan, bobot jenis tertinggi (0,9911) diperoleh pada penyulingan 4
jam. Kombinasi perlakuan yang menghasilkan bobot jenis paling tinggi (0,9979) adalah A1B1C0, yaitu
susunan bahan bertingkat, ukuran bahan sedang dan lama penyulingan 4 jam. Nilai bobot jenis
semua perlakuan berkisar antara 0,9722 sampai 0,9979.

3) Indeks Bias

Indeks bias suatu zat adalah perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya
dalam zat tersebut. Penentuan indeks bias menggunakan alat Refraktometer. Prinsip penggunaan
alat adalah penyinaran yang menembus dua macam media dengan kerapatan yang berbeda,
kemudian terjadi pembiasan (perubahan arah sinar) akibat perbedaan kerapatan media. Indeks bias
berguna untuk identifikasi suatu zat dan deteksi ketidakmurnian (Guenther, 1987).

Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air
yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang. Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang
besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Selain itu,
semakin tinggi kadar patchouli alcohol maka semakin tinggi pula indeks bias yang dihasilkan.

Hal ini disebabkan karena penguapan minyak dari bahan berukuran kecil berlangsung lebih mudah
sehingga fraksi berat minyaknya lebih banyak terkandung dalam minyak, yang mengakibatkan
kerapatan molekul minyak lebih tinggi dan sinar yang menembus minyak sukar diteruskan. Semakin
sukar sinar diteruskan dalam suatu medium (minyak) maka nilai indeks bias medium tersebut
semakin tinggi.

Sebagian besar komponen minyak kulit kayumanis terdiri atas kelompok senyawa terpen-o yang
mempunyai berat molekul dan kerapatan yang lebih tinggi dibanding kelompok senyawa terpen,
tetapi relatif mudah larut dalam air. Semakin lama penyulingan, senyawa terpen-o semakin banyak
terlarut dalam air panas yang mengakibatkan kerapatan minyak menurun sehingga indeks biasnya
lebih rendah. Kombinasi perlakuan yang menghasilkan indeks bias paling tinggi (1,5641) adalah
perlakuan A1B1C0, yaitu susunan bahan bertingkat, ukuran bahan sedang dan lama penyulingan 4
jam. Nilai indeks bias semua perlakuan berkisar antara 1,5515 sampai 1,5641; nilai ini lebih rendah
dibanding standar mutu dari Essential Oil Association of USA (EOA) tahun 1970 yang mensyaratkan
nilai 1,5730 – 1,5910.

4) Putaran Optik

Setiap jenis minyak atsiri memiliki kemampuan memutar bidang polarisasi cahaya ke arah kiri atau
kanan. Besarnya pemutaran bidang polarisasi ditentukan oleh jenis minyak atsiri, suhu, dan panjang
gelombang cahaya yang digunakan. Penentuan putaran optik menggunakan alat Polarimeter
(Ketaren, 1985).

Berikut ini adalah hasil pengujian minyak atsiri kayu manis, di mana hanya ukuran bahan yang
berpengaruh terhadap nilai putaran optik minyak. Uji BNJ menunjukkan bahwa ukuran bahan besar
menghasilkan putaran optik yang berbeda sangat nyata dengan ukuran sedang dan kecil.
Besarnya putaran optik tergantung pada jenis dan konsentrasi senyawa, panjang jalan yang
ditempuh sinar melalui senyawa tersebut dan suhu pengukuran.

Besar putaran optik minyak merupakan gabungan nilai putaran optik senyawa penyusunnya.
Penyulingan bahan berukuran kecil akan menghasilkan minyak yang komponen senyawa
penyusunnya lebih banyak (lengkap) dibanding dengan bahan ukuran besar, sehingga putaran optik
yang terukur adalah putaran optik dari gabungan (interaksi) senyawa-senyawa yang biasanya lebih
kecil dibanding putaran optik gabungan senyawa yang kurang lengkap (sedikit) yang dihasilkan
bahan berukuran besar. Putaran optik minyak dari semua perlakuan bersifat negatif, yang berarti
memutar bidang polarisasi cahaya kekiri. Nilainya antara (-) 5,03 sampai (-) 6,75 derajat. Nilai ini
lebih besar dibanding standar EOA (1970) yang nilainya (-) 2 sampai 0 derajat.

5) Kelarutan Dalam Alkohol

Kelarutan dalam alkohol merupakan nilai perbandingan banyaknya minyak atsiri yang larut
sempurna dengan pelarut alkohol. Setiap minyak atsiri mempunyai nilai kelarutan dalam alkohol
yang spesifik, sehingga sifat ini bisa digunakan untuk menentukan suatu kemurnian minyak atsiri.

Minyak atsiri banyak yang mudah larut dalam etanol dan jarang yang larutdalam air, sehingga
kelarutannya mudah diketahui dengan menggunakan etanolpada berbagai tingkat konsentrasi.
Untuk menentukan kelarutan minyak atsiri jugatergantung pada kecepatan daya larut dan kualitas
minyak atsiri tersebut. Kelarutan minyak juga dapat berubah karena lamanya penyimpanan. Halini
disebabkan karena proses polimerisasi menurunkan daya kelarutan, sehinggauntuk melarutkannya
diperlukan konsentrasi etanol yang tinggi. Kondisipenyimpanan kurang baik dapat mempercepat
polimerisasi diantaranya cahaya,udara, dan adanya air bisa menimbulkan pengaruh yang tidak baik.

Minyak atsiri mempunyai sifat yang larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Berikut
adalah hasil pengujian tingkat kelarutan minyak dalam alkohol yang dipengaruhi oleh semua faktor
perlakuan dan kombinasinya.

