You are on page 1of 45

KATA PENGANTAR

Assalamua’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan izin
dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah tentang “ANTI
ANTELMENTIK”. Dalam Makalah ini membahas mengenai ANTI
ANTELMENTIK yang dipelajari dalam Farmakologi dan Toksikologi II.

Terakhir kami ucapkan terima kasih kepada dosen pengajar, karena berkat tugas
yang diberikan ini dapat menambah wawasan dan ilmu tentang ANTI
ANTELMENTIK. Tak lupa juga kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang
telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Atas bantuan dari pihak yang
terkait, akhirnya Makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan jadwal yang
direncanakan.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Bandar Lampung, April 2019


Penyusun

1
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebelum memasuki zaman yang modern seperti saat ini, penyebab terbesar
dari kematian manusia adalah disebabkan oleh infeksi mikroorganisme seperti
bakteri, jamur, parasit dan virus. Diperlukan diagnosis yang sangat akurat
dalam penatalaksanaan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganizme. Penting untuk dapat mengidentifikasi mikroorganisme
penyebab dan memahami karakteristik dan patogenesis dari penyakit infeksi
sehingga dapat menjadi dasar dalam menentukan obat antiparasit yang tepat.
Hal ini mengingat bakteri, virus, jamur, dan parasit mempunyai karakteristik
yang berbeda antara satu sama lain.

Pemberian obat antiparasit juga berdasarkan kepada mekanisme kerja dan


sifat farmakokinetikanya, agar dapat efektif dalam pengobatan dan tidak
menyebabkan efek samping yang besar dan resistensi pada antiparasit
tersebut. Kemajuan dalam bidang kesehatan diikuti dengan kemunculan obat-
obat antiparasit yang baru menambah tantangan untuk mengusai terapi
medikamentosa ini. Antiparasit tidak hanya dari satu jenis saja. Beberapa
senyawa-senyawa yang berbeda dan berlainan ternyata mempunyai
kemampuan dalam membunuh mikroba.Untuk itu sudah menjadi kewajiban
seorang tenaga medis khususnya farmasi untuk dapat menguasai bagaimana
penggunaan antiparasit yang benar tersebut. Dimulai dengan mengetahui
jenis-jenis dari antiparasit dilanjutkan mengetahui mekanisme
dan farmakologi dari obat-obat antiparasit tersebut dan terakhir dapat
mengetahui indikasi yang tepat dari obat antibiotik tersebut serta efek
sampingnya. Semua ini bertujuan akhir untuk mengoptimalkan penggunaan
antiparasit yang tepat dan efektif dalam mengobati sebuah penyakit sekaligus
dapat mengurangi tingkat resistensi.

2
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
1.2 Tujuan Umum dan Khusus
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Farmakologi dan
Taksikologi II
2. Tujuan Khusus
1) Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Anti
Antelmentik yang tergolong Parasit
2) Mahasiswa dapat mengetahui Struktur Organismenya
3) Mahasiswa dapat mengetahui Siklus
pertumbuhaannya/perkembangbiakan
4) Mahasiswa dapat mengetahui Penyakit-penyakit penyebab
infeksinya
5) Mahasiswa dapat mengetahui penggolongan obatnya (nama
obat,nama golongan,bentuk sediaan,mekanisme
kerja,farmakologinya,interaksi obat,resiko dan efek samping).

3
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Parasit


Parasit adalah istilah yang digunakan untuk menyebut makhluk hidup yang
hidupnya tergantung pada makhluk hidup lainnya. Kata parasit berasal dari
bahasa Yunani ‘Parasitos’ yang artinya di samping makanan (para=di
samping/di sisi, dan sitos=makanan). Parasit hidup dengan menempel dan
menghisap nutrisi dari makhluk hidup yang di tempelinya. Makhluk hidup
yang di tempeli oleh parasit di sebut dengan istilah inang. Secara umum,
keberadaan parasit pada suatu inang akan merugikan dan menurunkan
produktivitas inang. Karena selain menumpang tempat tinggal, parasit juga
mendapatkan nutrisi dan sari makanan dari tubuh inang. Hal seperti ini akan
menyebabkan tubuh inang mengalami mal nutrisi yang akan mempengaruhi
metabolisme tubuhnya.

Istilah parasit banyak di temukan dalam bidang biologi. Istilah ini merujuk
pada organisme-organisme yang hidup dengan cara menempel dan menghisap
nutrisi dari inangnya. Istilah parasit kemudian di adopsi ke dalam bahasa
sehari-hari sebagai istilah untuk menyebut segala sesuatu yang memiliki pola
hidup seperti parasit. Seperti misalnya, manusia yang hidup dengan
menumpang tinggal dan menumpang makan pada orang lain maka akan di
sebut parasit. Ataupun orang pemalas yang menggantungkan hidup pada
orang lain juga di sebut parasit. Secara bahasa, istilah parasit mempunyai
konotasi yang buruk. Dalam ilmu kesehatan, parasit identik dengan
organisme penyebab penyakit. Sebagian besar penyakit yang menyerang
manusia di sebabkan oleh parasit yang hidup dan berkembang biak dalam
tubuhnya.

4
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
2.2 Penggolongan Parasit
2.2.1 Berdasarkan Cara Hidup
Berdasarkan cara hidupnya, parasit terbagi menjadi 2 yaitu :
1) Ektoparasit (ectozoa)
Yaitu parasit yang hidup di luar tubuh hospes atau liang-liang kulit
yang masih mempunyai hubungan dengan dunia luar. Misal : di kulit,
rambut, rongga telinga luar. Contoh nyamuk dan lalat.

2) Endoparasit (entozoa)
Yaitu parasit yang hidup di dalam tubuh hospes. Misal : di dalam
darah, rongga tubuh, usus, dan organ tubuh lainnya. Contoh di dalam
hati : Fasciola hepatica(sapi).

2.2.2 Berdasarkan sifat


Berdasarkan sifatnya,parasit terbagi menjadi 5 yaitu :
1. Parasit Fakultatif
Parasit fakultatif adalah organisme yang sebenarnya organisme hidup
bebas, tetapi karena kondisi tertentu mengharuskan organisme
tersebut hidup sebagai parasit sehingga sifat hidup keparasitannya
tidak mutlak. Contoh : lalat-lalat Sarcophaga, Chrysomyia,
Caeophara, dan lain-lain.
Stadium larvanya normal hidup di dalam kotoran ternak, tetapi karena
tidak ada kotoran ternak terpaksa lalat bertelur didalam tubuh yang
luka sehingga waktu menetas larva menimbulkan miasis yang
dijumpai pada sela-sela teracak, bagian kuku atau telinga luar.
2. Parasit Obligat
Parasit obligat adalah semua organisme yang hidupnya berada di
dalam tubuh inang, dan akan mati bila berada di luar inang. Contoh :
semua organisme patogen.

5
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
3. Parasit Insidentil
Parasit insidentil atau parasit sporadis adalah suatu parasit yang
karena sesuatu sebab berada pada hospes yang tidak sewajarnya.
Contoh : Gongylonema scutum, cacing nematoda pada mulut sapi---
mulut manusia.
4. Parasit Eratika
Parasit eratika adalah parasit yang terdapat pada hospes yang wajar
tetapi lokasinya pada daerah yang tidak sewajarnya. Contoh : Ascaris
lumbricoides, nematoda duodenum manusia dan babi---akibat
kelaparan/gerakan antiperistaltik dinding usus---masuk ke lambung
atau kantung empedu.
5. Parasit Spuriosa
Parasit yang masuk ke dalam tubuh hospes tanpa menimbulkan
keluhan/penyakit pada hospes dan keluar dari tubuh hospes tanpa
perubahan apapun. Terjadi saat diagnose pascamati, misal sebelum
mati anjing makan feses sapi mengandung telur cacing Moniezia
expansa.

