You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan
kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores).
Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu
memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara
kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan
jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan
penciptanya. Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai atau norma-
norma yang dikaitkan dengan etika.

Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang


diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh
sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung
jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan
etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan
ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat
mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat.

Seiring dengan perkembangan zaman semakin banyak pelanggaran kode


etik oleh sebagian besar profesi terutama profesi kesehatan. Dan karena
adanya perubahan Globalisasi yang sering bisa membuat Profesi menjadi
tidak berjalan semestinya sebab kalau seorang Profesi tidak mengikuti
perkembangan Globalisasi maka dia akan tidak percaya diri untuk
menjalankan Profesinya tersebut.

4
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi salah satu tugas
kuliah Etika dan Undang-undang Farmasi dan untuk mengkaji studi-studi
kasus pelanggaran oleh profesi kesehatan.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Etika


2.1.1 Defenisi Etika Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan (1998) merumuskan pengertian etika dalam tiga arti sebagai
berikut:
a. Ilmu tentang apa yang baik dan buruk, tentang hak dan kewajiban
moral.
b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
c. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut di masyarakat.

Dari asul-usul katanya, etika berasal dari bahasa Yunani "ethos" yang
berarti adat istiadat atau kebiasaan yang baik.Etika biasanya berkaitan erat
dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin,
yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat
kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang
baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Bertolak
dari kata tersebut, akhirnyaetika berkembang menjadi studi tentang
kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu
yang berbeda.

Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu: usila (Sanskerta), lebih
menunjukkan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih
baik (su). Dan yang kedua adalah Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika
berarti ilmu akhlak.

2.1.2 Definisi Etika Menurut Para Ahli


a. Abdullah dalam buku yang berjudul Pengantar Studi
Etika (2006:4) menjelaskan arti kata etika berdasarkan etimologinya

6
yang berasal dari bahasa Yunani, ethos, yang bermakna kebiasaan
atau adat-istiadat.
b. Bertens dalam Etika seri Filsafat Atma Jaya (1993:4) memaparkan
pengertian etika dalam dalam bentuk jamak ta etha yang juga berarti
adat kebiasaan.
c. Riady dalam Filsafat Kuno dan Manajemen Modern (2008:189)
menjelaskan bahwa etika dalam bahasa Latin diartikan
sebagai Moralis yang berasal dari kata Mores dengan makna adat-
istiadat yang realistis bukan teoritis.
d. Abdullah dalam buku yang berjudul Pengantar Studi
Etika (2006:12) mengatakan bahwa secara umum, ruang lingkup etika
meliputi :
 Menyelidiki sejarah tentang tingkah laku manusia.
 Membahas cara menghukum dan menilai baik buruknya suatu
tindakan.
 Menyelidiki faktor yang mempengaruhi tingkah laku manusia.
 Untuk menerangkan mana yang baik dan mana yang buruk.
 Untuk meningkatkan budi pekerti.
 Untuk menegaskan arti dan tujuan hidup sebenarnya.
e. Menurut Profesor Robert Salomon, etika dapat dikelompokkan
menjadi dua yaitu :
a) Etika merupakan karakter individu, dalam hal ini termausk
bahwa orang yang beretika adalah orang yang baik. Pengertian
ini disebut pemahaman manusia sebagai individu yang
beretika.
b) Etika merupakan hukum sosial. Etika merupakan hukum yang
mengatur, mengendalikan serta membatasi perilaku manusia.
2.2 Macam-macam Etika
Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan
kesusilaan atau etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores).
Manusia disebut etis, ialah manusia secara utuh dan menyeluruh mampu
memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas keseimbangan antara

7
kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan
jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya.
Termasuk di dalamnya membahas nilai-nilai atau norma-norma yang
dikaitkan dengan etika, terdapat dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai
berikut:
1) Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan
perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam
hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya Etika deskriptif
tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai
nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan
situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa
tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau tanpa nilai dalam
suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu
memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.

2) Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan
seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan
oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi
Etika Normatif merupakan normanorma yang dapat menuntun agar
manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk,
sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di
masyarakat.

Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat


diklasifikasikan menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut :
a) Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus
membicarakan tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.
b) Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang
membicarakan baik buruknya perilaku manusia dalam kehidupan
bersama.