Uji BNJ terhadap pengaruh susunan bahan menunjukkan bahwa susunan bahan bertingkat (A1)
menghasilkan minyak minyak yang secara nyata lebih mudah larut dalam alkohol, dibanding susunan
tidak bertingkat (A0) (Gambar 8). Tingkat kelarutan minyak dalam alkohol dipengaruhi oleh jenis dan
konsentrasi senyawa yang dikandungnya. Menurut Heath (1978), minyak atsiri yang konsentrasi
senyawa terpennya tinggi, sukar larut; sedangkan yang banyak mengandung senyawa terpen-o
mudah larut dalam etanol. Dalam penyulingan bertingkat, uap panas lebih mudah dan cepat
menembus bahan yang susunannya tidak padat dibanding susunan tidak bertingkat, sehingga
senyawa terpen-o yang titik didihnya lebih rendah, lebih banyak terdapat dalam minyak sehingga
minyaknya mudah larut dalam alkohol. Uji BNJ pengaruh ukuran bahan menunjukkan bahwa minyak
dari bahan berukuran besar (B2) secara sangat nyata lebih sukar larut dalam alkohol dibanding
ukuran kecil (B0) dan sedang (B1) (Gambar 9). Bahan yang berukuran lebih besar, lebih sukar
diuapkan minyak atsirinya sehingga senyawa fraksi berat dalam minyak seperti seskuiterpen akan
terpolimerisasi akibat pengaruh panas terus menerus dalam penyulingan dan polimer yang
terbentuk tidak dapat diuapkan. Kondisi tersebut mengakibatkan komposisi terpen-o dalam
minyaknya lebih rendah sehingga minyaknya sukar larut dalam alkohol.
Uji BNJ terhadap lama penyulingan menunjukkan bahwa minyak yang dihasilkan dari penyulingan 6
jam lebih sukar larut dibanding penyulingan 4 jam.

Semakin lama penyulingan maka senyawa fraksi-fraksi berat dalam minyak akan lebih banyak
sehingga kelarutannya dalam alkohol semakin rendah. Kombinasi perlakuan yang menghasilkan
minyak yang lebih mudah larut dalam alkohol dengan nisbah volume alkohol dan minyak 1,25:1
adalah A1B1C0, yaitu perlakuan susunan bahan bertingkat, ukuran bahan sedang dan lama
penyulingan 4 jam. Menurut standar EOA (1970), kelarutan minyak dalam etanol 70% adalah dalam
nisbah volume alkohol dengan minyak sebesar 3:1 atau lebih.

6) Warna

Sesuai dengan SNI 06-2385-2006, minyak atsiri berwarna kuning muda hingga coklat kemerahan,
namun setelah dilakukan penyimpanan minyak berubah warna menjadi kuning tua hingga coklat
muda. Guenther (1990) mengatakan bahwa minyak akan berwarna gelap oleh aging, bau dan
flavornya tipikal rempah, aromatik tinggi, kuat dan tahan lama.

2.3 SIFAT KIMIA MINYAK ATSIRI

1) Bilangan Asam

Bilangan asam pada minyak atsiri menandakan adanya kandungan asam organik pada minyak
tersebut. Asam organik pada minyak atsiri bisa terdapat secara alamiah. Nilai bilangan asam dapat
digunakan untuk menentukan kualitas minyak (Kataren, 1985).

Hasil analisis minyak kilemo menunjukkan bahwa minyak kilemo dari kulit batang yang disuling
dengan metode kukus secara visual mempunyai bilangan asam tertinggi, sedangkan minyak kilemo
dari daun yang disuling dengan metode rebus mempunyai bilangan asam terendah. Besarnya
bilangan asam minyak kilemo dari daun yang disuling dengan metode kukus adalah 1.22 dan yang
disuling dengan metode rebus 0.72 sedangkan untuk minyak kilemo dari kulit batang yang disuling
dengan metode kukus besarnya 4.20, dan yang disuling dengan metode rebus 1.72. Adanya
perbedaan nilai bilangan asam minyak kilemo hasil penyulingan daun dan kulit batang disebabkan
karena perbedaan kandungan senyawa asam pada minyak. Sedangkan perbedaan nilai bilangan
asam minyak kilemo yang disuling dengan sistem kukus dan rebus, kemungkinan disebabkan karena
terjadi proses oksidasi pada waktu penyulingan dengan sistem kukus.

2) Bilangan Ester

Bilang ester merupakan banyaknya jumlah alkali yang diperlukan untuk penyabunan ester. Adanya
bilangan ester pada minyak dapat menandakan bahwa minyak tersebut mempunyai aroma yang
baik. Dari hasil analisis diperoleh bahwa minyak kilemo dari daun yang disuling dengan metode
kukus secara visual mempunyai bilangan ester tertinggi, sedangkan minyak kilemo dari kulit batang
yang disuling dengan metode rebus menghasilkan bilangan ester terendah.

Besarnya bilangan ester minyak kilemo dari daun yang disuling dengan metode kukus adalah 31.66,
dan yang disuling dengan metode rebus 28.55. Sedangkan untuk minyak kilemo dari kulit batang
yang disuling dengan metode kukus besarnya 18.74 dan yang disuling dengan metode rebus
besarnya 17.6. Perbedaan nilai bilangan ester minyak kilemo hasil penyulingan daun dan kulit batang
tumbuhan kilemo kemungkinan disebabkan karena perbedaan kandungan senyawa ester pada
minyak. Dari pengamatan diperoleh bahwa minyak kilemo dari daun mempunyai aroma yang lebih
segar bila dibandingkan aroma minyak dari kulit batang. Sifat aroma minyak ini dapat membuat
tingginya bilangan ester pada minyak tersebut.