2.3 Penggolongan Hospes / Host


Hospes adalah induk semang / sel inang tempat parasit tinggal sementara
atau selamanya demi kelangsungan hidunya. Hospes terbagi menjadi 2,
yaitu
1) Definitive Host
Atau hospes tetap adalah tempat hidup parasit stadium dewasa /stadium
sexual.
Contoh: manusia sebagai hospes definitif dari cacing gelang (Ascaris
lumbricoides).
2) Intermediate Host
Atau hospes perantara yaitu tempat hidup parasit stadium larva.
Contoh : manusia sebagai hospes perantara dari parasit malaria,
karena stadium sexual berada dalam tubuh nyamuk Anopheles.

6
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
2.4 Pengertian dan Penggolongan Antiparasit
Antiparasitics adalah kelas obat yang diindikasikan untuk pengobatan
penyakit parasit seperti nematoda, cestodes, trematoda, infeksi protozoa,
dan amuba. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba,penyebab
infeksi pada manusia,ditentukan harus memiliki sifat toksisitas
selektif setnggi mungkin. Artinya,abat harus bersifat sangat toksik umtuk
mikroba,tetapi relatif tidak toksik untuk hospes. Sifat tokosisitas selektif
yang absolute belum atau mungkin tidak diperoleh.

Yang tergolong kepada antiparasit adalah :


1. Antelmintik
2. Anti amoba
3. Anti protozoa

2.5 Infeksi Parasit Cacing


Cacing parasit adalah cacing yang hidup sebagai parasit pada organisme lain,
baik hewan atau manusia. Mereka adalah organisme yang hidup dan makan
pada tubuh yang ditumpangi serta menerima makanan dan perlindungan
sementara menyerap nutrisi tubuh yang ditumpangi.Penyerapan ini
menyebabkan kelemahan dan penyakit.Penyakit yang diakibatkan oleh cacing
parasit biasanya disebut secara umum sebagai cacingan. Cacing parasit
umumnya merupakan anggota Cestoda, Nematoda, dan Trematoda.

2.6 Epidemiologi Infeksi Parasit Cacing


Infeksi dengan cacing, ataucacingparasit, mempengaruhi lebih daridua
miliarorangdi seluruh dunia. Cacing patogen diklasifikasikan menjadi cacing
gelang (nematoda) dan dua jenis cacing pipih, cacing (trematoda) dan cacing
pita (cestodes).Bentuk menyerang manusia melalui kulit atau saluran gastro
intestinal (GI) dan tumbuh menjadi cacing dewasa dengan jaringan distribusi
yang khas.Dengan sedikit pengecualian, seperti Strongyloides dan
Echinococcus, mereka tidak bisa menyelesaikan siklus hidup mereka namun
mereplikasi diri dalam inang manusia.Cacingan, salah satu penyakit tergolong

7
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
tinggi kejadiannya di Indonesia. Penyebabnya hewan parasit berukuran mikro
yang mengambil makanan dari usus yang berisi banyak sari makanan.Cacing
masuk ke tubuh dalam fase larva merupakan penyakit endemis dan kronis
yang bisa meningkat tajam pada waktu musim hujan dan banjir. Larva cacing
biasanya menyebar ke berbagai tempat untuk menginvasi tubuh
manusia.Cacing memasuki tubuh melalui dua jalan yakni mulut saat makan
makanan yang tidak dicuci bersih dan dimasak setelah terkontaminasi lalat
yang membawa larva cacing, serta lewat pori-pori saat anak tak memakai alas
kaki ketika berjalan di tanah.

Lewat cara ini larva masuk ke pembuluh darah dan sampai di tempat yang
memungkinkan perkembangannya seperti di usus, paru-paru, hati dan
sebagainya. Perkembangannya membutuhkan waktu 1-3 minggu di tubuh
manusia.Tahapan selanjutnya penderita biasanya kondisi gizi menurun
sehingga kesehatan mereka terganggu.Bila dibiarkan terlihat kulit anak pucat,
tubuh makin kurus serta perut membuncit karena kekurangan protein.Pada
kondisi sangat berat, cacingan bisa menimbulkan peradangan pada paru yang
ditandai dengan batuk dan sesak, sumbatan di usus, gangguan hati, kaki gajah
dan perforasi usus.Pada keadaan ini obat cacing tak lagi membantu secara
optimal.Cacingan banyak didapati pada daerah dimana kondisi kebersihannya
dibawah standar.

Cacing penyebab penyakit ini antara lain cacing gelang banyak ditemukan di
daerah tropis berkelembaban tinggi. Cacing ini hidup di usus halus dan hanya
hidup dalam tubuh manusia.Selain cacing gelang ada juga cacing cambuk
yang banyak ditemukan di daerah tropis.Perbedaannya adalah tempat hidup
yang lebih sering di usus besar dan sering dikaitkan dengan penyakit usus
buntu pada anak. Jenis lainnya cacing tambang sebagai jenis terbanyak
ditemukan penyebarannya di seluruh dunia, biasanya masuk melalui pori-pori
lewat tanah yang dipijak, kemudian cacing kremi sering menimbulkan gatal
di daerah anus serta cacing pita yang siklus hidupnya sedikit berbeda karena

8
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
biasanya hidup di tubuh hewan seperti sapi atau babi dan menyebar lewat
konsumsi daging yang tidak dimasak dengan benar.

2.7 Parasit Cacing Pada Manusia


Cacing yang merupakan parasit manusia dapat dibagi dalam 2 kelompok,
yakni cacing pipih dan cacing bundar.
1. Nematoda (roundworms). Ciri-cirinya bertubuh bulat, tidak
bersegmen, memiliki rongga tubuh dengan saluran cerna dan kelamin
terpisah. Infeksi cacing ini disebut ancylostomiasis (cacing tambang),
trongyloidiasis, oxyuriasis (cacing kremi), ascariasis (cacing gelang)
dan trichuriasis (cacing cambuk).
2. Platyhelminthes. Ciri-cirinya bentuk pipih, tidak memiliki rongga
tubuh dan berkelamin ganda (hemafrodit). Cacing yang termasuk
golongan ini adalah cacing pita (Cestoda) dan cacing pipih
(Trematoda).

2.8 Jenis-jenis Cacing Parasit


A. Nematodes
1. Trichuris Trichuira/ Cacing Cambuk
2. Roundworms (Ascaris Lumbricoides & Toxocara Canis)
 Ascaris Lumbricoides / Cacing Gelang

 Toxocara Canis

4. Hookworm

 Necator americanus & Ancylostoma duodenale

5. Strongyloides Stercolaris
6. Enterobius Vermicularis / Cacing Kremi
7. Trichinella spiralis
8. Wuchereria Bancrofti and Brugia Species (Lymphatic Filariasis)
9. Loa Loa (Loiasis)
10. Onchocerca volvulus (onchocerciasis atau River Blindness)

9
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
B. Cacing Pipih/Cestodes
 Taenia saginata
 Taenia solium
 Diphyllobothrium Latum
 Hymenolepis Nana
 Echinococcus Spesies
C. Trematodes (Flukes)
 Schistosoma Haematobium, mansoni Schistosoma, Japonicum
Schistosoma
 Paragonimus westermani dan Paragonimus Spesies Lainnya
 Clonorchis sinensis, Opisthorchis viverrini, Opisthorchis felineus

10
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Definisi Antelmintik


Anti Antelmintik atau obat cacing (Yunani anti = lawan, helmintes = cacing)
adalah obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan
hewan. Dalam istilah ini termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau
cacing dari saluran cerna maupun obat-obat sistemik yang membasmi cacing
serta larvanya, yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh.