8
Definisi tersebut tidak melihat kenyataan bahwa ada keragaman norma,
karena adanya ketidaksamaan waktu dan tempat, akhirnya etika
menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.
c) Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat
normatif, dan evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya
terhadap perilaku manusia. Dalam hal ini tidak perlu menunjukkan
adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan merefleksikan.
Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

2.3 Defenisi Profesi


2.3.1 Defenisi Profesi Menurut Beberapa Para Ahli
a. Schein, E.H (1962)
Profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun
suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang
khusus di masyarakat.
b. Hughes, E.C (1963)
Profesi menyatakan bahwa ia mengetahui lebih baik dari kliennya
tentang apa yang diderita atau terjadi pada kliennya.
c. Daniel Bell (1973)
Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan
yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan
memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan
yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani
masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan
mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan
ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan
adanya tingkatan dalam masyarakat.
d. Paul F. Comenisch (1983)
Profesi adalah "komunitas moral" yang memiliki cita-cita dan nilai
bersama.

9
2.3.2 Defenisi Profesi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
(ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu.
a. K. Bertens
Profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang
memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama.
b. Siti Nafsiah
Profesi adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk
mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi
kepada kepentingan orang lain (orang banyak) yang harus diiringi
pula dengan keahlian, ketrampilan, profesionalisme, dan tanggung
jawab.
c. Doni Koesoema A
Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di
dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta
memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayananbaku
terhadap masyarakat.
Maka Kesimpulannya pekerjaan tidak sama dengan profesi. Istilah yang
mudah dimengerti oleh masyarakat awam adalah: sebuah profesi sudah pasti
menjadi sebuah pekerjaan, namun sebuah pekerjaan belum tentu menjadi
sebuah profesi. Profesi memiliki mekanisme serta aturan yang harus
dipenuhi sebagai suatu ketentuan, sedangkan kebalikannya, pekerjaan tidak
memiliki aturan yang rumit seperti itu. Hal inilah yang harus diluruskan di
masyarakat, karena hampir semua orang menganggap bahwa pekerjaan dan
profesi adalah sama.

2.4 Ciri-Ciri Profesi


Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi
yaitu :
1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan
ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang
bertahun-tahun.

10
2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya
setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana
profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan
masyarakat.
4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan
selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai
kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan
sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih
dahulu ada izin khusus. Kaum profesional biasanya menjadi anggota
dari suatu profesi.

2.5 Etika Profesi


Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku,
adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan
mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga
disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma,
nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang
baik.
Berikut ini merupakan pengertian etika profesi menurut para ahli:
1. Drs.O.P. Simorangkir, etika atau etik sebagai pandangan manusia
dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
2. Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori
tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan
buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
3. Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang
berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku
manusia dalam hidupnya.
4. Anang Usman, SH., MSi, Etika profesi adalah sebagai sikap hidup
untuk memenuhi kebutuhan pelayanan profesional dari klien dengan
keterlibatan dan keahlian sebagai pelayanan dalam rangka kewajiban

11
masyarakat sebagai keseluruhan terhadap para anggota masyarakat
yang membutuhkannya dengan disertai refleksi yang seksama.

2.6 Prinsip-prinsip Etika Profesi:


1. Tanggung jawab
 Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
 Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain
atau masyarakat pada umumnya.
2. Keadilan.
Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa
yang menjadi haknya
3. Otonomi.
Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan
diberi kebebasan dalam menjalankan profesinya.

12
BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Kasus
Apotek X berada di kota Metro. Letaknya sangat strategis berada di tengah
kota, buka pelayanan tiap hari jam 08.00 – 22.00. pasien sangat ramai serta
jumlah resep yang banyak dilayani. Setiap hari rata-rata 50 lembar resep.
APA juga merupakan PNS di Kabupaten Lampung Timur dan masuk apotek
jam 19.30. Karena banyaknya pasien yang dilayani, penyerahan obat oleh
tenaga teknis kefarmasian tidak sempat memberikan informasi yang cukup
dan Apotek X juga menjual Antibiok secara bebas serta menjual psikotropika.

3.2 Kajian Menurut Undang – undang


Berdasarkan permasalahan diatas, kami menemukan beberapa ketidak
hubungan antara yang terjadi dengan yang terdapat di peraturan – peraturan
yang berlaku mengenai kesehatan dan pelayanan kesehatan. Peraturan-
peraturan itu sebagai berikut :
3.2.1 Undang-undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 5
(1) “Setiap orang memiliki hak dalam memperoleh pelayanan
kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau”.
Pasal 8
“Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data
kesehatan dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah
dan akan diterimanya dari tenaga kesehatan”.
Pasal 108
(1)“ Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk
pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat
dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan

13
yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan”

3.2.2 Undang-Undang No.8 Tahun 1998 Tentang Perlindungan Konsumen


Pasal 4
(1)“Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa”.