Minyak atsiri juga dapat mengalami kerusakan yang mengakibatkan perubahan sifat kimia minyak
atsiri yaitu dengan proses oksidasi, hidrolisa, dan resinifikasi.

a. Oksidasi

Reaksi oksidasi pada minyak atsiri terutama terjadi pada ikatan rangkap dalam terpen. Peroksida
yang bersifat labil akan berisomerisasi dengan adanya air, sehingga membentuk senyawa aldehid,
asam organik, dan keton yang menyebabkan perubahan bau yang tidak dikehendaki (Ketaren, 1985).

b. Hidrolisis

Proses hidrolisis terjadi pada minyak atsiri yang mengandung ester. Proses hidrolisis ester
merupakan proses pemisahan gugus OR dalam molekul ester sehingga terbentuk asam bebas dan
alkohol. Ester akan terhidrolisis secara sempurna dengan adanya air dan asam sebagai katalisator
(Ketaren, 1985).

c. Resinifikasi

Beberapa fraksi dalam minyak atsiri dapat membentuk resin, yang merupakan senyawa polimer.
Resin ini dapat terbentuk selama proses pengolahan (ekstraksi) minyak yang mempergunakan
tekanan dan suhu tinggi selama penyimpanan (Ketaren, 1985).

Minyak atsiri yang kita kenal selama ini, memiliki sifat mudah menguap dan mudah teroksidasi. Hal
itulah yang menyebabkan perubahan secara fisika maupun kimia pada minyak atsiri. Perubahan sifat
kimia minyak atsiri dapat terjadi saat :

1. Penyimpanan bahan

Penyimpanan bahan sebelum dilakukan pengecilan ukuran bahan mempengaruhi jumlah minyak
atsiri, terutama dengan adanya penguapan secara bertahap yang sebagian besar disebabkan oleh
udara yang bersuhu cukup tinggi. Oleh karena itu, bahan disimpan pada udara kering bersuhu
rendah.

2. Proses ekstraksi

a. Proses ekstraksi Perubahan sifat kimia dapat disebabkan karena suhu ekstraksi terlalu tinggi.

b. Proses distilasi Perubahan sifat kimia pada proses ini terutama disebabkan karena adanya air,
uap air, dan suhu tinggi.
c. Proses pengepresan Perubahan sifat kimia pada proses ini terutama disebabkan karena minyak
atsiri berkontak dengan udara.

2.4 LOKALISASI MINYAK ATSIRI

Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ, seperti didalam rambut kelenjar (pada famili
Labiatae), di dalam sel-sel parenkim (misalnya famili Piperaceae), di dalam rongga-rongga skizogen
dan lisigen (pada famili Pinaceae dan Rutaceae).

Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh protoplasma akibat adanya peruraian lapisan
resin dari dinding sel atau oleh hidrolisis dari glikosida tertentu.

2.5 KOMPOSISI MINYAK ATSIRI

Pada umumnya perbedaan komposisi minyak atsiri disebabkan perbedaan jenis tanaman penghasil,
kondisi iklim, tanah tempat tumbuh, umur panenan, metode ekstraksi yang digunakan dan cara
penyimpanan minyak.

Minyak atsiri biasanya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang terbentuk dari unsur
Karbon (C), Hidrogen (H), dan oksigen (O). Pada umumnya komponen kimia minyak atsiri dibagi
menjadi dua golongan yaitu:

1) Hidrokarbon, yang terutama terdiri dari persenyawaan terpen

2) Hidrokarbon teroksigenasi.

A. Golongan hidrokarbon

Persenyawaan yang termasuk golongan ini terbentuk dari unsur Karbon (C) dan Hidrogen (H). Jenis
hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar terdiri dari monoterpen (2 unit
isopren), sesquiterpen (3 unit isopren), diterpen (4 unit isopren) dan politerpen.

Klasifikasi Minyak Atsiri Hidrokarbon

Hydrocarbon/hidrokarbon memiliki unsur-unsur hidrogen (H) dan karbon (C). Hidrokarbon terdiri
atas senyawa terpene. Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar terdiri
atas:

· monoterpen (2 unit isoprene),

· sesquiterpen (3 unit isoprene),

· diterpen (4 unit isoprene),

· politerpen,
· parafin,

· olefin dan

· hidrokarbon aromatik.

Komponen hidrokarbon yang dominan menentukan bau dan sifat khas dari setiap jenis minyak,
sebagai contoh minyak jeruk mengandung 90% limonen. Oxygeneted Hydrocarbon mengandung
unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Yang termasuk oxygeneted hydrocarbon
adalah persenyawaan alkohol, aldehida, keton, oksida, ester dan eter. Ikatan karbon dalam
oxygeneted hydrocarbon ada yang jenuh dan ada yang tidak jenuh.

Minyak terpenting merupakan salah satu minyak atsiri golongan hidrokarbon yang dihasilkan
diIndonesia dan diekspor sebagai salah satu sumber devisa. Salah satu komponen utama penyusun
minyak terpentin adalah α -pinena yang bervariasi dari 70-85%. Perlu dilakukan derivatisasi α -
pinena sehingga dapat lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi lebih tinggi, misalnya sebagai bahan
baku obat-obatan dan parfum. Pada umumnya minyak terpentin tersusun oleh campuran isomer
tidak jenuh, hidrokarbon monoterpena bisiklis (C10H16) yaitu (a) α-pinena, (b) β-pinena, (c) Δ –karena,
dan (d) d-longifolena.

Minyak terpenting dapat digunakan dalam berbagai macam bidang industri. Kegunaan minyak
terpentin dapat dijelaskan sebagai berikut :

·Minyak terpenting dalam industri kimia dan farmasi seperti dalam sintesis kamfer, terpineol dan
terpinil asetat.

·Minyak terpenting dapat digunakan sebagai thiner (pengencer) dalam industry cat dan pernis.

·Minyak terpenting juga digunakan dalam industri perekat dan pelarut lilin.