3.2 Struktur Organisme


Struktur organisme dari Platyhelminthes adalah filum dalam Kerajaan
Animalia (hewan). Filum ini mencakup semua cacing pipih kecuali Nemertea,
yang dulu merupakan salah satu kelas pada Platyhelminthes, yang telah
dipisahkan
 Ciri-ciri
Tubuh pipih dosoventral dan tidak bersegmen. Umumnya, golongan
cacing pipih hidup di sungai, danau, laut, atau sebagai parasit di dalam
tubuh organisme lain. Cacing golongan ini sangat sensitif terhadap
cahaya. Beberapa contoh Platyhelminthes adalah Planaria yang sering
ditemukan di balik batuan (panjang 2–3 cm), Bipalium yang hidup di
balik lumut lembap (panjang mencapai 60 cm), Clonorchis sinensis,
cacing hati, dan cacing pita.
 Klasifikasi
Platyhelminthes dapat dibedakan menjadi 3 kelas, yaitu Turbellaria
(cacing bulu getar), Trematoda (cacing hisap), Monogenea, dan
Cestoda (cacing pita).

Kelas Turbellaria merupakan cacing pipih yang menggunakan
bulu getar sebagai alat geraknya, contohnya adalah Planaria.

Kelas Trematoda memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan
kait untuk melekatkan diri pada inangnya karena golongan ini
hidup sebagai parasit pada manusia dan hewan. Beberapa

11
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
contoh Trematoda adalah Fasciola (cacing hati), Clonorchis,
dan Schistosoma.

Kelas Cestoda memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak
tercemar oleh enzim di usus inang. Cacing ini merupakan
parasit pada hewan, contohnya adalah Taenia solium dan T.
saginata. Spesies ini menggunakan skoleks untuk menempel
pada usus inang. Taenia bereproduksi dengan menggunakan
telur yang telah dibuahi dan di dalamnya terkandung larva
yang disebut onkosfer.

3.3 Siklus Hidup


Siklus hidup Platyhelminthes
 Fasciola hepatica
Telur (bersama feces) -> larva bersilia (mirasidium) -> siput air
(lymnea auricularis atau lymnea javanica) -> sporokista -> redia ->
serkaria -> keluar dari tubuh siput -> menempel pada rumput /
tanaman air -> membentuk kista (metaserkaria) -> dimakan
domba(hepatica)/sapi(gigantica) -> usus -> hati -> sampai dewasa
 Clonorchis sinensis
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporokista ->
menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh
siput -> ikan air tawar (menempel di ototnya) -> membentuk kista
(metaserkaria) -> ikan dimakan -> saluran pencernaan -> hati ->
sampai dewasa
 Schistosoma javanicum
Telur (bersama feces) -> mirasidium -> siput air -> sporokista ->
menghasilkan redia -> menghasilkan serkaria -> keluar dari tubuh
siput -> menembus kulit manusia -> pembuluh darah vena
 Taenia saginata / Taenia solium
-> Proglotid (bersama feces) -> mencemari makanan babi -> babi ->
usus babi (telur menetas jadi hexacan) -> aliran darah -> otot/daging
(sistiserkus) -> manusia usus manusia (sistiserkus pecah -> skolex

12
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
menempel di dinding usus) -> sampai dewasa di manusia -> keluar
bersama feces

3.4 Siklus Perkembangbiakan dan Penyakit-penyakit Penyebab Infeksi


3.4.1 Nematodes
Parasit nematoda utama manusia termasuk the soil-transmitted helminths
(STHs) dan nematoda filaria. Infeksi STH ini, yang meliputi ascariasis,
Trichuriasis, dan infeksi cacing tambang, adalah salah satu infeksi yang
paling umum di negara-negara berkembang. Program Pemberantasan
menggunakan peran sekolah untuk mengelola anthelmintics spektrum yang
luas secara periodik dan sering. .

3.4.1.1 Trichuris Trichuira/ Cacing Cambuk

Warna : Merah muda atau abu-abu


Besarnya : 3 - 5 cm
Hidup di : Usus besar

Gambar 1. Siklus Cacing Cambuk

13
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Cara Penularannya:

 Telur cacing tertelan bersama dengan air atau makanan

 Menetas di usus kecil dan tinggal di usus besar

 Telur cacing keluar melalui kotoran dan jika telur ini tertelan,
terulanglah siklus ini

3.4.1.2 Roundworms (Ascaris Lumbricoides&Toxocara Canis)

- Ascaris Lumbricoides / Cacing Gelang

A. lumbricoides, yang dikenal sebagai "cacing gelang," mempengaruhi


hingga 90% dari orang di beberapa daerah tropis tetapi juga terlihat di
daerah beriklim sedang.

Gamba 2. Siklus Cacing Gelang

14
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Cacing Gelang : (Ascaris lumbricoides)
Warna : Merah muda atau putih
Besarnya : 20 - 30 cm
Hidup di : Usus kecil

Cara Penularannya:
 Telur cacing masuk melalui mulut
 Menetas di usus kecil menjadi larva
 Larva dibawa oleh aliran darah ke paru-paru melalui hati
 Bila larva ini sampai ke tenggorokan dan tertelan,mereka masuk ke
dalam usus kecil dan menjadi dewasa di sana Cacing gelang dapat
mengisap 0,14 gr karbohidrat setiap hari.

- Toxocara Canis

Toxocariasis adalah umum di Amerika Utara dan Eropa. Mayor sindrom


yang disebabkan oleh infeksi T. canis adalah visceral larva migrans
(VLM), larva migrans okular (Olm), dan Toxocariasis terselubung (CT).
Pengobatan VLM adalah dicadangkan untuk pasien dengan gejala berat,
terus-menerus, atau progresif. Albendazole merupakan obat pilihan. Peran
obat obat cacing untuk Olm dan CT adalah kontroversial dan manajemen
sering bedah diindikasikan, kadang disertai oleh glukokortikoid.

3.4.1.3 Hookworm
- Necator americanus & Ancylostoma duodenale

Gambar 3. Cacing Tambang

15
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Cacing Tambang : (Ancylostomiasis)

Warna : Merah

Besarnya : 8 - 13 mm

Hidup di : Usus kecil

Gamabar 4. Cacing Tambang didalam Tubuh Manusia

Cara Penularannya:

 Larva menembus kulit kaki

 Melalui saluran darah larva dibawa ke paru-paru yang


menyebabkan batuk

 Larva yang ditelan menjadi dewasa pada usus kecil dimana mereka
menancapkan dirinya untuk mengisap darah

Cacing tambang merupakan infeksi cacing yang paling merugikan kesehatan


anak-anak.Infeksi cacing tambang dapat menyebabkan anemia (kurang
darah).Cacing tambang dapat mengisap darah 10 - 12 mililiter setiap hari.

16
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Gambar 5. Siklus Cacing Tambang

Spesies cacing tambang menginfeksi 740 juta orang. Americanus N adalah cacing
tambang dominan di seluruh dunia, sedangkan A. duodenale focally endemik di
Mesir, India, dan Cina.