3.2.3 Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang


P e k e r j a a n Kefarmasian:
Pasal 1
(13)“Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat
dilakukan praktek kefarmasian oleh apoteker”
Pasal 20
“Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker
pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Kefarmasian”
Pasal 21
(1)“Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas
Pelayanan Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar
pelayanan kefarmasian”.
(2) “Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep
ddokter dilaksanakan oleh Apoteker”
Pasal 51
(1)“Pelayanan Kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi
farmasi rumah sakit hanya dapat dilakukan oleh Apoteker”

3.2.4 Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/MENKES/PER/SK/X/2002


Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemebrian Izin Apotek

14
Pasal 19.
( 1 ) “ Apabila Apoteker Pengelola Apotik berhalangan melakukan
tugasnya pada jam buka Apotik, Apoteker Pengelola Apotik harus
menunjuk Apoteker pendamping.”
(2)“Apabila Apoteker Pengelola Apotik dan Apoteker
Pendamping karena h a l - h a l tertentu berhalangan
melakukan tugasnya, Apoteker Pengelola Apotik
menunjuk .Apoteker Pengganti”

3.2.5 Keputusan Menteri Kesehatan No.1027/MENKES/SK/IX/2004


Tentang Standar Pelayanan di Apotek
Bab III tentang pelayanan, standar pelayanan kesehatan di
apotek meliputi:
1. Pelayanan resep : apoteker melakukan skrining resep dan
2. penyiapan obat
3. Apoteker memberikan promosi dan edukasi
4. Apoteker memberikan pelayanan kefarmasian (homecare)
 Penyiapan obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan
pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan
resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai
dengan informasi obat dan konseling kepada pasien dan
tenaga keseahatan.
(3.6) Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter
hewan kepada apoteker untuk menyediakan obat bagi pasien sesuai
peraturan perundangan yang berlaku.
(3.8) Pharmaceutical care adalah bentuk pelayanan dan tanggung jawab
langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.

15
 Sumber Daya
“Apotek harus dikelola oleh seorang apoteker yang
professional yang senantiasa mampu melaksanakan dan
memberikan pelayanan yang baik.”
 Sarana dan Prasarana
“Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan
mudah oleh apoteker untuk menerima konseling dan
informasi.”
 Pelayanan resep: Apoteker melakukan skrining resep hingga
penyiapan obat
“Pelayanan resep yang dilakukan oleh apoteker yang
di apotek yang dimulai dari skrining resep meliputi:
persyaratan administratif (Nama, SIP dan alamat
dokter,tanggal penulisan resep, tanda tangan dokter penulis
resep, nama, alamat, umur, jeniskelamin dan berat badan
pasien, nama obat, potensi, dosis, dan jumlah obat,
cara pemakaian yang jelas), kesesuaian farmasetik (bentuk
sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan
lama pemberian) dan pertimbangan klinis (efek samping,
interaksi, kesesuaian). Selain itu, apoteker juga memiliki
tugas untuk melakukan penyiapan obat meliputi tahap:
peracikan dengan memperhatikan dosis, jenis dan
jumlah obat, etiket yang jelas, kemasan obat yang
diserahkan dengan rapidan terjaga kualitas.
 Pelayanan Resep : Apoteker melakukan penyerahan obat.
“ Sebelum obat diserahkan, obat harus dicek kembali antara
obat dan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker
sambil dilakukan pemberian informasi obat sekurang-
kurangnya: cara pemakaian, cara penyimpanan, jangka
waktu pengobatan,aktivitas serta makanan dan minuman
yang harus dihindari; dan dilakukan konseling untuk
memperbaiki kualitas hidup pasien.

16
 Promosi dan Edukasi “Dalam meningkatkan pemberdayaan
masyarakat, Apoteker harus berpartisipasi aktif dalam
promosi dan edukasi kesehatan.”