α-Pinena

α-Pinena atau 2,6,6-trimetil bisiklo [3.1.1]-2-heptena dengan rumus molekul C10H16 adalah cairan
yang tidak berwarna dengan bau karakteristik seperti terpentin. Rumus strukturnya terdiri atas dua
cincin yaitu siklobutana dan sikloheksena, maka dari itu α-pinena termasuk bisiklis. α-Pinena
merupakan senyawa monoterpena, yaitu senyawa hidrokarbon tak jenuh yang mempunyai 10 atom
karbon dimana satuan terkecil dalam molekulnya disebut isoprena. α-Pinena mempunyai kegunaan
yang penting sebagai pembuat lilin, sintesis kamfer, pembuatan geraniol dan sebagainya.

Identifikasi dan Isolasi/Preparasi Minyak atsiri.


Salah satu cara identifikasi komponen minyak atsiri adalah dengan kromatografi gas (GC).
Kromatografi gas adalah tehnik pemisahan suatu persenyawaan yang mudah menguap didasarkan
pada distribusi antara dua fasa yaitu fasa tetap (stationer) dan fasa bergerak (mobil).

Identifikasi kandungan minyak atsiri dari suatu tanaman dapat diketahui melalui bau dan rasa.
Identifikasi secara kimia dapat dilakukan dengan pemberian satu tetes asam sulfat pekat pada
serbuk buah simplisia akan memberi warna ungu kemerahan.

Ekstraksi. untuk mendapatkan minyak atsiri dapat dilakukan dengan cara destilasi. Destilasi atau
penyuliangan adalah suatu proses penguapan yang diikuti pengembunan. Destilasi dilakukan untuk
memisahkan suatu cairan dari campurannya apabila komponen lain tidak ikut menguap (titik didih
komponen lain jauh lebih tinggi). Pada metode ini uap air digunakan untuk menyari simplisia dan
dengan adanya pemanasan kecil uap air tersebut menguap kembali bersama minyak menguap dan
dikondensasikan oleh kondensor sehingga terbentuk molekul – molekul air yang menetes ke dalam
corong pisah penampung yang telah diisi dengan air. Penyulingan dilanjutkan hingga sempurna.

Biosintesis minyak atsiri hidrokarbon

Secara umum, biosintesa dari terpenoid dengan terjadinya 3 reaksi dasar yaitu :

 Pembentukan isoprene aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat
 Penggabungan kepala dan ekor dua unit isoprene akan membentuk mono-, sesqui, di-,
sester-, dan poli-terpenoid.
 Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan
steroid.

B. Golongan hidrokarbon teroksigenasi

Komponen kimia dari golongan persenyawaan ini terbentuk dari unsure Karbon (C), Hidrogen (H)
dan Oksigen (O). Persenyawaan yang termasuk dalam golongan ini adalah persenyawaan alcohol,
aldehid, keton, ester, eter, dan fenol. Ikatan karbon yang terdapat dalam molekulnya dapat terdiri
dari ikatan tunggal, ikatan rangkap dua, dan ikatan rangkap tiga. Terpen mengandung ikatan tunggal
dan ikatan rangkap dua.

Senyawa terpen memiliki aroma kurang wangi, sukar larut dalam alkohol encer dan jika disimpan
dalam waktu lama akan membentuk resin. Golongan hidrokarbon teroksigenasi merupakan senyawa
yang penting dalam minyak atsiri karena umumnya aroma yang lebih wangi. Fraksi terpen perlu
dipisahkan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk pembuatan parfum, sehingga didapatkan minyak
atsiri yang bebas terpen.

2.6 CARA MEMPEROLEH MINYAK ATSIRI


Minyak atsiri diperoleh dengan cara ekstraksi

Proses ekstraksi meliputi beberapa tahapan :

a) Perajangan

Sebelum bahan obat tersebut di suling, sebaiknya dirajang terlebih dahulu menjadi potongan-
potongan kecil. Proses perajangn ini bertujuan untuk memudahkan penguapan minyak atsiri dri
bahan, dan untuk mengurangi sifat kamba bahan oral. Besar ukuran partikel hasil rajangan
bervariasai, tergantung dari jenis bahan itu sendiri. Selama proses perajangan akan terjadi
penguapan komponen minyak bertitik didih rendah, dan jika dibiarkan beberapa menit akan terjadi
penyusutan bahan sekitar 0,5 % akibat penguapan minyak. Oleh karena itu, jika di inginkan
rendemen dan mutu minyak yang baik, maka hasil rajangan harus di masukkan dalam ketel suling.
Kelemahan bahan yang di rajang karena :

1) Jumlah total minyak berkurang, akibat penguapan selama perajangan.

2) Komposisi minyak akan berubah, dan akan mempengaruhi bau.

b) penyimpanan bahan olah

Tempat dan kondisi bahan olah sebelum perajangan mempengaruhi penyusutan minyak atsiri,
namun pengaruhnya tidak begitu besar seperti pada perajangan. Penyimpanan bahan olah dengan
cara penimbunan sering di lakukan akibat terhambatnya proses penyulingan atau karena kapasitas
ketel suling yang kurang besar. Jika bahan olah harus di simpan sebelum di proses, mka harus di
simpan dalam udara kering yang bersuhu rendah, dan udara tidak d sirkulasi. Jika mungkin ruangan
di lengkapi dengan “air conditioner”. Sirkulasi dan kelembaban udara yang ekstrim selama
penyimpanan mengakibatkan proses resinifikasi, penguapan dan proses oksidasi. Penyusutan
minyak selama penyimpanan dalam udara kering tergantung dari beberapa faktor, yaitu : kondisi
bahan, metode dan lama penyimpanan, dan komposisi kimia minyak dalam bahan. Bahan olah
berupa daun dan bunga tidak dapat disimpan lama, namun sebaliknya bahan berupa kulit pohon,
akar, kayu lebih tahan disimpan lama, karena jumlah minyak yang menguap lebih kecil.

c) pelayuan dan pengeringan

Sebagian bahan olah memerlukan proses pengeringan, sebelum di simpan atau disuling. Tujuan dari
pelayuan dan pengeringan bahan olah adalah :

a. menguapkan sebagian air dalam bahan, sehingga proses penyulingan mudah, dan singkat.

b. Untuk menguraikan zat tidak berbau sehingga berbau wangi.sebagai contoh ialah untuk
memecahkan glikosida (amigdalin) menjadi benzaldehid yang berbau wangi pada minyak almon dan
akar orris. Hal yang sam terjadi pula pada minyak nilam dan vanila.