Larva cacing tambang hidup di tanah dan menembus kulit jika terkena. Setelah
mencapai paru-paru,larva bermigrasi ke rongga mulut dan ditelan. Setelah melekat
pada mukosa jejunum, cacingdewasa akan makan dari darah host. Ada korelasi
langsung antara beban cacing tambang dankehilangan darah fecal. Tidak seperti
Ascaris berat dan infeksi Trichuris, yang terjadi terutamapada anak-anak, infeksi
cacing tambang berat juga terjadi pada orang dewasa.

3.4.1.4 Strongyloides Stercolaris


Stercoralis S., kadang-kadang disebut cacing benang, dapat mereplikasi dan
menyebabkan siklus reinfeksi larva sepenuhnya berada di dalam inang
manusia. Organisme ini menginfeksi lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia,
paling sering di daerah tropis. Di AS, strongyloidiasis adalah endemik di

17
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Appalachia dan juga ditemukan pada individu dilembagakan hidup dalam
kondisi sehat dan imigran, wisatawan, dan personil militer yang tinggal di
daerah endemik. larva infektif dalam tanah yang terkontaminasi menembus
kulit atau selaput lendir, berjalanan ke paru-paru, dan akhirnya menjadi cacing
dewasa di usus kecil, di mana mereka tinggal.

Gambar 6. Cacing Benang

Kebanyakan individu yang terinfeksi tanpa gejala, sementara beberapa gangguan


menjadi gejala GI. penyakit yang mengancam jiwa karena hyperinfection larva
besar dapat terjadi pada orang imunosupresi, bahkan puluhan tahun setelah infeksi
awal. Sebagian besar kematian disebabkan oleh parasit di AS mungkin adalah
karena hyperinfection Strongyloides. Ivermectin adalah obat terbaik untuk
mengobati strongyloidiasis usus.

3.4.1.5 Enterobius Vermicularis / Cacing Kremi


Cacing Kremi (Oksiuriasis, Enterobiasis) adalah suatu infeksi parasit yang
terutama menyerang anak-anak, dimana cacing Enterobius
vermicularis tumbuh dan berkembangbiak di dalam usus

Warna : Putih
Besarnya : 1 cm
Hidup di : Usus besar
Cara Penularannya:
Cacing betina bertelur pada malam hari di anus

18
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Anus menjadi gatal, garukan pada anus membawa telur cacing ini
menyebar.
Melalui kontak dengan tempat tidur, bantal, sprei,pakaian, telur cacing
keremi dibawa ke tempat lain.
Jika telur-telur ini termakan, terulanglah siklus ini.

Gambar 7. Siklus Cacing Kremi

Enterobius, mungkin infeksi cacing yang paling umum di daerah beriklim sedang,
biasanya menyebabkan gatal di daerah perianal dan perineum. Karena infeksi
yang mudah menyebar, klinisi harus memutuskan apakah akan memperlakukan
semua kontak dekat dan lebih dari satu program terapi mungkin diperlukan.

Cacing kremi dapat dilihat dengan mata telanjang pada anus penderita, terutama
dalam waktu 1-2 jam setelah anak tertidur pada malam hari.

Cacing kremi berwarna putih dan setipis rambut, mereka aktif


bergerak.Telur maupun cacingnya bisa didapat dengan cara menempelkan selotip
di lipatan kulit di sekitar anus, pada pagi hari sebelum anak terbangun. Kemudian
selotip tersebut ditempelkan pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop.

Pengobatan

19
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Infeksi cacing kremi dapat disembuhkan melalui pemberian dosis tunggal obat
anti-parasit mebendazole, albendazole atau pirantel pamoat.

Seluruh anggota keluarga dalam satu rumah harus meminum obat tersebut
karena infeksi ulang bisa menyebar dari satu orang kepada yang lainnya

.Untuk mengurangi rasa gatal, bisa dioleskan krim atau salep anti gatal ke daerah
sekitar anus sebanyak 2-3 kali/hari. Meskipun telah diobati, sering
terjadi infeksi ulang karena telur yang masih hidup terus dibuang ke
dalam tinja selama seminggu setelah pengobatan.Pakaian, seprei dan mainan anak
sebaiknya sering dicuci untuk memusnahkan telur cacing yang tersisa. Langkah-
langkah umum yang dapat dilakukan untuk mengendalikan infeksi cacing kremi
adalah:

o Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar


o Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku
o Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu
o Mencuci jamban setiap hari
o Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-
jari tangan dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya
o Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut.

3.4.1.6 Trichinella spiralis


T. spiralis hasil infeksi dari makan daging kurang matang dari binatang yang
terinfeksi, terutama babi. Ketika dibebaskan, kista larva dewasa menjadi
cacing dewasa di usus, yang kemudian menghasilkan larva menular yang
menyerang jaringan, terutama otot skeletal dan jantung. menyebabkan infeksi
yang parah ditandai nyeri otot dan komplikasi jantung.

20
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Gambar 8. Cacing T. spiralis

3.4.1.7 Wuchereria Bancrofti and Brugia Species (Lymphatic Filariasis)


Cacing dewasa yang menyebabkan filariasis manusia tinggal baik dalam
limfatik atau jaringan lain. Disebarkan oleh gigitan nyamuk yang terinfeksi,
filariasis limfatik (LF) mempengaruhi ~ 120 juta orang di sub-Sahara Afrika,
India, Asia Tenggara, Pasifik, dan Amerika tropis. Dalam LF, host reaksi
terhadap cacing dewasa menyebabkan radang limfatik awalnya diwujudkan
dengan demam, limfangitis, dan limfadenitis, ini dapat berkembang menjadi
obstruksi limfatik. reaksi Awal mikrofilaria, eosinofilia paru tropis, mungkin
terjadi

Gambar 9. Kaki yang terinfeksi Wuchereria Bancrofti and Brugia Species

21
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Di kebanyakan negara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
merekomendasikan tahunan gabungan terapi dengan Albendazole dan
diethylcarbamazine, yang membersihkan beredar mikrofilaria dari subjek
yang terinfeksi, sehingga mengurangi kemungkinan bahwa nyamuk akan
mengirimkan LF untuk orang lain.

Diethylcarbamazine adalah obat pilihan untuk pengobatan cacing dewasa LF,


tetapi efeknya bervariasi; hasil terbaik dicapai jika terapi dimulai sebelum
obstruksi limfatik telah terjadi.

Gambar 10. Limpatic Filariasis

3.4.2 Loa Loa (Loiasis)

Gambar 11. Loiasis

22
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Loa L. adalah parasit filaria jaringan-bermigrasi ditemukan di daerah sungai
Tengah dan Afrika Barat. Cacing dewasa dalam jaringan subkutan biasanya
menyebabkan pembengkakan episodik dan reaksi alergi. Jarang, ensefalopati,
kardiomiopati, atau nefropati terjadi. Diethylcarbamazine adalah obat tunggal
terbaik untuk pengobatan loiasis, awalnya dalam dosis awal kecil untuk
mengurangi reaksi host yang dihasilkan dari perusakan mikrofilaria.
Glukokortikoid sering diminta untuk mengendalikan reaksi akut.

Gambar 12. Siklus Loa L

3.4.1.8 Onchocerca volvulus (onchocerciasis atau River Blindness)


Ditularkan oleh blackflies, O. volvulus menginfeksi ~ 17 juta orang di sub-
Sahara Afrika, dan <100.000 orang di beberapa bagian Meksiko, Guatemala,
dan Amerika Selatan. reaksi inflamasi, terutama untuk mikrofilaria daripada
cacing dewasa, mempengaruhi jaringan subkutan, kelenjar getah bening, dan
mata. Onchocerciasis merupakan penyebab utama kebutaan menular di seluruh
dunia.