3.2.6 Kode Etik Apoteker


Pasal 3
“Setiap apoteker/Farmasis harus senanatiasa menjalankan profesinya
sesuai kompetensi Apoteker/Farmasis Indonesia serta selalu
mengutamakan dan berpegang teguh pada prinsip kemanusiaan dalam
melaksanakan kewajibannya “
Pasal 5
“Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker/Farmasis harus
menjauhkan diri dari usaha mencari keuntungan diri semata yang
bertentangan dengan martabat dan tradisi luhur jabatan
kefarmasian”

3.2.7 Lafal Sumpah dan Janji Apoteker


“Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai
dengan martabat dan tradisi luhur jabatan farmasi”.

Dari kasus di atas “Pasien atau konsumen ketika membeli obat di apotek hanya
dilakukan oleh asisten apoteker”. Hal ini melanggar pasal-pasal di atas. Pelayanan
kefarmasian diapotek harus dilakukan oleh apoteker, jika apoteker berhalangan
hadir seharusnya digantikan oleh apoteker pendamping dan jika apoteker
pendamping berhalangan hadir seharusnya digantikan oleh apoteker pengganti
bukan digantikan oleh asisten apoteker atau tenaga kefarmasian lainnya. Tenaga
kefarmasian dalam hal ini asisten apoteker hanya membantu pelayanan
kefarmasian bukan menggantikan tugas apoteker.

17
3.3 Sanksi
Ketika seorang apoteker dalam menjalankan tugasnya tidak mematuhi kode
etik apoteker, maka sesuai dengan kode etik apoteker Indonesia pasal 115
yang berbunyi
“Jika seorang apoteker baik dengan sengaja maupun tidak disengaja
melanggar atau tidak memenuhi kode etik apoteker Indonesia, maka dia wajib
mangakui dan menerima sanksi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi
yang menanganinya (IAI), dan mempertanggung jawabkannya kepada Tuhan
Yang Maha Esa”.
Sehingga seorang apoteker bisa mendapatkan sanksi sebagai berikut:
1. Teguran dari IAI terhadap apoteker maupun apotek yang
bersangkutan.
2. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009
tentang kesehatan :
a. Pasal 198 : Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan
kewenangan untuk melakukan praktik kefarmasian sebagaimana
dimaksud dalam pasal 108 dipidana dengan denda paling banyak
Rp.100.000.000,00 (seratus juta rupiah)
b. Pasal 201
a) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat
(1), pasal 191, pasal 192, pasal 196, pasal 197, pasal 198, pasal 199,
pasal 200 dilakukan oleh korporasi, selain dipidana penjaradan denda
terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap
korporasi berupa pidanadenda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari
pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 190 ayat (1), Pasal
191, Pasal 192, Pasal 196 , Pasal 197, Pasal 198,Pasal 199, dan Pasal
200
b) Selain pidana denda sebagaiman dimaksud pada ayat (1), korporasi
dapat dijatuhi pidana tambahan berupa :
i. Pencabutan izin usaha; dan/atau
ii. Pencabutan status badan hukum.

18
BAB IV
PENUTUP

4.1 K e s i m p u l a n
Berdasarkan keterangan diatas, praktek kefarmasian di apotek
melanggar beberapa ketentuan, yaitu : Undang-undang No. 36 Tahun
2009 Tentang Kesehatan pasa l5, pasal 8 dan pasal 108 Tentang Kesehatan, Undang-
Undang No. 8 Tahun 1998 pasal 4Tentang Perlindungan Konsumen, Peraturan
Pemerintah No. 51 Tahun 2009 pasal 1 ayat 13, pasal 20, pasal 21 ayat 1
dan 2, pasal 19 ayat ayat 1 tentang pekerjaan kefarmasian, Keputusan
Menteri Kesehatan No. 1332/MENKES/PER/SK/X/2002 pasal 19 ayat 1
dan 2 Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotek, Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1072/MENKES/PER/SK/X/2004 Tentang Standar
Pelayanan di Apotek, Kode etik apoteker pasal 3 dan 5, lafal sumpah atau
janji apoteker.

19
DAFTAR PUSTAKA

Pengertian Etika dan Profesi Hukum. Jombang: WKPA. Widaryanti. 2007.


Etika Bisnis dan Etika Profesi Akuntan (Business Ethics and Accountant Professional
Ethics). Vol. 2 No. 1 Juni 2007 : 1-10.
Snanto, Rizal. 2009. Buku Ajar Etika Profesi. Semarang: Universitas
Diponegoro,Mariyana, Rita. Etika Profesi Guru. Qohar, Adnan.

20