Kehilangan minyak selama periode pelayuan dan pengerian lebih besar dari kehilangan minyak
selama proses penyimpanan. Hal ini terjadi karena proses pengeringan, air dalam tanaman akan
berdifusi sambil mengangkut minyak atsiri dan akhirnya menguap. Bahan yang mengandung fraksi
minyak yang mudah menguap, biasanya hanya dilayukan atau dikeringkan pada tingkat kering udara,
sedangkan bahan yang mengandung minyak atsiri yang sukar menguap, biasanya dikeringkan lebih
lanjut.

Minyak atsiri adalah zat cair yang mudah menguap bercampur dengan persenywaan padat yang
berbeda dalam hal komposisi dan titik cairnya, larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam
pelarut air.

Berdasarkan sifat tersebut, maka minyak atsiri dapat diekstrak dengan 4 macam cara, yaitu :

1. PENYULINGAN

Penyulingan adalah proses pemisahan komponen yang berupa cairan atau padatan dari dua macam
campuran atau lebih, berdasarkan perbedaan titik uapnya dan proses ini dilakukan terhadap minyak
atsiri yang tidak larut dalam air.

Jumlah minyak yang menguap bersama-sama dengan uap air ditentuka oleh 3 faktor, yaitu :

a. Besarnya tekanan uap yang digunakan.


b. Berat molekul masing-masing komponen dalam minyak
c. Kecepatan minyak yang keluar dari bahan yang mengandung minyak.

Proses penyulingan minyak dapat dipercepat dengan menaikkan suhu dan tekanan atau dengan
menggunakan sistem “ superheated steam “. Akan tetapi hal ini hanya dapat dilakukan terhadap
minyak atsiri yang sukar mengalami dekomposisi pada suhu yang lebih tinggi.

Ekstraksi minyak atsiri dengan penyulingan mempunyai beberapa kelemahan yaitu :

a. Tidak baik digunakan terhadap beberapa jenis minyak yang mengalami kerusakan oleh
adanya panas dan air
b. Minyak atsiri yang mengandung fraksi ester akan terhidrolisa karena adanya air dan panas
c. Komponen minyak yang larut dalam air tidak dapat diekstraksi.
d. Komponen minyak yang bertitik didih tinggi yang menentukan bau wangi dan mempunyai
daya fiksasi terhadap bau sebagian tidak ikut tersuling dan tetap tertinggal dalam bahan.
e. Bau wangi minyak yang dihasilkan sedikit berubah dari bau wangi alamiah.

2. PENGEPRESAN ( pressing )

Ekstrak minyak atsiri dengan pengepresan umumnya dilakukan terhadap bahan beruba biji, buah
atau kulit buah yang dihasilkan dari tanaman yang termasuk famili citrus, karena minyak dari famili
tanaman tersebut akan mengalami kerusakan jika diekstraksi dengan penyulingan. Akibat tekanan
pengepresan, maka sel – sel yang mengandung minyak akan pecah dan minyak akan mengalir
kepermukaan bahan. Beberapa jenis minyak yang dapat diekstraksi dengan cara pengepresan adalah
minyak “ almond” , “ apricot “, “ lemon “, minyak kulit jeruk, “ mandarin “, “ grape fruit “ dan
beberapa jenis minyak lainnya.
Berdasarkan tipe, maka alat pengepresan ada 2 macam tipe , yaitu hydraulic pressing dan expeller
pressing.

3. EKSTRAKSI DAN PELARUT MENGUAP ( solvent extraction )

Prinsip ekstraksi ini adalah melarutkan minyak atsiri dalam bahan dengan pelarut organik yang
mudah menguap. Proses ekstraksi biasanya dilakukan dalam suatu wadah ( ketel ) yang disebut “
extractor ”. Berbagai tipe “ extractor “ yang telah dikenal adalah “ Bonotto extractor “, “ Kennedi
extractor “, “ Bpllsman extractor “, “ De Smet extractor “, “ Hilderbrandt extractor “.

Ekstraksi dengan pelarut organik umumnya digunakan untuk mengekstrasi minyak atsiri yang mudah
rusak oleh pemanasan dengan uap dan air, terutama untuk mengekstrak minyak dari bunga-
bungaan misalnya bunga cempaka, melati, mawar, dll.

1. Pemilihan pelarut

Salah satu proses yang menentukan keberhasilan proses ekstraksi adalah jenis dan mutu pelarut
yang digunakan. Pelarut yang baik harus memenuhi persyarata sebagai berikut :

a. Harus dapat melarutkan semua zat wangi dalam bunga secara sempurna, dan tidak dapat
melarutkan bahan seperti lilin, pigmen, senyawa albumin.
b. Mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah diuapkan, namun titik didih
pelarut tersebut tidak boleh terlalu rendah, karena hal ini akan mengakibatkan hilangnya
sebagian pelarut pada waktu pemisahan pelarut.
c. Pelarut tidak boleh larut dalam air.
d. Pelarut haru bersifat “ inert “, sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak bunga.
e. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, sehingga jika diuapkan tidak tertinggal
dalam minyak.
f. Harga pelarut harus serendah mungkin, dan tidak mudah terbakar

Penggunaan campuran berbagai pelarut dapat menghasilkan rendemen dan mutu minyak yang
cukup baik, dibandingkan dengan pelarut murni. Beberapa jenis pelarut yang biasa dipergunakan
dalam proses ekstraksi minyak atsiri antara lain petroleum ether, benzene, alcohol.