23
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Gambar 13. Siklus Onchocerca volvulus

Ivermectin adalah obat tunggal terbaik untuk kontrol dan pengobatan


onchocerciasis. Ini hanya membunuh mikrofilaria dari O. volvulus, sementara
menghasilkan sedikit jika ada komplikasi okular.

3.4.2 Cestodes (cacing pipih)

3.4.2.1 Taenia saginata

Manusia adalah tuan rumah definitif untuk T. saginata, cacing pita daging
sapi. Cacing pita ini paling umum biasanya terdeteksi setelah berlalunya
proglottids dari usus.

Gambar 14. Cacing pipih

24
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Ini adalah kosmopolitan, terjadi paling sering di sub-Sahara Afrika dan
Timur Tengah, di mana daging sapi matang dikonsumsi. Praziquantel
adalah obat pilihan untuk infeksi T. Saginata.

3.4.2.2 Taenia solium


T. solium atau cacing pita daging babi, menyebabkan dua jenis infeksi.
Bentuk usus dengan hasil dewasa cacing pita dari mengkonsumsi daging
matang mengandung cysticerci.

Gambar 15 Cacing T. solium

Gambar 16 Siklus T. solium

25
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
larva bentuk invasif menyebabkan sistiserkosis, infeksi sistemik lebih
berbahaya. Invasi otak (neurocysticercosis) dapat mengakibatkan epilepsi,
meningitis, dan \ tekanan intrakranial meningkat. Praziquantel lebih
disukai untuk infeksi usus dengan solium T., sedangkan Albendazole
merupakan obat pilihan untuk sistiserkosis. Kemoterapi adalah tepat hanya
apabila diarahkan pada cysticerci hidup menyebabkan patologi;
pretreatment dengan glukokortikoid disarankan.

3.4.2.3 Diphyllobothrium Latum


D. latum, cacing pita ikan, diperoleh dengan makan tidak cukup dimasak,
ikan penuh. Kebanyakan individu yang terinfeksi tidak menunjukkan
gejala, manifestasi sering termasuk gejala perut dan penurunan berat
badan, anemia megaloblastik dapat terjadi karena kekurangan vitamin
B12. Praziquantel menghilangkan worm.

Gambar 17 Siklus D. latum

26
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
3.4.2.4 Hymenolepis Nana
H. nana, cacing pita kerdil, adalah cacing pita yang paling umum
parasitizing manusia.

Gambar 18 Siklus H. nana

Infeksi yang lebih menonjol di daerah tropis dari daerah beriklim sedang
dan yang paling umum di antara anak-anak dilembagakan, termasuk yang
di Amerika selatan cysticerci berkembang dalam vili usus dan kemudian
memperoleh kembali akses ke lumen usus dimana larva tumbuh menjadi
dewasa. Praziquantel efektif terhadap infeksi nana H.; dosis yang relatif
tinggi biasanya yang diperlukan, dan terapi mungkin perlu diulang.

3.4.2.5 Echinococcus Spesies


Manusia adalah salah satu dari beberapa host perantara untuk bentuk larva
spesies Echinococcus yang menyebabkan "cystic" (E. granulosus) dan
"alveolar" (E. multilocularis dan vogeli E.) penyakit hidatidosa.Telur
Parasit dari kotoran anjing adalah sumber utama dalam ternak yang terkait
(misalnya, domba dan kambing).

27
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Gambar 19 Siklus Echinococcus Spesies

E.granulosus menghasilkan unilocular, kista perlahan-lahan tumbuh,


paling sering dalam hati dan paru-paru, dan E. multilocularis menciptakan
invasif multilocular kista pada organ yang sama. Operasi pengangkatan
kista adalah pengobatan yang disukai, namun kebocoran bisa menyebarkan
penyakit ke organ lain. regimen berkepanjangan Albendazole, baik sendiri
atau dikombinasikan dengan operasi, mungkin bermanfaat, tetapi beberapa
pasien tidak sembuh meskipun beberapa program terapi. pengobatan Ajun
dengan BZAs adalah landasan dari pendekatan interdisipliner untuk
mengendalikan echinococcosis kistik.

28
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
3.4.3 Trematodes (Flukes)
3.4.3.1 Schistosoma Haematobium, mansoni Schistosoma, Japonicum
Schistosoma

Gambar 20. Penderita Schistosoma Haematobium, mansoni Schistosoma,


Japonicum Schistosoma

Ini adalah spesies utama cacing darah yang menyebabkan schistosomiasis


manusia, yang mempengaruhi sekitar 200 juta orang. Schistosomiasis
secara luas didistribusikan ke Amerika Selatan (S. mansoni), sebagian
besar Afrika dan Semenanjung Arab (S. mansoni dan haematobium S.),
dan China dan Asia Tenggara (S. japonicum). siput terinfeksi host
intermediate transmisi air tawar. Schistosomiasis terutama melibatkan hati,
limpa, dan saluran GI (S. mansoni dan S. japonicum) atau saluran
genitourinari rendah (S. haematobium). infeksi berat dengan haematobium
S. dikaitkan dengan karsinoma kandung kemih. infeksi kronis dapat
menyebabkan shunting portosystemic karena fibrosis periportal di hati.

Praziquantel adalah obat pilihan untuk schistosomes. The artemeter


derivatif artemisinin target schistosomula tahap larva parasit. Gabungan
pengobatan hewan menyimpan cacing schistosome remaja dan dewasa
dengan artemeter dan praziquantel mengakibatkan pengurangan beban

29
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
cacing secara signifikan lebih tinggi dari kedua obat diberikan sendiri-
sendiri.

3.4.3.2 Paragonimus westermani dan Paragonimus Spesies Lainnya


Cacing paru-paru, sejumlah spesies Paragonimus, yaitu P. westermani adalah
yang paling umum, bersifat patogen bagi manusia. Ditemukan di Timur Jauh
dan di benua Afrika dan Amerika Selatan, parasit ini memiliki dua host
intermediate: siput dan krustasea. Manusia terinfeksi dengan makan kepiting
mentah atau kurang matang atau lobster.

Gambar 21 Siklus Cacing Paragonimus westermani dan Paragonimus

Penyakit ini disebabkan oleh reaksi terhadap cacing dewasa. Meskipun flukes
agak tahan untuk praziquantel, obat ini efektif bila digunakan secara klinis.
Bithionol dianggap sebagai agen lini kedua. Triclabendazole juga baru-baru ini
terbukti manjur.

30
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
3.4.3.3 Clonorchis sinensis, Opisthorchis viverrini, Opisthorchis felineus

Gambar 22. Siklus Clonorchis sinensis, Opisthorchis viverrini, Opisthorchis


felineus

Trematoda ini terkait erat dengan yang ada di Timur Jauh (C. sinensis, "yang
kebetulan hati Cina," dan O. viverrini) dan bagian dari Eropa Timur (O.
felineus). Metaserkaria dilepaskan dari ikan yang terinfeksi dimasak kurang
matang menjadi cacing dewasa yang mendiami sistem empedu manusia

infeksi berat dapat menyebabkan penyakit hati obstruktif, patologi radang


kandung empedu yang terkait dengan cholangiocarcinoma, dan pankreatitis
obstruktif. Terapi Satu-hari dengan praziquantel sangat efektif.

31
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
BAB IV
PENGGOLONGAN OBAT ANTELMINTIK

4.1 Golongan Benzimidazoles (BZAs)


BZAs telah dikembangkan sebagai bahan obat cacing spektrum luas. Yang
paling berguna memiliki modifikasi pada 2 dan / atau 5 posisi dari sistem
cincin benzimidazole. Thiabendazole, mebendazol, dan Albendazole telah
digunakan secara luas untuk pengobatan infeksi cacing manusia.