4. EKSTRAKSI DENGAN LEMAK PADAT

Proses ekstraksi ini digunakan khusus untuk mengekstraksi minyak bunga-bungaan, dalam rangka
mendapatkan mutu dan rendemen minyak yang tinggi.

1. Sifat bunga

Pada umumnya bunga setelah dipetik akan tetap hidup secara fisiologis. Daun bunga terus
menjalankan proses hidupnya dan tetap memproduksi minyak atsiri dan minyak yang terbentuk
dalam bunga akan menguap dalam waktu singkat. Kegiatan bunga dalam memproduksi minyak akan
terhenti dan mati jiak kena panas, kontak atau terendam dalam pelarut organik. Dengan demikian
pelarut hanya dapat mengekstraksi minyak yang terdapat dalam sel bunga yang terbentuk pada saat
bahan tersebut kontak dengan pelarut.
Untuk mendapatkan rendemen minyak yang lebih tinggi dan mutu yang lebih baik, maka selama
proses ekstraksi berlangsung perlu dijaga agar proses fisiologi dalam bunga tetap berlangsung dalam
waktu selama mungkin, sehingga bunga tetap dapat memproduksi minyak atsiri. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara mengekstraksi minyak bunga menggunakan lemak hewani atau nabati.

Ekstraksi minyak dari bunga-bungaan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu “ enfleurage “ dan “
macerate “.

a. Enfleurasi ( enfleurage )

Pada proses ini, absorbs minyak atsiri oleh lemak dilakukan pada suhu rendah ( keadaan dingin )
sehingga minyak terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh panas. Proses enfleurasi
menghasilkan rendemen minyak yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya. Kelemahan
proses ini adalah karena memerlukan waktu yang lebih lama, dan membutuhkan tenaga kerja yang
terampil dan berpengalaman.

Akhir dari Proses ekstraksi ini ditandai dengan, jika lemak telah jenuh dengan minyak bunga, dan
selanjutnya minyak bunga dalam pomade diekstraksi dengan menggunakan alcohol. Hasil ekstraksi
minyak bunga dari pomade, menggunakan alcohol menghasilkan campuran minyak bunga dengan
alcohol. Jika alcohol tersebut dipisahkan, maka akan diperoleh minyak bunga yang larut dalam
sejumlah kecil alcohol, disebut ekstrait.

Lemak mempunyai sifat dapat mengabsorbsi bau disekitarnya dan prinsip ini digunakan sebagai
dasar untuk mengekstraksi minyak dari tanaman bunga.

Syarat-syarat lemak yang digunakan

1. Lemak tidak berbau. Lemak yang berbau tidak dikehendaki, karena dapat mencemari bau
minyak atsiri yang dihasilkan. Bau lemak dapat dihilangkan dengan proses deodorisasi.
2. Lemak mempunyai konsistensi tertentu

Konsistensi lemak yang digunakan perlu diatur, karena lemak yang terlalu keras mempunyai daya
absorbs yang rendah. Jika konsistensi lemak terlalu lunak, maka lemak banyak melekat pada bunga
sehingga sukar dipisahkan.

Konsistensi lemak dapat diatur dengan cara hidrogenasi atau mencampur 2 macam lemak yang titik
cairnya berbeda, sehingga didapatkan lemak dengan konsistensi dan titik cair tertentu. Lemak yang
sudah sekali dipakai pada proses ekstraksi tidak dapat dipakai kembali dan biasanya dijadikan sabun
dan kosmetik.

Keuntungan dan kerugian metode absorbs oleh lemak

Keuntungan :

1. Rendemen minyak yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan cara “
solvent ectraction “.
2. Minyak yang dihasilkan berbau lebih wangi karena kerusakannya relative kecil.
3. Kerugian :
4. Metode tersebut penggunaannya terbatas pada beberapa jenis bunga saja.
5. Lemak yang mengandung antioksidan, dapat merubah bau minyak atsiri
6. Ekstraksi minyak atsiri dari “ pomade “ dengan menggunakan alcohol akan mengekstrak
lemak dalam jumlah kecil.
7. Lemak dapat digunakan hanya untuk satu periode ekstraksi, yaitu sampai lemak sudah jenuh
oleh minyak atsiri

2.7 SUMBER-SUMBER MINYAK ATSIRI

Nama Minyak Tanaman Penghasil Bagian Negara Asal

Tanaman

Sereh wangi Cymbopogon nardus R Daun Srilanka

Nilam (patchouli) Pogostemon cablin Daun Malaysia, Indonesia

Benth

Kayu Putih Melaleuca Daun Indonesia

(cajuput) Leucadenron

Sereh dapur Cymbopogon citrates Daun Madagaskar, Guetemala

(lemon grass)

Lada (pepper) Piper nigrum L Daun/buah India Timur, Cina, Srilanka

Kenanga Cananga odorata Bunga Indonesia

(cananga) Hook

Cengkeh (clove) Caryophyllus Bunga Zanzibar, Indonesia,


Madagaskar

Lavender Lavandula offcinalis Bunga Perancis, Rusia

Chaix

Mawar (rose) Rosa alba L Bunga Bulgaria, Turki

Melati (jasmine) Jasminumofficinale L Bunga Perancis selatan

Kapolaga Elettaria cardamomun Biji India, amerika


(cardamom)
L

Seledri (celery Apium graveolen L Biji Inggris, India


seed)
Sitrun (lemon) Citrus medica Buah/Kulit Buah Kalifornia

Adas (fennel) foeniculum fulgares Buah/Kulit Buah Eropah, tengah, Rusia

Mill

Akar wangi Vetiveria zizanioides Akar/rhizoma Indonesia, Lousiana


(Vetiver)
Stap

Kunyit (Turmeric) Curcuma longa Akar/rhizoma Amerika selatan

Jahe (ginger) Zingiber officinale Akar/rhizoma Jamaika

Roscoe

“Camphor” Cinnamomun Batang/kulit buah Formosa, Jepang

Camphora L

Kayu Manis Cinnamomun Batang/kulit batang Prancis, Indo Cina


(Cinnamon) zeylanicum Ness

Cendana Santalum Album L Batang/kulit batang Mysole, Inggris

(sandal wood)
Contoh sumber minyak atsiri yang diambil dari bunga

CENGKEH

Nama simplisia : Caryophylli flos

Nama Tanaman asal : Eugenia caryophyllus ( spreng )

Famili : Myrtaceae

Zat berkhasiat utama : Minyak atsiri yang mengandung eugenol. Zat serupa damar, tidak berasa,
hablurnya berupa jarum yang disebut kariofilin, zat penyamak dan Gom.

Kegunaan : Stimulansia, obat mulas, antiemetikum.

Contoh sumber minyak atsiri yang diambil dari daun

TANAMAN KAYU PUTIH

Nama simplisia: Melaleuca folium

Nama Tanaman asal: Melaleuca leucadendra (L)

Famili: Myrtaceae

Zat berkhasiat: Minyak atsiri ,sineol.

Kegunaan: Perdaraham stomachichum, spasmolika.

Contoh tanaman yang diambil dari buah atau kulit buah

TANAMAN ADAS MANIS

Nama simplisia: Anisi fructus

Nama Tanaman Asal: Pimpinella anisum

Famili: Apiaceae

Zat berkhasiat: Minyak atsiri yang mengandung anetol,metilkavinol,anis-keton, asetal dehida,


minyak lemak, zat putih telur, hidrat arang.

Kegunaan: Karminativa, obat mulas

Contoh sumber minyak atsiri yang diambil dari akar atau rhizoma

TANAMAN JAHE

Nama simplisia: Zingiberis rhizoma

Nama Tanaman Asal: Zingiber officinnale ( Roscoe )

Famili: Zingiberaceae
Zat berkhasiat : Pati, damar,oleo resin, gingerin, minyak atsiri yang mengandung zingeron, zingiberol,
zingiberin, borneol, kamfer,sineol, dan felandren. Kegunaan: Karminativa, stimulansia, diaforetika

Contoh sumber minyak atsiri yang diambil dari batang atau kulit batang.

TANAMAN KAYU MANIS

Nama simplisia: Cinnamomi cortex

Nama Tanaman Asal: Cinnamomum zeylanicum (BI).

Famili: Lauraceae

Zat berkhasiat: Minyak atsiri yang mengandung egenol sinamilaldehida, zat penyamak, pati, lendir.

Kegunaan: Karminativa, menghangatkan lambung, dicampur dengan adstringensia lainnya untuk


obat mencret.

Contoh sumber minyak atsiri yang diambil dari biji

TANAMAN SELEDRI

Nama simplisia: Apii semen

Nama Tanaman Asal: Apium graviolens (L).

Famili: Apiaceae

Zat berkhasiat: apiin, minyak menguap, apigenin dan alkaloid

Tabel Istlah yang berhubungan dengan kegunaan simplisia

Istilah Arti

Stomakika Memacu enzim-enzim pencernaan

Antiemetika Mencegah atau menghilangkan mual atau


muntah

Adstringensia Menciutkan selaput lendir atu pori/pengelat

Diaforetika/ sudorifika Memperbanyak keluarnya keringat atau


peluruh keringat

Karminativa Mengeluarkan angin dari dalam tubuh manusia

Stimulansia Memicu susunan saraf pusat

Spasmolitika Melemaskan kejang-kejang otot perut

Antispasmodik Kejang pada tubuh (pereda kejang)

Kolagoga Membantu fungsi dari empedu


RESIN

A. PENGERTIAN RESIN

Resin atau dammar adalah suatu campuran yang kompleks dari ekstra tumbu-tumbuhan dan
insekta, biasanya berbentuk padat dan amorf dan merupakan hasil terakhir dari metabolisme dan
dibentuk dari ruang-ruang skizogen dan skizolisigen. Secara fisis, resin (damar) ini biasanya keras,
transparan plastis dan pada pemanasan menjadi lembek. Secara kimiawi, resin adalah campuran
yang kompleks dari asam-asam resinat, alkoholresinat, resinotannol, ester-ester dan resene-resene.
Bebas dari zat lemas dan mengandung sedikit oksigen karena mengandung zat karbon dalam kadar
tinggi, maka kalau dibakar menghasilkan angus. Ada juga yang menganggap bahwa resin terdiri dari
zat-zat terpenoid, yang dengan jalan adisi dengan air menjadi dammar dan fitosterin.sifatnya tidak
larut dalam air, sebagian larut dalam alkohol, larut dalam eter, aseton, petroleum eter, kloroform,
dan lain-lain. Apabila resin-resin dipisahkan dan dimurnikan, biasanya dibentuk dalam zat padat yang
getas dan amorf, yang kalau dipanaskan akan menjadi lembek dan akan habis terbakar. Resin ini juga
tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol dan pelarut organik lainnya.

B. JENIS-JENIS RESIN

Pembagian resin didasarkan atas isinya :

 Damar sesungguhnya (resin) adalah zat padat yang amorf atau setengah padat, tidak larut
didalam air tetapi larut didalam alkohol atau pelarut organik lainnya dan membentuk sabun
dengan alkali. Biasanya disamping zat-zat damar terdapat juga minyak menguap, hasil
peruraian ester-ester damar, zat warna, zat pahit dsb

 Damar gom (Gummi resina)yaitu campuran alami dari gom, minyak dan resin. Sering disebut
juga damar lendir. Contohnya : Myrrha ( Commiphora molmol ).