Gambar 23 Rumus Struktur Benzimidazoles

Thiabendazole aktif terhadap berbagai nematoda yang menginfeksi


saluran pencernaan, namun penggunaan klinis yang telah menurun tajam
karena toksisitasnya relatif terhadap obat sama efektif lainnya.

Gambar 24. Rumus Struktur Thiabendazole

Mebendazol telah menggantikan thiabendazole untuk pengobatan infeksi


cacing gelang usus.

Gambar 25 Rumus Struktur Mebendazol

32
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Albendazole digunakan terutama terhadap berbagai nematoda usus dan
jaringan tapi juga terhadap bentuk-bentuk larva cestodes tertentu.
Albendazole merupakan obat pilihan untuk sistiserkosis dan cystic
hidatidosa penyakit.
Ketika digunakan tahunan bersama dengan baik ivermectin atau
diethylcarbamazine, dosis tunggal Albendazole telah menunjukkan hasil
yang cukup untuk mengendalikan global LF dan infeksi filaria lainnya.

4.1.1 Farmakodinamik
BZAs menghambat polimerisasi mikrotubulus dengan mengikat b-tubulin.
Toksisitas selektif dari agen ini hasil mungkin karena mengikat BZAs parasit
b-tubulin dengan afinitas yang jauh lebih tinggi daripada yang mereka lakukan
protein mamalia. Resistensi obat pada nematoda mungkin melibatkan ekspresi
dari sebuah tubulin-b bermutasi. Tidak ada bukti yang muncul resistensi
antara nematoda manusia.

Para BZA ini adalah agen-agen obat cacing serbaguna, terutama terhadap
nematoda GI, di mana tindakan mereka tidak ditentukan oleh konsentrasi obat
sistemik. Mebendazol dan Albendazole sangat efektif dalam mengobati
infeksi STH utama (ascariasis, Enterobiasis, Trichuriasis, dan cacing tambang)
serta kurang umum infeksi nematoda manusia. Obat ini aktif terhadap kedua
tahap larva dan dewasa nematoda, dan mereka ovicidal untuk Ascaris &
Trichuris. Imobilisasi dan kematian parasit GI rentan terjadi perlahan-lahan,
dan izin mereka dari saluran pencernaan mungkin tidak lengkap sampai
beberapa hari setelah perawatan.

Albendazole lebih efektif daripada mebendazol terhadap strongyloidiasis,


penyakit kista hidatidosa disebabkan oleh granulosus E., dan
neurocysticercosis disebabkan oleh bentuk larva T. solium. Para BZAs
mungkin adalah aktif terhadap tahapan usus T. spiralis, tetapi kemungkinan
besar tidak mempengaruhi tahap larva dalam jaringan. Albendazole sangat

33
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
efektif terhadap bentuk-bentuk migrasi dari cacing kait anjing dan kucing
yang menyebabkan larva migrans kulit. Rejimen yang Albendazole dengan
baik ivermectin atau diethylcarbamazine diberikan sebagai dosis tahunan
tunggal menunjukkan sangat menjanjikan untuk penghapusan LF.
microsporidia tertentu yang menyebabkan infeksi usus dalam Human
Immunodeficiency Virus (HIV)-terinfeksi individu menanggapi sebagian
(Enterocytozoon bieneusi) atau sepenuhnya (Enterocytozoon intestinalis dan
spesies yang terkait) untuk Albendazole.

4.1.2 Farmakokinetik
Thiabendazole diserap dengan cepat setelah konsumsi oral dan mencapai
konsentrasi plasma puncak setelah 1 jam. Sebagian besar obat ini
diekskresikan dalam urin dalam waktu 24 jam sebagai 5-
hydroxythiabendazole, conjugated baik sebagai glukuronat atau sulfat
tersebut.

Formulasi Tablet mebendazol yang buruk dan tak menentu diserap, dan
konsentrasi plasma rendah. Ketersediaan hayati sistemik rendah (22%) hasil
mebendazol dari kombinasi penyerapan dan metabolisme-pass hati cepat
pertama. Mebendazol adalah ~ 95% terikat protein plasma dan secara
ekstensif dimetabolisme. Metabolit utama memiliki tingkat lebih rendah dari
clearance dari tidak mebendazol dan tampaknya tidak aktif. Konjugasi dari
mebendazol dan metabolitnya telah ditemukan di empedu, tetapi mebendazol
berubah sedikit muncul dalam urin.

Albendazole adalah bervariasi diserap setelah pemberian oral. Makanan lemak


meningkatkan penyerapan. Setelah dosis oral 400 mg, Albendazole tidak
dapat dideteksi dalam plasma, karena obat ini cepat dimetabolisme di hati
sulfoxide, yang memiliki aktivitas anthelmintik yang kuat. Baik (+) dan (-)
enansiomer dari sulfoxide Albendazole terbentuk, sedangkan enantiomer (+)
mencapai konsentrasi puncak plasma jauh lebih tinggi dan dibersihkan jauh
lebih lambat. sulfoxide Albendazole adalah ~ 70% terikat protein plasma dan

34
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
memiliki variabel plasma t1/2 (~ 4-15 jam). Hal ini juga didistribusikan ke
berbagai jaringan termasuk kista hidatidosa, mungkin menjelaskan
keberhasilan yang lebih besar untuk cacing jaringan-tinggal. Pembentukan
sulfoxide Albendazole dikatalisis oleh kedua monooxygenase flavin
mikrosoma dan CYP isoform dalam hati. metabolit Albendazole diekskresikan
terutama di urin.

4.1.3 Penggunaan Terapeutik


Thiabendazole (MINTEZOL) umumnya telah digantikan oleh agen yang lebih
baru. Mebendazol sangat efektif terhadap GI nematoda dan sangat berharga
bagi infeksi campuran. Mebendazol selalu diambil secara lisan, dan jadwal
dosis yang sama berlaku untuk orang dewasa dan anak-anak> 2 tahun. Untuk
pengobatan Enterobiasis, tablet 100 mg tunggal diambil, diulang setelah 2
minggu. Untuk kontrol ascariasis, Trichuriasis, atau infeksi cacing tambang,
rejimen yang dianjurkan adalah 100 mg mebendazol diambil pada pagi hari
dan sore selama 3 hari berturut-turut (atau tablet 500 mg single diberikan
sekali). Jika pasien tidak sembuh 3 minggu setelah pengobatan, kursus kedua
harus diberikan. Regimen mebendazol 3 hari lebih efektif daripada dosis
tunggal baik mebendazol (500 mg) atau albendazole (400 mg).

Seperti mebendazol, albendazol menyediakan terapi yang aman dan efektif


terhadap infeksi dengan nematoda GI, termasuk infeksi campuran Ascaris,
Trichuris, dan cacing tambang. Untuk pengobatan Enterobiasis, ascariasis,
Trichuriasis, dan cacing tambang, Albendazole diambil sebagai dosis tunggal
400 mg oral oleh orang dewasa dan anak-anak> 2 tahun. Pada anak-anak
berusia antara 12 dan 24 bulan, WHO merekomendasikan dosis dikurangi dari
200 mg. Tingkat penyembuhan infeksi Ascaris ringan hingga sedang biasanya
adalah> 97%, meskipun infeksi berat mungkin memerlukan terapi selama 2-3
hari. Dosis 400 mg Albendazole tampaknya lebih unggul dengan dosis 500 mg
mebendazol untuk mengobati infeksi cacing tambang.