 Oleoresin yaitu campuran alami yang homogen dari resin didalam minyak menguap.
Contohnya : Cubebae fructus ( Piper cubeba ).

 Balsamum adalah campuran dari resin dengan asam sinamat atau benzoin atau kedua-
duanya atau ester-esternya dengan minyak menguap. Contohnya : Balsam peru (Balsamum
peruvianum), Benzoinum (Styrax benzoin).

 Didalam beberapa hal diketemukan resin didalam ikatan glikosidal, ikatan ini disebut
glukoresin atau glikoresin misalnya yang terdapat didalam Ipomoeae batata).

C. SIMPLISIA YANG MENGANDUNG RESIN

Simplisia yang mengandung resin , Damar resin, Coloproni. (USP, NF)

1. Myrrha

Nama lain : Mira

Tanaman asal : Commpphora molmol

Keluarga : Burseraceae

Zat berkhasiat : 40-70% gom (galokto-siloraban), 25-45% damar yang berisifenol-


fenol (heraboresam, herabomirol, mirolon). Asam-asam damar 3-10%, minyak atsiri
(mirol dan mirenol) berisi pinen, limonen, herabolen, eugenol, kresol, sinamil aldehid,
kuminadehid, mineral, zat pahit, asam semut, asam cuka dan asam mirol.

Penggunaan : untuk pembuatan dupa dan parfum, tinctura mira untuk obat kumur.

Bagian yang digunakan : damar gom minyak yang diperoleh dari batang.

Cara panen : Batang-batang dilukai kulitnya, kulit ini berisi kelenjar schisogen
yang mengandung damar (harsa), warna putih kekuningan. Pada pengeringan warna berubah
menjadi coklat kekuningan sampai coklat kemerahan. Ada pula yang keluar sendiri dari
retakan-retakan kulit batang.

2. Balsamum Peruvianum

Nama Lain:Balsam Peru

Tanaman Asal : Myroxylon pereirae

Keluarga : Papilionaceae

Zat Berkhasiat : 50-60 % sinamein (Campuran benzil benzoat dan benzilsinamat),


20-30% damar. Asam Benzoat, Asam Sinamat, Vanilin, Peruvinol.

Penggunaan : Obat Gudik, Obat Luka, Obat Wasir, Obat Batuk

Bagian yang digunakan : Eksudat kental yang diperoleh dari batang yang telah
dihanguskan dan dilukai.

Cara Panen : Kulit batang dipukul pukul sehingga retak atau digoreskan irisan-
irisan padanya.Setelah 5-6 hari kulit yang rusak itu dibakar. Seminggu kemudian kulit itu
dikelupas.Dari kayunya keluar cairan ditampung dengan secarik kain yang ditutupkan pada
luka.Jika kain sudah penuh dengan balsam lalu dicelupkan dalam air mendidih, balsam yang
lebih berat akan mengendap dan dipisahkan.Aliran balsam yang kedua timbul 7-10 hari.Aliran
balsam ke tiga dapat dilakukan dengan menyerut luka.Kulit yang luka itu akan sembuh dalam
jangka waktu 2 tahun. Setelah itu dapat diperlakukan seperti semula.

D. SIFAT-SIFAT RESIN

 SIFAT FISIKA:

1. Keras

2. Transparan

3. Plastis

4. Lembek/ leleh

 SIFAT KIMIA, RESIN CAMPURAN DARI:

1. Asam-asam resinat

2. Alkohol rersinat

3. Resino tannol
4. Ester-ester

5. Resen-resen

6. Bebas Zat lemak

7. Sedikit mengandung oksigen dan banyak mengandung karbon

E. METODE ISOLASI RESIN

1. Ekstraksi simplisia dengan alkohol, diendapkan dengan air. Contohnya resin dari Jalapa
ipomoea dan podophyllum.

2. Memisahkan minyak menguapnya dengan cara penyulingan. Contohnya : colophonium


dari terpentin dan resin dari copaiva dari Balsamum copaive.

3. Dengan memanasi bagian dari tanaman yang mengandung resin. Contohnya : Guaiac
resin.

4. Dengan mengumpulkan hasil eksudat dari tanaman. Contohnya : Oleoresin yang


kemudian diuapkan, dengan cara ini diperoleh mastiks.

5. Dengan mengumpulkan resin-resin fosil, seperti copal dsb.

F. IDENTIFIKASI RESIN

Organoleptis

 Amorf
 Tidak berwarna sampai keruh
 Lembek sampai keras
 Lengket
 Kimia
 Campuran kompleks asam – asam resinat, alkohol resinat, resinotannol, ester- ester dan
resene resene
 Apabila dibakar akan menghasilkan hangus karena kadar carbon yang tinggi
 Dibuat dengan mengadisi terpenoid dengan air
 Larut dalam alkohol, eter, aseton, petroleum eter, dan kloroform
 Meninggalkan sisa beupa lapisan tipis seperti vernis bila diuapkan
DAFTAR PUSTAKA

Surahman dan Murti Herawati. 2001. Farmakognosi jilid II. Jakarta : Departemen Kesehatan

Widyastuti, kiki dkk. 2001. Farmakognosi jilid I. Jakarta : Departemen kesehatan

Ketaren. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Jakarta : Balai Pustaka

WHO, 1999, Monographs on Selected Medicinal Plants, WHO: Geneva.

Depkes RI, 1989, Materia Medika Indonesia, Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Heyne, K., 1987, Tumbuhan Berguna Indonesia, Yayasan Sarana WarnaJaya: Jakarta.