35
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Albendazole merupakan obat pilihan untuk penyakit kista hidatidosa karena
granulosus E.. Sedangkan obat hanya memberikan angka kesembuhan
sederhana bila digunakan sendiri, menghasilkan hasil yang lebih unggul bila
digunakan bersama dengan operasi baik untuk menghilangkan kista atau
aspirasi / injeksi kista dengan agen protoscolicidal. Sebuah regimen dosis khas
untuk orang dewasa adalah 400 mg diberikan dua kali sehari (untuk anak-anak
15 mg / kg / hari dengan maksimal 800 mg) selama 1-6 bulan. Sementara obat
terbaik yang tersedia, Albendazole hanya sedikit efektif untuk echinococcosis
alveolar disebabkan oleh multilocularis E., dan intervensi bedah sering
dibutuhkan.

Albendazole juga adalah pengobatan yang disukai neurocysticercosis


disebabkan oleh bentuk larva T. solium. Dosis yang dianjurkan adalah 400 mg
diberikan dua kali sehari untuk orang dewasa selama 8-30 hari, tergantung
pada jenis, jumlah, dan lokasi dari kista. Untuk anak-anak, dosisnya adalah 15
mg / kg / hari (maksimum 800 mg) dalam dua dosis untuk 8-30 hari. Kursus
ini dapat diulang seperlunya, selama hati dan toksisitas sumsum tulang
dimonitor. Untuk mengurangi efek samping inflamasi, glukokortikoid
biasanya diberikan selama beberapa hari sebelum memulai terapi albendazole.
pretreatment tersebut juga meningkatkan kadar plasma sulfoxide Albendazole.
Terapi dengan baik Albendazole atau praziquantel harus mencakup
pertimbangan terapi anticonvulsant, pengembangan kemungkinan komplikasi
arachnoiditis, vaskulitis, atau edema serebral, dan kebutuhan untuk intervensi
bedah harus hidrosefalus obstruktif terjadi. Albendazole, 400 mg / hari, juga
telah menunjukkan efikasi untuk terapi infeksi usus microsporidial pada
pasien dengan AIDS.

Albendazole dikombinasikan dengan baik diethylcarbamazine atau ivermectin


dalam program diarahkan kepada pengendalian LF. Dengan dosis tahunan
dengan terapi kombinasi untuk 4-6 tahun, tujuannya adalah untuk
mempertahankan microfilaremia di tingkat rendah seperti bahwa penularan
tidak dapat terjadi untuk jangka waktu yang sesuai dengan durasi fekunditas

36
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
cacing dewasa. Albendazole diberikan dengan diethylcarbamazine untuk
mengendalikan LF di sebagian besar dunia. Untuk menghindari reaksi serius
untuk sekarat mikrofilaria, sebuah Albendazole / kombinasi ivermectin
disarankan di lokasi di mana filariasis berdampingan dengan baik
onchocerciasis atau loiasis.

4.1.4 Toksisitas, Efek Samping, Pencegahan, Dan Kontra Indikasi


Para BZAs umumnya mempunyai profil keamanan yang sangat baik. Efek
samping, terutama GI gejala ringan, terjadi pada ~ 1% anak-anak dirawat.
Kegunaan klinis pada orang dewasa thiabendazole dikompromikan oleh
toksisitas, yang telah berkurang penggunaan klinis. Sering efek samping
termasuk gangguan GI, kelelahan, mengantuk, dan sakit kepala. Sesekali
demam, ruam, eritema multiforme, halusinasi, dan gangguan sensorik telah
dilaporkan. Angioedema, shock, tinnitus, kejang, dan kolestasis intrahepatik,
dan kristaluria adalah komplikasi jarang terjadi. Transient leukopenia telah
dicatat. Thiabendazole adalah hepatotoksik dan harus digunakan dengan hati-
hati pada pasien dengan penyakit hati. Pengaruh thiabendazole pada wanita
hamil belum diteliti secara memadai, sehingga harus digunakan pada
kehamilan hanya jika potensi manfaat membenarkan risiko.

Mebendazol tidak secara rutin menyebabkan keracunan sistemik yang


signifikan, bahkan di hadapan anemia dan kekurangan gizi. Transient gejala
sakit perut, kembung, dan diare terjadi dengan investasi besar-besaran dan
pengusiran cacing GI. Langka efek samping pada pasien yang diobati dengan
dosis tinggi mebendazol termasuk reaksi alergi, alopecia, neutropenia
reversibel, agranulositosis, dan oligospermia. Reversible elevasi transaminase
serum dapat terjadi. Mebendazol dapat berhubungan dengan kejang oksipital.
Hal ini tidak boleh digunakan pada pasien yang mengalami reaksi alergi
terhadap agen.

Albendazole juga menghasilkan beberapa efek samping bila digunakan untuk


terapi jangka pendek helminthiasis GI, bahkan pada pasien dengan beban

37
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
berat cacing. Transient ringan GI gejala (nyeri, epigastrium diare, mual, dan
muntah) terjadi pada ~ 1% orang dirawat. Pusing dan sakit kepala terjadi pada
kesempatan. Dalam pengobatan massal usia sekolah, kejadian efek samping
dengan Albendazole sangat rendah.

Fenomena alergi jarang terjadi dan biasanya menyelesaikan setelah 48 jam.


Bahkan dalam terapi jangka panjang penyakit kista hidatidosa dan
neurocysticercosis, Albendazole baik ditoleransi oleh kebanyakan pasien.
Efek samping yang paling umum adalah peningkatan aminotransferases
serum, yang kembali normal setelah penghentian obat; jarang sakit kuning
atau kolestasis dapat terjadi. Tes fungsi hati harus dimonitor selama terapi
albendazol berlarut-larut, dan obat ini tidak dianjurkan untuk pasien dengan
sirosis. Apalagi kalau bukan pra-perawatan dengan glukokortikoid, beberapa
pasien dengan neurocysticercosis mungkin mengalami gejala sisa neurologis
yang serius. Efek samping lain selama terapi diperpanjang termasuk rasa sakit
GI, sakit kepala parah, demam, kelelahan, alopecia, leukopenia, dan
trombositopenia.

The BZAs tampilan sangat sedikit interaksi dengan obat lain. Anggota paling
fleksibel dari Albendazole, keluarga, mungkin memicu metabolisme sendiri,
dan plasma tingkat metabolit sulfoxide dapat ditingkatkan dengan
coadministration dari glukokortikoid dan mungkin praziquantel. Perhatian
dianjurkan bila menggunakan dosis tinggi Albendazole bersama-sama dengan
inhibitor umum CYPs hati.

Gunakan dalam Kehamilan Kedua Albendazole dan mebendazol adalah


embriotoksik dan teratogenik pada tikus. Dalam survei pascapemasaran
perempuan yang secara tidak sengaja dikonsumsi mebendazol selama
trimester pertama, kejadian abortus spontan dan kelainan tidak melebihi dari
populasi umum; studi sebanding dengan Albendazole tidak tersedia. Sebuah
tinjauan risiko kelainan bawaan dari BZAs menyimpulkan bahwa penggunaan
mereka selama kehamilan tidak terkait dengan peningkatan risiko cacat

38
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
bawaan utama; tetap, dianjurkan pengobatan yang harus dihindari selama
trimester pertama kehamilan.

Gunakan dalam Anak Muda WHO menyimpulkan bahwa BZAs dapat


digunakan untuk merawat anak-anak melewati tahun pertama yang beresiko
untuk konsekuensi yang merugikan yang disebabkan oleh STHs; dosis
dikurangi Albendazole (200 mg) digunakan pada anak-anak berusia antara 12
- 24 bulan.

4.2 Penggunaan Terapi Antelmintik Pada Infeksi Parasit Cacing

39
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
4.3 Obat – Obat Untuk Infeksi Cacing

Jenis Infeksi Obat Pilihan 1 Obat Pilihan 2 Dosis


Parental : dosis tunggal 10 mg/kg BB
basa.
Mebendazole : 2 x 1 hari 100 gram
setiap 3 hari
Pirantel pamoat Piperazin sitrat
Askaris Piperazine : dewasa 3,5 gram sebagai
Mebendazol Aldemindazol
dosis tunggal selama 2 hari. Anak 75
mg / kg BB sebagai dosis tunggal
selama 2 hari
Albendazol : dosis tunggal 400 mg
Mebendazol : Dosis tunggal 100 mg

Mebendazol Parental pamoat : dosis tunggal 10


Cacing kremi Albendazol mg/kg BB (max 1 g sebagai pirantel
Pirantel pamoat basa)
Albendazol : dosis tunggal 400 mg
Mebendazol : 2 x 100 mg selama 3 hari

Mebendazol Parental : untuk A. Duodenale, dosis


Cacing tambang Albendazol tunggal pirantel basa 10 mg/ kg BB
Pirantel pamoat (mak. 1 g) selama 3 hari
Albendazol : dosis tunggal 400 mg
Cacing Mebendazol : 2 x 100 mg, 3 - 4 hari
mebendazol albendazol
T. Trichura Albendazol : dosis tunggal 400 mg
Ivermektin : tunggal 200 / kg BB

Albendazol Albedazol : 2 x 400 mg / hari, 7 – 14


S. Stercolaris ivermektin hari
Thiabendazol
Thiabendazol : 2 x 25 mg / kg BB
perhari, 2 – 3 hari berturut – turut

Prazikuantel : tunggal 10 mg / kg BB,


khusus T. Solium, dianjurkan pencahar
Prazikuantel sesudah 2 jam terapi.
T. Solium
Niklosamid Niklosamid : dewasa dan anak diatas 8
tahun, 2 dosis @ 1 g, selang waktu 1
jam, anak : ½ dosis dewasa

Prazikuantel Prazikuante : seperti T. soliuml


T. Saginata Mebendazol
Niklosamid Niklosamid : seperti T. solium

40
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
Mebendazol : 2 x 300 mg / hari, selama
3 hari
Untuk W. Brancopti, B. Malayi, dan L.
Dietilcarbamazi
Filarial Loa : 3 x sehari 2 mg/kg BB, bersama
n (DEC)
makan 10 – 30 hari*.
150 µg/ kg BB, diminum dengan air
pada saat perut kosong, diulang setiap 3
bulan, 12 bulan, selanjutnya diulang
O. Volvulus Ivermektin
setiap tahun sampai cacing dewasa
mati. Dapat berlangsung 10 tahun /
lebih.
Prazikuantel : tunggal 40 mg/kg BB,
atau tunggal 20 mg /kg BB, yang
diulangi sesudah 4 – 6 jam.
S. Haematobium Prazikuantel Metrifonat
Metrifonat : dosis tunggal 7,5 – 10
mg/kg BB, diberikan per oral 3x dengan
interval 14 hari
Prazikuantel : tunggal 40 mg/kg BB,
atau 3x 20 mg/ kg BB selang 4 – 6 jam
S. Mansoni Pirazikuantel Oksamniquin Oksamniquin : dewasa, tunggal 15
mg/kg BB, anak, 20 mg/kg BB, dibagi
dua dosis selang 2 – 8 jam
Prazikuntel : 2 x 30 mg/kg BB, selang 4
S. Japonicum Prazikuantel
- 6 jam
*Pada pegobatan massal : DEC 6 mg/kg BB per-hari dan albendazole 400 mg dosis tunggal
(anjuran WHO)

41
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Cacing yang merupakan parasit manusia dapat dibagi dalam 2
kelompok, yakni cacing pipih dan cacing bundar.
 Nematoda (roundworms). Ciri-cirinya bertubuh bulat, tidak
bersegmen, memiliki rongga tubuh dengan saluran cerna
dan kelamin terpisah. Infeksi cacing ini disebut
ancylostomiasis (cacing tambang), trongyloidiasis,
oxyuriasis (cacing kremi), ascariasis (cacing gelang) dan
trichuriasis (cacing cambuk).
 Platyhelminthes. Ciri-cirinya bentuk pipih, tidak memiliki
rongga tubuh dan berkelamin ganda (hemafrodit). Cacing
yang termasuk golongan ini adalah cacing pita (Cestoda)
dan cacing pipih (Trematoda).
2. Patologi infeksi cacing diperantai oleh faktor – faktor, antara lain :
o Perkembangbiakan Parasit, yang menyebabkan defisiensi
nutrisi, dan migrasi ke organ sehingga menyebabkan
gangguan hingga kerusakan organ.
o Penyerangan parasit yang dapat mengiritasi sel – sel tubuh,
dan menyerang organ vital manusia
o Enzim – enzim, toksin atau metabolit yang dilepaskan oleh
parasit.
3. Antelmintik atau obat cacing adalah obat yang digunakan untuk
memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usu atau dalam
jaringan tubuh.
4. Kebanyakan obat cacing efektif terhadap 1 macam cacing, sehingga
diperlukan diagnosis tapat sebelum menggunakan obat tertentu.

42
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
5. Mekanisme kerja dari obat Antelmintik bermacam – macam antara
lain:

 Menghambat sintesis protein


 Menginterferensi replikasi asam nukleat
 Memparalisis otot cacing
 Menghambat fosforilasi oksidatif :
 Meningkatkan aktifitas enzim proteolitik sehingga cacing peka
terhadap pagositas.
6. Tindakan pencegahan utama terhadap cacingan bukan terletak pada
obat, namun pada penjagaan higienitas sehari-hari mulai lingkungan
sekitar, tempat bermain anak, anjuran mencuci tangan dengan sabun,
memakai alas kaki bila keluar rumah hingga kebersihan makanan
sehari-hari seperti pencucian sayuran dan cara memasak yang benar.

43
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
DAFTAR PUSTAKA

Bruton, Laurence. Goodman & Gilman’s, Manual of Pharmacology


andTherapeutics, New York :The McGraw-Hill Companies, Inc. 2008. P.695 –
706 (.pdf)
http://www.dpd.cdc.goc/dpdx
Diakses tanggal 22 April 2019 jam 22.06 wib
http://en.wikipedia.org/wiki/Trematoda
Diakses tanggal 22 April 2019 jam 23.09 wib
http://en.wikipedia.org/wiki/Nematoda
Diakses tanggal 22 April 2019 jam 23.15 wib
http://en.wikipedia.org/wiki/Cestoda
Diakses tanggal 22 April 2019 jam 00.13 wib
http://en.wikipedia.org/wiki/mebendazole
Diakses tanggal 23 April 2019 jam 12.19 wib
http://en.wikipedia.org/wiki/albendazole
Diakses tanggal 22 April 2019 jam 23.09 wib
http://en.wikipedia.org/wiki/Platyhelminthes
Diakses tanggal 22 April 2019 jam 13.22 wib
http://archive.kaskus.us/thread/2435389
Diakses tanggal 25 April 2019 jam 23.59 wib
http://medicastore.com/apotik_online/kemoterapi_antimikroba/obat_cacing
Diakses tanggal 25 April 2019 jam 14.22 wib

44
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik
45
Farmakologi & Taksikologi II Anti Antelmintik